Sebaran topik serta ekosistem pada penelitian agro-ekonomi bawang putih selama kurun waktu 1974-2001 dapat dilihat pada Tabel 21. Beberapa catatan umum yang dapat ditarik dari Tabel 1 adalah sebagai berikut:
• Dibandingan dengan topik penelitian agro-ekonomi lainnya, topik penelitian ekonomi produksi proporsinya paling besar (43%).
• Mayoritas ekosistem yang digunakan untuk penelitian bawang putih adalah dataran tinggi (10) dan hanya sebagian kecil yang dilaksanakan di dataran medium (2) dan dataran rendah (2).
Hasil penelitian per topik sampai dengan tahun anggaran 2001 adalah sebagai berikut : 1. Studi diagnostik atau lini dasar
♦ Di dataran Rendah (Yogyakarta)
• Bawang putih di dataran rendah (Desa Logandeng, Samiran dan Blonotan-Yogyakarta) ditanam dengan system bedengan/sekali tanam.
43
• Varietas bawang putih yang ditanam umumnya Lumbu Putih. • Waktu tanam musim kemarau (Mei-Juni).
• Pengendalaian hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan pestisida 1-2 kali seminggu.
• Pengetahuan petani tentang teknologi cukup baik, umumnya petani menggunakan teknologi yang sesusi dengan lingkungannya berdasarkan pengalaman.
• Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan modal, pemasaran – harga jual rendah, hama/penyakit – ulat Grayak, kemreki, wereng dan trotol, bibit, budidaya tanaman dan pengairan.
Tabel 22 Topik dan ekosistem penelitian bawang putih agro-ekonomi 1980-2001. No. Topik Artikel Ekosistem Sumber
1. Studi diagnostik atau lini dasar 3 dm (2): dt/dm/dr (1)
BPH 20 EK (1); 21 (2); 27 (1)
2. Studi ekonomi produksi 6 dt (5), dr (1) H (7); BPH 2 (4); 15 (2); 21 (2); 25 (2) JH 9 (3)
3. Studi pemasaran dan analisis harga 3 dt (3) BPH 16 (2) JH 5 (4); 10 (1) 4. Studi konsumen 1 dt (1) BPH 18 EK (1) 5. Studi pengembangan/ pewilayahan 1 dt (1) BPH 18 EK (2)
Total 14 Keterangan : dt = dataran tinggi dm = dataran medium dr = dataran rendah H = Hortikultura
BPH = Buletin Penelitian Hortikultura JH = Jurnal Hortikultura
♦ Di dataran Medium dan Tinggi (Magelang)
• Bawang putih di dataran medium (Muneng Warangan-Magelang) dan tinggi (Te-manggung-Magelang) ditanam dengan system cemplongan/ beberapa kali tanam.
• Varietas bawang putih yang ditanam di dataran medium varietas Krikil, sedangkan di dataran tinggi meliputi Gombloh, Lumbu Kuning dan Lumbu Hijau.
• Waktu tanam bawang putih di dataran medium dan tinggi musim kemarau dan musim hujan (Oktober).
• Pengendalaian hama dan penyakit di dataran tinggi dilakukan dengan penyemprotan pestisida 1-2 kali seminggu. Sementara di dataran medium penyemprotan pestisida tidak dilakukan karena varietas Krikil toleran terhadap hama dan penyakit.
• Pengetahuan petani tentang teknologi cukup baik, umumnya petani menggunakan teknologi yang sesusi dengan lingkungannya berdasarkan pengalaman. Masalah teknik dan non-teknik bervariasi diantara masing-masing lokasi.
44
• Kendala yang dihadapi petani bawang putih di dataran medium adalah harga jual yang rendah dan embun upas. Sementara itu kendala di dataran tinggi harga input mahal, harga jual rendah, ulat, Lomot dan Trotol.
♦ Di dataran Medium (Majalengka)
• Bawang putih mulai ditanam petani di desa Ciomas, kecamatan Sukahaji – Majalengka tahun 1987 dengan alasan biaya bibit lebih murah dan keuntungan lebih tinggi dibandingkan dengan bawang merah.
• Bawang putih ditanam bulan Maret/April atau Juli/Agustus. Penanaman Maret/April lebih sesuai untuk bawang putih dibandingkan dengan Juli/Agustus, karena Juli/Agustus lebih banyak permasalahan seperti penyiraman dan penyakit. Namun demikian penanaman Juli/Agustus harga jualnya lebih tinggi.
• Daerah pemasaran bawang putih dari Majalengka selain untuk memenuhi kebutuhan lokal juga dipasarkan ke Kuningan, Serang, Semarang dan Lampung.
• Permasalahan yang dihadapi : (1) keterbatasan pengetahuan teknik bercocok tanam bawang putih, (2) daun bawang putih “nglinting” (menggulung); (3) persentase hasil umbi kecil yang terlalu banyak (±30%).
♦ Di dataran Medium (Malang)
• Di kecamatan Karangploso dan Dau bawang putih berkembang cepat mulai tahun 1980-an. Produksi cukup bagus, yaitu dengan bibit 0,5 ton mampu menghasilkan 12 ton bawang putih, sehingga cukup memberikan keuntungan.
• Grading telah dilakukan petani, sehingga harga jual lebih baik dan bervariasi sesuai dengan kelasnya.
• Kendala yang dihadapi : (1) lemahnya permodalan petani, (2) kekuatan posisi tawar menawar, (3) tingkat pengetahuan teknologi budidaya dan pasca panen yang belum memadai, serta (4) teknologi pengendalian OPT.
2. Studi ekonomi produksi ♦ Di dataran tinggi (Malang)
• Komposisi biaya produksi bawang putih di Batu (1972) adalah : (a) bibit – 33,17%, Pupuk -- 12,25%, pestisida -- 9,37%, tenaga kerja -- 26,04%, sewa tanah dan lain-lain -- 19,17%. Dengan produksi kering 8.118 kg/ha, maka R/C ratio 2,67.
• Penggunaan input pada usahatani bawang putih di daerah Batu-Malang masih dapat ditingkatkan, yaitu penggunaan bibit, pupuk N, P, K dan fungisida.
♦ Di dataran tinggi (Majalengka)
• Hasil usahatani bawang putih di Argapura-Majalengka masih dapat ditingkatkan dengan menambah penggunaan input tenaga kerja dan pupuk kandang.
45
♦ Di dataran Tinggi (Pacet-Cianjur)
• Hasil panen bawang putih yang dijual kering lebih menguntungkan petani dibandingkan dengan dijual basah (tanpa penanganan pascapanen).
• Komposisi biaya produksi bawang putih bila dijual basah adalah : bibit -- 48,93%, pupuk -- 8,76%, pestisida -- 3,74%, tenaga kerja -- 28,71%, sewa tanah -- 2,89%, bunga modal -- 6,98%.
• Dengan tingkat produksi 6.329,71 kg bawang putih basah/ha, R/C rationya 0,64.
• Bila dijual kering komposisi biaya produksi adalah : bibit – 46,46%, pupuk -- 8,32%, pestisida -- 3,55%, tenaga kerja – 31,96%, sewa tanah -- 2,74%, bunga modal -- 6,98%. • Dengan tingkat produksi 3.710,82 kg bawang putih kering/ha, R/C rationya 1,18. o Di dataran Rendah (Yogyakarta)
• Komponen biaya produksi bawang putih terbesar adalah biaya tenaga kerja (57%), selanjutnya diikuti biaya bibit (24%), pupuk (8%), bunga modal (5%), pestisida (3%) dan biaya lain-lain (3%). R/C ratio 0,98 (rugi).
♦ Indonesia
• Pola pertumbuhan produksi bawang putih di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. • Faktor dominan sumber pertumbuhan tersebut lebih disebabkan oleh peningkatan areal
tanam.
3. Studi pemasaran dan analisis harga
♦ Respons petani bawang putih terhadap fluktuasi harga dan iklim
• Wortel merupakan tanaman saingan bawang putih di Batu – Malang.
• Peningkatan luas panen wortel sebesar 1 unit mengakibatkan penurunan luas panen bawang putih sebesar 2,5790 unit.
• Harga wortel pada tahun t-1 dan jumlah curah hujan pada tahun t mempunyai pengaruh yang nyata terhadap luas panen bawang putih pada tahun t, sedangkan harga bawang putih pada tahun t-1 tidak berpengaruh nyata.
• Kenaikan harga wortel sebesar 1% pada tahun t-1 mengakibatkan penurunan luas panen bawang putih pada tahun t sebesar 0,41%. Kenyataan ini menunjukkan bahwa petani bawang putih di Batu-Malang akan beralih menanam wortel jika harga wortel pada tahun sebelumnya (t-1) meningkat.
♦ Tataniaga bawang putih di Ciwidey-Bandung
• Saluran tataniaga bawang putih basah dari Ciwidey sampai Kotamadya Bandung yang paling efisien adalah saluran : petani – bandar Ciwidey – grosir Caringin – pengecer – konsumen, dengan indeks efisiensi teknis (T = 15,13) dan ekonomis (E = 18,20) paling kecil, serta nilai farmer’s share yang paling besar (50%).
• Saluran tataniaga bawang putih kering dari Ciwidey sampai DKI Jakarta yang paling efisien adalah saluran : petani – bandar Ciwidey – grosir Kramatjati – pengecer –
46
konsumen, dengan indeks efisiensi teknis (T = 5,62) dan ekonomis (E = 4,66) paling kecil, serta nilai farmer’s share yang paling besar (52,31%).
• Efisiensi tataniaga masih dapat ditingkatkan melalui efisiensi komponen biaya penyusutan pada masing-masing lembaga tataniaga yang terkait.
♦ Ekspor-impor bawang putih
• Selama periode 1981-1995, pola pertumbuhan impor bawang putih segar termasuk dalam kategori konstan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 18,73%.
• Secara berturut-turut, pertumbuhan nilai impor rata-rata, pertumbuhan harga satuan impor rata-rata dan pertumbuhan volume impor rata-rata bawang putih segar selama periode 1981-1995 adalah 15,22%, -3,51%, dan 18,73%. Sementara itu, faktor yang paling dominan sebagai sumber pertumbuhan impor bawang putih segar adalah volume.
4. Studi konsumen
♦ Preferensi konsumen (Rumah Tangga)
• Pendapatan keluarga (golongan rumah tangga) sangat menentukan jumlah bawang putih yang dikonsumsi oleh konsumen rumah tangga.
• Konsumsi bawang putih rata-rata untuk rumah tangga golongan atas di Kota Madya Bandung adalah 1,68 gram/kapita/hari dan untuk rumah tangga golongan bawah 0,45 gram/kapita/hari.
• Pendapatan keluarga tidak terlalu mempengaruhi preferensi konsumen terhadap konsumsi bawang putih.
• Preferensi konsumen rumah tangga golongan atas dan bawah sama, yaitu menyukai bawang putih yang umbinya besar, kulit tipis, warna kulit putih, kekerasan daging dan aroma sedang.
• Rumah tangga golongan atas menyukai bawang putih dengan warna daging putih dan putih kekuningan, sementara rumah tangga golongan bawah lebih menyukai warna daging putih.
5. Studi pengembangan/pewilayahan
• Berdasarkan indikator luas penanaman baru > 50 ha pada tahun 1987, sentra produksi bawang putih di pulau Jawa dan Madura mempunyai 11 macam klasifikasi jenis tanah dan iklim yang tersebar dari dataran rendah sampai ke dataran tinggi.
• Jenis tanah dan iklim yang relatif sesuai bagi pengembangan bawang putih pada ketinggian < 700 m dpl yaitu tipe tanah dan iklim : Andosol-B2/C2, Latosol-B2/C2, dan Andosol-C3
• Tipe tanah dan iklim yang relatif sesuai untuk pengembangan bawang putih pada ketinggian antara > 200 m dpl sampai < 700 m dpl yaitu : Latosol-B2/C2, Andosol-C3 dan Regosol-C3.
• Daerah-daerah pengembangan untuk ketinggian > 700 m dpl tersebar di 46 kecamatan, sedangkan untuk ketinggian antara > 200 m dpl sampai < 700 m dpl menyebar di 103 kecamatan.