ANALISIS TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA
A. MAKNA PERKAWINAN
2. Makna Perkawinan dalam perspektif UU No.1 tahun 1974
Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memiliki definisi tersendiri tentang perkawinan yang berbeda dengan definisi yang dikemukakan dalam literatur fikih klasik. Bahkan bisa dikatakan bahwa definisi dalam UU. No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan melampaui definisi yang dikemukakan dalam fikih klasik. Makna perkawinan dalam UU. No 1 Tahun 1974 kita temukan dalam Pasal 1 “Perkawinan ialah ikatan lahir
bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa”. 149
Dari ketentuan pasal (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 di atas dapat dipahami bahwa setidaknya ada lima unsur penting yang menjadi prinsip utama makna perkawinan di Indonesia. Kelima unsur tersebut adalah: (1) ikatan lahir batin; (2) antara seorang pria dan seorang wanita; (3) sebagai suami isteri; (4) membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal; dan (5) berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk itu dapat dieksplorasi secara singkat lima unsur tersebut.
Pertama; Perkawinan sebagai ikatan lahir batin Unsur pertama dari rumusan
Undang-Undang mengisyaratkan bahwa perkawinan bukan hanya ikatan lahir saja, namun juga mencakup ikatan batin. Kedua ikatan tersebut, baik lahir maupun batin, menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Penyatuan antara ikatan lahir dan batin akan menghasilkan ikatan kuat yang dalam bahasa Al-Qur’an dikenal dengan mitsaqan ghalidza.
149
Ikatan lahir merupakan ikatan yang dapat dilihat dan mengungkapkan adanya hubungan hukum antara seorang pria dan seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami-isteri, dengan kata lain, hal itu disebut dengan hubungan formal. Hubungan formal ini nyata, baik bagi perihal mengikatkan diri masing-masing pasangan, maupun bagi pihak ketiga terutama anggota keluarga asal kedua belah pihak. Sedangkan ikatan bathin merupakan hubungan yang tidak formal, suatu ikatan yang tidak nampak, tidak nyata yang hanya dirasakan oleh yang bersangkutan, ikatan bathin ini merupakan dasar atau pondasi ikatan lahir dalam membentuk dan membina keluarga yang bahagia, tanpa ikatan bathin akan mustahil ikatan lahir dapat terjalin dengan baik.
Kedua; Antara seorang pria dan seorang wanita; Unsur kedua dari definisi yang
dikemukakan Undang-Undang sejalan dengan prinsip perkawinan yang digariskan Al-Qur’an bahwa fitrah manusia adalah melakukan hubungan perkawinan dengan lain jenis. Artinya, perkawinan hanya bisa terjadi antara seorang pria dan seorang wanita, dan bukan antara seorang wanita dengan seorang wanita ataupun seorang pria dengan seorang pria. Dengan demikian, di Indonesia, pernikahan sejenis, homoseksual dan lesbi, tidak mendapat tempat sama sekali.
Ketiga; Sebagai suami istri; Dari unsur ketiga ini dapat dipahami bahwa ikatan lahir
batin yang dilakukan seorang pria dan wanita harus mempunyai tujuan yaitu sebagai suami isteri. Ini berarti bahwa jika ada seorang pria dan seorang wanita mempunyai ikatan lahir batin tapi tidak mempunyai tujuan menjadi suami isteri, hal tersebut tidak bisa dikatakan sebagai sebuah ikatan perkawinan. Dengan demikian, kumpul kebo, tidak mendapat tempat dalam Undang-Undang kita. Status sebagai suami isteri tidak cukup hanya diucapkan di mulut saja, namun juga harus dibuktikan dengan adanya akta resmi.150
150
Dengan berstatus sebagai suami istri, berarti masing-masing pasangan punya hak dan kewajiban, ada hak dan kewajiban suami terhadap istrinya, dan ada hak dan kewajiban istri terhadap suaminya. Untuk itu masing-masing suami istri harus ikhlas memberi dan menerima apa yang menjadi hak dan kewajibannya masing-masing. Suami ikhlas memberikan apa yang menjadi hak istrinya, begitu juga sebaliknya, istri ikhlas menjalankan apa yang menjadi kewajiabannya dan suamipun ikhalas memberikan apa yang menjadi hak istrinya.
Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa ketika suami meminta berhubungan badan dengan istrinya sedangkan istrinya lagi sedang tidak mood lalu suami memaksa istrinya untuk melakukan hubungan badan tersebut, hal ini tidak dapat dikatakan bahwa suami memperkosa istrinya, karena suami meminta hak dari istrinya itu. Hal ini perlu dipahami agar situasi seperti ini tidak dikatakan suami sedang memperkosa istrinya sebagaimana rancangan undang-undang tentang penghapusan kekerasan seksual pasal 16 yang berbunyi; “Perkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf e adalah Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan, ancaman kekerasan, atau tipu muslihat, atau
menggunakan kondisi seseorang yang tidak mampu memberikan persetujuan untuk melakukan hubungan seksual”.151
Ke-empat: Membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal; Unsur
keempat ini mengisyaratkan bahwa setelah seorang pria dan wanita mempunyai ikatan lahir dan batin dan sudah sah berstatus sebagai suami istri, mak kemudian pasangan tersbut harus mempunyai tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. Jika dikorelasikan dengan prinsip dan tujuan perkawinan dalam Al-Qur’an, kita akan mendapatkan kesamaan substansi bahwa perkawinan bukan hanya menyangkut kebahagiaan fisik-biologis, namun juga menyentuh kebahagiaan psikis-spiritual. Keluarga bahagia dan
151
kekal bukan hanya dilihat dari aspek hubungan lahir semata (baca:hubungan biologis), namun juga mencakup hubungan batin antar anggota keluarga.
Kata kekal dalam unsure pengertian perkawinan sebagaimana tersebut pada pasal 1 UU perkawinan No. 1 tahun 1974 bermakna bahwa perkawinan itu harus bersifat kekal dan hanya bisa dipisahkan oleh kematian. Dengan demikian, sebisa mungkin jika ada masalah menerpa kehidupan rumah tangga, penyelesaiannya harus dengan baik-baik dan sebisa mungkin menghindari perceraian. Perkawinan idealnya hanya bisa berakhir dengan kematian, dan bukan perceraian. Ini artinya perkawinan itu tanpa batas waktu tertentu.
Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini adalah adanya rencana perceraian yang mereka sepakati sebelum melangsungkan pernikahan. Tak heran kalau Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin pun mengaku prihatin dengan tingginya angka perceraian yang terjadi di Indonesia saat ini. Menurut mentri Agama, terjadi pergeseran luar biasa terkait substansi dan kesakralan perkawinan yang dianut semua agama. Menteri Agama Lukman Hakim menduga, sebagian generasi saat ini menganggap perceraian itu, bukan semata karena ketidakcocokan antara suami istri, tetapi karena sesuatu yang bisa direncanakan.152
Kelima; Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa; Unsur ini mengisyaratkan bahwa
perkawinan yang dilangsungkan oleh seorang pria dan seorang wanita harus berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, sebagaimana ketentuan yang ada dalam Pasal 2 ayat (1) UU. No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa perkawinan dianggap sah apabila dijalankan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.
Dengan demikian, di Indonesia, agama menjadi satu prinsip dasar dalam melangsungkan ikatan perkawinan. Dari unsur ini juga dapat dipahami bahwa kesamaan agama juga menjadi prinsip utama dalam perkawinan di Indonesia. Oleh sebab itu, nikah beda agama tidak mendapat tempat dalam Perundang-undangan Indonesia. Karena itu
152
Lukman Hakim Saifuddin di Milad 1 Abad WSI di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Jumat (7/12). https://kumparan.com/@kumparannews/menteri-agama-angka-perceraian-di-indonesia-meningkat-1544179658506355359
bagaimanapun, kesamaan agama merupakan hal fundamental yang mesti dipenuhi oleh seorang pria dan wanita sebelum mereka melangsungkan perkawinan.
Makna perkawinan yang terekam dalam Pasal 1 angka satu UU. No.1 Tahun 1974 sebagaimana tersebut diatas, bila dilihat dari teori Maqasid al-Syari’ah dapat dikatakan bahwa definisi perkawinan yang ada Undang-Undang melampaui definisi perkawinan yang dijelaskan dalam pelbagai literatur fikih. Jika dalam literature fikih hanya menjadikan perkawinan sebagai media membolehkan hubungan biologis an sich, maka Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadikan perkawinan sebagai sebuah ikatan lahir batin yang bertujuan untuk mewujudkan keluarga yang bahagia dan kekal.
Perkawinan dalam Undang-Undang yang dikonsepsikan sebagai ikatan lahir batin sejalan dengan prinsip dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan yang kokoh (mitsaqan ghalidzan). Perkawinan yang dilaksanakan secara sah dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dapat dikatakan sudah sesuai dengan prinsip Maqasid
al-Syari’ah, yakni mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kemudharatan. Jika ditinjau
dari lima prinsip dasar Dharuriyah al-Khams) atau maslahah yang bersifat primer
(al-Maslahah al-Mu’tabarah), makna perkawinan dalam UU. No. 1 Tahun 1974 adalah;
Pertama; untuk mewujudkan prinsip menjaga keturunan (hifdzu al-Nasl),
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa perkawinan hanya bisa terjadi apabila dilangsungkan oleh seorang pria dan seorang wanita. Menjaga keturunan bisa juga diartikan dengan terus menjaga regenerasi kehidupan manusia di muka bumi yang hanya bisa dilakukan dengan adanya proses kelahiran. Lahirnya seseorang ke muka bumi hanya akan terjadi dengan adanya hubungan-baik langsung maupun tidak- antara pria dan wanita. Untuk itu kemudian, Undang-Undang menggariskan bahwa perkawinan hanya bisa terjadi antara seorang pria dan seorang wanita.
Untuk menjamin legalitas hubungan yang dilakukan antara seorang pria dan seorang wanita, Undang-Undang No. 1 Th 1974 memberi unsur berikutnya, yakni dengan berstatus sebagai suami isteri. Untuk berstatus sebagai suami isteri, seorang pria dan seorang wanita harus melalui tahapan-tahapan sebagaimana dirumuskan oleh peraturan yang ada. Dalam konteks ini kita bisa memahami bahwa dalam Islam, prinsip menjaga keturunan (hifdzu
al-Nasl) tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, perlu ada aturan-aturan agar prinsip tersebut
mengandung nilai kemaslahatan. Dalam Islam pun, keturunan yang sah adalah hasil dari hubungan yang sah. Untuk itu kemudian, demi mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kemudharatan, UU. No. 1/1974 mensyaratkan bahwa bukti seorang pria dan wanita bisa dianggap mempunyai status suami isteri apabila mempunyai bukti berupa akta nikah.153
Akta nikah punya banyak kemaslahatan, antara lain untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa pasangan tersebut benar-benar telah melangsungkan akad perkawinan, untuk memenuhi sebahagian syarat-syarat dalam pengurusan surat menyurat pada lembaga pemerintahan, seperti pembuatan akta kelahiran anak, pengurusan pajak, sengketa keluarga di pengadilan, dan lain sebagainya.
Kedua; Selain itu, ada unsur lain yang juga sangat penting, yakni unsur berdasarkan
ketuhanan Yang Maha Esa. Pada unsur inilah urgensi menjaga agama (hifdzu al-Din) berada. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, kesamaan agama menjadi prisip utama dalam Undang-Undang perkawinan di Indonesia. Prinsip menjaga agama diakomudir oleh Undang-Undang-Undang-Undang dengan ketentuan bahwa di Indonesia perkawinan dianggap sah apabila dilangsungkan menurut agama pasangan. Kesamaan agama menjadi prinsip utama karena agama adalah
153
Memang dalam Al-Qur’an dan pelbagai literature fikih klasik tidak pernah disebutkan bahwa mencatatkan perkawinan merupakan suatu unsur yang sangat urgen. Ini dimengeri karena memang konteks saat itu tidak menuntut diwajibkan pencatatan perkawinan. Untuk konteks saat ini, di mana pencatatan perkawinan begitu penting keberadaannya, menyatakan bahwa perkawinan harus dicatatkan adalah sebuah keniscayaan, dan UU. No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan telah mengakomudir hal tersebut. Kalau dilihat dari perspektif hukum Islam, sebenarnya ada banyak metodologi yang bisa ditempuh untuk mengatakan bahwa pencatatan perkawinan sangat penting dan wajib dilakukan. Bisa saja kita menggunakan metode maslahah mursalah, qiyas aulawi, maupun legal maxim: ﺐﺟاو ﻮﮭﻓ ﮫﺑ ﻻا ﺐﺟاﻮﻟا ﻢﺘﯾ ﻻ ﺎﻣ.
pedoman dalam menjalani kehidupan rumah tangga nantinya (way of life). Tanpa agama maka hidup tidak akan terarah, tidak obahnya sepert mobil tanpa stir. Oleh sebab itu unsur “berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa” dalam pengertian perkawinan menurut undang-undang perkawinan di Indonesia sudah sangat tepat, karena telah menyentuh norma paling asasi bagi kehidupan manuusia.
Memang tidak ada jaminan bahwa orang melangsungkan perkawinan beda agama tidak akan bahagia, dan begitupun sebaliknya. Namun perkawinan bukan hanya masalah kebahagiaan semata, namun juga menyangkut prinsip mendasar dalam diri manusia: agama. Dan, memang harus diakui bahwa dilihat dari sisi wacana, perkawinan beda agama mungkin saja bisa diterima. Namun demikian, dilihat secara yuridis-formal, nikah beda agama tidak dimungkinkan terjadi.
Makna perkawinan yang dirumuskan dalam Pasal 1 angka satu UU. No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan secara prinsipil bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kemudharatan dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, makna perkawinan yang terkandung dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, jika dilihat dari tujuan utama syari’at Islam (Maqasid al-Syari’ah) adalah sebagai sebuah jaminan untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kemudhratan. Karena, sebagaimana Izzuddin Ibn Abdissalam katakan, semua ketentuan yang ada harus bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi manusia, baik di dunia maupun akhirat.
Dari beberapa uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Makna perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jika dilihat dari kerangka Maqasid al-Syari’ah bertujuan untuk menjamin kemaslahatan dan menghilangkan kemudharatan dalam kehidupan masyarakat. Dan, secara umum, dapat dikatakan bahwa makna perkawinan yang ditegaskan dalam UU. No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sudah
sejalan dengan prinsip Maqasid al-Syari’ah, yakni mewujudkan kemaslahatan bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa definisi yang dikemukakan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan melampaui definisi yang dirumuskan dalam pelbagai literatur fikih klasik. Bahkan, spirit definisi yang dirumuskan oleh Undang-Undang sejalan dengan prinsip perkawinan yang dirumuskan dalam Al-Qur’an karenanya sejalan pula dengan maqasid al-syariah.
3. Makna perkawinan dalam perspektif tasawuf