• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wewenang Bupati Memberikan Instruksi dan Mengambil

BAB VI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERNGARUHI

A. Kuatnya Persepsi Satpol PP Bantul Untuk Berperilaku Represif

2. Wewenang Bupati Memberikan Instruksi dan Mengambil

Pada dasarnya wewenang untuk menegakkan peraturan daerah ada di tangan kepala daerah, sedangkan Satpol PP Bantul bertugas membantu kepala daerah.

Hal ini sesuai dengan Pasal 148 ayat (1) dalam UU Nomor 32 Tahun 2004:

 Untuk membantu kepala daerah dalam menegakkan Perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja.

Oleh karena itu wewenang penuh dalam penegakkan peraturan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat ada di tangan bupati, sedangkan Satpol PP Bantul bertugas membantu bupati dalam penegakkannya sesuai dengan amanat peraturan daerah. Kemudian secara lebih lanjut mengenai penegakkan peraturan daerah oleh Satpol PP Bantul diterangkan dalam pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2010 mengenai fungsi Satpol PP adalah sebagai berikut:

a. penyusunan program dan pelaksanaan penegakan Perda, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat;

b. pelaksanaan kebijakan penegakan Perda dan peraturan kepala daerah;

c. pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat di daerah;

d. pelaksanaan kebijakan perlindungan masyarakat;

e. pelaksanaan koordinasi penegakan Perda dan peraturan kepala daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia, Penyidik Pegawai Negeri Sipil daerah, dan/atau aparatur lainnya;

f. pengawasan terhadap masyarakat, aparatur, atau badan hukum agar mematuhi dan menaati Perda dan peraturan kepala daerah; dan

g. pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh kepala daerah.

Beberapa fungsi Satpol PP tersebut menjelaskan lebih lanjut bahwa Satpol PP berfungsi menjalankan penegakkan peraturan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat berdasar atas instruksi langsung bupati, yaitu pada poin g mengenai pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh kepala daerah. Selain itu secara tidak langsung kepala daerah/bupati berwenang mengambil kebijakan yang dituangkan dalam produk hukum yaitu peraturan daerah dan peraturan kepala daerah yang nantinya proses penegakkannya ditangani oleh Satpol PP. Jadi dengan demikian baik secara langsung mupun tidak langsung kepala daerah mempunyai wewenang yang luas untuk memberikan instruksi/perintah dalam rangka menegakkan peraturan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat. Pada akhirnya Satpol PP Bantul akan bertanggungjawab dalam tugas penegakkan peraturan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat pada bupati melalui sekretaris daerah.

Satpol PP Bantul sendiri memahami bahwa bupati memiliki kewenangan untuk memberikan perintah atau instruksi langsung dalam hal penegakkan perda

dan menjaga ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dan bertanggungjawab kepada bupati melalui sekretaris daerah. Satpol PP Bantul sendiri pada dasarnya hanya membantu menegakkan perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat yang menjadi kewenangan bupati.

Hal ini juga diungkapkan oleh Bapak Rujito, S. IP. Kaseksi Penyidikan dan Penindakan Bid Penegakkan Perda Satpol PP Bantul sebagai berikut:

”Ya memang secara komando memang kita asumsikan antara atasan dengan bawahan, jadi ketika ada perintah dari atasan ya kita laksanakan, karena Pol PP sendiri kan membantu kepala daerah dalam bidang penegakkan perda dan penyelenggaraan tantrib. Sebenarnya kan yang punya hak-hak itu tadi kan bupati dalam undang-undangnya, tapi bupati kan nggak mungkin menyelenggarakannya, nah didelegasikan pada Pol PP.”

(wawancara 22 Januari 2013)

Setelah memahami uraian tersebut, dapat diketahui bupati/kepala daerah secara langsung memiliki kewenangan untuk memberikan instruksi mengenai penegakkan perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat. Hal tersebut juga dipahami oleh Satpol PP bantul sendiri bahwa posisi Satpol PP Bantul berada di bawah komando bupati dan bertanggungjawab pada bupati melalui sekretaris daerah. Setiap perintah atau instruksi dari bupati kepada Satpol PP Bantul merupakan perintah dari atasan kepada bawahan yang harus dilaksanakan.

Di satu sisi tentunya tidak semua kebijakan Pemerintah Kabupaten Bantul atau bupati yang dituangkan dalam peraturan daerah dan peraturan bupati merupakan kebijakan yang tepat atau memiliki dampak negatif seminimal mungkin, bahkan mungkin ada perda atau peraturan bupati yang bersifat represif terhadap sebagian masyarakat. Hal ini seperti telah disebutkan mengenai

Peraturan Bupati Bantul No 24 Tahun 2006 tentang penataan kegiatan usaha di kawasan Pantai Parangendog sampai dengan Pantai Parangkusumo, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul yang bersifat represif terhadap warga Pantai Parangtritis. Peraturan tersebut telah mengakibatkan sebagian warga Pantai Pantai Parangtritis kehilangan tempat tinggal dan tempat usaha, meskipun warga Pantai Parangtritis mendapat jatah rumah atau tempat usaha, tetapi dinilai tidak layak sebagai ganti rugi. Oleh karena itu, adanya kewenangan bupati dalam memberikan instruksi dan mengambil kebijakan yang bersifat represif yang nantinya juga akan dilaksanakan oleh Satpol PP Bantul juga mendorong Satpol PP Bantul menjadi berperilaku represif. Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Bantul berbenah diri dalam setiap melakukan pengambilan kebijakan agar wewenang yang dimiliki dalam pengambilan kebijakan tidak merugikan masyarakat.

D. Kuatnya Budaya Militerisme

Ogbonna dan Harris, Schein (dalam Tangkilisan, 2005: 15) mendefinisikan budaya organisasi sebagai pola asumsi dasar bersama yang dipelajari oleh kelompok dalam suatu organisasi sebagai suatu alat untuk memecahkan masalah terhadap penyesuaian faktor eksternal dan integrasi faktor internal, dan telah terbukti sahih, dan oleh karenanya diajarkan kepada para anggota organisasi yang baru sebagai cara yang benar untuk mempersepsikan, memikirkan, dan merasakan dalam kaitannya dengan masalah-masalah yang dihadapi.

Dalam konteks birokrasi Satpol PP Bantul merupakan birokrasi daerah yang mempunyai budaya dalam lingkungannya sendiri. Budaya birokrasi dapat

digambarkan sebagai sebuah sistem atau seperangkat nilai yang memiliki simbol, orientasi nilai, keyakinan, pengetahuan, dan pengalaman kehidupan yang terinternalisasi ke dalam pikiran. Seperangkat nilai tersebut diaktualisasikan dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang dilakukan oleh setiap anggota dari sebuah organisasi yang dinamakan birokrasi (Dwiyanto dkk, 2008: 91).

1. Kuatnya Penanaman Kemiliteran dalam Anggota Satpol PP Bantul