• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PENGOLAHAN LIDAH BUAYA (Studi Kasus Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PENDAPATAN USAHA PENGOLAHAN LIDAH BUAYA (Studi Kasus Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur)"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PENGOLAHAN LIDAH BUAYA (Studi Kasus Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur)

Rafidah Salamah 11150920000018

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PENGOLAHAN LIDAH BUAYA (Studi Kasus Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur)

Rafidah Salamah 11150920000018

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Program Studi Agribisnis

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2021 M/1442

(3)

A

PENGESAHAN UJIAN

Skripsi berjudul “Analisis Pendapatan Usaha Pengolahan Lidah Buaya (Studi Kasus Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur” yang ditulis oleh Rafidah Salamah NIM 11150920000018 telah diuji dan dinyatakan lulus dalam Sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Senin, 24 Mei 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Agribisnis.

Menyetujui,

Penguji 1

Ir. Junaidi, M, Si NIP. 19660508 201411 1 004

Penguji 2

Titik Inayah, SP, M. Si

Pembimbing 1

Dr. Ir. Siti Rochaeni, M.Si NIP. 19620308 198903 2 001

Pembimbing 2

lr. Armaeni Dwi Humaerah, M.Si NIP. 19670312 199103 2 001

Mengetahui,

Dekan

Fakultas Sains dan Teknologi

Nashrul Hakiem, S.Si., M.T., Ph.D NIP. 19710608 200501 1 005

Ketua

Program Studi Agribisnis

khmad Mahbubi, SP., MM., Ph.D NIP. 19811106 201101 1 001

(4)

SURAT PERNYATAAN

DENGAN INI MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN

Mei 2020

Rafidah Salamah 11150920000018

(5)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Data Pribadi

Nama : Rafidah Salamah

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta/17 Juli 1997 Kewarganegaraan : Indonesia

Status : Belum Menikah

Agama : Islam

Alamat : Jalan Kampung Tanah 80 Rt004/09 No. 14 Kelurahan: Klender, Kecamatan: Duren Sawit, Jakarta Timur

No. Telp/Hp 085693431349

E-mail : [email protected]

Riwayat Pendidikan

2004-2009 : SDN Pondok Bambu 15 Pagi 2009-2012 : SMPN 06 Jakarta

2012-2015 : SMA Negeri 44 Jakarta

2015-2021 : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengalaman Organisasi dan Prestasi

2016-2017 : Sekretaris SERAGRI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(6)

2017-2019 : Sekretaris II Majelis Pertimbangan Agung (MPA) POPMASEPI 2018-2019 : Kepala Departemen Keorganisasian HMJ Agribisnis UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

2018 : Penerima Beasiswa Yayasan Beasiswa Jakarta ( YBJ) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2018 : Penerima Beasiswa Bank Indonesia UIN Syarif Hidayatullah 2018 : Sekretaris I KKN 113 HEROIK

2018-2019 : Sekretaris Divisi Pendidikan Komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengalaman Kerja

2016 : Dies Natalis PISPI (Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia), Liaison Officer

2018 : Pusat Perlebahan Nasional (PUSBAHNAS) Madu PERHUTANI, Production Division Staff

2018-2019 : Volunteer Surveyor “Vinus Pilarindo”, Survervising and examining the 2019 pre-election phenomena

2019 : ISEF (Indonesian Sharia Economic Festival) 2019, Usher 2019-sekarang : PT. Kompas Media Nusantara, Polling survey “jajak pendapat

masyarakat

(7)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kesehatan dan kemudahan dalam segala proses pengerjaan tugas akhir ini. Sholawat serta salam tak lupa tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat-Nya.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini sebagai berikut:

1. Kedua orang tua, Bapak Adnan dan Ibu Suleni, berkat motivasi, dukungan materi, tenaga serta kasih sayang yang tiada henti penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas akhir program strata 1 ini.

2. Nashrul Hakiem, S.Si., M.T., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.

3. Akhmad Mahbubi, SP., MM., Ph.D, selaku Ketua Program Studi Agribisnis dan Rizki Adi Puspita Sari, M.M, selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Seluruh dosen Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan waktu, tenaga, ilmu dan pembelajaran pada saat melaksanakan perkuliahan maupun diluar perkuliahaan.

(8)

pemikiran yang sangat bermanfaat, sehingga penulis dapat menyelesaikan dan menyempurnakan tugas akhir ini.

6. Penguji 1 dan penguji 2 selaku penguji I dan II yang telah meluangkan waktunya dan membantu memberikan saran serta pemikiran yang sangat bermanfaat untuk menyempurnakan tugas akhir ini.

7. Ibu Marimin selaku pelaku usaha bidang pengolahan lidah buaya sekaligus pemilik perusahaan UMMI yang telah mengizinkan serta melayani penulis dalam memberikan data-data yang penulis butuhkan.

8. Pengrajin olahan lidah buaya di UMMI yang telah meneriman dan membantu data kepada penulis untuk menuntaskan tugas akhir ini.

9. Kawan-kawan lintas almamater POPMASEPI terkhusus MPA, Komunitas penerima Beasiswa BI (GenBI), HMJ Agribisnis, dan KKN 113 HEROIK, yang telah memberikan wadah serta kepercayaannya untak dapat berproses serta tumbuh bersama sehingga menjadikan dunia perkuliahan lebih berwarna.

10. Kawan-kawan seperjuangan, Agribisnis 2015 terkhusus kelas A yang sudah banyak memberikan waktu, pemikiraan-pemikiran hebat, dan tiada hentinya memberikan semangat untuk terus mencapai titik kemenangan dan meyakikan kalau kita bias mencapai di titik itu.

11. Reza, Fitri, Yuanita yang tiada hentinya memberikan motivasi, semangat, dan dukungan satu sama lain dalam melewati masa-masa perkuliahan, dalam bentuk moril maupun non moril.

(9)

12. Teman seperbimbingan, (Rika, Nurannisa, dan Rommy) yang telah membantu dan mendukung penulis serta dorongan semangat untuk segera menyelesaikan tugas akhir ini.

13. Teman satu kosan, (Gita) selama 3 tahun, yang bersama-sama melewati kehidupan serta berbagi saat cerita susah dan senang selama menjalani kehidupan di Ciputat.

14. Mega, Pini, dan Husna teman sedari duduk di bangku SMP, yang banyak memberikan waktu dalam sekedar berbagi kisah kehidupan serta berkat kesabaran dan canda tawanya dalam membantu penulis menyelesaikan tugas akhir ini.

15. Fiqri dari UNMUL, teman istimewa sekaligus sahabat yang luar biasa, tempat untuk bercerita, dan seseorang yang jika diajak berdiskusi mempunya pemikiran yang hebat. Berkat doa, semangat, dan kesabarannya dalam membantu penulis menyelesaikan tugas akhir ini.

16. Nizam dari UNSYIAH, teman dari ujung Indonesia yamg punya semangat luar biasa sehingga mampu menularkan semangatnya ke penulis. Atas saran dan kesabaran dalam membantu penulis menyempurnakan tugas akhir ini.

17. Abdi dari UISU, teman yang memiliki positive minds yang luar biasa, teman berjuang yang tiada hentinya memberikan info-info Beasiswa di Luar negeri. Berkat doa, semangat, saran serta selalu meyakinkan ku kalau ku mampu untuk meyelesaikan tugas akhir ini.

18. Adik-adiku tersayang (Sofyan, alya, irsyad, dan Rizky) yang selalu

(10)

19. My Lovely anak bulu, Santi. Yang sudah menjadi teman untuk me-realease stress dengan tingkahnya yang menggemaskan dan sudah melahirkan anak- anak yang lucu nan gemoy. You are such a great cat. luv!

20. Pihak lainnya yang tidak dapat penulis satu persatu.

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan pada skripsi ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan agar penulis menjadi lebih baik. Akhir kata, Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, Mei 2021

Penulis

(11)

RINGKASAN

Rafidah Salamah, Analisis Pendapatan Usaha Pengolahan Lidah Buaya (Studi Kasus Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur). Di bawah bimbingan Siti Rochaeni dan Armaeni Dwi Humaerah

Pengolahan pascapanen produk pertanian merupakan salah satu roda sumbangsih ekonomi untuk negara Indonesia, pengembangan produk olahan pasca panen lidah buaya memiliki prospek yang baik karena nilai ekonomis tinggi. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah proses pembudidayaan lidah buaya relatif mudah, menunjang tumbuhnya industri pedesaan yang mampu menghasilkan lapangan pekerjaan serta variasi produk lidah buaya yang dapat di inovasikan.

Kondisi penyebaran industri lidah buaya di Indonesia terhitung kecil dan terpencar yang sebenarnya memiliki nilai tambah tinggi, pemanfaatan lidah buaya sebagai bahan baku kosmetik dan obat-obatan mampu menjadi komoditas ekspor jika di maksimalkan. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus untuk komoditas lidah buaya dan perannya dalam peningkatan ekonomi dalam industri UMKM perhatian di Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya-biaya yang dikeluarkan dan menganalisis pendapatan pada usaha pengolahan lidah buaya Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Ruang lingkup penelitian ini adalah usaha pengolahan lidah buaya pada Home Indusry UMMI, produk olahan dari lidah buaya yakni lidah buaya instan (powder), nata de aloe (koktail), dan teh herbal lidah buaya. Adapun metode pengolahan dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis pendapatan usaha, Analisis Return Cost ratio (R/C), Analisis Benefit dan Cost ratio (B/C), Analisis Break Even Point (BEP), serta Analisis Payback Period (PP).

Berdasarkan hasil perhitungan biaya produksi yang dikeluarkan dalam usaha pengolahan lidah buaya adalah Biaya Investasi terbesar adalah pada olahan Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 50 kg sebesar Rp. 4.040.000 penyusutan sebesar Rp. 3.397 per hari. Biaya Investasi terkecil adalah pada olahan teh herbal lidah buaya kapasitas 25 kg sebesar Rp. 260.000 dengan penyusutan sebesar Rp.

712 per hari. Biaya tetap terbesar adalah pada olahan Lidah Buaya Instan (Powder) pada kapasitas 50 kg sebesar Rp. 94.397 per hari. Biaya tetap terkecil adalah pada olahan teh herbal lidah buaya kapasitas 25 kg sebesar Rp. 30.712 per hari. Biaya variabel terbesar adalah pada olahan Lidah Buaya Instan (Powder) pada kapasitas 50 kg sebesar Rp. 1.640.000 per hari. Biaya variabel terkecil adalah pada olahan teh herbal lidah buaya kapasitas 25 kg sebesar Rp. 321.000 per hari.

Dilanjut dengan menghitung pendapatan usaha pengolahan lidah buaya

(12)

menghitung kelayakan usaha usaha pengolahan lidah buaya didapatkan nilai R/C ratio terbesar adalah pada olahan teh herbal lidah buaya kapasitas 25 kg sebesar 11,6. Nilai R/C ratio terkecil adalah pada olahan Nata de Aloe kapasitas 1 kg sebesar 2,9. Nilai R/C ratio terbesar adalah pada olahan teh herbal lidah buaya kapasitas 25 kg sebesar 11,6. Nilai R/C ratio terkecil adalah pada olahan Nata de Aloe kapasitas 1 kg sebesar 2,9. Nilai B/C ratio terbesar adalah pada olahan teh herbal lidah buaya kapasitas 25 kg sebesar 10,6. Nilai B/C ratio terkecil adalah pada olahan Nata de Aloe kapasitas 1 kg sebesar 1,9.

BEP produksi terbesar adalah pada olahan Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 50 kg sebesar 50 pcs dengan total produksi 200 pcs. BEP produksi terkecil adalah pada olahan teh herbal lidah buaya kapasitas 25 kg sebesar 3 pcs dengan total produksi 35 pcs. BEP harga tertinggi adalah pada olahan Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 1 kg sebesar Rp. 10.990 dengan harga jual sebesar Rp. 35.000.

BEP harga terendah adalah pada olahan teh herbal lidah buaya kapasitas 25 kg sebesar Rp. 1.727 dengan harga jual sebesar Rp. 20.000. Nilai Payback Period tercepat terdapat pada produk teh herbal lidah buaya dengan nilai PP sebesar 0,02 tahun dengan input 25 kg. Nilai Payback Period terlama terdapat pada produk Lidah Buaya Instan (Powder) dengan rata-rata PP sebesar 0,12 tahun.

Berdasarkan hasil temuan tersebut, rekomendasi yang diajukan adalah Pemilik usaha pengolahan lidah buaya diharapkan me-manage pengeluaran biaya produksi sehingga pendapatan produk dapat optimal. Pemerintah Kecamatan Makasar mempertimbangkan produk untuk difokuskan pengembangan yaitu lidah buaya instan (powder) serta produk akhir yang tidak terpakai yaitu teh herbal lidah buaya agar menjadi olahan zero waste. Pemerintah diharapkan untuk mengadakan program untuk mendongkrak UMKM lidah buaya di Kecamatan Makasar seperti pengadaan alat pengolahan.

Kata Kunci: Pendapatan Usaha, Lidah Buaya, R/C Ratio, B/C Ratio, BEP dan Payback Period (PP)

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Pendapatan Usaha ... 7

2.1.1 Konsep Pendapatan ... 7

2.1.2 Konsep Biaya ... 10

2.1.3 Analisis R/C Ratio ... 11

2.1.4 Analisis B/C Ratio ... 13

2.1.5 Analisis Break Even Point (BEP) ... 13

2.1.6 Payback Period (PP) ... 14

2.2 Pengertian Industri dan Industri Rumah Tangga (Home Industry)... 15

2.3 Agroindustri Lidah Buaya ... 16

2.3.1 Agroindustri ... 16

2.3.2 Komoditas lidah buaya ... 17

2.3.3 Komponen dan manfaat lidah buaya ... 19

2.3.4 Pohon Industri Tanaman Lidah Buaya ... 20

(14)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 29

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 30

3.4 Metode Penentuan Responden ... 31

3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 32

3.5.1 Analisis Pendapatan Usaha ... 32

3.5.2 Analisis R/C Ratio ... 34

3.5.3 Analisis B/C Ratio ... 36

3.5.4 Analisis Break Even Point (BEP) ... 37

3.5.5 Payback Period (PP) ... 38

3.6 Definisi Operasional ... 39

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 4.1 Profil Perusahaan ... 42

4.1.1 Sejarah dan Perkembangan singkat ... 42

4.1.2 Lokasi Home Industry UMMI ... 43

4.1.3 Visi, Misi dan Tujuan Home Industry UMMI ... 44

4.2 Lingkup Usaha Pengolahan Lidah Buaya ... 45

4.3 Struktur Organisasi ... 49

4.4 Sarana dan Prasarana ... 52

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pendapatan Pengolahan Lidah Buaya ... 54

5.1.1 Biaya Produksi (biaya investasi, biaya tetap, dan biaya tidak tetap), Penerimaan dan Pendapatan Lidah Buaya Instan ... 63

5.1.2 Biaya Produksi (biaya investasi, biaya tetap, dan biaya tidak tetap), Penerimaan dan Pendapatan Nata de Aloe ... 61

5.1.3 Biaya Produksi (biaya investasi, biaya tetap, dan biaya tidak tetap), Penerimaan dan Pendapatan Teh Herbal Lidah Buaya ... 71

5.2 R/C Ratio Pengolahan Lidah Buaya ... 74

5.3 B/C Ratio Pengolahan Lidah Buaya ... 76

5.4 Break Even Point (BEP) Pengolahan Lidah Buaya ... 77

5.5 Payback Period (PP) Pengolahan Lidah Buaya ... 80

(15)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ... 82

6.2 Saran... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 85

LAMPIRAN ... 89

(16)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Kandungan gizi lidah buaya ... 20

2. Penelitian Terdahulu ... 25

3. Responden pengrajin olahan Lidah Buaya di UMMI ... 31

4. Biaya Investasi Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 5 kg ... 55

5. Biaya Investasi Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 10 kg ... 56

6. Biaya Investasi Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 20 kg ... 57

7. Biaya Investasi Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 30 kg ... 58

8. Biaya Investasi Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 50 kg ... 59

9. Biaya Tetap Lidah Buaya Instan (Powder) ... 60

10. Biaya Variabel Lidah Buaya Instan (Powder) ... 61

11. Pendapatan Produk Lidah Buaya Instan (Powder) ... 62

12. Biaya Investasi Nata de Aloe kapasitas 1 kg ... 64

13. Biaya Investasi Nata de Aloe kapasitas 2 kg ... 65

14. Biaya Investasi Nata de Aloe kapasitas 3 kg ... 66

15. Biaya Investasi Nata de Aloe kapasitas 4 kg ... 67

16. Biaya Tetap Nata de Aloe ... 68

17. Biaya Variabel Nata de Aloe kapasitas 1 kg ... 69

18. Pendapatan Produk Nata de Aloe... 70

19. Biaya Investasi Teh Herbal Lidah Buaya kapasitas 25 kg ... 71

20. Biaya Tetap Teh Herbal Lidah Buaya kapasitas 25 kg ... 72

(17)

21. Biaya Variabel Teh Herbal Lidah Buaya kapasitas 25 kg ... 73

22. Pendapatan Teh Herbal Lidah Buaya kapasitas 25 kg ... 73

23. R/C Ratio Pengolahan Lidah Buaya ... 75

24. B/C Ratio Pengolahan Lidah Buaya ... 77

25. Break Even Point (BEP) Produksi Pengolahan Lidah Buaya ... 78

26. Break Even Point (BEP) Harga Pengolahan Lidah Buaya ... 79

27. Payback Period (PP) Pengolahan Lidah Buaya ... 80

(18)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Pohon Industri Lidah Buaya ... 21 2. Kerangka Pemikiran ... 28 3. Struktur Organisasi UMMI ... 50

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Daftar Pertanyaan Penelitian ... 89

2. Biaya Variabel Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 5 kg ... 93

3. Biaya Variabel Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 10 kg ... 93

4. Biaya Variabel Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 20 kg ... 93

5. Biaya Variabel Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 30 kg ... 94

6. Biaya Variabel Lidah Buaya Instan (Powder) kapasitas 50 kg ... 94

7. Biaya Variabel Nata de Aloe kapasitas 1 kg ... 94

8. Biaya Variabel Nata de Aloe kapasitas 2 kg ... 95

9. Biaya Variabel Nata de Aloe kapasitas 3 kg ... 95

10. Biaya Variabel Nata de Aloe kapasitas 4 kg ... 95

11. Dokumentasi Pembuatan Lidah Buaya Instan (Powder) ... 96

12. Dokumentasi Pembuatan Nata de Aloe ... 97

13. Dokumentasi Produk Olahan Lidah Buaya ... 98

(20)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor pertanian di Indonesia memiliki peranan penting untuk keberlangsungan hidup bangsa. Pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatkan hasil dan mutu produksi serta meningkatkan taraf hidup petani, maka perlu adanya pengembangan serta peningkatan agroindustri. Sasaran dari peningkatan agroindustri adalah meningkatkan PDB industri pengolahan makanan dan minuman serta produksi komoditas andalan ekspor dan komoditas prospektif, meningkatkan jumlah sertifikasi untuk produk pertanian yang diekspor, dan berkembangnya agroindustri terutama di pedesaan (Renstra Kementerian Pertanian, 2015:112-113).

Menurut Rustiadi dkk (2011:330), pengembangan agropolitan ditujukan untuk meningkatkan produksi pertanian dan penjualan hasil-hasil pertanian, mendukung tumbuhnya agro-processing skala kecil-menengah dan mendorong keberagaman aktivitas ekonomi dari pusat pasar. Oleh karena itu, peran perusahaan-perusahaan pengolahan pangan sangat penting untuk meningkatkan pendapatan dari usaha pengolahan yang dihasilkan.

Salah satu industri pengolahan hasil pertanian yang sekarang ini sedang ditumbuhkembangkan untuk mewujudkan pembangunan ekonomi nasional adalah industri pengolahan komoditas lidah buaya. Komoditas ini termasuk ke dalam kelompok tanaman hortikultura dari tanaman obat-obatan (biofarmaka).

Lidah buaya merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomis

(21)
(22)

tinggi. Pengembangan agribisnis lidah buaya memiliki prospek sangat bagus dilihat dari segi keterlibatan masyarakat dan manfaat yang ditimbulkannya, antara lain: (1) cara pembudidayaan lidah buaya relatif mudah; (2) mendorong tumbuhnya industri pedesaan baik sektor hulu maupun sektor hilir, sehingga dapat memperluas lapangan kerja di pedesaan; (3) penganeka-ragaman produknya sangat beragam dari mulai makanan dan minuman, bahan baku kosmetika, dan bahan baku obat- obatan; (4) nilai tambah produk hilirnya cukup besar; dan (5) permintaan produk olahannya mempunyai pasar yang bagus (Pemerintah Kal-Bar Berita, 2004).

Pengembangan agribisnis lidah buaya di Indonesia terpusat di Pontianak Provinsi Kalimantan Barat, namun selain itu lidah buaya juga banyak yang diusahakan di Pulau Jawa, tetapi skala usahanya relatif sempit dan lokasinya terpencar. Pengembangan lidah buaya di Pulau Jawa salah satunya dikembangkan di DKI Jakarta seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah Total Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas (Kg/m2), Tanaman Lidah Buaya di Provinsi DKI Jakarta.

Tahun Luas Panen

(m2) Produksi (Kg) Produktivitas (Kg/m2)

2014 8.482 28.880 3,40

2015 13.626 30.908 2,27

2016 6.009 17.230 2,87

2017 8.216 54.039 16,65

2018 3.246 25.824 3,14

Sumber: BPS, 2014-2018

Pada Tabel 1 menurut BPS terlihat bahwa di Provinsi DKI Jakarta, produksi lidah buaya tertinggi pada tahun 2017 dengan jumlah produksi sebesar 54.039 Kg.

Hal ini dikarenakan upaya pemerintah daerah Provinsi DKI Jakarta yang menggalakkan penanaman tanaman biofarmaka lidah buaya, untuk dijadikan

(23)

60,000

50,000 54,039

40,000

30,000 28,880 30,908

25,824 20,000

10,000

17,230

0

2014 2015 2016 2017 2018

sebagai bahan baku utama pembuatan obat-obatan atau makanan olahan.

Gambar 1. Produksi Lidah Buaya di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2014-2018.

Sumber: BPS, Tahun 2014-2018 (diolah)

Pada Gambar 1 terlihat bahwa grafik produksi lidah buaya di provinsi DKI Jakarta mengalami fluktuatif, dengan perolehan tertinggi pada tahun 2017 dan perolehan terendah pada tahun 2016. Namun pada tahun 2017 ke tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 28.755 kg. Jika dilihat dari garis trend-nya cenderung meningkat (bernilai positif) yang berarti produksi pada tahun 2014 hingga 2018 tidak mengalami penurunan yang berarti. Namun, pengembangan komoditas lidah buaya di DKI Jakarta kurang berjalan dengan baik.

Salah satu industri yang mengembangkan usaha pengolahan lidah buaya yaitu Home Industry UMMI, terletak di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Industri pengembangan olahan tersebut dimaksud untuk meningkatkan pendapatan dari hasil pertanian yang tidak hanya sekedar di jual dalam bentuk lidah buaya segar.

1.2 Identifikasi dan Rumusan masalah

Jakarta Timur memiliki lahan pertanian yang tersisa dan terbagi menjadi dua

(24)

sawah tersebut hanya terdapat di Kecamatan Cakung (Badan Pusat Statistik Kota Administrasi Jakarta Timur, 2018). Luas lahan tersebut merupakan jumlah total gabungan lahan pertanian yang ada di Jakarta Timur. Kecamatan Makasar memiliki lahan pertanian tanah darat seluas 28 Ha (Badan Pusat Statistik Kota Administrasi Jakarta Timur, 2018). Komoditi yang di tanam yaitu tanaman hias, dan tanaman obat (biofarmaka) salah satunya yaitu lidah buaya.

Kecamatan Makasar salah satu kecamatan yang berada di Jakarta Timur.

Terdapat 5 unit kelompok tani yang bergerak di bidang pengolahan pangan skala Industri Rumah Tangga (IRT), salah satunya Home Industry UMMI (Badan Pusat Statistik Kota Administrasi Jakarta Timur, 2018). Home Industry UMMI merupakan industri rumah tangga yang bergerak di bidang pengolahan lidah buaya.

Sebagian kecil usaha mereka mengolah lahan untuk budidaya lidah buaya yang memanfaatkan pekarangan rumah serta kebun kosong, karena berkeinginan untuk meningkatkan pendapatan keluarga, dan menciptakan lapangan pekerjaan. Home Industry UMMI membuat olahan lidah buaya menjadi produk. Produk dari hasil pengolahan lidah buaya diantaranya lidah buaya instan (powder), nata de aloe, dan teh herbal lidah buaya.

Potensi pengembangan olahan lidah buaya di Home Industry UMMI cukup besar dilihat dari kebutuhan lidah buaya setiap harinya. Dalam sehari membutuhkan lidah buaya sebanyak 50 kg lidah buaya, yang kurang lebih berjumlah 25 pelepah lidah buaya dan sebulan membutuhkan sebanyak kurang lebih 1000 kg lidah buaya.

Tingginya permintaan di bulan Ramadan jumlahnya akan bertambah menjadi 60 – 80 kg, hal ini dikarenakan banyaknya pesanan untuk pembuatan nata de aloe untuk

(25)

dijadikan minuman untuk berbuka puasa dan sahur serta lidah buaya powder sebagai pengganti gula pasir putih. Lidah buaya yang diproduksi sendiri oleh Home Industry UMMI hanya diperuntukkan untuk olahan produk dan tidak ada yang dijual segar. Namun, menurut pemilik usaha pengolahan lidah buaya jumlah lidah buaya segar yang dihasilkan hanya memenuhi 5% untuk kebutuhan bahan baku pengolahan lidah buaya dan belum memenuhi kebutuhan total bahan baku yang diperlukan untuk pengolahan lidah buaya. Maka dari itu untuk memenuhi bahan baku, pemilik usaha membeli dari Bogor atau Sukabumi sebanyak 500 kg setiap dua minggu sekali.

Skala usaha pengolahan lidah buaya masih tergolong industri mikro atau rumah tangga yang masih menggunakan teknologi pengolahan yang cukup sederhana dengan mengandalkan tenaga manusia membuat kapasitas produksinya terbatas. Adanya faktor modal dan peran pemerintah yang dihadapi yang membuat usaha tersebut belum berkembang, diantaranya keterbatasan pengetahuan dan kurangnya pembinaan pengrajin yang dimaksud untuk menambah produksi olahan serta dapat meningkatkan pendapatan. Pasar dan besarnya pendapatan merupakan faktor utama dari suatu kegiatan bisnis, termasuk dalam sebuah kegiatan pengolahan produk pertanian baik skala besar maupun skala kecil. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, pemilik usaha menjalankan usahanya tersebut berdasarkan pembukuan keuangan yang kurang tertata, sehingga nilai pendapatan yang diperoleh masih bersifat kasar. Oleh karena itu, kiranya perlu dilakukan analisis finansial yang lebih terperinci agar pihak manajemen perusahaan

(26)

perencanaan produksi dan alokasi anggaran yang lebih tepat di masa yang akan datang.

Dari permasalahan-permasalahan yang dikemukakan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis pendapatan pada produk lidah buaya olahan di Home Industry UMMI. Melihat identifikasi masalah diatas, rumusan masalah yang saya angkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apa saja biaya-biaya yang dikeluarkan pada usaha pengolahan lidah buaya Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur ?

2. Berapa pendapatan usaha pengolahan Lidah Buaya di Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar Jakarta Timur?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dapat ditentukan tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Mengetahui biaya-biaya yang dikeluarkan pada usaha pengolahan lidah buaya Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

2. Menganalisis pendapatan usaha pengolahan produk Lidah Buaya di Home Indutry UMMI di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan maka hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk memberikan informasi bagi:

1. Bagi penulis, untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan Strata Satu (S1)

(27)

Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, berguna untuk melatih kemampuan dalam menganalisis masalah, menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman serta sebagai media penerapan ilmu yang diperoleh selama kuliah.

2. Bagi pemilik usaha, diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan informasi mengenai usaha olahan lidah buaya.

3. Bagi pembaca, sebagai bahan informasi, pustaka, serta memberikan masukan bagi penelitian selanjutnya khususnya mengenai usaha pengolahan lidah buaya serta memberikan informasi bagi masyarakat pada umumnya dan pihak-pihak yang membutuhkan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Home Indusry UMMI yang berlokasi di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Komoditi yang menjadi objek penelitian yaitu usaha pengolahan lidah buaya. Peneliti memfokuskan penelitian pada analisis pendapatan produk olahan lidah buaya (lidah buaya instan (powder), nata de aloe, dan teh herbal). Penelitian ini didisain sebagai penelitian deskriptif, dengan metode yang dipakai yaitu studi kasus sehingga kesimpulan dari penelitian ini hanya berlaku bagi Home Indusry UMMI, namun diharapkan juga bermanfaat bagi pihak lain.

Informan dalam penelitin ini adalah warga yang tergabung dalam Home Indusry UMMI.

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Analisis Pendapatan Usaha 2.1.1 Konsep Pendapatan

Menurut Soekartawi (2016:54) pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan pengeluaran dengan beberapa ukuran pendapatan usaha antara lain:

a. Pendapatan kotor usaha didefinisikan sebagai nilai produk total usaha dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual atau ukuran hasil perolehan total sumberdaya yang digunakan dalam usaha. Jangka waktu pembukuan umumnya setahun dan mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga pengusaha, digunakan dalam usaha, digunakan untuk pembayaran, dan disimpan atau ada di gudang pada akhir tahun.

Menghindari penghitungan ganda, semua produk yang dihasilkan sebelum tahun pembukuan tetapi dijual atau digunakan pada saat pembukuan, tidak dimasukkan ke dalam pendapatan kotor. Istilah lain dari pendapatan kotor ialah nilai produksi (value of production) atau penerimaan kotor usaha (gross return). Semua komponen produk yang tidak dijual harus dinilai berdasarkan harga pasar.

b. Pengeluaran total usaha didefinisikan sebagai nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam produksi tetapi tidak termasuk tenaga kerja keluarga. Apabila data tersedia, maka cara yang dapat dilakukan ialah

(29)

memisahkan pengeluaran total usaha menjadi pengeluaran tetap dan pengeluaran tidak tetap.

c. Apabila dalam suatu usaha digunakan mesin-mesin atau peralatan, harus dihitung penyusutan yang dianggap sebagai pengeluaran tidak tunai.

d. Pendapatan bersih usaha (keuntungan) adalah selisih antara pendapatan kotor usaha dengan pengeluaran total usaha. Pendapatan bersih (net income) mengukur imbalan yang diperoleh keluarga pengusaha dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan, dan modal milik sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan. Pendapatan bersih merupakan peningkatan jumlah aktiva atau penurunan kewajiban yang dihasilkan dari penyerahan barang, jasa, maupun aktivitas usaha lainnya dalam suatu periode (Soemarsono, 2002: 274).

Perhitungan pendapatan usaha dapat dirumuskan sebagai berikut (Soekartawi, 2016: 57) :

Π = TR – TC Keterangan :

Π = Keuntungan usaha TR = Total Penerimaan TC = Total Biaya

e. Penghasilan bersih usaha (net earnings) adalah pendapatan bersih dikurangi bunga yang dibayarkan atas modal pinjaman. Ukuran ini menggambarkan penghasilan yang diperoleh dari usaha untuk keperluan keluarga dan

(30)

merupakan imbalan terhadap semua sumberdaya milik keluarga yang dipakai dalam usaha.

Sedangkan menurut Suratiyah (2015:83) pendapatan dalam usahatani diperlukan beberapa hal yaitu :

a. Pendapatan kotor atau penerimaan, yaitu diperhitungkan dari hasil penjualan atau penaksiran kembali dengan mengkalikan jumlah produksi dan harga per kesatuan.

b. Biaya alat-alat luar, merupakan semua biaya yang dipergunakan untuk menghasilkan pendapatan kotor kecuali upah tenaga kerja, bunga seluruh aktiva yang dipergunakan, dan biaya untuk kegiatan usaha.

c. Biaya mengusahakan, merupakan alat-alat luar ditambah upah tenaga keluarga, diperhitungkan berdasarkan upah pada umumnya.

d. Biaya menghasilkan, yaitu biaya mengusahakan ditambah bunga dari aktiva yang dipergunakan dalam usahatani.

e. Pendapatan bersih, adalah selisih dari pendapatan kotor dengan biaya mengusahakan.

f. Pendapatan petani, yaitu pendapatan kotor dikurangi biaya alat-alat luar dan bunga modal luar.

g. Pendapatan tenaga keluarga, merupakan selisih dari pendapatan petani dikurangi dengan bunga modal sendiri.

h. Keuntungan dan kerugian, yaitu selisih dari pendapatan petani dikurangi dengan upah keluarga dan bunga modal sendiri.

(31)

Menurut Sukirno (2002:47) bahwa pendapatan yang digunakan merupakan balas jasa yang diterima atas keikutsertaan seorang dalam proses produksi barang dan jasa, pendapatan ini dikenal dengan nama pendapatan dari kerja (labour income).

Menurut Sukirno (2002:48) untuk menghitung besar kecilnya pendapatan dapat dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu:

1. Pendekatan produksi (production approach), yaitu dengan menghitung semua nilai produksi barang dan jasa akhir yang dapat dihasilkan dalam periode tertentu.

2. Pendekatan pendapatan (income approach), yaitu dengan menghitung nilai keseluruhan balas jasa yang dapat diterima oleh pemilik faktor produksi dalam suatu periode tertentu.

3. Pendekatan pengeluaran (expenditure approach), yaitu pendapatan yang diperoleh dengan menghitung pengeluaran konsumsi masyarakat.

2.1.2 Konsep Biaya

Menurut Suratiyah (2015:83) biaya mengusahakan (biaya usahatani) adalah semua biaya yang dikeluarkan. Sedangkan menurut Mulyadi (2002:8) biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang akan ataupun telah terjadi untuk tujuan tertentu. Dilengkapi oleh Soekartawi (2010:54) yang mengatakan bahwa biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani dengan klasifikasi biaya usaha yaitu biaya tetap, biaya tidak tetap, biaya tunai, dan biaya tidak tunai (biaya diperhitungkan).

(32)

a. Biaya tetap (fix cost) tidak akan berubah pada tingkat di mana dalam jangka pendek produksi berubah tetapi akan berubah dalam jangka panjang sebagaimana jumlah dari biaya tetap. Sepanjang tidak dibutuhkan suatu input tetap dalam jangka panjang, biaya tetap hanya akan berharga untuk jangka pendek dan bernilai nol dalam jangka panjang.

b. Biaya Tidak Tetap (variable cost) yaitu biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Biaya tidak tetap berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan ouput. Contoh biaya tidak tetap yaitu biaya untuk sarana produksi maupun untuk pembelian bahan baku.

c. Biaya Tunai (cash) didefinisikan sebagai jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi keperluan usaha. Contoh biaya tunai dari biaya tetap dapat berupa pajak tanah dan pajak air. Biaya tunai yang sifatnya variabel antara lain berupa biaya untuk pemakaian input, sewa mesin, dan tenaga kerja luar keluarga atau tenaga kerja upahan.

d. Biaya Tidak Tunai (diperhitungkan) didefinisikan sebagai nilai barang dan jasa yang dibayar dengan benda atau berdasarkan kredit. Biaya diperhitungkan yang termasuk biaya tetap antara lain sewa lahan, penyusutan alat-alat pertanian, bunga kredit, dan lain-lain, sedangkan yang diperhitungkan dari biaya variabel antara lain biaya untuk tenaga kerja, biaya pengupasan dan pengolahan tepung dari keluarga.

2.1.3 Analisis R/C Ratio

Menurut Soekartawi (2016: 85), R/C Ratio merupakan singkatan dari Return

(33)

Cost Ratio yang dikenal sebagai perbandingan antara penerimaan dan biaya.

Menurut Harmono dan Andoko (2005: 67), rasio penerimaan atas biaya menunjukkan besarnya penerimaan yang akan diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam usaha. R/C Ratio dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan relatif kegiatan usaha. Secara sistematis R/C Ratio dapat dituliskan sebagai berikut:

R/C Ratio = Total Penerimaan Total Biaya R/C Ratio = Py . Y

(FC + VC)

Keterangan :

R/C = Revenue Cost ratio (rasional penerimaan terhadap total biaya) R = Py.Y (penerimaan)

Py = harga output Y = output

FC = biaya tetap (fixed cost) VC = biaya variabel (variable cost)

Analisis R/C Ratio dapat digunakan untuk melihat keuntungan dan kelayakan dari sebuah usahatani. Apabila nilai R/C Ratio lebih besar dari satu (R/C > 1), maka usahatani tersebut layak untuk dikembangkan. Sebaliknya, apabila nilai R/C Ratio lebih kecil dari satu (R/C < 1), maka usahatani tersebut tidak layak untuk dikembangkan (Soekartawi, 2016: 86).

(34)

2.1.4 Analisis B/C Ratio

Benefit Cost Ratio merupakan suatu rasio yang mengembalikan antara benefit (keuntungan) usaha dengan biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan pengoperasian usaha yang dijalankan tersebut, sehingga analisis B/C Ratio dapat dijadikan kriteria suatu usaha layak atau tidak (Sofyan, 2003: 177). Menurut Rahardi dan Hartono (2003: 69), secara sistematis B/C Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut :

B/C Ratio = Total Keuntungan Total Biaya

Menurut Pavelis (2017: 161), Benefit Cost Ratio (BCR) adalah rasio manfaat proyek dengan biaya proyek. Persyaratan dalam analisis B/C Ratio yaitu biaya dan manfaat (keuntungan) dikaitkan secara akurat.

Analisis B/C Ratio dapat digunakan untuk melihat keuntungan yang didapatkan suatu usaha dengan biaya yang dikeluarkan dalam usaha tersebut pada masa yang akan datang. Apabila nilai B/C Ratio lebih besar dari nol (B/C > 0), maka usahatani tersebut layak untuk dijalankan. Sebaliknya, apabila nilai B/C Ratio lebih kecil dari nol (B/C < 0), maka usahatani tersebut tidak layak untuk dijalankan karena tidak mampu mengembalikan modal yang diinvestasikan (Pavelis, 2017:

163).

2.1.5 Analisis Break Even Point (BEP)

Menurut Nurmalina dkk (2014:92), break even point (BEP) adalah titik pulang pokok dimana total revenue (TR) = total cost (TC), bergantung pada lama

(35)

arus penerimaan sebuah bisnis dapat menutupi segala biaya operasi dan pemeliharaan beserta biaya modal lainnya selama suatu usaha masih di bawah break even, maka perusahaan masih mengalami kerugian. Semakin lama mencapai titik pulang pokok, semakin besar saldo rugi karena keuntungan yang diterima masih menutupi segala biaya yang dikeluarkan. Adapun tujuan menggunakan analisis titik impas (BEP) adalah:

1. Untuk mengetahui berapa jumlah produk minimal yang harus diproduksi agar bisnis tidak rugi.

2. Berapa harga terendah yang harus ditetapkan agar bisnis tidak rugi.

2.1.6 Payback Period (PP)

Analisis Payback Period digunakan untuk mengetahui jangka waktu pengembalian modal yang dikeluarkan oleh perusahaan selama menjalankan usaha pengolahan lidah buaya yang diperoleh dari perbandingan antara nilai investasi dengan nilai pendapatan. Payback Period didefinisikan sebagai harapan jumlah tahun yang diperlukan untuk memulihkan investasi asli yang dikeluarkan di awal usaha (Brigham dan Ehrhardt, 2005: 347).

Jika semua faktor dianggap konstan, usaha dengan periode pengembalian yang lebih pendek sangat dipertimbangkan sebagai usaha yang lebih baik, karena investor dapat memulihkan modal yang diinvestasikan dalam periode waktu yang lebih singkat. Selain itu, periode pengembalian yang lebih pendek berarti memiliki likuiditas usaha yang lebih besar, karena arus kas yang diharapkan di masa depan dengan jangka waktu panjang akan lebih berisiko dibandingkan dengan arus kas

(36)

jangka pendek. Payback Period atau masa pengembalian modal investasi sering digunakan sebagai indikator risiko usaha atau proyek (Ong dan Thum, 2013: 157).

Selain itu, menurut Nurmalina dkk (2014:103) masalah utama dari metode ini adalah sulitnya menentukan periode payback maksimum yang diisyaratkan, untuk dipergunakan sebagai angka pembanding. Secara normative, tidak ada pedoman yang bisa dipakai untuk menentukan payback maksimum ini. Kelemahan- kelemahan lain dari metode ini adalah diabaikannya nilai waktu uang (time value of money), diabaikannya (cash flow) setelah periode payback.

2.2 Agroindustri Lidah Buaya 2.2.1 Agroindustri

Menurut UU No. 3 Tahun 2014, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi penggunaannya, termasuk jasa industri. Selanjutnya, agroindustri adalah industri yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan baik produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (finish product), termasuk di dalamnya adalah penanganan pasca panen, industri pengolahan makanan dan minuman, industri biofarmaka, industri bio-energy, industri pengolahan hasil ikutan (by-product) serta industri agrowisata (Departemen Pertanian, 2002:2).

Sedangkan menurut Soekartawi (2000:10) agroindustri dapat diartikan dua hal, (1) agroindustri adalah industri yang berbahan baku utama produk pertanian, (2) agroindustri yaitu suatu tahapan pembangunan sebagai kelanjutan dari

(37)

pembangunan pertanian, tetapi sebelum pembangunan tersebut mencapai tahapan pembangunan industri. Suatu industri yang menggunakan bahan baku pertanian dengan jumlah minimal 20% dari jumlah bahan baku yang digunakan adalah disebut agroindustri. Agroindustri adalah fase pertumbuhan setelah pembangunan pertanian tetapi sebelum pembangunan tersebut memulai ke tahapan pembangunan industri.

Menurut skala usahanya, agroindustri terbagi atas usaha mikro, kecil, menengah, dan besar. Pengertian usaha mikro, kecil, menengah, dan besar sesuai dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 yaitu :

1. Usaha mikro

Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria, yaitu: (a) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;

atau (b) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000.

2. Usaha Kecil

Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha yang bukan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung atau tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria, yaitu: (a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000 sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau (b) memiliki hasil penjualan tahunan yang hasilnya lebih dari

(38)

3. Usaha Menengah

Usaha menegah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung atau tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang- Undang, yaitu : (a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000 sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau (b) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000 sampai paling banyak Rp 50.000.000.000.

4. Usaha Besar

Usaha makro adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.

Menurut BPS (2017), pengklasifikasian industri pengolahan berdasarkan banyaknya tenaga kerja dibagi dalam empat golongan, yaitu :

1. Industri besar, banyak tenaga kerja 100 orang atau lebih.

2. Industri sedang, banyak tenaga kerja 20-99 orang.

3. Industri kecil, banyak tenaga kerja 5-19 orang.

4. Industri rumah tangga, banyak tenaga kerja 1-4 orang.

Menurut Astuty (2016:145), industri rumah tangga termasuk ke dalam industri mikro. Industri mikro merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar

(39)

dalam perekonomian Indonesia. Usaha mikro atau industri rumah tangga memiliki keunggulan padat karya sehingga bisa membantu mengurangi pengangguran.

2.2.2 Komoditas lidah buaya

Menurut Zul (2002:1), lidah buaya (Aloe Vera sp) berasal dari Afrika Utara, yang beriklim tropis dan diduga juga berasal dari kepulauan Canary di sebelah Barat Afrika yang dikenal sebagai tanaman obat dan kosmetik. Lidah buaya pertama kali masuk ke Indonesia dibawa oleh petani kerurunan China sekitar abad ke-17. Tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai tanaman hias yang ditanam sembarang di pekarangan rumah serta hanya sesekali dimanfaatkan sebagai obat luka bakar atau mengatasi kebotakan. Tanaman lidah buaya ini mirip kaktus, daunnya tumbuh ke atas, kaku bagaikan lidah atau pedang yang tajam, sehingga di Indonesia disebut dengan lidah buaya (Syariefa, 2002:18).

Hanya ada tiga jenis lidah buaya yang dipakai yang terdapat dalam perdagangan internasional yaitu, Aloe Chinenis, Aloe Barbadensis, dan Aloe ferox (Furnawanthi, 2003:8-9). Jenis yang banyak dikembangkan di Asia, termasuk Indonesia adalah Aloe Chinensis Baker yang berasal dari China, tetapi bukan asli tanaman China, di Indonesia sudah ditanam secara komersial di Kalimantan Barat dan lebih dikenal dengan lidah buaya Pontianak (Hendrawati. 2015: 48).

Tanaman lidah buaya dapat tumbuh di daerah kering, seperti, Afrika, Asia dan Amerika. Hal ini disebabkan bagian stomata daun lidah buaya dapat tertutup rapat pada musim kemarau karena untuk menghindari hilangnya air daun. Lidah

(40)

tanaman yang efisien dalam penggunaan air, karena dari segi fisiologi tumbuhan, tanaman ini termasuk tanaman yang tahan kekeringan (Furnawanthi, 2003:10).

Lidah buaya dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai daerah pegunungan. Daya adaptasinya tinggi sehingga tempat tumbuhnya menyebar ke seluruh dunia mulai daerah tropika sampai ke daerah sub tropika. Tanah yang dikehendaki lidah buaya adalah tanah subur kaya bahan organik dan gembur.

Kesuburan tanah pada lapisan olah sedalam 30 cm sangat diperlukan, karena akarnya yang pendek tanaman ini tumbuh baik di daerah bertanah gambut yang pHnya rendah (Furnawanthi, 2002:5).

Kelemahan lidah buaya adalah jika ditanam di daerah basah dengan curah hujan tinggi, mudah terserang cendawan, terutama fusarium sp. yang menyerang pangkal batangnya. Sementara itu, dari segi budidaya, tanaman lidah buaya sangat mudah dan relatif tidak memerlukan investasi besar. Hal ini disebabkan tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang dapat dipanen berulang-ulang dengan masa produksi 7-8 tahun (Furnawanthi, 2002:5-6).

2.2.3 Komponen dan manfaat lidah buaya

Unsur-unsur kimia yang terkandung di dalam daging lidah buaya menurut para peneliti antara lain: Lignin, Saponin, Anthraquinone, Vitamin, Mineral, Gula, dan enzim, Monosakarida dan polisakarida, asam-asam amino essensial dan non essensia lyang secara bersamaan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang menyangkut kesehatan tubuh. Di samping itu keistimewaan lidah buaya terletak pada sel nya yang mampu untuk meresap di dalam jaringan kulit, sehingga

(41)

dan Lubis, 2002: 29-35).

Menurut Henry (1979: 42-50), unsur utama dari cairan lidah buaya adalah aloin, emodin, resin, gum, dan unsur lainnya seperti minyak atsiri. Dari segi kandungan nutrisi, gel atau lendir daun lidah buaya mengandung beberapa mineral seperti Zn, K, Fe, dan vitamin seperti vitamin A.

Lidah buaya tidak menyebabkan keracunan pada manusia maupun hewan, sehingga sebagai bahan industri lidah buaya dapat diolah menjadi produk makanan dalam bentuk serbuk, gel, jus, dan ekstrak. Cairan yang keluar dari potongan lidah buaya tadi bila diluapkan menjadi bentuk setengah padat, dapat digunakan sebagai alat pencuci perut atau obat pencahar (Suryowidodo, 1998). Kandungan zat gizi lidah buaya per 100 gram dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan gizi lidah buaya

Zat Gizi Kandungan / 100 g Bahan

Energi (Kal) 4,00

Protein (g) 0,10

Lemak (g) 0,20

Serat (g) 0,30

Abu (g) 0,10

Kalsium (mg) 85,00

Fosfor (mg) 186,00

Besi (mg) 0,80

Vitamin C (mg) 3,476

Vitamin A (IU) 4,594

Vitamin B1 (mg) 0,01

Kadar Air (g) 99,20

Sumber: Departemen Kesehatan R.I. (1992)

(42)

2.2.4 Pohon Industri Tanaman lidah buaya

Lidah buaya banyak digunakan oleh manusia sejak lama, baik diolah secara moderen maupun sederhana. Khusus yang diolah secara moderen, penggunaan lidah buaya pada umumnya dalam bentuk bubuk (aloe powder), bahan jadi seperti sabun (aloe soap) dan produk lainnya seperti sari dan gel lidah buaya yang telah distabilkan 100% agar tidak mengalami kerusakan enzimatis. Kosmetika berbahan baku lidah buaya yang cukup banyak diproduksi Amerika antara lain: lotion, sampo dan lipstik.

Mengingat manfaat yang diperoleh dari tanaman lidah buaya cukup banyak serta merta dapat dibuat berbagai macam produk-produk turunannya, maka dapat dibuat pohon industrinya seperti yang tertera pada Gambar 3.

Gambar 2. Pohon Industri Lidah Buaya

Sumber: Aloevera Center, 2004

Minuman dan produk herbal dari olahan lidah buaya diantaranya adalah Lidah Buaya Instan (powder), Minuman Es Lidah Buaya, dan Teh Herbal Lidah Buaya.

1. Lidah Buaya Instan (powder)

(43)

Lidah Buaya Instan (powder) adalah minuman serbuk yang berasal dari hasil proses pengolahan daging Lidah buaya menggunakan campuan gula dan ektrak daun pandan. Melalui proses perebusan hinggan cairan mengental lalu mengkristal setelah itu proses penghalusan yang diubah menjadi gula halus, sehingga rasa asli lidah buaya yang cenderung pandan yang diakibatkan oleh campuran ekstrak pandan.

2. Nata de Aloe

Nata de Aloe adalah nata yang terbuat dari bahan baku lidah buaya yang tidak menimbulkan rasa dan berbau, biasa digunakan untuk campuran minuman dingin yang dinikmati saat dingin, melalui proses pencucian daging yang bersih serta dipotong kecil-kecil lalu dicampur dengan air dan perisa pandan atau leci.

3. Teh Herbal Lidah Buaya

Teh Herbal Lidah Buaya adalah hasil dari proses olahan sisa (limbah) yang diambil kulit nya saja yang melalui proses pengeringan di bawah sinar matahari.

Teh herbal lidah buaya bisa langsung dinikmati dengan campuran air panas dan dengan atau tanpa gula.

2.3 Penelitian terdahulu

Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan dalam melakukan penelitian, sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Penulis mengangkat beberapa penelitian terdahulu sebagai referensi dalam memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis. Penelitian terdahulu yang digunakan oleh penulis diambil dari berbagai

(44)

yang berjudul “Analisis system usahatani lidah buaya di Kabupaten Bogor”.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui performa keterkaitan ke depan dan ke belakang pada usahatani serta menganalisis pendapatan usahatani lidah buaya di Kabupaten Bogor.

Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data pendapatan, R/C Ratio, dan uji beda Mann-Whitney U Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa performa keterkaitan ke belakang sudah baik, sedangkan performa keterkaitan ke depan juga cukup baik karena saat ini sudah ada pasar dan pabrik pengolahan.

Penyiangan gulma dalam usahatani lidah buaya ada dua metode yang digunakan petani yaitu metode herbisida dan metode manual. Nilai R/C atas biaya tunai petani metode dan manual sebesar 3,14 dan 3,39, sedangkan jika dilihat nilai R/C atas biaya tunai petani responden secara keseluruhan sebesar 3,40. Nilai R/C atas biaya total petani metode herbisida, manual serta metode secara keseluruhan yaitu sama, sebesar 2,82.

Penelitian yang lain yaitu Santos dkk (2017). Dalam penelitiannya yang berjudul “Feasibility study of Coffee Monoculture Farming and Jackfruit Intercopping in Ermera District of East Timor”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis biaya prouksi dan pendapatan usahatani kopi monokultur dan nangka tumpang sari di daerah Distrik Ermera, Timor Timur. Dalam penelitian ini mengunakan metode analisis data seperti Net B/C Ratio dan Payback Period (PP).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) masyarakat di daerah penelitian yang mayoritas penduduknya petani tentu mengharapkan pemerintah pusat dan daerah dapat berperan dalam rangka pembinaan untuk meningkatkan pengetahuan

(45)

dan keahlian masyarakat tentang manajemen budidaya kopi. (2) Rata-rata biaya produksi kopi monokultur sistem sebesar US$592,45 dan biaya produksi tumpangsari nangka sebesar US$ 620,25 ha/tahun; penerimaan usahatani kopi monokultur rata-rata US$ 1311,49 dan rata-rata usahatani tumpangsari adalah US$

1243,06 ha/tahun; rata-rata pendapatan yang diperoleh petani monokultur sebesar US$ 719,04 ha/tahun; dan rata-rata pendapatan yang diperoleh petani nangka adalah US$622,81 ha/tahun. Dengan suku bunga bank sebesar 12%, dimungkinkan untuk mengembangkan kopi monokultur dan sistem tumpang sari, dengan Nilai NPV sebesar US$ 2781,73, dan NPV sebesar US$ 2298,02, IRR sebesar 30% dan 29%; Bersih B/C dari 3,79 dan 3:00; payback period usahatani kopi monokultur selama empat tahun harus dikembangkan sebagai periode pengembalian yang lebih pendek dan pertanian tumpang sari selama 11 tahun, tahun 3 bulan tidak layak dikembangkan, karena payback periodnya lebih lama, oleh karena itu proyek tersebut ditolak. (3) perbandingan analisis sensitivitas dengan Kenaikan biaya produksi sebesar 65% mengakibatkan perubahan nilai NPV sebesar US$ -57,51;

dan US$ -343,93, IRR 11% dan 5%; Net B/C sebesar 0,96 dan 0,85; dan periode pengembalian -1,12 dan -0,91 menunjukkan bahwa usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan. Dengan penurunan harga produksi, 40% kopi monokultur dan sistem tumpang sari tidak layak untuk dikembangkan, dengan nilai NPV US$ - 78,19 dan US$ -258,77; IRR 10% dan sebesar 3%; Net B/C sebesar 0,91 dan 0,82;

dan periode pengembalian dari -1,47 tahun dan -1,81 tahun.

Hasil ini menunjukkan bahwa tumpangsari kopi monokultur dan nangka

(46)

Penelitian lainnya yang terakhir oleh Kusumawati dkk (2018) Dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Efisiensi Budidaya Tanaman Lidah Buaya di Kelurahan Maharatu Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sistem agribisnis lidah buaya yang saat ini dilaksanakan oleh petani dan menganalisis biaya produksi, nilai penyusutan peralatan, pendapatan petani, dan efisiensi usahatani aloe vera.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei pada petani lidah buaya.

Kesimpulan: 1) usahatani cukup menguntungkan dengan laba bersih Rp 154.925 untuk produksi rata-rata Rp 325.075 (Panca Karya) dan laba bersih sebesar Rp 360.845 untuk produksi rata-rata Rp 439.154 (Karya Makmur) untuk satu siklus produksi per bulan dan 2) Nilai RCR usahatani lidah buaya adalah 1,47 pada kelompok tani Panca Karya dan 1,82 pada kelompok tani Karya Makmur, sehingga usahatani dianggap efisien. Untuk ringkasan dari penelitian terdahulu baik menggunakan metode yang sama maupun berbeda yang dapat dilihat pada Tabel 3.

(47)

Tabel 3. Penelitian Terdahulu

No. Judul Perbedaan Persamaan

1.

Suprabowo dkk (2016)

“Analisis system usahatani lidah buaya di Kabupaten Bogor”

-Daerah penelitian yaitu di Kabupaten Bogor.

-Analisis uji beda Mann-Whitney U Test.

- Komoditas yang diteliti yaitu lidah buaya

- Bertujuan untuk menganalisis tingkat pendapatan.

- Menggunakan analisis pendapatan usahatani dan analisis R/C ratio

2.

Santos dkk (2017)

“Feasibility Study of Coffee Monoculture Farming and Jackfruit

Intercropping In Emera District of East Timor”

- Komoditas yang diteliti adalah kopi monokultur dan nangka tumpang sari.

-Daerah penelitian yaitu Distrik Ermera, Timor Timur.

- Bertujuan untuk menganalisis biaya produksi dan pendapatan usahatani.

- Menggunakan analisis data seperti Net B/C Ratio dan Payback Period.

3

Kusumawati dkk (2018)

“Analisis Efisiensi Budidaya Tanaman Lidah Buaya di Kelurahan Maharatu Kecamatan Marpoyan Damai Kota

Pekanbaru”

- Bertujuan untuk mempelajari efisiensi usahatani lidah buaya - Menggunakan

metode survei - Daerah penelitian di

Kelurahan Maharatu Kecamatan

Marpoyan Damai Kota Pekanbaru

- Komoditas yang diteliti yaitu lidah buaya

- Menggunakan metode analisis pendapatan usahatani dan analisis R/C ratio

(48)

2.4 Kerangka Pemikiran

Penelitian ini diawali dengan melakukan identifikasi terhadap kondisi perusahaan atau studi tahap awal di Home Industry UMMI Kecamatan Makasar.

UMMI merupakan salah satu industri yang memiliki usaha pengolahan lidah buaya.

Olahan yang diproduksi antara lain lidah buaya instan (powder), nata de aloe, dan teh herbal lidah buaya. Pengrajin memanfaatkan semua bagian lidah buaya dengan baik sehingga tidak ada yang terbuang. Kulit lidah buaya dapat dijadikan pupuk atau teh herbal. Daging dari pelepah lidah buaya dapat diolah menjadi nata de aloe selain itu dapat diolah menjadi lidah buaya instan (powder), serta dapat menjadi pengganti gula pasir putih.

Pengolahan lidah buaya di Home Industry UMMI masih dalam skala industri kecil yang masih menggunakan teknologi pengolahan sederhana. Adanya faktor modal dan peran pemerintah yang masih kurang membuat usaha tersebut belum berkembang, diantaranya keterbatasan pengetahuan dan kurangnya pembinaan pengrajin yang dimaksud untuk menambah produksi olahan serta dapat meningkatkan pendapatan.

Pasar dan besarnya pendapatan merupakan faktor utama dari suatu kegiatan bisnis, termasuk dalam sebuah kegiatan pengolahan produk pertanian baik skala besar maupun skala kecil. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, pemilik usaha menjalankan usahanya tersebut berdasarkan pembukuan keuangan yang kurang tertata, sehingga nilai pendapatan yang diperoleh masih bersifat kasar serta belum adanya evaluasi finansial secara komprehensif pada usaha pengolahan lidah buaya.

Analisis pendapatan dilakukan untuk mengetahui keuntungan atau kerugian

(49)

yang diperoleh pengrajin olahan lidah buaya. Oleh karena itu, kiranya perlu dilakukan analisis pendapatan yang lebih terperinci agar pihak manajemen mengetahui omzet dan keuntungan perusahaan yang sebenarnya serta diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai biaya-biaya apa saja yang dikeluarkan untuk membuat usaha pengolahan lidah buaya secara terperinci di Home Industry UMMI, yang selanjutnya dapat dijadikan bahan evaluasi dan rekomendasi bagi perusahaan Home Industry UMMI.

Perhitungan analisis pendapatan diperoleh dengan menggunakan perhitungan R/C Ratio untuk mengetahui perbandingan antara penerimaan dengan biaya, B/C Ratio untuk mengetahui besarnya perbandingan pendapatan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Sedangkan analisis Payback Period untuk melihat jangka waktu pengembalian modal yang diperlukan oleh Home Industry UMMI dalam melunasi seluruh pengeluaran investasi selama umur investasi. Perhitungan analisis pendapatan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai keberlangsungan usaha dari Home Industry UMMI, yang selanjutnya dapat dijadikan bahan evaluasi dan rekomendasi bagi perusahaan Home Industry UMMI.

Kerangka pemikiran pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.

(50)

Belum ada evaluasi finansial secara

komprehensif pada usaha pengolahan lidah buaya

Analisis R/C Ratio Analisis B/C Ratio

Analisis Break Even Point (BEP) Payback Period (PP) Analisis Pendapatan

1. Penerimaan 2. Biaya Produksi 3. Penyusutan Alat 4. Pendapatan Usaha

Teh Herbal Lidah Buaya Nata de Aloe (koktail) Lidah Buaya instan (powder) Usaha Pengolahan Lidah Buaya

Keberlangsungan Usaha Pengolahan Lidah Buaya di Home Industry UMMI

Gambar 3. Kerangka Pemikiran Home Industry UMMI

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Home Industry UMMI yang berada di Jl.

Jengki Cipinang Asem RT 12/09 No. 1, Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Kotamadya Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia.

Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Februari 2020 sampai Oktober 2020.

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive, yaitu pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja. Lokasi penelitian dipilih dengan mempertimbangkan bahwa Home Industry UMMI merupakan salah satu industri rumahan yang mengolah lidah buaya menjadi produk olahan.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil wawancara dengan pihak terkait yakni pemilik dan pekerja lapang di UMMI berupa jumlah investasi, biaya tidak tetap, biaya tetap, informasi mengenai kapasitas produksi dan harga jual.

Data sekunder dalam penelitian ini merupakan data yang sudah diolah dan disajikan oleh pihak perusahaan. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber laporan antara lain kuantitas ketersediaan sumber daya yang meliputi bahan baku, jam kerja dan tenaga kerja langsung, gambaran umum perusahaan, Badan Pusat Statistik, dan Majalah Pertanian.

(52)

3.3 Metode Pengumpulan data

Metode pengumpulan data dilakukan selama penelitian berlangsung dengan beberapa cara, yaitu:

1. Wawancara

Wawancara adalah tanya jawab antara peneliti dengan responden (Supranto, 1974:57). Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan atau pernyataan yang telah dipersiapkan. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara terstruktur, artinya menggunakan pedoman wawancara (kuesioner) pada Lampiran 1 sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian. Hasil wawancara dengan pengrajin menghasilkan data kuantitatif (data nilai tambah dan data pendapatan) serta data kualitatif untuk menggambarkan sudut pandang atau interpretasi individu (informan) dalam latar alamiah.

2. Studi Pustaka

Studi pustaka yang dilakukan mengacu pada literatur yang dianggap relevan dengan penelitian ini, yaitu berupa jurnal, artikel, buku, surat kabar, majalah, maupun hasil penelitian (Skripsi atau tesis). Metode ini sebagai alat penunjang metode wawancara.

3. Observasi

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi partisipan, yaitu pengamatan dengan terjun langsung dan berinteraksi serta mengumpulkan data dalam lingkungan yang diobservasi (Sugiyono, 2009:310). Peneliti melakukan observasi langsung yang berkenaan dengan aktivitas produksi olahan lidah buaya dengan mengamati proses produksi mulai dari cara pembuatan, penggunaan bahan,

(53)

dan penggunaan alat-alat yang bertujuan untuk mencocokkan jawaban pada saat proses wawancara kepada pengrajin dengan kondisi di lapangan.

3.4 Metode Penentuan Responden

Berdasarkan kondisi di lapangan diketahui di UMMI terdapat 30 pengrajin pengolah lidah buaya. Jumlah input lidah buaya yang digunakan sesuai dengan kapasitas pengolahan dari pengrajin, sehingga kriteria untuk total responden yang diambil dilihat dari jumlah variasi input dari setiap pengrajin pada Tabel 3.

Tabel 3. Responden pengrajin olahan Lidah Buaya di UMMI No. Produk Olahan Lidah

Buaya

Variasi Input Lidah Buaya

Jumlah pengrajin

(orang)

Jumlah responden

(orang) 1. Lidah buaya instan 5 kg, 10 kg, 20

kg, 30 kg, 50 kg 20 5

2. Nata de aloe 1 kg, 2 kg, 3 kg,

4 kg 9 4

3. Teh herbal lidah

buaya 25 kg 1 1

Total 30 10

Jumlah pengrajin yang ada disesuaikan dengan jenis produk dan variasi jumlah input lidah buaya yang digunakan, kemudian diambil sampel yang akan menjadi responden dari masing-masing variasi input lidah buaya. Tidak ada responden yang mengolah ketiga jenis produk olahan, masing-masing responden mengerjakan satu jenis variasi input lidah buaya. Total responden ditentukan secara purposive sampling karena jumlah pengrajin cukup homogen, sehingga didapatkan total responden yang diambil berdasarkan variasi input berjumlah 10 orang

(54)

bahkan cukup mengambil satu sampel sehingga peneliti mengambil satu sampel dari setiap variasi input lidah buaya yang digunakan.

3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pada penelitian ini, pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif meliputi tahap pengolahan dan interpretasi data secara deskriptif.

Pengolahan data kuantitatif diperoleh dengan bantuan Microsoft Exel 2010.

Analisis kuantitatif dalam penelitian ini yaitu analisis pendapatan usaha, analisis R/C Ratio, dan analisis B/C Ratio dari usaha pengolahan lidah buaya.

Sedangkan, analisis secara kualitatif disajikan dari hasil analisis deskriptif yaitu analisis yang bersumber dari hasil wawancara yang meliputi pengadaan sarana produksi dan proses produksi pada Home Industry UMMI.

3.5.1 Analisis Pendapatan Usaha

Analisis data yang digunakan untuk mengetahui pendapatan usaha pengolahan lidah buaya yaitu, Lidah Buaya Instan (Powder), Nata de aloe, dan Teh Herbal Lidah Buaya digunakan analisis sebagai berikut:

a) Penerimaan

Penerimaan menurut Soekartawi (2016:54) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual, dituliskan secara sistematis sebagai berikut:

TP(p) = JP(p) . H(p)

Gambar

Tabel  1.  Jumlah  Total  Luas  Panen,  Produksi,  dan  Produktivitas  (Kg/m 2 ),  Tanaman Lidah Buaya di Provinsi DKI Jakarta
Gambar 1. Produksi Lidah Buaya di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2014-2018.
Tabel 2. Kandungan gizi lidah buaya
Gambar 2. Pohon Industri Lidah Buaya
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap total biaya produksi per kilogram dalam usahatani pengolahan ikan asin dalam jangka waktu

Biaya total yang harus dikeluarkan oleh Home Industri Enam Putri untuk usaha pengolahan jahe merah instant adalah sebesar Rp. Hasil analisis kelayakan finansial dengan 100 persen

Biaya variabel terbesar yang dikeluarkan oleh usaha ternak ayam ras petelur Rajawali Poultry Shop adalah biaya pakan yaitu sebesar Rp.. Urutan kedua adalah biaya bibit

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh skala usaha terhadap total biaya produksi per ton dalam usaha pengolahan ikan asin dalam jangka waktu satu bulan,

Biaya variabel terbesar yang dikeluarkan oleh usaha ternak ayam ras petelur Rajawali Poultry Shop adalah biaya pakan yaitu sebesar Rp.. Urutan kedua adalah biaya bibit

Dari penjelasan-penjelasan yang telah dijabarkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa biaya produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan guna membiayai

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa harga jual adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu barang atau jasa ditambah

Menurut fitriyani dkk 2014 tujuan menganalisis aspek finansial dari analisis kelayakan usaha adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang