• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONTEKSTUALITAS MAKNA AGAMA

F. Kesatuan Transenden Agama-agama

5. Monoteisme Ibrahim

ﻢﻴﻫﺍﺮﺑﹺﺇ ﹶﺔﱠﻠﻣ ﻊﺒﺗﺍﻭ ُﻦِﺴﺤﻣ ﻮﻫﻭ ِﷲ ﻪﻬﺟﻭ ﻢﹶﻠﺳﹶﺃ ﻦﻤﻣ ﺎﻨﻳﺩ

ﹰﻼﻴﻠﺧ ﻢﻴﻫﺍﺮﺑﹺﺇ ُﷲﺍ ﹶﺬﺨﺗﺍﻭ ﺎﹰﻔﻴﹺﻨﺣ

)

ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ

:

١٢٥

(

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”. (QS. An-Nisaa 4:125)78

ﹶﻛ ﻰﹶﻟﹺﺇ ﺍﻮﹶﻟﺎﻌﺗ ﹺﺏﺎﺘﻜﹾﻟﺍ ﹶﻞﻫﹶﺃﺎﻳ ﹾﻞﹸﻗ

ﹶﻻﻭ َﷲﺍ ﱠﻻﹺﺇ ﺪﺒﻌﻧ ﱠﻻﹶﺃ ﻢﹸﻜﻨﻴﺑﻭ ﺎﻨﻨﻴﺑ ٍﺀﺁﻮﺳ ﺔﻤﻠ

ﺍﻮﹸﻟﻮﹸﻘﹶﻓ ﺍﻮﱠﻟﻮﺗ ﻥﹺﺈﹶﻓ ِﷲﺍ ﻥﻭﺩ ﻦﻣ ﺎﺑﺎﺑﺭﹶﺃ ﺎﻀﻌﺑ ﺎﻨﻀﻌﺑ ﹶﺬﺨﺘﻳ ﹶﻻﻭ ﺎﹰﺌﻴﺷ ﻪﹺﺑ ﻙﹺﺮﺸﻧ

ﹶﻥﻮﻤﻠﺴﻣ ﺎﻧﹶﺄﹺﺑ ﺍﻭﺪﻬﺷﺍ

)

ﻥﺍﺮﻤﻋ ﻝﺍ

:

٦٤

(

Katakanlah:"Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah.Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang- orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Ali Imran 3:64)79

77

Proses pelembagaan perilaku keagamaan jelas diperlukan antara lain berfungsi untuk mengawetkan ajaran agama dan juga berfungsi bagi pembentukkan karakter pemeluknya dalam rangka membangun masyarakat ideal menurut pesan dasar agama. Tetapi ketika tradisi agama secara sosiologis mengalami reifikasi atau pengentalan, maka bisa jadi spirit agama yang paling "hanif7 lalu terkubur oleh simbol-simbol yang diciptakan dan dibakukan oleh para pemeluk agama itu sendiri. Pada tarap ini sangat mungkin orang lalu tergelincir menganut dan meyakini agama

yang mereka buat sendiri, bukan lagi agama yang asli, meskipun yang bersangkutan tidak

menyadari. (Lihat : Komarudin Hidayat, Muhamad Wahyuni Nafis, agama Masa Depan,

Perspektif Filsafat perennial…, h.6)

78

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya..., h.142

79

Kita akan membahas secara menyeluruh masalah homogenitas rohani dan siklus perkembangan agama monoteisme yang mencakup Yahudi, Kristen dan Islam, yang pada hakikatnya didasarkan pada konsepsi dogmatis tentang keesaan Ilahi. Jika kita katakan bahwa konsepsi ini bersifat dogmatis, pernyataan itu bermaksud menunjukkan konsepsi tadi disertai sikap yang menolak pandangan lain. Tanpa sikap tersebut, yang merupakan pembenaran bagi semua dogma, tidak mungkin ada penerapan eksoteris.

Dari segi berbagai bentuk konsepsi itu saling bertentangan, namun dari segi ajaran metafisik atau kerohanian murni, rumusan- rumusan yang kelihatannya saling bertentangan sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain atau saling terkait.

Agama monoteistis pada mulanya merupakan agama orang semit, yang berasal dari Ibrahim, berkembang lebih lanjut menjadi dua cabang, yakni keturunan Ishak dan keturunan Ismail80. Baru pada zaman Musa monoteisme ini mengambil bentuk Yahudi. Pada saat agama Ibrahim mulai luntur dikalangan keturunan nabi Ismail, Musa lah yang terpanggil mengembangkan monoteisme tersebut. Musa menghubungkan monoteisme dengan bangsa Israel, yang karena itu ia menjadi pelindungnya. Tetapi, betapapun pentingnya adaptasi tadi yang juga sesuai dengan kehendak Ilahi, tindakan ini juga menyebabkan terjadinya pembatasan dalam bentuk lahiriah, karena kecenderungan pengkhususan yang ada pada setiap bangsa. Karena itu dapat dikatakan bahwa agama Yahudi mengambil alih monoteisme dan menjadikannya milik bangsa Israel. Akibatnya sejak saat itu warisan Ibrahim dalam bentuk ini tidak dapat dipisahkan dari semua adaptasi lebih lanjut dan dari semua

80

Fritjhof Schuon, Mencari Titik Temu Agama-agama, terj. The Trancendent Unity of Religions, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1994), Cet.2, h.104

konsekuensi ritual dan sosial yang terkandung dalam hukum Musa81.

Akibat tersalur dan terkristalnya monoteisme dalam agama Yahudi, maka mulai saat itulah monoteisme memiliki ciri historis- eksoteris. Ciri historis agama Yahudi mempunyai konsekuensi yang sebelumnya tidak ditemukan dalam monoteisme asli, paling kurang bukan dalam bentuk yang sama. Itulah paham messianis, dan karena itu ia dikaitkan dengan tradisi Musa82. Beberpa tinjauan mengenai monoteisme asli beserta adaptasinya yang dilakukan nabi Musa, penerapannya dalam agama yahudi dan perwujudannya dalam paham mesianis, cukup memungkinkan kita melangkah lebih jauh guna membahas peranan organis yang dimainkan agama kristen dalam perkembangan monoteisme selanjutnya. Karena itu dapat dikatakan bahwa pada gilirannya, agama Kristen menyerap semua warisan ajaran monoteisme menjadi peneguh akan messias, karena agama Kristen adalah buah yang absah dari bentuk agama Yahudi. Karena sang messias harus mewujudkan kehendak Ilahi yang merupakan sumber monoteisme dalam dirinya sendiri, tentu saja Ia harus mengatasi bentuk yang tidak memungkinkannya mewujudkan kehendak Ilahi itu sepenuhnya.

Telah kita katakan bahwa pribadi messias merupakan ”avataris” menyerap seluruh ajaran monoteistis. Ini berarti kristus bukan hanya akhir agama yahudi yang historis, paling tidak dari segi dan ukuran tertentu, melainkan juga bahwa pribadi messias adalah dukungan terhadap monoteisme. Tetapi kenyataan historis yang amat jelas tentang adanya Kristus itu pada gilirannya mengandung konsekuensi terbatasnya bentuk agama tersebut (agama kristen). Hal ini dapat dilihat dalam bentuk agama Yahudi, dimana Israel memainkan peranan yang kemudian berpindah ke

81

Fritjhof Schuon, Mencari Titik Temu Agama-agama…, h.105

82

messias, yakni penerapan yang seharusnya bersifat terbatas ditinjau dari sudut perwujudan monoteisme secara utuh. Disinilah agama Islam masuk, dan menjadi tugas kita menelaah kedudukan dan peranannya yang penting dalam perkembangan monoteisme83

Perkembangan ajaran Ibrahim tentang monoteisme hingga mengambil bentuknya dalam agama-agama (Yahudi, kristen dan Islam), bukanlah sebagai bentuk penghapusan atau pembatalan. Yang perlu dipahami adalah, meskipun adanya pembatalan yang dijelaskan dalam kitab suci, pembatalan tersebut tidak lain adalah penjelasan tentang penyimpangan yang dilakukan kaum monoteisme sehingga pembatalan tersebut bersifat relatif, sedangkan inti hakikat agama Ibrahim itu sendiri adalah mutlak karena bersifat Ilahi. Itulah sebabnya dalam tiga agama besar tersebut sama-sama memiliki posisi yang absah dalam hal kepemilikannya terhadap agama Ibrahim, serta memiliki posisi yang sama dalam hal esensi ajaran monoteisme, karena ketiganya merupakan geneologi yang saling melengkapi (geneologi historis dan ajaran yang sama).

Pada agama Yahudi dan Kristen, monoteisme menampakkan dua wajah yang saling bertentangan. Keduanya dirangkum oleh Islam dengan menyelaraskan pertentangan tersebut dalam satu sintesis. Inilah yang menandai berakhirnya perkembangan dan perwujudan integral monoteisme. Dengan kata lain penyelarasan Yahudi dan kristen dalam Islam dalam arti tertentu yakni mengembalikan kepada monoteisme murni ibrahim84. Monoteisme yang diwahyukan kepada ibrahim mempunyai keseimbangan yang sempurna antara asoterisme dan eksoterisme, dan sampai taraf tertentu memiliki kesamaan primordial, walaupun masalahnya disini hanya menyangkut primordialitas dalam hubungan dengan

83

Fritjhof Schuon, Mencari Titik Temu Agama-agama…, h.107

84

sejumlah bangsa Semit. Dapat dikatakan, pada nabi Musa eksoterisme menjadi agama dalam arti bhwa eksoterisme itu memberi petunjuk pada agama tanpa mempengaruhi hakikatnya. Pada Kristus sebaliknya esoterismelah yang pada gilirannya memberi bentuk kepada agama tanpa mempengaruhi hakikatnya. Pada Muhammad, keseimbangan semula dipulihkan kembali, dan siklus perkembangan monoteisme pun berakhir85.

Sudah seharusnya setiap agama merupakan suatu adaptasi, dan adaptasi mengandung pengertian adanya pembatasan. Jika berbagai agama metafisik murni merupakan suatu adaptasi, demikian pula halnya beragam agama eksoteris, yang merupakan rangkaian adaptasi demi kepentingan mentalitas yang lebih terbatas. Pembatasan perlu ada pada bentuk-bentuk agama asli. Tidak dapat dielakkan, berbagai pembatasan itu tampak dalam proses perkembangan bentuk-bentuk tersebut, dan menjai semakin nyata pada akhir pekembangannya, yang ikut ditentukan oleh pembatasan bentuk agama itu sendiri. Jika beragam pembatasan itu diperlukan demi kehidupan agma tersebut.konsekuensinya, agama- agama itu walau bagaimanapun juga akan tetap terbatas. Ajaran heterodoks ini sendiri adalah konsekuensi tidak langsug dari kebutuhan akan pembatasan bentuk agama, dan untuk memberinya batas sesuai dengan taraf kemajuan yang dicapai dalam abad gelap86. Bahkan simbol-simbol suci pun demikian halnya. Karena hanya hakikat tak berhingga, abadi dan tanpa bentuklah yang secara absolut bersifat murni dan tidak dapat diubah, dan karena sifat-Nya yang Adikodrati harus dinyatakan, baik melalui diluluhkannya bentuk-bentuk yang ada maupun melalui sinar-Nya yang dipancar melalui beragam bentuk tadi.

Dokumen terkait