BAB II KONTEKSTUALITAS MAKNA AGAMA
C. Agama dan Gagasan Tentang Tuhan
Umat manusia sejak awal kehadirannya dipentas sejarah telah memberikan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa yang digunakan masing-masing, kepada “Kausa Prima” alam keberadaan. Orang Persia menyebutnya “Yazdan” atau “Khoda”. Orang Inggris menyebutnya “God” atau “Lord”, kita menyebutnya Tuhan atau “Sang Hyang” 29. Dialah Tuhan Maha Sempurna. Kepercayaan pada “Yang Adi Kodrati”, merupakan bagian integral dari kehidupan manusia, baik terbentuk dalam sebuah lembaga transsendental yang disebut “agama” maupun tidak di-agamakan. Kendati demikian, konsep dan keyakinan tentang Tuhan telah berkembang dan terpecah dalam beberapa aliran ketuhanan. Demikianlah, Tuhan, sejak dulu hingga sekarang telah menjadi obyek perdebatan, pengimanan sekaligus juga penolakan.
29
Kata “tuhan” dalam bahasa Indonesia, misalnya, hampir memiliki arti yang berdekatan dengan “tuan” yang berarti “majikan” atau “pemilik”, atau kata “Hyang” yang memliki kedekatan arti dengan “eyang” yang berarti kakek atau nenek…., Lihat : Ja’far Subhani, Sang Pencipta Menurut Sains dan Filsafat, (Jakarta : Penerbit Lentera, 2004), Cet.1, h.11-12
Dari beberapa konsepsi atau pandangan ketuhanan yang amat mendasar yang diterangkan dengan jelas oleh Imam Ja’far ash-Shadiq, guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam sejarah Islam, baik untuk kalangan ahlusunnah maupun syi’ah. Dalam sebuah penuturannya ia menjelaskan nama “Allah” dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam bin Hakam :
“Dia Yang Esa itu bukanlah Nama-Nya, melainkan Dzat atau Esensi- Nya, sebab Dia mempunyai banyak nama. Karena itu, al-Baidhawi menegaskan paham Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama, melainkan kepada esensi, maka tauhid yang benar ialah “Tauhid al- Dzat” bukan “Tauhid al-Ism” (Tauhid Esensi, bukan Tauhid Nama)”. “Sesungguhnya kata “Allah” (kadang-kadang dieja “Al-Lah”) berasal dari kata “ilah”, dan “ilah” mengandung makna “ma’luh” (yang disembah), dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al- musamma). Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna, ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus), maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. Barangsiapa menyembah makna tanpa nama, maka itulah Tauhid. Engkau mengerti wahai Hisyam? Hisyam menyatakan lagi, “tambahilah aku (ilmu)”. Imam Ja’far al- Shadiq menambahkan : “Bagi Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung ada 99 nama. Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai, maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan. Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah suatu Makna (Esensi) yanh diacu oleh nama-nama itu, sedangkan nama-nama itu seluruhnya tidaklah sama dengan Dia…30”
Gagasan ketuhanan lainnya yang dapat kita temui, misalnya Plato yang menyatakan ide ketuhanannya melalui apa yang ia sebut dengan Idea Tertinggi, gagasannya tentang Idea tersebut adalah “Idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, sebagai Tuhan yang membentuk dunia”, plato menyamakannya dengan matahari yang menyinari semuanya. Idea kebaikan tidak saja sebab timbunya pengetahuan dalam dunia yang lahir, tetapi juga sebab tumbuh dan berkembang segala-galanya. Dengan demikian, idea adalah pokok dan merupakan sumber dari yang ada dan sumber pengetahuan. Selain itu, ia juga mengemukakan bahwa karena sinar yang memancar dari idea kebaikan, semuanya tertarik padanya dank arena itu ia jadi sebab dan tujuan
30
dari segala-galanya. Dengan kata lain, dalam istilah agama, semua berasal dari idea tertinggi dan segalanya akan kembali kepada-Nya31
Sedangkan dalam metafisika aristoteles, ide ketuhanan dapat dilihat dari pandangannya tentang gerak dalam pembentukan materi. Menurut Aristoteles, gerak bukan dalam arti tempat, tetapi dalam arti perubahan. Gerak itu ada yang menyebabkannya dan sebab gerak itu sendiri ada pula sebabnya dan seterusnya. Akhirnya sampai pada sebab yang pertama yang immaterial. Tidak bertubuh, tidak bergerak dan, serta cerdas. Sebab gerak pertama itu ialah Tuhan. Dia adalah tetap selama-lamanya, tidak berubah- ubah, terpisah dari yang lain tetapi sebab dari segala-galanya32
Adapun agasan ketuhanan Konfusius yakni adanya nilai-nilai susila sebagai kehendak dari yang Adi Susila yang disebut Alam Ketuhanan. Ia percaya ahwa dengan menyadari adanya Alam Ketuhanan ia percaya bahwa yang dikerjakannya selaras dengan kehendak Alam Ketuhanan. Konfusius berkeyakinan bahwa ia mengikuti Alam Ketuhanan dan memperoleh dukungan Alam Ketuhanan33
Gagasan ketuhanan dalam Taoisme adalah dasar ajaran Tao itu sendiri tentang (dua konsep), Yang Ada (Yu) dan Bukan- Yang Ada (Wu). “Yang Ada” dan “Bukan Yang Ada” tidak diartikan sebagai dua hal yang bertentangan, melainkan berada dalam hukum sebab-akibat. Yang Ada sebagai akibat dari Yang Bukan Ada sebagai sebabnya. Sebab adanya Yang Ada timbul ada-ada lainnya. “Segala sesuatu di dunia menjadi ada dari Yang Ada (Yu); dan Yang Ada menjadi dari Bukan Yang Ada (Wu)”. Bukan-Yang Ada sebenarnya tidak dapat diberi nama, sehingga tidak dapat dimuat dalam kata-kata34
31
A.M Romly, Fungsi Agama Bagi Manusia…, h.29
32
A.M Romly, Fungsi Agama Bagi Manusia…, h.30
33
A.M Romly, Fungsi Agama Bagi Manusia…, h.37
34
Beberapa pandangan filosof dan ilmuan abad-20 diantaranya :
Jean Jacques Rousseau mengatakan, “Sesungguhnya mengenal Tuhan tidak terbatas pada akal, keragu-raguan serta anggapan saja, karena perasaan dan emosi yang bersifat fitri adalah jalan terbaik untuk membuktikannya”.
Max Muller berkata, “Sesungguhnya perasaan yang tiada akhir untuk menemukan kekuatan tak terbatas menunjukkan kita pada suatu keyakinan terhadap agama”
Sedangkan Einstein mengatakan “Sesungguhnya keyakinan dan amal ibadahku merupakan pernyataan pujian yang tak layak bila dibandingkan dengan roh yang layak dan tak terbatas”35
Mahatma Gandhi mengatakan:
“Tuhan bukan suatu pribadi. Dia mengatasi segala penggambaran. Dia adalah pencipta Hukum, Hukum itu sendiri dan Pelaksana Hukum. Tuhan adalah Kebenaran. Hukum Tuhan dan Tuhan tidak berbeda dalam wujud dan kenyataannya; lain halnya dengan raja duniawi yang berbeda dengan hukum yang harus dijalankannya. Karena Tuhan adalah Idea, Hukum itu sendiri, maka tidak mungkin Tuhan merusak Hukum36”
Dari uraian diatas jelaslah bahwa masalah menyembah kepada Tuhan adalah sesuatu yang fitri. Manusia tak pernah memetik keimanannya dari prinsip-prinsip filsafat atau hukum-hukum ilmiah yang telah dikodifikasikan, berbeda dengan tauhid (monoteisme demonstrable) yang berkisar pada argument rasional dan saintis. Kedua hal ini mesti dibedakan37.
Sekarang kita beralih pada pandangan ibnu al-Arabi tentang perbedaan keagamaan. Dalam hal ini, salah satu tema pokok yan perlu dan sekaligus ,menarik untuk dibicarakan adalah teori Ibnu al-Arabi tentang “Tuhan kepercayaan” (al-Ilah al-mu’taqad), yang disebut pula “Tuhan dalam kepercayaan” (al-Ilah fi al-I’tiqad), atau “Tuhan kepercayaan” (al-Haqq al- I’tiqadi), atau “Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan “ (al-Haqq al- makhluq fi al-I’tiqad).
35
Ja’far Subhani, Sang Pencipta Menurut Sains dan Filsafat…,h.33
36
A.M Romly, Fungsi Agama Bagi Manusia…, 36-37
37
“Tuhan kepercayaan” adalah Tuhan dalam pengetahuan, konsep, penangkapan, atau persepsi manusia. Tuhan seperti itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, tetapi adalah tuhan ciptaan manusia, yaitu tuhan yang diciptakan oleh pengetahuan, konsep, penangkapan, atau persepsi manusia. Tuhan seperti itu adalah Tuhan yang “dimasukkan” atau “ditempatkan” oleh manusia dalam kepercayaannya. “Bentuk” , “gambar”, atau “wajah” tuhan seperti itu ditentukan atau diwarnai oleh manusia yang mempunyai kepercayaan kepada-Nya. “Apa yang diketahui” diwarnai oleh “ apa yang mengetahui”. Dengan mengutip perkataan al-Junayd, Ibn al-Arabi berkata,” warna air adalah warna bejana yang ditempati” (lawn al-ma’lawn ‘inaihi). Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku” (Ana ‘inda zhann ‘abdi). Tuhan disangka, bukan diketahui38.
Teori ibn al-Arabi tersebut mengingatkan kita kepada Xenophanes (kira-kira 570-480 SM) terhadap antromorfisme Tuhan, atau tuhan-tuhan.
Sebagaimana dijelaskan diatas “Tuhan kepercayaan“ adalah Tuhan ciptaan manusia. Barang siapa memuji ciptaan-Nya berarti memuji dirinya sendiri. Ibn al-’Arabi berkata: Tuhan kepercayaan adalah ciptaan bagi yang mempersepsikannya. Dia adalah ciptaannya. Karena itu, pujiannya kepada apa yang dipercayainya kepada dirinya sendiri. Itulah sebabnya ia mencela kepercayaan orang lain. Jika ia menyadari (persoalan yang sebenarnya), tentu ia tidak akan berbuat demikian. Tidak diragukan bahwa pemilik objek penyembahan khusus itu adalah bodoh tentang itu karena penolakannya terhadap apa yang dipercayai orang lain tentang Allah. Jika ia mengetahui apa yang dikatakan oleh al-Junayd, “warna air adalah warna bejana yang ditempatinya,” ia akan membenarkan apa yang dipercayai setiap orang yang mempunyai kepercayaan dan mengakui Tuhan dalam setiap bentuk dan dalam setiap kepercayaan39.
Di mata Ibn al-Arabi, orang yang menyalahkan atau mencela kepercayaan orang lain tentang Tuhan adalah orang yang bodoh. Pasalnya, Tuhan dalam kepercayannya sendiri, sebagaimana dalam kepercayaan- kepercayaan yag disalahkannya itu, bukanlah Tuhan sebagaimana Dia
38 Kautsar Azhari Noer, Tasawuf Perenial, Kearifan Kritis Kaum Sufi, (Jakarta : PT.
Serambi Ilmu Semesta, 2003), Cet.3, h.36-38
39
sebenarnya. Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya tidak dapat diketahui. Ini sama dengan “mengetahui Tuhan yang tidak dapat diketahui” (to know the Unknowable God). Orang seperti itu mengakui hanya Tuhan dalam bentuk kepercayaannya atau kerpercayaan kelompoknya sendiri dan mengingkari Tuhan dalam bentuk-bentuk kepercayaan lai. Padahal, Tuhan yang menampakkan diri-Nya dalam semua bentuk kepercayaan yang berbeda-beda itu adalah satu dan sama40.
Pengetahuan yang benar tentang Tuhan, menurut sufi dari Andalusia ini, adalah pengetahuan yang tidak terlihat oleh bentuk kepercayaan atau agama tertentu. Kata Ibn al-Arabi, “Barang siapa membebaskan-Nya dari pembatasan, tidak akan mengingkari-Nya dan mengakui-Nya dalam setiap bentuk tempat Dia mengubah diri-Nya”41
Kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya ditetukan dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas pengetahuan itu tergantung kepada”kesiapan partikular" (al-isti’dad al-juz’i) masing-masing individu hamba sebagai bentuk penampakkan”kesiapan universal”. Tuhan menampakkan diri-Nya kepada hamba-Nya dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan yang akhirnya “diikat” atau “dibatasi” oleh dan dalam kepercayaannya sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya42.
Pengaruh kebudayaan terhadap bentuk atau tipe kepercayaan kepada Tuhan, terhadap “Tuhan kepercayaan”, dibuktikan oleh sejarah agama- agama. Tuhan dalam kepercayaan orang-orang yang berkebudayaan patriarchal-pastoral, yang berkebudayaan perayahan yang hidup dengan meggembala, berbeda dengan Tuhan dalam kepercayaan orang-orang yang berkebudayaan matriarchal agricultural yang berkebudayaan peribuan yang hidup dengan bertani. Bapa samawi atau Bapa surgawi adalah Tuhan tipikal orang-orang nomad yang hidup di padang rumput yang - pada gilirannya - tergantung kepada hujan dari langit. Ibu Bumi atau ibu Pertiwi adalah Tuhan
40
Kautsar Azhari Noer, Tasawuf Perenial…, h.39
41
Kautsar Azhari Noer, Tasawuf Perenial…, h.40
42
tipikal para petani yang hidup dari hasil tanah atau bumi. Dalam kebudayaan patriarchal pastoral, biasanya bapak dan langit dijadikan sebagai simbol Tuhan. Agama-agama Semitik lebih cenderung kepada kebudayaan tipe pertama, “Bukankah agama Semitik, karena diturunkan dari langit, sering disebut “agama-agama samawi43”.
Sekali lagi, dan ungkapan ini adalah simbol (yang menunjukkan). Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Di mata kaum monoteis, kekeliruan kaum polities terletak pada penuhanan mereka akan simbol-simbol, seperti langit, matahari, bulan dan bumi. Kaum polities tidak lagi sepenuhnya bertuhan kepada Tuhan, tetapi telah bertuhan kepada simbol-simbol44.
Pandangan Ibn Araby tentang “Tuhan Yang Sebenarnya”. Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat Tuhan, tidak diketahui dan tidak dapat diketahui oleh akal manusia. Karena Tuhan (Zat Tuhan) tidak dapat diketahui oleh siapa pun, maka Nabi saw. Melarang orang-orang beriman untuk memikirkan Tuhan. Beliau bersabda, “berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Zat Allah. Larangan ini
43
Menurut pandangan penulis, pengklasifikasian agama dalam dua kubu yakni “agama samawi
dan agama ardhi” tidak sepenuhnya tepat dan dapat diterima. Agama samawi yang biasa kita definisikan sebagai agama langit atau agama yang memiliki (dibawa oleh) Nabi atau Rasul Tuhan serta memiliki kitab suci, agama samawi lebih dianggap sebagai agama yang berasal dari Tuhan dan hanya diidentikkan dengan tiga agama besar yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam, sementara yang diluar ketiganya adalah agama ardhi. Sedangkan agama ardhi itu sendiri dianggap sebagai agama hasil budaya atau pemikiran dari tokoh-tokoh suci pencetus/pendirinya, misalnya saja pada agama Zoroaster, Buddha atau Kong Hu Cu. Mengapa penulis katakan kurang tepat, karena tidak ada satupun penganut agama yang akan menerima bila agamanya dianggap sebagai produk akal atau budaya – karena dengan demikian agama tersebut lalu dianggap jauh dari nilai holistik dan otentisitas keberasalannya dari Tuhan, sementara kita tahu bahwa pada ajaran Buddha dan Kong Hu Cu mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang sangat agung. Terlebih bila kita menyadari sebagai umat Islam yang mengimani al-Quran bahwa dengan tegas dikatakan “hanya beberapa dari jumlah nabi dan rasul yang dikisahkan dalam al-Quran” (124.000 nabi dan 313 rasul), sedang al- Quran juga menjelaskan bahwa pada setiap umat diutus seorang rasul. Dengan demikian kita menutup kemungkinan adanya kebenaran hanya karena agama, dan nabinya tidak tercantum dalam al-quran. Sedangkan secara lebih logis lagi, bagaimana mungkin Allah swt memperkenalkan keseluruhan umat dan para nabi-Nya kepada bangsa Arab yang pada saat itu tidak mengetahui keberadaan umat yang lain dikarenakan waktu dan tempat yang berbeda. Sehingga sangat tepat apabila setiap agama yang diturunkan akan disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi dan
pengetahuan umat pada saat itu. Kata ini lebih tepat (agama ardhi) bila disandarkan pada agama-
agama yang muncul setelah agama Islam, merujuk pada keyakinan bahwa nabi Muhammad saw adalah Rasul terakhir, sehingga dapat dipastikan bahwa agama setelah Islam bukan dibawa oleh seorang Nabi melainkan hanya orang-orang yang mengalami pengalaman spiritual luar biasa yang kemudian diyakininya benar sebagai agama.
44
diperkuat oleh ibn al-Arabi dengan firman Tuhan yang berbunyi, “Allah memperingatkan kalian tentang diri-Nya” (Q.S Ali Imran, 3:28)..” 45
Lebih lanjut Ibn al-Arabi menegaskan sebagai berikut :
“Berpikir (fikr) tidak mempunyai hukum dan daerah kekuasaan dalam (mengetahui dan memahami) Zat ah-Haqq, baik secara rasional maupun menurut syara’. Syara’ telah melarang berpikir tentang Zat Allah, inilah yang disinggung oleh firman-Nya,
“Allah memperingatkan kalian tentang diri-Nya,” (Q.S 3;28) yaitu “Jangan kamu berpikir tentang Zat-Nya! Larangan ini ditetapkan karena tidak ada hubungan antara Zat al-Haqq dan Zat
al-khalaq46”
Dari segi diri-Nya, Zat Tuhan tidak mempunyai nama, karena Zat itu bukanlah lokus efek dan tidak pula diketahui oleh siapapun. Tidak ada nama yang menunjukkannya yang terlepas dari hubungan dan tidak pula dengan pengukuhan. Nama-nama berfungsi untuk pemberitahuan dan pembedaan, tetapi pintu (untuk mengetahui Zat Tuhan) dilarang bagi siapapun selain Allah, karena tidak ada yang mengetahui selain Allah.
Ibnu Arabi mengecam orang-orang yang melanggar larangan berpikir tentang Zat Tuhan dan menuduh mereka telah menambah kesalahan dengan
al-khawd (melakukan upaya spekulasi besar-besaran dan serampangan). Ia memandang bahwa upaya mereka itu adalah sia-sia.
Dengan berkali-kali mengutip perkataan Abu Bakar r.a. Ibn ‘Arabi berkata, “(Ketidakmampuan mencapai pengetahuan adalah pengetahuan, al- ‘ajz ‘an dark al-idrak idrak). Ungkapan ini melukiskan tingkat tertinggi pengetahuan manusia tentang Tuhan dan segala sesuatu yang gaib dan tidak dapat diketahuinya. Orang mengetahui bahwa ia tidak dapat mengetahui Tuhan adalah orang yang secara benar mengetahui-Nya; itulah orang-orang yang bijak. Orang yang menganggap bahwa ia mengetahui Tuhan adalah orang yang tidak mengetahui-Nya; itulah orang-orang yang bodoh. Bukankah
45
Kautsar Azhari Noer, Tasawuf Perenial…, h.102
46
Tuhan telah berfirman, “Penglihatan tidak dapat mempersepsi-Nya (yaitu Tuhan), tetapi Dia mempersepsi semua penglihatan” 47
Demikianlah konsepsi mengenai Tuhan sepanjang sejarah manusia dan agama-agama selalu berbeda, namun tetap pada makna dan inti yang dimaksud atau dituju tersebut. Bentuk aktualisasi pengakuan keimanan (percaya kepada Tuhan dan sebagai manusia yang beragama) harus tercermin dalam dua hal yaitu, kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Dalam halnya mengenai kesalehan sosial ini, ada tiga cara yang harus dilakukan. Pertama.
Saling mengenal (ta’aruf), saling mengenal secara mendalam adalah saling mengerti dan saling memahami satu sama lain. Dengan demikian setiap orang bisa saling menghormati dan saling menghargai. Kedua, ta’alluf artinya menyatukan hati dan segenap perasaan. Perasaan saling menyayangi, perasaan senasib-sepenanggungan. Bisa juga dalam bentuk empati (menempatkan perasaan orang lain pada perasaan sendiri). Dengan demikian, perasaan iri, dengki, hasud dan benci akan sirna. Ketiga, ta’awun
(bekerjasama). Agama mengajarkan bahwa kerjasama yang dikehendaki adalah saling mendukung dan membantu dalam hal kebajikan dan takwa melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya48