Kebakaran di Lingkungan Permukiman
Item-item proses kognisi, meliputi item-item yang digunakan untuk mengukur pemahaman/ pengetahuan masyarakat; Proses afeksi, meliputi item-item yang digunakan untuk mengukur keinginan/ nilai-nilai yang ada dalam diri masyarakat; Sedangkan item-item proses konasi, meliputi item-item yang digunakan untuk mengukur tindakan yang diambil oleh masyarakat. Terdapat 12 item pernyataan yang digunakan untuk mengukur proses kognisi, yaitu item 1, 2, 5, 8, 9, 10, 12, 13, 18, 21, 22, 24; 8 item pertanyaan untuk mengukur proses afeksi; dan 6 pertanyaan untuk mengukur proses konasi (Rosa, 2008).
Skor kumulatif untuk ketiga proses: kognisi (diukur oleh 12 item); afeksi (diukur oleh 8 item); konasi (diukur oleh 6 item) adalah sebagai berikut :
NO Skoring/ Item
Skoring Kumulatif Kognisi Afeksi Konasi
1 1 12 8 6
2 2 24 16 12
3 3 36 24 18
4 4 48 32 24
5 5 60 40 30
Garis bilangan untuk proses kognisi
12 24 36 48 60
18* 30* 42* 54*
Kalimat positif :
Salah Salah Ragu- Benar Benar
Sekali ragu Sekali
Kalimat negatif :
Benar Benar Ragu- Salah Salah
Sekali Sekali
Garis bilangan untuk proses afeksi
8 16 24 32 40
12* 20* 28* 36*
Kalimat positif :
Salah Salah Ragu- Benar Benar
Sekali ragu Sekali
Kalimat negatif :
Benar Benar Ragu- Salah Salah
Sekali ragu Sekali
Garis bilangan untuk proses konasi
6 12 18 24 30
9* 15* 21* 27*
Kalimat positif :
Salah Salah Ragu- Benar Benar
Sekali ragu Sekali
Kalimat negatif :
Benar Benar Ragu- Salah Salah
Sekali ragu Sekali
Keterangan :
* Nilai tengah kumulatif antara dua skor.
Interpretasi hasil analisa deskriptif berdasarkan total skor adalah sebagai berikut:
Tabel 5.
Interpretasi Analisa Deskriptif Proses Kognisi, Afeksi, Konasi Persepsi Masyarakat terhadap Partisipasi
Masyarakat dalam Penanggulangan Kebakaran Berdasarkan Total Skor (Kelas Interval) Kelas Interval Total Skor untuk
Ketiga Proses Interpretasi
Persepsi Kognisi Afeksi Konasi
12 – 17 8 - 11 6 - 8 Sangat Salah 18 – 29 12 - 19 9 - 14 Salah 30 – 41 20 - 27 15 - 20 Cukup 42 – 53 28 - 35 21 – 26 Baik 54 – 60 36 - 40 27 - 30 Sangat Baik Nilai skor kumulatif untuk setiap kelas interval dari ketiga proses pembentukan persepsi yaitu kognisi, afeksi dan konasi berbeda-beda. Nilai skor kelas total (kumulatif) ditentukan oleh jumlah item pernyataan yang digunakan untuk
mengukur proses tersebut, oleh karena itu skor kelas interval untuk setiap proses berbeda. Interpretasi nilai skor untuk masing-masing proses berbeda-beda, harus berdasarkan skor kelas interval. Lebih lengkap, kriteria nilai skor kelas interval untuk masing-masing proses dapat dilihat pada tabel 5 di atas, beserta interpretasi untuk masing-masing kelas.
138 Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009
Interpretasi setiap proses persepsi untuk setiap responden dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6.
Interpretasi Analisa Deskriptif Untuk Ke-tiga Proses Persepsi Masyarakat terhadap Partisipasi Masyarakat
dalam Penanggulangan Kebakaran Berdasarkan Total Skor 40 Orang Responden
No. Res
Proses Persepsi
Kognisi Afeksi Konasi
Skor Inter pretasi Skor Inter pretasi Skor Inter pretasi
1 28 Salah 20 Cukup 21 Baik
2 35 Cukup 24 Cukup 16 Cukup
3 33 Cukup 26 Cukup 17 Cukup
4 29 Salah 19 Salah 16 Cukup
5 46 Baik 21 Cukup 21 Baik
6 30 Cukup 21 Cukup 14 Salah
7 34 Cukup 20 Cukup 17 Cukup
8 34 Cukup 15 Salah 16 Cukup
9 28 Salah 16 Salah 17 Cukup
10 50 Baik 23 Cukup 23 Baik
11 43 Baik 23 Cukup 18 Cukup
12 35 Cukup 23 Cukup 13 Salah
13 36 Cukup 12 Sangat Salah 10 Salah 14 29 Salah 16 Sangat Salah 14 Salah 14 29 Salah 16 Sangat Salah 14 Salah 15 29 Salah 16 Sangat Salah 15 Cukup
16 31 Cukup 21 Cukup 14 Salah
17 37 Cukup 29 Baik 19 Cukup
18 33 Cukup 22 Cukup 17 Cukup
19 31 Cukup 16 Sangat Salah 13 Salah
20 32 Cukup 19 Salah 15 Cukup
21 32 Cukup 16 Sangat Salah 14 Salah
22 46 Baik 22 Cukup 24 Baik
23 38 Cukup 20 Cukup 20 Cukup
24 32 Cukup 15 Sangat Salah 16 Cukup 25 29 Salah 17 Sangat Salah 14 Salah
26 32 Cukup 23 Cukup 14 Salah
27 33 Cukup 20 Cukup 16 Cukup
28 36 Cukup 20 Cukup 20 Cukup
29 37 Cukup 22 Cukup 18 Cukup
30 30 Cukup 22 Cukup 14 Salah
31 38 Cukup 24 Cukup 15 Cukup
32 30 Cukup 21 Cukup 13 Salah
33 41 Cukup 22 Cukup 20 Cukup
34 34 Cukup 20 Cukup 17 Cukup
35 28 Salah 15 Sangat Salah 15 Cukup
36 47 Baik 21 Cukup 20 Cukup
37 32 Cukup 24 Cukup 12 Salah
38 41 Cukup 21 Cukup 17 Cukup
39 46 Baik 21 Cukup 20 Cukup
40 36 Cukup 26 Cukup 17 Cukup
Gambaran secara keseluruhan untuk ketiga proses persepsi dari ke-40 responden, dapat dilihat melalui ukuran letak. Ukuran letak untuk
ketiga proses tersebut, dapat dicari dengan terlebih dahulu membuat tabel distribusi dengan kelas interval seperti pada tabel 5.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dari 40 responden yang diambil, untuk proses kognisi dapat digambarkan bahwa 10% responden masih mempunyai pemahaman yang tidak sesuai dengan pemahaman yang telah
dirumuskan dalam sasaran program
pelaksanaan sosialisasi; sedangkan 75% masyarakat memiliki pemahaman yang cukup; dan sisanya 15% responden sudah mempunyai persepsi yang baik (mempunyai pemahaman sesuai dengan sasaran yang diharapkan).
Untuk proses afeksi, yaitu nilai-nilai yang semestinya dimiliki oleh masyarakat, dari ke 40 responden dapat digambarkan bahwa 30% responden masih mempunyai pemahaman yang tidak sesuai dengan sasaran; sisanya 67,5% responden mempunyai nilai-nilai yang cukup memenuhi harapan sesuai sasaran program, dan 2,5% sudah mempunyai nilai-nilai sesuai sasaran.
Tabel 6.
Distribusi Frekwensi Proses Kognisi, Afeksi dan Konasi dalam Persepsi Masyarakat terhadap
Penanggulangan Kebakaran di Lingkungan Permukiman P r o s e s P e r s e p s i Kelas Interval f % Analisis Deskriptif Proses Kognisi 12 – 17 0 0 Sangat Salah 18 – 29 7 10 Salah 30 - 41 24 75 Cukup 42 – 53 6 15 Baik 54 - 60 0 0 Sangat Baik Proses Afeksi 8 – 11 0 0 Sangat Salah 12 – 19 12 30 Salah 20 – 27 27 67,5 Cukup 28 – 35 1 2,5 Baik 36 - 40 0 0 Sangat Baik Proses Konasi 6 – 8 0 0 Sangat Salah 9 – 14 12 30 Salah 15 – 20 24 60 Cukup 21 – 26 4 10 Baik 27 - 30 0 0 Sangat Baik
Harihanto (2004 mengutip Thorndike 1968) responden yang mempunyai pemahaman yang cukup memenuhi untuk terlibat dalam program
Metode Analisa Data… (Yulinda Rosa) 139
partisipasi masyarakat dalam penanggulangan kebakaran di lingkungan permukiman, kondisi tersebut diharapkan dapat membentuk nilai-nilai yang sesuai sasaran program. Dengan memiliki nilai-nilai tersebut, diharapkan dapat mendorong responden agar mempunyai keinginan untuk terlibat dalam kegiatan partisipasi.
Persentase responden yang mempunyai keinginan untuk berpartisipasi berjumlah 70%. Apakah nilai tersebut dihasilkan melalui proses sesuai dengan teori, atau bukan ? Artinya, apakah dari 90% responden yang telah mempunyai pemahaman cukup sesuai dengan sasaran program, ternyata 70% dapat diserap oleh responden untuk selanjutnya dapat membentuk nilai-nilai sesuai sasaran yang diharapkan, dengan nilai-nilai yang sudah dimiliki dapat mendorong responden tersebut untuk berkeinginan turut berpartisipasi yaitu sejumlah 70%.
Untuk mendapatkan jawaban tersebut tidak dapat dilakukan melalui analisa deskriptif. Penelitian harus dilanjutkan, dengan menggunakan metode analisa induktif, yaitu melalui pengujian rumusan hipotesis. Dalam tulisan ini tidak dilakukan pembahasan untuk analisa induktif, jadi materi tersebut di luar dari pembahasan tulisan ini.
KESIMPULAN DAN SARAN
1) Berdasarkan hasil analisa deskriptif dari 40 responden, dapat disimpulkan bahwa 27,5% responden masih mempunyai persepsi yang tidak sesuai dengan yang telah dirumuskan dalam sosialisasi terhadap partisipasi masyarakat dalam penanggulangan kebakaran di lingkungan permukiman; sedangkan sisanya 72,5% responden sudah mempunyai pemahaman yang cukup sesuai (baik) dan sesuai dengan pemahaman yang telah dirumuskan program.
2) Persepsi responden terhadap partisipasi masyarakat dalam penanggulangan kebakaran dibentuk melalui tiga tahapan (proses) yaitu: proses kognisi, afeksi dan konasi.
3) Gambaran ketiga proses dalam persepsi, berdasarkan data lapangan dari 40 responden adalah 90% responden sudah mempunyai pemahaman (proses kognisi) yang cukup dan telah sesuai dengan yang dirumuskan dalam sosialisasi; 70% responden cukup dan telah mempunyai nilai-nilai (afeksi) sesuai dengan sasaran; dan 70% responden cukup dan telah mempunyai keinginan untuk turut berpartisipasi dalam penanggulangan kebakaran di lingkungan permukiman. 4) Interpretasi yang dihasilkan dari analisa
deskriptif tidak dapat digeneralisir untuk kelompok yang lebih besar, karena rumus yang digunakan dalam tahap ini bukan merupakan rumus taksiran untuk populasi, jadi hanya berlaku untuk sejumlah
responden yang diambil.
5) Untuk mengetahui gambaran yang dapat digeneralisir untuk kelompok yang lebih besar, perlu dilanjutkan dalam fase analisa data (secara statistik) tahap selanjutnya yaitu fase induktif.
DAFTAR PUSTAKA
Harihanto. 2004. “Persepsi Masyarakat terhadap Air Sungai” Lingkungan & Pembangunan 24
(3): 171 – 186.
Dinas Pemadam Kebakaran. 2002. Kegiatan Kampanye Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Kebakaran. Jakarta. Faisal, S. 2005. Format-format Penelitian Sosial.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Korotayev dkk. 2006. Introduction to Social Macrodynamics. Moscow: URSS.
Rosa. 2008. “Validitas Instrumen Ukur Variabel Sosial Bidang Permukiman” Jurnal Permukiman 3(4):263 – 279.
Sitinjak Tumpal JR dan Sugiarto. 2006. Lisrel. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Soemarwoto. 2006. Pembangunan Berkelanjutan. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Sudjana. 1982. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. 1999. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabet.
140 Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009