BAB II KAJIAN TEORITIS, PENGAJUAN KONSEPTUAL
A. Acuan Teori
a. Pengertian Belajar
Kata belajar berarti perubahan tingkah laku pada peserta didik akibat adanya interaksi antara individu dan lingkungannya melalui pengalaman dan latihan.Perubahan ini terjadi secara menyeluruh, menyangkut aspek
kognitif, afektif dan psikomotor.1
“Belajar (Learning)adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi
pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak ia masih bayi
sampai ke liang lahat nanti”.2Bahkan hal ini dijelaskan dalam hadis yang
berbunyi “utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi”.
“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dalam
lingkungannya”.3
1
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar,Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), h. 5.
2
Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal 62
3
Slameto,Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), cet. 5 hal 2
Witherington, dalam buku Education Psychology mengemukakan
“Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan
diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan,
sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian”.4
Menurut Slameto “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baik secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya”.5
Adapun menurut Hamzah belajar adalah ”Perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari
praktek atau penguatan (reinforce practice) yang dilandasi tujuan untuk
mencapai tujuan tertentu”.6
Sedangkan Garry dan Kisley menyatakan bahwa “belajar adalah
proses perubahan tingkah laku yang orisinal melalui pengalaman dan
latihan-latihan”.7
Winkel mengemukakan bahwa belajar adalah “Suatu aktivitas
mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungannya, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan,pemahaman, keterampilan dan nilai sikap”.8
Menurut Oemar Hamalik bahwa belajar adalah “Modifikasi atau
memperteguh kelakuan melalui pengalaman”.9
Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan dari
tidak tahu menjadi tahu, dari yang belum bisa menjadi bisa melalui
pengalaman dan latihan-latihan. Belajar akan dikatakan berhasil apabila seseorang mampu mengulangi kembali materi-materi yang telah
4
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 1990), cetakan 5, hal 84
5
Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruh, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 2.
6
Hamzah B. Uno,Teori Motivasi Dan Pengukurannya,(Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 23
7
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2004), h. 100.
8
Yatim Rianto, Paradigma Baru Pembelajaran : Sebagai Refrensi Bagi Pendidikan Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif dan Berkualitas, (Jakarta: Prenada Media, 2009), h. 5
9
dipelajarinya, serta mampu menyampaikan dan mengekspresikannya dalam bahasa sendiri. Secara psikologis, bahwa orang belajar ada kaitannya dengan kematangan baik jasmaniah maupun rohaniahnya.
Dengan demikian, inti dari belajar adalah adanya perubahan tingkah laku karena adanya suatu pengalaman. Perubahan tingkah laku tersebut berupa perubahan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, pemahaman, dan apersepsi. Adapun pengalaman dalam proses belajar ialah bentuk interaksi antara individu dengan lingkungannya.
b. Ciri–Ciri Belajar
Terdapat ciri-ciri dalam proses belajar mengajar yaitu sebagai berikut:
a. Memiliki tujuan, yaitu untuk membentuk anak dalam suatu
perkembangan tertentu.
b. Terdapat mekanisme, prosedur, langkah-langkah metode dan teknik
yang direncanakan dan didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
c. Fokus materi jelas, terarah dan terencana dengan baik, adanya
aktivitas anak didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
d. Aktor guru yang cermat dan tepat.
e. Terdapat pola aturan yang ditaati guru dan anak didik dalam proporsi
masing-masing.
f. Limit waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran
g. Evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi produk.10
c. Tipe Kegiatan Belajar
Menurut Gagne tipe-tipe kegiatan belajar dibagai menjadi delapan yaitu :
a. Belajar Isyarat(Signal Learning)
Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespon suatu isyarat. Jadi respon yang dilakukan itu bersifat umum, kabur dan emosional. Tipe kegiatan belajar ini menekankanbelajar sebagai usaha merespons tanda-tanda yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran.Seperti menutup mulut dengan jari telunjuk, melambaikan tangan dll.
b. Belajar Stimulus–Respons(Stimulus Respons Learning)
10
Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Islam,(Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), Cet. I, hlm. 11
Tipe ini berhubungan dengan perilaku peserta didik yang secara sadar melakukan respons tepat terhadap stimulus yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran, misalnya mencium bau masakan sedap, keluar air liur.
c. Belajar Rangkaian(Chaining)
Tipe ini berkaitan dengan kegiatan peserta didik menyusun hubungan antara dua stimulus atau lebih dengan berbagai respon yang berkaitan dengan stimulus tersebut. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik ; seperti gerakan dalam mengikat sepatu, makan, minum, atau gerakan verbal seperti selamat tinggal, bapak-ibu.
d. Asosiasi Verbal(Verbal Association)
Tipe ini berkaitan dengan upaya peserta didik menghubungkan respons dengan stimulus yang disampaikan secara lisan. Seperti
suatu kalimat“unsur itu berbangun limas”
e. Belajar Diskriminasi(Discrimination Learning)
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti membedakan berbagai bentuk wajah, bintang, atau tumbuh-tumbuhan.
f. Belajar Konsep(Concept Learning)
Tipe ini belajar menggunakan konsep. Konsep diperoleh dari membuat tafsiran terhadap fakta dan realita.Dengan konsep dapat digolongkan binatang bertulang belakang, menurut ciri-ciri khusus (Kelas), seperti kelas mamalia, reptilian, amphibian, burung, dan ikan.
g. Belajar Aturan(Rule Learning)
Tipe belajar ini banyak terdapat dalam semua pelajaran disekolah, seperti benda memuai jika dipanaskan, besar sudut dalam segitiga sama dengan 180 derajat.
h. Belajar Pemecahan Masalah(Problem Solving Learning)
Tipe ini berhubungan dengan kegiatan peserta didik menghadapi persoalan dan memecahkannya sehingga pada akhirnya peserta didik
memiliki kemampuan atau kecakapan dalam pemecahan masalah.11
Dari penjelasan tipe-tipe di atas maka pembelajaran IPS termasuk
dalam tipe belajar konsep (Concept Learning) karena pelajaran IPS
mempelajari konsep-konsep tentang fakta atau realita yang ada di dalam masyarakat.
11
Lukmanul Hakim,Perencanaan Pembelajaran,(Bandung: CV. Wacana Prima, 2009), hlm. 40-42
d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
1) Faktor Internal
a. Faktor Fisiologis
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya, semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar. Bahkan dikatakan oleh Aminuddin Rasyad pancaindera merupakan pintu gerbang
ilmu pengetahuan(five sense are the golden gate of knowledge).
Artinya, kondisi panca indera tersebut akan memberikan
pengaruh pada proses dan hasil belajar.12
b. Faktor Psikologis
Kondisi psikologis setiap manusia atau anak didik berbeda-beda, terutama dalam hal kadar bukan dalam jenis, tentunya perbedaan-perbedaan ini akan berpengaruh terhadap proses dan hasil belajarnya masing-masing. Beberapa faktor psikologis
yang dapat diuraikan di antaranya meliputi intelegensi,
perhatian, minat, dan bakat, motif dan motivasi, dan kognitif dan daya nalar.
2) Faktor Eksternal
a. Faktor Lingkungan
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi proses dan hasil belajar. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik atau alam dan dapat pula berupa lingkungan sosial. Lingkungan alam misalnya keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara, dan sebagainya. Lingkungan sosial baik yang berwujud manusia maupun hal-hal lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar.
12
Yudhi Munadi,Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru, (Jakarta: Gaung Persada), h. 26.
b. Faktor Instrumental
Faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainnya tujuan-tujuan belajar yang telah direncanakan.
e. Hasil Belajar
“Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga
ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris”.13
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) kemamuan intelektual, (b) strategi kognitif, (c) informasi verbal, (d) keterampilan motorik, (e) sikap
dann nilai.14
Menurut Abdurrahman, “Hasil belajar adalah kemampuan yang
diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”.15
Sudjana berpendapat bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
kerjanya”.16
13
Nana Sudjana,Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), h. 22
14
Iif Khoiri Ahmadi, dkk.,Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2011), h. 39.
15
Asep Jihad-Abdul Haris,Evaluasi Pembelajaran, (Jakarta: Multi Press), h. 14
16
Hamalik menyatakan bahwa, “hasil belajar adalah perubahan tingkah laku subjek yang meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor
dalam situasi tertentu berkat pengalamannya berulang-ulang”.17
Winkel menyatakan “bahwa, hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya”.18
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu. Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam yaitu pengetahuan dan keterampilan.
Dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang diketahui, diperoleh atau didapat setelah melalui proses belajar baik karena ada guru yang mengajar ataupun siswa sendiri yang memanfaatkan lingkungannya untuk belajar. Dalam dunia pendidikan hasil belajar digunakan sebagai pendorong bagi siswa dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan. Hasil belajar terlihat dari perubahan tingkah laku maupun kemampuan kognitifnya.
Hasil belajar dapat diketahui dari evaluasi yang diadakan. Evaluasi atau penilaian hasil belajar merupakan usaha guru untuk mendapatkan informasi tentang siswa, baik kemampuan penguasaan konsep, sikap maupun keterampilan. Hal ini digunakan sebagai umpan balik yang sangat diperlukan dalam menentukan strategi belajar siswa.
17
Ahmad Jamalong,Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) Di Kelas X SMA Negeri 1 Beduai Kabupaten Sanggau, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 2012, Vol. 18, h. 398.
18
Purwanto, Pengaruh Konsekuensi Perilaku dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar (Kajian Literatur), Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Deparrtemen Pendidikan Nasional, 2007, h. 1028.
2. Model Pembelajaran Terbalik(Reciprocal Teaching )
a. Pengertian model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)
Joyce dan Weil berpendapat bahwa “ Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain”.19
Arends menyatakan, “The term teaching model refrs to a particular approach to instruction that includes its goals, syntax, environment, and management system”.20 Atau dalam bahasa Indonesianya istilah model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu
termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya, dan sistem
pengelolaannya.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa model-model pembelajaran adalah suatu rencana yang disiapkan guru untuk melakukan sebuah pembelajaran agar tercapainya suatu pembelajaran. dan dengan adanya model pembelajaran ini diharapkan agar bisa mengurangi rasa kejenuhan siswa didalam kegiatan belajar mengajar.
Contoh model-model pembelajaran sangat beragam sekali
diantaranya seperti (1) model pembelajaran kontekstual; (2) model pembelajaran kooperatif; (3) model pembelajaran kuantum; (4) model pembelajaran terpadu; (5) model pembelajaran berbasis masalah. Model-model pembelajaran tersebut tentunya mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing untuk itu guru harus memilih model pembelajaran yang tepat sesuai agar tercapainya suatu pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, dalam memilih suatu model pembelajaran harus memiliki pertimbangan-pertimbangan. Misalnya materi pembelajaran,
19
Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 133
20
Trianto, Mendesain Model Pembelajaraninovatif-Progresif (Konsep, Landasan Dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)),(Jakarta: Kencana, 2010), cet. 4, hal 22
tingkat pengembangan kognitif siswa, sarana atau fasilitas yang tersedia sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Dari model-model pembelajaran yang telah disebutkan di atas, peneliti
menggunakan model pembelajaran terbalik (Reciprocal Teaching).
Reciprocal Teachingyang pertama dikembangkan oleh Anne Marrie Polinscar dan Anne Brown merupakan suatu model pembelajaran yang
digunakan untuk meningkatkan pemahaman terhadap suatu topik.21
Reciprocal teaching yaitu model pengajaran kelompok kecil yang didasarkan pada prinsip perumusan pertanyaan melalui pengajaran dan
pemberian contoh, guru menumbuhkan kemampuan metakognisi
terutama untuk meningkatkan kinerja baca siswa yang mempunyai
pemahaman buruk.22
Reciprocal teachingadalah suatu kegiatan pembelajaran yang berupa dialog antar pelajar atau guru dengan pembelajaran atau siswa mengenai
suatu bacaan.23
Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) menuntut guru menjadi
model dan pembantu siswa. Guru mengajarkan keterampilan kognitif yang penting pada peserta didik dengan cara menciptakan pengalaman-pengalaman belajar. Guru menciptakan tingkah laku tertentu kemudian mambantu siswa untuk membangun keterampilan-keterampilan itu sendiri dengan memberikan rangsangan, dukungan dan sistem yang
mendukung.24
Berdasarkan definisi diatas, maka peneliti dapat menyimpulkan
bahwa model pembelajaran terbalik(reciprocal teaching)siswa diajarkan
empat strategi pemahaman dan pengaturan diri spesifik, yaitu
21
Ardha Arief, Model Pembelajaran Reciprokal, (Diterbitkan pada 28 Mei 2013), dari http://ardhaphys.blogspot.com/2013/05/model-pembelajaran-resiprokal.html
22
Robert E. Slavin,Psikologi Pendidikan (Teori dan Praktik), (Jakarta: Indeks, 2011), cet.1 h.14
23
Marthayunanda,Sekilas Tentang Reciprocal Teaching, (Dirterbitkan pada 29 Oktober 2010), dari http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2067798-sekilas-tentang-reciprocal-teaching/.
24
Ria Sardiyanti, Penerapan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa (penelitian tindakan kelas di MTs Daarul Hikmah Pamulang), FITK UIN Jakarta, 2010 h. 17
merangkum bacaan, mengajukan pertanyaan, memprediksi materi lanjutan, dan mengklarifikasi istilah-istilah yang sulit dipahami. Model
pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yaitu model pembelajaran
yang menekankan pada pemahaman mandiri siswa, siswa diminta oleh guru untuk mambaca teks bacaan materi, kemudian siswa segera ditetapkan seolah-olah menjadi guru untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa yang lain sehingga dapat meningkatkan penguasaan materi pembelajaran. Sedangkan guru mula-mula menjadi
model dalam penerapan model pembelajaran reciprocal teaching
selanjutnya guru menjadiscaffolding.
b. Tahapan kegiatan pengajaranReciprocal Teaching
1. Prosedur Awal
Prosedur awal pengajaran Reciprocal Teaching adalah guru
memperagakan semua langkah pembelajaran Reciprocal Teaching,
lalu membagi kelompok siswa sebanyak 5 orang atau kelipatannya dalam satu kelompok. Siswa diminta melakukan langkah-langkah Reciprocalbersama-sama dalam kelompoknya.
Langkah-langkah dalam pembelajaran Reciprocal Teaching
yang digunakan menurut Wellington, adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a) Merangkum materi b) Membuat pertanyaan c) Membuat prediksi jawaban
d) Mengklasifikasikan hal-hal yang sulit
Guru kelas melakukan scaffolding, di antaranya bertindak
sebagai anggota kelompok membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan pada langkah-langkah tertentu. Pendekatan dialogis antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa perlu ditekankan. Guru dituntut memiliki kemampuan dialog yang baik serta teliti dan peka terhadap siswanya saat menjalani proses pembelajaran
Reciprocal. Misalnya pada saat berlangsungnya pembelajaran Reciprocal ada saja siswa yang memiliki kecendrungan diam, maka
guru harus memiliki teknik Scaffolding untuk membangkitkan
keaktifan siswa, diantaranya dengan cara mengarahkan,
memberitahu dan menyakinkan siswa peserta tersebut untuk turut aktif dalam diskusi kelompoknya, tidak perlu takut untuk mengungkapkan pendapatnya.
Scaffolding merupakan pemberian bantuan kepada anak selama tahap-tahap awal perkembangan dan mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan pada anak untuk mengambil tanggung
jawab yang semakin besar segera setelah anak melakukannya.25
Dapat disimpulkan bahwascaffoldingadalah pemberian bantuan
kepada anak pada tahap pembelajaran berupa arahan, petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, member contoh atau bantuan yang lain yang memungkinkan siswa tumbuh mandiri, yang diberikan guru sehingga pembelajaran dapat lebih terarah dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Adapun langkah-langkah teknik scaffolding menurut Applebee
dan Langer dalam Priyatni, mengidentifikasi ada lima langkah dalam
pembelajaran dengan menerapkan teknikscaffolding, yaitu:
1. Intentionality yaitu mengelompokkan bagian yang kompleks yang hendak dikuasai siswa menjadi beberapa bagian yang spesifik dan jelas. Bagian-bagian itu merupakan satu kesatuan untuk mencapai kompetensi secara utuh.
2. Appropriateness yaitu memfokuskan pemberian bantuan pada aspek-aspek yang belum dapat dikuasai siswa secara maksimal. 3. Structure yaitu pemberian model agar siswa dapat belajar dari
model yang ditampilkan.
25
Trianto,Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik,(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), Cet.1, h.27
4. Collaboration yaitu guru memberikan respons/balikan terhadap tugas yang dikerjakan siswa. Peran guru di sini bukan sebagai evaluator, tetapi sebagai kolaborator.
5. Internalization yaitu pemantapan pemilikan pengetahuan yang
dimiliki siswa agar benar-benar dikuasainya dengan baik.26
2. Prosedur Harian
Dalam tahap kelanjutan pelaksanaannya. Pengajaran terbalik melalui prosedur harian sebagai berikut :
a. Disediakan teks bacaan sesuai materi yang hendak diselesaikan.
b. Dijelaskan bahwa pada segmen pertama guru bertindak sebagai
guru (model).
c. Siswa diminta membaca dalam hati begian teks yang ditetapkan.
Untuk memudahkan mula-mula bekerja paragraf demi paragraf.
d. Guru memperagakan empat keterampilan setelah semua siswa
selesai membaca.
e. Siswa diminta untuk memberikan komentar tentang pengajaran
yang baru berlangsung dan mengenai bacaan.
f. Segmen berikutnya dilanjutkan dengan bagian bacaan/ paragraf
berikutnya, dan pilih satu siswa yang akan berperan sebagai “guru-siswa”.
g. Siswa dilatih/ diarahkan berperan sebagai “guru-siswa”
sepanjang kegiatan itu. Mendorong siswa lain untuk berperan
serta dalam dialog, namun selalu member “guru-siswa” itu
untuk kesempatan memimpin dialog. Memberikan banyak
umpan balik dan pujian kepada “guru-siswa” untuk peran
sertanya.
h. Pada hari-hari berikutnya, semakin lama guru mengurangi peran
dalam dialog, sehingga “guru-siswa” dan siswa lain itu
berinisiatif sendiri menangani kegiatan itu. Peran guru
26
Endah Tri Priyatni, dalam http://sastra.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/Peningkatan-Kompetensi-Menulis-Paragraf-dengan-Teknik-Scaffolding-Endah-Tri-Priyatni.pdf
selanjutnya sebagai moderator, menjaga agar siswa tetap berada
dalam jalur dan membantu mengatasi kesulitan.27
c. Kelebihan dan KelemahanReciprocal Teaching
Kelebihanreciprocal teachingantara lain :
Abdul Azis mengungkapkan bahwa kelebihan reciprocal teaching
antara lain :
a. Mengembangkan kreativitas siswa. b. Memupuk kerjasama antara siswa.
c. Menumbuhkan bakat siswa terutama dalam berbicara dan mengembangkan sikap.
d. Siswa lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati sendiri. e. Memupuk keberanian berpendapat dan berbicara di depan kelas. f. Melatih siswa untuk menganalisa masalah dan mengambil
kesimpulan dalam waktu singkat.
g. Menumbuhkan sikap menghargai guru karena siswa akan merasakan perasaan guru pada saat mengadakan pembelajaran terutama pada saat siswa ramai atau kurang memperhatikan. h. Dapat digunakan untuk materi pelajaran yang banyak dan alokasi
waktu yang terbatas.28
Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran terbalik (reciprocal
Teaching)memiliki kelebihan didalam proses kegiatan belajar mengajar yaitu saling bekerjasama antara siswa sehingga siswa bisa saling tukar pendapat dalam proses belajar mengajar serta dapat mengungkapkan pendapatnya di depan kelas.
Kelemahanreciprocal teachingantara lain:
a. Adanya kurang kesungguhan para siswa yang berperan sebagai guru menyebabkan tujuan tak tercapai.
27
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka , 2007), cet. 1, h. 96
28
Bungs Education,Metode Pembelajaran, (Diterbitkan pada 16 Juli 2012), diakses pada 18 November 2013 pada http://wbungs.blogspot.com
b. Pendengar (siswa yang tak berperan) sering mentertawakan tingkah laku siswa yang menjadi guru sehingga merusak suasana. c. Kurangnya perhatian siswa kepada pelajaran dan hanya memperhatikan aktifitas siswa yang berperan sebagai guru
membuat kesimpulan akhir sulit tercapai.29
Dari kelemahan diatas dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran terbalik (reciprocal Teaching) memiliki kelemahan yaitu
siswa selalu mentertawakan temannya ketika temannya (siswa yang berperan sebagai guru) menjelaskan di depan kelas.
e. Prinsip Pembelajaran Terbalik(Reciprocal Teaching)
Pembelajaran terbalik adalah suatu pendekatan konstruktivistik yang
berdasarkan pada pembuatan/pengajuan pertanyaan. Dengan
pembelajaran terbalik dapat menciptakan pengalaman belajar yang membantu siswa mengembangkan keterampilan kognitif.
Adapun prinsip-prinsip yang mendasari pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)dalam pembelajaran konstruktivistik adalah sebagai berikut:
1. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa. Artinya, dengan
bantuan prinsip-prinsip pedagogik yang kontruktivis yaitu
relevasinya tidak harus berkaitan dengan kehidupan atau keberadaan siswa terdahulu tetapi siswa harus memiliki minat terhadap subjek tertentu sehingga memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tertentu. Modal yang besar terhadap sesuatu merupakan modal besar artinya untuk mencapai/memperoleh benda atau tujuan yang diminati.
2. Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan. Artinya, guru konstruktivistik mengorganisasi informasi seputar problematika konsep, pertanyaan, dan situasi yang
29
mempunyai ciri-ciri tertentu. Karena siswa merasa disibukan dengan ide-ide atau problem yang dipresentasikan secara sulit/tidak mengerti. 3. Mencari dan menilai pendapat siswa. Artinya, dalam proses belajar
mengajar karakteristik siswa dapat diperhitungkan karena
mempengaruhi jalannya proses dan hasil pembelaan siswa yang bersangkutan. Maksudnya yaitu siswa akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya dan perspektif yang dipakai dalam menggiatkan prestasinya. Pemahaman dan karakteristik siswa ini sangat membantu dalam mencari dan menilai pendapat siswa.
4. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa. Artinya belajar menjadi lebih baik jika tuntutan kognitif, sosial dan emosionaldari kurikulum dapat dicapai oleh para siswa.
5. Menilai belajar siswa dalam konteks pembelajaran. Artinya, guru harus mampu memberikan pertanyaan yang luas agar siswa dapat mengungkapkan ide-ide yang mereka miliki tanpa harus terfokus