BAB III KEBUDAYAAN SUKU KUBITN
3. Sistem Kekerabatan
Kekerabatan adalah lembaga yang bersifat umum dalam masyarakat dan memainkan peranan penting pada aturan tingkah laku hubungan sosial.
69 Ibid.
unsurnya ialah keturunan, perkawinan, hak, dan kewajiban serta istilah-istilah kekerabatan70.
Masyarakat Dayak adalah masyarakat bebas struktur atau egaliter yang menganut sistem kekerabatan bilateral. Kekerabatan bilateral adalah garis keturunan yang tidak membedakan antara garis keturunan baik dari piha ibu maupun pihak ayah. Anak perempuan maupun anak laki-laki akan mendapat perhatian dan perlakuan yang sama baik dari orang tua maupun dari kerabat ayah dan kerabat ibu71.
Dalam masyarakat Kubitn juga menganut sistem kekerabatan bilateral masyarakat juga menganggap antara laki-laki dan perempuan itu sama. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Kubitn terlihat dalam pembagian waris misalnya dalam pembagian perkebunan atau tanah anak perempuan akan mendapatkan hak waris sedikit lebih banyak dari anak laki-laki, jika anak perempuan tersebut tinggal dengan orang tuanya. Begitu hal sebaliknya jika anak laki-laki yang tinggal di rumah orang tuanya akan mendapat warisan lebih banyak. Pembagian warisan ada yang mendapatkan sedikit lebih banyak dengan alasan bahwa akan menghidupi kedua orang tuanya. Dalam sistem bekerja masyarakat Kubitn tidak akan membedakan antara laki-laki dan perempuan mereka akan saling membantu misalnya dalam proses pembuatan ladang yang
70 S. Budhisantoso. Sistem Kekerabatan dan Pola Pewarisan. Jakarta: Pustaka Grafika Kita, 1988. Hlm. 21.
71 Wilis Maryanto. Pola Penguasaan dan Kepemilikan Tanah dalam Pesekutuan Hukum Masyarakat Dayak Kanayatn di Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak.
Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 2002. Hlm. 26.
pada saat para laki-laki menebang kayu maka perempuan juga ikut membantu menebang kayu, dalam pekerjaan mencabut rumput diladang maka laki-laki juga ikut mencabut rumput. Pekerjaan didalam rumah apa bila memasak adalah pekerjaan istri sebagai ibu rumah tangga, lain halnya dengan masyarakat Kubitn suami juga boleh memasak bahkan terkadang gantian memasak antara suami dan istri, jika suami memasak maka istri akan membersihkan rumah. Menurut masyarakat Kubit antara laki-laki dan perempuan itu sama tidak ada perbedaan, mereka harus saling membantu sama lain untuk meriangankan suatu pekerjaan.
Apa bila pekerjaan laki-laki sangat berat perempuan biasanya akan segera membantu, seberat apapun pekerjaan tetap dibantu agar pekerjaan menjadi lebih ringan dan cepat selesai72.
Pada sistem pernikahan dalam masyarakat Kubitn tidak boleh menikah dengan sesama yang masih ada hubungan pertalian darah. Jika antara lawan jenis yang ingin menikah dengan sesama anggota keluarga yang masih ada hubungan pertalian darah maka akan dikenakan ulun yang berlaku dalam masyarakat.
Pernikahan boleh dilakukan jika garis keturunan sudah sangat jauh maka boleh dilakukan, karena hubungan pertalian darah juga sudah tidak setebal hubungan darah pada keturunan pertama sampai keempat, bahkan dimasyarakat Kubitn biasanya orang tua akan lebih senang jika mendapat menantu dari keturunan yang masih ada pertalian darah, maksudnya agar kekeluargaan mereka terjalin lebih erat lagi.
72 Wawancara dengan Mambang, tanggal 24 Maret 2018, di Laman Gunung, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang.
Istilah Sapaan Kekerabatan dalam Masyarakat Kubitn:
1. Moyang jelaki, betinak : Moyang laki-laki, perempuan
2. Umboh jelaki, betinak : istilah sapaan kepada orang tua dari kakek, nenek 3. Ai dan Nena’k : kakek dan nenek
4. Apak dan umak : bapak dan ibu
5. Umak uwa dan pak uwa : Sapaan kepada bibi yang lebih tua 6. Umak Ongah : Panggilan untuk bibi nomor dua
7. Umak Usu : Panggilan untuk bibi yang paling bungsu
8. Inik Usu : panggilan untuk nenek atau kakek yang paling bungsu 9. Ucuk : cucu laki-laki atau perempuan
10. Nakan : Panggilan untuk keponakan laki-laki atau perempuan 4. Peralatan dan Teknologi
Peralatan dan teknologi ada karena kemampuan dan akal dari manusia untuk menciptakan dan memproduksi suatu produk untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Sebelum mengenal peralatan dan teknologi yang canggih para leluhur suku Kubitn masih menggunakan peralatan sederhana untuk menunjang pekerjaan mereka. Peralatan sederhana yang mereka miliki masih terbuat dari batu yang diasah sedemikin rupa supaya menjadi tajam seperti beliung.
Beliung digunakan masyarakat untuk menebang pohon besar saat berladang atau memotong dahan kayu untuk dijadikan kayu bakar. Parang dan beliung merupakan peralatan pertanian yang dimiliki masyarakat. Cara
masyarakat mengolah alam masih sangat sederhana, mereka tidak akan merusak hutan walaupun ladang berpindah dengan sistem tebang dan bakar, namun setelah itu mereka akan merawat bekas ladangnya dengan baik supaya bisa dijadikan perkebunan. Bekas ladang biasanya akan dibersihkan lagi untuk dijadikan barat73 untuk menanam berbagai jenis sayur-sayuran, demikianlah masyarakat Kubitn mengolah bekas ladang, segala jenis sayuran bisa mereka dapatkan dari alam yang menyediakan berbagai macam sayur-sayuran. Untuk memperoleh binatang hasil buruan hewan didarat maupun diair mereka mempunyai peralatan berburu seperti sumpit, pukat, panjuk, tekalak, seropang, jala, dan lunju74. Alat-alat tersebut merupakan peralatan yang digunakan atau dibawa saat mereka berburu didarat maupun di air.
Selain peralatan penunjang pertanian dan berburu dalam hal peralatan dirumah mereka juga masih menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana, akan tetapi mereka sudah mengenal periuk dan wajan untuk memasak, mereka masak menggunakan tungku yang terbuat dari batu, tungku akan didirikan sebanyak tiga buah agar bisa menahan beban saat masak. Masyarakat belum mengenal ember sebagai wadah penyimpanan air, mereka hanya menggunakan labuk75 sebagai wadah air minum dan air memasak, sendok nasi dan sayur
73 Barat merupakan ladang yang khusus untuk menanam jenis sayur-sayuran dan jagung.
74 Lunju merupakan peralataan berburu berupa tombak.
75 Labuk merupakan jenis tumbuhan berbuah yang ada di masyarakat Kubit dan bisa dijadikan sayur saat masih kecil setelah buahnya sudah menjadi tua bisa sebagai wadah air dan sebagai wadah tempat menyimpan jenis bibit sayur-sayuran.
menggunakan catu76. Disetiap rumah akan menyediakan tempat untuk mengawetkan daging atau ikan yang disebut parak77. Daging dan ikan yang masih segar akan di salai78 dalam parak, proses penyalaian hanya menggunakann asap dari api saat memasak. Kegunaan parak selain sebagai tempat untuk mengawetkan daging dan ikan, juga bisa sebagai tempat menyimpan kayu bakar yang masih basah agar bisa digunakan.
Masyarakat Kubitn mempunyai teknologi yang masih terbuat dari peralatan yang masih sederhana yaitu sampan. Sampan merupakan transportasi yang digunakan masyarakat untuk melewati jalur perairan, sementara di darat masyarakat akan berjalan kaki. Sampan digunakan masyarakat untuk pergi ke ladang yang melewati sungai melawi, kebun atau pergi kekampung lainnya.
Tenaga penggerak sampan adalah manusia dengan mengayuhkan dayung supaya sampan berjalan sesuai arah yang dituju. Setelah mengenal sampan sebagai alat transportasi air, tahap selanjutnya mereka mengenal alat transportasi yang menggunakan tenaga mesin sebagai tenaga penggerak yaitu motor air atau kelotok, longboat, tempel dan speed boat.
Seiring perkembangan yang semakin canggih masyarakat Kubitn mulai mengenal peralatan berburu binatang di darat maupun di air seperti lunju, sumpit,
76 Catu merupakan sendok yang terbuat dari batok kelapa dan diukir sedemikian rupa agar lebih halus.
77 Parak merupakan sebuah tempat yang dibuat diatas perapian atau tungku tempat memasak. Parak biasanya terbuat dari kayu yang tahan dan biasanya juga terbuat dari bambu yang dibelah. Jika parak yang terbuat dari bambu yang dibelah maka hanya untuk menyimpan daging dan ikan.
78 Salai merupakan proses pengasapan daging atau ikan.
seropang, panjuk, peralatan pemancingan, bubu, jala, dan lain-lainnya. Peralatan berladang yang semula masyarakat masih menggunakan alat-alat tradisional sekarang masyarakat sudah mengenal alat-alat seperti parang yang digunakan oleh masyarakat untuk memotong kayu, ranting serta dahan pohon pada saat berladang, selain digunakan sebagai peralatan berladang parang juga mempunyai fungsi lain yaitu untuk membunuh binatang buruan atau binatang buas, sebagai alat untuk memotong kayu sebagai kayu bakar, dan lain sebagainya. Kapak yang digunakan oleh masyarakat sebagai alat untuk memotong kayu yang berukuran besar. Pacul, cangkul dan arit sebagai peralatan dalam proses membuat ladang.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat dan modern membuat masyarakat Kubitn harus menggunakan teknologi modern itu untuk mempercepat dan mempermudah pekerjaan misalnya memotong kayu yang semula masyarakat Kubitn menggunakan parang, perlahan-lahan mereka sudah mulai menggunakan senso (chainsaw), sampan sebagai alat transportasi air berpindah menggunakan long boat, dan speed boat, pelita sebagai alat penerangan menjadi lampu listrik.
5. Ilmu Pengetahuan
Masyarakat Kubitn memiliki pengetahuan tersendiri agar mereka bisa bertahan hidup, pengetahuan mereka berkaitan dengan alam dan tumbuh-tumbuhan, hewan, peralatan dan senjata, musim, serta cara pengobatan dan penyembuhan secara tradisional. Semua pengetahuan diperoleh dari pengalaman, intuisi, wahyu maupun percobaan yang mereka lakukan.
Pengetahuan tentang peralatan dan senjata sudah ada sejak zaman leluhur, mereka mengetahui bagaimana cara pembuatan dan penggunaan senjata dengan melakukan berbagai percobaan, hingga pada akhirnya mereka bisa menciptakan senjata sendiri misalnya lunju dan sumpit yang merupakan senjata tradisonal masyarakat. Lunju dan sumpit merupakan peralatan berburu yang dibuat oleh mereka sendiri.
Pengetahuan tentang tumbuhan seperti sayur-sayuran yang bisa dijadikan masyarakat sebagai sayur untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Tumbuha sayur-sayuran seperti pakis, sawi uma, genjer, kangkung, daun singkong, daun semangka, daun mentimun. Tumbuhan liar dihutan yang diketahui dan bisa dimasak akan dijadikan oleh masyarakat sebagai sayur.
Jauh sebelum masyarakat mengenal adanya tenaga medis dan kesehatan masyaraat Kubitn sudah mengenal cara penyembuhan dan pengobatan secara tradisional. Penyembuhan secara tradisional misalnya masyarakat akan percaya dengan dukun untuk menyembuh berbagai macam penyakit. Masyarakat percaya bahwa dukun merupakan utusan dari para leluhur mereka dan dipercaya untuk menyembuh berbagai penyakit. Dalam proses penyembuhan berbagai penyakit dukun tidak akan meminta upah atau imbalan karena saat sang dukun menerima mantra dan kepercayaan dari leluhur, mereka berjanji akan mengobati pasien
secara suka rela. Masyarakat akan memberi imbalan ketika seseorang yang sakit dan disembuhkan dengan cara belian79.
Pengetahuan yang berkaitan dengan alam misalnya masyarakat Kubitn akan mengetahui kapan musim berladang yang baik maka mereka akan melihat dari cahaya bintang, karena dahulu masyarakat belum mengenal sistem penanggalan dan kalender. Masyarakat akan melihat dari cahaya bintang tiga dan tujuh, jika bintang bercahaya tiga keluar dan cahaya bintangnya terang ditengah maka pertengahan bulan merupakan bulan yang baik untuk membuka ladang, sebaliknya jika cahaya bintang yang keluar dan terang diujungnya maka musim berladang yang baik adalah diakhir bulan, akan tetapi jika bintang tiga yang keluar dan cahayanya sangat redup maka bulan tersebut masyarakat sudah terlambat untuk membuka ladang. Pengetahuan tentang waktu masyarakat juga akan melihat dari tanda-tanda alam seperti ayam berkokok sebanyak tiga kali saat subuh maka masyarakat akan mengetahui bahwa pada saat itu jarum jam sudah menunjukan pukul 03.00, saat jam 12.00 siang maka masyarakat akan mengetahui dari tanda-tanda alam bahwa cuaca akan terasa sangat panas, jika waktu menunjukkan pukul 15.00 maka matahari berpindah posisinya sudah mengarah ke seberang sungai atau kampung80. Pengetahuan tentang cuaca dan musim masyarakat Kubitn akan mendengar dari suara hewan-hewan yang ada di sekitar
79 Belian merupakan ritual penyembuhan penyakit. Dalam masyarakat Kubitn belian biasanya hanya dilakukan kepada seseorang yang mengalami penyakit yang sudah sangat parah.
80 Wawancara dengan Naon, tanggal 31 Maret 2018, di Desa Cepuri, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang.
misalnya burung keruak bersuara pada malam hari maka masyarakat akan mengetahui bahwa akan terjadi musim kemarau, suara raung atau laron berterbangan di sekitaran lampu maka akan terjadi musim penghujan dan air sungai akan pasang.
Tidak hanya mengetahui tentang cara penyembuhan, pengobatan dan pengetahuan tentang alam masyarakat Kubitn juga banyak mengetahui tentang tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan hewan. Masyarakat juga mengenal pohon yang bisa bermanfaat misalnya untuk membuat rumah, sampan, pondok dan perlengkapan lainnya.
Jenis pohon atau kayu yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk membuat rumah yaitu :
Tabel: 3.3. Daftar Jenis kayu
NO Nama Jenis Kayu
1. Tebelian (Eusideroxylon swageri) 2. Tengkawang (Shorea macrophylla) 3. Meranti (Shorea roxburghii)
4. Kemunting (Rhodomyrtus tomentosa) 5. Keladan (Dipterocarpus gracillis) 6. Berangan (Castanopsis)
7. Durian (Durio zibethinus)
Jenis-jenis pohon diatas dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kepentingan membuat rumah, sampan, dan keperluan lainnya81
6. Kesenian
Seperti masyarakat suku lain yang mempunyai berbagai macam kesenian, masyarakat Kubitn juga mempunyai kesenian mulai dari seni tari, seni anyaman, permainan rakyat dan seni musik. Kesenian yang mereka miliki sudah ada sejak zaman leluhur dan secara turun temurun diwariskan, sehingga sampai sekarang kesenian yang mereka miliki dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Kubitn.
Kesenian yang ada dalam masyarakat Kubitn seperti:
a. Seni Anyaman
Anyaman merupakan bagian dari seni dalam masyarakat Kubitn, mereka membuat berbagai anyaman yang terbuat dari bahan-bahan yang sudah disediakan alam untuk mereka seperti rotan (Calamus axillaris), bambu (Bambusa sp), kajang (Pandanus amaryllifolius), dan bemban (Donax canniformis). Semua jenis anyaman yang terdapat didalam rumah tangga pada masyarakat Kubitn terbuat dari keempat bahan diatas.
Beberapa jenis anyaman biasanya dikerjakan oleh kaum perempuan, biasanya kaum perempuan akan membuat anyaman seperti :
81 Disimpulkan oleh penulis dari hasil wawancara dengan Naon, Atol, dan Mambang, op. cit.
- Tikar digunakan sebagai ala tidur. Anyaman tikar terbuat dari daun kajang (Pandanus amaryllifolius) dan digunakan sebagai alas tidur, sebelum masyarakat Kubitn mengenal kasur.
- Layan, digunakan untuk alas duduk dirumah dan digunakan untuk menjemur padi saat musim panen tiba. Anyaman yang terbuat dari daun kajang (Pandanus amaryllifolius)
- Tempajang, digunakan oleh masyarakat Kubitn untuk mengangkat padi dari ladang. anyaman yang terbuat dari daun kajang (Pandanus amaryllifolius) berukuran besar dan agak tinggi dari rojut, tempajang Tempajang tidak boleh digunakan untuk mengangkat beban yang sangat berat, dan hanya digunakan untuk menyimpan padi.
- Takin digunakan saat musim panen dan dibawa ketengah ladang untuk menympan padi selain itu takin juga bisa dijadikan wadah penyimpanan sayuran hasil dari ladang. Anyaman yang terbuat dari rotan (Calamus axillaris), bambu (Bambusa sp) atau bemban (Donax canniformis) bentuknya hampir menyerupai tempajang akan tetapi lebih pendek, dasarnya dianyam persegi empat, tingginya kira-kira 1 meter.
- Rojut digunakan tempat menyimpan padi. Anyaman yang terbuat dari daun kajang (Pandanus amaryllifolius), berbentuk bulat, tinggi kira-kira 1 meter dan berbentuk lebar.
- Ronjung digunakan masyarakat Kubint saat pergi menyadap karet sebagai tempat meyimpan pesok dan mencari ikan disungai. Anyaman
yang terbuat dari rotan (Calamus axillaris) dan bemban (Donax canniformis) bentuknya bulat, dasarnya dianyam persegi empat.
- Pengayak atau jagan kegunaannya adalah untuk memisahkan beras dengan sekam. Anyaman yang terbuat dari rotan (Calamus axillaris), berbentuk bundar.
- Capan merupakan alat yang digunakan untuk membersihan beras atau padi. Capan terbuat terbuat dari bambu (Bambusa sp) atau bemban (Donax canniformis). Selain untuk membersihkan padi atau beras capan juga memiliki banyak kegunaan.
Dalam masyarakat Kubitn ada beberapa jenis anyaman yang dikerjakan oleh laki-laki dan tidak bisa dianyam oleh kaum perempuan misalnya tengkalang, lesung dan alu bubu, kedua jenis anyaman tersebut tidak pernah dikerjakan oleh perempuan.
b. Permainan tradisional
Permainan tradisional merupakan jenis permainan yang dimainkan oleh anak-anak pada masyarakat Kubitn. Jenis permainan bermacam- macam mulai dari gasing, senapan kocok, main sepak, main guli atau kelereng, main buah karet, kaki kuda, dan lain-lainya. Pada saat anak-anak sedang melakukann permainan tradisional biasanya orang tua akan sesekali ikut bermain memeriahkan permainan. Sekarang permainan tradisional yang biasanya dimainkan oleh anak-anak telah mennjadi permainan yang dilombakan saat upacara gawai.
Selain permainan tradisional yang anak-anak mainkan, dalam upacara menjaga jenazah dirumah selama tiga hari tiga malam pun masyarakat Kubitn mempunyai permainan seperti betopau, bekiyau, main bubu, dan bebukung82.
c. Seni Rupa
Masyarakat Kubitn juga memiliki seni rupa yang telihat pada seni pahat dan patung yang didominasi motifmotif hias setempat yang banyak mengambil ciri alam dan roh leluhur serta digunakan dalam upacara adat.
Motif dan patung yang dibuat mempunyai arti dan fungsinya tersediri.
Seni rupa berupa pahatan temaduk yang dibuat oleh tukang pahat sesuai dengan karakter seseorang yang sudah meninggal dan itu menggambarkan bagaimana kehidupannya sebelum meninggal.
d. Seni Tari
Seni tari merupakan suatu gerakan yang berirama yang diciptakan oleh manusia untuk mengekpresikan perasaannya dan bisa
82 Betopau merupakan permainan bola api yang terbuat dari kelapa yang sudah tua dan dibakar setelah itu orang-orang akan memainkan bola api tersebut seperti permainan bola, permainan ini dilakukan setiap menjaga jenazah. Bekiyau merupakan permainan yang dilakukan oleh beberapa orang tua dengan tujuan pada saat lampu atau pelita dimatikan orang-orang akan melihat bahwa mereka akan membawa hantu masuk kedalam rumah dan akan mengangkat peti jenazah, permainan ini hanya beberapa detik dilakukan. Bebukung adalah permainan dengan menggunakan topeng yang terbuat dari dahan dan daun kelapa, setelah itu para bukung akan berjoget didepan peti jenazah. Main bubu merupakan permainan yang menggunakan bubu atau perangkap ikan, permainan ini harus mempunyai pawang karena saat ditimang bubu tersebut akan bergoyang sendiri dan menurut kepercayaan masyarakat bahwa bubu tersebut sedang dimainkan oleh para arwah leluhur mereka.
membangkitkan perasaan orang lain untuk terlibat didalamnya. Seni tari dalam masyarakat Kubitn mempunyai arti tersendiri dalam setiap gerak tarian mempunyai arti dan makna, bahwa mereka sedang menghormati leluhur. Tarian yang masyarakat Kubitn miliki berbeda dengan tarian pada masyarakat suku lain. Tarian yang ada di masyarakat Kubitn adalah tari ngajan dan tari nyangkai. Tari nganjan dilakukan saat upacara kematian dan tari nyangkai dilakukan saat upacara kematian, akan tetapi sebelum tari nyangkai terlebih dahulu melakukan tari nganjan. Tari nyangkai tidak hanya dilakukan saat upacara kematian namun tari nyangkai juga bisa dilakukan saat sedang belian penyembuhan orang sakit. Saat melakukan tari nganjan dan tari nyangkai akan dilakukan oleh masyarakat Kubitn secara bersama-sama, akan tetapi antara laki-laki dan perempuan akan dipisah, karena gerakan antara laki-laki dan perempuan berbeda. Musik yang digunakan masyarakat Kubitn saat melakukan tari nganjang dan tari nyangkai hanya dari bunyian gong yang ditabuh oleh beberapa orang penabuh.
e. Seni Musik
Masyarakat Kubitn mengenal adanya musik sejak zaman leluhur, mereka mempelajari musik dengan menggunakan alat-alat tradisional seperti sape, kecapi, dan gong. Masyarakat Kubitn hanya mempunyai tiga alat musik tersebut. Akan tetapi alat musik yang sering digunakan sampai saat ini gong. Kecapi hanya digunakan oleh masyarakat Kubitn saat aada upacara tertentu dan saat sedang berkumpul, namun sekarang alat-alat
musik tersebut sudah tidak ada lagi karena kurangnya kesadaran dari masyarakat untuk melestarikannya.
7. Mata Pencaharian Hidup
Masyarakat Kubitn merupakan masyarakat yang mayoritas pekerjaannya adalah sebagai petani, sebelum adanya perkebunan karet masyarakat hanya bertahan hidup dengan mengandalkan ladang. Keadaan ekonomi masyarakat sangat buruk, rumah yang mereka tempati masih terbuat dari kulit kayu, atap yang terbuat dari daun kayu dan lantai dari bambu, masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan baik.
Keadaan semakin memburuk ketika memasuki tahun 1943 masyarakat Kubitn mengalami kelaparan karena hasil dari ladang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka dan masyarakat juga tidak memiliki persedian padi dilumbung, tanaman singkong juga tidak menghasilkan panen yang banyak, terpaksa masyarakat harus menghemat persedian yang mereka miliki. Ditahun 1943 juga masyarakat membuat ladang singkong yang sangat luas. Melewati tahun 1943 masyarakat Kubitn tidak mengalami kelaparan karena ladang singkong yang mereka miliki menghasilkan panenan yang begitu melimpah83.
Setelah perekonomian dan kehidupan mulai membaik, masyarakat mulai membuka ladang seluas-luasnya sehingga mereka tidak pernah merasa kekurangan. Seiringnya waktu masyarakat pun mulai mengenal adanya
83 Wawancara dengan Naon, tanggal 31 Maret 2018, di Desa Cepuri, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang.
perkebunan karet, sehingga masyarakat hidup tidak hanya bergantung dari hasil ladang, mereka bergantung hidup dari dua penghasilan yaitu hasil dari ladang dan karet, sehingga masyarakat tidak pernah mengalami kelaparan. Perlahan-lahan masyarakat secara bergotong royong membangun rumah betang yang mereka tempati dan sudah terbuat dari papan dan atapnya sudah terbuat dari kayu ulin. Kehidupan masyarakat didalam rumah betang pun menjadi lebih baik84.
84 Setelah perekonomian lumayan membaik masyarakat sudah bisa memenuhi kebutuhan masing-masing, pada tahun 1956 secara gotong-royong masyarakat membangun sebuah sekolah yaitu Sekolah Rakyat atau SR. Walaupun sudah ada sekolah didirikan masyarakat belum mengerti tentang pendidikan dan pentingnya sebuah
84 Setelah perekonomian lumayan membaik masyarakat sudah bisa memenuhi kebutuhan masing-masing, pada tahun 1956 secara gotong-royong masyarakat membangun sebuah sekolah yaitu Sekolah Rakyat atau SR. Walaupun sudah ada sekolah didirikan masyarakat belum mengerti tentang pendidikan dan pentingnya sebuah