• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adanya Peraturan Perundang-undangan yang Memperbolehkan

BAB VI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERNGARUHI

A. Kuatnya Persepsi Satpol PP Bantul Untuk Berperilaku Represif

1. Adanya Peraturan Perundang-undangan yang Memperbolehkan

Berdasarkan Bab III pasal 6 Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2010 Satpol PP memiliki wewenang, diantaranya sebagai berikut:

a. melakukan tindakan penertiban non yustisial terhadap warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah;

b. menindak warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang mengganggu ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;

c. fasilitasi dan pemberdayaan kapasitas penyelenggaraan perlindungan masyarakat;

d. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah; dan

e. melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah.

Mengenai wewenang Satpol PP Bantul dalam Bab III pasal 6 Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2010 Satpol poin a tersebut untuk melakukan tindakan

penertiban non yustisial lebih lanjut dikuatkan dalam pasal 5 ayat (1) poin a Permendagri Nomor 54 Tahun 2011 yaitu:

(1) SOP Satpol PP meliputi:

a. Standar Operasional Prosedur penegakkan peraturan daerah.

Kemudian secara lebih lanjut SOP penegakkan perda dijelaskan dalam Lampiran Permendagri Nomor 54 tahun 2011 yaitu sebagai berikut:

Tindakan yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja:

a. Penindakan terhadap para pelanggar Peraturan Daerah, terlebih dahulu menandatangani surat penyataan bersedia dan sanggup mentaati dan mematuhi serta melaksanakan ketentuan dalam waktu 15 hari terhitung sejak penandatanganan surat pernyataan.

b. Apabila tidak melaksanakan dan atau mengingkari surat pernyataannya, maka akan diberikan:

1. Surat teguran pertama, dengan tenggang waktu 7 (tujuh) hari.

2. Surat teguran kedua, dengan tenggang waktu 3 (tiga) hari.

3. Surat teguran ketiga dengan tenggang waktu 3 (tiga) hari.

c. Apabila tidak melaksanakan dan atau mengingkari surat teguran tersebut, akan dilaporkan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) untuk dilakukan proses sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dari penjelasan mengenai penindakan preventif non yustisial tersebut tidak ada hal yang mendukung secara langsung yang membenarkan Satpol PP Bantul berperilaku represif yang berupa kekerasan kepada orang. Satpol PP Bantul justru

dituntut mengedepankan tindakan preventif non yustisial yang berupa upaya teguran tertulis kepada masyarakat yang melanggar peraturan daerah dan jika upaya tersebut gagal maka dilanjutkan dengan penindakan yustisial yang dilakukan oleh PPNS.

Penindakan Yustisial dalam penegakkan peraturan daerah dalam Lampiran Permendagri Nomor 54 Tahun 2011 secara singkat adalah sebagai berikut:

1. Penyelidikan

2. Penyidikan pelanggaran peraturan daerah.

3. Pemeriksaan.

4. Pemanggilan 5. Pelaksanaan.

Dalam hal pembinaan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat sesuai dengan poin kedua mengenai wewenang Satpol PP dalam Permendagri No. 54 tahun 2011 tersebut Satpol PP berwenang menindak warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang mengganggu ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat. Penindakan terhadap warga, aparatur, atau badan hukum yang mengganggu ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dijelaskan lebih lanjut dalam Lampiran Permendgri Nomor 54 Tahun 2011 bentuknya berupa penertiban dilakukan dalam rangka dalam rangka peningkatan ketaatan masyarakat terhadap peraturan, tetapi tindakan tersebut hanya terbatas pada tindakan peringatan dan penghentian sementara kegiatan yang melanggar Peraturan daerah, peraturan kepala daerah, dan produk hukum lainnya. Sedangkan putusan final atas pelanggaran tersebut merupakan kewenangan instansi atau

pejabat yang berwenang, untuk itu penertiban disini tidak dapat diartikan sebagai tindakan penyidikan, penertiban yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja adalah tindakan Non Yustisial.

Dari uraian mengenai Penegakkan Perda dengan preventif non yustisial yang berbentuk teguran tertulis, kemudian penindakan yustisial dan pembinaan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dengan tindakan Non Yustisial tersebut, menunjukkan tidak adanya hal yang mendukung secara langsung Satpol PP Bantul melakukan represif yang berupa menekan, mengekang, menahan, dan menindas atau kekerasan fisik secara langsung karena tindakan tersebut dilakukan dalam rangka menegakkan peraturan daerah. Pemaknaan represif tidak sebatas hal tersebut, tetapi juga sesuai dengan Jamil (2003: 38) kekerasan represif menurutnya berkaitan dengan pencabutan hak-hak dasar selain hak untuk hidup dan hak untuk dilindungi dari kecelakaan. Oleh karena itu, di dalamnya termasuk pelanggaran hak-hak azasi manusia yang meskipun secara langsung atau tidak langsung, membahayakan kehidupan manusia, merupakan pelanggaran berat dalam mengekang kebebasan, martabat manusia dan kesamaan hak bagi setiap manusia. Kekerasan represif terkait dengan tiga hak dasar, yaitu hak sipil, hak politik, dan hak sosial. Hak-hak sipil yang pokok adalah kebebasan berpikir dan kebebasan beragama, kebebasan bergerak, privasi, kesamaan di depan hukum dan hak untuk berusaha secara adil. Hak-hak politik mengacu pada tingkat partisipasi masyarakat secara demokratis dalam kehidupan politik di suatu daerah atau negara (hak untuk bersuara, mengikuti pemilihan umum, kebebasan berkumpul dan berorganisasi atau partai, kebebasan berbicara dan berpendapat, dan

kebebasan pers). Sedangkan jaminan terhadap hak-hak sosial diberikan untuk melindungi kekerasan represif yang paling sering terjadi yakni larangan untuk menciptakan atau memiliki serikat buruh, atau larangan untuk mogok.

Oeh karena itu meski penegakkan peraturan perundang-undangan daerah dan pembinaan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dilakukan dalam rangka menjalankan amanat peraturan perundang-undangan daerah dalam praktiknya sebatas berupa penertiban atau penghentian kegiatan masyarakat yang melanggar peraturan daerah, bisa saja tetap dikatakan represif manakala penegakkan peraturan perundang-undangan daerah dan pembinaan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dilakukan dengan melanggar nilai-nilai HAM.

Dari penjelasan proses penegakkan peraturan perundang-undangan daerah serta penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat tersebut yang berupa preventif non yustisial, tindakan yustisial, dan tindakan non yustisial tersebut memang tidak ada satupun yang mendukung tindakan represif Satpol PP Bantul. Satpol PP Bantul sendiri justru menyebut operasi preventif non yustisial, tindakan yustisial dan tindakan non yustisial sebagai operasi represif yang dimaknai sebagai tindakan penertiban dengan paksaan, hal ini seperti pernyataan Kabid Pengendalian dan Operasi Satpol PP Bantul Bapak R. Jati Bayu Broto, SH.

M. Hum sebagai berikut:

“Ada represif,represif ini sudah dengan pemaksaan. Represif ini ada yang yustisi dan non yustisi. Represif yustisi ini ya pelanggar-pelanggar bisa kita sidik, kita buat berita acara, kita ajukan ke pengadilan, untuk disidang hakim, nah nanti putusan hukum anunya yang menentukan hakim, sesuai dengan perdanya, ancaman hukumannya apa. Yang terakhir represif non yustisi, itu ketika sudah

sampai terakhir tidak dilaksanakan kita represif non yustisi, misalnya:pembongkaran-pembongkaran.”

(wawancara 10 September 2012)

Dengan demikian pemaknaan represif oleh Satpol PP Bantul sendiri ternyata berupa upaya pemaksaan dalam rangka penegakkan peraturan perundang-undangan daerah. Pemaknaan tersebut tidaklah salah karena penertiban memang berupa pemaksaan agar seseorang atau badan hukum kembali mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal tersebut dikuatkan dalam pasal 10 poin kesembilan Peraturan Bupati No. 68 tahun 2009 Tentang Rincian Tugas, Fungsi, dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantul sebagai berikut:

i. Melaksanakan penertiban dan melakukan penindakan warga masyarakat atau badan hukum yang mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, serta melakukan pelanggaran atas Peraturan Daerah, Peraturan Bupati, dan Keputusan Bupati.

Jadi Satpol PP Bantul berdasar peraturan perundang-undangan yang berlaku berwenang melakukan tugasnya dalam menegakkan peraturan perundang-undangan daerah dan menjaga ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dalam bentuk operasi penertiban. Operasi penertiban inilah yang disebut sebagai operasi represif oleh Satpol PP Bantul yang dimaknai sebagai pemaksaan agar masyarakat atau badan hukum yang melanggar peraturan perundang-undangan daerah dapat dilakukan penindakan baik secara yustisi maupun non yustisi. Tidak ada ketentuan peraturan perundang-undangan yang menegaskan Satpol PP Bantul berwenang melakukan operasi represif yustisi maupun non yustisi disertai dengan tindakan kekerasan secara langsung. Adapun jika Satpol PP Bantul melakukan

operasi penertiban di lapangan berlaku kasar hingga melakukan kekerasan langsung pada orang baik itu berupa pemukulan, dan lain sebagainya berarti telah menyalahi prosedur yang berlaku.

Dengan demikian tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara langsung mendukung Satpol PP Bantul berperilaku represif dalam arti kekerasan fisik kepada manusia, menekan, mengekang, menahan dan menindas secara langsung, yang ada justru penertiban yustisi dan non yustisi yang sesuai dengan peraturan undangan dalam rangka penegakkan peraturan perundang-undangan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat. Walaupun operasi penertiban dalam rangka penegakkan peraturan daerah, tetapi justru penegakkan peraturan daerah tersebut terkadang mencederai hak sipil, sosial, dan politik karena ketentuan peraturan perundang-undangan daerah yang tidak memihak rakyat kecil. Hal ini seperti pada kasus relokasi PKL dan rumah-rumah di kawasan Parangtritis dalam rangka menegakkan Peraturan Bupati No 24 Tahun 2006 tentang Penataan Kegiatan Usaha Di Kawasan Pantai Parangendog sampai dengan Pantai Parangkusumo, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul. Dalam relokasi tersebut rumah-rumah dan lapak-lapak warga Pantai Parangtritis dirobohkan dan direlokasi di tempat lain dengan ganti rugi berupa kios dan los atau tempat usaha. Warga yang rumahnya dirobohkan mendapat kios dengan ukuran yang sempit, serta tidak semua letak kios strategis untuk berdagang sehingga sebagian warga mengalami penurunan penghasilan.

Selain itu masih ada 6 orang pemilik rumah yang dirobohkan belum mendapat jatah kios sejak tahun 2007 dilakukan penggusuran tahap kedua. Perobohan

rumah-rumah sendiri dilakukan mulai tahun 2006, kemudian tahun 2007, 2008, 2009. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Ibu Sutinah, salah satu warga yang belum mendapat ganti rugi kios, aktifis ARMP sebagai berikut:

“Ya kan sudah 3 tahap penggusuran itu, pertama sini 2006, 2007, 2008 itu di bawah ini Mbolong, terus 2009 yang di sebelah selatan Cepuri, sudah 4 kali penggusuran itu.”

(wawancara 25 Desember 2012)

Oleh karena itu meskipun Satpol PP Bantul tidak memilik kewenangan secara langsung untuk melakukan kekerasan, tetapi memiliki kewenangan untuk menertibkan secara paksa agar masyarakat mematuhi peraturan daerah, peraturan bupati, instruksi bupati dan keputusan bupati yang dalam praktiknya dilapangan dapat berupa penghancuran rumah, pembongkaran lapak-lapak PKL, dan sebagainya. Dengan demikian sebenarnya Satpol PP Bantul memiliki kewenangan untuk melakukan perusakan benda atau barang milik orang atau menghancurkan hak milik orang lain serta melakukan penggusuran yang mana hal tersebut merupakan bentuk tindakan represif. Oleh karena itu peraturan perundangan yang ada dalam Peraturan Bupati No. 24 tahun 206 tersebut memberikan kewenangan pada Satpol PP Bantul untuk melakukan pengrusakan dan penggusuran terhadap rumah dan lapak-lapak PKL yang pada akhirnya meski mendapat ganti rugi namun dinilai tidak memadai atau tidak layak.

2. Wewenang Bupati Memberikan Instruksi dan Mengambil Kebijakan