V.A. KESIMPULAN
Hasil analisis data menunjukkan bahwa hipotesis nihil (Ho) gagal ditolak. Peneliti menyimpulkan bahwa tidak terdapat kecenderungan perilaku self-care disetiap kelompok pendidikan berada ditingkat lebih tinggi atau lebih rendah dari peringkat kelompok lainnya.
V.B. DISKUSI
Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku self-care tidak berbedapada penderita Diabetes Melitus dengan tingkat pendidikan rendah, menengah dan tinggi. Peneliti mencoba menduga berdasarkan teori dan konsep yang ada berkaitan dengan perilaku self-care dan tingkat pendidikan, terhadap hasil penelitian.
Penderita Diabetes Melitus dengan tingkat pendidikan tinggi, yang pada awalnya diduga memiliki perilaku self-care yang lebih baik karena memiliki angka mortalitas lebih tinggi dan penangkapan paham positif yang lebih baik (Saydah, Imperatore & Beckles, 2013). Namun pada penelitian ini justru ditemukan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi bukan berarti memiliki perilaku self-care yang lebih baik.
Hasil penelitian ini juga berbeda dengan penelitian Aliasgharzadeh, Mobasseri dan Adib (2006), yang menyatakan bahwa adanya peningkatan kepatuhan dalam berdiet, berolahraga dan obat-obatan seiring dengan
meningkatnya tingkat pendidikan. Ketika kepatuhan dalam diet, olahraga, dan obat meningkat seharusnya diabetes self-care ikut meningkat, mengingat bahwa ketiga hal tersebut termasuk dalam perilaku self-care pada penderita Diabetes.
50 Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini tidak mendukung teori-teori yang menyatakan bahwa perilaku self-care seharusnya meningkat berdasarkan tingkat pendidikannya. Hal ini disebabkan banyak faktor selain variabel aktivitas memproses materi yang dapat mempengaruhi pencapaian variabel self-care. Peneliti berasumsi bahwa mungkin pengaruh tingkat pendidikan terhadap perilaku self-care menjadi tidak signifikan karena adanya variabel diluar aktifitas memproses materi tersebut. Variabel tersebut dapat berupa akses kepada layanan kesehatan dandukungan dari keluarga. Walaupun hasil penelitian berbeda dengan penelitian sebelumnya, perlu diingat bahwa penelitian mengenai self-care lebih banyak dilakukan di negara maju,
sehingga ketika dilakukan di Indonesia, yang merupakan negara berkembang, dapat memunculkan hasil yang berbeda.
Meskipun tidak ada perbedaan perilaku self-care yang signifikan antara tingkat pendidikan rendah, menengah dan tinggi, namun jika dilihat
berdasarkan rata-rata, rata-rata ada peningkatan skor SDSCA dari tingkat pendidikan rendah hingga tingkat pendidikan tinggi. Secara keseluruhan data, skor SDSCA kedua kelompok tidak jauh berbeda, namun pada kelompok tingkat pendidikan rendah dan tingkat pendidikan tinggi terdapat nilai ekstrim.
Penelitian ini pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari penelitian ini adalah melihat perilaku self-care dari sudut pandang psikologi. Pada penelitian sebelumnya self-care lebih banyak diteliti melalui sudut pandang tenaga kesehatan dimana tujuan penelitian untuk melihat pengaruh perilaku yang diberikan oleh tenaga kesehatan pada self-care penderita DM. Pada penelitian ini peneliti melihat apa yang ada pada diri penderita DM dan kemungkinannya mempengaruhi perilaku self-care penderita DM.
Kekurangan dari penelitian ini adalah terbatasnya generalisasi yang dapat dilakukan. Sebagian besar partisipan penelitian adalah penderita diabetes yang berdomisili di Jakarta. Oleh karena itu, hasil penelitian ini kurang dapat digunakan untuk menjelaskan penderita DM yang berada di diluar Jakarta.
51 Partisipan yang diambil pun hanya pada perempuan saja karena itu tidak dapat digeneralisasikan pada laki-laki.
V.C. SARAN
Terdapat dua macam saran yang peneliti berikan sebagai hasil dari
penelitian ini. Saran yang pertama adalah saran metodelogis, yaitu saran-saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya. Saran kedua adalah saran praktis, yaitu saran-saran penerapan hasil penelitian.
Saran Metodelogis
Pada penelitian ini, peneliti mengelompokan tingkat pendidikan menjadi dua kelompok saja yaitu, tingkat pendidikan menengah dan tingkat pendidikan tinggi. Pengelompokan ini dilakukan karena
kurangnya akses peneliti pada penderita Diabetes Melitus (DM) dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Akan lebih baik jika peneliti dapat melihat perilaku self-care pederita Diabetes Melitus pada setiap tingkat pendidikan.
Berdasarkan pada alat tesnya, SDSCA. Pada penelitian ini peneliti menemukan bahwa terdapat item SDSCA kurang sesuai dengan pelayanan kesehatan di Indonesia namun sesuai dengan anjuran rancangan terapi penderita diabetes secara umum. Pada item tujuh dan delapan mengenai pemeriksaan gula darah. Item mengenai gula darah dibuat dalam hitungan perminggu, sedangkan di Indonesia penderita diabetes hanya melakukan pemeriksaan gula darah sebulan satu kali. Penderita diabetes yang melakukan pemeriksaan gula darah setiap hari hanyalah penderita yang menggunakan insulin. Berdasarkan
Internasional Diabetes Federation (2009), pemeriksaan gula darah seharusnya dilakukan sehari tiga kali atau minimum seminggu dua kali. American Diabetes Asosiation (2010) dan Diabetes Australia (2015) menyatakan bahwa pemeriksaan gula darah pribadi harus dilakukan 3-4 kali sehari. Dapat dilihat bahwa Item yang terdapat pada SDSCA
52 merupakan anjuran yang seharusnya dilakukan oleh penderita diabetes karena itu pada penelitian kali ini item tujuh dan delapan tetap
digunakan sesuai dengan alat tes asli. Bagi penelitian berikutnya, kedua item itu mungkin dapat diadaptasi sehingga lebih sesuai dengan konteks kesehatan di Indonesia.
Saran Praktis
Peneliti menyarankan agar tenaga kesehatan, komunitas penderita diabetes, keluarga dan penderita DM dapat lebih meningkatkan kesadaran bahwa self-care merupakan aspek penting bagi penderita diabetes untuk dapat menjalankan kehidupannya senormal mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan memunculkan artikel melalui media masa komunitas penderita diabetes mengenai self-care pada penderita Diabetes Melitus (DM). Artikel yang dikeluarkan dapat memuat mengenai pengetian self-care serta cara pengaplikasiannya pada kehidupan sehari-hari penderita DM.
Peneliti juga menyarankan agar pemeriksaan gula darah dapat dilakukan lebih sering lagi, karena pemeriksaan satu kali dalam sebulan dapat terbilang minim dibandingkan dengan pemeriksaan gula darah yang seharusnya yaitu minimal tiga kali atau minimum seminggu dua kali.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa perilaku self-care tidak jauh berbeda pada tiap tingkat pendidikan, maka pendidikan kesehatan mungkin dapat disamakan pada penderita Diabetes Mellitus dengan tingkat pendidikan yang berbeda. Hal ini dapat mempermudah dan mengurangi biaya pendidikan kesehatan.
53
DAFTAR PUSTAKA
Abrahim, M. (2011). Self-care in type 2 diabetes. Kalmar: Linnaeus University. Agrimon, O. H. (2014, July). Exploring the Feasibility of Implementing
Self-Management and Patient Empowerment through a Structured Diabetes Education Programme in Yogyakarta City Indonesia: A Pilot Cluster Randomised Controlled Trial. Adelaide: Faculty of Health Sciences The University of Adelaide.
Aliasgharzadeh, A., Mobasseri, M., & Adib, M. (2006). Adherence to management plans for diabetes in type 2 diabetes patients. Abstract Book 13th Asia Oceania Congress of Endocrinology, (hal. 162). Teheran.
American Diabetes Association. (2010). clinical practice recommendations. Diambil kembali dari diabetes care: http://care.diabetesjournals.org/
Anderson, E., & User, J. (2003). Understanding and enhancing adherence in adult with diabetes. Curr diabetes. Vol.3, 141-148
Anderson, R., Funnell, M., Fitzgerald, J., & Marrero, D. (2000). The diabetes
empowerment scale: a measure of psychosocial self-efficacy. Diabetes Care, 739-743.
Asmadi, N. (2008). Konsep dasar kepera watan. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC.
Awad, N., Langi, Y., & Pendelaki, K. (2001). Gambaran faktor resiko pasien
diabetes tipe II di poliklinik endrokrin bagian SMF FK-unstrat RSU Prof Dr. R. D. Kandou Manado. E-biomedik, 9-45.
B.Hu, R., Mnson, J. E., Stampfer, M. J., Colditz, G., Liu, S., Solomon, C. G., & Willett, A. W. (2015). Diet, Lifestyle, and Type 2 Diabetes in Women. The New England Journal of Medicine, 790-797.
Bandura A.(1986) Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Bartlett, J., Kotrlik, J., & higgins, C. (2001). Sampling techniques. organizational resea rch: determining appropriate sample size in survey research, 43-50. Borges, W. (2015, february 20). Diabetes self-care behaviours and self-efficacy in
biethnic population. Diambil kembali dari western institude of nursing: www.nursinglibrary.org
Bradley, C. (1994). Handbook of psychology and diabetes: guide to psychologica l measurement in diabetes research and management. New York: Psychology Press.
54 Chawla, K., Kalra, S., & kalra, B. (2009). Role of psychology in diabetes
management. The Internet Journal of Endocrinology, vol. 6 no. 1.
Chiou, C; Bai, Y. & Chang, Y. (2009). Self-care behavior and related factors in older people with type 2 diabetes. Journal of Clinical Nursing, 3308-3315.
Clark L.A. & Watson D.(1995). Constructting validity: Basic issues in objective scale development. Psychological Assessment ,309-319.
Cramer, J. A. (2004). A systematic review of adherence with medications for diabetes. Diabetes care 27, 1218-1224.
Cutler, D. M., & Lleras-Muney, A. (2010). Understanding Differences in Health Behaviors by Education. Journal of Health Economics, 29, 1–28.
Department of Heath. (2005). Self care – a real choice: self care support – a practical option. Diambil kembali dari Department of Heath:
http://webarchive.nationalarchives.gov.uk
Dewi, M. (2007). Resistensi insulin terkait obesitas: mekanisme endrokrin dan intrinsik sel. Jurnal gizi dan pangan, 49-54.
Diabetes Australia. (2015). Blood Glucose Monitoring. Diambil kembali dari Diabetes Australia: https://www.diabetesaustralia.com.au
Diabetes. (2014, September 18). Diambil dari Sanofi: www.sanofi.co.id
Donna L. Hamilton, M. (2011, Maret). The Wise Mom. the health benefits of Self care.
Fuchs, Victor (1982). Time Preference and Health: An Explanatory Study. Chicago: University of Chicago, 93-120
Glascow RE, Osteen VL. (1992). Evaluating diabetes education: Are we measuring the most important outcomes? Diabetes Care :1423-1432.
Glasgow, R., Boles, S., McKay, H., Feil, E., & Barrera, M. J. (2003). The D-Net diabetes self-management program: long-term implementation, outcomes, and generalization results. PubMed, 410-429.
Goldstein M.(2002). Promoting self-management in primary care settings:
Limitations and opportunities a commentary. U.K: John Wiley & Sons, Ltd; González, B., Josep Lupón1, Domingo, M. D., Cano, L., Cabanes, R., Antonio, M.
D., Bayes-Genis, A. (2014). Educational level and self-care behaviour in patients with heart failure before and after nurse educational Intervention. European Journal of Cardiovascular Nursing, Vol. 13(5) 459–465. Grossman M. (2005). Education and nonmarket outcomes. Cambridge: National
Bureau of Economic Research.
Hamilton,M.D. (2011, Maret). The health benefits of self care. The Wise Moms. Diunduh dari http://www.holisticmoms.org/
55 Heisler, M. & Piette, J. (2005). I Help You, and You Help Me. Facilitating telephone
peer support among patients with diabetes. The Diabetes Educator, 869-879. Higgins, C., Lavin, T., & Metcalfe, O. (2008). Health impacts of Education: A
review. irland: Institute of Public Health in Ireland.
Hosler, A. & Melnik, T. (2005). Population based assessment of diabetes care and self management among Puerto Rican adults in New York City. USA. The Diabetes Educator, 418-426
Intannia, D. (2011). Pengaruh program edukasi keluarga terhadap kontrol gula darah penderita diabetes mellituds ra wat jalan di RSUD Uln Banjarmasih. Surabaya: Program Studi Magister Farmasi Klinis Universitas Surabaya. Internasional diabetes federation. (2009). Self-Monitoring of Blood Glucose in
Non-Insulin-Treated Type 2 Diabetes. Diambil kembali dari Inte: www.idf.org Jaarsma, T., Riegel, B., & Stomberg. (2012). A middle range theory self-care of
chronic illness. Advances in nursing science, 194-204.
Johnson JA.(1996). Self-efficacy theory as a framework for community pharmacy based diabetes education programs. The Diabetes Educator. 237-241. Khardori, R. (2014, Oktober 15). Type 2 DM treatment and management. Diambil
kembali dari medscape: www.eine.medscape.com
Kusniawati. (2011). Analisis faktor yang berkontribusi terhadap self-care diabetes pada klien Diabetes Melitus tipe 2 di rumah sakit umum tangerang. Depok: Universitas Indonesia.
LA, C., & D., W. (1995). Constructing validity: Basic issues in objective scale. Dalam Psychological assessment (hal. 309-19).
Lleras-Muney A.(2005). The relationship between education and adult mortality in the United States. Review of Economic Studies :189-221.
Lukkarinen, H., & Hentinen, M. (1997). Self-care agency and factor related to this agency among patients with coronary heart disease. International journal of nursing studies, 295-304.
Mersal F.A, Mahday N.E, Mersal N.A. (2012). Efficiency of web-based education versus counseling on diabetic patients. Life Science Journal;9 (3) : 912-926 Mihardja, L. (2009). Faktor yang berhubungan dengan pengendalian gula darah pada
penderita diabetes mellitus. Majalah Kedokteran Indonesia, 418-424. Moilanen, K. L. (2007). The adolescent self-regulatory inventory: The development
and validation of a questionnaire of short-term and long-term self-regulation. . Journal of Youth and Adolescence, 835-848.
Mokdad,A,H., Marks,J.S.,Stroup,D.F.,& Gerberding,J.L. (2004). Actual causes of death in the United States,2000,JAMA,1238-1245
56 Mollem, E., Snoek, F., & Heine, R. (1996). Assessment of education perceived
barriers in selfcare of insulin-requiring diabetic patients. Patient and Counseling, 277-281.
Nadyah, dkk. (2013). gambaran faktor resiko pasien diabetes melitus di poliklinik Endokrin RSU Prof. Dr. R. D Kandou, Manado periode mei 2011-oktober 2011. e-biomedik, 45-49.
Natahadibrata, N. (2014, Mei 13). Diabetes will cost nation dearly next year. . Diambil kembali dari the jakarta post: www.thejakartapost.com
Niven, N. (2002). Psikologi kesehatan pengantar untuk pera wat dan professional kesehatan lain. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC.
Notoatmodjo, S. (2006). Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Nunnally, J. (1967). Psychometric theory. New York: McGraw-Hill.
Nunnally, J. (1978). Psychometric theory. 2nd ed. New York: McGraw-Hill. Orem, D. (1971). Nursing: concepts of practice. New York: McGraw-Hill.
Rafique, G., Azam, S., & White, F. (2006). Diabetes knowledge, belief and practices among people with diabetes attending university hospital in Karachi. East Mediterr Health j, 590-8.
Reinberg, S. (2014, Mei 3). Kids diabetes rates up dramatically in 8 years. Diambil kembali dari webmd: www.webmd.com
Renpenning, K.M., & Taylor, S.G. (2011). Self-care science, nursing theory, and evidence based practice. New York: Sringer Publishing Company.
Sari, D. (2014, oktober 15). Indonesia masuk 10 besar Nega ra. Diambil kembali dari Tempo: www.tempo.com
Saydah, S., & Lochner, K. (2010). Socioeconomic Status and Risk of Diabetes-Related Mortality in the U.S. . Public Health , 377-388.
Saydah, S., Imperatore, G., & Beckles, G. (2013). Socioeconomic status and
mortality: Contribution of health care access and psychological distress among U.S. adults with diagnosed diabetes. Diabetes care, 49-55.
Schoenberg, N., & Drungle, S. (2001). Barriers to non-insulin dependent DM (NIDDM) self-care practices among older women. . Journal of Aging and Health,, 443-466.
Shrivastava, S. R., Shrivastava, P., & Ramasamy, J. (2013). Role of self-care in management of DM. Journal diabetes metab disord, 12:14.
Song, M., Lee, S. J., Kim, S., Choi, S., Seo, K., & Chang, S. J. (2014). Diabetes self-management practice of older koreans based on AADE-7 (american
association of diabetes education) domain. 25th International Nursing Research Congress. . Hongkong: nursing library.
57 Taylor, S. E. (2012). Health Psychology. Singapore: McGraw-Hill.
Thorne, S., Paterson, B., & Russell, C. (2003). The structure of everyday self-care decision making in chronic illness. Qual Health Res, 1337-1352.
Tjekyan, S. (2007). Resiko penyakit diabetes melitus tipe 2 di kalangan peminum kopi di kotamadya palembang tahun 2006-2007. Makara Seri Kesehatan, 54-60.
Toobert, D., Hampson, S., & Glasgow, R. (2000). The summary of diabetes self-care activities measure: results from 7 studies and revised scale. . Diabetes care, 943-950.
Tripathi, K. B., Srivastava, K.A. (2006). Complication and therapeutics. Med Sci Monit, 130-147.
van Oort FVA, van Lenthe FJ, Mackenbach JP.(2004). Cooccurrence of lifestyle risk factors and the explanation of education inequalities in mortality: Results from the globe study. Preventive Medicine; 1126-1134.
Wawan, A., & Dewi, M. (2010). Teori dan pengukuran pengetahuan, sikap dan perilaku manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.
Wild, S. (2014, mei 15). Diabetes rates may double worldwide by 2030. Diambil kembali dari webmd: http://www.webmd.com
World Health Organization. (2009). Self-care in the context of primary healthcare. Diambil kembali dari World Health Organization: http://www.who.int/ World Heath Organization. (2014). Global Health Estimates: Deaths by Cause, Age,
Sex and Country 2000-2012. Diambil kembali dari World Heath Organization: http://www.who.int
Zhou, Y., Liao, L., Sun, M., & He, G. (2013). Self-care practices of Chinese individuals with diabetes. Experimental and Therapeutic Medicine, 1137-1142.
58
LAMPIRAN
Gambar I. Hasil Internal consistency
ITEM
1
ITEM2 ITEM3 ITEM4 ITEM5 ITEM6 ITEM7 ITEM8 ITEM9 ITEM10 ITEM11 SCORE DM ITEM1 Pearson Correlation 1 .776 ** .468** .504** ,066 ,095 ,055 ,012 ,150 ,169 -,089 .541 ** Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,000 ,514 ,345 ,585 ,903 ,137 ,092 ,381 ,000 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 ITEM2 Pearson Correlation .776 ** 1 .475** .518** ,012 ,128 ,087 ,029 ,187 .207* -,048 .570 ** Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,000 ,906 ,206 ,391 ,776 ,062 ,038 ,636 ,000 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 ITEM3 Pearson Correlation .468 ** .475** 1 .505** ,088 .252* ,079 ,051 ,096 ,121 -,159 .528 ** Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,000 ,386 ,012 ,432 ,617 ,343 ,229 ,115 ,000 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 ITEM4 Pearson Correlation .504 ** .518** .505** 1 ,054 ,008 ,140 ,106 ,076 ,158 -,037 .515 ** Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,000 ,592 ,935 ,164 ,294 ,455 ,116 ,713 ,000 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 ITEM5 Pearson Correlation ,066 ,012 ,088 ,054 1 .254 * -,054 -,019 -,055 -,026 -,116 .238 * Sig. (2-tailed) ,514 ,906 ,386 ,592 ,011 ,594 ,849 ,584 ,801 ,252 ,017 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Bersambung
59 Sambungan Lampiran 1: Hasil Internal Consistency
ITEM6 Pearson Correlation ,095 ,128 .252 * ,008 .254* 1 -,067 -,038 .201* .245* -.206* .407** Sig. (2-tailed) ,345 ,206 ,012 ,935 ,011 ,510 ,707 ,045 ,014 ,039 ,000 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 ITEM7 Pearson Correlation ,055 ,087 ,079 ,140 -,054 -,067 1 .895 ** .220* .242* ,178 .503 ** Sig. (2-tailed) ,585 ,391 ,432 ,164 ,594 ,510 ,000 ,028 ,015 ,076 ,000 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 ITEM 8 Pearson Correlation ,012 ,029 ,051 ,106 -,019 -,038 .895 ** 1 .204* .226* ,171 .477 ** Sig. (2-tailed) ,903 ,776 ,617 ,294 ,849 ,707 ,000 ,041 ,024 ,089 ,000 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 ITEM 9 Pearson Correlation ,150 ,187 ,096 ,076 -,055 .201 * .220* .204* 1 .905** -,001 .674 ** Sig. (2-tailed) ,137 ,062 ,343 ,455 ,584 ,045 ,028 ,041 ,000 ,990 ,000 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 ITEM 10 Pearson Correlation ,169 .207 * ,121 ,158 -,026 .245* .242* .226* .905** 1 -,020 .721 ** Sig. (2-tailed) ,092 ,038 ,229 ,116 ,801 ,014 ,015 ,024 ,000 ,843 ,000 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 ITEM 11 Pearson Correlation -,089 -,048 -,159 -,037 -,116 -.206 * ,178 ,171 -,001 -,020 1 ,013 Sig. (2-tailed) ,381 ,636 ,115 ,713 ,252 ,039 ,076 ,089 ,990 ,843 ,897 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 SCORE DM Pearson Correlation .541 ** .570** .528** .515** .238* .407** .503** .477** .674** .721** ,013 1 Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,000 ,000 ,017 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,897 N 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
60 Gambar II. Hasil Hitung Contra sted Group
Levene's Test for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence Interval of the Difference F Sig. T Df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error
Difference Lower Upper
SDSCA Equal variances assumed
6.462 .012
-9.495
198 .000 -6.02000 .63402 -7.27030 -4.76970
Equal variances not assumed
-9.495
61 Gambar III. Hasil Uji Reliabilitas
Reliability Statistics Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items .697 .709 10 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Squared Multiple Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted item1 28.5900 85.598 .432 .626 .667 item2 28.7300 85.270 .467 .641 .663 item3 28.8800 83.662 .398 .378 .668 item4 28.9300 85.015 .380 .416 .672 item5 28.3700 93.508 .053 .091 .726 item6 32.0800 86.620 .239 .216 .695 item7 32.3600 84.112 .319 .809 .681 item8 32.6800 87.270 .328 .805 .680 item9 31.0000 72.202 .498 .827 .644 item10 30.5100 67.949 .546 .834 .632
62 Gambar IV. Inform Consent