• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DESKRIPSI KECAMATAN SERAWAI

H. Adat Istiadat Masyarakat Kubitn

3. Adat Perceraian

Perceraian antara kedua suami istri baik itu perceraian yang dikehendaki maupun tidak dikehendaki, terlebih dahulu suami istri harus membicarakannya secara baik-baik kepada kedua orang agar orang tua mengetahui apa permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga. Setelah orang tua mengetahui permasalahannya, hal pertama yang dilakukan oleh orang tua adalah menasehati, jika suami istri tersebut masih tetap ingin bercerai juga maka tindakan selanjutnya adalah diserahkan kepada pengurus adat untuk menindak lanjut permasalahannya. Setelah suami istri dan keluarga bertemu dengan pengurus adat maka terlebih dahulu mencari permasalahannya. Jika suami muang55 istri dengan alasan yang tidak jelas atau suami muang istri karena suami selingkuh atau ingin menikah lagi maka suami akan dikenakan adat pemuang. Jika pada saat nikah suami belum membayar adat maka sebelum bercerai harus membayar adat pernikahan ditambah dengan pemuang ulun 8. Apa bila istri menceraikan suami maka istri akan dikenakan adat dan membayar adat kepada suami, namun pada saat nikah suami belum melunasi adat maka istri akan muang suami dengan membayar menggunakan adat yang belum dibayar.

Pembayaran adat pada saat nikah jarang sekali dibayar sampai lunas karena adat yang begitu mahal maka suami akan membayar adatnya pada setelah hidup bersama atau setelah menikah, tetapi bila sudah menikah maka adat tersebut tidak akan dibayar suami.

55 Muang adalah suami menceraikan istri atau istri menceraikan suami .

BAB III

KEBUDAYAAN SUKU KUBITN

A. Definisi Kebudayaan

Kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddayah, bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Jadi budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa sementara kebudayaan itu sendiri merupakan hasil dari cipta, karsa dan rasa56.

Pengertian kebudayaan sendiri memiliki banyak pengertian dari para ahli misalnya Edwar B. Tylor mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat, dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang di peroleh manusia sebagai anggota masyarakat57. Sementara Cliffort Geertz mendefinisikan kebudayaan sebagai suatu sistem simbol dari makna-makna yang diturun alihkan secara historis dengannya manusia menyampaikan, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan 58.

56 Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi. Jakarta: P. D. Akasara, 1969. Hlm.

76.

57 Hari Poerwanto. Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000. Hlm. 52.

58 Sugeng Pujileksono. Pengantar Antropologi: Memahami Realitas Sosial Budaya. Malang: Intrans Publishing, 2016. Hlm. 25.

Jadi kebudayaan adalah sesuatu yang diperoleh masyarakat dengan anggota kelompoknya dalam kehidupan bermasyarakat seperti ilmu pengetahuan, kesenian, teknologi, sistem kekerabatan, bahasa, adat istiadat dan religi.

Semuanya itu diperoleh masyarakat dengan kerja sama yang begitu kompleks supaya terciptanya suatu kehidupan masyarakat dengan adanya kebudayaan.

Setelah kebudayaan tersebut mereka peroleh, masyarakat akan mewujudkannya dalam kehidupan, menyampaikannya dan mengembangkan pengetahuan yang mereka miliki serta mewarisi simbol-simbol dan makna kebudayaan secara turun menurun. Setelah kebudayaan tersebut sudah diwarisi, bagaimana masyarakat selanjutnya berusaha untuk melestarikan dan menjaga kebudayaan yang sudah diwarisi secara turun temurun tidak akan tergeser oleh perkembangan zaman yang semakin modern.

Ketujuh unsur kebudayaan yang ada di dalam masyarakat Kubitn adalah sebagai berikut:

1. Bahasa

Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan adanya bahasa bisa mempermudah seseorang atau orang lain untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya yang berbeda bahasa. Selain mempermudah untuk berkomunikasi dengan orang lain bahasa juga bisa mempermudah dalam menyampaikan informasi yang dibutuhkan, bahasa juga digunakan seseorang untuk menyampaikan ide, gagasan, konsep atau perasaan kepada orang lain59.

59 Josep Jaro R, et al. “Uji Akurasi Penerjemah Bahasa Indonesia- Dayak Taman dengan Penandaan Kata Dasar dan Imbuhan”. Dalam Jurnal Edukasi dan Penelitian

Bahasa bisa membantu manusia dalam memahami simbol khususya simbol verbal dalam pemikiran dan berkomunikasi, dan diantara semua bentuk simbol bahasa merupakan simbol yang paling rumit, halus, dan berkembang60. Indonesia memiliki berbagai macam bahasa misalnya bahasa Kubitn, Manyaan, Jawa, Melayu, Bugis, Minangkabau, Sunda, dan Madura. Walaupun Indonesia memiliki berbagai macam bahasa namun Indonesia memiliki satu bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia, yang mempermudah orang untuk berkomunikasi.

Kalimantan Barat merupakan suatu pulau yang ada di Indonesia, yang dihuni oleh masyarakat mayoritas suku Dayak dengan beraneka ragam bahasa.

Setiap suku atau daerah memiliki bahasa yang berbeda namun walaupun setiap berbeda bahasa, ada beberapa kosa kata bahasa yang sama. Apa bila antara daerah satu dengan yang lainnya tidak saling mengerti bahasa masing-masing maka mereka akan menggunakan bahasa Melayu.

Orang Kubitn di Bedaha memiliki satu bahasa induk yaitu bahasa Uud Danum. Bahasa Uud Danum merupakan bahasa induk karena merupakan suku pertama yang mendiami wilayah tersebut dan Kubitn merupakan suku yang berada dibawahnya. Dalam konteks keseharian mereka memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Kubitn. Bahasa Uud Danum digunakan ketika mereka bertemu dengan suku Uud Danum. Anak-anak yang lahir di Desa Bedaha harus bisa bahasa Kubitn, mereka hanya menggunakan bahasa melayu saat bertemu dengan

Informatika. http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jepin/article/view/16520. Diunduh Jumat 2018. Pukul 23.50 WIB.

60 Ibid., hlm. 156.

teman-teman yang berbeda bahasa. Bahasa Kubitn digunakan mereka saat berbicara dengan sesama dan orang tua. Bahasa Kubitn sepintas bahasanya hampir mirip dengan bahasa Limbai61. Bahasa Kubitn sering menggunakan kata abon untuk mengatakan tidak.

Masyarakat Kubitn di Bedaha jika bertemu dengan orang Dohoi ataupun Cihie mereka akan menggunakan bahasa Dohoi dan Cihie62. Walaupun bahasa Kubitn dengan bahasa Limbai hampir sama, namun dalam pengucapan bahasa Kubitn lebih jelas dan kedengaran agak kasar. Dalam bahasa Kubitn dikenal dengan istilah bahasa halus dan bahasa kasar. Bahasa halus digunakan oleh orang yang lebih muda atau anak-anak dalam bertutur kata kepada orang yang lebih tua, misalnya kata duan hanya boleh digunakan untuk memanggil atau sapaan kepada orang yang lebih tua, nyogak atau makan digunakan untuk menawarkan makan kepada orang yang lebih tua. Sementara bahasa kasar digunakan untuk sepantaran atau teman pergaulan, misalnya ikau atau kau. Jika memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan kau, maka akan langsung ditegur karena orang itu dianggap tidak sopan. Orang tua harus mengajarkan anak-anaknya mulai dari sejak kecil supaya ketika seorang anak terbiasa menggunakan bahasa yang lebih sopan.

61 Walaupun bahasanya hampir mirip dengan bahasa Limbai namun diantara kedua bahasa tersebut memiliki dialek yang berbeda. Penggunaan bahasa Kubitn lebih tegas dan kasar sementara bahasa Limbai mempunyai dialek bahasa yang lembut dan jika mereka berbicara setiap kata yang dikeluarkan selalu diayun. Misalnya bahasa Kubitn mengatakan “bunsik” untuk menyatakan tidak ada, bahasa Limbai akan mengatakan

“bonšek”. Walaupun terdapat perbedaan dialek antara “u” “i” dan “o” “e” namun memiliki arti yang sama.

62 Surjani Aloy, et al. Mozaik Dayak Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat. Pontianak: Institut Dayakologi, 2008. Hlm. 214.

2. Sistem Kepercayaan

Jauh sebelum agama ada, Indonesia sudah memiliki religi atau kepercayaan asli yaitu animisme dan dinamisme63. Mereka menyadari akan adanya kekuatan lain diluar kemampuan mereka, alam di sekitar yang mempunyai kekuatannya masing-masing. Kepercayaan masyarakat berhubungan erat dengan lingkungan sekitarnya seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, air, bumi, dan udara64.

Masyarakat Kubitn menganut kepercayaan animisme yaitu masyarakat percaya bahwa roh-roh nenek moyang yang telah mendahului mereka masih ada dan hidup disekitar mereka. Kepercayaan masyarakat bahwa setiap hutan, sungai dan pohon yang besar merupakan tempat tinggal roh nenek moyang, oleh sebab itu masyarakat percaya bahwa roh-roh tersebut akan menjaga dan melindungi mereka jika masyarakat bisa menjaga dan melindungi alam sekitar, sebaliknya roh-roh tersebut akan menggangu dan memberi kesialan jika masyarakat merusak dan tidak menghormati alam sekitarnya65.

Selain menganut kepercayaan animisme masyarakat Kubitn juga menganut kepercayaan dinamisme, masyarakat percaya bahwa semua benda yang

63 Animisme adalah kepercayaan terhadap roh nenek moyang baik yang berada di darat, laut, sungai dan gunung mempunyai kekuatan masing-masing. Dinamisme adalah kepercayaan yang menyakini bahwa semua benda-benda baik yang hidup maupun mati mempunyai daya dan kekuatan gaib.

64 Femeir Liadi.“Penelusuran Kepercayaan Suku Dohoi (Anak Suku Ot Danum) di Tumbang Samba Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah”. Dalam Palita: journal of

social religion research.

http://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/palita/article/view/114. Diunduh 11 Juni 2018.

Pukul 23.05 WIB.

65 Wawancara dengan Mambang, tanggal 24 Maret 2018, di Laman Gunung, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang

berada disekitar memiliki kekuat gaib, oleh sebab itu masyarakat harus bisa menjaga dan menghormati semua benda, baik benda hidup maupun benda mati. Masyarakat percaya bahwa sebuah batu yang dimiliki oleh seorang dukun mampu menyembuhkan berbagai penyakit66.

Masyarakat masih percaya dengan cerita mitos yang terjadi dialam semesta yang mereka tempati. Mitos bukanlah sekedar cerita, tetapi melalui mitos yang hidup didalam masyarakat di Kalimantan dapat diungkap rahasia yang mendasari dan melatarbelakangi sikap serta perilaku masyarakat, keberadaan mitos diyakini kebenarannya, dianggap suci, mengandung hal-hal ajaib67. Percaya jika pohon besar memiliki penghuni seperti kayu ara68 dimana sampai saat ini masih diyakini oleh masyarakat masih memiliki penghuni. Kayu ara ini biasanya tumbuh di hutan belantara, ditepian sungai, jika ingin menebang kayu ara maka mereka harus melakukan upacara terlebih dahulu agar tidak ada bencana yang akan menimpa anggota keluarga. Biasanya mereka tidak akan pernah melanggar apa yang telah dilarang. Semua tempat yang dianggap sakral tidak akan pernah diganggu gugat oleh masyarakat, jika mereka melanggar maka akan mendapat petaka. Kepercayaan atau keyakinan itu direpresentasikan lewat sikap dan tingkah

66Ibid.

67 Ibid.

68 Kayu ara (Ficus Annulata sp) merupakan tumbuhan sejenis pohon beringin jika pohonnya sudah terlalu tua akarnya akan meliliti pohonnya sendiri, daun agak kecil dan berbuah.

laku manusia baik dari sesuatu yang maha dasyat dan maha besar yang bisa mengubah sikap, mengubah hidup serta kematian69.

Setelah adanya penyebaran agama Katolik dan masuk di kecamatan Serawai pada tahun 1950 perlahan-lahan agama Katolik mulai menyebarkan misi di kampung-kampung salah satunya desa Bedaha, sehingga masyarakat Kubitn mulai mengenal agama. Saat masyarakat mengenal agama mereka juga tidak meninggalkan kepercayaan yang sudah melekat pada diri mereka, masyarakat percaya dengan adanya agama dan Tuhan yang selalu menyelamatkan.

Masyarakat percaya bahwa segala sesuatu sudah rencanakan Tuhan Yang Maha Kuasa. Diluar kemampuan mereka bukan roh jahat yang mengatur akan tetapi mereka percaya bahwa Tuhan yang sudah mengaturnya. Meskipun masyarakat sudah mempunyai agama, mereka masih tetap percaya bahwa roh leluhur masih tetap ada dan selalu ada disekitar mereka. Misalnya orang yang meninggal setelah dikuburkan menurut kepercayaan masyarakat bahwa arwah tersebut selama tujuh hari masih tinggal dirumah, namun setelah tujuh hari arwah tersebut akan mengetahui bahwa sudah meninggal.

3. Sistem Kekerabatan

Kekerabatan adalah lembaga yang bersifat umum dalam masyarakat dan memainkan peranan penting pada aturan tingkah laku hubungan sosial.

69 Ibid.

unsurnya ialah keturunan, perkawinan, hak, dan kewajiban serta istilah-istilah kekerabatan70.

Masyarakat Dayak adalah masyarakat bebas struktur atau egaliter yang menganut sistem kekerabatan bilateral. Kekerabatan bilateral adalah garis keturunan yang tidak membedakan antara garis keturunan baik dari piha ibu maupun pihak ayah. Anak perempuan maupun anak laki-laki akan mendapat perhatian dan perlakuan yang sama baik dari orang tua maupun dari kerabat ayah dan kerabat ibu71.

Dalam masyarakat Kubitn juga menganut sistem kekerabatan bilateral masyarakat juga menganggap antara laki-laki dan perempuan itu sama. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Kubitn terlihat dalam pembagian waris misalnya dalam pembagian perkebunan atau tanah anak perempuan akan mendapatkan hak waris sedikit lebih banyak dari anak laki-laki, jika anak perempuan tersebut tinggal dengan orang tuanya. Begitu hal sebaliknya jika anak laki-laki yang tinggal di rumah orang tuanya akan mendapat warisan lebih banyak. Pembagian warisan ada yang mendapatkan sedikit lebih banyak dengan alasan bahwa akan menghidupi kedua orang tuanya. Dalam sistem bekerja masyarakat Kubitn tidak akan membedakan antara laki-laki dan perempuan mereka akan saling membantu misalnya dalam proses pembuatan ladang yang

70 S. Budhisantoso. Sistem Kekerabatan dan Pola Pewarisan. Jakarta: Pustaka Grafika Kita, 1988. Hlm. 21.

71 Wilis Maryanto. Pola Penguasaan dan Kepemilikan Tanah dalam Pesekutuan Hukum Masyarakat Dayak Kanayatn di Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak.

Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 2002. Hlm. 26.

pada saat para laki-laki menebang kayu maka perempuan juga ikut membantu menebang kayu, dalam pekerjaan mencabut rumput diladang maka laki-laki juga ikut mencabut rumput. Pekerjaan didalam rumah apa bila memasak adalah pekerjaan istri sebagai ibu rumah tangga, lain halnya dengan masyarakat Kubitn suami juga boleh memasak bahkan terkadang gantian memasak antara suami dan istri, jika suami memasak maka istri akan membersihkan rumah. Menurut masyarakat Kubit antara laki-laki dan perempuan itu sama tidak ada perbedaan, mereka harus saling membantu sama lain untuk meriangankan suatu pekerjaan.

Apa bila pekerjaan laki-laki sangat berat perempuan biasanya akan segera membantu, seberat apapun pekerjaan tetap dibantu agar pekerjaan menjadi lebih ringan dan cepat selesai72.

Pada sistem pernikahan dalam masyarakat Kubitn tidak boleh menikah dengan sesama yang masih ada hubungan pertalian darah. Jika antara lawan jenis yang ingin menikah dengan sesama anggota keluarga yang masih ada hubungan pertalian darah maka akan dikenakan ulun yang berlaku dalam masyarakat.

Pernikahan boleh dilakukan jika garis keturunan sudah sangat jauh maka boleh dilakukan, karena hubungan pertalian darah juga sudah tidak setebal hubungan darah pada keturunan pertama sampai keempat, bahkan dimasyarakat Kubitn biasanya orang tua akan lebih senang jika mendapat menantu dari keturunan yang masih ada pertalian darah, maksudnya agar kekeluargaan mereka terjalin lebih erat lagi.

72 Wawancara dengan Mambang, tanggal 24 Maret 2018, di Laman Gunung, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang.

Istilah Sapaan Kekerabatan dalam Masyarakat Kubitn:

1. Moyang jelaki, betinak : Moyang laki-laki, perempuan

2. Umboh jelaki, betinak : istilah sapaan kepada orang tua dari kakek, nenek 3. Ai dan Nena’k : kakek dan nenek

4. Apak dan umak : bapak dan ibu

5. Umak uwa dan pak uwa : Sapaan kepada bibi yang lebih tua 6. Umak Ongah : Panggilan untuk bibi nomor dua

7. Umak Usu : Panggilan untuk bibi yang paling bungsu

8. Inik Usu : panggilan untuk nenek atau kakek yang paling bungsu 9. Ucuk : cucu laki-laki atau perempuan

10. Nakan : Panggilan untuk keponakan laki-laki atau perempuan 4. Peralatan dan Teknologi

Peralatan dan teknologi ada karena kemampuan dan akal dari manusia untuk menciptakan dan memproduksi suatu produk untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Sebelum mengenal peralatan dan teknologi yang canggih para leluhur suku Kubitn masih menggunakan peralatan sederhana untuk menunjang pekerjaan mereka. Peralatan sederhana yang mereka miliki masih terbuat dari batu yang diasah sedemikin rupa supaya menjadi tajam seperti beliung.

Beliung digunakan masyarakat untuk menebang pohon besar saat berladang atau memotong dahan kayu untuk dijadikan kayu bakar. Parang dan beliung merupakan peralatan pertanian yang dimiliki masyarakat. Cara

masyarakat mengolah alam masih sangat sederhana, mereka tidak akan merusak hutan walaupun ladang berpindah dengan sistem tebang dan bakar, namun setelah itu mereka akan merawat bekas ladangnya dengan baik supaya bisa dijadikan perkebunan. Bekas ladang biasanya akan dibersihkan lagi untuk dijadikan barat73 untuk menanam berbagai jenis sayur-sayuran, demikianlah masyarakat Kubitn mengolah bekas ladang, segala jenis sayuran bisa mereka dapatkan dari alam yang menyediakan berbagai macam sayur-sayuran. Untuk memperoleh binatang hasil buruan hewan didarat maupun diair mereka mempunyai peralatan berburu seperti sumpit, pukat, panjuk, tekalak, seropang, jala, dan lunju74. Alat-alat tersebut merupakan peralatan yang digunakan atau dibawa saat mereka berburu didarat maupun di air.

Selain peralatan penunjang pertanian dan berburu dalam hal peralatan dirumah mereka juga masih menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana, akan tetapi mereka sudah mengenal periuk dan wajan untuk memasak, mereka masak menggunakan tungku yang terbuat dari batu, tungku akan didirikan sebanyak tiga buah agar bisa menahan beban saat masak. Masyarakat belum mengenal ember sebagai wadah penyimpanan air, mereka hanya menggunakan labuk75 sebagai wadah air minum dan air memasak, sendok nasi dan sayur

73 Barat merupakan ladang yang khusus untuk menanam jenis sayur-sayuran dan jagung.

74 Lunju merupakan peralataan berburu berupa tombak.

75 Labuk merupakan jenis tumbuhan berbuah yang ada di masyarakat Kubit dan bisa dijadikan sayur saat masih kecil setelah buahnya sudah menjadi tua bisa sebagai wadah air dan sebagai wadah tempat menyimpan jenis bibit sayur-sayuran.

menggunakan catu76. Disetiap rumah akan menyediakan tempat untuk mengawetkan daging atau ikan yang disebut parak77. Daging dan ikan yang masih segar akan di salai78 dalam parak, proses penyalaian hanya menggunakann asap dari api saat memasak. Kegunaan parak selain sebagai tempat untuk mengawetkan daging dan ikan, juga bisa sebagai tempat menyimpan kayu bakar yang masih basah agar bisa digunakan.

Masyarakat Kubitn mempunyai teknologi yang masih terbuat dari peralatan yang masih sederhana yaitu sampan. Sampan merupakan transportasi yang digunakan masyarakat untuk melewati jalur perairan, sementara di darat masyarakat akan berjalan kaki. Sampan digunakan masyarakat untuk pergi ke ladang yang melewati sungai melawi, kebun atau pergi kekampung lainnya.

Tenaga penggerak sampan adalah manusia dengan mengayuhkan dayung supaya sampan berjalan sesuai arah yang dituju. Setelah mengenal sampan sebagai alat transportasi air, tahap selanjutnya mereka mengenal alat transportasi yang menggunakan tenaga mesin sebagai tenaga penggerak yaitu motor air atau kelotok, longboat, tempel dan speed boat.

Seiring perkembangan yang semakin canggih masyarakat Kubitn mulai mengenal peralatan berburu binatang di darat maupun di air seperti lunju, sumpit,

76 Catu merupakan sendok yang terbuat dari batok kelapa dan diukir sedemikian rupa agar lebih halus.

77 Parak merupakan sebuah tempat yang dibuat diatas perapian atau tungku tempat memasak. Parak biasanya terbuat dari kayu yang tahan dan biasanya juga terbuat dari bambu yang dibelah. Jika parak yang terbuat dari bambu yang dibelah maka hanya untuk menyimpan daging dan ikan.

78 Salai merupakan proses pengasapan daging atau ikan.

seropang, panjuk, peralatan pemancingan, bubu, jala, dan lain-lainnya. Peralatan berladang yang semula masyarakat masih menggunakan alat-alat tradisional sekarang masyarakat sudah mengenal alat-alat seperti parang yang digunakan oleh masyarakat untuk memotong kayu, ranting serta dahan pohon pada saat berladang, selain digunakan sebagai peralatan berladang parang juga mempunyai fungsi lain yaitu untuk membunuh binatang buruan atau binatang buas, sebagai alat untuk memotong kayu sebagai kayu bakar, dan lain sebagainya. Kapak yang digunakan oleh masyarakat sebagai alat untuk memotong kayu yang berukuran besar. Pacul, cangkul dan arit sebagai peralatan dalam proses membuat ladang.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat dan modern membuat masyarakat Kubitn harus menggunakan teknologi modern itu untuk mempercepat dan mempermudah pekerjaan misalnya memotong kayu yang semula masyarakat Kubitn menggunakan parang, perlahan-lahan mereka sudah mulai menggunakan senso (chainsaw), sampan sebagai alat transportasi air berpindah menggunakan long boat, dan speed boat, pelita sebagai alat penerangan menjadi lampu listrik.

5. Ilmu Pengetahuan

Masyarakat Kubitn memiliki pengetahuan tersendiri agar mereka bisa bertahan hidup, pengetahuan mereka berkaitan dengan alam dan tumbuh-tumbuhan, hewan, peralatan dan senjata, musim, serta cara pengobatan dan penyembuhan secara tradisional. Semua pengetahuan diperoleh dari pengalaman, intuisi, wahyu maupun percobaan yang mereka lakukan.

Pengetahuan tentang peralatan dan senjata sudah ada sejak zaman leluhur, mereka mengetahui bagaimana cara pembuatan dan penggunaan senjata dengan melakukan berbagai percobaan, hingga pada akhirnya mereka bisa menciptakan senjata sendiri misalnya lunju dan sumpit yang merupakan senjata tradisonal masyarakat. Lunju dan sumpit merupakan peralatan berburu yang dibuat oleh mereka sendiri.

Pengetahuan tentang tumbuhan seperti sayur-sayuran yang bisa dijadikan masyarakat sebagai sayur untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Tumbuha sayur-sayuran seperti pakis, sawi uma, genjer, kangkung, daun singkong, daun semangka, daun mentimun. Tumbuhan liar dihutan yang diketahui dan bisa dimasak akan dijadikan oleh masyarakat sebagai sayur.

Jauh sebelum masyarakat mengenal adanya tenaga medis dan kesehatan masyaraat Kubitn sudah mengenal cara penyembuhan dan pengobatan secara

Jauh sebelum masyarakat mengenal adanya tenaga medis dan kesehatan masyaraat Kubitn sudah mengenal cara penyembuhan dan pengobatan secara

Dokumen terkait