• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap adalah pengaruh atau penolakan, penilaian, serta suka atau tidak suka terhadap suatu obyek. Sikap mengandung suatu penilaian yang dapat mempengaruhi suatu tindakan dalam diri seseorang, sehingga sikap politik adalah perilaku seseorang untuk merespon, menilai, dan mengemukakan pendapat terhadap suatu keputusan. Sikap dalam penelitian ini diukur berdasarkan pandangan, tanggapan, dan tindakan seseorang dalam menyikapi suatu keputusan.

Pandangan merupakan suatu pemahaman atau penilaian seseorang dalam mengukur nilai suatu hal. Sehingga, sikap tentang pandangan dalam hal ini berawal dari adanya suatu cara pandang seseorang dalam mengukur suatu nilai tentang kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan. Oleh sebab itu, pandangan tentang makna kesetaran dan keadilan, yaitu suatu cara pandang yang mengungkapkan tentang arti nilai kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan.

Tanggapan merupakan suatu kritik atau pendapat dari seseorang terhadap adanya suatu nilai. Sehingga, sikap tentang tanggapan dalam hal ini akan mengungkapkan suatu alasan seseorang dalam menanggapi tentang nilai kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan. Oleh sebab itu, tanggapan tentang nilai kesetaraan dan keadilan, yaitu suatu

sikap yang mengemukakan suatu pendapat dan alasan tentang nilai kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan.

Tindakan merupakan suatu upaya yang dilakukan seseorang dalam menyikapi suatu pandangan. Sehingga, sikap tentang tindakan dalam hal ini akan dibahas mengenai suatu upaya yang dilakukan seseorang dalam dalam menyikapi suatu nilai kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan. Oleh sebab itu, menyikapi tentang nilai kesetaraan dan keadilan, yaitu suatu tindakan yang dilakukan seseorang dalam mengupayakan nilai kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1. Pandangan tentang makna kesetaraan dan keadilan

Salah satu persoalan penting dalam Pemilu Legislatif 2009, pasca keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi, tentang diberlakukannya sistem suara terbanyak sebagai pemenang pemilu bagi calon anggota legislatif, adalah suatu langkah yang menghilangkan kuota 30% keterwakilan perempuan di legislatif. Dengan sistem suara terbanyak ini, keterwakilan perempuan menjadi sangat tipis peluangnya untuk terpilih, karena calon anggota legislatif (caleg) perempuan harus berkompetisi secara bebas dengan caleg laki-laki. Sementara itu, pemilih belum tentu punya pertimbangan perbedaan gender di dalam melakukan pilihannya tersebut.

Di bidang politik, gerakan pemberdayaan perempuan telah mampu menembus dinding tebal yang membatasi gerak perempuan. Sekarang di pentas politik mereka memiliki hak untuk memilih dan dipilih di hampir seluruh dunia. Di Indonesia, terkait dengan pemberdayaan perempuan tersebut telah melahirkan berbagai regulasi politik di

antaranya undang (UU) Nomor 2/2008 tentang Partai Politik dan Undang-Undang (UU) Nomor 10/2008 tentang Pemilihan Anggota Legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) yang menyebutkan penyertaan sekurang-kurangnya 30% keterwakilan perempuan pada kepengurusan parpol tingkat pusat sebagai salah satu persyaratan parpol untuk dapat menjadi peserta pemilu.

Sebagian besar orang memang pesimis target itu akan tercapai apalagi pasca keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang Suara Terbanyak. Sistem kuota 30% yang ditentukan oleh undang-undang memang tidak melindungi perempuan secara kolektif tetapi hanya sekadar membuka peluang kepada perempuan untuk bersaing. Adapun keterpilihan calon anggota legislatif (caleg) dari perempuan masih banyak diragukan orang, hal itu disebabkan banyaknya faktor yang menghambat kegiatan kaum perempuan di bidang politik.

Terkait dalam pembahasan mengenai sikap calon legislatif perempuan terhadap adanya keputusan MK tersebut, maka pembahasan ini difokuskan pada cara pandang caleg perempuan nomor urut satu terhadap makna kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan saat ini. Pada umumnya sebagian caleg-caleg perempuan di nomor urut satu berpendapat bahwa upaya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan saat ini sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ibu Dra. Lily, MBA. MH, selaku calon legislatif perempuan nomor urut satu yang terpilih dari Partai Perjuangan Indonesia Baru (PIB) Kota Medan pada daerah pemilihan I.

“Ibu Dra. Lily, MBA. MH mengatakan, pendapat saya tentang kesetaraan dan keadilan tersebut kayaknya sekarang sudah lebih baik dari pada yang dulu, tetapi memang sampai sekarang ada juga kaum perempuan yang masih di nomor sekiankan, dimana masyarakat masih tetap memandang

rendah kaum perempuan di bidang politik, bahkan masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa kaum perempuan itu hanya pantas untuk mengurusi rumah tangga, dan tidak pantas untuk ikut campur dalam bidang politik. Sehingga kesetaraan dan keadilan itu seolah-olah memang masih kurang bermakna dihadapan masyarakat. Tetapi itupun menurut saya sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya.”49

Upaya kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan dalam bidang politik memang pada awalnya ditandai dengan adanya kuota 30% bagi keterlibatan perempuan di parlemen, dan itu ditandai dengan keluarnya Undang-undang No.12 pasal 65 ayat (1) tahun 2003 tentang pemilu mengenai kuota perempuan. Terkait dengan kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan dengan adanya kuota 30% itu dianggap sudah bisa memadai.50

Ibu Dra. Hasnil Aida mengatakan, terkait dengan kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan, menurut saya dengan adanya kuota 30% itu dianggap sudah bisa memadai, namun disamping itu memang masih banyak juga masyarakat yang belum percaya terhadap kinerja perempuan di bidang politik, dan bahkan perempuan itu sendiri pun juga belum percaya terhadap sesamanya, sehingga banyak masyarakat yang masih meragukan kemampuan perempuan dibidang politik.”

Dalam arti, dengan adanya kuota 30% tersebut, maka kesetaraan dan keadilan nantinya akan dapat terwujud. Dimana menurutnya dengan kuota 30% itu sudah merupakan suatu upaya yang nantinya dapat memberikan suatu motivasi bagi kaum perempuan untuk dapat menyetarakan atau mensejajarkan perannya dengan kaum laki-laki dalam bidang politik. Sehingga kuota tersebut dapat dijamin akan dapat mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan di bidang politik.

Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ibu Dra. Hasnil Aida, selaku caleg perempua n nomor urut satu dari Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) Kota Medan pada daerah pemilihan V.

51

49

Wawancara dengan Ibu Dra. Lily, MBA. MH, di Jalan Teuku Umar No. 7 AA Medan, pada tanggal 26 Agustus 2009

50

Wawancara dengan Ibu Dra. Hasnil Aida, di Universitas Al-Wasliyah (UNIVA) Jalan Sisingamangaraja Kecamatan Medan Amplas, pada tanggal 03 Agustus 2009

51

Wawancara dengan Ibu Dra. Hasnil Aida, di Universitas Al-Wasliyah (UNIVA) Jalan Sisingamangaraja Kecamatan Medan Amplas, pada tanggal 03 Agustus 2009

Berbicara mengenai kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan dibidang politik, maka akan berbicara juga mengenai hukum, dimana pada dasarnya semua manusia “sama” di mata hukum, baik itu kaum laki-laki maupun kaum perempuan. Hal tersebut telah menunjukkan bahwa didalam Negara Indonesia tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam bidang apapun, termasuk dalam bidang politik. Sehingga dalam hal ini “Kesetaraan” bagi kaum perempuan perlu diarusutamakan, dimana setiap warga negara memiliki hak yang ”sama” untuk mendapat perlakuan yang adil, sehingga ”Kesamaan” hak bagi perempuan pun harus ditegakkan, begitu juga dalam bidang politik.

Adapun pandangan mengenai kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan tersebut merupakan suatu upaya untuk mensejahterakan kehidupan kaum perempuan serta mensejajarkan peran kaum perempuan dengan kaum laki-laki.52

52

Wawancara dengan Ibu Maria Sinaga, di Jalan Rakyat/Camar No.11 Sidorame Timur Medan Perjuangan, pada tanggal 20 Agustus 2009

Dalam mewujudkan kesetaran dan keadilan bagi kaum perempuan tersebut, memang harus ada suatu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk dapat menyamakan kedudukan kaum perempuan dengan laki-laki dalam berbagai bidang terutama dalam bidang politik. Hal tersebut dilakukan agar nantinya langkah dan upaya kaum perempuan untuk menyamakan kedudukannya dengan laki-laki dapat terwujud serta mendapatkan perlindungan dari pemerintah dan negara. Dengan begitu, akan semakin mempermudah langkah kaum perempuan untuk dapat memotivasi dirinya agar dapat berkiprah di dunia perpolitikan. Tetapi lain halnya dengan pandangan caleg perempuan nomor urut satu yang lainnya yang mengatakan bahwa kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan itu kurang diterapkan sampai saat ini, dan gender 30% itu sampai sekarang belum

terwujud.53

1. Perempuan itu mempunyai rasa takut.

Hal ini sebagaimana telah disampaikan oleh Ibu Latifah Hanum, SE, selaku caleg perempuan nomor urut satu dari Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) Kota Medan pada daerah pemilihan II.

“Ibu Latifah Hanum, SE mengatakan, sementara saya rasa kaum perempuan itu menurut saya di atas segalanya dan bahkan mungkin lebih baik dari kaum laki-laki itu sendiri. Dengan alasan:

2. Perempuan itu dapat berpikir lebih jauh.

3. Unsur korupsi itu mungkin jauh dari pikiran kaum perempuan karena mereka punya sifat kehati hatian dan rasa takut yang berlebih daripada kaum laki-laki.”54

Selain dalam bidang politik, kaum perempuan memiliki masih banyak kelebihan. Menurutnya, kemampuan dan kepintaran kaum perempuan dalam segala hal tidaklah jauh berbeda dengan kaum laki-laki. Dalam dunia politik, banyak kaum perempuan yang ingin terjun didalamnya, hanya saja banyak kaum perempuan lebih malu daripada kaum laki-laki, sehingga dalam hal ini kaum laki-laki lebih menonjol daripada kaum perempuan. Alasan-alasan diatas merupakan suatu penilaian atas langkah kaum perempuan yang berhasil duduk di legislatif. Alasan tersebut juga merupakan penilaian terhadap diri perempuan jika di hadapkan pada suatu hal, seperti halnya jika ingin melakukan atau memulai sesuatu biasanya perempuan itu lebih takut, dimana kaum perempuan memiliki rasa takut yang berlebih daripada kaum laki-laki, oleh sebab itu biasanya laki-laki lebih berani daripada perempuan. Selain itu, kaum perempuan biasanya berpikir jauh kedepan sebelum melakukan sesuatu hal. Dan kalau dalam politik itu sendiri menurutnya unsur korupsi itu mungkin jauh dari pikiran kaum perempuan karena pada dasarnya kaum perempuan memang mempunyai sifat kehati hatian dan rasa takut yang berlebih daripada kaum laki-laki, sehingga unsur korupsi sangat jauh dari pikiran mereka.

53

Wawancara dengan Ibu Latifah Hanum, SE, di Jalan Setiabudi Kompleks Taman Setiabudi Indah Blok QQ No. 57/58 Medan, pada tanggal 1 Agustus 2009

54

Wawancara dengan Ibu Latifah Hanum, SE, di Jalan Setiabudi Kompleks Taman Setiabudi Indah Blok QQ No. 57/58 Medan, pada tanggal 1 Agustus 2009

Dapat dilihat bahwa semenjak dikeluarkannya kuota 30% tersebut untuk memenuhi keterwakilan kaum perempuan di parlemen, hingga sekarang belum juga dapat terwujud, sehingga upaya kesetaran dan keadilan itu sampai sekarang tidak menunjukkan suatu perkembangan. Hal ini sebagaimana telah disampaikan oleh Ibu Sri Mutia Ulin Nuha selaku caleg perempuan nomor urut satu dari Partai Pemuda Indonesia (PPI) Kota Medan pada daerah pemilihan III.

“Ibu Sri Mutia Ulin Nuha mengatakan, kesetaraan dan keadilan tidak ada perubahan dari dulu sampai sekarang, tapi kalau saya pribadi tidak terlalu memperdulikan akan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, karena memang sudah jelas di dalam UUD 1945, bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki dan perempuan itu sama di mata hukum. Dan saya memang tidak sependapat kalau harus ada spesialisasi untuk kaum perempuan dalam bidang politik, karena bagi saya kalau perempuan itu memang mampu, harus berpacu dan tidak harus meminta-minta bantuan. Seharusnya kalau memang ingin maju, kaum perempuan itu harus menunjukkan kelebihannya di masyarakat, dan terkadang perempuan itu sendiri pun belum mempunyai kesadaran untuk memilih sesama kaum perempuan, mungkin selama ini anggota legislatif kita yang mewakili perempuan tidak pernah menyuarakan aspirasi kaum perempuan, sehingga banyak kaum perempuan yang tidak percaya dengan sesama perempuan juga. Bagi saya, laki-laki dan perempuan harus sama-sama siap bertarung, cuma perempuan itu memiliki nilai-nilai sendiri seperti tidak mau bermain dengan cara kasar dan biasanya lebih banyak tanggung jawabnya daripada laki-laki. Menurut saya, kalau memang perempuan itu ingin maju, harus ada niat dari diri sendiri dan tidak perlu ada bantuan dari mana pun.”55

Sebenarnya kesetaraan dan keadilan akan benar-benar terwujud jika kaum perempuan itu memiliki niat untuk mau dan mampu untuk mewakili suara masyarakat serta dapat menunjukkan kelebihannya di dalam masyarakat. Hal tersebut sudah jelas bahwa laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan dan memang sama dimata hukum. Ibu Mutia beranggapan bahwa kesetraaan dan keadilan tidak akan terwujud jika dalam diri perempuan itu hanya mengaharapkan bantuan dan tidak mau berdiri sendiri. Bahkan menurutnya, kaum perempuan sebenarnya tidak perlu ada spesialisasi khusus seperti kuota 30% untuk menarik kaum perempuan agar lebih banyak terjun di dunia politik. Menurutnya kalau perempuan itu memang mau dan mampu untuk ikut didalamnya maka

55

Wawancara dengan Ibu Sri Mutia Ulin Nuha, di Kantor DPD Partai Pemuda Indonesia (PPI) Kota Medan Jalan Ampera II No.61 Sei Sikambing-C II Kecamatan Medan Helvetia, pada tanggal 19 Agustus 2009

harus berpacu dan bersaing untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Seharusnya kalau memang kaum perempuan ingin maju dalam bidang politik, maka mereka itu harus menunjukkan berbagai kelebihannya di masyarakat, dan tanamkan pada masyarakat bahwa kaum perempuan juga dapat berkiprah di politik.

Adapun berdasarkan pandangan-pandangan dari beberapa caleg perempuan nomor urut satu tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa memang upaya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan di bidang politik tidak menunjukkan perubahan dari dahulu hingga sekarang, bahkan menurut salah seorang caleg perempuan nomor urut satu, kuota 30% itu pun sampai sekarang belum tercapai. Oleh sebab itulah, menurut mereka kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan tidak akan terwujud jika kaum perempuan itu sendiri tidak ingin berusaha. Tetapi ada juga caleg perempuan nomor urut satu yang mengatakan bahwa upaya kesetaraaan dan keadilan bagi kaum perempuan sudah lebih baik dari yang dulu, dimana menurutnya dengan adanya kuota 30% tersebut sudah dapat memadai untuk terwujudnya kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan, walaupun banyak caleg perempuan nomor urut satu yang merasa bahwa kaum perempuan dalam politik itu sampai sekarang masih di nomor sekiankan, menurut mereka banyak masyarakat yang masih menganggap kaum laki-laki yang paling pantas dalam bidang tersebut. Banyak juga masyarakat yang belum percaya terhadap kinerja perempuan di bidang politik, dan bahkan kaum perempuan itu sendiri pun juga belum percaya terhadap sesamanya, sehingga banyak masyarakat yang masih meragukan kemampuan perempuan dibidang politik. Hal itulah yang merupakan alasan mengapa sampai sekarang kuota 30% yang merupakan upaya penyetaraan bagi kaum perempuan masih belum tercapai.

2. Tanggapan tentang nilai kesetaraan dan keadilan

Terkait dengan adanya perubahan sistem pemilu dalam pemilihan umum legislatif tahun 2009, yaitu diberlakukannya sistem suara terbanyak dalam menentukan calon terpilih, maka caleg-caleg perempuan merasa kehilangan porsi yang tadinya sudah aman dengan adanya kuota 30% untuk keterwakilan perempuan di legislatif tetapi sekarang para caleg perempuan harus sama-sama bersaing untuk mendapatkan suara yang sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Dengan keluarnya keputusan tersebut, maka dengan sendirinya akan menghapus kuota 30% keterwakilan perempuan di legislatif. Sebenarnya dengan kondisi ini, pada dasarnya akan merugikan caleg-caleg perempuan, terutama bagi caleg perempuan yang pada saat itu menduduki nomor urut satu dalam pencalonan. Adapun banyak caleg perempuan yang merasa dirugikan dengan adanya keputusan tersebut, dengan alasan akan semakin mempersulit terwujudnya kesetaraan dan keadilan terhadap kaum perempuan di bidang politik. Dan sebaliknya, banyak juga caleg perempuan yang menyambut baik akan keluarnya keputusan tersebut, terutama caleg-caleg nomor urut satu. Dimana menurut mereka dengan adanya sistem suara terbanyak ini, maka pemilihan akan semakin bagus dan akan tercipta wujud demokratisasi yang sesungguhnya serta dapat memberikan peluang bagi masing-masing calon terutama pada kaum perempuan untuk sama-sama bersaing memperoleh suara yang sebanyak-banyaknya.56

Dalam penelitian ini, banyak dari caleg perempuan nomor urut satu yang tidak merasa dirugikan dengan adanya keputusan tersebut. Bahkan mereka menyambut baik

56

Wawancara dengan Ibu Sri Mutia Ulin Nuha, di Kantor DPD Partai Pemuda Indonesia (PPI) Kota Medan Jalan Ampera II No.61 Sei Sikambing-C II Kecamatan Medan Helvetia, pada tanggal 19 Agustus 2009

dengan dikeluarkannya keputusan tersebut. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ibu Dra. Hasnil Aida.

“Ibu Dra. Hasnil Aida mengatakan, sebenarnya sistem itu bagus, karena yang namanya DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) itu nantinya harus mewakili suara rakyat di lembaga perwakilan. Jadi yang diharapkan memang yang paling banyak dipilih dan disukai rakyat, yang mana mungkin rakyat memilihnya karena kompetennya dan dilihat dari kedekatannya dengan masyarakat. Tetapi menurut saya, adanya keputusan ini akan semakin menjadikan kaum perempuan lebih mudah untuk disaingi, karena banyak kaum perempuan yang pada hari H nya itu sering disikut oleh para pesaingnya, khususnya kaum laki-laki.”57

“Ibu Sri Mutia Ulin Nuha mengatakan, kalau dalam pemilu, memang kesetaraan dan keadilan itu belum ada, karena memang pada dasarnya kaum perempuan itu masih memiliki keterbatasan, baik itu dari segi pendidikan maupun keberanian. Menurut saya kalau perempuan itu ingin maju dan terpilih dalam pemilu harus sama-sama bersaing dan harus lebih berani bersaing dengan kaum laki-laki, dan seharusnya tidak perlu ada bantuan seperti kuota 30% tersebut, padahal kita tahu bahwa penduduk di Indonesia itu lebih dari setengahnya adalah kaum perempuan, oleh sebab itu kalau saja sesama perempuan dapat memilih perempuan juga mungkin lebih banyak perempuan yang duduk di legislatif daripada laki-laki.”

Menurutnya, sistem itu bagus, tetapi pengaruh dari sistem tersebutlah yang nantinyaakan semakin menjadikan kaum perempuan itu lebih mudah untuk disaingi oleh caleg yang lainnya, karena pada kenyataannya dilapangan, banyak kaum perempuan yang pada hari H nya itu sering disikut oleh para pesaingnya, khususnya oleh kaum laki-laki. Menurutnya, jika kaum perempuan itu ingin maju maka harus ditanamkan dari diri perempuan itu sendiri bahwasanya perempuan itu mempunyai kemampuan dan kemauan untuk dapat setara dengan kaum laki-laki. Sehingga bila kaum perempuan itu ingin maju sebenarnya tidak perlu ada bantuan dari manapun, yang terpenting harus ada keinginan dan usaha dari diri perempuan itu sendiri untuk ingin maju. Hal ini sebagaimana juga disampaikan oleh Ibu Sri Mutia Ulin Nuha.

58

Pada dasarnya, upaya kesetaraan dan keadilan memang belum tercapai hingga sekarang. Oleh sebab itu menurutnya, kaum perempuan itu harus lebih berani lagi dalam

57

Wawancara dengan Ibu Dra. Hasnil Aida, di Universitas Al-Wasliyah (UNIVA) Jalan Sisingamangaraja Kecamatan Medan Amplas, pada tanggal 03 Agustus 2009

58

Wawancara dengan Ibu Sri Mutia Ulin Nuha, di Kantor DPD Partai Pemuda Indonesia (PPI) Kota Medan Jalan Ampera II No.61 Sei Sikambing-C II Kecamatan Medan Helvetia, pada tanggal 19 Agustus 2009

melakukan segala hal terutama harus berani bersaing dengan kaum laki-laki didalam pemilihan umum. Adapun semua caleg perempuan nomor urut satu dalam penelitian ini beranggapan bahwa keputusan MK tentang suara terbanyak itu sangat bagus, dan bahkan mereka mendukung dengan dikeluarkannya keputusan tersebut. Hal ini sebagaimana juga disampaikan oleh Ibu Maria Sinaga.

Ibu Maria Sinaga mengatakan, saya sangat setuju, karena dengan suara terbanyak itu dapat memacu semangat kaum perempuan untuk mendapatkan suara yang sebanyak-banyaknya dalam pemilihan dan terlihat bahwa memang pemilu ini menjadi transparan dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Apapun ceritanya, yang paling banyak dipilih rakyat berarti memang itulah yang pantas untuk mewakili rakyat, dan itupun mungkin karena sosok seseorang tersebut di masyarakat memang sudah dikenal dimana-mana.”59

Pada dasarnya

Dengan disahkan dan diberlakukannya sistem suara terbanyak oleh Mahkamah Konstitusi akan menjadi suatu langkah maju bagi kaum perempua untuk dapat bekerja keras guna mengumpulkan suara terbanyak. Menurutnya, sistem pemilihan dengan menggunakan suara terbanyak merupakan suatu sistem yang sangat baik, karena dengan adanya sistem ini maka yang terpilih nantinya adalah orang yang benar-benar yang banyak dipilih oleh masyarakat, sehingga pemilihan menjadi jujur dan adil sebagaimana azas dari pemilihan umum. Sebagaimana pemilu legislatif sangat penting sebab badan legislatif nantinya akan menjadi wakil rakyat yang selalu menampung aspirasi rakyatnya, oleh sebab itu bertujuan melaksanakan pemerintahan yang baik yang sesuai visi dan tuntutan masyarakat.

pemilu semata-mata dilaksanakan guna mementingkan segala kepentingan rakyatnya, dimana dengan sistem suara terbanyak ini nantinya orang-orang yang mendapatkan banyak suara adalah orang-orang yang memang pantas dipilih rakyat sebagai wakilnya di parlemen.

59

Wawancara dengan Ibu Maria Sinaga, di Jalan Rakyat/Camar No.11 Sidorame Timur Medan Perjuangan,

Dokumen terkait