• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Al-Islam, Titik Temu Agama-agama Semitik

BAB II KONTEKSTUALITAS MAKNA AGAMA

F. Kesatuan Transenden Agama-agama

6. Makna Al-Islam, Titik Temu Agama-agama Semitik

85

Fritjhof Schuon, Mencari Titik Temu Agama-agama…, h.111

86

Agama Ibrahim mengandung tiga unsur kepercayaan, yakni percaya kepada Tuhan, unsur etik berupa kebenaran dan keadilan, serta ritual. Unsur pertama yakni percaya kepada Tuhan, dalam hal ini Abrahamic Religions (agama Ibrahimistik) mengajarkan fondasi monotheistis yakni konsepsi dogmatis tentang keesaan Ilahi – non dualitas. Ajaran monoteisme yang berasal dari Ibrahim tersebut yang merupakan kelompok agama Semit, kemudian berkembang menjadi dua cabang yakni keturunan Ishaq dan keturunan Isma’il. Agama Ibrahim tersebut juga dikenal (dalam term al-Qur’an) dengan agama hanif, artinya agama fitrah yang mencerminkan keberagamaan manusia, kemudian diikuti dengan kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan yang disebut Muslim. Jadilah agama Ibrahim tersebut hanifan muslima87 yang menjadi dasar dari setiap agama monoteisme.

Ada satu tema besar yang mendominasi ajaran (course) agama Yahudi, yaitu kebenaran Tuhan (truth of God) yang tunggal pada tatanan sosial (social order) dialam. Ide ketuhanan tersebut berasal dari Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub berupa ajaran yang membawa kembali kepada masa-masa patriarch. Ide ini dihidupkan kembali oleh musa untuk menerangi Israel, karena itu Musa merupakan inagurator agama Israel yang membawa mereka kepada Tuhan yang sebenarnya88.

Ajaran kebenaran Tuhan tersebut dinyatakan dengan sepuluh perintah (Ten Commandment ) dalam Taurat/Perjanjian Lama,

87

Istilah hanif dan muslim berarti mengikuti kebenaran jalan hidup yang asli, primordial dan perennial, yang tidak berubah sepanjang masa. Itu semua berpangkal pada keyakinan fitrah manusia kepada Tuhan yang merupakan esensi semua agama yang lurus (al-Din al-Qayyim)... Lihat : Ajat Sudrajat, Tafsir Inklusif Makna Islam, (Yogyakarta : AK Group Yogya, 2004), Cet.1, h.108

88

kesepuluh perintah tersebut terdapat dalam Kitab keluaran (Exodus) 20 : 3, 5, 7, 8, 12, 13, 14, 15, 16 dan 17. Urutan kesepuluh firman Tuhan tersebut adalah :

1) Janganlah menyembah selain Allah (3)

2) Janganlah membuat dan menyembah patung berhala (4 dan 5)

3) Janganlah menyebut nama Allah dengan sia-sia (7) 4) Ingatlah hari Sabat [Sabtu] (8)

5) Hormatilah ayah dan ibu (12) 6) Janganlah membunuh (13) 7) Janganlah berzina (14) 8) Janganlah mencuri (15)

9) Jangalah mengucapkan saksi palsu tentang sesama (16) 10) Janganlah menginginkan rumah sesamamu, isterinya

dan barang-barang seluruhnya (17)89

Umat yahudi diwajibkan untuk tunduk dan patuh kepada ”Sepuluh Perintah Tuhan” tersebut. Ketundukan kepada Tuhan untuk menjalankan perintah-Nya itu dalam term al-Qur’an disebut dengan al-Islam. Kesepuluh perintah tersebut secara implisit dapat kita temukan dalam Q.S. al-An’am 151-153, sebagai berikut :

Katakanlah:"Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak,dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Rabbmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). (QS. 6:151)

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa'at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan

89

sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, (QS. 6:152) dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai- beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS. 6:153)90

Dari pernyataan ayat-ayat diatas dan sepuluh perintah Tuhan, maka dalam hal ini kita melihat adanya keterhimpunan yang diajarkan pada agama Yahudi dan Islam dalam hal hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal antar sesama manusia.

Ibadah merupakan realisasi dari ketundukan kepada Tuhan, peribadatan dalam agama Yahudi berupa ”selamatan” dan berkurban untuk mencapai keridhoan-Nya. Bentuk pengorbanan (ritual) pada umumnya dilakukan dengan melakukan korban diatas

mezbah (altar) yang kemudian korban itu dimakan oleh para peserta ritual (worshipper) tersebut. Dalam al-Qur’an (QS. Al- Baqarah :67-71)91 kita bisa temukan informasi perihal peribadatan

90

Departemen Agama RI, Alquran dan terjemahnya…, h.214-215

91

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata:"Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?". Musa menjawab:"Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil". (QS. 2:67) Mereka menjawab:"Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?". Musa menjawab:"sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". (QS. 2:68) Mereka berkata:"Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab:"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya". (QS.2:69)Mereka berkata:"Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk". (QS. 2:70) Musa berkata:"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya". Mereka berkata:"Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang

Yahudi dalam berkorban adalah perintah kepada Israel untuk menyembelih sapi betina.

Kata kunci dari hubungan timbal balik antara manusia dengan Tuhan dan antar sesama manusia dalam agama Yahudi adalah shalom, shalem, shelamim yang artinya kedamaian (peace). Kata ini berdekatan dengan kata salam dalam term al-Islam . Pengertian shalom atau kedamaian dan integritasnya dalam kehidupan yang penuh berkah, bisa menyentuh berbagai sektor baik ekonomi maupun politik melalui penguasa Israel92.

Dengan demikian ide monoteisme antara Yahudi dan Islam terletak pada konsepsinya tentang keesaan Tuhan dan ketundukan kepada perintah-perintah-Nya.

Sementara itu dalam hal teologi dan keimanan, agama Kristen mewarisi dari agama Yahudi. Teologi Perjanjian Baru dimulai dengan keyakinan yang sangat besar, yakni : Allah ada bahwa Dia menciptakan manusia dan terus memperhatikannya93 dalam Yohanes 4 : 24 disebutkan bahwa : ”Allah itu Roh dan barangsiapa yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenarannya”.

Ajaran teologi Kristen memang begitu dekat dengan istilah penyatuan roh Tuhan dan roh manusia. Oleh karenanya, untuk kemudian kita mengenal istilah Trinitas dalam teologi kristen. Konsepsi hubungan Tuhan dengan manusia dalam agama Kristen adalah bahwa manusia itu diciptakan dalam persamaan (likeness) Tuhan, karena itu manusia adalah bayangan (image) dan pujian-

sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. 2:71). Departemen Agama RI, Alquran dan terjemahnya…

92

Pernyataan kedamaian pada suatu bangsa berarti kondisi pemerintahan yang penuh dengan kedamaian dan keadilan. Keduanya merupakan tanggung jawab sentral dari para raja dan pembesar agama bangsa Israel. Kedamaian tersebut dibangun oleh Tuhan Yahweh, karena Tuhan sendiri Maha Damai dan Maha Penyelamat. Kondisi demikian telah dilakukan oleh raja Gedion sebagaimana disebutkan dalam kitab Hakim-Hakim 24 : 6

93

Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, terj. Lisda T Gamadhi, (Jakarta : PT.BPK Gunung Mulia, 1995), Cet.4, h.43

Nya. Kesamaan antara manusia dengan Tuhan berarti dalam kesucian dan kebenaran-Nya, kendatipun sebenarnya hal ini bersifat spiritual. Pengetahuan tentang Tuhan nampak dalam pewahyuan firman-Nya melalui roh suci, kemudian pada realitas dan keyakinan serta kepatuhan.

Selain mewarisi monoteisme Yahudi, agama kristen memiliki kekhususan tersendiri, keyakinan Kristen dimulai dengan mengkuduskan makna pribadi Yesus yang dipandang sebagai Kristus (penyelamat). Kepatuhan terhadap seruan Kristus merupakan iman (faith), dalam iman itu adalah keadilan Tuhan dan rahmat-Nya yang bisa diketahui. Iman merupakan determinasi tindakan manusia melalui esensi gereja (agama) yang diajarkan Yesus Kristus melalui pendekatan ”Tuhan pada manusia” (Human God)94

Hubungan manusia dengan ciri sebagai makhluk (creatureliness) Tuhan diekspresikan hanya dengan melalui keutuhan pesan Kristus. Dengan posisi Tuhan manusia sebagai makhluk yang berada pada kerajaan Allah, dan posisi Tuhan sebagai raja, maka manusia harus patuh dan tunduk pada perintah- Nya. Kepatuhan kepada Tuhan merupakan syarat mutlak bagi keinsafan manusia kepada-Nya. Hal itu bisa terjadi hanya jika seorang hamba melintasi jalan Tuhan dan berkeinginan unuk mengidentifikasi dirinya dengan Tuhan.

Hubungan antara manusia dan Tuhan dengan pengorbanan paling klimaks terdapat dalam pribadi Yesus. Yesus telah mengorbankan dirinya demi keselamatan orang banyak berupa penebusan dosa. Selama hidupnya Yesus mendasarkan agama pada prinsip cinta kasih. Prinsip ini dijadikan dasar dalam menafsirkan kembali hukum-hukum Taurat (Markus 12 :31; 2 : 23-28; 7 : 1-23,

94

Matius 22 : 40; 23 : 23; 5 : 17-58, dan Lukas 10 : 25-37). Yang paling mendasar terdapat pada Markus 12 :31, yaitu:

”Jawab Yesus : Hukum yang terutama ialah ; Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budimu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Dan hukum yang kedua ialah ; kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” 95

Inilah hakikat keberagamaan kristiani, nilai-nilai monoteisme serta pola relasi antara manusia dan Tuhan dan manusia antar sesama yang juga serupa dengan agama Yahudi dan Islam. Maka titik temu ketiga agama samawi ini merupakan pemahaman terhadap makna al-Islam itu sendiri yang artinya tunduk, patuh dan berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan96.

Untuk lebih dalam memaknai dan memahami istilah / konsepsi al-Islam itu sendiri, marilah kita merujuk pada QS. Ali Imran : 83, 84 dan 85 mengenai struktur kata yang digunakan al- Qur’an dalam pengungakapan term al-Islam.

ﺮﻴﻐﹶﻓﹶﺃ

ﹺﻦﻳﺩ

ِﷲﺍ

ﹶﻥﻮﻐﺒﻳ

ﻪﹶﻟﻭ

ﻢﹶﻠﺳﹶﺃ

ﻦﻣ

ﻲﻓ

ﺕﺍﻭﺎﻤﺴﻟﺍ

ﹺﺽﺭَﻷﹾﺍﻭ

ﺎﻋﻮﹶﻃ

ﻭ

ﺎﻫﺮﹶﻛ

ﻪﻴﹶﻟﹺﺇﻭ

ﹶﻥﻮﻌﺟﺮﻳ

ﺎﻨﻣﺍَﺀﹾﻞﹸﻗ

ِﷲﺎﹺﺑ

ﹶﻝﹺﺰﻧﹸﺃﺂﻣﻭ

ﺎﻨﻴﹶﻠﻋ

ﹶﻝﹺﺰﻧﹸﺃﺂﻣﻭ

ﻰﹶﻠﻋ

ﻢﻴﻫﺍﺮﺑﹺﺇ

ﻋﺎﻤﺳﹺﺇﻭ

ﹶﻞﻴ

ﻕﺎﺤﺳﹺﺇﻭ

ﺏﻮﹸﻘﻌﻳﻭ

ﻁﺎﺒﺳَﻷﹾﺍﻭ

ﻲﺗﻭﹸﺃﺂﻣﻭ

ﻰﺳﻮﻣ

ﻰﺴﻴﻋﻭ

ﹶﻥﻮﻴﹺﺒﻨﻟﺍﻭ

ﻦﻣ

ﻢﹺﻬﺑﺭ

ﹶﻻ

ﻕﺮﹶﻔﻧ

ﻦﻴﺑ

ﺪﺣﹶﺃ

ﻢﻬﻨﻣ

ﻦﺤﻧﻭ

ﻪﹶﻟ

ﹶﻥﻮﻤﻠﺴﻣ

ﻦﻣﻭ

ﹺﻎﺘﺒﻳ

ﺮﻴﹶﻏ

ﹺﻡﹶﻼﺳِﻷﹾﺍ

ﺎﻨﻳﺩ

ﻦﹶﻠﹶﻓ

ﹶﻞﺒﹾﻘﻳ

ﻪﻨﻣ

ﻮﻫﻭ

ﻲﻓ

ﺓﺮﺧَﻷﹾﺍ

ﻦﻣ

ﻦﻳﹺﺮﺳﺎﺨﹾﻟﺍ

”Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa

95

Ajat Sudrajat, Tafsir Inklusif Makna Islam...,h.133-134

96

Dalam agama Kristen tidak dikenal istilah tertentu yang berdekatan dengan makna istilah Shalom/Salam atau al-Islam/Shalem tersebut, baik secara literal maupun maknawi namun esensi ajaran Kristen tentang ketauhidan tidaklah berbeda yang kemudian diimplementasikan

dalam konsep cinta kasih. Sehingga dengan demikian konsep aal-Islam sudah inheren dan terdapat

yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (QS. 3:83) Katakanlah:"Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan anak- anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri". (QS. 3:84) Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. 3:85)”97

Pada ayat diatas (QS. Ali Imran : 83), penyebutan al-Islam

(berserah diri), diungkapkan dengan bentuk kata kerja lampau (fi’il madhi), aslama. Hal ini berarti al-Islam merupakan suatu proses melakukan “berserah diri”. Dalam ayat berikutnya (QS. Ali Imran : 84), makna al-Islam diungkapkan dalam bentuk kata sifat (isim fa’il) yang merujuk pada personalitas dalam bentuk jamaknya,

muslimun. Hal ini berarti al-Islam mengacu kepada orang-orang yang mempunyai sifat keberagamaan yang dimaksud yaitu yang menyerahkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa. Pada ayat selanjutnya (QS. Ali Imran : 85),makna al-islam diungkapkan dalam bentuk kata benda (mashdar) al-Islam itu sendiri. Penafsiran yang biasa digunakan adalah agama Islam. Yaitu suatu agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Pemaknaan dalam bentuk kata benda ini memposisikan al-Islam yang sebelumnya adalah sikap dan sifat menjadi suatu golongan yang dibakukan dalam bentuk agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Sehingga kita bisa melihat dengan jelas pola pengkhususan yang diungkapkan, namun demikian makna al-Islam dalam bentuknya sebagai kata kerja dan kata sifat tetap tidak kehilangan esensinya. Ini berarti bahwa sikap

al-Islam dan sifat al-Islam tetap terkandung meski pada orang- orang yang diluar al-Islam dalam bentuk kata benda. Karena walau

97

bagaimanapun agama yang dianut para nabi dan umat-umat yang mengikuti ajarannya adalah al-Islam (pada tataran nilai religiusnya), hanya saja belum diungkapkan dalam bentuk khususnya (sebagai kata benda). Sehingga Al-Islam adalah agama untuk orang-orang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt. Secara prinsipil dan garis besar bahwa term al-islam adalah hakikat keberagamaan manusia, karena ia adalah fitrah itu sendiri.

Al-Islam merupakan etika kebaikan universal. Dalam konteks ini tidak ada perbedaan antara agama-agama semitik yang telah disebutkan diatas. Karena semua agama menjunjung tinggi etika. Dengan kata lain al-Islam adalah petunjuk Allah kepada manusia, bagi siapa saja yang ingin berserah diri kepada-Nya dengan mentaati aturan-aturan agama yang dimilikinya dan menjaga kelestarian hidup dimuka bumi, merekalah orang-orang yang disebut hanif dan muslim.

Schuon membuat definisi menarik tentang Islam. Baginya Islam adalah ”pertemuan antara Allah sebagaimana adanya dengan manusia sebagaimana adanya”98 yang dimaksudkan dengan Allah sebagaimana adanya bukanlah Allah seperti yang dimanifestasikan- Nya sendiri dengan cara tertentu, tetapi Allah yang bebas dari sejarah, dan oleh karena itu sebagaimana Dia adalah Dia dan sebagaimana oleh karena sifat-Nya, Dia menciptakan alam semesta dan mewahyukan agama. Artinya bila berbicara mengenai Allah, maka samalah artinya berbicara mengenai “eksistensi”, ”penciptaan alam semesta” dan ”agama” atau dengan kata lain mengenai ”realitas”, ”manifestasi” dan ”reintegrasi”.

Kemudian yang dimaksudkan dengan manusia sebagaimana adanya bukanlah sebagai makhluk yang terjatuh dari surga dan memerlukan keajaiban untuk menyelamatkan dirinya, tetapi

98

Hamid Nasuhi, Frithjof Schuon dan Filsafat perennial, dalam jurnal : REFLEKSI; Jurnal kajian Agama dan Filsafat, (Jakarta : Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2002), Vol.IV, No.2, h. 89

sebagai manusia, dia adalah makhluk theomorfis yang memiliki intelegensi sehingga dapat memahami Yang Mutlak dan memiliki kehendak, sehingga dapat memilih jalan menuju kepada Yang Mutlak. Dengan demikian berbicara mengenai manusia, sama artinya berbicara mengenai ”theomorfisme”, ”intelegensi transenden” dan ”kebebasan berkehendak”. Semua inilah yang menurut Schuon merupakan dasar-dasar dari perspektif Islam; dasar-dasar inilah yang kemudian menerangkan perspektif tersebut, dan dasar-dasar ini jangan sampai dilupakan oleh orang-orang yang ingin memahami setiap aspek tertentu dari Islam.

Menurut Schuon, dalam esensinya, Islam merupakan kebenaran dan hukum. Sebagai kebenaran dan hukum, Islam hendak memberi jawaban kepada Intelegensi dan kehendak bebas manusia sehingga ia bisa lepas dari ketidakpastian dan keragu- raguan, yang pada gilirannya menghilangkan kesalahan dan dosa. Oleh sebab itu, doktrin yang paling fundamental dalam Islam adalah syahadat (kesaksian). Bagian pertama syahadat, La ilaha illa Allah, merupakan kesaksian mengenai kebenaran eksistensial Tuhan (Allah), dan ini menjadi pengakuan iman yang menetapkan intelegensi manusia. Bagian kedua, Muhammad rasul Allah, yang berkenaan dengan Nabi Muhammad merupakan refleksi dari kesaksian terhadap hukum Islam (syari’ah) yang menetapkan kehendak dan aksi manusia99

Karena manusia adalah intelegensi Transenden dan kebebasan berkehendak, lanjut Schuon, maka intelegensi dan kehendak atau transendensi dan kemerdekaan inilah yang menyelamatkannya. Intelegensi ini tidak lain daripada pengetahuan mengenai Yang Esa, atau Yang Mutlak, dan mengenai ketergantungan segala sesuatu kepada-Nya. Dan kehendak adalah

al-Islam, atau kesesuaian dengan yang dikehendaki oleh Allah.

99

Ditambah dengan al-Ihsan – yang arti harfiahnya adalah ”kebajikan” – yang manifestasinya adalah ”mengingat Allah”.

Sebagaimana agama-agama lain, Islam juga memiliki substansi dan bentuk. Dalam pandangan Schuon, Islam menyebar keseluruh dunia bagaikan kilat berkat substansinya, dan penyebarannya terhenti dikarenakan bentuknya. Substansi mempunyai hak-hak yang tidak terbatas, sebab ia lahir dari Yang mutlak, sedangkan bentuk adalah relatif dank arena itu hak-haknya terbatas100 Tentang hal ini, Schuon memaparkan sebuah analogi dari perjalanan historis antara Kristen dan Islam:

Jika Tuhan benar-benar ingin menyelamatkan dunia melalui agama Kristen dan bukan dengan sarana lain, maka mustahil untuk menjelaskan mengapa beberapa abad kemudian, ketika agama Kristen belum berhasil memantapkan kedudukannya di Eropa, Dia membiarkan agama lain – Islam – menumbuhkan dirinya justru didalam wilayah-wilayah dimana pahala Kristen telah diusahakan untuk dimasukkan sehingga dengan demikian tertutup dan terkuncilah untuk selamanya pintu untuk menyebarkan agama Kristen ke Timur. Sebaliknya, jika kedatangan Islam menandakan bahwa seluruh dunia hendaknya memeluk agama ini, maka tidak akan dapat dijelaskan mengapa Tuhan menutup hati manusia dengan perasaan Kristen, dan membuat dunia Barat tidak dapat ditembus oleh pesan yang dibawa Muhammad”

101

Yahudi, Kristen dan Islam memiliki kumpulan wahyu ilahiah yang sama, dalam bentuk-bentuk aslinya, ketiganya dapat dipandang tidak hanya sebagai satu tradisi agama, tetapi juga sebagai satu agama. Hal ini sendiri diucapkan secara berulang- ulang dan gamblang didalam al-Quran, ketika Tuhan mengatakan bahwa agama yang ditetapkan pada Nabi Muhammad adalah agama yang sama ditetapkan Tuhan kepada nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran :

100

Hamid Nasuhi, Frithjof Schuon dan Filsafat perennial…, h.90

101

ﻪﹺﺑ ﺎﻨﻴﺻﻭﺎﻣﻭ ﻚﻴﹶﻟﹺﺇ ﺂﻨﻴﺣﻭﹶﺃ ﻱﺬﱠﻟﺍﻭ ﺎﺣﻮﻧ ﻪﹺﺑ ﻰﺻﻭﺎﻣ ﹺﻦﻳﺪﻟﺍ ﻦﻣ ﻢﹸﻜﹶﻟ ﻉﺮﺷ

ﻰﹶﻠﻋ ﺮﺒﹶﻛ ﻪﻴﻓ ﺍﻮﹸﻗﺮﹶﻔﺘﺗﹶﻻﻭ ﻦﻳﺪﻟﺍ ﺍﻮﻤﻴﻗﹶﺃ ﹾﻥﹶﺃ ﻰﺴﻴﻋﻭ ﻰﺳﻮﻣﻭ ﻢﻴﻫﺍﺮﺑﹺﺇ

ﺘﺠﻳ ُﷲﺍ ﻪﻴﹶﻟﹺﺇ ﻢﻫﻮﻋﺪﺗﺎﻣ ﲔﻛﹺﺮﺸﻤﹾﻟﺍ

ﺐﻴﹺﻨﻳ ﻦﻣ ﻪﻴﹶﻟﹺﺇ ﻱﺪﻬﻳﻭ ُﺀﺂﺸﻳ ﻦﻣ ﻪﻴﹶﻟﹺﺇ ﻲﹺﺒ

)

ﻯﺭﻮﺸﻟﺍ

:

١۳

(

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya.Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. 42:13)102

102

Dokumen terkait