• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMENUHAN HAK MANTAN ISTERI SERTA FAKTOR

4. Administrasi Berperkara di Pengadilan Agama Salatiga

Dra. Farkhah Jurusita M. Nawal Annaji Sekretaris Siti Khalimah. S.H Kasubag Umum Suhardi Kasubag Kepegawaian Mir’atul H. SH.I Kasubag Keuangan Suhardi PanMud Hukum Mu’asyarotul A. S.H PanMud Cerai Handayani. S.H PanMud Gugatan Z. Fannanie, S.H Panitera Pengganti Hj. Wasilatun S.H Mujahidah S.H Dra. Hj. Siti Zulaikhah

Hakim Drs, M, Syaifudin Zuhri, S.H. Drs. Silachudin Drs. Anwar Rosidi Hakim Drs. H. Salim, SH., M.H Drs. Moch Rusdi Drs. M. Muslih

Tertib administrasi perkara adalah syarat mutlak yang harus dilaksanakan oleh semua aparat peradilan agama dalam rangka mewujudkan peradilan yang mandiri sesuai dengan peraturan yang berlaku.tugas pokok pengadilan adalah sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 1970 pasal 2 yaitu menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya. Tugas-tugas administrasi dilakukan oleh panitera, meliputi tugas pelaksana administrasi Negara, tugas pendamping hakim dalam persidangan dan tugas pelaksana putusan/ penetapan pengadilan serta tugas-tugas kejurusitaan yang lainnya.

Panitera sebagai pelaksana administrasi perkara berkewajiban mengatur tugas-tugas para pembantunya yaitu wakil panitera dan panitera muda. Sebagai pendamping majlis hakim dalam persidangan panitera berkewajiban mencatat jalannya persidangan yang kemudian dibuat berita acara persidangan. Sebagai pelaksana putusan dan pelaksana tugas kejurusitaan lainnya, panitera dibantu oleh jurusita pengadilan agama atau jurusita pengganti.

Dalam rangka melaksanakan tugas pokok pengadilan panitera menerina perkara yang diajukan ke pengadilan agama untuk diproses lebih lanjut. Prosedur penerimaan perkara yang diajukan ke pengadilan agama melalui beberapa meja yang merupakan kelompok pelaksanan teknis yang harus dilalui oleh suatu perkara di pengadilan agama mulai dari penerimaan sampai perkara tersebut diselesaikan:

a. Meja I

Adapun tugas dari meja I ini antara lain :

1) Menerima gugatan, perlawanan, banding, kasasi, peninjauan kembali, eksekusi, penjelasan dan penaksiran biaya perkara dan biaya eksekusi.

2) Membuat surat kuasa untuk membayar (SKUM) rangkap tiga

menyerahkan SKUM tersebut kepada calon penggugat atau pemohon.

3) Menyerahkan kembali surat gugatan atau Cerai kepada calon

penggugat atau pemohon.

4) Menaksir biaya perkara yang kemudian dinyatakan dalam SKUM.

5) Selain itu meja I berkewajiban memberi penjelasan yang dianggap perlu dan berkenaan dengan perkara yang diajukan. Bagian dari meja pertama lainnya adalah kasir yang bertugas menerima pembayaran uang panjar perkara sebagaimana tersebut dalam SKUM, dam membukukan dalam buku jurnal. Pemegang kas menandatangani SKUM, membubuhi nomor urut perkara dan tanggal penerimaan perkara dalam SKUM dan dalam surat gugatan atau Cerai. Kemudian mengembalikan surat gugatan atau Cerai dan SKUM kepada calon penggugat atau pemohon.

b. Meja II

1) Menerima surat gugat atau perlawanan dari calon penggugat/

pelawan sebanyak jumlah tergugat atau terlawan rangkap dua.

2) Menerima surat pemohon dari calon pemohon sekurang-

kurangnya rangkap dua.

3) Menerima tindasan pertama SKUM dari calon penggugat/

pelawan/ pemohon.

4) Mencatat surat gugatan/ Cerai dalam buku register yang bersangkutan serta memberi nomor register pada surat gugatan atau Cerai tersebut.

5) Menyerahkan kembali satu rangkap surat gugatan/ Cerai yang

6) Surat gugatan atau Cerai yang asli dimasukkan dalam map khusus meserta tindasan pertama SKUM dan surat-surat yang berhubungan dengann gugatan yang disampaikan pada Ketua Pengadilan Agama melalui Panitera.

7) Mendaftar atau mencatat putusan pengadilan dalam semua buku register yang bersangkutan.

c. Meja III

1) Menyerahkan salinan putusan kepada yang bersangkutan.

2) Menyerahkan salinan penetapan Pengadilan Agama kepada

pihak yang berkepentingan.

3) Menerima memori atau kontra memori banding/ kasasi,

jawaban, tanggapan dan lain-lain.

4) Mempersiapkan berkas

Proses berperkara di Pengadilan Agama Salatiga adalah sebagai berikut:

a. Penerimaan perkara

Pemohon atau penggugat mengajukan Cerai atau gugatan ke Pengadilan Agama kemudian petugas dari meja I membuatkan SKUM untuk penggugat atau pemohon. Selanjutnya penggugat /pemohon membayar ke kasir sesuai yang tertera pada SKUM. Oleh petugas meja II perkara tersebut didaftar dan dicatat dalam buku register perkara, kemudian berkas perkara dilengkapi formulir penetapan majelis hakim dan disampaikan kepada ketua pengadilan. Ketua pengadilan menunjuk majelis hakim yang akan menyidangkan perkara tersebut. Majelis hakim yang ditunjuk menetapkan hari sidang dan memerintahkan jurusita untuk memanggil pihak-pihak yang berperkara menghadap di persidangan.

Di dalam pemeriksaan perkara tentunya bukan hanya satu atau dua kali dalam melaksanakan persidangan, akan tetapi terdapat enam persidangan yaitu:

1) Sidang I

Pada sidang pertama ini majelis hakim membuka persidangan dan diperintahkan kepada kedua belah pihak berperkara menghadap persidangan. Jika penggugat tidah hadir di persidangan majelis dapat memerintahkan untuk memanggil kembali penggugat, demikian juga jika tergugat tidak datang menghadap. Setelah kedua belah pihak hadir, majelis mengupayakan perdamaian melalui mediasi dengan didampingi oleh hakim mediator.

2) Sidang II

Apabila upaya mediasi berhasil, maka perkata telah selesai baik dengan dicabut atau dengan tercapainya perdamaian. Namun jika upaya damai gagal, maka dilanjutkan sidang kedua (untuk perkara perceraian, terlebih dahulu majelis menyatakan sidang tertutup untuk umum), dengan agenda penbacaan gugatan dari pihak penggugat.

Dalam sidang ketiga ini diagendakan untuk pembacaan jawaban dari tergugat atas surat gugatan penggugat. Jawaban dapat diberikan secara lisan.

4) Sidang IV

Kemudian sidang dilanjutkan dengan agenda tanggapan oleh penggugat (replik) dan terhadap tanggapan dari penggugat, tergugat dapat memberikan tanggapan balik yang disebut Duplik.

5) Sidang V

Setelah tanggapan yang disampaikan kedua belah pihak, maka sidag selanjutnya adalah pembuktian, baik berupa surat, saksi, pengakuan, sumpah dan persangkaan

6) Sidang VI

Setelah pembuktian selesai maka kedua belah pihak diberikan

kesempatan untuk membuat kesimpulan. Dan majlis

bermusyawarah untuk mengambil putusan yang akan diberikan kepada para pihak.

7) Penyelesaian perkara

Setelah putusan diberikan oleh majlis hakim, untuk perceraian, para pihak dapat menyelesaikan perkara administrasi dengan mengambil salinan putusan dan akta cerai yang telah disiapkan oleh petugas.

Terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dapat diajukan Cerai penyelesaian perkara atau pelaksanaan

putusan (eksekusi) apabila pihak-pihak yang dikalahkan tidak mau melaksanakan isi putusan secara suka rela. Cerai eksekusi diajukan oleh pemohon kepada pengadilan setelah dibayarkan biaya eksekusi, selanjutnya ketua pengadilan membuat ketetapan eksekusi. Sebelum eksekusi dilakukan kepada termohon eksekusi dilakukan anmaning (tegoran) sebanyak dua kali agar tereksekusi terlebih dahulu mau melaksanakan isi putusan secara sukarela. Jika tereksekusi tetap tidak mau melaksanakan putusan maka juru sita melakukan ekseksi secara paksa. Memaksa tereksekusi melaksanakan isi putusan tersebut sesuai dengan bunyi amar putusan.

Dokumen terkait