Muhammad rupanya mengunjungi teman² Kristen Bizantiumnya, termasuk diantaranya adalah Jabir. Kita baca di Siradari Ibn Hisham tentang hal ini:
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seringkali duduk di Marwa, tepatnya di tempat dagang anak muda Kristen yang bernama Jabir. Ia budak milik Ibnu Al-Hadhrami. Orang-orang Quraisy berkata, 'Demi Allah, Muhammad tidak diajari banyak hal yang ia bawa kecuali oleh Jabr, budak milik Ibnu Al-Hadhrami.' [44]
[44] Ibn Hisham 2, hal. 26
Pernyataan orang² itu bukannya tak beralasan. Mengapa Muhammad duduk dengan budak
miskin itu sepanjang hari, padahal dia benci budak²? Dia mengatakan bahwa seorang budak tidak bisa bersaksi di pengadilan kecuali dia dipukuli. [45] Jika seorang umatnya ingin memerdekakan seorang budak, Muhammad melarang dan menganjurkan umatnya untuk menjual budak itu dan bukannya memerdekakan. [46] Tapi sekarang ada seorang budak Kristen yang tak pernah jadi Muslim, dan Muhammad meluangkan waktu untuk menjenguknya setiap hari. Muhammad-lah yang mendatangi Jabir dan bukan sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa Jabir merupakan sumber keterangan yang penting bagi Muhammad tentang Alkitab, doktrin Kristen, dan dongeng² Kristen di jaman Byzantium. Hadis juga mengatakan bahwa Jabir mengumpulkan buku². Hadis² mengatakan bahwa al-Hadhrami punya dua budak, Jabir dan Yaser, dan ketika mereka membaca Alkitab, Muhammad mendatangi mereka dan mendengarkan apa yang mereka baca.
[45] Sahih al-Bukhari, 3, hal. 150
[46] Sahih al-Bukhari, 3, hal. 86; 3, hal. 135
Muhammad juga berhubungan dengan budak Kristen Byzantium bernama Balaam, atau nama lainnya adalah Yaish atau Adaas. [47] Balaam adalah budak milik Huitab bin Abd al-Uzai. Masyarakat Mekah seringkali melihat Muhammad menemui Balaam, dan mereka mengatakan Balaam mengajari Muhammad. [48] Tampaknya Jabir dan Balaam adalah orang² yang gemar takhayul, tidak seperti orang Kristen berpendidikan di jaman mereka yang mengetahui perbedaan antara legenda dan fakta sejarah.
[47] Tafsir al-Tabari, 18, page 137
[48] al-Allusi, Ruh' al-Maani, 14: 233; Tafsir al-Tabari 14:119
Versi Qur‟an tentang Tujuh Penidur menunjukkan bahwa Muhammad tidak mengerti makna legenda itu.
Di Qur‘an, Surah al-Kahf (18) atau Gua, kita temukan jawaban Muhammad tentang para penidur. Meskipun dia menampilkan dongeng sebagai kisah nyata, tapi variasi kisahnya menunjukkan bahwa dia tidak tahu akan kisah aslinya. Di ayat ke 17 Muhammad mengatakan: Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.
Ayat ini mengatakan sinar matahari menghindar masuk ke dalam gua. Hal ini bertentangan dengan legenda aslinya yang mengatakan mulut gua ditutup dengan tumpukan batu sehingga sinar matahari tidak bisa masuk gua.
46 |Islam Ditinjau dari Pengamatan Sejarah [http://www.buktidansaksi.com] Di ayat 18 kita baca variasi lain:
… sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.
Qur‟an mengatakan si anjing menjaga para penidur selama ratusan tahun. Menurut Muhammad, setiap orang yang datang mendekati gua akan lari ketakutan karena anjing penjaga di muka pintu gua.
Selanjutnya Muhammad mencantumkan bagian asli legenda yang mengatakan para pemuda ini bangun dari tidurnya, mengirim salah seorang dengan uang untuk membeli makanan, dan mengira mereka hanya tidur sehari saja. Qur‟an mengatakan bahwa orang² tahu tentang kisah tujuh penidur, tapi tidak suka pada mereka dan ingin mendirikan bangunan di atas gua agar para pemuda itu tersekap dalam gua. Muhammad mengira para pemuda bangun saat masyarakat masih membenci mereka, tapi legenda aslinya tidak begitu. Muhammad tidak mengerti pesan Kristiani dari legenda ini, yang menunjukkan bahwa ketujuh pemuda itu dilindungi meskipun Kaisar Romawi menindas umat Kristen, dan mereka dibangunkan kala kekaisaran Romawi sudah menerima agama Kristen. Berdasarkan legenda aslinya, para penidur dianggap sebagai orang² suci.
Ketika Gereja Bizantium membangun kuburan di kota Efesus, mereka ingin menggunakan legenda ini untuk meyakinkan para atheis tentang kebangkitan kembali, dan mencari untung dengan cara membuat tempat itu jadi tempat suci. Karena itulah mereka membangun gereja di atas kuburan. Tapi Muhammad mengira gereja dibangun oleh orang² yang ingin menyekap para penidur di dalam gua.
Muhammad tahu bahwa pengetahuannya tentang legenda para penidur tidak setaraf dengan pengetahuan mereka yang mengujinya, maka dia mengajukan sanggahan bahwa Allah
melarangnya untuk membicarakan legenda ini. Muhammad tidak mampu menyebut dengan pasti jumlah para penidur dalam legenda Efesus. Terdapat dua versi dari cerita aslinya. Yang pertama mengatakan tujuh pemuda, dan yang satu lagi menyebut delapan. Tapi rupanya para teman Muhammad menyebut jumlah yang berbeda-beda sehingga dia tidak berani mengajukan angka yang pasti karena takut diejek oleh para pengujinya. Karena itulah dia menyebut hanya Allah saja yang tahu jumlah tepatnya. Selain itu, dia pun mengatakan bahwa Allah melarangnya membicarakan jumlah para pemuda tersebut. Qur‘an, Sura al-Kahfi (18), ayat 22 menyatakan: Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka,
kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda² itu) kepada seorang pun di antara mereka.
47 |Islam Ditinjau dari Pengamatan Sejarah [http://www.buktidansaksi.com]
seperti yang dikatakan ayat itu, mengapa Muhammad tidak termasuk diantara mereka? Jika dia kontak dengan tuhan yang katanya Maha Tahu, mengapa tuhan tidak memberitahu Muhammad berapa tepatnya jumlah para pemuda tersebut? Sudah jelas bahwa Muhammad tidak berani menyatakan jumlah yang pasti karena takut diejek, dan dia menutup kesalahannya dengan mengatakan Allah melarangnya membicarakan hal itu.
Muhammad mengarang bahwa para penidur bangun setelah lebih dari 300 tahun setelah para pengarang yang menambahkan nafas Kristen pada legenda itu mati.
Dalam Sura yang sama (18), ayat 25 tertulis:
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Berdasarkan keterangan itu, para penidur bangun di sekitar tahun 559M, setelah para penulis Syria menerjemahkan legenda itu ke dalam bahasa Yunani telah wafat semua. Bahkan Yakub dari Sarugh juga telah mati di tahun 521 M. Muhammad merasa bebas untuk menentukan tahun² ini, karena mengira tiada seorang pun yang bisa membantahnya. Lalu dia membela lamanya para pemuda itu tertidur dengan mengatakan ayat ke 26:
Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain daripada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan". Dengan demikian, dia menyatakan 309 tahun tertidur sebagai hal yang tak bisa dibantah lagi, karena Allah sendiri yang mengatakannya. Tapi bagaimana mungkin pernyataan Muhammad ini sesuai dengan fakta? Pertama-tama, seluruh kisah itu hanyalah dongeng belaka. Kedua, legenda Kristen itu telah lama dikenal dalam literatur Syria lebih dari seabad sebelum tanggal yang ditetapkan Muhammad.
Dengan semua kesalahan sejarahnya yang mencengangkan ini, Muhammad sudah tentu bukanlah sumber sejarah kuno yang bisa dipercaya. Kita pun tak bisa mempercayai para penulis Islam setelah Muhammad yang suka mengarang-ngarang cerita tanpa dukungan bukti ilmiah apapun. Kesimpulan yang kuajukan tentang kesalahan² sejarah dalam Qur‟an membenarkan dugaan bahwa Muhammad memang tak berpendidikan tentang fakta sejarah. Muslim tidak bisa menggantungkan nasibnya pada Muhammad untuk mendapatkan kebenaran. Apa yang
Muhammad katakan tentang tokoh² sejarah dan negara² ternyata salah, sehingga keterangannya tidak bisa dipakai untuk mendukung laporan sejarah ilmiah. Dengan begitu, bagaimana kita bisa percaya keterangannya bahwa Mekah itu adalah kota kuno? Atau bahwa kuil Ka‟bah dibangun oleh Abraham dan Ishmael yang saat itu katanya hidup di Mekah?
Kita telah tahu bahwa tak ada laporan sejarah manapun yang membenarkan pernyataan
Muhammad tentang Mekah, Abraham dan Ishmael. Sebaliknya, fakta sejarah menunjukkan hal yang bertentangan dengan pernyataan Muhammad. Jika kita tidak bisa mempercayai perkataan Muhammad tentang hal² tersebut, bagaimana mungkin kita bisa mempercayainya akan hal lain?
48 |Islam Ditinjau dari Pengamatan Sejarah [http://www.buktidansaksi.com]
2. Para Muslim Menulis Ulang Sejarah Islam
Muhammad mengatakan di Sura al-Baqarah (2; Sura Sapi), ayat 127, bahwa Abraham dan Ishmael membangun kuil. Keterangan ini didukung oleh hadis atau “tradisi Islam.” Tapi hadis² lahir puluhan tahun setelah Muhammad mati. Para penulis hadis tidak pernah menulis catatan apapun yang lebih awal daripada jaman Muhammad, dan mereka juga tak pernah mengutip dokumen apapun sebelum jaman Islam yang mendukung pernyataan mereka. Mereka sebenarnya hanyalah mengarang cerita saja, sama persis seperti orang mengarang dongeng. Lebih parah lagi, penulis² selanjutnya malahan bergantung pada hadis² tersebut, dan menganggap tulisan itu benar. Ini membuktikan bahwa penulis² hadis generasi berikut yang bergantung pada penulis pertama (yang mengarang dongeng²) tidak pula menemukan keterangan sejarah apapun yang mendukung keterangan hadis, sehingga mereka mengutip dongeng² itu begitu saja, seakan-akan dongeng itu adalah laporan sejarah ilmiah, dan lalu mereka pun menambahkan kisah karangan mereka sendiri ke dalam dongeng² itu. Akhirnya yang terbentuk adalah hadis² yang rancu dan menyesatkan.