• Tidak ada hasil yang ditemukan

Air limbah domestik 1). Sistem Dan Infrastruktur

Dalam dokumen BAB II. Profil Sanitasi (Halaman 29-55)

2.3 Profil Sanitasi Kota Langsa

2.3.1. Air limbah domestik 1). Sistem Dan Infrastruktur

Kota Langsa merupakan Kota Kecil dengan jumlah penduduk dibawah 200 ribu jiwa, dimana untuk Sistem Pengelolaan Air limbah (SPAL) masih belum memiliki sistem off Site baik untuk komunal maupun sistem terpusat. Tingkat kemapanan masyarakat secara sosial sangat mempengaruhi dengan prilaku hidup sehat, masih adanya masyarakat yang belum memiliki tanki septic dan kondisi kekinian masyarakat kawasan pesisir yang melakukan Buang Air besar dengan fasilitas seadanya. Untuk wilayah pusat kota masih ada nya kondisi konstruksi tanki septic rumah tangga yang tidak standart,. Ditambah pembangunan tanki septic sangat beresiko dimana limbah Black water akan mempengaruhi kadar dan kandungan sumber air/sumur yang digunakan sebagai hajat hidup sehari-hari, karena gagal

konstruksi/kebocoran dan jarak dengan sumber air/sumur yang tidak memenuhi 30  standar kesahatan.

Sumber air limbah dari kegiatan rumah tangga seperti dari urine, kegiatan mandi, mencuci peralatan rumah tangga, mencuci pakaian serta kegiatan dapur lainnya, idealnya sebelum air limbah dibuang ke saluran air harus diolah terlebih dahulu dalam tangki peresapan, sehingga tidak menimbulkan dampak, yaitu dampak terhadap kehidupan biota air, dampak terhadap kualitas air tanah, dampak terhadap kesehatan, dampak terhadap estetika lingkungan. Saat ini air limbah dari rumah tangga dialirkan ke saluran-saluran yang ada di sekitar wilayah permukiman sampai ke badan air anak sungai dan sungai terdekat. Air Limbah yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak sangat luas dan ini juga disebabkan karena belum mampu meningkatkan dan mempertegas fungsi sistem drainase dimana fungsi saluran drainase perkotaan untuk sistem pematusan air hujan, tetapi kondisi saat ini masih disatukan dengan pembuangan air limbah rumah tangga (grey water).

Gambar 2.11. Kondisi Sub Sektor Air Limbah

Pengelolaan Air limbah Rumah Tangga

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

31 

SSK   BAB II  

Sumber : Field Research

IPLT

Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) milik Pemerintah Kota Langsa yang berlokasi di Desa Simpang Wie, Kecamatan Langsa Timur merupakan system existing, IPLT dibangun tahun 2007 oleh Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR NAD-Nias) dan selesai pembangunannnya tahun 2008 dengan luasan 1,7 Ha.

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam melakukan penyedotan limbah tinja (black water) menjadi salah satu factor yang mempengaruhi belum optimalnya pendaya gunaan Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT).

Kondisi Pengelolaan Sektor Air limbah

Gambar 2.12. Tempat Pengolahan Air Limbah 32 

Sumber : Field Research

SANIMAS dan MCK ++

Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) merupakan salah satu program pemerintah yang dilaksanakan untuk peningkatan kualitas di bidang sanitasi khususnya pengelolaan air limbah dan penyediaan Mandi Cuci Kakus (MCK) layak yang diperuntukkan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat kumuh miskin perkotaan dengan menerapkan pendekatan berbasis masyarakat. Program ini

Instalasi Pengolahan Air Limbah

Kolam Fakultasi : 17 m x 9 m Kolam

Kolam Anaerob (1) : 16 m x 6 m Kolam Anaerob (2) : 10 m x 6

m

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

33 

SSK   BAB II  

dibentuk dalam rangka membantu pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) di tahun 2015 yakni pencapaian akses sanitasi layak hingga 62,4%.

Beberapa daerah memiliki akses sanitasi layak yang rendah, khususnya dalam penyedian MCK atau jamban sehat. Beberapa diantaranya telah merintis pelaksanakan program SANIMAS yang pada implementasinya dinamakan MCK ++.

MCK ++ adalah salah satu implementasi nyata masyarakat dalam Wilayah Kota Langsa, yakni sebagai bagian dari program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS). Sejak Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2014 Pemerintah Kota Langsa telah melaksanakan Pembangunan MCK ++ di 15 titik lokasi Pada Wilayah yang telah ditentukan, dimana Lokasi tersebut berpotensi sebagai wilayah rawan sanitasi.

Pembanguan MCK++ yang sumber pendanaannya dari APBK Kota Langsa, dengan Dana Alokasi Khusus DAK Bidang Sanitasi.

Tahun 2015 Pemerintah Kota dengan pembiaaya yang bersumber dari dana APBN melalui Satker PPLP Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, melakukan penyusunan Outline Plan Air Limbah Kota Langsa Skala Kawasan dan Pembangunan Sanitasi Berbasis Masyarakat sejumlah 5 (unit) untuk lima lokasi yang telah ditetapkan.

Gambar 2.13 Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Air Limbah Domestik 34 

Sumber : Analisis Faktual DSS AIR LIMBAH 

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

35 

SSK   BAB II  

Tabel 2.9. Cakupan layanan air limbah domestik saat ini di Kota Langsa

Sumber : Instrument Profil Sanitasi 2015 No Nama

Kecamatan

Sanitasi

tidak layak Sanitasi Layak

BABS*

Sistem Onsite Sistem Offsite

Sistem Berbasis Komunal Skala Kawasan /

1. Wilayah Perdesaan Kecamatan

2. Wilayah Perkotaan Kecamatan

36  Tabel 2.10. Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik

No Jenis Satuan Jumlah/

Kapasitas

Kondisi Keterangan Berfungsi Tdk

berfungsi

(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii)

SPAL Setempat (Sistem Onsite) 1 Berbasis komunal

- MCK Komunal unit 17 ya -

2. Truk Tinja unit 2 1 1

3 IPLT : kapasitas M3/hari 12  ya

SPAL Terpusat (Sistem Offsite) 1 Berbasis komunal

- Tangki septik komunal

>10KK unit - - ‐  -

- IPAL Komunal unit - - ‐  -

2 IPAL Kawasan/Terpusat  

- kapasitas M3/hari - - ‐  -

- sistem - - ‐  -

Sumber : Analisis

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

37 

SSK   BAB II  

Gambar 2.14 Peta Cakupan Akses dan Sistem Layanan Air Limbah Domestik Kecamatan

Sumber : Analisis

2). Kelembagaan dan Peraturan 38 

IPLT merupakan salah satu system yang pengelolaannya berada dibawah kewenangan SKPK Badan Lingkungan Hidup dan Pertamanan (BLHKP) Kota Langsa, yang berada dibawah kendali operasi Bidang Kebersihan. IPLT belum menjadi Lembaga teknis pelayanan yang berdiri sendiri selayaknya Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) dikarakenakan faktor teknis dan non teknis. Sarana yang sudah ada tetapi masih terkendala dalam optimalisasi fungsi yang berdaya guna secara ekonomis dan peningkatan kapasitas operasional.

Selama ini untuk pelayanan limbah rumah tangga (black water) yang ditangani oleh truck tanki pengangkut BLHK yang menghasil retribusi untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai mana diatur dalam Qanun kota Langsa Nomor 01 Tahun 2012. Jadi BLHKP sebagai Regulator dan juga sebagai Operator.

Kondisi Pelayanan Praktek pengurasan tangki septic rumah tangga di Kota Langsa baru mencapai 18 % (ehra).

Adapun Sumberdaya yang mengelola IPLT terdiri dari 3 PNS dan dan 9 Orang Karyawan dan Untuk Sarana Pengangkut tersedia 1 Unit truck Tanki. Tahun 2015 Pemerintah Kota Langsa melalui Satker PPLP Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sedang menyusun Outline Plan Air Limbah Skala Kawasan dengan Pemanfaatan Dana APBN.

2.3.2. Persampahan

1). Sistem dan Infrastruktur Persampahan

Sumber-sumber sampah secara umum dapat dibagi

‐ Permukiman atau Rumah tangga

‐ Pasar

‐ Kegiatan Komersial

‐ Kegiatan Perkantoran

‐ Hotel dan Restoran

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

39 

SSK   BAB II  

‐ Institusi Pelayanan

‐ Penyapuan jalan

‐ Taman-taman

Penanganan sampah perlu dilakukan dari sumber penghasil sampah, karena penanganan sampah dari sumbernya dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap karakteristik sampah, kesehatan masyarakat, serta sikap masyarakat terhadap sistem pengelolaan sampah.

Pengurangan dan pemanfaatan sampah secara signifikan dapat mengurangi kebutuhan pengelolaan sampah sehingga sebaiknya dilakukandisemua tahap yang memungkinkan, yaitu mulai dari sumber, TPS, Instalasi pengolahan, dan TPA.

Komposisi sampah di Indoneesia umumnya memiliki kandungan organic (60% - 80%), sehingga memiliki potensi besar untuk dikakukasn proses composting. Untuk hal ini peran serta masyarakat sangatlah berarti. Daur ulang sektor informal perlu diupayakan menjadi bagian dari dalam bentuk pengelompokkan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah dan sifat sampah.

Pengumpulan

Dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara

Pengangkutan

Dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah Komunal/Terpadu menuju tempat pemrosesan akhir

Pengolahan

Dalam bentuk mengubah karakteristtik, komposisi dan Jumlah

Pemrosesan akhir Sampah

Dalam bentuk pengambilan sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

Dalam operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah dari sumber sampah ke Tempat Pemrosesan akhir, BLHKP melakukan dengan dua metode..

1. secara Langsa langsung (door to door) 40 

Pada sistem ini proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dilakukan secara bersamaan, dengan cara mendatangi dan mengosongkan sampah dari tiap-tiap sumber ke truk kemudian dikumpulkan dan langsung ke TPA

2. Secara Tidak langsung

Pada sistem ini, sebelum diangkut ke TPA, sampah dikumpulkan terlebih dahulu oleh sarana pengumpul seperti gerobak sampah, Becak Motor (BETOR) dan dikumpulkan atau diangkut Ke TPS.

Alur mekanisme pengankutan sampah pada sumber-sumber sampah di Kota Langsa dapat dilihan pada bagan alur berikut:

Gambar 2. 14. Mekanisme pengangkutan sampah

Sumber : BLHKP Kota Langsa

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

41 

SSK   BAB II  

Gambar 2. 15. Sarana Persampah

Sumber : Field Research Sarana Persampahan

 

Untuk sementara Halaman Kantor BLHKP Kota Langsa berfungsi sebagai Depo /Stasiun Antara/(STA )

Tempat pemrosesan Akhir (TPA) 42 

Penyingkiran limbah ke dalam tanah (land disposal) merupakan cara yang paling sering dijumpai dalam pengolahan limbah. Berdasarkan UU nomor 18 Tahun 2008 istilah TPA yang dulunya merupakan Tempat Pembuangan Akhir berubah menjadi Tempat Pemrosesan Akhir, yang didefinisikan sebagai pemrosesan akhir sampah dalam bentuk sampah atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara, selain itu di lokasi pemrosesan akhir tidak hanya proses penimbunan sampah, akan tetapi juga harus terdapat 4 (empat) Aktivitas utama penanganan sampah lainya di lokasi TPA.

1. Pemilahan Sampah

2. Daur Ulang sampah Non Hayati

3. Composting Pengomposan sampah hayati 4. Penimbunan sampah residu dari proses di atas

Lokasi TPA Kota Langsa terletak di Desa Pondok kemuning yang terletak di koordinat N 04o2525.08’’ dan E 97o5511.03’’.

Batas Wilayah TPA Kota Langsa Adalah :

1. Sebelah Utara Berbatasan dengan : Kebun Masyarakat 2. Sebelah Selatan Berbatasan dengan : Kebun Masyarakat 3. Sebelah Barat Berbatasan dengan : Kebun Masyarakat 4. Sebelah Timur Berbatasan dengan : Kebun Masyarakat

TPA Kota Langsa dibangun oleh Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR NAD-Nias) yang berlokasi di desa Pondok kemuning yang berjarak ± 10 Km dari Pusat Kota. Jalan Akses menuju TPA yang sebelumnya menjadi kendala terberat yang dihadapi, dimana saat musim penghujan aksessibilita sanag terhambat, yang berakibat dengan resiko Insidental dan Delay Time yang terlalu lama. Seiring dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program bembangunan, Kondisi jalan akses TPA semakin Baik dimana Pada Tahun 2013 dengan sumber Dana Otsus Sejumlah 9 Milyar lebih, menjadi pembangunan tahap awal untuk Pengaspalan

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

43 

SSK   BAB II  

Jalan ke TPA, dan pada tahun 2015 telah dianggarkan lebih dari 2 Milyar untuk menuntaskan Pembangunan aksessibilitas ke TPA.

Metode pengolahan sampah di TPA Kota Langsa adalah dengan Controlled Landfill yaitu sampah yang masuk ke TPA langsung dimasukkan ke dalam kolam yang telah disediakan dan proses selanjutnya dilakukan penimbunan dan dibuatkan pipa-pipa gas

Gambar 2. 18. Kondisi TPA

Sumber : Field Research

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gp. Kemuning

Alat Pengolahan Sapah 3R di TPA 44  o Pembakar sampah (20 Kg) o Pencacah plastic (100 kg/Hr) o Canner (700 – 1500 Kg/Hr)

o Mesin Fermentasi (70 -100 Kg/Shift)

o Mesin Pencacah Sampah Organik (500 Kg/Hr) o Conveyer feeder (500 Kg/Hr)

o Conveyer Pemilah (500 Kg/Hr)

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

45 

SSK   BAB II  

Gambar 2.19. Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Persampahan

Sumber : Field Research DSS 

PERSAMPAHAN 

46  Tabel 2.11. Timbulan sampah per kecamatan

Nama Kecamatan

Jumlah Penduduk Volume Timbulan Sampah

Wilayah

perdesaan Wilayah

perkotaan Total Wilayah

perdesaan Wilayah

Perkotaan Total orang orang orang (%) (M3/hari) (%) (M3/hari) (%) (M3/hari) Sumber : Analisis

Tabel 2.12. Cakupan akses dan sistem layanan persampahan kecamatan

3R

Volume sampah yg terangkut ke

TPA Total

Wilayah

perdesaan Wilayah

perkotaan Total Wilayah

Perkotaan Total (%) (M3) (%) (M3) (%) (M3) (%) (M3) (%) (M3)

Sumber : Analisis

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

47 

SSK   BAB II  

Tabe 2.13. Kondisi sarana dan prasarana pengelolaan persampahan

No Jenis Prasarana /

Sarana Satuan

Jumlah/

tampung* Ritasi /hari

1 Pengumpulan Setempat

(beton/kayu/fiber) unit 125 4 - 125

- Container unit - - - - - - Belum ada

-4 Pengolahan Sampah

‐ Sistem 3R unit 1 500 m2 - ya - - Tidak

berfungsi

‐ Incinerator unit 1 500

ton/hari ya - - Tidak

berfungsi 5 TPA/TPA Regional

Konstruksi:lahan

48 

Sumber : BLHKP

2). Kelembagaan dan Peraturan

Dasar hukum pengelolaan sampah mengacu pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, dimanan teknis pengelolaan sampah dibagi menjadi dua komponen, yaitu teknis penanganan sampah dan teknis pengurangan sampah. Kegiatan pengelolaan persampahan di Kota Langsa dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup kebersihan dan Pertamanan (BLHKP) Kota Langsa sesuai dengan Qanun Kota Langsa Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Dinas, Lembaga Teknis Daerah dan kecamatan Kota Langsa . Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pengumpulan di TPS dan penyapuan jalan dan ruang publik serta pengankutan ke Tempat pembuangan Akhir (TPA) dengan menggunakan armada dump truk.

Kegiatan pengelolaan persampahan di kota Langsa akan mengacu Master Plan Persampahan (2013) dan juga telah dilengkapi dengan Qanun Kota Langsa No 15 tahun 2010 Tentang Pelayanan Persampahan/Kebersihan.

- Luas total TPA yg

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

49 

SSK   BAB II  

Gambar 2.20 Peta cakupan akses dan sistem layanan persampahan per kecamatan

Sumber : BLHKP

50  2.3.3. Drainase Perkotaan

1). Lokasi genangan dan perkiraan luas genangan

Kawasan perkotaan dan perkembangannya adalah sesuatu yang tidak terpisahkan satu sama lain. Kawasan perkotaan dengan kompleksitas kegiatannya akan terus berkembang dari waktu ke waktu dan meliputi semua bidang pembangunan. Adanya perkembangan dikawasan perkotaan ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk berdomisili dan melakukan aktivitas ekonominya diperkotaan tersebut. Hal ini mengakibatkan terjadinya migrasi yang menambah beban kawasan perkotaan baik dari sisi ruang maupun intensivitas ekonomi. Meningkatnya jumlah penduduk dan intensitas aktivitas pada kawasan perkotaan perlu disikapi dan diantisipasi. Hal ini perlu dilakukan mengingat fenomena tersebut dapat membangkitkan banyak permasalahan perkotaan terutama yang berkaitan dengan ketersiadaan dukungan pemukiman khususnya drainase perkotaan.

Dampak dari perubahan tata guna lahan yang semakin mempersempit daerah resapan air akan memperbesar aliran permukaan sekaligus menurunnya air yan meresap ke dalam tanah. Dengan semakin berkurangnya daerah resapan di kawasan perkotaan sebagai dampak dari perkembangan pembangunan Kota akan menimbulkan efek kepada distorsi fungsi drainase baik kapasitas, sistem operasi maupun pengelolaannya.

Kota Langsa Saat ini belum memiliki sistem drainase yang baik dan menyeluruh secara sistem, yang didukung dengan bangunan pelengkap. Hampir semua air hujan, air limbah rumah tangga (mandi,cuci,dapur) Grey water dibuang langsung ke saluran drainase mikro maupun saluran terbuka lainnya. Dengan kondisi ini, kemungkinan terjadinya genangan/banjir dan pencemaran air tanah sangat besar.

Selain pencemaran limbah rumah tangga, limbah aktivitas ekonomi juga berperan dalam terjadinya permasalahan lingkungan.

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

51 

SSK   BAB II  

Tabe 2.14. Tabel Kondisi Genangan

No Lokasi Genangan

Wilayah Genangan Infrastruktur*

Luas Ketingg

ian Lama Frekuensi

Penyebab*** Jenis Keteran gan**

(Ha) (M) (jam/h

ari) (kali/tahu n) 1 Kecamatan Langsa

Timur

3 Kecamatan Langsa Barat

4 Kecamatan Langsa Baro

Birem Puntong 18 0.34 6 jam 1 kali Tidak ada Drainase  tanah PB. Seuleumak 12 0.5 5 jam 1 kali Tidak ada Drainase  tanah

5 Kecamatan Langsa Kota

Gampong Teungoh 37 0.48 6 jam 1 kali Tidak ada Drainase  tanah Gampong Jawa 18 0.6 5 Jam 1 kali Tidak ada Drainase  tanah Sumber : BLHKP

2). Sistem dan Infrastruktur 52 

Tabel 2.15. Kondisi sarana dan prasarana drainase perkotaan di Kota Langsa

No Jenis Prasarana / Sarana Satuan

Bentuk

Penam-pang Saluran*

Dimensi Kondisi Frekuensi

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

53 

SSK   BAB II  

Gambar 2.21. Peta Lokasi Genangan Kota Langsa

Sumber : BLHKP

54  3). Kelembagaan dan Peraturan

Secara kelembagaan, organisasi lembaga pengelola drainase berdasarkan Qanun Nomor …. Tahun …… adalah Dinas Bina Marga dan Cipta karya. Lembaga ini telah melaksanakan tugas pokok dan fungsinya melayani masyarakat di bidang teknis, yang dalam melaksanakan tugasnya masing-masing menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi baik intern maupun antar unit organisasi lainnya sesuai dengan tugas pokok masing-masing.

Hal ini dapat menjadi pendorong pengelolaan sistem drainase menuju kearah teknologi karena dengan organisasi yang jelas akan meningkatkan koordinasi, baik intern maupun antar unit organisasi lainnya. Tanpa koordinasi yang baik pelaksanaan pengelolaan sistem drainase dapat menemui banyak hambatan di kemudian hari.

Qanun tentang pengelolaan drainase di Kota Langsa hingga saat ini telah ada namun dalam pelaksanaannya belum didukung dengan kesiapan Lembaga pengelola layanan drainase yang ada serta belum adanya data base yang menujang pembangunan Drainase kawasan. Dari segi peraturan belum adanya ketegasan fungsi sistem drainase dimana fungsi saluran drainase perkotaan untuk sistem Pengaturan air hujan masih disatukan dengan Pembuangan air limbah rumah tangga (grey water) hal lain dipengaruhi oleh Penerapan sistem pengawasan dan penerapan sanksi hukum yang belum berjalan maka hal ini menjadi faktor penghambat pengelolaan drainase Pada Kota Langsa. Ada upaya yang akan dilakukan pemeritah Kota Langsa dalam hal ini dengan menciptakan kelembagaan pengelola layanan drainase yang kuat dengan mengembangkan perencanaan sistem drainase kota yang terintegrasi dan komprehensif didukung dengan adanya system data base serta tersedianya kebijakan pengendalian dan pengaturan terhadap pembangunan dan alih fungsi Drainase Kota Langsa

      Kota Langsa  2015 ‐ 2019 

55 

SSK   BAB II  

Dalam dokumen BAB II. Profil Sanitasi (Halaman 29-55)

Dokumen terkait