• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN KAWASAN PENELITIAN

4.3 Potensi Wisata Desa Meat

Terdapat beberapa potensi wisata yang ditawarkan Desa Meat. Rumah adat tradisional Batak Toba, penenun ulos tradisional, tarian adat tor-tor, perkuburan kuno Batak Toba, dan bentang alam Danau Toba yang indah. Terdapat dua pantai yang berada di Desa Meat yaitu Pantai Simanjuntak dan Pantai Pakodian. Banyak terdapat undak-undak sawah di Desa Meat. Desa Meat yang terletak di dalam lembah juga membuatnya dikelilingi pegunungan.

Gambar 4. 4. Rumah Adat Batak Toba di Desa Meat (sumber : images.google.com)

Rumah Bolon atau rumah adat tradisional Batak Toba yang terletak di Desa Meat baru saja di renovasi ketika Desa Meat ditetapkan sebagai desa wisata. Warga-warga yang tinggal di rumah-rumah adat ini menyediakan rumahnya sebagai tempat menginap para wisatawan karena sebagian wisatawan ingin merasakan pengalaman

menginap di rumah adat. Selain rumah adat ini terdapat juga satu penginapan di Desa Meat yaitu Meat Homestay.

Selain rumah adat, penenun ulos juga menjadi salah satu atraksi wisata di Desa Meat. Hampir seluruh kaum wanita di Desa Meat ini mempelajari kerajinan menenun ulos. Tarian tor-tor juga menjadi atraksi wisata Desa Meat. Tetapi tarian tor-tor biasanya dipersembahkan apabila tamu dari luar kota atau pemerintah datang dalam jumlah yang banyak. Para wisatawan diperbolehkan untuk ikut menari bersama. Jamuan tari tor-tor ini digelar di pekarangan huta atau perkampungan yang terdapat di Desa Meat.

Gambar 4. 5. Suasana Perkampungan Desa Meat

Tarian tor-tor juga ditampilkan ketika upacara adat diselenggarakan.

Upacara adat Batak yang biasa diselenggarakan di Desa Meat berupa Upacara Kematian bagi Saur Matua, Mangokkal Holi, dan peresmian Rumah Bolon. Namun upacara ini tidak sering diadakan karena pada umumnya upacara perayaan ini membutuhkan biaya yang sangat besar dan untuk Upacara Kematian Saur Matua waktunya tidak bisa diduga.

Perkuburan kuno Batak Toba yang terdapat di Desa Meat terlihat menarik bagi wisatawan karena budaya Batak Toba menganggap semakin besar dan megah perkuburan leluhurnya, semakin bagus. Hal ini menandakan bahwa keturunan dari leluhur tersebut merupakan orang yang berhasil dan sukses. Kuburan yang besar dan berwarna-warni bisa menjadi atraksi wisata yang menarik untuk dilihat.

Gambar 4. 6. Perkuburan Kuno Batak Toba di Desa Meat

Desa Meat terletak di tempat yang strategis untuk mendapatkan pemandangan optimal Danau Toba. Terletak didalam lembah dan teluk yang menjorok masuk kedalam membuat penampakan panorama Danau Toba bisa dinikmati dari sudut pandang yang berbeda. Bentang sawah yang luas juga memperindah pemandangan Desa Meat.

Gambar 4. 7. Hamparan sawah Desa Meat (Sumber : earth.google.com)

Dermaga Desa Meat

Bentang Sawah Desa Meat

Huta Ragi Hotang

Meat Homestay

BAB V ANALISA

5.1 Analisa Boundary (Batas)

Setiap bagian tanah yang memiliki pagar atau batas dapat diartikan sebagai boundary (Norberg-Schultz, 1980). Heidegger (dalam Norberg-Schultz, 1980) mengatakan bahwa boundary bukanlah akhir dari suatu daerah atau kawasan tetapi, seperti yang dikatakan bangsa Yunani, boundary adalah darimana suatu daerah atau kawasan mulai menunjukkan keadaannya. Boundary terbagi menjadi dua (Norberg-Schultz, 1980) yaitu boundaries of built spaces dan boundaries of a landscape atau batas ruang yang dibangun dan batas alam. Boundaries of built spaces berupa dinding, gerbang, dan lantai sedangkan boundaries of landscape berupa tanah, langit, dan garis horizon.

5.1.1 Boundaries of Built Spaces

Boundaries of built spaces berupa dinding, gerbang, dan lantai. Pada umumnya, batas suatu daerah itu ditandai dengan sebuah penanda atau landmark.

Pada Desa Meat, terdapat semacam gapura (harbang) yang menandakan bahwa pengunjung sudah berada dalam wilayah Desa Meat. Gapura ini merupakan salah satu dari dua gapura yang terdapat di Desa Meat. Gapura satu lagi terletak sekitar 100m setelah gapura yang pertama. Gapura kedua terletak diatas jembatan.

Gambar 5. 1. (a) Gapura Pertama (b) Gapura Kedua

Kondisi kedua gapura tersebut terlihat berbeda. Gapura pertama terlihat lebih baru daripada gapura kedua. Gapura pertama terlihat seperti baru dicat.

Gapura kedua terlihat sudah lama dan usang. Papan besi dari gapura kedua terlihat sudah berkarat. Terdapat gapura ketiga yang menuju kearah Huta Ginjang tetapi tidak dapat diakses karena tertimbun longsor.

Gambar 5. 2. Longsor yang Menutup Akses Gapura Ketiga

Gapura yang terdapat di Desa Meat ini terlihat tidak sesuai sebagai penanda sebuah desa wisata. Ukurannya yang kecil dan desain yang sederhana membuat awal suatu kawasan sulit diketahui. Awal mula kawasan yang jelas juga membingungkan karena terdapat dua gapura. Gapura ketiga yang menghubungkan

(a) (b)

Desa Meat dengan Huta Ginjang tertutup longsor sehingga hanya terdapat satu akses menuju Desa Meat.

5.1.2 Boundaries of Landscape

Boundaries of landscape berupa tanah, langit, dan garis horizon. Desa Meat terletak didalam lembah dan pesisir teluk yang menjorok kedalam lembah. Barisan perbukitan menjadi batas antar Desa Meat dan desa lainnya. Perbukitan ini membentuk lembah yang mengelilingi Desa Meat. Pantai pesisir danau Toba menjadi batas antara Desa Meat dan kawasan lainnya disekitar Danau Toba.

Dermaga yang terdapat di Desa Meat ini didirikan karena garis pantai

Gambar 5. 3. Perbukitan yang mengelilingi Desa Meat

Lokasi Gapura Desa Meat

Peta Desa Meat

Gapura Pertama

Gapura Kedua Gambar 5. 4. Letak Gapura Desa Meat

5.2 Analisa Central (Pusat)

Dikutip dari bukunya, Genius Loci, Towards a Phenomenology of Architecture (1980), Norberg-Schultz mengatakan bahwa central atau pusat dalam suatu konteks yang lebih luas, suatu area yang dibatasi atau dianggap memiliki wilayahnya tersendiri yang bisa menjadi pusat dimana berfungsi menjadi fokus dari keadaan sekelilingnya. Hal ini berlaku juga pada sacred places atau tempat-tempat sakral.

Desa Meat memiliki beberapa tempat yang dianggap sakral seperti sebuah pohon beringin tua dan kompleks pemakaman kuno Batak Toba. Pohon beringin dan kompleks pemakaman ini menjadi fokus oleh daerah sekelilingnya karena mereka memiliki batas wilayahnya masing-masing. Untuk pohon beringin memiliki batas yang virtual atau berdasarkan cerita-cerita masyarakat setempat, sedangkan kompleks pemakaman memiliki batas yang nyata, dapat dilihat melalui pagar yang mengelilingi kompleks perkuburan.

Gambar 5. 5. Pohon Beringin di Desa Meat

Gambar 5. 7. Danau Toba

Gambar 5. 6. Salah Satu Kompleks Pemakaman

Danau Toba bisa dianggap sebagai central sesuai dengan teori sacred place.

Danau Toba dianggap sakral oleh masyarakat sekitar Danau Toba terutama yang menganut agama Parmalim. Sesuai kepercayaan agama Parmalim, terdapat penguasa air di Danau Toba yang bernama Siboru Saniang Naga. Untuk menghormati Siboru Saniang Naga ini, para penduduk disekitar Danau Toba menjaga perilaku mereka apabila berada di sekitar Danau Toba.

Menurut warga sekitar, pusat atau central tersebut tidak terdapat pada dua tempat sakral yang telah disebutkan diatas. Ketika ditanyakan tentang pusat atau central, warga cederung memahami definisi pusat atau central itu sebagai tempat warga berkumpul apabila ada suatu acara atau kegiatan.

Terdapat tiga tempat berkumpul sesuai dengan fungsi masing-masing di Desa Meat. Warga berkumpul di pekarangan rumah Bolon apabila ada acara seperti menyambut tamu, pesta pernikahan, dan kematian. Pertemuan yang membahas permasalahan di Desa Meat biasanya diadakan di Kantor Kepala Desa dan dipimpin langsung oleh Kepala Desa dan jajarannya. Meat Homestay sering dijadikan tempat berkumpul warga bersama tamu apabila ada tamu dari luar kota yang biasanya menginap di homestay. Untuk sehari-hari, warga banyak berkumpul di kedai kopi sekitar.

Gambar 5. 8. Meat Homestay

Gambar 5. 9. Pekarangan Rumah Bolon

Perbedaan pemahaman masyarakat tentang central atau pusat bisa membuat pengunjung sedikit bingung. Pusat yang berorientasi pada tempat-tempat sakral memiliki kondisi yang tidak tertata. Lokasi pohon beringin yang dianggap sakral bagi warga Desa Meat dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah. Lokasi pohon beringin dan pemakaman bisa dijadikan potensi sebagai pusat atau central yang baik karena lokasinya berdekatan dengan pekarangan Rumah Bolon tempat dimana acara adat atau festival sering diadakan.

Pekarangan Rumah Bolon

Meat Homestay (sumber : dokumentasi pribadi)

Kompleks Pemakaman Keluarga Siahaan Pohon Beringin di Desa Meat

(sumber : dokumentasi pribadi)

5.3 Analisa Orientation (Arah)

Orientation atau arah adalah suatu struktur spasial yang memfasilitasi sebuah gambaran perkembangan lingkungan yang baik (Norberg-Schultz, 1980:32). Dalam suatu kalimat lainnya, Norberg-Schultz juga mengatakan bahwa orientasi atau arah berpusat pada sacred place atau tempat sakral.

Danau Toba selalu dijadikan tempat yang sakral ataupun suci bagi Suku Batak karena menurut mitos Suku Batak, Danau Toba yang berasal dari kisah ikan mas ajaib membuat Danau Toba menjadi sakral dan memiliki beberapa hal yang dianggap tabu seperti tidak boleh berlaku sembarangan disekitar Danau Toba, dan lainnya. Tidak hanya Danau Toba, Gunung Pusuk Buhit juga menjadi suatu elemen penting bagi Suku Batak. Dikisahkan bahwa nenek moyang Suku Batak Toba turun dari langit di Pusuk Buhit.

Kedua mitos ini memengaruhi banyak orientation atau arah pada perkampungan Batak Toba yang terletak dipinggir Danau Toba. Pada Desa Meat, terdapat dua arah perkampungan yaitu kearah Danau Toba dan Gunung Pusuk Buhit. Perkampungan yang berusia sekitar 100 tahun memiliki bangunan yang cenderung berorientasi kearah Gunung Pusuk Buhit. Pada perkampungan ini, bangunan-bangunan yang dibangun baru saja ikut berorientasi sesuai dengan Rumah Bolon dan pola perkampungan.

Untuk bangunan yang dibangun diluar perkampungan, bangunan tersebut berorientasi kearah Danau Toba. Bangunan-bangunan tersebut dibangun berorientasi kearah Danau Toba karena mengikuti pola jalan. Selain mengikuti pola

jalan, pemandangan kearah Danau Toba yang indah juga menjadi alasan mengapa warga membangun rumahnya menghadap Danau Toba.

Terdapat beberapa cluster perkampungan yang berorientasi sesuai dengan orientasi Rumah Bolon.

Gambar 5. 11. Peta Arah Orientasi Desa Meat

Orientasi Rumah Bolon yang menghadap kearah Gunung Pusuk Buhit membuat pemandangan kea rah Danau Toba menjadi tidak maksimal. Lokasi perkampungan yang terletak jauh dari Danau Toba membuat pengunjung yang ingin merasakan menginap didalam Rumah Bolon tidak mendapatkan pemandangan optimal dari dalam Rumah Bolon.

Danau Toba

Keterangan :

: Danau Toba : Sawah : Permukiman : Kuburan : Jalan

5.4 Analisa Local Activity

Genius Loci sangat penting dalam memahami arsitektur sebagai suatu budaya. Local activity merupakan kegiatan sehari-hari yang menjadi budaya turun-temurun. Pada Desa Meat, kegiatan seperti perayaan, kuliner, dan budaya menjadi local activity.

Perayaan yang diadakan di Desa Meat tidak diadakan sering karena pada umumnya perayaan adat suku Batak Toba bisa menggunakan biaya yang sangat besar. Perayaan yang diadakan di Desa Meat adalah Upacara Kematian bagi Saur Matua, Mangokkal Holi, dan Peresemian Rumah Bolon. Upacara Kematian Saur Matua adalah perayaan besar yang diadakan bagi orang tua yang meninggal.

Upacara yang bisa memakan waktu sampai tujuh hari tujuh malam ini diadakan oleh anak-anak orang tua yang meninggal. Upacara ini diadakan sebagai tanda sukacita keluarga yang ditinggalkan karena orang tua mereka telah berhasil dalam hidupnya membesarkan anak-anaknya menjadi orang yang berhasil sehingga bisa mengadakan upacara ini. Mangokkal Holi atau menggali kubur adalah perayaan membersihkan tulang-tulang leluhur dan menempatkannya kembali dalam kuburan yang sudah dibangun. Peresmian Rumah Bolon diadakan ketika Rumah Bolon baru selesai di renovasi dan Desa Meat diresmikan sebagai desa adat.

Gambar 5. 12. Peresmian Desa Adat Meat (sumber: images.google.com)

Terletak di tepi Danau Toba, nelayan menjadi salah satu profesi utama warga Desa Meat selain bertani. Ikan menjadi salah satu makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Desa Meat. Menu khas Batak dengan bahan pokok ikan mas atau biasa disebut Nani Ura menjadi salah satu kuliner di Desa Meat. Cara mengolah Nani Ura ini bisa dibilang unik karena Nani Ura tidak dimasak melainkan hanya dibalurkan bumbu andaliman keseluruh tubuh ikan mas. Panas dari bumbu andaliman akan membuat daging ikan matang.

Gambar 5. 13. Ikan Mas Nani Ura (sumber: images.google.com)

Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pada Desa Meat, budaya Batak Toba masih dijaga dengan sangat baik

oleh warganya. Kesenian seperti tari tor-tor dan kain ulos masih banyak diajarkan kepada generasi-generasi penerus. Upacara dan adat istiadat juga masih banyak diadakan. Rumah Bolon yang berusia ratusan tahun di konservasi agar tidak kehilangan unsur keasliannya yang semakin terkikis oleh zaman.

Berprofesi sebagai petani dan nelayan sudah menjadi budaya di Desa Meat.

Leluhur desa meat awalnya berprofesi sebagai nelayan. Dengan suburnya tanah di pinggiran Danau Toba, bertani pun menjadi salah satu pilihan profesi. Untuk perempuannya, apabila sedang tidak musim bertani, mereka menenun ulos yang kemudian akan dijual.

Gambar 5. 14. Penenun Ulos

5.5 Analisa Narasi

Narasi atau cerita setempat yang terdapat di Desa Meat pada umumnya hampir sama dengan narasi yang terdapat pada daerah-daerah yang terdapat dipinggir Danau Toba yaitu tentang Legenda Danau Toba. Legenda Danau Toba yang bercerita tentang asal-usul Danau Toba. Dari hasil wawancara dengan

narasumber yaitu penduduk Desa Meat, Br. Purba, didapatkan beberapa cerita legenda dan mitos yang diyakini oleh warga Desa Meat.

Agama Parmalim yang merupakan agama asli yang dianut Suku Batak sebelum masuknya agama-agama seperti agama Kristen, Katolik, dan Islam ke daerah sekitar Danau Toba. Dalam kepercayaan agama Parmalim, terdapat sebuah cerita tentang penguasa air yang bernama Siboru Saniang Naga. Siboru Saniang Naga menguasai seluruh perairan Danau Toba. Untuk menghormati Siboru Saniang Naga, tidak hanya para penganut agama Parmalim, seluruh penduduk yang bermukim disekitar Danau Toba menjaga perilakunya apabila berada didekat Danau Toba, seperti tidak boleh membuang sampah sembarangan dan menjaga lisan.

Desa Meat awal mulanya adalah suatu tempat persinggahan nelayan dan tempat bertani warga disekitar Danau Toba. Dahulu tanah yang subur dan terhampar luas di sekitar Danau Toba berada di Desa Meat sehingga banyak warga pergi ke Desa Meat. Lokasi Desa Meat yang terletak menjorok kedalam membuat pemandangannya indah sehingga banyak nelayan senang beristirahat di Desa Meat.

Asal mula kata Meat berasal dari ‘parmeatan’ yang berarti tambat. Hal ini dikarenakan banyak warga menambat kapalnya di Desa Meat. Dermaga Desa Meat dibangun karena dulu banyak kapal atau perahu nelayan singgah di Desa Meat.

Gambar 5. 15. Dermaga Desa Meat

Dermaga Desa Meat sekarang sepi oleh kapal dan perahu nelayan karena tidak begitu banyak lagi nelayan yang singgah di dermaga. Warga Desa Meat lebih memilih menambatkan perahunya di pinggir-pinggir danau dekat dengan rumahnya. Dermaga dibuat besar agar kapal ferry juga bisa berlabuh.

Pada Desa Meat terdapat pohon beringin keramat yang terletak didekat perkuburan keluarga Siahaan. Desa Meat merupakan desa yang leluhurnya bermarga Siahaan sehingga banyak penduduk Desa Meat bermarga Siahaan. Pohon beringin keramat ini menurut mitos merupakan pohon beringin pertama yang ditanam di Desa Meat. Dahulu kala, kawasan disekitar pohon beringin ini menjadi tempat mencari suaka bagi korban perang atau orang asing yang membutuhkan perlindungan. Apabila orang asing tersebut datang ke Desa Meat dan mencari suaka di sekitar pohon beringin ini, kepala suku Desa Meat wajib menyambut dan memberikan perlindungan pada orang asing tersebut.

5.6 Analisa Landscape (Bentang Alam)

Bentang alam atau landscape menurut Norberg-Schultz (1980) memiliki space atau ruang yang bersifat alami seperti pepohonan, bukit, bebatuan, dan lainnya. Desa Meat yang terletak dalam lembah dan teluk membuat bentang alam yang terhampar terlihat sangat indah.

Dikelilingi oleh perbukitan membuat pemandangan Danau Toba bisa dilihat dari sudut pandang berbeda. Pada umumnya wisatawan menikmati keindahan Danau Toba dari atas perbukitan, di Desa Meat, wisatawan bisa menikmati pemandangan Danau Toba dari dalam lembah.

Gambar 5. 16. Gambar Desa Meat

Gambar 5. 17. Sawah Desa Meat

Keindahan bentang alam Desa Meat semakin bertambah ketika sawah-sawah mulai ditanami dan hijau. Ketika padi sudah hijau, seluruh Desa Meat terhampar dengan paparan hijau dari warna padi yang ditanam di sawah. Sebelum padi ditanami, banyak kerbau berkeliaran membajak sawah.

Bentang alam Desa Meat yang terletak di tepi Danau Toba berbeda dengan kebanyakan bentang alam desa-desa lainnya disekitaran Danau Toba. Kebanyakan panorama Danau Toba bisa dinikmati dari desa-desa yang terletak diatas bukit.

Seperti di Tele dan Simarjarunjung. Tetapi pada Desa Meat, panorama Danau Toba dinikmati dari dalam lembah yang dikelilingi perbukitan.

Hamparan sawah yang luas membentang terlihat lebih menarik karena diantara hamaran sawah yang luas tersebut terdapat kuburan-kuburan penduduk setempat. Kuburan-kuburan yang dibangun ditengah-tengah sawah ini terlihat menarik karena jarang ditemukan di tempat lainnya. Kuburan-kuburan ini dibangun ditengah-tengah sawah agar menandakan status sosial si pemillik sawah tersebut dan sawah tidak dijual oleh keturunannya.

BAB VI

HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Pendahuluan

Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan sesuai dengan variabel dan indikator yang diperoleh melalui observasi secara langsung di kawasan penelitian, dapat ditarik sebuah hasil dengan pembahasannya. Data-data yang diperoleh dianalisa dengan mengaitkannya pada teori-teori dan literature beserta observasi dilapangan. Data yang telah dikumpulkan di Desa Meat menjadi suatu awal untuk sebuah konsep penataan distrik agrowisata di Desa Meat.

6.2 Boundary

6.2.1 Kondisi Eksisting dan Permasalahan

Boundary atau batas yang terdapat di Desa Meat ini berupa boundaries of built spaces yang berupa dinding, gerbang, dan lantai. Di Desa Meat terdapat tiga buah gerbang. Dua gerbang sebagai penanda masuk Desa Meat. Sedangkan satu gerbang lagi menuju Huta Ginjang tidak dapat diakses karena tertimbun longsor.

Gerbang pertama dan kedua berjarak sekitar 100 meter. Tidak diketahui dengan pasti yang mana sebenarnya batas Desa Meat.

Kondisi kedua gapura tersebut terlihat berbeda. Gapura pertama terlihat lebih baru daripada gapura kedua. Gapura pertama terlihat seperti baru di cat dan disponsori oleh pemerintah. Gapura kedua sudah terlihat lama dan using. Papan besi berwarna birunya terlihat berkarat.

Sebuah gapura atau gerbang sebagai pertanda dimulainya suatu kawasan haruslah terlihat mencolok dan bagus. Sebagai desa wisata, Desa Meat sudah selayaknya memiliki gerbang yang menandakan bahwa desa itu adalah desa wisata.

Meskipun pada gapura kedua dinyatakan bahwa Desa Meat adalah desa wisata, tetapi kondisinya membuatnya tidak layak.

Peta Desa Meat

Gapura Pertama Desa Meat

Gapura Kedua Desa Meat

Gambar 6. 1. Letak Gapura Existing

Konsep penataan gapura atau gerbang ini diambil dari kearifan lokal budaya batak yaitu gerbang yang bermotif gorga dan berwarna merah, hitam, dan putih seperti warna khas suku Batak. Warna merah berarti beerani, putih berarti suci, dan hitam berarti iman.

Gambar 6. 3. Gerbang Taman Wisata Iman Dairi (Sumber: images.google.com)

Gambar 6. 2. Gerbang Huta Batak Museum TB Silalahi

Gerbang yang terdapat pada Huta Batak Museum TB Silalahi menjadi salah satu konsep untuk model gerbang Desa Meat. Warna dan motif gorga pada gerbang Huta Batak bisa diterapkan kedalam konsep gerbang. Untuk atap rumah adat diletakkan pada posisi menara gereja dan kubah masjid seperti di gerbang TWI Sitinjo Dairi karena apabila dibuat seperti di Huta Batak, sirkulasi menjadi kecil dan kendaraan tidak bisa lewat. Apabila struktur atapnya direnggangkan, tidak terlihat bagaimana bentuk aslinya atap Rumah Bolon tersebut.

6.3 Central

6.3.1 Kondisi Eksisting dan Permasalahan

Untuk pusat yang sesuai dengan sacred place, Desa Meat memiliki beberapa tempat yang dianggap sakral seperti sebuah pohon beringin tua dan kompleks pemakaman kuno Batak Toba. Pohon beringin dan kompleks pemakaman ini menjadi fokus oleh daerah sekelilingnya karena mereka memiliki batas wilayahnya masing-masing. Untuk pohon beringin memiliki batas yang virtual atau berdasarkan cerita-cerita masyarakat setempat, sedangkan kompleks pemakaman memiliki batas yang nyata, dapat dilihat melalui pagar yang mengelilingi kompleks perkuburan.

Sedangkan untuk tempat berkumpul, terdapat tiga tempat berkumpul sesuai dengan fungsi masing-masing di Desa Meat. Warga berkumpul di pekarangan rumah Bolon apabila ada acara seperti menyambut tamu, pesta pernikahan, dan kematian. Pertemuan yang membahas permasalahan di Desa Meat biasanya diadakan di Kantor Kepala Desa dan dipimpin langsung oleh Kepala Desa dan jajarannya. Meat Homestay sering dijadikan tempat berkumpul warga bersama

tamu apabila ada tamu dari luar kota yang biasanya menginap di homestay. Untuk sehari-hari, warga banyak berkumpul di kedai kopi sekitar.

Pohon beringin yang dijadikan tempat sakral dan perkuburan tidak berada dalam kondisi yang baik. Terkadang sampah masih berserakan dibawah pohon beringin. Begitu juga rumput-rumput liar yang terdapat di kompleks pemakaman.

6.3.2 Konsep Penataan

Dekatnya jarak antara pohon beringin dan halaman Rumah Bolon bisa

Dekatnya jarak antara pohon beringin dan halaman Rumah Bolon bisa

Dokumen terkait