ANALISIS TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA
B. TUJUAN PERKAWINAN
3. Tujuan perkawinan dalam perspektif tasawuf
Memperhatikan tujuan perkawinan dalam perspektif al-Quran dapat kita baca pada Al-Rum ayat: 21
ۡ ِ َو
ِِ ٰ َ اَء
ٓۦ
ُ َ ۡ َ َ َ َ َو َ ۡ َ ِإ ْآ ُ ُ ۡ َ ِّ ٗ ٰ َ ۡزَأ ۡ ُ ِ ُ َأ ۡ ِّ ُ َ َ َ َ ۡنَأ
َنوُ َ َ َ ٖ ۡ َ ِّ ٖ ٰ َ َ ِ ٰ َ ِ نِإ ًۚ َ ۡ َرَو ٗةدَ
Artinya; “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan diantaramu kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir”.
Secara jelas ayat di atas menunjukkan bahwa perkawinan dalam Islam termasuk dalam pandangan ulama tasawuf tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan biologis-fisik yang terekam dalam kata Al-Mawaddah, namun juga ketentraman hati dan jiwa yang diwujudkan dalam kata Litaskunu ilaiha, serta kasih sayang abadi yang diwujudkan dalam
kata wa rahmah. Dengan demikian, dalam Al-Qur’an, perkawinan dikonsepsikan sebagai sebuah hubungan kuat (mitsaqan ghalidzan) yang bertujuan untuk membentuk kondisi yang tenang, baik secara biologis-fisik, maupun secara psykis. Selain itu, ayat di atas juga memastikan bahwa perkawinan yang menjadi fitrah manusia adalah perkawinan lain jenis, artinya laki-laki dan perempuan. Tidak dibenarkan perkawinan sejenis misalnya laki dengan laki atau perempuan dengan perempuan.
Melihat bunyi ayat di atas, sebenarnya dapat dipahami bahwa Al-Qur’an tidak menjadikan perkawinan sebagai media pembolehan hubungan biologis semata, namun lebih dari itu, Al-Qur’an menghadirkan perkawinan sebagai sebuah institusi utama yang menentukan masa depan peradaban masyarakat. Dengan demikian, perkawinan yang baik adalah perkawinan yang mampu mencapai dan memenuhi tiga tujuan yang termaktub dalam ayat di atas yaitu “supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan
diantaramu kasih sayang”.
Dalam perspektif tasawuf “Pengertian hakikat dibalik hukum syariat dalam hal tujuan perkawinan itu adalah untuk menentukan berjalannya ketetapan Allah sebagaimana tercatat di Lauhil Mahfuz”206 Persetujuan hati, kerelaan batin dan kesanggupan fisik untuk hidup bersama pasangannya sesungguhnya bukan perkara yang baru dirancang oleh makhluk, tetapi telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak dari azali. Perkawinan yang berlangsung didunia ini hanyalah untuk menjalani ketetapan Allah di Lauhil Mahfus duhulu kala itu. Dengan demikian menurut pandangan tasawuf ikatan suami isteri itu bukan karena surat nikah tetapi karena ketetapan Qodho dan Qodar Allah. Jadi perkawinan secara syarak tersebut adalah menjalankan amanah yang telah ditetapkan Allah sejak azali.
Seandainya hati telah disemat dengan pengertian dan unsur-unsur tersebut pastilah tidak akan terjadi pengkhianatan terhadap janji suci yang telah mereka ikrarkan melalui akad
206
Mohammad Yusuf Che Wook, Mengenal Diri, Kalam Rohani Resources, Kuala Lumpur Malaysia, cet. I th. 2015, h. 266
perkawinan meskipun nyawa jadi taruhannya, karena yang dipertahankan itu sesungguhnya bukan hanya sekedar akad perkawinan yang telah mereka ikrarkan itu tetapi ketetapan Allah yang telah ditetapkan-Nya semasa masih di alam azali tempo doeloe. Yang dipatuhi sesungguhnya bukan sekedar hukum yang mengatur perkawinan tersebut tetapi Allah SWT yang telah menetapkan aturan itu yang lebih utama mereka taati. Inilah bedanya ikatan dunia syariat dengan ikatan ketetapan Allah menurut pandangan tasawuf.
Nampaknya perkawinan yang hanya diikat dengan peraturan dan perundang-undangan saja tidaklah cukup kuat untuk mepertahankan sebuah perkawinan meskipun telah dibuktikan dengan surat nikah yang tertera diatas kertas. Tidak sedikit isteri yang masih punya suami rela menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki lain, begitu juga betapa banyak suami yang secara diam-diam menggauli wanita lain secara tidak sah meskipun dia masih mempunyai isteri yang sah. Ini artinya perkawinan yang hanya dikikat dengan peraturan perundang-undangan saja tidak cukup kuat untuk menjadikan rumah tangga itu kekal.
Tulisan yang tersurat dalam buku nikah, ikrar yang diucapkan didepan penghulu belum tentu dapat mengeratkan hubungan suami isteri seandainya perkawinan itu tidak diikat dengan tali ketetapan Allah yang bernama qodho dan qadar. Alangkah sempurnanya kehidupan suami isteri apabila hati mereka masing-masing dijalin dengan tali ketetapan qodho dan qodar Allah tersebut. Hanya dengan itulah satu-satunya jalan agar masing-masing pasangan dapat menerima dengan ikhlas baik dan buruknya pasangan mereka, senang dan susahnya perjalanan bahtera rumah tangga yang sedang berlayar dilautan dunia ini.
Selain perkawinan itu harus diikat dengan tali ketetapan Allah berupa qodho dan qadar, perkawinan itu juga haruslah dipandang sebagai sebuah amanah Allah kepada masing-masing pihak. Sesuai dengan hadis Nabi SAW yang beliau sampaikan pada saat haji wadak, beliau berkata;
ﷲ ﺔﻤﳫ ﻦ وﺮﻓ ﱲﻠﻠ ﺘﺳاو ،ﷲ نﺎﻣ ﺑ ﻦﻫﻮﲤﺬ ﲂ ﺎﻓ ، اﲑ ءﺎﺴ ﻟ اﻮﺻﻮﺘﺳاو
٢٠٧
Aku wasiatkan kalian agar berbuat baik kepada perempuan, kalian telah mengambilnya dengan amanah Allah, dan kalian halalkan faraj mereka dengan kalimah Allah.
Pasal 1 undang-undang perkawinan No.1 tahun 1974 menyatakan bahwa tujuan perkawinan itu “membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” Kalimat yang dibentuk sebagai tujuan perkawinan menurut undang-undang tersebut terdiri dari 4 (empat) unsur; rumah tangga, bahagia, kekal, dan berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.
Kata rumah tangga adalah sebuah keluarga yang terdiri dari beberapa orang anggota keluarga, minimal suami dan istri yang mempunyia vissi dan missi yang sama dalam ikatan perkawinan. Ketika mereka telah mengikatkan diri dengan ikrar perkawinan melalui ijab dan qabul, berarti mereka telah mejalankan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Pengakuan hati bahwa pertemuan dua insan yang berlain jenis yang tadinya tidak saling mengenal sebagai sebuah ketetapan Allah merupakan modal dasar dalam menempuh perjalanan mengrungi bahtera rumah tangga untuk mencapai tujuan dari sebuah perkawinan.
Setelah pengakuan tersebut terpahami dan terpatri dalam hati masing-masing secara individu dan dirajut dengan nilai-nilai agama berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa untuk disatukan dalam mencapai tujuan bersama, maka akan muncullah perasaan senang, tenteram dan bahagia. Hanya dengan mengimplementasikan nilai-nikai ketuhanan itulah ketenteraman dan kebahagiaan itu dapat dicapai. (Q. S. Al-Ra’d : 13 ; ayat 28)