Secara umum, eksistensi serta kinerja peraturan dan regulasi formal maupun non-formal yang mendukung instrumen/institusi-institusi demokrasi berkenaan dengan keterlibatan dan partisipasi warga negara cenderung diakui dan mendukung di empat daerah
yang disurvei. Namun secara umum pula, cakupan geografis dan substansi peraturan dan regulasi formal dan non-formal yang mendukung instrumen/institusi-institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat pemerintahan yang demokratik dan akuntabel tersebut cenderung dinilai kurang luas dan kurang mencakup keseluruhan aspek di daerah-daerah yang disurvei, kecuali untuk beberapa institusi tertentu, seperti yang akan disampaikan lebih lanjut.
Sehubungan dengan eksistensi peraturan dan regulasi formal yang mendukung instrumen/institusi-institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara, secara umum keberadaan tersebut cenderung diakui di semua daerah yang disurvei (lihat Tabel 12 dalam Lampiran). Keadaan yang cenderung dinilai relatif paling bagus di antara keempat daerah yang disurvei tampaknya berlangsung di Kabupaten Tangerang, sementara yang cenderung relatif kurang bagus dibanding daerah lainnya yakni di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Sebanyak 50%, atau lebih, informan-ahli dari masing-masing daerah yang disurvei mengakui/mengkonfirmasi eksistensi peraturan dan regulasi formal yang mendukung institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara ini di daerahnya. Perkecualian hanya menyangkut institusi “partisipasi langsung, terbukanya akses masyarakat terhadap layanan publik, para pejabat dan wakil politik, serta dalam pembuatan kebijakan publik” di Kabupaten Batang yang diakui keberadaannya hanya oleh 48% informan-ahli dan di Kabupaten Ogan Komering Ilir hanya oleh 44% informan-ahli.
Sehubungan dengan kinerja peraturan dan regulasi formal yang mendukung instrumen/institusi-institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara, secara umum kinerja peraturan dan regulasi formal tersebut cenderung
diakui di semua daerah yang disurvei (lihat Tabel 13 dalam Lampiran). Keadaan yang cenderung dinilai paling kurang bagus di antara keempat daerah yang disurvei tampaknya berlangsung di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Sebanyak 50%, atau lebih, informan-ahli dari masing-masing daerah yang disurvei mengakui/ mengkonfirmasi kinerja peraturan dan regulasi formal mendukung institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara ini di daerahnya. Perkecualian hanya menyangkut institusi “partisipasi langsung (terbukanya akses masyarakat terhadap layanan publik, para pejabat dan wakil politik, serta dalam pembuatan kebijakan publik)” di Kabupaten Batang yang kinerjanya diakui hanya oleh 43% informan-ahli dan “akses dan partisipasi yang luas dari semua kelompok sosial –termasuk perempuan- terhadap kehidupan publik” di Kabupaten Ogan Komering Ilir yang kinerjanya diakui hanya oleh 44% informan-ahli.
Sehubungan dengan cakupan geografis penerapan peraturan dan regulasi formal yang mendukung instrumen/institusi-institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara, secara umum cakupan peraturan dan regulasi formal tersebut cenderung kurang mendukung/kurang luas di semua daerah yang disurvei (lihat Tabel 14 dalam Lampiran). Keadaan yang cenderung dinilai paling kurang bagus di antara keempat daerah yang disurvei tampaknya berlangsung di Kabupaten Batang. Kurang dari 50% informan-ahli dari masing-masing daerah yang disurvei mengakui/mengkonfirmasi keluasan cakupan peraturan dan regulasi formal mendukung institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara ini di daerahnya. Perkecualian menyangkut institusi “kebebasan pers, dunia seni, dan dunia akademis” di Kabupaten Ogan Komering Ilir (53%), Kota Pontianak (54%), dan Kabupaten Tangerang (57%), institusi “akses publik terhadap berbagai pandangan dalam media, seni, dan dunia akademis, dan kemampuan media, seni, dan dunia
akademis untuk merefleksikannya” di Kabupaten Ogan Komering Ilir (56%) dan Kota Pontianak (52%), serta institusi “partisipasi warga negara di dalam organisasi masyarakat yang independen” di Kabupaten Ogan Komering Ilir (53%) dan Kota Pontianak (68%).
Sehubungan dengan cakupan substansi peraturan dan regulasi formal yang mendukung instrumen/institusi-institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara, secara umum cakupan substansi peraturan dan regulasi formal tersebut cenderung kurang mendukung/kurang mencakup keseluruhan aspek di semua daerah yang disurvei (lihat Tabel 15 dalam Lampiran). Keadaan yang cenderung dinilai paling kurang bagus di antara keempat daerah yang disurvei tampaknya berlangsung di Kabupaten Batang. Kurang dari 50% informan-ahli dari masing-masing daerah yang disurvei mengakui/mengkonfirmasi keluasan substansi peraturan dan regulasi formal yang mendukung institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara ini di daerahnya. Perkecualian menyangkut institusi “kebebasan pers, dunia seni, dan dunia akademis” di Kabupaten Ogan Komering Ilir (67%), Kota Pontianak (50%), dan Kabupaten Tangerang (61%), “akses publik terhadap berbagai pandangan dalam media, seni, dan dunia akademis, dan kemampuan media, seni, dan dunia akademis untuk merefleksikannya” di Kabupaten Pontianak (50%), institusi “partisipasi warga negara di dalam organisasi masyarakat yang independen” di Kota Pontianak (68%), “transparansi, pertanggungjawaban, dan praktek demokratis dalam organisasi-organisasi masyarakat” di Kabupaten Ogan Komering Ilir (56%), serta “partisipasi langsung (terbukanya akses masyarakat terhadap layanan publik, para pejabat, dan wakil politik dalam pembuatan kebijakan publik” di Kabupaten Ogan Komering Ilir (50%).
Sehubungan dengan kinerja peraturan dan regulasi non-formal yang mendukung instrumen/institusi-institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara, secara umum kinerja peraturan dan regulasi non-formal tersebut cenderung diakui di semua daerah yang disurvei (lihat Tabel 16 dalam Lampiran). Keadaan yang cenderung dinilai relatif paling bagus di antara keempat daerah yang disurvei tampaknya berlangsung di Kabupaten Batang, sementara yang cenderung paling kurang bagus tampaknya di Kabupaten Tangerang. Sebanyak 50%, atau lebih, informan-ahli dari masing-masing daerah yang disurvei mengakui/mengkonfirmasi kinerja peraturan dan regulasi non-formal mendukung institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara ini di daerahnya. Perkecualian hanya menyangkut institusi “transparansi, pertanggungjawaban, dan praktek demokratis dalam organisasi-organisasi masyarakat” di Kabupaten Tangerang yang kinerjanya diakui hanya oleh 48% informan-ahli, “akses dan partisipasi yang luas dari semua kelompok sosial –termasuk perempuan- terhadap kehidupan publik” di Kabupaten Tangerang yang kinerjanya diakui hanya oleh 43% informan-ahli, dan “partisipasi langsung (terbukanya akses masyarakat terhadap layanan publik, para pejabat dan wakil politik, serta dalam pembuatan kebijakan publik)” di Kabupaten Tangerang yang kinerjanya diakui hanya oleh 35% informan-ahli.
Sehubungan dengan cakupan geografis penerapan peraturan dan regulasi non-formal yang mendukung instrumen/institusi-institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara, secara umum cakupan peraturan dan regulasi non-formal tersebut cenderung agak kurang mendukung/ kurang luas di semua daerah yang disurvei (lihat Tabel 17 dalam Lampiran). Keadaan yang cenderung dinilai paling kurang bagus di antara keempat daerah yang disurvei tampaknya berlangsung
di Kota Pontianak. Kurang dari 50% informan-ahli dari masing-masing daerah yang disurvei mengakui/mengkonfirmasi keluasan cakupan peraturan dan regulasi non-formal mendukung institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara ini di daerahnya. Perkecualian menyangkut institusi “kebebasan pers, dunia seni, dan dunia akademis” di Kabupaten Batang (63%), Kabupaten Ogan Komering Ilir (69%), dan Kabupaten Tangerang (57%), “akses publik terhadap berbagai pandangan dalam media, seni, dan dunia akademis, dan kemampuan media, seni, dan dunia akademis untuk merefleksikannya” di Kabupaten Batang (63%), Kabupaten Ogan Komering Ilir (56%), Kota Pontianak (52%), dan Kabupaten Tangerang (57%), “partisipasi warga negara di dalam organisasi masyarakat yang independen” di Kabupaten Batang (58%), Kota Pontianak (61%), dan Kabupaten Tangerang (57%), serta “transparansi, pertanggungjawaban, dan praktek demokratis dalam organisasi-organisasi masyarakat” di Kabupaten Batang (67%), Kabupaten Ogan Komering Ilir (56%), dan Kota Pontianak (57%).
Sehubungan dengan cakupan substansi peraturan dan regulasi non-formal yang mendukung instrumen/institusi-institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara, secara umum cakupan substansi peraturan dan regulasi non-formal tersebut cenderung kurang mendukung/kurang mencakup keseluruhan aspek di semua daerah yang disurvei (lihat Tabel 18 dalam Lampiran). Keadaan yang cenderung dinilai paling kurang bagus di antara keempat daerah yang disurvei tampaknya berlangsung di Kabupaten Tangerang. Kurang dari 50% informan-ahli dari masing-masing daerah yang disurvei mengakui/mengkonfirmasi keluasan substansi peraturan dan regulasi non-formal yang mendukung institusi demokrasi berkenaan dengan perangkat keterlibatan dan partisipasi warga negara ini di daerahnya. Perkecualian menyangkut institusi
“kebebasan pers, dunia seni, dan dunia akademis” di Kabupaten Ogan Komering Ilir (63%) dan Kota Pontianak (50%), “akses publik terhadap berbagai pandangan dalam media, seni, dan dunia akademis, dan kemampuan media, seni, dan dunia akademis untuk merefleksikannya” di Kabupaten Pontianak (57%), “partisipasi warga negara di dalam organisasi masyarakat yang independen” di Kabupaten Batang (54%), Kabupaten Ogan Komering Ilir (53%), dan Kota Pontianak (61%), “transparansi, pertanggungjawaban, dan praktek demokratis dalam organisasi-organisasi masyarakat” di Kabupaten Batang (50%), Kabupaten Ogan Komering Ilir (63%), dan Kota Pontianak (61%), serta “akses dan partisipasi yang luas dari semua kelompok sosial –termasuk perempuan- terhadap kehidupan publik” di Kota Pontianak (57%).