• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENULIS RINGKASAN

AHMAD HIDAYATULLAH

kriteria yang bisa dipedomani dalam menyusun abstrak.kriteria-kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Abstrak disajikan dalam bentuk paparan informatif. 2. Bahasa yang diguankan lugas, singkat, padat, dan jelas. 3. Panjang abstrak lebih kurang 500-1500 perkataan.

4. Isi abstrak sekurang-kurang harus mencangkup: masalah dan tujuan penelitian, gambaran singkat mengenai metode dan teknik penelitian yang digunakan, hasil-hasil penelitian, kesimpulan dan saran.

Perhatikan contoh abstrak berikut ini!

ABSTRAK

ANALISIS KESALAHAN DIKSI PADA KARANGAN SISWA KELAS IX SMP ISLAM DAAR EL-ARQAM TANGERANG.

AHMAD HIDAYATULLAH.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesalahan diksi dalam karangan siswa kelas IX SMP Islam Daar El Arqam Tangerang. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Islam Daar El Arqam Mauk Tangerang pada bulan Maret 2009 sampai selesai. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Jumlah populasi keseluruhan dalam penelitian ini adalah 125 siswa. Dalam mengambil sampel, penulis mengambil 20% dari populasi. Dengan perhitungan 20% x 125 = 25 siswa.

Data dianalisis dengan melihat kesalahan diksi dari segi makna, gramatikal, sosial, dan kata baku pada karangan siswa. Berdasarkan hasil analisis data, maka diperoleh hasil jumlah kesalahan diksi dari segi makna masih tergolong dalam tingkat kesalahan rendah yaitu sebesar 24, 70 %. Kesalahan diksi dari segi gramatikal cukup banyak yaitu sebesar 37,29 %. Ini termasuk dalam golongan tingkat kesalahan sedang. Kesalahan diksi dari segi sosial masih tergolong dalam tingkat kesalahan rendah yaitu sebesar 8,60 %. Kesalahan diksi dari segi kata baku cukup banyak yaitu sebesar 41,29 %. Ini termasuk dalam golongan tingkat kesalahan sedang

Kesimpulan dari hasil analisis ini adalah Kesalahan diksi yang dibuat dalam karangan siswa secara keseluruhan temasuk ke dalam golongan tingkat kesalahan sedang, yaitu 27,97 %.

d. Saduran

Mencoba menyalin sebuah tulisan menjadi ringkas dapat dilakukan juga dengan cara menyadur. Bentuk saduran banyak kita lihat dalam karya fiksi. Penyaduran ini biasanya terlihat pada karya-karya yang berasal dari bahasa asing.

Menyadur adalah menyusun kembali cerita secara bebas tanpa merusak garis besar cerita, biasanya dari bahasa lain. Menyadur juga diartikan sebagai mengolah (hasil penelitian, laporan, dsb.) atau mengikhtisarkan (KBBI 2002: 976).

Menurut Kusumah (2002:1.31), menyadur memiliki kebebasan daripada menerjemahkan. Bagi penyadur, teks semula (asli) hanyalah merupakan sumber utama yang mendasari dan mengilhami tulisan reproduksinya. Oleh karena itu, penyadur bebas melakukan penyesuaian-penyesuaian (nama-nama, suasana, peristiwa, dan lain-lain) guna mencapai keadaan sebagaimana keadaan sesungguhnya pada masyarakat pemakai bahasa saduran itu.

Dengan demikian, menyadur mengandung konsep menerjemahkan secara bebas dengan meringkas, menyederhanakan, atau mengembangkan tulisan tanpa mengubah pokok pikiran asal. Hal penting yang harus kita ketahui ialah bahwa dalam menyadur sebuah tulisan, ternyata kita diperkenankan untuk memperbaiki bentuk maupun bahasa karangan orang lain, misalnya dalam kasus karangan terjemahan.

Dalam sebuah proses penyaduran karya orang lain, kita masih tetap berpegang untuk tidak mengubah pokok pikiran asal dari penulis aslinya. Sebagai contoh, ketika kita akan membuat saduran sebuah cerita, konsistensi

yang perlu kita perhatikan adalah tetap berpegang pada alur cerita, ide cerita,

maupun plot yang ada di dalam cerita tersebut. Jangan justru menambahi ide ke dalam cerita tersebut. Suatu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam menyadur adalah dengan meminta izin, mencantumkan sumber tulisan berikut nama penulisnya.

Perhatikan contoh penggalan saduran berikut ini!

e. Parafrase

The young dead soldier do not speak

Nevertheless they are heard in the still houses (Who as not heard them?)

They have a silence that speak for them at night And when the clock counts

...

Hasil saduran sebagai berikut!

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi tidak bisa teriak ”Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada merasa hampa dan jam dinding yang berdetak. ...

Yang dimaksud parafrase adalah mengubah puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan-aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut.

Menurut Kusumah (2002:1.25), ”Parafrase adalah pengubahan bentuk tulisan tertentu ke dalam bentuk lain dengan tujuan untuk menyederhanakan penggalian makna dan maksud yang terkandung dalam teks pertama. Penyederhanaan parafrase (dari puisi ke prosa) terletak pada penjabaran makna dan maksud pada teks semula. Dalam hal ini, penyederhanan bentuk yang kedua mungkin lebih panjang dan terurai daripada teks aslinya.

Dalam memarafrasekan sebuah puisi, tentunya kita terlebih dahulu harus memiliki kemampuan dalam memahami makna, karena cara kerja sebuah parafrase adalah dengan mengidentifikan kata-kata untuk dipahami maksud dan tujuannya. Berikut ini, petunjuk untuk membuat parafrase yang dipertegas oleh Kusumah (2002:1.26), sebagai berikut.

1. Memperhatikan judul puisi

2. Memperhatikan kata-kata yang dominan muncul 3. Memperhatikan kata-kata yang bermakna konotatif 4. Memperhatikan makna dari segi kaidah struktur bahasa.

Perlu diketahui bahwa parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra. Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami puisi.

Ada dua metode parafrase puisi, yaitu:

b. Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut.

c. Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan

secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri

Dalam membuat parafrase ada beberapa pengetahuan/pengalaman yang melandasi pembuatan parafrase. Hal ini ditunjukkan agar tidak terjadi penyimpangan atau pelebaran makna. Di mana pengetahuan/pengalaman tersebut, diintegrasikan dalam sebuah tulisan berdasarkan konsep makna/tujuan yang terdapat dalam kata-kata puisi tersebut. Menurut Kusumah (2002:1.28), ada empat syarat utama yang harus diperhatikan penulis dalam membuat parafrase, sebagai berikut.

1. Kalimat-kalimat yang dipergunakan dalam pembuatan parafrase hendaknya ditulis dalam bentuk kalimat berita.

2. Kalimat-kalimat langsung harus diubah ke dalam bentuk kalimat tak langsung.

3. Parafrase ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang ke-3, baik tunggal maupun jamak. Dengan demikian, penggunaan kata ganti orang pertama atau orang kedua dalam sebuah puisi haruslah diganti dengan kata ganti orang ke-3.

4. Menggunakan kata-kata petunjuk konteks untuk penanda hubungan antara kalimat (informasi) yang satu dengan kalimat (informasi) lainnya, sehingga membentuk sebuah wacana utuh dan padu.

Contoh:

Dengan teknik parafrase, puisi ini kita tambah beberapa kata agar lebih mudah dipahami.

Bentuk parafrase puisi :

HAMPA kepada Sri (keadaan amat) Sepi di luar (sana). (Keadaan) Sepi (itu) menekan-(dan) mendesak. Lurus kaku pohon(-pohon)an (disana). (pohonan itu) HAMPA :kepada Sri

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak. Lurus kaku pohonan. Tak bergerak Sampai ke puncak. Sepi memagut, Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti. Sepi. Tambah ini menanti jadi mencekik Memberat-mencekung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa Udara bertuba. Setan bertempik Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Tak bergerak

Sampai ke puncak (nya). Sepi (itu) memagut(ku),

Tak satu kuasa (pun dapat) melepas-(dan me)renggut(nya dariku)

Segala(nya hanya) menanti. Menanti. (dan) Menanti (lagi).

(menanti dalam) Sepi.

(di) Tambah (lagi dengan

keadaan saat) ini(,)

menanti jadi

mencekik (malah)

Memberat(kan

dan)-mencekung (kan)

punda (kku)

Sampai binasa segala(-galanya). (itu pun) Belum apa-apa (bahkan) Udara (pun telah) bertuba. Setan (pun) bertempik (sorak)

Ini (,) (peraan) sepi (ini) terus (saja) ada. Dan (aku masih tetap) menanti.

Kata-kata yang berada dalam tanda kurung dalam parafrase di atas merupakan kata-kata tambahan dari si pembuat parafrase untuk mewujudkan makna sejelas-jelasnya dari puisi tersebut.

Teknik parafrase ini hanya diperlukan bagi puisi-puisi yang sangat minim kata-katanya. Bila suatu puisi telah tersusun kata-kata yg mudah dipahami, maka tidak diperlukan lagi membuat parafrase.

Perhatikan kembali contoh parafrase berikut ini! ”Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak mati Siang tadi”

Hasil parafrase sebagai berikut.

Membuat parafrase tidaklah mudah, seringlah membaca puisi agar terbiasa dalam mengolah dan mengonsepsikan makna puisi berdasarkan kata-kata yang ditampilkan dalam puisi tersebut. Jika, mampu mengonsepsi makna dan tujuan puisi dari kata-kata yang ditampilkan, maka akan lebih mudah kita dalam membuat parafrase.

BAB II

(Mereka membawa karangan bunga yang dihiasi pita hitam diatasnya. Karangan bunga dengan pita hitamnya itu merupakan tanda turut berduka cita dari

mereka bertiga) bagi (salah seorang) kakak

(mahasiswa) yang ditembak mati (pada) siang (hari Itu).