BAB IV ANALISA DAN INTERPRETASI
IV. C.1 Gambaran diri responden B
Lukinar manik adalah seorang wanita berusia 53 tahun dan telah memiliki 4 orang anak. Sejak berusia 38 tahun Lukinar sudah menjanda, suaminya meninggal dunia karena suatu kecelakaan. Ditinggal oleh suaminya pada usia yang muda mengharuskan Lukinar menjadi orang tua tunggal. Hal tersebut menjadi cobaan berat bagi Lukinar karena ia harus membesarkan sendiri anak-anaknya yang
masih dalam usia sekolah. Peristiwa tersebut menjadikan Lukinar seorang wanita yang tegar. Hal ini juga membantunya dalam penerimaan penyakit kanker leher rahim yang dideritanya.
Sehari-harinya Lukinar bekerja sebagai bidan di Puskesmas Dalu X Tanjung Morawa Medan. Berdasarkan pengamatan peneliti Lukinar adalah seorang yang luwes dalam pergaulan. Ia memiliki banyak teman di lingkungan kerjanya dan ia disukai oleh teman-temannya. Lukinar juga membuka praktek bidan di rumahnya sendiri. Selain bekerja Lukinar sering menghabiskan waktunya di rumah untuk bermain dengan cucunya atau mengikuti kegiatan di gereja dekat rumahnya. Peneliti melihat bahwa Lukinar adalah seorang yang aktif dalam kehidupan sehari-harinya. Di usianya yang telah menginjak 53 tahun, ia masih giat bekerja di puskesmas dan praktek di rumahnya. Selain itu Lukinar adalah seorang pemeluk kristen protestan yang taat, hal ini terlihat dari aktifnya ia dalam kegiataan kegerejaan.
Penyakit kanker yang diderita oleh Lukinar memberikan dampak positif bagi dirinya. Penyakit kanker yang dideritanya membuat Lukinar menjadi lebih dekat pada Tuhan. Lukinar pada saat ini lebih sering berdoa dan beribadah kepada Tuhannya.
Peneliti mengenal Lukinar dari saudara peneliti yang merupakan teman kerja Lukinar. Pertemuan pertama antara Lukinar dan peneliti berlangsung di puskesmas tempat Lukinar bekerja pada tanggal 3 Maret 2007. Pertemuan pertama yang peneliti lakukan bertujuan untuk berkenalan dengan responden serta membangun rapport. Puskesmas tempat Lukinar berkerja memiliki banyak
karyawan. Pertemuan pertama berlangsung di ruangan poliklinik puskesmas, tempat Lukinar bekerja. Pada saat itu peneliti tidak hanya berbincang dengan Lukinar tetapi juga dengan karyawan puskesmas yang lainnya. Lukinar menyambut kedatangan peneliti dengan ramah. Pada saat pertemuan pertama Lukinar menceritakan sedikit mengenai penyakit kanker leher rahim yang ia derita. Pada saat itu ia mengusulkan kepada peneliti untuk mewawancarainya pada saat itu juga, tetapi peneliti menolak dikarenakan lingkungan dan suasana puskesmas kurang mendukung dalam hal melaksanakan wawancara. Akhirnya Lukinar dan peneliti menetapkan pertemuan selanjutnya pada hari Jum’at tanggal 7 Maret 2008 di rumahnya untuk melakukan wawancara.
Pertemuan kedua berlangsung di rumah responden pada hari Jum’at tanggal 7 Maret 2008 seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Pada saat peneliti datang Lukinar tengah bermain dengan cucunya. Lukinar menyambut dengan ramah kedatangan peneliti dan mempersilahkan peneliti untuk masuk ke rumahnya. Wawancara berlangsung di ruangan tamu responden. Ruangan tersebut mendukung untuk terlaksananya wawancara. Suasana di sekitar ruang tamu tenang dan nyaman serta hanya ada peneliti dan responden. Keadaan ruang tamu Lukinar bersih dan teratur. Di dinding ruangan tamu Lukinar banyak terdapat foto dari anak-anak Lukinar beserta gantungan lambang keagamaan seperti salib.
IV.C.2 Gambaran penderitaan yang dialami oleh responden B
Penderitaan fisik yang dialami Lukinar berawaal pada bulan Juni tahun 2006. Pada saat itu dirinya mengalami salah satu gejala kanker leher rahim yaitu keputihan. Tidak lama setelah keputihan muncul Lukinar mengalami suatu pendarahan. Hal ini menimbulkan kecurigaan pada dirinya karena Lukinar sendiri telah mengalami menopause. Ia ingin segera memeriksakan dirinya ke dokter kandungan tetapi hal tersebut terpaksa ditundanya terlebih dahulu karena ia harus menghadiri acara pernikahan anaknya di Surabaya. Selama 1 bulan berada di Surabaya Lukinar tetap mengalami pendarahan dan keputihan. Selain itu dirinya mengalami keluhan baru yaitu merasakan sakit pada bagian bawah perutnya. Rasa sakit itu kadangkala membuatnya merintih kesakitan. Tetapi Lukinar mencoba menahannya sekuat mungkin karena tidak ingin membuat anaknya khawatir (becoming burden on others).
”waktu di surabaya itu pendarahannya tetap trus saja, udah gitu di sekitar bagian bawah ini sakit kali rasanya kayak ditarik-tarik gitu...cemana yah bilangnya..macem kita pas haid lah, sengugutan....”
Sesampainya di Medan pada bulan Juli, Lukinar langsung memeriksakan dirinya ke rumah sakit pirngadi. Ia menjalani papsmear dan diberitahu bahwa dirinya didiagnosa kanker leher rahim. Pada saat itu pihak rumah sakit Pirngadi tidak menyebutkan mengenai stadium kanker yang ia derita. Pada saat mendengar diagnosa tersebut Lukinar merasa sangat terkejut dan bingung. Ia bingung kenapa penyakit ini bisa ia alami. Ia merasa bahwa hidupnya tidak lama lagi, karena sebagai seorang bidan ia tahu benar mengenai kematian yang dapat timbul akibat kanker leher rahim.
” Perasaan aku memang gak hidup lagi lah… trus anak-anakku udah kukasitau, udah kunasehati, udah kubilang rumah yang ini sama yang ini, rumah yang ini sama yang ini, udah pasrahlah aku, gak ada lagi kurasa harapan hidup udah gitu tempo hari aku”
Ia pulang dengan perasaan sedih dan memberitahu kepada anak-anaknya mengenai penyakit yang ia derita. Anak-anak Lukinar juga merasa sangat sedih akan keadaan ibunya. Kesedihan lukinar paling besar disebabkan oleh bayangan jika dirinya meninggal maka ia tidak akan dapat melihat anak-anaknya lagi, ia masih memiliki cita-cita untuk melihat anaknya yang paling kecil tamat kuliah. Selain itu masih ada dua orang lagi anaknya yang belum menikah. Ia merasa sedih jika membayangkan apabila anaknya tersebut menikah tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Keesokan harinya Lukinar pergi menemui seorang dokter ahli kanker yang direkomendasikan oleh dokter yang memeriksa dirinya di rumah sakit Pirngadi. Pada saat itu Lukinar diberitahu bahwa ia didiagnosa kanker leher rahim stadium Ib1 dan dokter tersebut menyatakan bahwa vaginanya telah terkena walaupun hanya sebatas radang (non malignant). Dokter tersebut mengatakn bahwa ia masih bisa diselamatkan dengan jalan operasi pengangkatan rahim (histerektomi). Lukinar setuju untuk melakukan hal tersebut walaupun dirinya takut.
Operasi yang dijalani oleh Lukinar tidak berhasil sepenuhnya. Penyebaran kanker di vagina Lukinar tidak berhasil diangkat. Hal ini disebabkan pada saat operasi ia mengalami pendarahan yang sangat hebat sampai-sampai ia harus ditransufsi 6 kantong darah dan menyebabkan dirinya koma sehingga dokter terpaksa menghentikan operasi. Lukinar kecewa dengan operasi yang ia jalani,
menurutnya penyebab gagalnya operasi tersebut adalah kelalaian pihak rumah sakit yang tidak membaca semua data hasil pemeriksaan kondisi tubuh Lukinar. Lukinar tidak menyampaikan kekecewaan yang ia rasakan karena ia merasa dirinya tidak pantas untuk berbicara.
Histerektomi yang dijalani oleh Lukinar mengakibatkan dirinya tidak memiliki rahim lagi (impairment) tetapi ia mengatakan bahwa dirinya tidak bermasalah dengan hal tersebut karena dirinya memang tidak lagi mau memiliki anak dan ia sudah lama menjanda. Selain itu operasi yang dijalani oleh Lukinar membuatnya tidak dapat bekerja (disability) selama hampir 3 bulan sebagai bidan di Puskesmas Dalu X. Setelah operasi Lukinar kadang-kadang mengalami pendarahan. Ia juga tetap mengalami rasa sakit pada bagian bawah tubuhnya. Rasa sakit dan pendarahan yang tetap ia alami ini mengakibatkan dirinya tidak bisa keluar rumah dan berinteraksi dengan orang-orang sekitar.
”sesudah operasi itu hampir 3 bulanlah aku gak bekerja... soalnya kadang-kadang masih ada pendarahan...sama masih sakit bagian bawahku ini, jadi gak bisa la aku naek sepeda motor kan, gak bisa la aku pigi kerja”
Setelah 3 bulan akhirnya Lukinar merasa cukup kuat untuk bekerja tetapi ternyata ia salah. Pada saat pulang dari puskesmas ketika mengendarai sepeda motor, Lukinar mengalami rasa sakit itu lagi dan juga pendarahan. Lukinar memutuskan untuk memeriksakan dirinya lagi ke dokter. Dokter mengatakan bahwa rasa sakit dan pendarahan yang ia alami terjadi akibat perdangan di bagian vaginanya. Dokter menganjurkan Lukinar untuk menjalani radioterapi di Jakarta tetapi Lukinar tidak melaksanakannya karena trauma akan pengobatan medis.
Lukinar lebih memilih untuk menjalani pengobatan alternatif yaitu pengobatan dengan sinsei. Ia dipijit dan diberikan ramuan obat-obat tradisional salah satunya rebusan kopi benalu. Obat-obat tersebut tetap dikonsumsinya sampai sekarang. Selama masa pengobatan alternatif ini Lukinar tidak masuk kerja dan tidak ikut dalam kegiatan gereja (restrictid of life).