TEORI PERKAWINAN
8. Akad perkawinan menurut fiqih
a. Pengertian Akad Perkawinan menrut fiqih
Akad perkawinan disebut juga akad nikah. Kata akad artinya janji, perjanjian, kontrak. Sedangkan kata nikah yaitu ikatan perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hokum dan ajaran agama.53 Secara sederhana nikah itu bermakna perkawinan atau perjodohan.54 Menuru Amir Syarifudin, akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang melangsungkan perkawinan dalam bentuk ijab dan qabul.55 Dalam KHI disebutkan pada Bab I pasal 1 (c) bahwa akad nikah adalah rangkaian ijab yang diucapkan oleh wali dan qabul yang diucapkan oleh mempelai pria atau wakilnya disaksikan oleh dua orang saksi.56
Kamal Muchtar berpendapat bahwa akad nikah adalah “pernyataan sepakat dari pihak calon suami dan pihak calon istri untuk mengikatkan diri mereka dalam ikatan perkawinan”.
57
Dengan pernyataan ini berarti kedua belah pihak telah rela dan sepakat melangsungkan perkawinan serta bersedia mengikuti ketentuan-ketentuan agama yang berhubungan dengan aturan berumah tangga.
Akad nikah atau disebut juga akad perkawinan merupaka wujud nyata sebuah ikatan antara seorang pria yang menjadi suami dengan seorang wanita sebagai istri, yang dilakukan di depan (paling sedikit) dua orang saksi, dengan menggunakan sighat ijab dan qabul.58 Jadi akad perkawinan itu adalah perjanjian dalam suatu ikatan perkawinan yang dilakukan oleh mempelai pria atau yang mewakilinya, dengan wali dari pihak wanita calon pengantin atau yang mewakilinya, dengan menggunakan sighat ijab dan qabul. Pernyataan yang menunjukkan kemauan membentuk hubungan suami istri dari pihak memplai wanita disebut
53
KBBI Offline versi 1.1
54
Achmad Kuzari, Nikah sebagai Perikatan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995, Cet. 1, h. 34.
55 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media, Cet.2,T.th. h. 61
56
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Akademika Pressindo Edisi Pertama, 1995, h. 113.
57 Kamal Muchtar, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1974, Cet.1, h. 73.
58
ijab. Pernyataan yang menunjukkan kemauan membentuk hubungan suami istri dari pihak memplai wanita disebut ijab. Sedangkan pernyataan yang diucapkan oleh pihak memplai pria untuk menyatakan ridha dan setuju disebut qobul.59 Kedua pernyataan antara ijab dan qobul inilah yang dinamakan akad dalam perkawinan.
Ijab merupakan pernyataan pertama yang dimukakan oleh salah satu pihak, yang mengandung keinginan secara pasti untuk mengikat diri. Sedangkan qobul adalah pernyataan pihak lain yang mengetahui dirinya menerima pernyataan ihab tersebut.60 Ijab dilakukann oleh pihak wali memplai wanita atau wakilnya.61 Qobul yang diucapkan hendaklah dinyatakan dengan kata-kata yang menunjukkan kerelaan secara tegas.62
b. Dasar Hukum Akad Perkawinan
Dalam suatu pernikahan, akad perkawinan merupakan sesuatu yang wajib adanya. Karena dia adalah salah satu rukun dalam perkawinan. Dasar hokum wajibnya akad dalam suatu perkawinan yaitu firman Allah SWT. (Q.S. an-Nisak [4] ayat 21 yang berbunyi;
َ ۡ َ َو
َُ وُ ُ ۡ َ
ۥ
َٰ ِإ ۡ ُ ُ ۡ َ ٰ َ ۡ َأ ۡ َ َو
ٗ ِ َ ً ٰ َ ِّ ُ ِ َنۡ َ َأَو ٖ ۡ َ
Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, Padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat
Ayat diatas menunjukkan bahwa harus adanya suatu perjanjian yang dilakukan dalam suatu pernikahan sebagai suatu ikatan dalam perkawinan antara mempelai pria dan wanita. Perjanjian inilah yang disebut sebagai akad nikah. Dalam sebuah riwayat Nabi SAW bersabda;
59
Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, Jakarta: Rajawali Pers, 2013, Cet. 3, h. 79
60
Dahlan Aziz (Ed), Ensiklopedi Hukum Islami, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeke, h. 1331.
61
Djamaan Nur, Fiqh Munakahat, Semarang: Dina Utama Semarang (DIMAS) (Toha Putra Group), 1993, Cet.1, h. 22
62
Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Imam Ja‟far Shadiq, terj. Abu Zainab AB, Jakarta: Lentera, 2009, Cet. 1, h. 262.
ﷲ ﺔﻤﳫ ﻦ وﺮﻓ ﰎ لﻼ ﺘﺳاو ﷲ ﺔﻧﺎﻣ ﺑ ﻦﻫ اﻮﲤﺬ ﲂ ﺎﻓ ءﺎﺴ ﻟا ﰱ ﷲ اﻮﻘﺗا
٦٣
Takutlah kepada Allah dalam urusan perempuan, sesungguhnya kalian mengambil (menikahi) mereka dengan kepercayaan Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. (HR. Muslim).
Yang dimaksud dengan kalimat Allah dalam hadits tersebut diatas adalah al-Quran, dan dalam al-Quran tidak disebutkan selain dua kalimat yaitu Nikah dan Tazwij. Maka dalam akad perkawinan hendaknya menggunakan lafaz nikah, tazwij atau terjemahan dari keduanya.64 Dari hadits Nabi SAW tersebut diatas menunjukkan adanya suatu kalimat yang
diucapkan ketika melangsungkan akad perkawinan. Kalimat tersebut adalah ijab yang diikrarkan oleh wali dari pihak wanita dan qabul yang diikrarkan oleh memplai pria.
c. Syarat-syarat dalam ijab dan Qabul
Akad perkawinan yang dinyatakan dengan pernyataan ijab dan qabul, baru dianggap sah dan mempunyai akibat hukum pada suami istri apabila telah terpenuhi syarat-syaratnya.65 Antara lain;
1) Kedua belah pihak yang melakukan akad perkawinan itu baik wali maupun calon memplai pria atau yang mewakilinya adalah orang orang yang mukallaf. Apabila diantara keduanya ada yang tidak mukallaf dalam artian belum dewasa atau orang tidak sehat rohaninya (gila) maka pernikahannya tidak sah.
2) Ijab dan qabul dilaksanakan dalam satu majlis. Maksudnya ketika mengucapkan ijab dan qabul itu tidak boleh diselingi dengan kata-kata atau perbuatan lain yang dapat dikatakan memisahkan atau menghalangi pengucapan sighat ijab dan qabul.66
3) Lafaz qabul (kalimat penerimaan dari memplai pria) tidak boleh menyalahi ucapan ijab (kalimat penyerahan dari wali memplai wanita). Artinya, maksud dan tujuannya sama, kecuali bila qabul-nya lebih baik dari ijab yang seharusnya, dan menunjukkan
63
Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj an-Naisabury, Shahih Muslim, Juz I, Semarang: Toha Putra, t. Th, h. 593
64
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, Semarang: Sinar Baru Algensindo, t.th, h. 382
65
Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya al-Faifi, Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, terj. Ahmad Tirmidzi, Futuhal Arifin dan Farhan Kurniawan, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013, cet. 1, h. 413.
66
pernyataan persetujuan lebih tegas.67 Contohnya, jika pihak wali mengatakan: “Aku nikahkan kamu dengan puteriku fulanah dengan mahar seratus ribu rupiah”. Lalu si mempelai pria menjawab: “Aku terima nikahnya dengan mahar dua ratus ribu rupiah”. Maka pernikahan itu tetap sah, karena qabul yang diucapkan lebih baik, dan telah mencukupi dari yang seharusnya.
Ijab dan qabul harus dilakukan dengan lisan dan didengan oleh masing-masing pihak (wali, mempelai maupun saksi). Pernyataan kedua belah pihak harus dengan kalimat yang maksudnya menyatakan terjadinya pelaksanaan akad nikah, meskipun kata-katanya ada yang tidak dapat dipahami. Karena yang menjadi pertimbangan di sini adalah maksud dan niat, bukan mengerti setiap kata yang dinyatakan dalam ijab dan qabul.68
Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud persyaratan dalam akad perkawinan itu adalah syarat-syarat yang dibuat dan diucapkan di dalam rangkaian akad nikah, atau dengan kata lain akad (ijab qabul) yang disertai dengan syarat-syarat. Persyaratan yang dibuat dalam akad nikah ada tiga69
Pertama; Syarat yang bertentangan dengan tujuan akad nikah. Dalam hal ini terdapat dua bentuk yaitu tidak merusak tujuan pokok akad nikah. Misalnya suami berkata dalam sighat qabul-nya: “Aku terima nikahnya dengan syarat tanpa mas kawin”.70 Atau yng merusak tujuan pokok akad nikah misalnya pihak istri membuat syarat agar ia tidak disetubuhi, atau istrinya yang harus memberikan nafkah. Syarat seperti ini hukumnya batal, karena akad nikah itu sendiri telah memberikan hak kepada suami untuk menyetubuhi istrinya.
Kedua ; Syarat yang tidak bertentangan dengan tujuan akad nikah tetapi merugikan
pihak ketiga seperti memplai wanita mensyaratkan kepada calon suami (yang sudah punya
67
Tihami dan Sohari Sahrani, Op.Cit, h. 87-88.
68
Ibid, h. 88.
69
Chuzaimah T. Yanggo, A. Hafiz Anshary, (ed), Problematika Hukum Islam Kontemporer (1), Jakarta: PT. Pusaka Firdaus, 1996, cet. 2, h. 49.
70
istri) supaya menjatuhkan talak kepada istrinya itu. Syarat seperti ini dianggap tidak ada, karena jelas bertentangan dengan larangan agama, dengan nash yang jelas.71 Begitu juga
manfaat syarat-syarat itu kembali kepada wanita seperti calon istri mensyaratkan agar ia tidak dimadu. Mengenai syarat seperti ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan Fuqaha.72
Ada yang berpendapat bahwa syarat seperti itu hukumnya batal tetapi akad nikahnya tetap sah sebab beristri lebih dari satu orang diperbolehkan dalam syariat Islam. Syarat-syarat yang sifatnya melarang sesuatu yang dibolehkan oleh agama hukumnya batal.73 Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa syarat seperti itu hukumnya sah dan wajib dipenuhi bila tidak dipenuhi maka pihak wanita berhak membatalkan akad nikahnya. Firman Allah;
َ َ َ
ٱ
َ ِ
ِ ْا ُ ۡوَأ ْآ ُ َ اَء
ِد ُ ُ ۡ
ُ َ ِ َ ُ َ ۡ ِ ُأ
ٱ
ِ ٰ َ ۡ َ ۡ
ٰ َ ۡ ُ َ ِإ
ِّ ِ ُ َ ۡ َ ۡ ُ ۡ َ َ
ٱ
ِ ۡ
نِإ ٌۗمُ ُ ۡ ُ َأَو
ٱ
َ
ُ ِ ُ َ ُ ُ ۡ َ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqadaqad itu (Q.S.al-Maidah : 1)
Dalam salah satu hadits yang diceriitakan dari Abu al-Walid Hisyam bin Abi al-Malik dari Lais, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abi al-Khoir, dari Uqbah berkata;
ﺗ نا طوﴩﻟا ﻦﻣ ﱲ ﻓو ﺎﻣ ﻖﺣ لﺎﻗ ﲅﺳو ﻪﯿﻠ ﷲ ﲆﺻ ﱮ ﻨﻟا ﻦﻋ
جوﺮﻔﻟا ﻪﺑ ﱲﻠﻠ ﺘﺳا ﺎﻣ ﻪﺑ اﻮﻓﻮ
٧٤
dari Nabi SAW bersabda: Syarat yang paling utama untuk dipenuhi adalah sesuatu yang dengannya
kamu pandang halal hubungan kelamin. (H.R. AlBukhori).
Syarat yang sejalan dengan tujuan akad nikah dan tidak mengandung hal-hal yang menyalahi hukum Allah dan Rasul. Misalnya pihak wanita mensyaratkan harus diberi
71
Ibid, h. 52
72
Djamaan Nur, Fiqh Munakahat, h. 28.
73
Ibid, h. 53.
74
belanja, dipergauli dengan baik, tidak mencemarkan nama keluarganya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini wajib dipenuhi karena sesuai dengan tujuan nikah.75
d. Lafadz Ijab dan Qabul dalam aqad perkawinan
Akad perkawinan dikatan sah apabila di ucapkan dengan perkataan yang menunjukkan dengan perkataaan yang menunjukkan akad pernikahan dengan bahasa yang dipahami oleh kedua belah pihak.76 Oleh karena itu, dalam melaksanakan ijab dan qabul harus menggunakan kata-kata yang dapat dipahami oleh masing-masing pihak yang melangsungkan akad nikah sebagai pernyataan kemauan yang timbul dari kedua belah pihak, dan tidak boleh menggunakan kata-kata yang samar atau tidak dimengerti maksudnya.77
Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ijab dan qabul dalam akad perkawinan boleh dilakukan dengan bahasa, kata-kata atau perbuatan apa saja yang oleh masyarakat umum dianggap sudah menyatakan terjadinya perkawinan.78 Para Fuqaha sependapat bahwa qabul boleh menggunakan kata-kata dalam bahasa apapun tidak terikat satu bahasa atau dengan kata-kata khusus, asalkan dapat dimengerti dan menunjukkanrasa ridha dan setuju.79 Meski demikian, ada yang berpendapat bahwa ijab-qabul sebaiknya atau lebih afdhal bila diucapkan dalam bahasa Arab bagi yang dapat dan mengerti bahasa Arab.
Dalam ijab harus dengan kata-kata nikah dan atau tazwij80 atau bentuk lain dari dua kata tersebut,81 seperti ankahtuka, zawwatuka yang keduanya secara jelas menunjukkan pengertian nikah. Perbedaan pendapat terjadi pada kata-kata dalam ijab yang digunakan dalam akad nikah. Selain kedua kata di atas (nikah dan tazwij), seperti saya serahkan, saya milikkan atau saya sedekahkan dan sebagainya. Golongan Hanafi, ats-Tsauri, Abu Ubaid, dan Abu Dawud membolehkan penggunaan kata-kata sebagaimana dicontohkan di atas, asal
75
Chuzaimah dkk, Problematika, Op-Cit, h. 55
76 Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya al-Faifi, Loc-Cit.
77
Slamet Abidin dan Aminudin, Fikih Munakahat, Bandung: Pustaka Setia, 1999, h. 73
78
Tihami dan Sohari Sahrani, Op-Cit, h. 80.
79
Djamaan Nur, Op-Cit, h. 23
80
Ibid., h. 170
81
diniatkan untuk akad nikah,82 sebab hal yang penting dalam ijab adalah niat dan tidak disyaratkan menggunakan kata-kata khusus, maka semua lafal yang dianggap sesuai dengan maknanya, dan secara hukum dapat dimengerti, maka hukumnya sah.83 Mereka mendasarkan pendapatnya kepada ayat al-Qur’an (Q.S.al-Ahzab [33] : 50) yang berbunyi;
َ َ َ
ٱ
ِ
َ َ ٰ َ ۡزَأ َ َ َ ۡ َ ۡ َأ ٓ ِإ
ٱ
ٓ ِ ٰ
َ ُ ِ َ ۡ َ َ َ َ َو ُ َر ُ ُأ َ ۡ َ اَء
َءٓ َ َأ ٓ ِ
ٱ
ُ
َ ِ ٰ َ ٰ َ ِت َ َ َو َ ِ َ ِت َ َ َو َ ِ ٰ َ ِت َ َ َو َ ِّ َ ِت َ َ َو َ ۡ َ َ
ٱ
ِ ٰ
َنۡ َ َ
َ َ َ
َو
ٱ
ٗةَأَ ۡ
َداَرَأ ۡنِإ ِّ ِ ِ َ َ ۡ َ ۡ َ َ َو نِإ ً َ ِ ۡ
ٱ
ِ
َ ٗ َ ِ َ َ َ ِ َ ۡ َ نَأ
ِنوُد ِ
ٱ
َۗ ِ ِ ۡ ُ ۡ
َ ۡ َ ِ ۡ ُ ُ ٰ َ ۡ َ ۡ َ َ َ َ َو ۡ ِ ِ ٰ َ ۡزَأ ٓ ِ ۡ ِ ۡ َ َ َ ۡ َ َ َ َ ۡ ِ َ ۡ َ
َ َ َن ُ َ
َ ۡ
َن َ َو ۗٞجَ َ
ٱ
ُ
ٗ ِ ر ٗر ُ َ
Hai Nabi, Sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang Termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Hadits Nabi SAW dari Sahal bin Sa’d r.a., mengatakan :
َﻓ , ِﴘْﻔَﻧ َ َ ُﺐَﻫ ُﺖْ ِﺟ ! ِ َا َلﻮ ُﺳَر َ : ْﺖَﻟﺎَﻘَﻓ ﲅﺳو ﻪﯿﻠ ﷲ ﲆﺻ ِ َا ِلﻮ ُﺳَر َﱃا ٌة َﺮْﻣا ِتَءﺎَ
ﺎَ ْﳱَ ا َﺮ َﻈَ
ﺻ ِ َا ُلﻮ ُﺳَر َﻃ َﻃ ُﰒ , ُﻪَﺑﻮ َﺻَو , ﺎَﳱِﻓ َﺮ َﻈﻨﻟَا َﺪﻌ َﺼَﻓ ﲅﺳو ﻪﯿﻠ ﷲ ﲆﺻ ِ َا ُلﻮ ُﺳَر
ُﻪ َﺳ َر ﲅﺳو ﻪﯿﻠ ﷲ ﲆ
َر َ : َلﺎَﻘَﻓ .ِﻪِﺑﺎَ ْﲱ ْﻦِﻣ ٌﻞُ َر َمﺎَﻘَﻓ , ْﺖ َﺴَﻠَ ﺎً ْ َﺷ ﺎَﳱِﻓ ِﺾْﻘَﯾ ْﻢَﻟ ُﻪﻧ ُة ْﺮَﻤْﻟَا ْت َر ﺎﻤَﻠَﻓ ,
ْﻦُﻜَ ْﻢَﻟ ْنا ! ِ َا َلﻮ ُﺳ
ٍء ْ َﳾ ْﻦِﻣ َكﺪْﻨِﻋ ْﻞَﻬَﻓ : َلﺎَﻗ .ﺎَﳱِ ْﺟِّو َﺰَﻓ ٌﺔَ ﺎَ ﺎَ ِﲠ َ َ
َﱃا ْﺐَﻫْذِا : َلﺎَﻘَﻓ .ِ َا َلﻮ ُﺳَر َ ِ َاَو , َﻻ : َلﺎَﻘَﻓ ?
َﻊ َﺟَر ُﰒ , َﺐَﻫ َﺬَﻓ ? ﺎً ْ َﺷ ُﺪِ َﲡ ْﻞَﻫ ْﺮ ُﻈْﻧﺎَﻓ , َ ِ ْﻫ
َلﺎَﻘَﻓ .ﺎً ْ َﺷ ُت ْﺪَ َو ﺎَﻣ ،ِ َا َلﻮ ُﺳَر َ ِ َاَو , َﻻ : َلﺎَﻘَﻓ
ﻪﯿﻠ ﷲ ﲆﺻ ِ َا ُلﻮ ُﺳَر
ِ َا َلﻮ ُﺳَر َ , ِ َاَو َﻻ : َلﺎَﻘَﻓ .َﻊَﺟَر ُﰒ ، َﺐَﻫ َﺬَﻓ ، ٍﺪﯾِﺪَ ْﻦِﻣ ﺎًﻤَﺗﺎَ ْﻮَﻟَو ْﺮ ُﻈْﻧا ﲅﺳو
82Djamaan Nur Op.Cit., h. 23.
83
يِراَزا ا َﺬَﻫ ْﻦِﻜَﻟَو , ٍﺪﯾِﺪَ ْﻦِﻣ ﺎًﻤَﺗﺎَ َﻻ َو ,
ٌءاَدِر ُ ُ ﺎَﻣ : ٌﻞْﻬ َﺳ َلﺎَﻗ
-
ﷲ ﲆﺻ ِ َا ُلﻮ ُﺳَر َلﺎَﻘَﻓ . ُﻪُﻔ ْﺼِﻧ ﺎَﻬَﻠَﻓ
ْﯿَﻠَ ْﻦُﻜَ ْﻢَﻟ ُﻪْﺘ َﺴِ َﻟ ْناَو ،ٌء ْ َﳾ ُﻪْ ِﻣ ﺎَ ْﳱَﻠَ ْﻦُﻜَ ْﻢَﻟ ُﻪَﺘ ْﺴِ َﻟ ْنا ? َكِراَز ِ ُﻊَﻨ ْﺼَﺗ ﺎَﻣ ﲅﺳو ﻪﯿﻠ
َﺲَﻠَ َﻓ ٌء ْ َﳾ َﻚ
, ﺎًﯿِّﻟَﻮُﻣ ﲅﺳو ﻪﯿﻠ ﷲ ﲆﺻ ِ َا ُلﻮ ُﺳَر ُﻩٓ َﺮَﻓ ; َمﺎَﻗ ُﻪ ُﺴِﻠْ َﻣ َلﺎ َﻃ اَذا ﱴَﺣَو , ُﻞُ ﺮﻟَا
ﺎﻤَﻠَﻓ , ُ َ َﻲِﻋ ُﺪَﻓ , ِﻪِﺑ َﺮَﻣ َﻓ
ﻦُﻫ ُؤ َﺮْﻘَﺗ : َلﺎَﻘَﻓ ﺎَﻫَدﺪَ ,ا َﺬَﻛ ُة َرﻮ ُﺳَو , ا َﺬَﻛ ُة َرﻮ ُﺳ ﻲِﻌَﻣ : َلﺎَﻗ ? ِنٓ ْﺮُﻘْﻟا َﻦِﻣ َﻚَﻌَﻣ اَذﺎَﻣ : َلﺎَﻗ .َءﺎَ
ِﺮْﻬ َﻇ ْﻦَﻋ
َﻣ ﺎَﻤِﺑ ﺎَﻬَﻜُ ْﻜﻠَﻣ َﺪَﻘَﻓ , ْﺐَﻫْذِا : َلﺎَﻗ, ْﻢَﻌَﻧ : َلﺎَﻗ ? َﻚِﺒْﻠَﻗ
ِنٓ ْﺮُﻘْﻟا َﻦِﻣ َﻚَﻌ
٨٤Artinya : Ada seorang wanita menemui Rasulullah SAW dan berkata: Wahai Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku pada baginda. Lalu Rasulullah SAW memandangnya, kemudian menaikkan pandangannya dan memperhatikannya, kemudian beliau menunduk kepalanya. Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk. Berdirilah seorang shahabat dan berkata: "Wahai Rasulullah, jika baginda tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya. Beliau bersabda: "Apakah engkau mempunyai sesuatu?" Dia menjawab: Demi Allah tidak, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: "Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu." Ia pergi, kemudian kembali dam berkata: Demi Allah, tidak, aku tidak mempunyai sesuatu. Rasulullah SAW bersabda: "Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi." Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata: Demi Allah tidak ada, wahai Rasulullah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi, tetapi ini kainku -Sahal berkata: Ia mempunyai selendang -yang setengah untuknya (perempuan itu). Rasulullah SAW bersabda: "Apa yang engkau akan lakukan dengan kainmu? Jika engkau memakainya, Ia tidak kebagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya, engkau tidak kebagian apa-apa." Lalu orang itu duduk. Setelah duduk lama, ia berdiri. Ketika Rasulullah SAW melihatnya berpaling, beliau memerintah untuk memanggilnya. Setelah ia datang, beliau bertanya: "Apakah engkau mempunyai hafalan Qur'an?" Ia menjawab: Aku hafal surat ini dan itu. Beliau bertanya: "Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?" Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: "Pergilah, aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur'an yang engkau miliki." (H.S. R. Bukhari)
Imam Syafi’i, Said Musayyab, dan Atha’ berpendapat bahwa ijab tidak sah, kecuali dengan menggunakan kata-kata nikah atau tazwij atau bentuk lain dari kedua kata tersebut. Karena kata-kata yang lain, seperti milikkan atau memberikan, tidak jelas menunjukkan pengertian nikah. Menurut pendapat ini, mengucapkan pernyataan menrupakan salah satu syarat pernikahan. Jadi, jika menggunakan lafal memberi (misalnya), maka nikahnya tidak sah.85
84
Abi Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Semarang: Maktabah wa matba’ah Usaha Keluarga, t. Th, h. 229
85
Ulama Empat Madzhab sepakat bahwa pernikahan baru dianggap sah jika dilakukan dengan akad, yang mencakup ijab dan qabul antara wali dari pihak wanita yang dilamar dengan lelaki yang melamarnya, atau antara pihak yang menggantikannya, dan dianggap tidak sah bila hanya berlandaskan suka sama suka tanpa adanya akad.
Para Ulama Madzhab juga sepakat bahwa nikah itu sah bila dilakukan dengan menggunakan redaksi Zawwajtu artinya aku mengawinkan atau Angkahtu artinya aku menikahkan dari pihak mempelai wanita atau orang yang mewakilinya dan redaksi qabiltu (aku terima) atau radhitu (aku setuju) dari pihak mempelai pria atau orang yang mewakilinya.86
Perbedaan pendapat mereka, terjadi dalam hal sah tidaknya akad nikah yang tidak menggunakan redaksi Fi‟il Madhi (yang bermakna telah dilakukan), atau menggunakan lafal yang bukan bentukan dari akar kata Nakaha, atau Zawwaja, seperti Hibah (pemberian) atau Bai’’u ( penjualan) dan sebagainya.
Madzhab Hanafi berpendapat, akad nikah boleh dilakukan dengan segala redaksi yang menunjukkan maksud menikah, meski dengan lafal atTamlik (kepemilikan), al-Hibah (penyerahan), al-Bay‟ (penjualan), al-A‟tha‟ (pemberian), al-Ibahah (pembolehan) dan Al-Ihlal (penghalalan), sepanjang akad tersebut disertai dengan qarinah (kaitan) yang menunjukkan arti nikah. Akan tetapi akad tidak sah jika dilakukan dengan lafal Al-Ijarah (sewa) atau al-„Ariyah (pinjaman), sebab kedua kata tersebut tidak memberi arti kelestarian atau kontinuitas.
Maliki dan Hambali berpendapat: Akad nikah dianggap sah jika menggunakan lafal an-Nikah dan Az-Zawaj serta lafal-lafal bentukannya. Juga dianggap sah dengan lafal-lafal al-Hibah, dengan syarat harus disertai penyebutan mahar atau mas kawin, selain kata-kata
86
tersebut di atas tidak dianggap sah. Sedang Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa redaksi akad harus merupakan kata bentukan dari lafal at-Tazwij dan an-Nikah saja, selain itu tidak sah.
Berdasarkan hukum asalnya, ijab itu datangnya dari pihak pengantin wanita dan qabul dari pengantin laki-laki. Wali mengatakan, “saya nikahkananak perempuanku kepadamu,” lalu pengantin laki-laki menjawab, “saya terima nikah dengan anak perempuanmu”. Ketika qabul didahulukan, dimana pengantin laki-laki mengatakan kepada wali, “nikahkan saya dengan dia”, lalu wali berkata, “saya nikahkan kamu dengannya”, maka timbullah pertanyaan: apakah akad tersebut sah atau tidak? Imamiyah dan tiga Madzhab lainnya mengatakan sah, sedangkan Hambali mengatakan tidak sah.87
9. Perceraian menurut fiqih