Agatharchides menerangkan tentang kuil lain dekat Ilat di daerah teluk Aqaba. Daerah ini
merupakan tempat tinggal suku Batmizomaneis. Agatharchides menekankan bahwa kuil tersebut, dengan kata²nya sendiri, “dijunjung tinggi oleh semua orang Arab.” [20]
[20] Dari buku ke-5 Agatharchides dari Cnidus, on the Erythraean Sea, petikan dari Photius, Bibliotheca, dikutip dari Burstein, hal. 53 - bagian 92b
Banyak Muslim yang mengatakan bahwa kuil yang disebut Agatharchides adalah Ka‟bah di Mekah. Untuk mengetahui letak kuil itu secara tepat, mari kita simak penjelasan Agatharchides, seperti yang dilaporkan oleh Photius dan Diodorus. Agatharchides menerangkan daerah utara kuil tersebut, termasuk Natasia di sekitar Teluk Aqaba, yang dulu dikenal sebagai Teluk
88 |Islam Ditinjau dari Pengamatan Sejarah [http://www.buktidansaksi.com] Laeanites. Agatharchides berkata:
Di dekat Teluk Laeanites terdapat banyak desa milik masyarakat Arab Nabasia. Mereka
menghuni sebagian besar daerah pantai dan bukan hanya daerah kecil saja, dan penduduk mereka sangat banyak, begitu pula ternak mereka yang jumlahnya sungguh luar biasa banyaknya. Di jaman kuno mereka hidup sederhana dan merasa puas dengan nafkah yang didapat dari ternak mereka, tapi kemudian, setelah raja² Alexandria membuat daerah teluk dapat dilayari untuk perdagangan, mereka menyerang para pelayar yang perahunya rusak. Mereka juga membangun perahu² bajak laut dan merampoki para pelaut, menyamai keganasan dan keliaran orang² Tauri di Pontus. Tapi kemudian mereka ditangkap oleh pasukan angkatan laut dan dihukum sesuai
perbuatannya. Setelah itu daerah yang dikenal sebagai Teluk Laeanites, di mana masyarakat Arab hidup di sekitarnya, menjadi tanah orang² Bythemaneas.
Peta yang menunjukkan tempat tinggal orang² Bythemaneas.
Perhatikan bahwa tanah Bythemaneas berhubungan ke selatan dengan daerah Nabasia, dekat Teluk Aqaba. Musil, seorang ilmuwan tenar Arabia, menyatakan bahwa tanah ini merupakan “bagian lebih rendah dari Wadi al-Abjaz, yang disebut Wadi al‟efal (iii), yang merupakan sebuah dataran rendah selebar 50kmx20km sebelah timur Teluk Aqaba.” [21] Penjelasan Agatharchides berlanjut:
89 |Islam Ditinjau dari Pengamatan Sejarah [http://www.buktidansaksi.com] [21] Musil, hal. 303
Di sebelah bagian pantai ini adalah teluk yang menyentuh bagian dalam negeri ini sejauh tidak kurang dari lima ratus stade (kira² 91.44 km). Orang² yang menghuni daerah di dalam daerah teluk ini disebut sebagai orang² Batmizomani dan mereka adalah para pemburu binatang darat. Satu stade atau stadia, menurut sistem Eratosthenes, adalah sekitar 1/10 mil (sistem Inggris), sehingga panjang tanah masyarakat Bythemania ini hanya sekitar 50 mil. Dia mengatakan tempat penduduk Batmizomani di dalam bagian teluk, seperti pernyataannya, “Orang² yang menghuni daerah di dalam daerah teluk ini disebut sebagai orang² Batmizomani.” Maksudnya adalah orang² yang hidup di dalam daerah teluk Laenites, yang merupakan nama lama Teluk Aqaba. Keterangan Diodorus ini sama dengan keterangan Photius karena keduanya mengutip dari buku ke-5 Agatharchides On the Erythraean Sea. Diodorus menulis:
Masyarakat yang hidup di negara di tepi teluk disebut sebagai orang² Banizomenes, yang
mencari nafkah dari berburu dan makan daging binatang darat. Sebuah kuil suci didirikan di sana dan dianggap suci oleh seluruh masyarakat Arab.
Pothius dan Diodorus menyatakan masyarakat Banizomenes (atau Batmizomaneis) tinggal dekat Teluk Laenites atau Teluk Aqaba, yang jauhnya bermil-mil dari Mekah yang saat itu belum dibangun. Mekah adalah pusat Arabia barat, sangat dekat Yaman. Kedua penulis juga menulis tentang daearah selatan lainnya, yang merupakan daerah Thamud. Mereka mengatakan, “setelah daerah ini, terdapat daerah masyarakat Arab Thamoudeni.” [23] Dalam sejarah, suku Thamud tertulis menghuni bagian Arabia utara dekat Teluk Aqaba; dan mereka tak pernah mencapai daerah selatan dekat lokasi Mekah kemudian. Maka dari itu, kuil yang disebut Diodorus terletak di daerah Thamud dan kota Petra, di lokasi daerah Teluk Aqaba.
[23] Dari buku jilid ke- 5 Agatharchides of Cnidus, on the Erythraean Sea, diambil dari Photius, Bibliotheca, dikutip oleh Burstein, hal. 150-155-bagian 90 a- 95a ; dari buku ke-5 Agatharchides of Cnidus, on the Erythraean Sea, diambil dari Diodorus, Library of History, dikutip oleh Burstein, hal. 150-155 – bagian 91b-93b
Setelah Potius menyebut daerah Thamud, dia menyebut daerah di sebelah selatan Thamud. [24] Para ahli menyebut daerah ini sebagai bagian dari pantai antara Ras karama (25 54 N, 36 39 E) dan Ras Abu Madd (24 50 N, 37 08 E). [25] Ras Abu Madd terletak 450 km (280 mil) utara Mekah. Penyelidikian yang terperinci ini menunjukkan dengan jelas bahwa kuil yang disebut Diodorus terletak di daerah Teluk Aqaba, sebelah utara daerah Thamud, dan tidak mungkin adalah kuil Ka‟bah di Mekah.
[24] Dari buku ke 5 of Agatharchides of Cnidus, on the Erythraean Sea, diambil dari Photius, Bibliotheca, dikutip oleh Burstein, hal. 155-bagian 95a
Nonnosus, penulis klasik lainnya, tampaknya juga membicarakan kuil yang sama, di tempak yang samayang terletak dekat Petra. Kuil ini dibangun untuk menyembah para dewa Arab. Nonnosus berkata:
Kebanyakan masyarakat Sarasen, menganggap daerah pegunungan Phoinikon dan Taurenian sebagai tempat keramat yang dipersembahkan bagi dewa tertentu dan mereka berkumpul di sana dua kali setahun. [26]
90 |Islam Ditinjau dari Pengamatan Sejarah [http://www.buktidansaksi.com]
Masyarakat Sarasen disebut oleh Pliny dalam bukunya yang berjudul Natural History (Sejarah Alam), Buku V, bab 12, sebagai masyarakat yang hidup di Teluk Aqaba, tak jauh dari kota Petra. Crone mempelajari lokasi dan suku² yang mendirikan kuil ini. Crone menyatakan lokasi kuil di bagian utara Teluk Aqaba. Masyarakat Sarasen tinggal di sebelah utara Arabia. Karena
pegunungan Taurenian adalah Jabal Tayyi‟, maka tempat keramat itu terleka di bagian utara Teluk Aqaba. [27] Dengan begitu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Nonnosus berbicara tentang kuil yang sama seperti yang disebut oleh Diodorus.
[27] Crone, hal. 197
Diodorus mengatakan bahwa kuil ini dibangun untuk menghormati dewa² Arab. Keterangan sejarawan dan geografer Yunani tentang kuil ini sangatlah penting. Mereka mengatakan kuil ini dianggap suci oleh semua masyarakat Arab. Para peneliti Yunani memang terkenal sangat teliti dalam menjabarkan keberadaan kuil, di daerah manapun.
Dengan ketelitian seperti itu, tidaklah mungkin para peneliti Yunani ini bisa sampai teledor tidak menyebutkan tentang Ka‟bah di Mekah jika memang kuil itu sudah ada di jaman tersebut, seperti klaim umat Muslim.
Para ahli sejarah jaman sekarang juga yakin bahkan masyarakat Quraysh (suku asal Muhammad) juga berziarah setiap tahun ke arah utara untuk mengunjungi kuil tersebut. Ada banyak bukti bahwa orang² Quraysh tidak menghiraukan kuil Ka‟bah dan malahan melakukan ibadah haji ke utara. Wellhausen mengutip perkataan al-Kalbi, “orang² akan melakukan ibadah haji dan
menyebar, meninggalkan Mekah sehingga jadi sepi.” [28] Dalam pemikiran mereka, kuil lain di utara lebih penting peranannya daripada Ka‟bah di Mekah.
[28] Catatan oleh Wellhausen, Reste, hal. 92, dikutip oleh Crone, hal. 197
Ayat² Qur‟an menjelaskan bahwa warga Mekah seringkali melakukan perjalanan jauh, tapi lalu Qur‟an menghentikan kegiatan ini. Muhammad juga melarang orang untuk melakukan ibadah haji di luar Mekah, setelah dia menaklukkan Mekah. Orang² Quraysh sering berziarah ke Taif di musim panas. Hal ini dikatakan oleh Ibn Abbas, dan dikutip Tabari. [29] Tempat ziarah lainnya kemungkinan adalah kuil di sebelah utara.
[29] Ibn Abbas in Tabari, Jami', xxx,171, dikutip oleh Crone, hal. 205
Penyelidikan Agatharchides, dan juga penyelidikan² lainnya menunjukan fakta yang jelas bahwa Mekah dan Ka‟bah belum dibangun di abad ke-3 dan 2 SM. Meskipun nantinya Ka‟bah
dibangun ratusan tahun kemudian di jaman Masehi, kuil ini merupakan kuil lokal saja. Suku Muhammad seringkali melakukan ziarah bersama suku² Arab lainnya ke kuil yang terletak di sebelah utara Arabia.
Dengan begitu tidaklah benar pernyataan umat Muslim bahwa Mekah dibangun oleh Abraham dan Ishmael sebagai pusat agama monotheistik di Arabia.