TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Agroindustri Lidah Buaya .1 Agroindustri
Menurut UU No. 3 Tahun 2014, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi penggunaannya, termasuk jasa industri. Selanjutnya, agroindustri adalah industri yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan baik produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (finish product), termasuk di dalamnya adalah penanganan pasca panen, industri pengolahan makanan dan minuman, industri biofarmaka, industri bio-energy, industri pengolahan hasil ikutan (by-product) serta industri agrowisata (Departemen Pertanian, 2002:2).
Sedangkan menurut Soekartawi (2000:10) agroindustri dapat diartikan dua hal, (1) agroindustri adalah industri yang berbahan baku utama produk pertanian, (2) agroindustri yaitu suatu tahapan pembangunan sebagai kelanjutan dari
pembangunan pertanian, tetapi sebelum pembangunan tersebut mencapai tahapan pembangunan industri. Suatu industri yang menggunakan bahan baku pertanian dengan jumlah minimal 20% dari jumlah bahan baku yang digunakan adalah disebut agroindustri. Agroindustri adalah fase pertumbuhan setelah pembangunan pertanian tetapi sebelum pembangunan tersebut memulai ke tahapan pembangunan industri.
Menurut skala usahanya, agroindustri terbagi atas usaha mikro, kecil, menengah, dan besar. Pengertian usaha mikro, kecil, menengah, dan besar sesuai dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 yaitu :
1. Usaha mikro
Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria, yaitu: (a) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
atau (b) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000.
2. Usaha Kecil
Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha yang bukan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung atau tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria, yaitu: (a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000 sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau (b) memiliki hasil penjualan tahunan yang hasilnya lebih dari
3. Usaha Menengah
Usaha menegah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung atau tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang- Undang, yaitu : (a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000 sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau (b) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000 sampai paling banyak Rp 50.000.000.000.
4. Usaha Besar
Usaha makro adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.
Menurut BPS (2017), pengklasifikasian industri pengolahan berdasarkan banyaknya tenaga kerja dibagi dalam empat golongan, yaitu :
1. Industri besar, banyak tenaga kerja 100 orang atau lebih.
2. Industri sedang, banyak tenaga kerja 20-99 orang.
3. Industri kecil, banyak tenaga kerja 5-19 orang.
4. Industri rumah tangga, banyak tenaga kerja 1-4 orang.
Menurut Astuty (2016:145), industri rumah tangga termasuk ke dalam industri mikro. Industri mikro merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar
dalam perekonomian Indonesia. Usaha mikro atau industri rumah tangga memiliki keunggulan padat karya sehingga bisa membantu mengurangi pengangguran.
2.2.2 Komoditas lidah buaya
Menurut Zul (2002:1), lidah buaya (Aloe Vera sp) berasal dari Afrika Utara, yang beriklim tropis dan diduga juga berasal dari kepulauan Canary di sebelah Barat Afrika yang dikenal sebagai tanaman obat dan kosmetik. Lidah buaya pertama kali masuk ke Indonesia dibawa oleh petani kerurunan China sekitar abad ke-17. Tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai tanaman hias yang ditanam sembarang di pekarangan rumah serta hanya sesekali dimanfaatkan sebagai obat luka bakar atau mengatasi kebotakan. Tanaman lidah buaya ini mirip kaktus, daunnya tumbuh ke atas, kaku bagaikan lidah atau pedang yang tajam, sehingga di Indonesia disebut dengan lidah buaya (Syariefa, 2002:18).
Hanya ada tiga jenis lidah buaya yang dipakai yang terdapat dalam perdagangan internasional yaitu, Aloe Chinenis, Aloe Barbadensis, dan Aloe ferox (Furnawanthi, 2003:8-9). Jenis yang banyak dikembangkan di Asia, termasuk Indonesia adalah Aloe Chinensis Baker yang berasal dari China, tetapi bukan asli tanaman China, di Indonesia sudah ditanam secara komersial di Kalimantan Barat dan lebih dikenal dengan lidah buaya Pontianak (Hendrawati. 2015: 48).
Tanaman lidah buaya dapat tumbuh di daerah kering, seperti, Afrika, Asia dan Amerika. Hal ini disebabkan bagian stomata daun lidah buaya dapat tertutup rapat pada musim kemarau karena untuk menghindari hilangnya air daun. Lidah
tanaman yang efisien dalam penggunaan air, karena dari segi fisiologi tumbuhan, tanaman ini termasuk tanaman yang tahan kekeringan (Furnawanthi, 2003:10).
Lidah buaya dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai daerah pegunungan. Daya adaptasinya tinggi sehingga tempat tumbuhnya menyebar ke seluruh dunia mulai daerah tropika sampai ke daerah sub tropika. Tanah yang dikehendaki lidah buaya adalah tanah subur kaya bahan organik dan gembur.
Kesuburan tanah pada lapisan olah sedalam 30 cm sangat diperlukan, karena akarnya yang pendek tanaman ini tumbuh baik di daerah bertanah gambut yang pHnya rendah (Furnawanthi, 2002:5).
Kelemahan lidah buaya adalah jika ditanam di daerah basah dengan curah hujan tinggi, mudah terserang cendawan, terutama fusarium sp. yang menyerang pangkal batangnya. Sementara itu, dari segi budidaya, tanaman lidah buaya sangat mudah dan relatif tidak memerlukan investasi besar. Hal ini disebabkan tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang dapat dipanen berulang-ulang dengan masa produksi 7-8 tahun (Furnawanthi, 2002:5-6).
2.2.3 Komponen dan manfaat lidah buaya
Unsur-unsur kimia yang terkandung di dalam daging lidah buaya menurut para peneliti antara lain: Lignin, Saponin, Anthraquinone, Vitamin, Mineral, Gula, dan enzim, Monosakarida dan polisakarida, asam-asam amino essensial dan non essensia lyang secara bersamaan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang menyangkut kesehatan tubuh. Di samping itu keistimewaan lidah buaya terletak pada sel nya yang mampu untuk meresap di dalam jaringan kulit, sehingga
dan Lubis, 2002: 29-35).
Menurut Henry (1979: 42-50), unsur utama dari cairan lidah buaya adalah aloin, emodin, resin, gum, dan unsur lainnya seperti minyak atsiri. Dari segi kandungan nutrisi, gel atau lendir daun lidah buaya mengandung beberapa mineral seperti Zn, K, Fe, dan vitamin seperti vitamin A.
Lidah buaya tidak menyebabkan keracunan pada manusia maupun hewan, sehingga sebagai bahan industri lidah buaya dapat diolah menjadi produk makanan dalam bentuk serbuk, gel, jus, dan ekstrak. Cairan yang keluar dari potongan lidah buaya tadi bila diluapkan menjadi bentuk setengah padat, dapat digunakan sebagai alat pencuci perut atau obat pencahar (Suryowidodo, 1998). Kandungan zat gizi lidah buaya per 100 gram dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan gizi lidah buaya
Zat Gizi Kandungan / 100 g Bahan
Energi (Kal) 4,00
Protein (g) 0,10
Lemak (g) 0,20
Serat (g) 0,30
Abu (g) 0,10
Kalsium (mg) 85,00
Fosfor (mg) 186,00
Besi (mg) 0,80
Vitamin C (mg) 3,476
Vitamin A (IU) 4,594
Vitamin B1 (mg) 0,01
Kadar Air (g) 99,20
Sumber: Departemen Kesehatan R.I. (1992)
2.2.4 Pohon Industri Tanaman lidah buaya
Lidah buaya banyak digunakan oleh manusia sejak lama, baik diolah secara moderen maupun sederhana. Khusus yang diolah secara moderen, penggunaan lidah buaya pada umumnya dalam bentuk bubuk (aloe powder), bahan jadi seperti sabun (aloe soap) dan produk lainnya seperti sari dan gel lidah buaya yang telah distabilkan 100% agar tidak mengalami kerusakan enzimatis. Kosmetika berbahan baku lidah buaya yang cukup banyak diproduksi Amerika antara lain: lotion, sampo dan lipstik.
Mengingat manfaat yang diperoleh dari tanaman lidah buaya cukup banyak serta merta dapat dibuat berbagai macam produk-produk turunannya, maka dapat dibuat pohon industrinya seperti yang tertera pada Gambar 3.
Gambar 2. Pohon Industri Lidah Buaya
Sumber: Aloevera Center, 2004
Minuman dan produk herbal dari olahan lidah buaya diantaranya adalah Lidah Buaya Instan (powder), Minuman Es Lidah Buaya, dan Teh Herbal Lidah Buaya.
1. Lidah Buaya Instan (powder)
Lidah Buaya Instan (powder) adalah minuman serbuk yang berasal dari hasil proses pengolahan daging Lidah buaya menggunakan campuan gula dan ektrak daun pandan. Melalui proses perebusan hinggan cairan mengental lalu mengkristal setelah itu proses penghalusan yang diubah menjadi gula halus, sehingga rasa asli lidah buaya yang cenderung pandan yang diakibatkan oleh campuran ekstrak pandan.
2. Nata de Aloe
Nata de Aloe adalah nata yang terbuat dari bahan baku lidah buaya yang tidak menimbulkan rasa dan berbau, biasa digunakan untuk campuran minuman dingin yang dinikmati saat dingin, melalui proses pencucian daging yang bersih serta dipotong kecil-kecil lalu dicampur dengan air dan perisa pandan atau leci.
3. Teh Herbal Lidah Buaya
Teh Herbal Lidah Buaya adalah hasil dari proses olahan sisa (limbah) yang diambil kulit nya saja yang melalui proses pengeringan di bawah sinar matahari.
Teh herbal lidah buaya bisa langsung dinikmati dengan campuran air panas dan dengan atau tanpa gula.