BAB IV KODE ETIK NOTARIS DAN PERSENTUHAN DENGAN
D. Kode Etik Notaris Indonesia Dan UUJN Sejalan Dengan
Perintah bagi penulis dalam Surat Al Baqarah Ayat 282 ada beberapa hal, sebahagian sudah termuat dalam kode etik notaris. Ada beberapa kode etik bagi seorang penulis yang terdapat dalam Surat Al Baqarah Ayat 282, diantaranya:
a) Menulis dengan jujur dan adil
“dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” Ibnu katsir menafsirkan frasa ini, bahwa penulis harus menulis denngan tepat dan benar. Dia tidak boleh merugikan salah satu pihak dan tidak menuliskan kecuali apa yang telah disepakati, tanpa menambah atau menguranginya.236
Pasal 3 kode etik mengatur mengenai kewajiban notaris, dalam Ayat 4 disebutkan notaris bertindak jujur, mandiri, tidak berpihak, penuh rasa tanggung jawab, berdasarkan peraturan perundang-undangan dan isi sumpah jabatan notaris.
b) Menulis sesuai perintah Allah/asas profesionalitas
Menurut Quraish Shihab dibutuhkan tiga kriteria bagi penulis, yaitu kemampuan menulis, pengetahuan tentang aturan serta tatacara menulis perjanjian, dan kejujuran. Berlaku baik terhadap aturan negara maupun aturan agama.
Penulis harus menulis sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam pasal 1868 BW yang merupakan sumber otensitas akta notaris menetapkan salah satu syarat legalitas akta notaris ialah akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang237.
Dalam Pasal 16 Ayat (1) huruf d, notaris wajib memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam UUJN, kecuali ada alasan untuk menolaknya. Asas ini
236 Muhammad Nasib Ar-Rifa’i,Kemudahan Dari Allah,Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I(Surat Al Fatihah-Annisa),Gema Insani,1999. Hal. 464
mengutamakan keahlian (keilmuan) notaris dalam menjalankan tugas jabatannya, berdasarkan UUJN dan kode etik jabatan notaris. Tindakan profesional notaris dalam menjalankan tugas jabatannya diwujudkan dalam melayani masyarakat dan akta yang dibuat di hadapan atau oleh notaris.238
c) Dilarang menolak untuk menulis jika ada yang memintanya
Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tidak membeda-bedakan satu
dengan yang lainnya berdasarkan keadaan sosial-ekonomi atau alasan
lainnya.alasan-alasan seperti ini tidak dibenarkan untuk dilakukan oleh notaris dalam melayani masyarakat, hanya alasan hukum yang dapat dijadikan dasar bahwa notaris dapat tidak memberikan jasa kepada yang menghadap notaris. Bahkan dalam keadaan tertentu notaris wajib memberikan jasa hukum dibidang
kenotariatan secara Cuma-Cuma kepada yang tidak mampu (Pasal 37 UUJN)239
d) Mengimlakkan/menbacakan/asas kecermatan
Dalam undang-undang no 30 tahun 2004 tentang jabatan notaris dalam bab kedua tentang kewajiban dalam pasal 16 huruf l disebutkan salah satu kewajiban notaris adalah membacakan akta dihadapan penghadap
Walaupun dalam Surat Al Baqarah Ayat 282 yang membaca adalah penghadap,namun pada prinsipnya keduanya untuk memenui azas kecermatan agar tidak adanya kesalahan dalam poses pembuatan akta
e) Tidak menyusahkan klien
238Habib Adjie,Op. Cit, Hal. 38 239Habib Adjie,Op.CitHal.34
Islam mengatur secara umum bahwa notaris tidak boleh menyussahkan klien, makna menyusahkan ini bisa berbagai bentuk, bisa membuat akta tidak sesuai
dengan keinginan klien,menipu klien atau memberatkan klien dengan
honorarium yg tinggi.
Terkait dengan hubungan notaris dengan klien ada beberapa poin yang di atur dalam kode etik notaris, seperti yang tersebut dalam pasal 3 kode etik notaris indonesia tentang kewajiban yaitu:
Ayat (1) memiliki moral,akhlak, serta kepribadian yang baik.
Ayat (4) bertindak jujur, mandiri tidak memihak, penuh rasa tanggung jawab, berdasarkan peraturan perundang-undangan dan isi sumpah jabatan notaris.
Ayat (6) mengutamakan pengabdian kepada kepentingan masyarakat dan
negara,
Ayat (7) memberikan jasa pembuatan akta dan jasa kenotariatan lainnya untuk masyarakat yang tidak mampu tanpa memungut honorarium.
Ayat (15) memperlakukan setiap klien yang datang dengan baik, tidak membedakan status ekonomi dan/atau status sosialnya.
Dan dalam pasal 4 tentang larangan yaitu Ayat (8) melakukan pemaksaan kepada klien dengan cara menahan dokumen-dokumen yang telah diserahkan dan/atau melakukan tekanan psikologis dengan maksud agar klien tersebut tetap membuat akta padanya.
f) Menghadirkan saksi
Disamping beberapa hal di atas yang sudah terdapat dalam Kode Etik Notaris Indonesia maupun dalam undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris namun ada juga Yang belum termuat dalam kode etik notaris maupun undang-undang nomor 30 tahun 24 tentang jabatan notaris antara lain sebagai berikut:
1. Kreditur yang mengimlakkan
Dalam memahami frasa ayat di atas yang terkait dengan teknis penulisan Sayyid Quthub menjelaskan bagaimana seharusnya menulis:
Orang yang berutang hendaklah mendiktekan kepada juru tulis mengenai utang yang diakuinya itu, berapa besarnya, apa syaratnya, dan temponya. Hal ini karena dikhawatirkan terjadinya kecurangan terhadap yang berutang kalau pemberi yang yang mendiktekannya, dengan menambah nilai utangnya, atau memperpendek temponya, atau menyebutkan beberapa syarat tertentu untuk kepentingan dirinya. Orang yang berutang itu dalam posisi lemah yang kadang-kadang tidak berani menyatakan ketidaksetujuannya karena ingin mendapatkan harta yang diperlukannya, sehingga ia dicurangi.
Kreditur yang diberi porsi lebih dalam proses mengimlakkan, hal ini untuk memperkuat pengakuan kreditur terhadap hutangnya.
2. Saksi laki-laki
Dalam Islam untuk transaksi utang piutang mewajibkan dua orang lelaki sebagai saksi atau boleh juga dua orang perempuan dan satu laki-laki. Kalau kita melihat beberapa pendapat ulama tafsir yang dikutip dalam penulisan tesis ini, tidak ada perbedaan pendapat terkait saksi yang digunakan yaitu untuk pencattan utang
harus memakai dua orang lelaki atau dua orang perempuan dan satu orang laki-laki, kalau kita melihat dewasa ini rata-rata notaris memakai perempuan semua sebagai saksi, hal ini diakibatkan karena banyak notaris yang mempekerjakan perempuan sebagai pegawai dikantornya.
3. Saksi yang kamu ridhai/sukai
Dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ada frasa saksi yg kamu ridhai, artinya tidak dapat sembarangan menunjuk saksi, saksi harus benar-benar disetujui oleh para pihak yang terlibat dalam transaksi. Karena saksi yang ditunjuk memegang tanggung jawab yang besar jika dikemudian hari terjadi sengketa dia harus bersedia diminta kesaksiannya.
Maka kalau kita melihat dari beberapa poin di atas sebagian besar sudah termuat dalam Kode Etik Notaris Indonesia. Hanya sebagian kecil yang belum termuat dalam kode etik notaris seperti beberapa hal telah disebutkan di atas.