• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kuatnya Penanaman Kemiliteran dalam Anggota Satpol PP

BAB VI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERNGARUHI

A. Kuatnya Persepsi Satpol PP Bantul Untuk Berperilaku Represif

1. Kuatnya Penanaman Kemiliteran dalam Anggota Satpol PP

yang penting untuk dibahas, karena seperti yang dipahami budaya organisasi merupakan sistem nilai yang memiliki simbol, keyakinan dan diaktualisasikan dalam bentuk sikap, perilaku, dan tindakan sehari-hari dari anggota organisasi.

Nilai merupakan hal yang mendasar dalam budaya organisasi. Nilai mendasari bagaimana anggota organisasi berpikir, berperilaku, dan melakukan pemecahan masalah yang ada dalam organisasi. Secara sistematis dan terencana, Satpol PP Bantul menanamkan tiga nilai mendasar yang dianggap penting bagi pelaksanaan tugas, diantaranya adalah:

a. Nasionalisme

Ini mutlak ditanamkan bagi seluruh anggota Satpol PP Bantul.

b. Kebersamaan, kekompakkan, dalam kalangan militer disebut jiwa korsa.

c. Kemanusiaan (humanisme).

Dari ketiga nilai ini yang saat ini paling menonjol serta menjadi hal penting bagi Satpol PP Bantul adalah jiwa korsa atau kebersamaan, kekompakkan.

Menurut Satpol PP hal ini penting karena tantangan yang dihadapi Satpol PP

Bantul dalam bekerja lebih besar dibandingkan dengan pegawai-pegawai yang lain. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Kepala Seksi Penyidikan dan Penindakan Bidang penegakkan Perda Satpol PP Bantul, Bapak Rujito, SIP sebagai berikut:

“Memang bicara masalah nilai-nilai dasar, masalah nasionalisme itu kita di atas. Kemudian masalah kekompakkan atau kalau dalam militer sering disebut dengan jiwa korsa. Jadi dalam hal ini memang rasa kebersamaan kita bangun. Artinya apa, karena dalam Satpol PP itu memang kita pakai dalam istilah saja “satuan”, satuan Pol PP, jadi memang kebersamaan kita bangun supaya nanti dalam keseluruhannya merasa menjadi satu bagian. Bukan berarti jiwa korsa yang waton kompak, tapi kita bangun supaya kebersamaan diantara mereka ini betul-betul semacam kesatuan yang utuh. Tapi dalam ketiga itu yang agak dominan yang terus kita pupuk adalah jiwa korsa. Karena mungkin tantangan dari Satpol PP, tugas-tugasnya mungkin yang ekstra daripada pegawai-pegawai lain mungkin.”

(wawancara 24 September 2012)

Penanaman nilai jiwa korsa sangat penting bagi militer maupun organisasi lain. Apalagi terhadap organisasi yang memiliki cakupan tugas di lapangan atau di masyarakat, penanaman jiwa korsa atau kekompakkan, kebersamaan amatlah penting. Hal ini agar setiap anggota merasa menjadi satu bagian, saling memiliki terhadap identitas yang melekat pada diri mereka sebagai bagian dari organisasi.

Penanaman jiwa korsa yang berlebihan, dan ditambah dengan penanaman sikap kedisiplinan tinggi akan membentuk budaya militerisme yang nantinya akan berpengaruh dalam perilaku Satpol PP Bantul. Hal tersebut terindikasi dari Satpol PP Bantul yang lebih menekankan penanaman jiwa korsa serta pembentukan sikap disiplin ala militer seperti baris-berbaris, dan pada pendidikan dasar. Oleh karena itu penanaman jiwa korsa ini menjadi lebih menonjol tanpa diimbangi dengan nilai kemanusiaan, maka Satpol PP Bantul tentu saja akan menjadi kurang

manusiawi. Dengan demikian penggunaan paksaan dan kekerasan dalam pemecahan masalah menjadi sesuatu yang biasa karena telah terinternalisasi dari budaya organisasi yang ada. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak Hamzal Wahyudin, SH Kepala Departemen Advokasi LBH Jogja sebagai berikut:

“…terus pendidikannya, Satpol PP ini sangat militeristik ya sehingga bagaimana dia melayani masyarakat itu kurang, maka yang terbangun di benak paradigma otaknya itu bagaimana menyelesaikan permasalahan itu dengan tindakan represif. Itu yang sudah terbangun di otaknya, jadi pendidikan seperti itu.”

(wawancara 3 Oktober 2012)

Dengan demikian budaya militerisme Satpol PP Bantul yang sengaja ditanamkan melalui penanaman jiwa korsa dan pembinaan kedisiplinan ala militer akan membangun paradigma berpikir yang melegalkan penggunaan paksaan, kekerasan dalam berpikir, bersikap dan berperilaku dan pemecahan masalah. Bagi Satpol PP Bantul sendiri tentunya sangat berpengaruh dalam proses penegakkan peraturan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum serta ketenteraman masyarakat. Oleh karena itu, ke depan Satpol PP Bantul perlu melakukan perubahan budaya organisasi yang bersifat milterisme menjadi budaya masyarakat sipil yang menekankan musyawarah dalam pemecahan masalah, sehingga harapannya perilaku represif yang terlihat menonjol menjadi berkurang.

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian bab V dan VI, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Perilaku represif Satpol PP Bantul telah mengakibatkan pencerabutan hak-hak sipil masyarakat yaitu warga Parangtritis dengan adanya penggusuran terhadap rumah-rumah dan lapak-lapak pedagang di kawasan Pantai Parangtritis. Perilaku represif Satpol PP Bantul dilakukan dalam rangka menjalankan amanat ketentuan peraturan bupati. Meskipun pelaksanaan kebijakan peraturan bupati bertujuan baik, namun tetap saja menghilangkan hak kehidupan.

2. Faktor-faktor yang dianggap berpengaruh terhadap perilaku represif Satpol PP Bantul antara lain:

a. Kuatnya persepsi Satpol PP Bantul untuk berperilaku represif membentuk pemahaman dalam menjalankan tugas sebagai pamong praja masyarakat berkewajiban menertibkan masyarakat yang melanggar peraturan perundang-undangan daerah dan mengganggu ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dengan merekomendasikan perlunya tindakan represif. Tindakan represif dipahami sebagai esensi dari penegakkan perda sehingga berpengaruh

terhadap penggunaan tindakan represif yustisi dan non yustisi dalam setiap pelaksanaan tugas.

b. Rendahnya Kualitas Pengembangan SDM Satpol PP membentuk Satpol PP Bantul berperilaku represif. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya pembentukan sikap persuasif dan lebih menekankan pembentukan sikap kedisiplinan, pelatihan ketrampilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tugas Satpol PP Bantul yang lebih menekankan pelatihan kesamaptaan jasmani dan kurang menekankan pada ketrampilan komunikasi yang baik serta negosiasi, dan kurangnya kegiatan penambahan pengetahuan sosial kemasyarakatan.

c. Luasnya Wewenang Satpol PP Bantul sebenarnya tidak secara langsung didukung oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk melakukan tindakan represif berupa kekerasan fisik kepada orang, namun yang ada adalah wewenang melakukan penertiban paksa dalam penegakkan peraturan perundang-undangan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat.

Selain itu wewenang yang luas bagi bupati untuk memberikan instruksi langsung dalam menegakkan peraturan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat mengharuskan Satpol PP Bantul wajib mengikuti meski peraturan daerah tersebut berdampak represif dan merugikan sebagian masyarakat.

d. Budaya Militerisme yang kuat membentuk kebiasaan dan pola pelaksanaan tugas lebih represif. Budaya jiwa korsa yang kuat

ditanamkan daripada nilai kemanusiaan serta pembiasaan kegiatan disiplin ala militer membentuk paradigma militerisme dalam berpengaruh terhadap penggunaan paksaan dan kekerasan dalam meneggakan peraturan perundang-undangan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka direkomendasikan berupa saran sebagai berikut:

1. Mendesak Pemerintah Kabupaten Bantul agar lebih memperdalam kembali dalam menganalisis dampak dari pembuatan peraturan perundang-undangan daerah agar tidak merugikan sebagian kelompok masyarakat atau pun memarjinalkan baik secara ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

2. Mendesak pemerintah untuk memperbaiki kembali bentuk pengembangan SDM Satpol PP Bantul agar lebih mengedepankan sikap persuasif, menambah ketrampilan yang aplikatif dalam tugas langsung ke masyarakat berupa ketrampilan komunikasi, negosiasi, dan musyawarah, serta penambahan kegiatan yang menambah wawasan sosial, hukum, kebudayaan, politik, dan ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Budiardjo, Miriam, 1991, Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

______________, 2008, Dasar-dasar Ilmu Politik, Edisi Revisi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Chalid, Peni, 2005, Otonomi Daerah Masalah, Pemberdayaan, dan Konflik, Kemitraan, Jakarta.

Dwiyanto, Agus dkk, 2007, Kinerja Tata Pemerintahan Daerah di Indonesia, PSKK UGM, Yogyakarta.

Dwiyanto, Agus dkk, 2008, Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Eko, S. (ed), 2000, Masyarakat Pascamiliter, Tantangan dan Peluang Demiliterisme di Indonesia, Institute for Research and Empowerment (IRE), Yogyakarta.

Faisal, Sanapiah, 2001, Format-format Penelitian Sosial. Grafindo Persada, Jakarta.

Hendrarti. I. M., & Purwoko, Herudjati, 2008, Sifat Kekerasan Fisik, Simbolik, Birokratik & Struktural, Indeks, Jakarta.

Manan, Bagir dkk, 2001, Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan Hak Asasi Manusia di Indonesia, Yayasan Hak Asasi Manusia, Demokrasi dan Supremasi Hukum (YHDS), Bandung.

Mansour, Fakih, 1996, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Manullang, M., 2004, Dasar-dasar Manajemen, Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Moleong, Lexy. J., 2008, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Muchlas, Makmuri, 2008, Perilaku Organisasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Nawawi, Hadari, 1998, Metode Penelitian Bidang Sosial. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Prawironegoro, Darsono, 2006, Budaya Organisasi: Kajian Organisasi Bisnis, Ekonomi, Sosial, dan Politik, Diadit Media, Jakarta.

Procton, J. H., dan Thornton, W. M., 1993, Latihan Kerja Buku Pegangan Bagi Para Manajer, Rineka Cipta, Jakarta.

Robbins, S. P., 2001, Perilaku Organisasi:Konsep Kontroversi Aplikasi, Edisi Kedelapan, Jilid 1, PT Prenhallindo, Jakarta.

Robbins, S. P., 2002, Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Sadli, S., 1977, Persepsi Sosial Mengenai Perilaku Menyimpang, Bulan Bintang, Jakarta.

Salmi, Jamil, 2003, Kekerasan dan Kapitalisme: Pendekatan Baru dalam Melihat Hak-hak Azasi Manusia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Santoso, P. (ed), 2000, Melucuti Serdadu Sipil: Mengembangkan Wacana Demiliterisme dalam Komunitas Sipil, FISIPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sedarmayanti, 2009, Manajemen Sumber Daya Manusia, Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil, Refika Aditama, Bandung.

Setiawan, Akhmad, 1998, Perilaku Birokrasi dalam Pengaruh Paham Kekuasaan Jawa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Algabeta, Bandung.

Suharnan, 2005, Psikologi Kognitif, Srikandi, Surabaya.

Sulistiyani, Ambar T., dan Rosidah, 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia:

Konsep, Teori, dan Pengembangan dalam Konteks Organisasi Publik, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Suyanto, B., dan Sutinah (ed), 2007. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Prenada Media Group, Jakarta.

Tangkilisan, Hessel Nogi S., 2005, Manajemen Publik, Grasindo, Jakarta.

Thoha, Miftah, 2010, Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Tika, Moh. Pabundu, 2006, Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan, Bumi Aksara, Jakarta.

Tjiptono, Fandy, 1995, Strategi Pemasaran, Andi Offset, Jogjakarta.

Windhu, I. Marsana, 1992, Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan Galtung, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Wirartha, I. Made, 2006, Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Andi Offset, Yogyakarta.

Internet:

http://id.wikipedia.org/wiki/Pedagang_kaki_lima. Diakses 28 Maret 2012.

http://id.wikipedia.org/wiki/Polisi_Pamong_Praja, Diakses 16 Desember 2011.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/03/05/3721/Komnas-Anggap-Terjadi-Pelanggaran-HAM. Diakses 28 Maret 2012.

http://syafiie.blogspot.com/2011/04/sistem-penyebab-banalisasi-kekerasan.html.

Diakses 21 Februari 2012.

http://www.bantulkab.go.id/berita/169.html. Diakses 28 Maret 2012.

http://www.ditjenpum.go.id/artikel/2011/1311699600/pencitraan-satpol-pp-dan-satlinmas. Diakses 16 Desember 2011.

http://www.krjogja.com/news/detail/55440/Satpol.PP.Bantul.Tertibkan.Puluhan.L apak.Liar.html. Diakses 26 April 2010.

Salim, Hairus. 2009. Polisi Pamong Praja dan Reformasi Sektor Keamanan (on line). Didownload tanggal 26 Maret 2009 dari http://se2.dcaf.ch/serviceengine/Files/DCAF/104831/ipublicationdocument_

singledocument/6D81DC84-FF53-4E95-9B8D-DBEE69F45B2B/id/9.+Municipal+Police+and+SSR.pdf.

Peraturan Perundang-undangan:

Peraturan Bupati Bantul, Nomor 24 Tahun 2006, tentang Penataan Kegiatan Usaha Di Kawasan Pantai Parangendog Sampai Dengan Pantai Parangkusumo, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul.

Peraturan Bupati Bantul, Nomor 68 Tahun 2009, tentang Rincian Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantul.

Peraturan Daerah Kabupaten Bantul, Nomor 18 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantul.

Peraturan Daerah Kabupaten Bantul, Nomor 20 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 18 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupten Bantul.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indobesia, Nomor 54 Tahun 2011 tentang Standar Operasional Prosedur Satuan Polisi Pamong Praja.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja.

Undang-undang Republik Indonesia No 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah.

Skripsi:

Rahmatullah, Dwiningsih, 2005, Tingkah Laku Pelajar Dalam Menghadapi Penambahan Jam Belajar di Sekolah, Laporan Skripsi Jurusan Sosiologi , FISIPOL UGM, Yogyakarta.

Dokumen lain:

Putusan No. 519/PID.B/2010/PN. YK. Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Yogyakarta.

LAMPIRAN

Pedoman Wawancara

Pertanyaan Kepada Kabid Pengendalian dan Operasi Satpol PP Kab Bantul:

1. Bagaimana bentuk pembinaan/pengembangan anggota Satpol PP?

Prosesnya apa saja hingga anggota baru kompeten dalam melaksanakan tugas?

2. Apa saja bentuk pembinaan rutin bagi anggota Satpol PP Bantul?

3. Adakah pengembangan kompetensi anggota Satpol PP Bantul berupa kemampuan komunikasi, negosiasi, persuasi secara khusus?

4. Nilai-nilai apa saja yang ditanamkan pada Satpol PP Bantul pada pembinaan?

5. Apa hal pokok yang ditanamkan pada anggota Satpol PP Bantul mengenai identitas diri, diri sendiri?

6. Apa gambaran Satpol PP Bantul memahami/memandang diri sendiri?

7. Bagaimana Satpol PP Bantul memahami, memandang masyarakat yang melanggar perda?

8. Dalam pandangan Satpol PP Bantul, bagaimana bentuk prosentase masyarakat yang melanggar perda?

Pertanyaan kepada Kaseksi Penyidikan dan Penindakan Bid Penegakkan Perda Satpol PP Bantul:

1. Bagaimana Satpol PP menggambarkan identitas dirinya sendiri?sebagai apakah?

2. Terkait dengan penegakkan perda Apa saja yang pantas dilakukan dan tidak pantas dilakukan oleh Satpol PP sendiri?

3. Bagaimana gambaran Satpol PP tentang masyarakat bantul?

4. Bagaimana bentuk-bentuk penegakkan perda terhadap masyarakat dengan karakteristik yang berbeda?

5. Masyarakat dari kalangan apa saja yang sering melanggar perda?

6. Bagaimana upaya yang dilakukan pada proses penataan Pantai Parangtritis?

7. Bagaimana bentuk sosialisasinya mengenai penataan Parangtritis?

8. Satpol PP banyak diberitakan selalu bersikap represif?adakah upaya merubah citra tersebut?

9. Seberapa urgen operasi Yustisi dan Non Yustisi dilakukan terhadap masyarakat?

10. Seberapa besar tingkat gangguan ketentraman dari masyarakat sehingga dianggap perlu ditindak Satpol PP Bantul?

11. Bagaimana bentuk/proses pelatihan dan pengembangan bagi anggota Satpol PP Bantul?

12. Apakah ada pelatihan/pengembangan khusus untuk melengkapi ketrampilan dan pemahaman Satpol PP tentang komunikasi, negosiasi , dan persuasi?

13. Terkait penegakkan perda apa saja perlengkapan kerja bagi Satpol PP Bantul yang dibutuhkan?

14. Apa jargon utama yang akan dikembangkan pada Satpol PP Bantul?

15. Apa komitmen Satpol PP Bantul dalam menjalankan tugas?

16. Apa bentuk hubungan ke masyarakat secara luas yang sudah dibangun?

17. Apa saja nilai-nilai yang mendasar yang ditanamkan bagi Satpol PP Bantul?

Pertanyaan kepada Kepala Departemen Advokasi LBH Jogja:

1. Kasus apa saja yang ditangani oleh LBH Jogja yang memiliki ketertkaitan dengan Satpol PP Bantul?

2. Apa bentuk pelanggaran HAM yang terjadi yang dilakukan Satpol PP Bantul?

3. Apa faktor yang mendukung Satpol PP ketika dilapangan bertindak represif?

4. Dalam SOP Satpol PP memiliki kewenangan represif Yustisi dan Non yustisi, bagaimana pandangan anda dari sisi hukum?

5. Bagaimana hubungan antara Satpol PP dengan pemerintah daerah menurut anda? Adakah pantas disebut patron klien?

6. Apa yang sebaginya dilakuan Satpol PP ketika kepentingan masyarakat berbenturan dengan ketertiban umum?

7. Apakah perlu pengkajian ulang tentang SOP Satpol PP yang memiliki kewenangan represif?

8. Sejauhmana Pendidikan/pengembangan Satpol PP berpengaruh terhadap tindakan represif Satpol PP?

9. Apa harapan anda ke depan terhadap pemkab Bantul dan Satpol PP Bantul?

Pertanyaan kepada warga Parangtritis Korban Penataan/Penggusuran:

1. Sejak kapan anda mulai menempati kios ini?

2. Bagaimana keadaan sebelum dan sesudah penggusuran?

3. Kenapa hingga saat ini pengunjung di kios belum banyak kenapa?

4. Sejak kapan minta bantuan pendampingan hukum ke LBH Jogja?

5. Anda hingga saat ini belum mendapatkan jatah kios, bukankah hasil audiensi warga Mancingan dengan gubernur seluruh warga tanpa memandang asal daerah akan mendapat kios/los?

6. Sudah berapa kali usaha anda untuk mendapatkan hak jatah kios?

7. Sudah berapa lama anda tinggal di sini?

8. Berapa besar uang ganti rugi yang didapat?

9. Apakah jumlah uang ganti rugi dirasa mencukupi?

10. Setelah ada penggusuran/penataan justru banyak warga yang beralih menjadi PSK?

11. Selama ini bagaimana rasanya kehidupan menjadi pendatang di Parangtritis?

12. Menurut anda apa solusi yang terbaik untuk Penataan Parangtritis supaya tidak merugikan warga?

18. Bagaimana upaya yang dilakukan pada proses penataan Pantai Parangtritis?

19. Bagaimana bentuk sosialisasinya mengenai penataan Parangtritis?

20. Satpol PP banyak diberitakan selalu bersikap represif?adakah upaya merubah citra tersebut?

21. Seberapa urgen operasi Yustisi dan Non Yustisi dilakukan terhadap masyarakat?

22. Seberapa besar tingkat gangguan ketentraman dari masyarakat sehingga dianggap perlu ditindak Satpol PP Bantul?

23. Bagaimana bentuk/proses pelatihan dan pengembangan bagi anggota Satpol PP Bantul?

24. Apakah ada pelatihan/pengembangan khusus untuk melengkapi ketrampilan dan pemahaman Satpol PP tentang komunikasi, negosiasi , dan persuasi?

25. Terkait penegakkan perda apa saja perlengkapan kerja bagi Satpol PP Bantul yang dibutuhkan?

26. Apa jargon utama yang akan dikembangkan pada Satpol PP Bantul?

27. Apa komitmen Satpol PP Bantul dalam menjalankan tugas?

28. Apa bentuk hubungan ke masyarakat secara luas yang sudah dibangun?

29. Apa saja nilai-nilai yang mendasar yang ditanamkan bagi Satpol PP Bantul?

Pertanyaan kepada Kepala Departemen Advokasi LBH Jogja:

10. Kasus apa saja yang ditangani oleh LBH Jogja yang memiliki ketertkaitan dengan Satpol PP Bantul?

11. Apa bentuk pelanggaran HAM yang terjadi yang dilakukan Satpol PP Bantul?

12. Apa faktor yang mendukung Satpol PP ketika dilapangan bertindak represif?

13. Dalam SOP Satpol PP memiliki kewenangan represif Yustisi dan Non yustisi, bagaimana pandangan anda dari sisi hukum?

14. Bagaimana hubungan antara Satpol PP dengan pemerintah daerah menurut anda? Adakah pantas disebut patron klien?

15. Apa yang sebaginya dilakuan Satpol PP ketika kepentingan masyarakat berbenturan dengan ketertiban umum?

16. Apakah perlu pengkajian ulang tentang SOP Satpol PP yang memiliki kewenangan represif?

17. Sejauhmana Pendidikan/pengembangan Satpol PP berpengaruh terhadap tindakan represif Satpol PP?

18. Apa harapan anda ke depan terhadap pemkab Bantul dan Satpol PP Bantul?

Pertanyaan kepada warga Parangtritis Korban Penataan/Penggusuran:

13. Sejak kapan anda mulai menempati kios ini?

14. Bagaimana keadaan sebelum dan sesudah penggusuran?

15. Kenapa hingga saat ini pengunjung di kios belum banyak kenapa?

16. Sejak kapan minta bantuan pendampingan hukum ke LBH Jogja?

17. Anda hingga saat ini belum mendapatkan jatah kios, bukankah hasil audiensi warga Mancingan dengan gubernur seluruh warga tanpa memandang asal daerah akan mendapat kios/los?

18. Sudah berapa kali usaha anda untuk mendapatkan hak jatah kios?

19. Sudah berapa lama anda tinggal di sini?

20. Berapa besar uang ganti rugi yang didapat?

21. Apakah jumlah uang ganti rugi dirasa mencukupi?

22. Setelah ada penggusuran/penataan justru banyak warga yang beralih menjadi PSK?

23. Selama ini bagaimana rasanya kehidupan menjadi pendatang di Parangtritis?

24. Menurut anda apa solusi yang terbaik untuk Penataan Parangtritis supaya tidak merugikan warga?

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

NOMOR 18 TAHUN 2009 T E N T A N G

PEMBENTUKAN ORGANISASI SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KABUPATEN BANTUL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL,

Menimbang : a. bahwa kondisi daerah yang aman, tentram dan tertib guna menciptakan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan serta kegiatan masyarakat yang kondusif, merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat;

b. bahwa organisasi perangkat daerah yang berbentuk Satuan Polisi Pamong Praja berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantul ternyata belum dapat mengatasi dinamika perkembangan dan tantangan tugas yang dihadapi, sehingga perlu penyesuaian;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah Kabupaten Bantul tentang Pembentukan Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantul;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta (Berita Negara Republik Indonesia tanggal 8 Agustus 1950);

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890);

3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 2008, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950 tentang Penetapan Mulai Berlakunya Undang-Undang 1950 Nomor 12, 13, 14 dan 15 (Berita Negara Republik Indonesia tanggal 14 Agustus 1950);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah;

9. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 07 Tahun 2005 tentang Transparansi dan Partisipasi Publik Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan di Kabupaten Bantul (Lembaran Daerah Tahun 2005 Seri C Nomor 1);

10. Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2007 tentang Penetapan Urusan Pemerintahan Wajib dan Pilihan Kabupaten Bantul (Lembaran Daerah Tahun 2007 Seri D Nomor 11);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANTUL BUPATI BANTUL,dan

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PEMBENTUKAN

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Bantul.

2. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bantul yang selanjutnya disebut DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

3. Bupati adalah Kepala Daerah Kabupaten Bantul.

4. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh

4. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh