Hak kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam politik adalah termasuk HAM (Hak Azasi Manusia), karena demokrasi tidak akan mungkin dibangun tanpa adanya keikutsertaan kaum perempuan didalamnya. Oleh sebab itu, legitimasi dari suatu
Tentang Suara Terbanyak
Keterwakilan kaum perempuan dalam pemilu adalah terwakilinya kepentingan kaum perempuan oleh wakil-wakil mereka di dalam lembaga dan dalam proses politik. Keterwakilan perempuan ini menjadi salah satu wujud dari cerminan terhadap adanya sebuah demokrasi yang sekarang berusaha untuk diwujudkan.
40
kebijakan yang demokratis harus pula mempertimbangkan kepentingan pemilih yang terdiri dari kaum perempuan dan laki-laki.41
Seperti halnya pada Pemilihan Umum tahun 2004 yang lalu, dapat dilihat bahwa keterwakilan calon legislatif laki-laki masih lebih tinggi daripada calon legislatif perempuan. Kurangnya keterwakilan perempuan pada struktur kepartaian maupun di parlemen disebabkan oleh serangkaian hambatan yang membatasi kemajuan mereka. Selain karena sistem yang memang cenderung mendiskriminasi, lemahnya posisi perempuan juga disebabkan kurang adanya kemampuan dan kemauan untuk setara. Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya peran dan partisipasi politik perempuan, ditandai dengan rendahnya keterwakilan perempuan baik dalam kepengurusan partai politik maupun dalam keterwakilan di lembaga legislatif. Hal ini seakan diperkuat karena sempitnya akses kaum perempuan dalam memasuki bidang politik.42
Adapun pada pemilu tahun 2004 yang lalu, sistem yang di pakai adalah sistem nomor urut, yaitu calon yang terpilih nantinya adalah calon yang menduduki nomor urut 1, 2, dan 3. Tetapi, pada pemilu 2009 yang seharusnya tetap memakai sistem nomor urut tersebut dan hal itu juga telah diatur dalam UU No.10 tahun 2008 tentang Pemilu, tetapi nyatanya sistem tersebut tidak berlaku. Adapun pada saat itu, penetapan calon legislatif terpilih akan memakai sistem berdasarkan suara terbanyak, yaitu calon yang terpilih nantinya adalah calon yang mendapatkan suara yang terbanyak.
41
Ani Widyani Soetjipto, Affirmative Action Untuk Perempuan di Parlemen: Panduan Parlemen di Indonesia, Yayasan API, hal.230
42
Dapat dilihat di : http://www. Maulinniam.wordpress.com. diakses pada tanggal 8 Maret 2009
Mahkamah Konstitusi (MK) telah menghapus sistem nomor urut dalam Undang-undang Pemilu dan sekarang penetapan calon anggota legislatif terpilih kini ditentukan berdasarkan suara terbanyak,
demikian putusan MK atas uji materi UU No.10/2008 tentang Pemilu yaitu pasal 214 huruf a, b, c, d dan e.
Pasal 214 huruf a, b, c, d, dan e, menyatakan bahwa Penetapan calon terpilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dari Partai Politik Peserta Pemilu didasarkan pada perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu di suatu daerah pemilihan, dengan ketentuan:
a. Calon terpilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan calon yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari BPP;
b. Dalam hal calon yang memenuhi ketentuan huruf a jumlahnya lebih banyak daripada jumlah kursi yang diperoleh partai politik peserta pemilu, maka kursi diberikan kepada calon yang memiliki nomor urut lebih kecil di antara calon yang memenuhi ketentuan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari BPP;
c. Dalam hal terdapat dua calon atau lebih yang memenuhi ketentuan huruf a dengan perolehan suara yang sama, maka penentuan calon terpilih diberikan kepada calon yang memiliki nomor urut lebih kecil di antara calon yang memenuhi ketentuan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari BPP, kecuali bagi calon yang memperoleh suara 100% (seratus perseratus) dari BPP;
d. Dalam hal calon yang memenuhi ketentuan huruf a jumlahnya kurang dari jumlah kursi yang diperoleh partai politik peserta pemilu, maka kursi yang belum terbagi diberikan kepada calon berdasarkan nomor urut;
e. Dalam hal tidak ada calon yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari BPP, maka calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut.43
Dalam hal ini, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk dapat memperhatikan keterlibatan kaum perempuan di bidang politik, dimana dengan adanya
Berdasarkan isi pasal dalam undang-undang tersebut di atas dijelaskan bahwa perolehan suara dan penentuan calon terpilih dalam pemilihan umum adalah berdasarkan dengan nomor urut, dimana setiap caleg harus bisa memperoleh suara sekurang-kurangnya 30% dari BPP yang sudah ditentukan. Oleh sebab itu, dengan adanya sistem nomor urut tersebut nantinya berapa pun jumlah suara yang didapat oleh caleg-caleg yang menduduki nomor urut besar akan diberikan kepada nomor urut yang lebih kecil yaitu nomor urut 1, 2, dan 3. Sehingga sangat kecil peluang para caleg yang berada di nomor urut besar untuk dapat menjadi anggota dewan, tetapi malah sebaliknya akan menjadi peluang yang sangat besar bagi para caleg yang berada di nomor urut jadi tersebut untuk dapat menjadi anggota dewan.
Adapun pada pemilu tahun 2009, dengan adanya undang-undang tersebut di atas, peran kaum perempuan dalam pemilu tersebut menjadi sangat dominan dan signifikan, karena pada pemilu mendatang, kaum perempuan dapat menempati posisi yang strategis, baik itu dalam konteks undang-undang maupun dalam konteks pemilu itu sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dari tahapan penyelenggaraan pemilu tahun 2009, dimana pada tahun ini untuk menempatkan perempuan menjadi calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota adalah merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh berbagai partai politik.
43
Undang-undang Republik Indonesia No.10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD
UU No.10 tahun 2008, yaitu pasal 8 ayat 1 butir (d) dan pasal 55 ayat (2), maka peluang kaum perempuan untuk dapat terlibat di politik semakin terbuka lebar. Dimana pemerintah juga telah menetapkan sistem zipper yang telah diatur dalam UU tersebut di atas guna mengupayakan kesetaraan dan menegakkan keadilan terhadap hak-hak kaum perempuan dalam bidang politik. Sehingga setiap partai politik untuk menjadi peserta pemilu harus mencantumkan perempuan sebagai calon legislatif adalah sebagai penyeimbangan karena pada pemilu yang akan datang laki-lakai dan perempuan di dalam kedudukan politik yaitu 2:1, dimana setiap partai politik harus mencantumkan paling sedikit 1 orang perempuan bakal calon diantara 3 orang bakal calon, itulah yang dinamakan dengan sistem zipper, sehingga dari ketiga calon legislatif tersebut salah satunya wajib menyertakan perempuan.
Apabila partai politik tidak mengikutsertakan perempuan, maka KPU akan mengumumkan dan akan mempublikasikan ke media, kepada publik, kepada masyarakat bahwa partai ini tidak memiliki kesetaraan gender, tidak peduli terhadap perempuan dan tidak sensitif gender. Hal itu merupakan poin penting agar pengujian partai politik memiliki keadilan politik terhadap perempuan. Jadi inilah kesempatan perempuan agar dapat bergelut dalam partai politik untuk menjadi calon legislatif baik anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.
Tetapi dalam kenyataannya, kesempatan yang diperoleh oleh caleg perempuan melalui UU tersebut diatas menjadi tidak berpengaruh, karena pada saat itu banyak partai politik yang ingin mengajukan dan menerapkan aturan sistem suara terbanyak di dalam kebijakan internal partai. Adapun beberapa partai politik yang mengajukan penetapan
calon terpilih berdasarkan suara terbanyak yaitu Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Golongan Karya (Golkar).
Oleh sebab itulah, dengan adanya pengajuan dari beberapa partai politik tersebut diatas, dan setelah berbagai partai politik lainnya mengajukan pencalonan dan menetapkan nomor urut para caleg-calegnya untuk menjadi bakal calon legislatif, maka aturan untuk memakai sistem suara terbanyak ini kemudian di sahkan pemberlakuannya oleh Mahkamah Konstitusi (MK) melalui keputusan Judisial Review atas UU No. 10 Tahun 2008 Pasal 214 huruf a, b, c, d, dan e.
Kemudian tepat pada hari selasa tanggal 23 Desember 2008, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu Bapak Mohammad Mahfud MD mengeluarkan surat keputusan No.22 & 24/PUU-VI/2008 dan membacakan putusannya tersebut di gedung Mahkamah Konstitusi di Jakarta. Adapun isi dalam surat keputusan tersebut dinyatakan “Menimbang
bahwa dalil pemohon beralasan sepanjang mengenai pasal 214 huruf a, b, c, d, e UU No.10/2008 maka permohonan pemohon dikabulkan”.44
Mahkamah Konstitusi (disingkat MK) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan kehakiman bersama-sama dengan Mahkamah Agung.45 Menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009, Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan dan mengesahkan sistem pembagian/perolehan kursi Pemilu Legislatif di Indonesia berdasarkan suara terbanyak. Adapun ketentuan ini berlaku sejak hari Selasa, tanggal 23 Desember 2008, dimana sistem pemilihan umum calon legislatif untuk pemilu tahun 2009 telah mengalami revisi, yaitu Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan surat keputusan
44
Dapat dilihat pada: http:inilah.com/berita/politik/mk-putuskan-suara-terbanyak-caleg.html, diakses pada tanggal 26Juni 2009
(final dan
45
mengikat) atas perkara No.22 & 24/PUU-VI/2008
Sebuah terobosan baru semenjak 1955 dalam demokrasi dan politik di Indonesia. Sebuah langkah maju dimana masyarakat bisa memilih calon yang ddidukungnya secara langsung tanpa ada suatu apapun yang menghalangi. Dengan adanya keputusan ini maka semua harus menyesuaikan termasuk KPU, Panwaslu ataupun bahkan internal partai. Keputusan ini menjadi kabar yang menggembirakan bagi caleg yang berada di nomor urut bawah dan sebaliknya akan menjadi berita yang tidak menyenangkan bagi para caleg yang telah menduduki nomor urut kecil (atas). Jadi, dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut dapat memberikan kesempatan kepada para calon legislatif yang tidak berada di nomor urut satu untuk dapat menunjukkan dirinya bahwa walaupun tidak di urutan pertama tetapi dapat meraup suara terbanyak, hal tersebut menjadi suatu motivasi bagi para caleg untuk dapat berpacu dan bersaing untuk mendapatkan suara yang sebanyak-banyaknya.
yang isinya memutuskan bahwa memberlakukan atau mengesahkan sistem pemilihan berdasarkan suara terbanyak dalam pemilihan umum calon anggota legislatif tahun 2009. Para hakim konstitusi juga memutuskan bahwa caleg yang nantinya terpilih pada hasil Pemilu 2009 akan ditentukan melalui sistem suara terbanyak.
Dalam putusannya tersebut, pihak Mahkamah Konstitusi (MK) menilai bahwa pasal 214 huruf a, b, c, d, dan e tersebut nantinya hanya menguntungkan para calon legislatif yang berada di nomor urut jadi yakni 1, 2, dan 3, Sedangkan calon legislatif yang berada di nomor urut bawah meski mendapatkan suara terbanyak, tapi perolehan suaranya itu nantinya akan diberikan kepada nomor urut jadi (1, 2, dan 3) tersebut. Hal tersebut juga diperjelas oleh Hakim Konstitusi yaitu Bapak Arsyad Sanusi yang
menjelaskan bahwa jika pasal tersebut yang menentukan pemenang dalam pemilihan umum adalah yang memiliki suara di atas 30 persen dan menduduki nomor urut lebih kecil adalah bersifat inskontitusional, yaitu bertentangan dengan kedaulatan rakyat sebagaimana diatur dalam UUD 1945.46
Adapun dalam keputusan tersebut bahwa caleg terpilih harus ditentukan melalui mekanisme perolehan suara terbanyak juga akan diperkirakan dapat membawa implikasi Oleh sebab itu, Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan uji materi atas pasal 214 huruf a, b, c, d, dan e UU No.10/2008 tentang Pemilu tersebut. Sehingga penetapan calon anggota legislatif pada Pemilu 2009 nanti tidak lagi memakai sistem nomor urut dan digantikan dengan memakai sistem suara terbanyak. Komisi Pemilihan Umum juga menyatakan siap mengaplikasikan aturan mengenai penetapan caleg terpilih dengan suara terbanyak sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi.
Di antara pertimbangan MK atas keputusan tersebut adalah bahwa ketentuan pasal 214 huruf a, b, c, d dan e UU No. 10/2008 yang menyatakan bahwa calon anggota legislatif terpilih adalah calon yang mendapat suara di atas 30 persen dari bilangan pembagi pemilih (BPP) atau menempati nomor urut lebih kecil, dinilai bertentangan secara substantif dengan prinsip keadilan sebagaimana diatur dalam pasal 28 ayat 1 UUD 1945. Dengan kata lain, MK ingin mengembalikan kedaulatan kepada rakyat sebagai pemilik yang sebenarnya dalam kehidupan demokrasi. Pada intinya pasal 214 menyatakan bahwa caleg DPR, DPD dan DPRD terpilih ditentukan berdasarkan calon yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 30 persen dari Bilangan Pembagi Pemilih (BPP), dan jika calon yang memenuhi syarat melebihi jumlah kursi tersebut, maka kursi diberikan pada calon dengan nomor urut kecil.
46
yang lebih luas. Diperkirakan dengan mekanisme suara terbanyak tersebut, persaingan antar caleg bisa bermuara pada pembelian suara, terutama oleh caleg yang memiliki dana besar untuk kampanye, dan diperkirakan juga keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan Pasal 214 Undang-undang No.10 Tahun 2008 dan pada pemilu legislatif 2009 menggunakan sistem nomor urut maka calon perempuan yang akan terpilih nantinya sebagai anggota DPR jumlahnya tidak jauh berbeda dari hasil Pemilu 2004 yang lalu.47
Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan penghapusan pola nomor urut dalam penentuan caleg terpilih dalam pemilu 2009 banyak menuai kritik. Dengan adanya keputusan MK No.22-24/PUU-VI/2008 yang mengatur tetang sistem pemilu yang akan digunakan dalam pemilu legislatif 2009 telah mengubah pelaksanaan pemilu di Indonesia. Sistem pemilihan yang digunakan dan pengaruhnya kepada representasi kaum perempuan sangatlah besar.48
Dengan membatalkan pasal 214 huruf a sampai e, maka penetapan calon terpilih dilakukan berdasarkan siapa yang meraih suara terbanyak, yang akibatnya sistem zipper, yakni sistem di mana partai menempatkan minimal satu perempuan di antara tiga calon Sebenarnya penerapan aturan 'suara terbanyak' sebagai penentu caleg terpilih dianggap lebih adil dibandingkan pola 'nomor urut'. Namun akibatnya kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen yang disyaratkan dalam undang-undang menjadi tidak berarti, sehingga keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai penetapan calon anggota legislatif (caleg) dengan sistem suara terbanyak dianggap tidak adil bagi caleg perempuan, dan menguntungkan caleg-caleg yang memiliki uang.
47
Dapat dilihat pada:
diakses pada tanggal 26 Juni 2009
48
menjadi tidak berguna. Penerapan suara terbanyak tentunya tidak sejalan dengan upaya affirmative action yang hanya sesuai apabila digunakan aturan nomor urut oleh MK. Padahal, jika kita merujuk kepada Negara-negara yang memiliki keterwakilan perempuan yang baik, maka sistem zipper dan kuota terbukti efektif dan berhasil meningkatkan angka representasi kaum perempuan di parlemen. Kebijakan Affirmative Action adalah tindakan khusus yang bersifat sementara, dimana jika keadilan dan kesetaraan itu telah tercapai maka kebijakan ini bisa dicabut kembali. Lebih jauh Affirmative Action bukanlah kuota dalam artian memberikan jatah kursi secara gratis di parlemen. Langkah affirmative
action atau disebut juga diskriminasi positif ini sudah merupakan langkah maju secara
legal formal, namun di sisi lain juga menyisakan persoalan karena tidak memberikan jaminan penuh terhadap perubahan nasib perempuan terutama pasca keluarnya fatwa MK di atas.
Selain gagalnya sistem zipper tersebut, aturan suara terbanyak juga akan mempersulit caleg perempuan untuk masuk ke dalam parlemen. Suara terbanyak mengharuskan para caleg perempuan untuk terjun dan lebih dekat dengan para konstituennya secara langsung. Aktivitas caleg untuk terjun kepada masyarakat pemilihnya tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dengan status dan kondisi ekonomi yang terbatas dimiliki oleh perempuan, maka tentunya akan sulit bagi perempuan untuk terjun langsung kepada konstituen. Disamping itu, pendidikan politik terhadap perempuan yang lebih terbatas dibanding laki-laki, tentunya menyulitkan upaya politik caleg perempuan untuk berkampanye di dalam pemilu.
Pasca keluarnya Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang anggota legislatif terpilih berdasarkan suara terbanyak, filosofi Pemilu 2009 mengalami perubahan. Bila
sebelumnya dengan penetapan nomor urut, dimana partai politik (parpol) diasumsikan sebagai pihak yang paling mengetahui kualitas calon anggota legislatif (caleg), maka dengan suara terbanyak ini diasumsikan pemilih sudah tahu kualitas caleg yang akan dipilih.
Oleh sebab itu, dengan adanya keputusan MK ini, maka para caleg nomor urut 1 dalam DCT merupakan orang yang hanya bisa pasrah menerima keputusan tersebut, Dan ditambah lagi KPU juga langsung berjanji menjalankan keputusan MK ini. Sehingga tidak ada pilihan lain untuk para caleg nomor urut 1 untuk tetap harus berjuang sama-sama dengan caleg lain untuk mendapatkan suara terbanyak. Inilah wajah demokrasi Indonesia yang sesungguhnya, di pemilu tahun 2009, rakyat akan mendapatkan wakilnya berdasarkan pilihan mereka sendiri, apakah ingin memilih caleg perempuan atau laki-laki. Hal itu semua dikembalikan kepada masing-masing rakyat untuk siapa yang akan pantas menjadi wakilnya, karena memang pada dasarnya demokrasi merupakan sebuah sistem yang banyak diterapkan oleh berbagai negara di belahan dunia termasuk Indonesia yang berangkat dari asumsi bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat yang ditentukan berdasarkan suara mayoritas.
Tetapi sebagian besar orang memang pesimis target untuk keterwakilan perempuan di parlemen itu akan tercapai apalagi pasca keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang suara terbanyak. Sistem kuota 30% yang ditentukan oleh undang-undang memang tidak melindungi perempuan secara kolektif tetapi hanya sekadar membuka peluang kepada perempuan untuk bersaing.
BAB III
ANALISIS SIKAP POLITIK CALON LEGISLATIF PEREMPUAN NOMOR URUT 1 DPRD KOTA MEDAN TERHADAP KEPUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO.22&24/PUU-VI/2008 TENTANG SUARA TERBANYAK