BAB IV KODE ETIK NOTARIS DAN PERSENTUHAN DENGAN
A. Akad-Akad Yang Dilarang Dalam Islam
Akad dalam hukum Islam di artikan sebagai ikatan antara para pihak dalam melakukan suatu hubungan dua arah. Hubungan ini dapat berlaku untuk keperluan materi berupa benda yang bergerak maupun tidak. Konsep akad di atas menjelaskan bahwa akad dapat diartikan sebagai tindakan hukum para pihak dalam suatu perjanjian.187
Menurut Fukaha ada beberapa bentuk akad untuk menunjukkan kesungguhan dalam akad yaitu:
1. Lisan 2. Tulisan 3. Isyarah 4. Ta’athi188
Dalam akad dengan tulisan, diisyaratkan agar pihak yang menerima tulisan
memeberikan persetujuan ditempat, dimana tulisan itu dibacakannya.189Akad
dalam bentuk tertulis dalam zaman modern ini biasa disebut dengan akta, akta bisa berbentuk otentik dan tidak otentik.
187Ridwan Nurdin,Fiqh Muamalah (Sejarah, Hukum dan Perkembanganya),Yayasan PeNA,
Banda Aceh, 2010, Hal.21
188 Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,Pengantar Fikih Muamalah, PT.Pustaka Riski Putra,
Semarang, 2001. Hal.30
Dalam Surat Al Baqarah Ayat 282 disini penekanan pada akad tertulis. Dan bisa dikatakan sebagai akta utang piutang kalau kita lihat dari unsur-unsur yang disebutkan dalam Ayat tersebut bisa berupa Akta relas. Akta relas adalah akta yang dibuat oleh notaris atas pemintaan para pihak, agar notaris mencatat atau menuliskan segala sesuatu hal yang dibicarakan oleh pihak berkaitan dengan tindakan hukum atau tindakan lainnya yang dilakukan oleh para pihak, agar tindakan itu dibuat atau dituangkan dalam suatu akta notaris.190
Pesan Surat Al Baqarah Ayat 282 melarang akad yang cacat, Akad yang cacat merupakan akad yang dapat dimintakan pembatalannya. Untuk lebih jelasnya bentuk- bentuk akad yang termasuk ke dalam katagori akad yang cacat adalah sebagai berikut:
1. Al-Ikrah(Paksaan)
Ikrah berasal dari kata akraha-yukrihu-ikraahan. Jika dikatakan: akraha
fulanan ‘ala al-amri; hamalahu ‘alaihi qahran (memaksa fulan atas satu perkara;
memaksanya untuk melaksanakan urusan tersebut)191
Adapun menurut istilah para fuqaha, Ikrah adalah memaksa pihak lain untuk
melakukan sesuatu yang dibencinya baik berupa ucapan ataupun perbuatan dengan gertakan dan ancaman. Dalam kamus al-Mushtalahat al-Iqtishadiyyah disebutkan192,
ikrah adalah paksaan dari seseorang yang memiliki kekuasaan terhadap orang lain
190Habib Adjie.Ibid,Hal.45
191http://myrayhan.blogspot.com/2012/01/cacat-cacat-akad-uyub-al-aqdi_19.html,diakses
tanggal 20 februari 2014.
untuk melakukan sesuatu yang dipaksakan, hingga paksaan tersebut meniadakan kerelaannya.
Paksaan merupakan cacat kehendak yang paling fatal dalam hukum Islam karena sifatnya sangat konkrit, mengekang kehendak dan memaksanya dengan seketika. Paksaan secara etimologi adalah menyuruh orang lain pada perkara yang tidak dikehendakinya, sementara menurut para Fuqaha, paksaan adalah menyuruh seseorang untuk mengerjakan suatu perbuatan yang tiada.193
Para fuqaha membedakan dua macam paksaan, paksaan sempurna (penuh) dan paksaan tidak sempurna. Paksaan dikatakan penuh apabila hal yang dipaksakan melakukan oleh yang yang dipaksa dengan adanya ancaman yang menyangkut keselamatan jiwa atau hilangnya sebagian anggota badan, paksaan dikatakan tidak sempurna.194
Ikrah dianggap berlaku jika mengandung dua hal, yaitu pihak yang memaksa kehendaknya mampu melaksanakan ancamannya, dan pihak yang dipaksa memiliki prasangka yang kuat bahwa ancaman tersebut akan dilakukan padanya. Kalau salah satu dari dua hal tersebut apalagi kedua-duanya tidak ada, maka ikrah itu dianggap hanya main-main dan tidak berpengaruh sama sekali.195
Ikrahitu ada dua:
193 Cut Lika Alia,Tesis: Akad Yang Cacat Dalam Hukum Perjanjian Islam, USU, Medan,
2014,Hal. 61,
194Hasballah Thaib 3,Op. Cit,Hal.133 195Hasballah Thaib 3,Loc. Cit
a. Ikrah mulji’yaitu paksaan (ikrah) yang dapat merusak kerelaan dan hak pilih. Dalam hal ini, pihak yang dipaksa (mukrah) seperti sebuah alat yang berada di
tangan si pemaksa (mukrih). Paksaan ini biasanya dalam bentuk ancaman
pembunuhan, ancaman membuat cacat anggota tubuh atau pemukulan berat yang dikhawatirkan dapat menghilangkan nyawa atau anggota badan, atau
melenyapkan seluruh harta. Ikrah mulji’ seperti ikrah yang disertai dengan
ancaman penghilangan nyawa atau anggota badan, maka ikrah tersebut
membatalkan akad jual beli dan juga akad-akad lainnya.
b. Ikrah ghair mulji’ yaitu paksaan (ikrah) yang merusak kerelaan namun tidak merusak hak pilih, dan ini bisa dalam bentuk ancaman yang dsebutkan di atas, seperti ancaman dengan pukulan yang tidak menghilangkan nyawa atau anggota badan, atau melenyapkan sebagian harta.196
Adapun apabila gangguan itu ringan (yasir), maka ia tidak ada pengaruhnya sama sekali, bahkan ia tidak dianggap sebagai sebuah paksaan. Dan untuk membedakan antara gangguan yang tidak perlu dipedulikan dengan gangguan yang
akan meningkat menjadiikrah(paksaan) adalah kembali kepada keputusan hakim.
Karena dalam hal ini tidak batasan yang pasti, sedangkan membuat batasan dengan akal jelas tidak mungkin, maka keputusannya dikembalikan kepada hakim, karena bisa berbeda-beda tergantung dari kondisi manusia. Ada orang yang tidak
merasa terancam kecuali bila dipukul dengan keras atau dipenjara dalam waktu lama. Namun ada juga yang merasa terancam dengan dimarahi atau digertak.197
Para fuqaha telah sepakat bahwa berbagai kegiatan keuangan yang didasari oleh kerelaan, seperti jual beli atau sejenisnya tidak dianggap sah apabila dilakukan dengan paksaan. Namun, apakah semua kegiatan itu dibolehkan setelah hilangnya paksaan atau tidak. Yakni apabila muncul kerelaan setelah sebelumnya dipaksa, apakah bisa dibenarkan atau tidak, ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama.
Jumhur ulama melarangnya, sedangkan Abu Hanifah membolehkannya198. Seperti
yang diungkapkan oleh ulama fikih maka akad yang disertai paksaan (ikrah) adalah akad yangfasidtapi sahnya akad dengan keridhaan199.
2. Al-Ghalath(Kesalahan)
Kesalahan disebut juga dengan kekeliruan. Kekeliruan yang dimaksud di sini
adalah kesalahan yang terjadi pada objek akad, bukan pada subjeknya. Ghalath
berasal dari kataghalitha-yaghlathu-ghalathan, yang menurut bahasa berartial-khata
(kesalahan). Cacat ini berkaitan dengan objek akad tertentu, yaitu dengan menyebutkan satu gambaran tertentu tentang objek akad, namun ternyata yang tampak adalah kebalikannya. Seperti orang yang membeli perhiasan berlian, ternyata berlian tersebut hanya terbuat dari kaca, atau orang yang membeli pakaian dari sutera, namun ternyata hanya terbuat dari kapas.200
197Cut Lika Alia,Op. Cit, Hal. 62 198Ibid, Hal.135
199
Buchari Alma. Doni Juni Priansa,Manajemen Bisnis Syariah,Alfabeta, Bandung 2010, Hal .251. 200Cut Lika Alia,Op. Cit, Hal. 63
Ghalathitu ada dua macam:
a. Ghalath yang mengakibatkan batalnya akad, yaitu yang perbedaannya kembali kepada perbedaan jenis, atau perbedaan yang signifikan pada manfaatnya, seperti perbedaan antara emas dan tembaga, atau antara hewan sembelihan dengan bangkai pada akad jual beli daging.
b. Ghalath yang perbedaan jenis atau perbedaan manfaatnya tidak signifikan, seperti orang yang membeli hewan jantan, dan hewannya ternyata betina, atau sebaliknya.Ghalathseperti ini tidaklah membatalkan akad, namun pihak yang dirugikan berhak untuk membatalkannya.
3. Al-Ghabn(Penyamaran Harga)
Ghabn menurut bahasa adalah al-khida’ (penipuan). Jika dikatakan:
ghabanahu ghibanan fi al-bai’ wa asy-syira’; khada’ahu wa ghalabahu (dia benar-
benar menipunya dalam jual beli; yaitu menipunya dan mengalahkannya), ghabana
fulanan; naqashahu fi ats-tsaman wa ghayyarahu (dia menipu fulan; yaitu mengurangi dan merubah harganya)201.
Adapun menurut istilah, ghabn adalah pengurangan pada salah satu alat
kompensasi, atau tukar menukar pada salah satu alat kompensasi yang tidak adil karena tidak adanya kesamaan antara yang diambilnya dengan yang diberikannya. Seperti orang yang menjual rumah seharga sepuluh padahal harganya hanya delapan. Maka dari pihak yang melakukan penyamaran harga, berarti memindahkan kepemilikan barang dengan kompensasi lebih besar dari harga barangnya. Sementara
dari pihak yang disamarkan harga barangnya, berarti ia memiliki barang dengan harga lebih mahal dari harga yang sebenarnya.
Ghabn menurut para fuqaha ada dua macam, yaitu ghabn yasir(penyamaran
ringan) dan ghabn fahisy (penyamaran berat). Ghabn yasir (penyamaran ringan)
adalah penyamaran harga yang tidak sampai keluar dari harga pasaran (taqwim al-
muqawwimin), yaitu harga yang diperkirakan oleh orang-orang yang berpengalaman di pasar202.
Dalam kegiatan muamalah hampir tidak bisa terlepas dari adanyaghabn yasir
seperti ini. Oleh karena itu, dalam semua jenis akad, ghabn seperti ini dapat
dimaklumi, dan tidak ada pengaruhnya. Ghabn fahisy (penyamaran berat) adalah
penyamaran harga yang sampai mengeluarkan barang dari harga pasarannya. Ghabn
seperti ini membatalkan akad yang subjeknya adalah harta wakaf atau harta yang dicekal (mahjur ‘alaihim), atau harta Baitul Mal, karena pengoperasian harta-harta semacam ini harus berada dalam lingkaran kemaslahatan harta tersebut.
Adapun pengaruh ghabn fahisy pada akad-akad lainnya, terjadi perbedaan
pendapat antar para ulama:
1. Ghabn semacam itu tidak ada pengaruhnya, demi menjaga kemaslahatan berlangsungnya akad juga menjaganya agar tidak batal. Karena orang yang menjadi korban penyamaran harga tidak lepas dari sikap lalai dan terburu- buru. Maka ia harus menanggung akibat perbuatannya itu.
2. Orang yang menjadi korban penyamaran harga memiliki hak untuk membatalkan akad agar dia dapat terlepas dari perbuatan semena-mena terhadap dirinya.
3. Ghabn seperti ini jika tujuannya adalah penipuan dari ghabin (pihak yang
menyamarkan harga), maka pihak yang menjadi korban (maghbun) memiliki
hak untuk membatalkannya. Dan jika tujuannya bukan untuk menipu pembeli, maka tidak ada pengaruhnya. Kemungkinan pendapat inilah yang pas dari semua pendapat di atas.203
Pembedaan antara ghabn yasir (penyamaran ringan) dengan ghabn fahisy
(penyamaran berat) adalah kembali pada ‘urf (kebiasaan). Karena tidak ada
batasan konkrit dalam masalah ini. Adapun berbagai perkiraan tentang batasan penyamaran harga yang diungkapkan sebagian fuqaha tidak dianggap sebagai
syariat yang pasti. Namun semua itu didasari oleh berbagai kebiasaan (al-
a’raf) yang tersebar pada masa mereka. 4. At-Tadlis/at-Taghrir(Penipuan)
Pemalsuan atau penipuan adalah menyembunyikan cacat pada objek akad agar tampak tidak seperti sebenarnya atau perbuatan pihak penjual trhadap barang yang dijual dengan maksud untuk mempengaruhi harga yang lebih besar. Misalnya, orang menjual kambing perahan, beberapa hari sebelumnya tidak diperah agar kiranya bahwa air susunya amat deras karena susunya pada
waktu kambing itu dijual tampak amat penuh.204Penipuan itu bila tidak sesuai faktanya untuk tujuan akad.205
Tadlis berasal dari kata dallasa-yudallisu-tadlisan. Menurut bahasa ad-dalas
berarti adz-dzulmah(kegelapan)206danad-dalsberartial-khadi’ah(penipuan).
Tadlisadalah ikhfa al-‘aib(menyembunyikan cacat). Sedangkan tadlisdalam jual beli adalah menjual suatu barang yang mengandung cacat tanpa menjelaskan (cacatnya) tersebut pada pihak pembeli.
Menurut Abdul Malik Mahmudal-Ba’li, yang dimaksud dengan tadlis adalah
suatu upaya untuk menyembunyikan cacat pada objek akad dan menjelaskan dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataannya untuk menyesatkan pihak yang berakad dan mengakibatkan kerugian salah satu pihak yang berakad, juga dikatakantadlisadalah penipuan.207
Tadlisitu terbagi dua:
a. Tadlis perkataan (qauli) seperti seseorang yang menjual suatu barang dengan mengatakan bahwa barang tersebut terbebas dari cacat dan lain- lain.
b. Tadlisperbuatan (fi’il) seperti dalam kasustasyriyyahseperti membiarkan susu ternak tidak diperah agar dianggap selalu bersusu banyak dan lain- lain.208
Jika terjadi tadlis maka orang yang tertipu (mudallas) memiliki khiyar. Ia boleh tetap melanjutkannya dan mempertahankan barang diperjual belikan, yang artinya ia ridha/rela dengan barang tersebut. Ia jugamemfasakh (membatalkan) akad
204Hasballah Thaib ,Op. Cit, Hal 138
205Harlien Budiono,Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan,
206 Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah Dalam Perspektif Kewenangan Peradilan Agama,Kencana ,Jakarta, 2012, Hal.94-95.
207Syamsul Anwar,Hukum Perjanjian Syariah,PT. Raja Grafindo Persada, 2007, Hal.168. 208Hasballah Thaib ,Loc. Cit
jual beli, yakni ia kembalikan barang tersebut dan meminta kembali secara penuh harga yang telah ia bayarkan.Tadlisyang menetapkankhiyarada dua bentuk:
1. Tadlisyang menaikkan harga meskipun tidak ada aib.
Seperti memerahi wajah hamba sahaya perempuan, menghitamkan rambutnya dan semacamnya, juga seperti membiarkan susu tetap di kambingnya, dengan tidak diperah.
2. Tadlisdengan menutup aib (cacat)
Dalam tadlis bentuk pertama adalah adanya perlakuan terhadap barang yang
bisa mengaburkan/mengelabui pembeli sehingga menduga atau menganggap barang tersebut memiliki kualitas, fungsi, spesifikasi atau lainnya, lebih dari yang sebenarnya. Tujuannya tentu saja agar harga barang itu lebih tinggi.
Contoh tadlis bentuk ini untuk saat sekarang: merekondisi barang sehingga
tampak seolah-olah baru atau belum lama dipakai, mematikan speedometer dan baru dihidupkan lagi saat mau dijual, mengecat ulang bodi mobil, mengganti chasing HP dengan chasing baru, dan lain sebagainya. Semua itu akan bisa membuat pembeli mengganggap kondisi barang lebih dari yang sebenarnya.
Dalam tadlis bentuk kedua yaitu tadlis dengan menutup ‘aib (cacat), ada
sebuah hadits dari Rasulullah SAW: “Seorang Muslim adalah saudara muslim
cacat kepada saudaranya kecuali ia menjelaskan jualannya itu kepada saudaranya, Bukhari Muslim”209.
Hadits ini dengan jelas menyatakan bahwa seseorang yang menjual barang cacat, tidak halal baginya kecuali ia menjelaskan cacat yang ada itu. Ini sekaligus menjelaskan bahwa menjual tanpa menjelaskan cacat itu merupakan tata cara memperoleh harta secara haram.
Namun, kadang barang cacat itu tidak mungkin dikembalikan, misalnya mobil sudah bertabrakan atau bahan baku sudah terlanjur diproses. Padahal pembeli tidak rela dengannya karena cacat atau kurang, tetapi harganya sudah dibayar.
Jika tidak rela, secara syar’i pembeli itu memiliki khiyar untuk
mengembalikan barang, tetapi hal itu tidak mungkin karena kondisi yang
terjadi. Untuk menghilangkan dharar dari pembeli itu maka ia bisa merujuk
kepada penjual agar membayar nilai cacat tersebut.
Syahril sofyan mengutip Bryan A. Gardner menyatakan ketidak sesuai itu terjadi karena terjadinya pemahaman yang keliru dari pihak yang menerima penawaran (representee) akibat penyampaian atau penyajian fakta yang keliru
dari pihak yang memberi penawaran (offeror atau representator) perihal
informasi melalui representasi yang diminta lawannya bernegosiasi. Tindakan yang memberikan penyampaian yang keliru atau tidak benar kepada lawannya berkontrak dalam ilmu hukum dikenal dengan sebutan “misrepresentation”
atau kalau dialihk-bahasakan ke bahasa indonesia disebut “misrepresentasi”.210
Black’s Law Dictionary mengenal 4 (empat) macam atau type dari
misrepresentation,yaitu:
1. Fraudulent misreprentation. A false statement that is known to be false or is made recklessly –without knowing or caring whether it is true or false—and that is intended to induce a party to detrimentally rely on it.— Also termed fraudulent representation; deceit.
“A misreprentation is fraudulent if the maker intends his assertation to induce a party to manifest his assent and the maker (a) knows or believes that the assertation is not in accord with the facts, or (b) does not have the confidence that he states or implies in the truth of the assertation, or (c) knows that he does not have the basis that he states or implies for assertation”
Bila dialih-bahasakan maka akan diperoleh makna dari uraian di atas sebagai berikut:
“Suatu pernyataan yang tidak benar yang diketahui tak benar atau dibuat secara sembarangan –tanpa mengetahui atau memperdulikan apakah itu benar atau palsu-dab yang dimaksudkan untuk membujuk suatu pihak yang secara merugikannya menyandarkan diri kepada pernyataan itu. Juga diistilahkanfraudulent representation, penipuan”.
“Suatu misrepresentasi dikatakan curang apabila pembuatnya
memaksudkan pernyataannya untuk membujuk suatu pihak guna memenuhi persetujuannya dan pembuatnya (a) mengetahui atau meyakini bahwa yang ditonjolkan itu tak sesuai dengan fakta, atau (b) tak memiliki
210 Syahril Sofyan, Desertasi:Standar Perjanjian Misrepresentasi Dalam Transaksi Bisnis,
keyakinan bahwa ia menyatakan atau secara tak langsung menyatakan dalam kebenaran tentang penonjolan (pernyataan yang tegas, tuntutan), atau (c) mengetahui bahwa ia tak memiliki dasar bahwa ia menyatakan atau menyatakan secara tak langsung untuk suatu pernyataan yang tegas (penonjolan, tuntutan)”
2. Innocent misrepresentation. A false statement not known to be false; a misrepresentation that, thought false, was not made fraudulently.
Bila dialih-bahasakan maka akan diperoleh makna dari uraian di atas sebagai berikut:
Suatu pernyataan tak benar yang tak diketahui tak benar; suatu misrepresentasi yang, meskipun tak benar, tetapi tak dibuat secara curang.
3. Material misrepresentation. 1. Contracts. A false statement that is likely to induce a reasonable person to assent or that the maker knows is likely to induce the recipient to assent. 2. Torts. A false statement to which a reasonable person would attach importance in deciding how to act in the transaction in question or to which the maker knows or has reason to know that the resipient attaches some importance. Kamus ini mengutip
Restatement (Second) of Torts§ 538 (1979), sebagai berikut:
“The materiality of a misrepresentation is determined from the viewpoint of the maker, while the justification of reliance is determined from the viewpoint of the resipient.... the requirement of materiality may be met in eithet of two ways. First, a misrepresentation is material if it would be likely to induce a reasonable person to manifest his assent. Second, it is material if the maker knows that for some special reason it is likely to induce the particular recipient to manifest his assent. There may be personal considerations that the resipient regards as important even though they would not be expected to effect others in his situation and if the maker is aware of expected to induce a reasonable person to make the personal contract. One who preys upon another’s known idiosyncrasies cannot complain if the contract is held voidable when the succeed in what he is endeavoring to occomplish... although a nonfraudulent misrepresentation that is not material does not make the contract voidable under the rulesn stated in this chapter, the resipient may hae a
claim to relief under other rules, such as those relating to breach of warranty”.
Bila dialih-bahasakan maka akan diperoleh makna dari uraian di atas sebagai berikut:
1. Kontrak. suatu pernyataan palsu yang kemungkinan besar
menyebabkan seorang yang berpikiran waras menyetujui atau bahwa pembuat mengetahui kemungkinan menyebabkan persetujuannya.
2. Kesalahan. Pernyataan palsu terhadap mana subjek yang berakal
sehat akan meletakkan kepentingannya dalam memutuskan
bagaimana bertindak dalam suatu transaksi atas pernyataan atau terhadap mana pembuat mengetahui atau memiliki alasan yang masuk akal untuk mengetahui bahwa penerima menempatkan beberapa kepentingan.
4. Negligent misrepresentation. A careless or inadvertent flase statement in circumstances where care should have been taken.
Bila diterjemahkan akan bermakna: “Kesembronoan atau kekurang-hati- hatian dari pernyataan tidak benar di sekitarnya dimana kehati-hatian seharusnya dilakukan.211
5. Al-Jahalah
Jahalah menurut bahasa berasal dari jahiltu asy-syai’ (saya tidak tahu
suatu hal) lawan dari ‘alimtuhu (saya mengetahui). Dan jahalah adalah
melakukan suatu perbuatan tanpa ilmu.212
Adapun Jahalah menurut istilah, para fuqaha menggunakan kata jahalah
baik untuk manusia yang tidak diketahui keyakinannya, perkataannya,
ataupun perbuatannya, juga mereka menggunakan kata jahalah pada
aspek-aspek lain di luar manusia seperti barang dagangan dan lain-lain. Sehingga sesuatu yangmajhul, mereka mensifatinya denganjahalah.
Jahalahitu ada tiga tingkatan:
1. Jahalah fahisyah, yaitu jahalah yang dapat mengakibatkan
persengketaan. Jahalah ini menjadikan akad tidak sah, kerena
diantara syarat sahnya akad adalah agar objek akad iru ma’lum
(diketahui) dengan pengetahuan yang meniadakan persengketaan. 2. Jahalah yasirah, yaitu jahalah yang tidak mengakibatkan
persengketaan. Jahalah seperti ini dibolehkan dan akad dengan
adanyajahalahini juga sah, seperti jahalahpondasi rumah dan lain- lain.
3. Jahalah mutawassitah, yaitu jahalah antara fakhisyah dan yasirah.
Para fuqaha berbeda pendapat dalam jahalah ini. Sebagian mereka
menganggap bahwa hukumnya sama dengan jahalah fakhisyah.
Namun sebagian yang lain menganggapnya sama dengan jahalah
yasirah. Setiap jahalah yang bisa mengakibatkan persengketaan berarti merusak akad.
Seperti seseorang yang menjual seekor kambing yang tidak tertentu dari segerombolan kambing yang ada. Maka pihak penjual, kadang ingin memberikan kambing yang kualitasnya jelek dengan
alasan tidak adanya ta’yin (penentuan barang) pihak pembeli juga
kadang ingin mengambil kambing yang kualitasnya bagus dengan
alasan yang sama, maka akad seperti ini menjadi rusak (fasad)
menurut ulama Hanafiyah213.
Gambaranjahalah fahisyahitu ada empat:
1. Jahalah yang berkaitan dengan objek akad, seperti seseorang
yang membeli seekor sapi dengan syarat sapi tersebut
menghasilkan susu sekian liter, maka syarat tersebut
mengandung gharar dan jahalah, hingga syarat tersebut tidak
berlaku dan dianggap rusak.
2. Jahalah dalam hal waktu, karena dalam jual beli disyaratkan agar waktunya jelas diketahui, dan jika waktunya tidak jelas
diketahui (majhul) maka rusaklah jual beli tersebut, seperti