TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Agribisnis Kacang Tanah
Kacang tanah yang ada di Indonesia semula berasal dari Benua Amerika.
Pertama kali kacang tanah masuk ke Indonesia diperkirakan dibawa oleh pedagang Spanyol sewaktu melakukan pelayaran dari Meksiko ke Maluku setelah tahun 1597. Pada tahun 1863, Holle memasukkan kacang tanah dari Inggris dan pada tahun 1864 Scheffer memasukkan pula kacang tanah dari Mesir (Purwono dan Heni, 2011:80).
Menurut Marzuki (2007:6) dalam dunia tumbuh-tumbuhan, kacang tanah diklasifikasikan sebagai berikut.
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan) Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup) Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua) Ordo : Leguminales
Famili : Papilionaceae Genus : Arachis
Spesies : Arachis hypogeae L.
12 Kacang tanah menjadi salah satu sumber gizi bagi masyarakat Indonesia karena mengandung sumber protein nabati. Kacang tanah dikonsumsi rumah tangga baik berupa kacang tanah dengan kulit maupun tanpa kulit (Suwandi, 2016:1). Kandungan gizi kacang tanah secara lengkap disajikan pada Tabel 2 sebagai berikut.
Tabel 2. Kandungan Gizi dalam 100 gram Kacang Tanah Komposisi Kacang Tanah
Sumber: Direktorat Gizi Depkes RI (1979) dalam Haryoto (2009:10)
Penerapan subsistem kacang tanah terdiri dari subsistem pengadaan dan penyaluran sasaran produksi kacang tanah, produksi primer kacang tanah, pengolahan kacang tanah, serta pemasaran olahan kacang tanah yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pengadaan dan Penyaluran Sasaran Produksi Kacang Tanah
Subsistem pengadaan dan penyaluran sasaran produksi kacang tanah meliputi pemilihan benih, penyiapan lahan, cara tanam, dan pengendalian
13 organisme pengganggu tanaman kacang tanah. Pengadaan dan penyaluran sasaran produksi kacang tanah menurut Purwono dan Heni (2011:86-88) adalah sebagai berikut:
1. Pemilihan Benih
Benih yang digunakan baik, tidak rusak atau terbelah, serta bebas serangan hama dan cendawan. Kebutuhan benih untuk kacang tanah berkisar 90-135 kg/ha atau 100-150 kg dalam bentuk polong kering per ha. Benih dikupas sesaat menjelang tanam agar tidak rusak secara fisik.
2. Penyiapan Lahan
Tanah untuk penanaman kacang tanah perlu gembur dan tidak terlalu padat agar tanaman membentuk perakaran yang cukup dalam. Tanah yang gembur juga memudahkan ginofor menembus tanah dan membengkak membentuk polong.
Penanaman pada tanah masam yang belum pernah dikapur sebaiknya diberi kaptan satu bulan sebelum tanam. Tujuannya untuk menaikkan pH dan ketersediaan hara.
3. Cara Tanam
Populasi tanaman yang digunakan sebaiknya berkisar 160.000-250.000 tanaman/Ha. Jarak tanam dapat menggunakan 25 cm x 25 cm atau 20 cm x 20 cm dengan satu sampai dua benih per lubang tanam.
Benih dimasukkan ke dalam lubang bersamaan dengan insektisida karbofuran atau karbosulfan sebanyak 20-30 kg/Ha bersama benih.
14 Tujuan pemberian insektisida adalah untuk melindungi tanaman pada awal pertumbuhannya.
4. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Kacang Tanah
Pengendalian pada daerah yang sering terjadi serangan hama dengan penggunaan insektisida 3-4 kali. Insektisida yang digunakan mengandung zat aktif carbufuran, misalnya Marshall 25 ST dan Furadan 3G. Penggunaan Marshall 25 ST dengan cara dicampurkan pada benih sebelum tanam, sedangkan Furadan 3G disebar pada lubang tanam.
Adapun waktu pemberian insektisida, yaitu saat perawatan benih sebelum tanam.
Hama yang sering mengakibatkan masalah pada tanaman kacang tanah adalah lalat kacang atau lalat bibit, kutu kebul, ulat grayak, kumbang daun, kepik hijau, dan penggerek polong.
b. Produksi Primer Kacang Tanah
Subsistem produksi primer kacang tanah yaitu terdiri dari tahap panen dan pascapanen. Tahap panen dan pascapanen kacang tanah menurut Purwono dan Heni (2011:89) yaitu kacang tanah dipanen jika 70% polong telah mengeras, berwarna agak gelap, kulit polong terlihat berurat, dan pada bagian dalam polong berwarna agak gelap. Pemanenan dilakukan dengan cara dicabut atau dibantu dengan garpu. Setelah dicabut, bagian atas tanaman dipotong dan disisakan sekitar 10 cm. Sisa brangkasan sebaiknya dikembalikan ke lahan sebagai pupuk hijau.
15 Polong yang bernas (berisi penuh) dilepas satu persatu secara manual atau dengan mesin perontok khusus kacang tanah. Polong kemudian dicuci bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa-sisa tanah yang melekat di kulit polong. Setelah bersih, dilakukan pemilahan. Kemudian polong segera dikeringkan untuk mengurangi serangan jamur Aspergilus sp. Polong dikeringkan dengan cara dijemur atau menggunakan mesin pengering. Jika polong bebunyi saat diguncang-guncang, artinya polong telah cukup kering (kadar air 12-14%). Kacang tanah yang telah ditaburi kapur tohor aman disimpan dalam jangka waktu lama tanpa banyak mengalami penurunan mutu atau daya kecambah.
c. Pengolahan Kacang Tanah
Sebagai bahan pangan, kacang tanah mempunyai keluwesan untuk diolah menjadi berbagai bentuk. Polong kacang tanah bukan hanya sekedar digodog, tapi polong kacang tanah dapat diolah menjadi produk yang lebih tahan lama, seperti kacang goreng (sangrai) atau kacang asin (oven).
Sementara, bijinya dapat diolah menjadi aneka cemilan kacang yang lebih trendy. Menurut Haryoto (2009:13-15) secara sederhana olahan kacang tanah dapat dipilah menjadi 3 golongan sebagai berikut :
1. Olahan Kacang Polong
Pengolahan polong kacang tanah merupakan proses pengolahan yang paling sederhana, dibandingkan dengan bentuk pengolahan lainnya.
Olahan yang paling sederhana adalah kacang rebus, yang lebih populer disebut kacang godhog. Disusul dengan kacang polong sangrai atau yang
16 lebih dikenal sebagai kacang sangrai. Sementara yang sedikit lebih rumit pembuatannya adalah kacang polong oven (kacang asin).
2. Olahan Biji Kacang Tanah Tanpa Adonan
Pengolahan kacang tanah ini menggunakan bahan baku biji kacang tanah (wose). Untuk mendapatkan biji kacang tanah, polong kacang tanah harus dikuliti terlebih dahulu. Produk olahan kacang biji tanpa adonan diantaranya adalah kacang (biji) goreng dan kacang bawang. Kacang goreng dibuat dengan menggunakan bahan baku biji kacang tanah yang masih berkulit ari. Sedangkan, kacang bawang dapat dibuat dengan menggunakan bahan baku biji kacang tanah kulitan, yakni biji kacang tanah yang telah dibuang kulit arinya.
3. Olahan Biji Kacang Tanah dengan Adonan
Biji kacang tanah dapat diolah dengan adonan menjadi beragam bentuk olahan. Hasilnya berupa kacang yang telah terbungkus adonan.
Hasil olahan kacang adonan diantaranya adalah kacang atom, kacang telur, dan kacang salju.
d. Pemasaran Olahan Kacang Tanah
Pemasaran olahan kacang tanah merupakan ujung tombak suatu usaha, sekecil apa pun usaha tersebut. Pemasaran bukan berarti sekedar memasarkan (menjual) suatu produk, tetapi meliputi perencanaan produksi, penentuan harga produk, promosi, dan sistem penjualan.
Karena persaingan di dunia usaha semakin ketat, maka produksi camilan kacang harus memikat calon konsumen, baik dari segi rasa maupun
17 penampilan. Setelah kemasan, penampilan, dan rasa yang sudah prima maka harus dilakukan promosi yang efektif untuk mengenalkan produk ke konsumen. Agar produk olahan kacang tanah sampai ke konsumen, maka produk harus didistribusikan. Cara distribusi dapat melalui tiga sistem yakni langsung ke konsumen, melalui pengecer, dan melalui distributor (Haryoto, 2009:73-76).