• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DESKRIPSI KECAMATAN SERAWAI

D. Ladang Berpindah

Ladang berpindah merupakan cara bertani yang dilakukan oleh masyarakat Kubitn setiap tahunnya, cara bertani yang seperti ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka dahulu. Sehigga ketika mereka pindah dari Jelutung pada tahun 1943 dan menuju desa Begori akhirnya pindah di Bedaha mereka masih menerapkan ladang berpindang. Kehidupan bertani masyarakat Kubitn masih bersifat nomaden, setiap tahunnnya masyarakat membongkar hutan untuk ladang baru dan setiap tahunnya ladang perkebunan mereka semakin jauh dari kampung, setelah beberapa tahun mungkin sepuluh tahun barulah mereka kembali ke bekas ladang semula yang telah berhutan rimba, demikianlah cara mereka mengerjakan ladang setiap tahun18. Maka pada tahun 1990-an masyarakat Kubitn mulai mencari lahan baru untuk berladang yaitu di hutan rimba yang belum pernah disentuh oleh masyarakat sekalipun, karena lahan yang ada disekitaran rumah sudah ditanami dengan perkebunan karet. Ladang berpindah diolah mereka dengan cara yang sederhana dan masih menggunakan tenaga mereka sendiri, menggunakan peralatan sederhana seperti parang, beliung, kapak, dan tugal dari kayu. Diladang mereka tidak hanya menanam padi tetapi menanam aneka ragam tanaman yang bisa dikonsumsi, begitu seterusnya ketika masyarakat membuka

18 J. U. Lontaan. Sejarah- Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan- Barat.

Jakarta: Bumirestu, 1975. Hlm. 40.

lahan baru maka mereka akan bercocok tanaman yang sama19. Akhirnya bekas ladang dari hulu nanga Bedaha sampai Seguyang di jadikan gupung20. Setelah menetap di nanga Bedaha, keluarga semakin bertambah menyebabkan mereka harus pindah lagi ke Bedaha yang sampai pada saat ini.

Jumlah masyarakat yang semakin banyak membuat orang Kubitn di Bedaha semakin kompak dalam hal gotong-royong melakukan pekerjaan. Mata pencahariann utama masyarakat adalah berladang maka sistem gotong -royong dan tolong menolong sudah menjadi sikap hidup masyarakat. Dalam proses berladang di masyarakat Kubitn sebelum membuat ladang harus melewati beberapa tahapan yaitu Nokap tanah, nebas, nebang, bakar ladang, nugal, mabau, panen21

1. Nokap Tanah dilakukan selama tiga hari dan hanya dilakukan oleh orang yang mempunyai ladang tersebut, setelah mendapatkan tanah yang cocok untuk dijadikan ladang, maka akan dilakukan ritual adat dengan menyembelih ayam sebagai sesajen, menyediakan telur ayam untuk persyaratan agar ladangnya menghasilkan hasil panen yang baik dan berlimpah.

19 Simon Takdir. Austronesia Dayaka: Tentang Kelompok Suku Saloka Dayaka Borneo. Pontianak: Top Indonesia bekerja sama dengan PLN wilayah Kalbar, 2017. Hlm, 279.

20 Gupung adalah bekas ladang berpindah masyarakat yang luasnya lebih dari 50 meter. Tanah tersebut bisa dikatakan gupung jika ada tanaman seperti durian, tengkawang, duku, langsat, rambutan dan sebagainya.

21 Wawancara dengan Nyata, tanggal 30 Maret 2018, di Bedaha, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang.

2. Nebas adalah tahap kedua dalam pembukaan ladang, pada saat menebas ini tidak dilakukan sendiri akan tetapi masyarakat akan secara gotong- royong membantu dengan perori22. Sebelum menebas lahan maka salah satu dari ketua adat akan memanggil roh-roh penjaga hutan tersebut supaya mengijinkan membuka ladang dan menjaga supaya orang yang nebas akan tetap aman pada saat bekerja.

3. Nebang merupakan langkah ketiga dalam pembukaan ladang. Dalam acara menebang ini harus melakukan perori karena jika dilakukan sendiri maka tidak akan mampu menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat.

menebang adalah kegiatan menebang pohon yang besar-besar dan setelah selesai ditebang maka akan dibiarkan sampai kayu tersebut kering.

4. Bakar ladang merupakan proses membakar rumput-rumput yang ditebas, pohon-pohon besar yang ditebang dan sudah kering. Proses pembakaran ladang harus meminta bantuan dari masyarakat, supaya jika api menjalar keperkebunan milik orang lain bisa dipadamkan secara bersama-sama.

Jika api membakar perkebunan atau gupung milik orang lain maka akan dikenakan hukum adat.

5. Nugal adalah tahap menanam benih padi setelah melewati tahapan maduk, dalam acara menanam benih sebelum benih ditanam terlebih dahulu ketua

22 Perori merupakan kerja sama diladang dengan jumlah masyarakatnya lebih dari lima orang, dalam peraturan perori setelah orang-orang membantu maka akan dibalas dengan membantu orang lain bekerja diladang lagi.

adat akan melakukan ritual adat agar gana23 tanah tersebut menjaga ladang dari serangan hama dan penyakit yang menyerang tanaman, minta agar gana tanah memberikan hasil panen yang melimpah. Upacara memberi sesajen selesai orang-orang akan bergotong royong menanam padi. Ada salah satu kegiatan menanam padi pada masyarakat Kubitn yaitu ngorak24. Tujuan dari ngorak adalah agar pekerjaan tersebut cepat selesai.

6. Mabau adalah kegiatan mencabut rumput liar yang bisa menggangu pertumbuhan padi. kegiatan ini pun dilakukan secara bergotong royong . kegiatan ini dilakukan sekitar 1,5 bulan setelah padi ditanam, tujuan dari mabau adalah agar rumput tidak mengganggu padi dan tanaman lain diladang. Akan tetapi jika ladang rimba aktivitas merumput sangat sedikit bahkan terkadang tidak ada rumput25. Setelah selesai masa mabau selesai padi akan tumbuh dengan baik akan beralih pada musim pulut ngena’k26 dan pada musim ini masyarakat Kubitn akan membuat emping serta

23 Gana merupakan hantu yang berkuasa atau penjaga hutan, jika membuka ladang maka orang akan meminta ijin kepada penguasa tanah tersebut agar tidak marah saat membongkar daerah kekuasaannya, dalam acara meminta ijin kepada gana harus memberikan sesajen dengan menyembelih hewan kurban seperti ayam atau babi.

24 Ngorak merupakan kegiatan tolong yang dilakukan masyarakat pada saat ngena’k masyarakat akan saling membantu menumbuk padi ketan dilesung.

merayakannya dengan membunyikan gong. Masyarakat bersyukur karena pada masa pulut ngena’k ini mereka mengetahui seberapa banyak mereka akan mendapat hasil panen.

7. Manyi, pada tahap ini merupakan tahap yang paling ditunggu oleh masyarakat Kubitn. Manyi adalah proses memanen padi diladang. Pada tahap panen padi ini dilakukan secara bergotong royong atau perori, musim manyi ini biasanya lebih ramai karena para sanak keluarga dan tetangga ikut serta bergotong royong untuk membantu agar panen cepat selesai.

Ketika musim panen selesai maka masyarakat akan melakukan sebuah upacara syukur atas panen yang melimpah. Acara tersebut adalah muat batu kerangan27 dan semua masyarakat Kubitn akan berkumpul disatu tempat untuk mengikuti ritual acara adat tersebut, setiap keluarga akan membawa benih hasil panen mereka untuk diberkati oleh ketua adat. Ketika upacara ini berlangsung semua akan berkumpul didalam satu ruang. Upacara muat batu kerangan ini sangat meriah karena masyarakat akan menari beramai-ramai, semua gong akan ditabuh, pada saat upacara masyarakat akan menyembelih babi atau ayam untuk dikurbankan serta mengucap syukur kepada Tuhan karena telah memberikan hasil panen yang begitu melimpah.

27 Muat batu kerangan merupakan upacara pengumpulan benih padi pada suatu tempat untk diberkati oleh ketua adat, acara muat batu kerangan ini merupakan upacara adat yang dilakukan setiap selesai panen.

Dokumen terkait