BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengembangan usaha banyak dilakukan oleh perusahaan besar, salah satunya yaitu PT. Gudang Garam Tbk yang merupakan salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Perusahaan ini untuk mengembangkan usahanya dengan cara melakukan rekonstruksi dan pembangunan fasilitas penunjang baik berupa gedung kantor, pabrik, dan lainnya, yang tetap memperhatikan kualitas lingkungan disekitarnya. Itu semua dikarenakan kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan besar tersebut sudah menjadi salah satu faktor degradasi kualitas lingkungan. Oleh karena itu, pembangunan fasilitas kedepannya diharapkan dapat selaras hingga meningkatkan kualitas lingkungan sekitar.
Upaya untuk mendukung studi tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan magang di PT. Sheils Flynn Asia (SFA). SFA adalah perusahaan internasional di bidang jasa konsultasi lanskap yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat, Indonesia dan berpusat di London, United Kingdom (UK). SFA merupakan perusahaan swata yang telah mengerjakan berbagai jenis proyek yang bertaraf nasional hingga internasional dalam hal masterplanning, urban design, analisis lingkungan, dan arsitektur lanskap. SFA juga melayani bidang detil desain dan jasa kontrak administrasi yang meliputi pengembangan lanskap pemukiman, taman kota, area rekreasi, lanskap hotel, resort, gedung publik, pengembangan daerah komersial dan industri, perencanaan dan analisis proyek, taman rumah, preservasi lanskap sejarah, lanskap budaya, dan proyek restorasi. Dengan semua pengalamannya berkarir di kancah internasional serta telah menghasilkan tenaga ahli arsitek lanskap yang handal, dapat disimpulkan bahwa perusahaan PT.Sheils Flynn Asia adalah perusahaan yang qualified atau direkomendasikan sebagai tempat magang.
Proyek yang menjadi fokus dalam penyusunan skripsi ini adalah proyek
Gudang Garam Office Complex yang merupakan proyek dengan curahan waktu terbanyak yang diikuti penulis pada saat kegiatan magang dengan tahapan desain yang paling lengkap dibandingkan proyek yang lainnya. Proyek ini merupakan perancangan dan rekonstruksi serta pembangunan gedung baru beserta
lanskapnya, dengan berbasis pada karakter khas perusahaan yang mengedepankan konsep ramah lingkungan. Khususnya, menciptakan lanskap kantor yang selaras antara hardscape dan softscape-nya sehingga tetap berkelanjutan. Proyek ini berlokasi di kota Jakarta, Indonesia, yang memiliki luas 2,7 Ha (1,7 Ha pengembangan dan 1 Ha rekonstruksi). Adapun kegiatan yang dilakukan pada proyek ini adalah perancangan lanskap kantor dari PT. Gudang Garam Tbk.
1.2 Tujuan
Secara umum, tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan magang ini yaitu untuk mendapatkan pengetahuan, wawasan, dan ketrampilan untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman di bidang arsitektur lanskap khususnya perancangan lanskap. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :
- mengidentifikasi manajemen dan organisasi perusahaan PT. Sheils Flynn Asia;
- mengidentifikasi dan berpartisipasi aktif dalam seluruh proses perancangan proyek Gudang Garam Office Complex yang dilakukan oleh PT. Sheils Flynn Asia yang diikuti mahasiswa;
- mengindetifikasi dan menganalisis berbagai masalah dan kendala dalam tahapan proses perancangan dan manajemen di studio PT. Sheils Flynn Asia maupun di lapangan, serta berbagai alternatif praktis untuk mengatasinya.
1.3 Manfaat
Kegiatan magang di PT. Sheils Flynn Asia diharapkan memberikan banyak manfaat, yaitu :
- Dengan magang akan menambah pengalaman dan meningkatkan jiwa profesionalisme bagi mahasiswa dalam menghadapi proyek yang sesungguhnya, yang belum pernah didapatkan di bangku kuliah;
- Meningkatkan ilmu dan ketrampilan serta wawasan dalam bidang perancangan arsitektur lanskap;
- Memperoleh dan menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan staf dan manajemen pada perusahaan magang, serta antara Departemen Arsitektur Lanskap dengan perusahaan tempat magang.
1.4 Kerangka Pikir Magang
Ada beberapa hal yang menjadi landasan kegiatan magang ini. Pertama kegiatan magang ini dilatar belakangi oleh pengembangan usaha oleh perusahaan besar pada semua sektor pembangunan. Diharapkan pembangunan ke depannya lebih memperhatikan kualitas lingkungan sekitar. Kedua, kegiatan magang ini menjadi sarana bagi mahasiswa arsitektur lanskap untuk mengasah jiwa profesionalisme dan kompetensi keahliannya. Hal ini didorong oleh semakin ketatnya persaingan di dunia kerja. Oleh karena itu, kegiatan ini bermanfaat untuk mempersiapkan kompetensi diri agar mampu bersaing di dunia kerja nanti. Adapun bagan kerangka pikir kegiatan magang dapat dilihat pada Gambar 1.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lanskap
Menurut Simond & Strake (2006), lanskap adalah suatu bentang alam dengan karakteristik tertentu yang dapat dinikmati oleh seluruh indera manusia. Dalam suatu lanskap, karakter harus menyatu secara harmonis dan alami untuk memperkuat karakter lanskap tersebut. Sedangkan Menurut Eckbo (1964), lanskap adalah keseluruhan elemen fisik secara kompleks di suatu area atau daerah.
Lanskap juga dikenal dalam beragam disiplin ilmu seperti yang diungkapkan oleh Forman dan Gordon (1986) yang menyatakan bahwa lanskap sebagai area lahan heterogen menyusun sebuah cluster interaksi ekosistem yang berulang pada bentuk yang sama pada setiap bagian.
Phillips (dalam Benson dan Roe, 2000) mengungkapkan bahwa terdapat lima karakter dari lanskap yang didasarkan pada kenyataan yang menyebutkan bahwa lanskap terbentuk sepanjang waktu oleh proses geologi, kehidupan organik, aktivitas, dan imajinasi manusia. Kelima karakter tersebut yaitu:
1. terdiri dari bentuk dan nilai alam serta kebudayaan yang terfokus pada hubungan diantara keduanya;
2. perpaduan dari unsur fisik dan metafisik dengan unsur sosial, budaya, dan seni. Lanskap adalah cara pandang kita terhadap dunia, tidak hanya sekedar pemandangan dan penampakan yang dapat diungkapkan oleh perasaan;
3. kita dapat merasakan lanskap hanya pada saat ini, lanskap merupakan hasil dari seluruh perubahan lingkungan di masa lalu dan merupakan perpaduan dari masa lalu dan saat ini;
4. lanskap bersifat universal yang terdapat di setiap wilayah, dan
5. lanskap menjadi identitas bagi suatu tempat yang menyebabkan keragaman pada lingkungan kehidupan.
2.2 Lanskap Kota
Lynch (1977) dalam bukunya yang berjudul “The Image of the City”
menyatakan bahwa ada lima elemen pokok yang biasa digunakan orang untuk membangun citra mental dari sebuah kota, yaitu jalur sirkulasi (paths), bagian wilayah kota (distrik), batas wilayah (edges), pusat aktivitas kota (nodes), dan tengaran (landmark).
Menurut Simonds (1983), kota adalah pemukiman yang tersebar dan padat ekonomi, sosial, dan aktivitas politik. Kota memiliki posisi geografi yang relatif tetap dan kekuasaan pemerintah yang spesifik. Selain itu, kota bersifat dinamis pertumbuhannya, dan organisasi didalamnya berfungsi dengan baik. Kota harus mempunyai kemampuan kerja sosial, ekonomi, dan struktur politik yang dinyatakan dalam bentuk tiga dimensi. Sehingga dapat dinyatakan lanskap kota merupakan suatu lanskap buatan manusia sebagai akibat dari aktivitas manusia dalam mengelola lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lanskap kota terjadi karena adanya pengorganisasian ruang yang mencerminkan kegiatan masyarakat setiap hari.
2.3 Lanskap Industri
Menurut Tandy (1975) dalam “Landscape of Industry”, lanskap industri atau pabrik yang menyatu dengan perkantoran menjadi salah satu bagian pembentuk lanskap kota. Tetapi tipe lanskap ini berbeda dengan lanskap lainnya seperti perumahan atau yang lainnya. Lanskap industri atau perkantoran biasanya ditandai dengan beberapa poin seperti :
a. membutuhkan skala bangunan yang besar dan lanskap yang luas b. membutuhkan ruang untuk pengembangan / ekspansi
c. membutuhkan ruang penyangga seperti hutan
Hal itu dikarenakan lanskap industri / kantor merupakan pusat dari kegiatan banyak orang, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan efek positif maupun negatif bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu lanskap tersebut membutuhkan penutupan lahan dari vegetasi penyangga untuk menjaga stabilitas lingkungan disekitarnya.
2.4 Public Green Open Space
Definisi ruang terbuka menurut Simonds dan Starke (2006), menggambarkan karakter arsitektural ketika mendekati seluruh atau sebagian dari elemen struktur. Seperti suatu ruang yang merupakan tambahan suatu bangunan. Kadang-kadang ini menjadi batasan satu bangunan atau gabungan dari beberapa bangunan. Ini dapat terlihat dari hubungan antara ruang, struktur, dan lanskap yang digabungkan dalam proses desain. Jika struktur volume ruang terbuka di satu sisi, ini menjadi suatu transisi antara struktur dan lanskap. Jika terbuka pada suatu pemandangan, biasanya ini menjadi pusat lokasi dengan pemandangan terbaik dan tempat dengan pemandangan terbaik yang dapat dilihat dari berbagai sisi.
Menurut Baud-Bovy dan Lawson (1998), taman berguna untuk orang yang hidup di kota dan desa untuk berhubungan langsung dengan alam dan bersantai sehingga membebaskan dari kepadatan jalan raya. Area berumput menjadi area informal yang menjadi area permainan bagi anak-anak dan area bersenang-senang untuk orang dewasa. Orang yang hidup dan bekerja di sekitar area menggunakannya untuk makan siang di ruang terbuka atau untuk berlatih. Area ini dapat difungsikan oleh anak-anak dan melatih peliharaannya.
Ruang hijau memiliki fungsi yang beragam:
a. sosial : ruang untuk bertemu dan bermain yang berhubungan dengan alam b. struktural : desain urban dan pertamanan
c. ekologis : peraturan ekosistem urban dengan:
- mengurangi masalah persepsi psikologis urban - peningkatan iklim
- mengantisipasi perbedaan iklim dan angin secara perlahan - mengatur hujan dan banjir
- mengelola keragaman tanaman dan hewan.
Chiara dan Koppelman (1994) menyatakan bahwa sifat khas keruangan lanskap pada umumnya tergantung pada tiga hal:
1. Besaran ruang
Besaran ruang penting untuk menentukan dampak visual secara menyeluruh, demikian juga potensinya untuk menyerap fungsi tertentu. Besaran dapat
dievaluasi menurut luas dan hubungan antara luas tersebut dengan semua ruang lainnya pada tapak tersebut.
2. Tingkat ketertutupan (degree of enclosure) visual
Tingkat ketertutupan visual ruang merupakan faktor spasial penting, terutama untuk menempatkan fungsi yang sangat dipengaruhi oleh kebutuhan hubungan sirkulasi (jalan atau jalan setapak), pemandangan yang bagus, atau vista (pemandangan). Tingkat ketertutupan merupakan pertimbangan perencanaan yang penting, tidak hanya dalam percapaian keruangan, tetapi juga dalam bentuk visualnya.
3. Sifat visual
Seseorang harus mengadakan penafsiran suatu ruang secara cermat menurut citra visual yang melekat untuk menentukan sifat khas dari ruang. Kualitas visual yang melekat pada tapak sangat mempengaruhi jenis kegiatan yang terjadi. Ruang padat yang disekat rapat akan menghasilkan nuansa yang sangat berbeda dengan ruangan yang terbuka, dan landai. Apabila suatu rencana akhir akan berhasil, maka kegiatan-kegiatan yang direncanakan untuk berbagai tapak hendaknya mencerminkan kualitas yang melekat pada tapak tersebut.
2.5 Perancangan Lanskap
Perancangan Lanskap merupakan pengembangan lebih lanjut dari perencanaan tapak, yang lebih menitikberatkan pada pemilihan komponen dan bahan perancangan, serta tanaman dan kombinasinya untuk memecahkan masalah perencanaan tapak dan ditujukan pada pertalian visual. Wujud dan bentuk dalam perancangan lanskap timbul dari hasil perumusan yang jelas terhadap, kendala tapak, serta masalah perancangan yang ada, sedangkan sumber bentuk yang paling penting adalah raut atau wajah tapak itu sendiri, seperti yang dipertegas oleh garis batas tepian tapak dan topografi. Adapun sumber bentuk kedua kendala berasal dari suatu perkiraan mengenai fungsi atau kegunaan yang akan ditampung (Laurie, 1986).
Menurut Simonds & Starke (2006), perancangan ditekankan pada penggunaan volume dan ruang. Setiap volume memiliki bentuk, tekstur, ukuran,
bahan, warna, dan kualitas lainnya. Semuanya dapat mengekspresikan dan mengakomodasikan fungsi-fungsi yang ingin dicapai dengan baik sehingga ruang dapat memberikan dampak yang berbeda pada psikologis manusia. Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa perancangan akan menghasilkan ruang tiga dimensi. Seperti halnya yan diutarakan Loidl dan Bernard (2003), bahwa perancangan adalah proses yang dinamis dengan perpindahan yang konstan dari kepala menuju tangan, dari ide menjadi tanda, lalu kembali lagi. Setiap garis dan setiap titik yang ditempatkan di lembaran kertas adalah bagian dari usaha untuk menghubungkan ide di kepala.
Perancangan merupakan tahapan lanjut dari perencanaan. Menurut Laurie (1984), perancangan menekankan pada seleksi komponen-komponen rancangan, bahan-bahan, tumbuh-tumbuhan, dan kombinasinya sebagai pemecahan masalah yang ada dalam rencana tapak. Dalam perancangan suatu lanskap terdapat prinsip-prinsip yang mendasarinya, yaitu:
1. Unity (kesatuan), merupakan kesatuan seluruh elemen lanskap. Dapat diciptakan dengan pengulangan (repetition), penggunaan grid, dan tema. 2. Balance (keseimbangan), berupa keseimbangan dalam skala, proporsi,
bentuk, dan posisi. Keseimbangan tercipta melalui pengaturan secara simetri, asimetri, maupun radial.
3. Emphasis (penekanan), menghadirkan dominasi maupun suatu kontras pada suatu lanskap. Emphasis dapat diciptakan melalui pengarahan, pengaturan letak, kontras terhadap elemen, dan variasi ukuran maupun jumlah.
2.6 Proses Perancangan Lanskap
Proses mendesain/merancang menurut Booth (1983) yaitu : 1. Penerimaan proyek (Project Acceptance)
Dalam Tahap Pertama ini proposal proyek telah diterima dan disetujui oleh kedua belah pihak yaitu arsitek lanskap dan klien.Pada pertemuan pertama klien menjelaskan keinginannya kepada arsitek lanskap, kemudian terjadi kesepakatan diantara kedua belah pihak. Selanjutnya arsitek lanskap mempersiapkan proposal detail yang mencakup pelayanan, produk, dan biaya. Jika klien setuju maka kedua belah pihak menandatangani kontrak.
2. Riset dan Analisis (Research and Analysis)
Selanjutnya arsitek lanskap membutuhkan rencana dasar tapak dan mengadakan inventarisasi tapak dan analisis. Survey langsung ke tapak menjadi bagian yang penting untuk melengkapi tahap ini. Mewawancarai pemilik dan menyusun program termasuk bagian dari tahap ini.
3. Desain/Perancangan (Design)
Dalam tahap ini terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan arsitek lanskap, yaitu :
a. Diagram fungsi ideal (Ideal Functional Diagram) sebagai awal dari proses pembuatan grafis suatu desain;
b. Diagram fungsi keterhubungan tapak (Site-Related Functional Diagram);
c. Rencana Konsep (Concept Plan) merupakan perkembangan langsung dari diagram fungsi tapak dan merupakan lanjutan dari analisis-sintesis yang telah dilakukan saat inventarisasi;
d. Studi tentang komposisi bentuk (Form composition study), dalam hal ini desainer telah berhasil memecahkan masalah yang ada ditapak dengan mempertimbangkan fungsi dan lokasi tapak;
e. Desain awal (Prelimiary Master Plan), dalam desain awal semua elemen desain dimasukkan dan dipelajari kesatuan antara satu dengan yang lainnya;
f. Rencana induk (Master Plan) merupakan perbaikan dari desain awal. Pada Master Plan semuanya telah terspasialkan dengan detil baik dari bentuk garis, ukuran, skala, dll;
g. Desain Skematik (Schematic Design), untuk proyek kecil desain skematik sama dengan rencana induk tetapi untuk skala besar, desain skematik dipelajari lebih dalam lagi dengan ketelitian yang lebih dalam; h. Design Development merupakan tahap akhir dalam proses mendesain.
1. Gambar-gambar Konstruksi (Construction Drawings) 2. Pelaksanaan (Implementation)
3. Evaluasi Setelah Konstruksi (Post-Construction Evaluation and Maintance)
4. Pengelolaan (Maintenance)
Sedangkan proses perancangan lanskap menurut Hill (1995), tahapannya terdiri dari 4 tahapan yaitu :
1. Inferences
pada tahapan ini terdiri dari 4 proses didalamnya yaitu : brief, survey analysis, development controls, dan initial environmental impact assessment.
2. Design
Pada tahapan ini terdiri dari 3 proses juga didalamnnya yaitu : proposals, sketch scheme, dan final scheme.
3. Freeze, merupakan fase peralihan sebelum masuk ketahapan terakhir dalam proses perancangan.
4. Execution
Pada tahapan ini terdapat 5 proses yaitu : working details, contract, implementations, completion, feedback, dan aftermath.
2.7 Konsultan Lanskap
Konsultan lanskap adalah pengembang swasta yang memiliki tanggung jawab moral dalam hal penyediaan ruang dan fasilitas rekreasi dalam kota. Perencana kota dan arsitek lanskap berperan penting dalam kegiatan preservasi, perencanaan ruang terbuka, pembangunan fasilitas rekreasi, dan program sosial sebagai pelayanan kebutuhan bagi manusia (Gold, 1980).
Adapun ruang lingkup seorang Konsultan Arsitektur Lanskap menurut John F. Papilaya (2007) yang terutama yaitu;
a. riset dan analisis persyaratan proyek; b. rekomendasi perencanaan tapak;
c. riset dan studi persyaratan ruang, fungsi dan operasi;
d. analisa dan rekomendasi tentang hal-hal yang tercakup dalam disiplin ilmumereka,dan juga hal-hal yang langsung atau tidak langsung berhubungan dengandisiplin ilmu mereka;
f. analisa proyeksi pertumbuhan dan perubahan serta pertimbangan dan efek-efeknya;
g. persyaratan filosofi perancangan proyek;
h. analisis biaya pembangunan arsitektur lanskap, studi perawatan; i. ketersediaan dan regionalitas kawasan lahan.
2.8 Manajemen Proyek Lanskap
Menurut Orberlender, (1993) manajemen proyek adalah sebuah ilmu dan seni yang mengatur Sumber Daya manusia, peralatan, bahan, ruang, uang, dan waktu untuk menyelesaikan suatu pelaksanaan dengan waktu dan biaya yang optimal. Manajemen proyek mencakup multidisiplin yang terfokus untuk mengkoordinasi semua kebutuhan dalam pelaksanaan. Prinsip utama manajemen proyek adalah mengorganisir pelaksanaan pekerjaan agar selesai dengan sempurna. Manajemen proyek ini berperan penting menentukan keberhasilan dari pelaksanaan suatu proyek lanskap.
Menurut Stoner dan Freeman (1992), proses manajemen proyek lanskap mencakup empat fungsi utama yaitu:
1. Perencanaan (Planning), merupakan konsep dasar dari suatu proses manajemen, dimana tugas-tugas manajemen disusun dan tujuan serta sasarannya telah ditetapkan. Kebijakannya dan tata cara pelaksanaannya dibuat dalam perumusan perencanaan sasaran jangka pendek dan jangka panjang.
2. Pengorganisasian (Organizing), adalah proses pengaturan dan pengalokasian kerja, wewenang, dan Sumber Daya di kalangan anggota organisasai sehingga mereka dapat mencapai tujuan organisasi secara optimum.
3. Pengarahan (directing), merupakan tahapan yang mencakup hal yang mengarahkan, mempengaruhi, dan memotivasi karyawan untuk bekerja dan menjalankan tugasnya dengan baik.
4. Pengendalian (controlling), adalah fungsi pengendalian manajmen untuk mengantisipasi apabila terjadi penyimpangan.
BAB III METODOLOGI
3.1 Lokasi dan Waktu Magang
Kegiatan magang dilakukan di Sheils Flynn Asia, Bogor, Jawa Barat, Indonesia yang merupakan salah satu perusahaan konsultan internasional yang bergerak di bidang perencanaan dan desain lanskap atau lingkungan. Sheils Flynn Asia beralamat di Kebun Raya Bogor, Jl. Ir. H Juanda No.13, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16122. Gambar 2 menunjukkan lokasi dari tempat magang. Untuk jadwal kegiatan magang dapat dilihat pada Tabel 1, dimana kegiatan magang ini dilakukan selama 4 bulan, dimulai dari 13 Februari sampai 13 Juni 2012. Jadwal kegiatan magang adalah hari Senin-Kamis yang dimulai pukul 09.00 – 19.00 WIB.
Gambar 2. Peta Orientasi Magang (Sumber : www.googlemap.com, 2012)
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Magang di SFA hingga Penulisan Skripsi
No Jenis Kegiatan 2011 2012
Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
1 Persiapan
2 Pengenalan Perusahaan
3 Kegiatan inti magang
Proses Perancangan Gudang Garam
Office Complex
FASE 1 - Inception
FASE 2 - Research and Analysis
FASE 3 - Concept Design
FASE 4 - Design Development
FASE 5 - Final Design Development
FASE 6 - Construction Documentations
FASE 7 - Additional Work
FASE 8 - Implementations
4 Penulisan Skripsi
5 Sidang Skripsi
3.2 Metode Magang
Metode yang digunakan dalam kegiatan perancangan di SFA, yaitu dengan cara :
1. Partisipasi aktif dalam kegiatan perancangan proyek utama yang berlangsung di perusahaan, yaitu perancangan A124 Gudang Garam Office Complex, Jakarta, Indonesia. Kegiatan masuk pada divisi arsitektur lanskap terutama pada perancangan di studio.
2. Partisipasi aktif dalam perancangan proyek-proyek lainnya selama kegiatan magang. Proyek-proyek tersebut antara lain :
1) A127 Pondok Indah Townhouse
2) A129 Paramount SOHO Serpong 3) A131 Malang Housing
4) A132 Hotel Grand Clarion Makassar 5) A276 Pinebanks
6) A295 Minsmere
3. Wawancara dengan arsitek lanskap, pemilik/pimpinan perusahaan, Project Manager, Project Leader, dan semua pihak yang terkait dengan proyek tersebut.
4. Studi pustaka.
5. Melakukan observasi lapang secara langsung terhadap proyek-proyek yang telah selesai dikerjakan.
3.3 Jenis dan Bentuk Data
Data yang dikumpulkan dalam kegiatan magang yaitu data mengenai kondisi umum lokasi proyek, kelembagaan, dan data perancangan lanskap. Jenis, bentuk, dan sumber data dapat dilihat pada Tabel 2. dibawah ini :
Tabel 2. Jenis dan Bentuk Data
Jenis Data Bentuk data Sumber
Kelembagaan
Profil perusahaan Deskripsi Wawancara & SFA
Struktur Organisasi Diagram Wawancara & SFA
Sistem Kerja Deskripsi Wawancara & SFA
Proses Perwujudan Proyek Deskripsi Wawancara & SFA
Proyek
Skala Pekerjaan Deskripsi SFA
Owner Deskripsi SFA
Tender Deskripsi SFA
Kondisi Umum Deskripsi & Spasial SFA & Architect Proses Perancangan
Lanskap
Inception Deskripsi & Spasial SFA
Research and Analysis Deskripsi & Spasial SFA
Concept Design Deskripsi & Spasial SFA
Design Developtment Deskripsi & Spasial SFA
Final Design Development Deskripsi & Spasial SFA
Additional work Deskripsi & Spasial SFA
Implementations Deskripsi & Spasial SFA
3.4 Tahapan Kegiatan Magang
Adapun kegiatan Magang yang dilakukan pada PT. Sheils Flynn Asia dengan melalui tahapan kegiatan magang sebagai berikut :
1. Persiapan
Meliputi pembuatan proposal usulan magang dan mengurus administrasi dengan perusahaan.
2. Pengenalan Lembaga dan Manajemen
Kegiatan ini untuk mengenal staf yang ada diperusahaan SFA dan mengenal struktur organisasi, profil perusahan, pembagian kerja, dan prosedur pengerjaan proyek.
3. Observasi Lapang
Tahapan ini merupakan kegiatan mengumpulkan data secara langsung dengan melakukan survey tapak dan melihat kondisi tapak secara keseluruhan dan
of the land”. Data yang dikumpulkan dapat dari tapak tempat proyek
berlangsung ataupun dari proyek-proyek terkait yang telah selesai dikerjakan, guna untuk melakukan perbandingan analisis nantinya.
4. Pengumpulan Data dan Studi Pustaka
Tahapan ini terkait dengan tahapan sebelumnnya, hanya saja pada tahapan ini pengumpulan data lebih dominan kearah data yang bersumber dari literatur yang ada, baik dari buku ataupun website terkait.
5. Analisis Data
Tahapan ini merupakan tahapan dimana diolahnya data hasil observasi lapang ataupun studi literatur menjadi sebuah sintesis atau solusi yang nantinya akan diterapkan kedalam konsep desain proyek yang sedang dikerjakan.
6. Perancangan
Tahapan ini adalah tahapan dimana sintesis dari hasil analisis sebelumnya dituangkan kedalam rancangan yang akan diaplikasikan pada tapak yang sedang dikerjakan proyeknya.
3.5 Batasan Kegiatan Magang
Kegiatan magang yang dilakukan meliputi pengamatan dan mengikuti sistem kerja baik itu manajemen serta proses perancangan lanskap yang dilakukan pada studio lanskap yang ada di SFA. Gambar 3 menunjukkan batasan kegiatan magang didalam garis putus-putus, sedangkan tahapan diluar garis putus-putus merupakan tahapan proses perancangan proyek secara keseluruhan yang