LANDASAN TEOR
II. D Academic Self Management Ditinjau dari Dimensi Kepribadian Ekstrovert dan Introvert
Academic self management merupakan salah satu cara dalam meningkatkan kesuksesan pelajar. Dembo (2004) menyatakan pelajar yang sukses adalah pelajar yang dapat menggunakan kemampuannya dalam memproses motivasi dan mengontrol perilaku mereka. Hal yang terpenting untuk menjadi pelajar yang sukses adalah dengan mengembangkan kemampuan memonitor pengetahuan, mengenali ketika ada hal yang tidak diketahui dan hal yang lainnya.
Menurut Boekaerts (dalam Susanto, 2006), ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelajar untuk mencapai prestasi yang optimal, yaitu inteligensi, kepribadian, lingkungan kampus, dan lingkungan rumah. Bandura, Zimmerman, dan Martinez-Pons (dalam Papalia dkk, 2001) berpendapat bahwa individu yang mengatur diri mereka dalam belajar dan meyakini bahwa ia mampu mengatasi bahan-bahan akademik akan memiliki kesuksesan dan prestasi belajar yang tinggi dibandingkan dengan individu yang tidak percaya akan kemampuan dirinya. Pengaturan diri dalam bidang akademik dengan mengontrol cara belajarnya disebut dengan academic self management.
Academic self management adalah suatu strategi pembelajaran yang digunakan oleh pelajar untuk mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajarannya (Dembo, 2004). Dari yang sudah dipaparkan sebelumnya, dapat dilihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan yang optimal adalah
pelajar yang dapat menggunakan kemampuannya dalam memproses motivasi dan mengontrol perilaku mereka sehingga tercapailah tujuan dalam belajar tersebut.
Usaha dalam mencapai kesuksesan belajar dipengaruhi oleh faktor kepribadian. Kepribadian dalam penelitian ini terdiri dari dua dimensi. Dimensi tersebut yaitu ekstroverts dan introverts dengan karakteristik maupun ciri-ciri yang sangat berbeda. Bila dikaitkan antara academic self management dengan tipe kepribadian dapat dilihat bahwa orang yang mampu dan memiliki kemampuan mengontrol diri dengan baik adalah orang-orang dengan tipe kepribadian introvert. Menurut Eysenck (dalam Atkinson, 1993) menyatakan bahwa introvert dinyatakan orang yang suka dengan keteraturan apabila dibandingkan dengan ektrovert yang tidak menyukai belajar sendiri. Perbedaan ini juga mencakup dalam proses pembelajaran seperti keaktifan dalam belajar, kepekaan maupun sosialisasi dan pengerjaan tugas. Dari perbedaan inilah peneliti ingin melihat bagaimana perbedaan academic self management ditinjau dari dimensi kepribadian ekstroverts dan introverts.
II.E. Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini adalah: “ada perbedaan academic self management ditinjau dari dimensi kepribadian.”
BAB II
LANDASAN TEORI
II.A. Academic Self Management
II.A.1. Definisi Academic Self Management
Dembo (2004) menyatakan kata management adalah sebuah kunci untuk menjelaskan seorang pelajar itu sukses. Self-manage adalah suatu faktor yang mempengaruhi proses belajar. Hal itu membangun kondisi yang optimal untuk belajar dan membuang pengaruh yang buruk dalam belajar. Academic self- management adalah sebuah strategi yang digunakan oleh pelajar untuk mengontrol faktor-faktor yang menghambat dalam belajar.
Self-Management didefinisikan sebagai suatu usaha dari individu untuk mengontrol perilakunya (Millis dalam Gerhardt, 2006). Lebih spesifiknya, Self-
Management meliputi penyelesaian masalah, menetapkan tujuan, mengamati
waktu dan masalah lingkungan yang dapat menghambat dalam mencapai tujuan dan menggunakan reinforcement dan punishment untuk mencapai tujuan tersebut (Frayne dalam Gerhardt, 2006).
Menurut Primardi (2006) self-management adalah ketika seseorang melakukan perilaku tertentu pada suatu waktu, untuk mengontrol terjadinya perilaku lain (perilaku terget) dimasa mendatang. Garrison dalam Fattah (2010) menambahkan self-management itu berhubungan dengan masalah pengontrolan tugas yang meliputi bagaimana cara untuk mencapai tujuan belajar dan bagaimana mengatur hasil dan dukungan dari belajar.
Dengan mengacu pada pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa academic self-management adalah sesuatu strategi dalam pendidikan yang digunakan oleh pelajar untuk bisa mengontrol cara belajarnya sehingga dapat mencegah dan membuang faktor-faktor penghambat dalam belajar.
II.A.2. Elemen-Elemen dari Academic Self-Management
Zimmerman & Risemberg (dalam Dembo, 2004), ada beberapa komponen yang dapat membantu mengontrol pembelajaran dan academic self management, yaitu:
1. Motivasi
Motivasi sebagai proses internal yang memberikan perilaku yang berenergi dan terarah. Proses internal meliputi tujuan individu, keyakinan, persepsi, dan harapan. Misalnya, kegigihan individu pada tugas sering berhubungan dengan bagaimana kompeten individu untuk menyelesaikan tugas. Selain itu, keyakinan individu tentang penyebab keberhasilan dan kegagalan pada tugas-tugas ini mempengaruhi motivasi individu dan perilaku pada tugas-tugas di masa depan.
Salah satu perbedaan yang utama dari pelajar yang sukses dan pelajar yang tidak sukses adalah dimana dalam hal motivasi, pelajar yang sukses terlihat lebih bisa memotivasi dirinya sendiri walaupun dia berada dalam situasi yang tidak baik, sedangkan pelajar yang tidak sukses cenderung susah untuk mengontrol motivasi mereka. Menjadi pelajar yang
sukses, seharusnya pelajar mampu berkonsentrasi dan yakin dengan banyak potensi dirinya dan pengaruh lingkungan.
Selain hal yang sudah dijelaskan, salah satu juga yang menjadi masalah dalam motivasi adalah ketekunan. Pelajar dapat saja memotivasi dirinya sendiri, namun tidak tekun karena ada hal-hal yang mengganggu ketika motivasi sedang dibangun (Kuhl&Beckman dalam Dembo, 2004). Terkadang, gangguan yang kecil dapat menyebabkan motivasi individu menurun. Untuk menjadi pelajar yang sukses pelajar seharusnya mampu untuk berkonsentrasi dan tanggap dengan lingkungan yang mengganggu. Pelajar menggunakan banyak proses yang berbeda untuk mengontrol aspek perilakuknya. Sejumlah teknik penting dalam motivasi self- management, yaitu:
a. Penetapan tujuan. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki prestasi lebih sering menggunakan penetapan tujuan dan lebih konsisten daripada individu berprestasi rendah (Zimmerman & Martinez-Pons dalam Dembo, 2004).
b. Berbicara dengan diri sendiri (self-talk). Penguatan verbal atau pujian dapat digunakan sebagai bentuk perilaku yang diinginkan. Berbicara dengan diri sendiri (self-talk) dapat membantu individu mengontrol kecemasan, suasana hati, dan respon emosional lainnya (Butler, 1981; Ottens, dalam Dembo, 2004). Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa apa yang individu katakan kepada dirinya
sendiri merupakan faktor penting dalam menentukan sikap, perasaan, emosi, dan perilaku.
c. Membayangkan imbalan atau hukuman untuk keberhasilan atau kegagalan pada tugas akademis. Pelajar yang lebih unggul mengontrol motivasi mereka dengan memberikan imbalan dan hukuman terhadap diri sendiri daripada pelajar yang tidak menggunakan teknik kontrol (Zimmerman & Martinez-Pons, dalam Dembo, 2004).
2. Metode-Metode Belajar
Istilah lain untuk metode pembelajaran adalah strategi belajar. Strategi belajar adalah metode yang digunakan pelajar untuk mendapatkan informasi. Pelajar berprestasi tinggi menggunakan strategi belajar lebih banyak daripada pelajar yang memiliki prestasi lebih rendah (Zimmerman & Martinez-Pons dalam Dembo, 2004). Pelajar dapat menggunakan strategi yang berbeda pada kondisi belajar yang berbeda juga. Menggarisbawahi, meringkas, dan menguraikan merupakan tehnik dalam strategi belajar.
Pelajar yang sukses hendaknya memiliki strategi pembelajaran yang baik. Hal ini dapat dengan memperlengkapi hal-hal yang dapat mempermudah pelajar dalam memahami sesuatu. Seperti membuat catatan kecil ketika guru menjelaskan sehingga ketika ujian dia tidak akan susah untuk menghafal bahan.
3. Menggunakan Waktu dengan Baik
Pelajar dengan kemampuan manajemen waktu yang lebih baik cenderung memiliki rata-rata nilai lebih tinggi dibandingkan dengan pelajar dengan keterampilan manajemen waktu yang tidak baik. Manajemen waktu sangat dibutuhkan karena berdampak dengan management diri pelajar. Jika seorang pelajar mengalami kesulitan bergaul dengan waktu, dia tidak akan mengerti bagian tugas yang harus diutamakan.
Masalah dari kebanyakan pelajar adalah dimana mereka tidak memiliki banyak waktu untuk yang semestinya perlu untuk dikerjakan, karena dia tidak memiliki kemampaun dalam mengatur waktunya. Ketika pelajar dapat mengatur waktunya, maka dia dapat menganalisa waktunya dan bisa mempergunakan waktu sebaik-baiknya tanpa ada waktu yang terbuang. Dalam hal ini dapat dilihat bagaimana pelajar merancang waktu belajarnya dengan baik.
4. Lingkungan Fisik dan Sosial
Aspek penting dari manajemen diri adalah kemampuan peserta didik untuk merestrukturisasi lingkungan fisik dan sosial untuk memenuhi kebutuhan mereka. Zimmerman dan Martinez-Pons (dalam Dembo, 2004) menemukan bahwa pelajar berprestasi tinggi lebih banyak melakukan restrukturisasi lingkungan dan lebih mungkin untuk mencari bantuan orang lain daripada pelajar yang berprestasi rendah. Untuk sebagian besar, restrukturisasi lingkungan mengacu pada lokasi tempat untuk belajar yang
tenang atau tidak mengganggu. Walaupun tugas ini mungkin tidak muncul sulit dicapai, hal itu menimbulkan banyak masalah bagi pelajar yang baik pilih lingkungan yang tidak tepat pada awalnya atau tidak dapat mengendalikan gangguan setelah mereka terjadi.
Pengelolaan diri dari lingkungan sosial berkaitan dengan kemampuan individu untuk menentukan kapan ia harus bekerja sendiri atau dengan orang lain, atau ketika saatnya untuk mencari bantuan dari instruktur, tutor, teman sebaya, atau sumber daya nonsosial (seperti buku referensi). Mengetahui bagaimana dan kapan untuk bekerja dengan orang lain merupakan keterampilan penting sering tidak diajarkan di sekolah. 5. Performansi
Faktor terakhir yang Anda dapat mengelola adalah prestasi akademis. Dengan menulis makalah, menyelesaikan ujian, atau membaca buku, individu dapat belajar bagaimana menggunakan proses manajemen diri untuk mempengaruhi kualitas kinerja individu. Salah satu fungsi penting dari tujuan (goal) adalah menyediakan kesempatan bagi individu untuk menganalisi kinerja individu tersebut.
Pada saat pelajar dapat mengamati pekerjaan dalam kondisi yang berbeda, berarti pelajar memiliki kemampuan untuk mengubah perilakunya dalam belajar. Hal ini sangat baik untuk menyukseskan dalam pendidikan (Zimmerman&Martines-Pons dalam Dembo, 2004).
Pada saat pelajar belajar bagaimana mengamati dan mengontrol setiap performansi (performance), pelajar dapat menjadi mentor diri
sendiri. Pelajar dapat mempraktekkan kemampuan yang dimilikinya, proses pengevaluasian diri, dan membuat perubahan sehingga tujuan dapat tercapai.
II.A.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Academic Self Management
Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi academic self management menurut Dembo (2004) adalah sebagai berikut:
a. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan diasumsikan berinteraksi secara timbal balik dengan faktor pribadi dan perilaku. Ketika seseorang dapat memimpin dirinya, faktor pribadi digerakkan untuk mengatur perilaku secara terencana dan mengatur lingkungan belajar. Individu diperkirakan memahami dampak lingkungan selama proses penerimaan dan mengetahui cara mengembangkan lingkungan melalui penggunaan strategi yang bervariasi. b. Faktor internal atau faktor personal
Meliputi keyakinan dan persepsi (self-efficacy, atribusi, dan self-talk), respon fisiologis (misalnya, kecemasan), dan mood (misalnya, tertarik atau bosan).
c. Faktor perilaku
Meliputi: (a) motivasi (misalnya, tujuan, pilihan, tingkat keterlibatan/usaha dan ketekunan), (b) metode pembelajaran (misalnya, penggunaan latihan, elaborasi, dan strategi organisasi), (c) menggunakan waktu (misalnya, perencanaan, memprioritaskan, dan penjadwalan pada saat-saat tugas
diberikan, mulai, dan selesai), dan (d) lingkungan fisik dan sosial (jenis gangguan internal dan eksternal, jumlah waktu yang dihabiskan atau berkonsentrasi pada tugas-tugas) dan penggunaan sumber daya sosial.
II.A.4. Self-Management Terjadi dalam Konteks Akademis
Ada empat kunci yang harus dimiliki siswa untuk memperoleh kesuksesan dalam bidang akademik, yang antara lain: belajar dari berita, belajar dari buku, mempersiapkan ujian dengan baik, dan melakukan ujian. Menulis merupakan salah satu kemampuan yang penting juga (Dembo, 2004).
Faktor penting yang mempengaruhi keefektifan kemampuan belajar pelajar adalah kemampuan untuk mengatur elemen lain dalam perilaku. tujuan- tujuan dan pengaturan emosi dan usaha untuk meningkatkan motivasi, pengaturan waktu, pengaturan lingkungan belajar adalah strategi dari perilaku (Dembo, 2004).
Pada proses pertama dideskripsikan bagaimana tanggung jawab dari pelajar. Ada harapan untuk menjadikan pelajar tersebut menjadi pelajar yang sukses. Dimana pelajar yang memiliki tanggung jawab yang tinggi akan menjadikan pelajar tersebut menjadi palajar yang sukses dibandingkan pelajar yang memiliki tanggung jawab yang rendah (Schunk & Zimmerman dalam Dembo, 2004).
Strategi selanjutnya, mengenali suatu strategi itu dilakukan, kapan dan bagaimana strategi itu dilakukan. Pelajar yang sukses adalah pelajar yang mampu melakukan strategi belajarnya menjadi strategi yang baik dan otomatis. Pada saat
melakukan strategi tersebut, pelajar mendapat keuntungan yaitu menghemat waktu untuk membuat strategi pembelajaran yang lain, sehingga waktu itu dapat digunakan untuk belajar. Guru dan orang tua yang mendukung pelajar akan membuat pelajar semakin yakin untuk mencapai kesuksesan tersebut. Pada akhirnya, pelajar akan menemukan strategi yang cocok dengan dirinya, strategi yang mampu membuat pelajar bertahan dengan belajar sehingga dapat membawanya dalam kesuksesan dalam belajar. Self management yang terjadi dalam situasi akademis dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.1 Academic Self-Management Sumber: Dembo (2004)
II.A.5. Proses yang Digunakan dalam Academic Self Management
Zimmerman et al dalam Dembo (2004) menyatakan sebuah proses bagaimana pelajar dapat membangun manajemen diri dalam kesuksesan akademik
Strategi belajar Belajar dari berita Belajar dari buku Mempersiapkan ujian dengan baik Melakukan ujian dengan baik Strategi motivasi
Tujuan dan usaha belajar
Performansi akademik Strategi perilaku
Manajemen waktu, fisik dan lingkungan sosial belajar
yang diperlihatkan dalam figur di bawah ini. Dimana proses ini akan membantu membangun kelima komponen yang menjadi elemen dari academic self management. Keempat faktor ini adalah:
1. Observasi diri dan evaluasi diri
Hal ini terjadi ketika pelajar melihat bagaimana efektifitas diri sendirinya, dengan mengobservasi dan mengenali bagaimana performa dari studi akhir mereka. Perilaku tidak dapat diatur apabila pelajar tidak memiliki kemampuan untuk mengobservasi dan mengevaluasi diri. Sehingga dari hal inilah, pelajar dapat mengatur dirinya sehingga diperolehlah keberhasilana dalam belajar. Misalnya dalam ulangan matematika. Soal matematika itu sebenarnya dapat kamu selesaian apabila kamu belajar sebelumnya, tetapi kamu tidak belajar karena menyepelekannya. Apabila pelajar tersebut tanggap dan dapat mengobservasi serta mengevaluasi dirinya, maka di ulangan matematika selanjutnya pelajar tersebut akan berhasil.
2. Menetapkan tujuan dan perencanaan kedepannya
Hal ini terjadi ketika pelajar menganalisa tugas belajar mereka, tujuan dan rencana atau strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya ketika diberikan tugas membuat makalah, pelajar tersebut dapat memulai tugas tersebut dengan menganalisa kelebihan dan kekurangannya dalam membuat makalah tersebut. Bagaimana dan apa tujuannya dalam pembuatan makalah tersebut dan bagaimana dia dapat mencapai tujuannya tersebut.
3. Strategi Implementasi dan Monitoring
Hal ini terjadi ketika pelajar mencoba untuk melakukan suatu strategi dan melihat bagaimana usaha mereka melakukan strategi itu. Misalnya ketika pelajar mempelajari suatu yang baru, ada kecendrungan untuk membuat suatu strategi yang lama atau melakukan strategi yang baru. Pelajar yang baik akan tanggap dalam hal itu, apakah strategi yang lama dapat digunakan dalam mempelajari yang baru tersebut.
4. Strategi Monitoring Hasil
Hal ini terjadi ketika pelajar fokus terhadap perhatian dalam cara belajar dan strateginya. Sehingga apabila siklus ini berjalan dalam pelajar, maka mereka akan memperoeh kesuksesan. Dalam hal ini pelajar dapat menetapkan strtegi yang baik dalam mencapai tujuannya dalam belakar. Proses dalam academic self management yang telah dipaparkan diatas, dapat dilihat pada gambar siklus dibawah ini.
observasi diri dan evaluasi diri
Strategi monitoring Menetapkan tujuan dan
hasil Perencanaan kedepannya
Strategi implementasi dan Monitoring
Gambar 2.2 Proses manajemen diri dalam perilaku akademis Sumber: Dembo (2004)
II.B. Dimensi Kepribadian II.B.1. Pengertian Kepribadian
Kata personality dalam bahasa inggris berasal dari bahasa yunani kuno prosopan atau persona, yang artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam teater. Jadi konsep awal dari pengertian personality (pada masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditempatkan dilingkungan sosial. Kesan mengenai diri yang diinginkan agar ditangkap oleh lingkungan sosial. (Alwisol, 2004).
Allport dalam Suryabrata (1998) menyatakan kepribadian adalah organisasi dinamis dari fungsi-fungsi psikofisik yang akan menentukan individu untuk menyesuaikan diri secara khas terhadap lingkungan. Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik indvidu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran indvidu secara khas. Terjadinya interaksi psiko-fisik mengarahkan tingkah laku manusia. Maksud dinamis pada pengertian tersebut adalah perilaku mungkin saja berubah-ubah melalui proses pembelajaran atau melalui pengalaman-pengalaman, reward, punishment, pendidikan dsb.
Menurut Adler (Suryabrata, 1998) memberikan tekanan pada pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas, kebulatan serta sifat-sifat pribadi individu, sehingga segala tingkah laku yang dilakukan oleh individu membawa corak khas gaya kehidupan yang bersifat individual.
Menurut Murray (Alwisol, 2004), kepribadian adalah abstraksi yang dirumuskan oleh teoritis yang bukan semata-mata deskripsi tingkah laku orang, karena rumusan itu berdasarkan pada tingkah laku yang dapat diobservasi dan faktor-faktor yang dapat disimpulkan dari observasi.
Kepribadian menurut Atkinson (1996) adalah pola perilaku dan berfikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan. Lewin (dalam Suryabrata, 1998) menyatakan suatu teori tentang life space yang adalah keseluruhan kenyataan yang secara cepat mempengaruhi tingkah laku. Lewin menyimpulkan life space individu merupakan persepsi dan tingkah laku seseorang tidak hanya ditentukan oleh bentuk keseluruhan atau totalitas dari rangsangan, tetapi ditentukan oleh kekuatan-kekuatan (forces) yang ada di dalam lapangan psikologis (psychological field) seseorang.
Eysenck (1998) memberi pengertian kepribadian sebagai berikut:
“Personality is the sum total of actual or potential behavior-patterns of the organism as determined by heredity and environment; it originates and develops through the functional interaction of the three main sectors into which these behavior patterns are the conative sector (character), the affective sector (temperament), and the somatic sector (constitution).”
Dari beberapa pengertian kepribadian oleh masing-masing tokoh yang telah dibahas di atas, maka penelitian ini merujuk pada definisi yang dikemukakan oleh Eysenck. Kepribadian adalah totalitas pola perilaku yang nyata atau potensial dari organisme yang ditentukan oleh gen dan lingkungan; kepribadian berasal dan berkembang melalui interaksi fungsional dari tiga sektor utama yaitu sektor konatif (karakter), sektor afektif (temperamen), dan sektor somatis (konstitusi).
II.B.2. Dimensi Kepribadian Eysenck
Setiap individu memiliki kepribadian yang diwariskan secara genetis, yaitu melalui DNA. Bukti ini diperkuat dengan gagasan mengenai temperamen anak. Temperamen didefinisikan sebagai karakter anak yang telah ada sejak lahir dan merupakan warisan dari kedua orangtua (Papalia, & Olds, & Fredman, 2007). Kepribadian organisme lebih ditentukan oleh faktor keturunan atau hereditas, namun faktor lingkungan juga berkontribusi terhadap kepribadian (Eysenck, 1998). Penelitian korelasional dan eksperimen yang dilakukan oleh Eysenck pada akhirnya melahirkan 3 dimensi kepribadian, yaitu : Psikotisme (Psychoticism), Ekstroversi (Extroversion), dan Neurotis (Neuroticism). Skema dimensi kepribadian Eysenck (1994) dapat dilihat dibawah ini.
Distal proximal proximal distal
antecendents antencendents consequences consequences
Genetic Biological Psychometric Experimental Social Personality Intermediates Trait Studies Behavior Dominants Constellations
Gambar 2.3 pandangan sistemetik dari kepribadian Sumber: Eysenck, 2008 Personality Sociability Criminality Creativity Psychopatholog y Sexual behavior Conditioning Sensitivity Vigilance Perception Memory Reminiscence P E N Limbic System Arousal D N A
Teori kepribadian Eysenck dikenal juga dengan Teori Tiga Faktor (The Three-Factor Theory), yang membagi kepribadian atas 3 dimensi (Pervin, 2005), yaitu :
a. Dimensi Neurotisme (Neuroticism)
Dimensi kepribadian neurotisme yang sebelumnya dikenal dengan dimensi stabilitas emosi-ketidakstabilan emosi (emotional stability -instability). Feist & Feist (2006) menyatakan bahwa dimensi neurotisme memiliki komponen hereditas yang kuat dalam memprediksi gangguan yang dialami oleh individu, dalam hal ini, individu yang memiliki skor neurotisme yang tinggi memiliki kecenderungan untuk bereaksi berlebihan secara emosional terhadap satu situasi dan mereka kesulitan untuk kembali ke keadaan semula sebelum mereka dihadapkan pada situasi yang demikian. Skala dimensi neurotisme dari Eysenck (1993) dapat dilihat pada skema dibawah ini.
Gambar 2.4 Struktur Hirarki Neuritisme Sumber Pervin, 2005
N
Terise Low Self- Anxious Depresse d Guilt Feeling Emotiona l Moodly Shy Irrationalb. Dimensi Psikotisme (Psychoticism)
Dimensi psikotisme merupakan dimensi yang ditambahkan dari teori asli Eysenck (Feist, 2005). Eysenck menyatakan bahwa dimensi psikotitisme ini memiliki faktor bipolar, yaitu : psikotitisme dan superego (psychoticism – superego). Seperti halnya neurotisme, individu psikotistik bukan berarti psikotik, namun hanya memperlihatkan beberapa gejala yang umumnya terdapat pada individu-individu psikotik (Boeree, 2007). Beberapa gejala yang biasanya ditemukan pada individu-individu psikotistik, di antaranya adalah : tidak memiliki daya respon (recklessness), tidak memperdulikan kebiasaan yang lumrah berlaku, dan ekspresi emosional yang tidak sesuai dengan kebiasaan (inappropriate emotional expression). Pervin (2005) menyatakan bahwa individu yang mendapatkan skor tinggi pada dimensi psikotitisme cenderung cuek (insensitive), tidak peduli dengan orang lain, dan menentang kebiasan-kebiasan umum yang berlaku secara sosial. Skala dimensi Psikotisme dari Eysenck (1993) dapat dilihat pada skema dibawah ini
Gambar 2.5 Struktur Hirarki Psikotisme Sumber: Pervin, 2005
P
Impersonal Impulsiv e Egocentri c Cold Aggressive Tough-minded Creative Unempathi c Antisocia lc. Dimensi Introvert-Ekstrovert (Introversion-Extroversion)
Eysenck (dalam Pervin, 2005) mengemukakan karakteristik individu ekstrovert ditandai oleh sosiabilitas, bersahabat, aktif berbicara, impulsif, menyenangkan, aktif, dan spontan. Eysenck (dalam Pervin, 2005) menjabarkan komponen extroversi adalah kurangnya tanggung jawab, kurangnya refleksi, pernyataan perasaan, penurutan kata hati, pengambilan resiko, kemampuan sosial, dan aktivitas. Lebih lanjut lagi, Eysenck&Eysenck (dalam Schultz, 2008) mengemukakan bahwa ciri yang khas dari kepribadian ekstrovert adalah mudah bergaul, suka pesta, mempunyai banyak teman, membutuhkan teman untuk bicara, dan tidak suka membaca atau belajar sendirian. Individu dengan dimensi kepribadian ekstrovert sangat membutuhkan kegembiraan, mengambil tantangan, sering menentang bahaya, berperilaku tanpa berpikir terlebih dahulu, dan biasanya suka menurutkan kata hatinya, gemar akan gurau-gurauan, selalu siap menjawab, dan biasanya suka akan perubahan, riang, tidak banyak pertimbangan (easy going), optimis, serta suka tertawa dan gembira, lebih suka untuk tetap bergerak dalam melakukan aktivitas, cenderung menjadi agresif dan cepat hilang kemarahannya, semua perasaannya tidak disimpan dibawah kontrol, dan tidak selalu dapat dipercaya (Aiken, 1985, dalam Pervin 2005). Menunjukkan daya juang fisik yang tinggi, dapat melaksanakan tugas yang tinggi taraf kesukarannya dengan baik, ramah, impulsif, tidak suka diatur dan dilarang, terlibat dalam aktivitas kelompok, pandai membawa diri dalam lingkungannya, mudah gembira,