• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Inge Komardjaja

Dalam dokumen jurnal permukiman (Halaman 99-103)

Pusat Litbang Permukiman, Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan – Kab. Bandung 40393 E-mail: [email protected]

Tanggal masuk naskah: 09 Februari 2009, Tanggal disetujui: 29 Mei 2009

A b s t r a k  

Pecinan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan pariwisata yang menarik. Secara ekonomi, kawasan wisata yang direncana dan dikelola dengan baik memberikan keuntungan yang berarti bagi pemerintah setempat. Demikian pula halnya dengan pecinan yang perlu ditata berdasarkan perencanaan matang dan pelaksanaan yang cermat. Dengan berpegang pada prinsip pariwisata yang aksesibel, wisatawan lokal dan mancanegara yang menyandang cacat akan tertarik  untuk mengunjungi pecinan. PBB mengatakan para penyandang cacat mempunyai hak yang sama dengan mereka yang tidak cacat untuk berwisata. Penyandang cacat mempunyai keterbatasan mobilitas fisik, sehingga membutuhkan infrastruktur fisik yang mudah dan aman diakses. Dalam kenyataan, penyandang cacat tidak diberikan kesempatan yang setara untuk mengunjungi pecinan serta menikmati fasilitas dan suasana yang ditawarkan. Mereka mengalami kesulitan untuk bergerak secara mandiri, karena infrastruktur fisik kawasan pecinan tidak bebas hambatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk dapat mengidentifikasi problem penyandang cacat. Hasil analisis data menunjukkan mereka masih mengalami marjinalisasi karena tidak dapat menggunakan atau kesulitan mengakses infrastruktur disitu. Desain universal menciptakan infrastruktur yang aksesibel yang memberikan kemudahan bagi semua golongan masyarakat, tanpa kecuali, seperti orang jompo, orang yang baru sembuh dari penyakit berat, anak kecil yang belajar jalan atau pendorong gerobak. Pecinan yang ramah-cacat (disabled-friendly) mendukung prinsip accessible tourism.

K a t a K u n c i :  Penyandang cacat, keterbatasan mobilitas, pecinan, pariwisata, aksesibilitas

A b s t r a c t  

Chinatown has the potential to become an attractive tourist site. From the point of economy, tourist sites that are well-planned and well-managed provide significant benefits for the local government. Revitalizing Chinatown has to be done from a well-prepared planning and accurate implementation. Carrying out the principle of accessible tourism may attract local and foreign tourists who are disabled. The UN emphasizes that disabled people have the same right as the non-disabled people to visit tourist sites. Disabled people have limited physical mobility and thus, are in need of accessible and safe physical infrastructures. In reality, disabled people are marginalized against the non-disabled, because the former does not get the opportunity to come to Chinatown and be able to enjoy the facilities and ambience of the site. They experience difficulties to move around independently, because the infrastructures are not barrier-free. This study has employed the qualitative method to identify the real problems of disabled people. The result of the data analysis points out that they are still marginalized against the non-disabled in the use of Chinatown’s infrastructures. The universal design creates accessible infrastructures which will also facilitate other groups of the society, such as elderly people, persons recovering from a serious illness, toddlers who learn to walk, or cart pushers. Chinatown that is disabled-friendly upholds the principle of accessible tourism.

Infrastruktur Pecinan …(Inge K.) 111

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Karena Indonesia adalah anggota PBB, tulisan ini diawali dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh United Nations Convention on the Rights of  Persons with Disabilities (CRPD) tentang pariwisata. CRPD mengungkapkan secara khusus pentingnya isu aksesibilitas fisik dan program aksesibilitas dalam hal pariwisata untuk  orang yang menyandang cacat (travel, disability, law, United Nations 2008). Artikel 30 dari konvensi ini menyebutkan partisipasi dalam kehidupan budaya, rekreasi, waktu senggang dan olahraga dan menyatakan, antara lain, bahwa negara yang menjadi anggota PBB perlu mendukung hak penyandang cacat untuk  berpartisipasi dalam kehidupan budaya atas dasar kesetaraan dengan orang yang non-cacat. Untuk itu perlu disediakan fasilitas supaya penyandang cacat dapat:

- mengakses dan menikmati hal-hal yang bersifat budaya

- mengakses program televisi, film, teater dan aktivitas budaya lainnya

- mengakses tempat penyelenggaraan kesenian dan pelayanan terkait budaya, seperti teater, museum, bioskop, perpustakaan dan pariwisata, serta

mengakses monumen dan tempat

peninggalan sejarah.

CRPD juga mengatakan penyandang cacat mempunyai hak setara dengan orang yang tidak  cacat untuk mengakses tempat olahraga, rekreasi dan wisata.

Pada tahun 2000-an beberapa pemerhati penyandang cacat dan pariwisata merumuskan prinsip pariwisata yang aksesibel (accessible tourism). Pariwisata yang aksesibel merupakan upaya untuk meyakinkan bahwa tempat pariwisata, produk dan pelayanan pariwisata dapat diakses oleh semua orang dengan memerhatikan keterbatasan fisik, tingkat kecacatan dan usia (Wikipedia.  Accessible Tourism).

Salah satu destinasi pariwisata yang banyak  mendapat kunjungan adalah pecinan yang ada

di kota-kota besar. Di Australia, Kota Broome, memiliki pecinan yang dikenal karena mutiara, galeri dan warung kopi. Pecinan ini dikunjungi banyak wisatawan yang ditemukan di restoran, warung kopi dan toko. Contoh lain adalah New  York, dimana pecinannya menarik banyak orang ketika diadakan festival Bulan Musim Gugur. Pecinan ini merupakan komunitas Cina terbesar di belahan Barat dan terletak di kawasan paling tua di Manhattan. Pecinan ini didirikan pada tahun 1870an oleh imigran Cina dan menawarkan pengalaman historis dan kultural yang sangat unik (diambil dari Lower Manhattan Development Corporation).

Menurut Greed (1999) perencanaan sosial kota perlu memerhatikan kebutuhan kelompok  minoritas dalam masyarakat, sehingga tulisan ini mefokuskan pada penyandang cacat. Alasannya, karena sekarang semakin banyak penyandang cacat “berani” keluar rumah. Keberadaan mereka di ruang publik cukup signifikan untuk  dimasukkan kedalam perencanaan kota. Dari semua kelompok minoritas, penyandang cacatlah yang paling memerlukan perubahan lingkungan fisik menjadi bebas hambatan (Davies 1999: 77). Para penyandang cacat ini mempunyai mobilitas fisik terbatas, sehingga membutuhkan infrastruktur yang mudah diakses. Sehubungan dengan lingkungan binaan, yang diperlukan adalah solusi yang inklusif yang mengintegrasikan mereka kedalam masyarakat (ibid.).

Kelompok minoritas etnis yang berperan dalam perencanaan sosial kota adalah warga keturunan Cina. Mereka berkelompok di berbagai kawasan kota, sehingga terbentuklah kawasan khusus yang disebut pecinan. Di Indonesia, sebelum Perang Dunia II, mereka bermukim dan bekerja di kawasan ini. Umumnya orang Cina suka berdagang dan usaha yang sering ditekuni adalah membuka toko. (Istijanto Oei, 2008: vii). Karena di banyak negara pecinan dikembangkan menjadi kawasan pariwisata, pecinan di Indonesia juga mempunyai potensi pariwisata. Di Jakarta salah satu pecinan adalah Glodok yang dijadikan kawasan pariwisata. Direktorat Jenderal

112 Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum, mendukung rencana untuk menata kembali pecinan Glodok. Untuk maksud ini, penyediaan infrastruktur yang baik akan menambah daya tarik pecinan untuk dikunjungi. Wisatawan cacat pun bisa menikmati hal-hal yang ditawarkan oleh pecinan. Dalam tulisan ini, pecinan menjadi contoh kasus kawasan pariwisata yang kerap didatangi wisatawan. Pecinan yang aksesibel dimaksudkan supaya orang dengan mobilitas terbatas, seperti penyandang cacat, dapat mengunjungi kawasan ini dengan mudah dan aman.

Suatu studi di Inggris menunjukkan bahwa isu penyandang cacat dapat dikaitkan dengan perencanaan untuk pariwisata dan aktivitas budaya (Davies 1999: 82). Atas dasar ini, tulisan ini mengulas pecinan sebagai kawasan wisata dimana penyediaan infrastruktur perlu memerhatikan mobilitas terbatas dari penyandang cacat.

Permasalahan

Bagi orang yang tinggal diluar pecinan, kawasan ini bisa menjadi magnet karena mungkin ada bangunan bersejarah, kelenteng, toko obat Cina serta tersedianya sumberdaya sosial-budaya seperti festival dan kuliner (Davidson & Maitland 1999: 209). Karena penyandang cacat mempunyai hak mendatangi pecinan, lingkungan fisik harus mudah diakses. Pada kenyataan, infrastruktur yang ada tidak  aksesibel karena, misalnya, trotoarnya tinggi dan sempit. Atau ada satu anak tangga didepan pintu masuk toko, ram yang dibangun curam, atau tidak tersedia toilet duduk di tempat makan.

Maksud

Mendapatkan strategi untuk menata kembali kawasan pecinan, sehingga bisa menjadi tempat pariwisata yang aksesibel bagi penyandang cacat.

Tujuan

Mengembangkan gagasan agar infrastruktur pecinan, sebagai kawasan pariwisata, di kota-kota besar di Indonesia mudah diakses serta

disediakan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan penyandang cacat. Infrastruktur yang aksesibel juga mudah digunakan oleh kuli untuk menurunkan barang dagangan dari kendaraan, penjual makanan dengan gerobak, orang yang mendorong troli, orang yang memanggul pikulan, anak kecil dan orang yang sudah jompo.

METODE PENELITIAN

Pertanyaan penelitian (research question) dalam tulisan ini adalah:

- Mengapa pecinan merupakan kawasan yang penting dalam perkembangan kota?

- Bagaimana penyandang cacat dapat dengan mudah mengakses pecinan yang juga merupakan kawasan pariwisata?

Untuk mengulas pertanyaan-pertanyaan ini dipakai metode kualitatif. Alasannya, penelitian ini belum dilakukan, sehingga pada tahap ini masalah yang sebenarnya belum teridentifikasi dengan tepat. Penelitian sosial ini berupaya menjawab pertanyaan “mengapa” dan  “bagaimana” agar dapat mendeskripsikan dan mengerti kelompok penyandang cacat dan kebutuhannya.

Dalam dokumen jurnal permukiman (Halaman 99-103)