• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. DEFINISI ISTILAH

2. Macam-macam Akhlak

Mengenai macam-macam akhlak sesuai dengan syari’ah Islam tentang adanya perbedaan manusia dalam segala seginya, Moh.Ibnu Qoyyim mendefinisikan ada dua jenis akhlak, yaitu akhlak ‘dharury’ dan akhlak ‘muhtasaby’

Akhlak dharury adalah akhlak yang asli, dalam arti akhlak tersebut

sudah secara otomatis merupakan pemberian dari Tuhan secara langsung, tanpa memerlukan latihan, kebiasaan dan pendidikan. Akhlak ini hanya dimiliki oleh manusia-manusia pilihan Allah. Keadaannya terpelihara dari perbuatan-perbuatan maksiat dan selalu terjaga dari larangan Allah yaitu para Nabi dan Rasul-Nya. Dan tertutup kemungkinana bagi orang mukmin yang saleh. Mereka yang sejak lahir sudah berakhlak mulia dan berbudi luhur.

Sedangkan akhlak muhatasaby adalah merupakan akhlak atau budi pekerti yang harus diusahakan dengan jalan melatih, mendidik dan membiasakan kebiasaan yang baik serta cara berfikir yang tepat. Tanpa dilatih, dididik dan dibiasakan, akhlak ini tidak akan terwujud. Akhlak ini

yang dimiliki oleh sebagian besar manusia.31

Menjadi seorang hamba yang mempunyai tujuan sebagaimana akhlak muhtasaby tersebut harus berupaya melatih diri untuk membiasakan berakhlak baik. Karena usaha mendidik dan membiasakan kebajikan sangat dianjurkan, bahkan diperintahkan oleh agama, meskipun

31

sebelumnya kurang rasa ketertarikan namun jika terus menerus dibiasakan

maka kebiasaan ini akan mempengaruhi sikap batinnya juga.32

Dengan demikian seharusnya kebiasaan berpeilaku baik agar dibiasakan sejak dini, agar menjadi manusia yang berbudi luhur, berbakti kepada orang tua dan yang terutama berbakti kepada perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya. Jika perilaku seseorang dibiasakan sejak dini berakhlak yang baik maka ketika menjadi manusia dewasa perbuatan yang muncul adalah kebiasaan kehendak dari masa kecilnya yang sudah terbiasa dilakukan. Jadi itulah akhlak yang lahirnya perbuatan tidak dibuat-buat melainkan lahir secara spontan tanpa ada unsur kesengajaan.

Ditinjau dari segi sifatnya, akhlak terbagi dua macam, yakni :

1. akhlak yang baik, disebut akhlaqul mahmudah

2. akhlak yang tercela, disebut akhlaqul mazmumah.33

Akhlaqul mahmudah (akhlak yang baik) juga disebut akhlak

al-karimah (akhlak yang mulia) yang menjadi term ini ialah ridla kepada

Allah, cinta dancinta dan beriman kepada-Nya, beriman kepada malaikat,

kitab Allah, Rasul Allah, hari kiamat, takdir Allah, taat beribadah, selalu menepati janji, melaksanakn amanah, berlaku sopan dalam ucapan dan perbuatan, qana’ah (rela terhadap pemberian Allah), tawakkal (berserah

32

Chabib Thoha et al, Metodologi Pengajaran Agama, dalam Pengajaran Akhlak oleh: Drs.Djasuri, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisngo, 1999), hal. 112-113 33

Bakir Yusuf Barmawie, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam Pada Anak, (Semarang: Dina Utama,1993), hal.22

diri), sabar, syukur, tawadhu’ (merendahkan diri) dan segala perbuatan

yang baik menurut pandangan atau ukuran Islam..34

Akhlaqul mahmudah juga terbagi lagi beberapa macam,

diantaranya adalah Amanah, artinya jujur, Afwu, artinya pema’af,

Al-khusu’, artinya menghormati tamu, Al-Hilmu, artinya tidak melakukan

maksiat, Al-Adli, artinya bersifat adil, Al-Hifafah, artinya memelihara kesucian, Al-Hifafah, artinya memelihara kesucian, Ar-Rahman, artinya

bersifat belas kasih, At-Ta’awun, artinya suka menolong.35

Adapun perbuatan yang termasuk akhlak al-madzmumah ialah, kufur, syirik, murtad, fasiq, riya’, takabur, mengadu domba, dengki/iri, kikir, dendam, khianat, memutus silaturrahmi, putus asa dan segala perbuatan tercela menurut pandangan Islam.

Kemudian dilihat dari segi objek atau sasarannya: a. Ahlak kepada Allah

b. Akhlak kepada makhluk yang terbagi menjadi : 1) Akhlak terhadap Rasulullah

2) Akhlak terhadap keluarga

3) Akhlak terhadap sesama atau orang lain akhlak kepada sesama

manusia36

4) akhlak kepada lingkungan.

34

Zainuddin, Al-Isam 2 (Muamalah dan Akhlak), (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. I, hal. 77-78.

35

Barmawie , Pembinaan kehidupan, hal.23 36

B. Pendidikan Akhlak 1. Pendidikan

Istilah “Pendidikan Akhlak” terdiri dari 2 (dua) kata yaitu pendidikan dan akhlak. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda, namun istilah pendidikan akhlak menunjukkan adanya proses pembentukan seorang manusia agar memiliki akhlak. Untuk memahami istilah ini, maka perlu memahami terlebih dahulu kata “Pendidikan”. Dalam bahasa Arab istilah pendidikan digunakan untuk berbagai pengertian, antara lain tarbiyah37, tahzib, ta’lim, ta'dib, siyasat, mawa’izh, 'ada ta'awwud dan tadrib. Sedangkan untuk istilah

tarbiyah, tahzib dan ta'dib sering diartikan pendidikan. Ta'lim diartikan pengajaran, siyasat diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa'izh diartikan pengajaran atau peringatan. 'Ada ta'awwud diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan

Pendidikan menurut Nurcholish Madjid ialah “tarbiyah”, yang mengandung arti “penumbuhan” atau “peningkatan”, jazmani, dan fitrah seorang anak agar menjadi manusia dengan tingkat kualitas yang

setinggi-tingginya, yaitu manusia paripurna.38 Konsep tarbiyah senafas

dengan al-Qur’an, karena, tarbiyah itu mengikat.39 Tarbiyah itu sama dengan tanmiyah atau development (Inggris).

37

Ibn Miskawaih. Tahzib al-Akhlaq 1398, diedit Hasan Tamim, Bairut, Mansyurat Dar Maktabat al- Hayat.

38

Nurcholish Madjid, Masyarakat Religius (Jakarta: Paramadina, 1997), hal. 114 39

Nurcholish Madjid, Dialog Keterbukaan: Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Kontemporer, (Jakarta: Paramadina, 1998) , hal. 249

Pengertian pendidikan di sini sebagaimana yang diungkapkan oleh Marimba, pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak

didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.40 Sedangkan

Ahmad Tafsir berpendapat bahwa pendidikan adalah pengembangan pribadi dengan semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa pengembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri maupun oleh lingkungan, dan pendidikan oleh guru dan orang lain. Adapun yang dimaksud semua aspek di sini yaitu mencakup jasmani, akal dan hati.41

Al-Attas mendefinisikan pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Suatu proses “penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri

manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu.42

Faktanya istilah “pendidikan” telah menempati banyak tempat dan didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai pakar, yang banyak dipengaruhi pandangan dunia masing-masing. Para pakar sependapat bahwa Pendidikan lebih daripada sekedar pengajaran.

40

Ahmad D. Marimba,. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Ma'arif, 1989), Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Rosdakarya, 2005), hlm. 19 41

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Rosdakarya, 2005), hal.26 42

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, ,Islam dan Filsafat Sains (diterjemahkan oleh SaifulMuzani, Bandung: Mizan, 1995), hal. 35

Kalau pengajaran dapat dikatakan sebagai "suatu proses transfer ilmu belaka", namun sebagaimana pendapat Azra pendidikan merupakan "transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya". Dengan demikian, pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan para spesialis atau “ahli” yang terkurung dalam ruang spesialisasinya yang sempit, karena itu, perhatian dan minatnya lebih bersifat teknis. Artinya, perbedaan pendidikan dengan pengajaran terletak pada“penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran clan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian”43 Mengambil makna dari

Pandangan Azra di atas, artinya pendidikan secara umum memuat sebuah usaha dan cara-cara yang dipersiapkan oleh pelaku pendidikan (Baca ; guru, pendidik) dengan persiapan yang matang dan penekanan-penekanan menuju ke arah proses transformasi nilai dan

pembentukan kepribadian yang sesungguhnya tidak mudah

dilaksanakan.

Jika kita melihat sejarah, “pendidikan” secara istilah, seperti yang lazim dipahami sekarang belum dikenal pada zaman Nabi. Tetapi usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh Nabi dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide

43

Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional,( Jakarta: Penerbit buku kompas, 2000), hal. 3-4

pembentukan pribadi muslim itu, telah mencakup arti pendidikan dalam pengertian sekarang.

Dari kegigihan usaha Rasulullah SAW tersebut, mereka telah berkepribadian muslim sebagaimana yang dicita-citakan oleh ajaran Islam dengan itu berarti Nabi telah mendidik, membentuk kepribadian yaitu kepribadian muslim dan sekaligus berarti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang pendidik yang berhasil. Sehingga jelaslah kegigihan tersebut mencerminkan upaya menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia yaitu potensi untuk selalu cenderung kepada kebaikan dan ridha Allah SWT sebagai jalan yang dapat membahagiakan kehidupan mereka di dunia dan akhirat.

Secara sederhana, pendidikan Islam dapat dipahami dalam

beberapa pengertian :44

a. Pendidikan menurut Islam atau pendidikan Islami yaitu pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai fundamental berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah.

b. Pendidikan ke-Islam-an atau pendidikan agama Islam yaitu upaya pendidikan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.

c. Pendidikan dalam atau proses dan praktek penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat.

44

Muhaimin et all; Paradigma Pendidikan Islam; upaya mengefektifkan pendidikan agama Islam

di sekolah, Get. II (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 2002), hal. 29-30. Lihat juga Muhaimin, wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Surabaya, Pusat Studi Agama, Politik dan Masyarakat

Dari definisi tersebut Marimba memberikan suatu kesimpulan bahwa pendidikan Islam sendiri adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.