I. SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN, KKP (Oleh : Dr. Ir. Endhay Kusnendar Mulyana Kontara)
1. Dari beberapa forum termasuk FNPSI apakah sudah ada yang menjadi bahan kebijakan pengelolaan perikanan di perairan umum dan laut.
2. Belum terlihat hasil dari forum-forum tersebut yang nyata untuk kebijakan pengelolaan.
3. Potensi perairan umum darat sangat besar. Perairan umum darat sangat penting dalam perikanan tangkap & member kontribusi yang cukup besar bagi kesejateraan rakyat. Namun sampai saat ini data dan informasi mengenai perairan umum ini sering kali tidak lengkap. Sehingga sampai saat ini kita belum memiliki model pengelolaan untuk perairan umum. Oleh sebab itu penting untuk membuat status terkini perairan umum daratan.
4. Dibuat kebijakan pengelolaan perairan umum daratan termasuk WPP di perairan umum daratan.
5. Seharusnya pemangku kepentingan (Pemda) juga ikut serta dalam forum ini untuk mensinergikan dalam pengelolaan perairan umum berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari penelitian.
6. Perlu ditingkatkan upaya agar perairan umum memberi kontribusi besar untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.
7. Seminar /forum ini hendaknya tidak hanya menghasilkan tulisan untuk jurnal bagi kepentingan para peneliti saja namun harus memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
II. MAKALAH UTAMA
a. Direktur Konservasi Kawasan Jenis Ikan, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, KKP
Diwakili oleh : Dr. Ir. Syahrowi R. Nusir, MM
Tema :“Peluang Dan Tantangan Konservasi Sumber Daya Ikan Di Indonesia”
KKP dalam forum ilmiah sudah memprakarsai CTI yang beranggotakan 6 negara, tujuan menjadikan sebagian dari wilayah laut menjadi wilayah konservasi. Masalah yang dihadapi wilayah pesisir : perikanan ilegal dan merusak, produksi ikan menurun, tangkap lebih.
PP 60 tahun 2007 : upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya ikan termasuk ekosistem, jenis, dan genetik.
Prinsip konservasi :
ekosistem, jenis, dan genetik.
Perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan secara berkelanjutan
Dilakukan di habitat asli dan luar
Konservasi dilakukan dengan konsep : study it, save it, use it
Tugas dari Direktorat Konservasi kawasan jenis ikan : mensikronisasiikan UU 31 tahun 2004, UU 32 tahun 2004 dan UU 27 tahun 2007
KKP memiliki grand strategi pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan dan tertuang dalam renstra direktorat : pengelolaan dan pengembangan kawasan konservasi perairan sasaran terkelolanya 4,5 juta hektar kawasan konservasi perairan secara berkelanjutan, serta terkelolanya 15 jenis biota perairan terancam punah.
Tipe kawasan konservasi menurut undang-undang yang berlaku :
UU 5 tahun 1990 : kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam.
UU 31 tahun 2004 dan turunannya : taman nasional, taman wisata perairan, suaka alam perairan, suaka perikanan.
UU 27 tahun 2007.
Sampai tahun 2010 konservasi kawasan perairan 13,9 juta hektar. Namun luasan ini belum memenuhi dari ketentuan dimana kawasan konservasi sebaiknya 10% dari luas perairan yang ada. Target sampai 2014 diharapkan 15,5 juta hektar, dan 2020 mencapai 20 juta hektar.
Tantangan konservasi kawasan perairan: 1. Pengembangan luas kawasan konservasi.
2. Pengelolaan KKP yang sudah ada dengan melengkapi input pengelolaan : dokumen perencanaan, kelembagaan, infrastruktur.
3. Pengembangan jejaring KKP.
4. Meningkatkan peran serta swasta dalam pengelolaan KKP.
Konservasi dilakukan melalui penggolongan jenis ikan dan penetapan status perlindungan, pemeliharaan, pengembanganbiakan, penelitian.
Kriteria jenis ikan yang dilindung: CITES, IUCN, PP No. 60 tahun 2007 PP No. 7 tahun 1999.
Selama kurun waktu 2010-2014 ada 15 jenis spesies target pengelolaan : terubuk (2011), banggai (2011) cardinal fish, sidat, hiu, penyu, dugong, arwana, bamboo laut, pasu, kima, lola, Napoleon, Kuda laut, Labi-labi.
Tantangan konservasi jenis ikan :
1) bahwa kepunahan jenis jenis ikan karena belum terintegrasinya pengelolaan perairan antara KSDI dengan kementerian lain seperti PU dalam pembuatan ruaya ikan
2) Pendekatan sosial budaya dalam upaya KSDI.Local wisdomterbukti paling efektif dalam konservasi kawasan dan jenis ikan.
3) Minimnya data dan informasi dinamika populasi jenis ikan terancam punah 4) Pengembangbiakan jenis ikan terancam punah
5) Jenis ikan terancam punah masih banyak yang belum memliki status perlindungan.
b. DEKAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN, UNIVERSITAS PADJAJARAN
Diwakili oleh : Prof. Dr. Otong Suhara
Tema : “Peran Unpad dalam penyediaan SDM dalam bidang konservasi sumberdaya perikanan”
UNPAD memiliki komitmen konservasi sumberdaya ikan yang dituangkan dalam kurikulum yang ditawarkan baik program studi perikanan maupun studi ilmu kelautan tercakup dalam sejumlah mata kuliah yang materi perkuliahan membahas konservasi.
Mata Kuliah yang memasukan topik konservasi sumberdaya perikanan : 1) Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut
2) Konservasi sumberdaya dan lingkungan laut 3) Eksplorasi sumberdaya hayati laut
4) Pemetaan dan tata ruang lingkugan pesisir Beberapa topik konservasi :
1) Hubungan antara kualitas air dengan pakan dan parasit,
2) Konsep manajeman sumberdaya perairan, konsep daerah tangkapan air, pencegahan penyuburan, dinamika ekosistem, model pengelolaan
3) Ada pengelolaan pesisir yang berkelanjutan, isu dan permasalahan daerah pesisir, bahaya yang terdapat dalam kawasan pesisirr
4) Rencana tata ruang pesisir, kelembagaan, perencanaan penataan ruang pesisir dan laut
5) Konsep-konsep pengelolaan sumberdaya perikanan
Pengembangan pelestarian produksi perikanan dan budidaya melalui pengembangan
Beberapa topik penelitian:
Konservasi dan rehabilitasi sumberdaya perairan yang meliputi danau, rawa, pesisir dan pulau-pulau kecil
Teknologi perikanan tepat guna dan berkelanjutan
Peningkatan nilai tambah secara kualitas
Pengembangan model ekonomi sumberdaya perikanan berkelanjutan
Konservasi dan rehabilitasi syarat mutlak pembangunan perikanan yang berkelanjutan
Usulan : masyarakat konservasi sumberdaya ikan DISKUSI
a. Direktur Konservasi Kawasan Jenis Ikan, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, KKP
PERTANYAAN :
1. Prof. Dr.M.F. Raharjo (MII): Beberapa hal yang harus diperhatikan :
- Begitu banyak peningkatan yang dilakukan untuk melindungi laut namun masalah perawatan, penjagaan dan pengamanan masih kurang. Bagaimana memelihara masih kurang
- Ada beberapa ikan sudah mulai dilindungi, mohon dilihat PP ada beberapa hal yang harus dicermati yaitu hanya ada 7 jenis sedangkan dari IUCN ada puluhan jenis yang harus dilindungi. Nama ilmiah dalam PP tersebut tidak diperhatikan contohLatimeria , Rasbora tawarensis yang sudah masuk dalam IUCN tapi belum diperhatikan oleh kita
2. Dra. Sri Turni Hartati, MS (P4KSI)
- Dasar pertimbangan perluasan kawasan apakah sudah didahului oleh penelitian sebelumnya?
- Indicator dari penetapan konservasi peningkatan rekrutemen ikan namun di Taman Nasional P. Seribu hal tersebut belum terlihat nyata bahkan masih ada degradasi baik habitat maupun jenis, kira-kira apa penyebabnya?
- Apabila sudah ada kebijakan pengelolaan, berapa lama kebijakan tersebut dicermati kembali menyesuaikan dengan kondisi terkini.
3. Suwarno (Fak. Biologi UGM)
- Pengendalian eceng gondok di perairan Danau Kerinci berhasil, namun muncul masalah baru hilangnya ikan-ikan aslinya.
- Masalah status jenis punah harus hati-hati. Karena ada jenis yang dikatakan punah namun ternyata di tempat lain masih ada
- Bagaimana perlu menstimulasi kebijakan lokal dari masyarakat itu sendiri. 4. Dr. Istianto Samidjan (UNDIP)
Sejauh mana konsep pemerintah membina masyarakat dalam menunjang konservasi kawasan maupun konservasi jenis?
5. Doni (UNPAD)
Bagaimanan memilih spesies yang masuk untuk dilindungi. Kenapa ikan mola- mola belum dijadikan spesies yang dilindungi karena spesies tersebut memiliki nilai ekonomis?
6. Sulastri (LIPI)
Sejauh mana kearifan lokal dijadikan unsur dalam konservasi? Perlu diperhatikan bagaimana model pengelolaan sehingga identifikasi kearifan lokal di setiap lokasi kawasan diperlukan untuk mendapatkan model tersebut.
JAWABAN :
Sudah dilakukan identifikasi kearifan lokal di 18 propinsi sekaligus menginisiasi dan merevitalisasi kearifan lokal tersebut. Pada saat Sail banda juga dilakukan workshop kearifan lokal. Hampir sebagian besar propinsi memiliki kearifan lokal yang dapat diimplementasikan untuk konservasi dan pengelolaan sumberdaya ikan. Contoh sasi (Maluku), eha (sultra), lamba (Wakatobi).
Di Sumbar : hampir seluruh wilayah memiliki kawasan yang sudah ditetapkan sebagai lubuk larangan.
Memang masih banyak ikan yang harus dilindungi oleh sebab itu kami juga melakukan identifikasi jenis ikan yang terancam punah. Ikan napoleon harus dilakukan perindungan berdasarkan hasil penelitian di beberapa kawasan dimana dalam satu kawasan tersebut hanya ditemukan beberapa. Untuk saat ini masih kesulitan untuk mengetahui jumlah stok terkini dari ikan napoleon tersebut. Oleh sebab itu kita lakukan moratorium dulu untuk ikan napoleon.
b. Dekan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjajaran
PERTANYAAN :