BAB IV : PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APABILA TERJADI WANPRESTASI (STUDI APABILA TERJADI WANPRESTASI (STUDI
PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APABILA TERJADI WANPRESTASI (STUDI PUTUSAN NOMOR
C. Akibat Hukum Atas Putusan Nomor 756 K/Pdt.Sus-BPSK/2014
Akibat hukum adalah suatu akibat yang ditimbulkan oleh hukum, terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh subjek hukum. Akibat hukum merupakan suatu akibat dari tindakan yang dilakukan, untuk memperoleh suatu akibat yang diharapkan oleh pelaku hukum. Akibat yang dimaksud adalah akibat yang diatur oleh hukum, sedangkan tindakan yang dilakukan merupakan tindakan hukum yaitu tindakan yang sesuai dengan hukum yang berlaku.93
Akibat hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa hukum, yang dapat berwujud:94
1. Lahir, berubah atau lenyapnya suatu keadaan hukum. Contohnya, akibat hukum dapat berubah dari tidak cakap hukum menjadi cakap hukum ketika seseorang berusia 21 tahun.
2. Lahir, berubah atau lenyapnya suatu hubungan hukum antara dua atau lebih subjek hukum, dimana hak dan kewajiban pihak yang satu berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak yang lain. Contohnya, X mengadakan perjanjian sewa-menyewa rumah dengan Y, maka lahirlah hubungan hukum antara X dan Y apabila sewa menyewa rumah
93 R. Soeroso, Praktek Hukum Acara Perdata, Jakarta: Sinar Grafika, 2006 hal. 295
94 Ibid.
berakhir, yaitu ditandai dengan dipenuhinya semua perjanjian sewa-menyewa tersebut, maka hubungan hukum tersebut menjadi lenyap.
3. Lahirnya sanksi apabila dilakukan tindakan yang melawan hukum.
Contohnya, seorang pencuri diberi sanksi hukuman adalah suatu akibat hukum dari perbuatan si pencuri tersebut yaitu, mengambil barang orang lain tanpa hak dan secara melawan hukum.
Akibat hukum merupakan suatu peristiwa yang ditimbulkan oleh karena suatu sebab, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh subjek hukum, baik perbuatan yang sesuai dengan hukum, maupun perbuatan yang tidak sesuai dengan hukum.
Akibat hukum sebagai implikasi atas dilakukannya suatu perbuatan hukum, dipengaruhi oleh norma- norma dan aturan- aturan yang ada di dalam lingkungan subjek hukum tersebut.
Akibat hukum terhadap putusan ini adalah kedua belah pihak harus kembali mematuhi putusan Pengadilan Negeri Muaro karena dalam putusan kasasi, permohonan pemohon ditolak oleh pihak pengadilan. Terhadap putusan tersebut di atas bahwa jika putusan tersebut tidak ada penolakan dari pihak lain dalam batas waktu yang telah ditentukan Undang-Undang, maka putusan tersebut dikatakan telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Kekuatan pembuktian adalah putusan sebagai dokumen merupakan suatu akta otentik yang dapat dipergunakan sebagai alat bukti bagi para pihak, yang mungkin diperlukan untuk banding, kasasi atau eksekusi. Sekalipun putusan tidak mempunyai kekuatan mengikat terhadap pihak ketiga. Namun putusan mempunyai kekuatan antara pihak yang berpekara dan terhadap pihak ketiga,
91
dalam hal membuktikan bahwa telah ada suatu perkara antara pihak-pihak yang disebutkan dalam putusan itu.
Kekuatan pembuktian, yakni dapat digunakan sebagai alat bukti oleh para pihak, yang mungkin dipergunakan untuk keperluan banding, kasasi atau juga untuk eksekusi. Sedangkan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dapat dipergunakan sebagai alat bukti bagi para pihak yang berperkara sepanjang mengenai peristiwa yang telah ditetapkan dalam putusan tersebut.95
Kekuatan eksekutorial adalah kekuatan untuk dilaksanakannya apa yang ditetapkan dalam putusan itu secara paksa oleh alat-alat negara. Bagi pihak yang dinyatakan kalah berkewajiban melaksanakan putusan tersebut secara rela. Jika sekiranya pihak yang kalah tidak mau melaksanakan putusan tersebut, maka putusan tersebut dapat dilaksanakan secara paksa oleh Ketua Pengadilan.
Putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap atau memperoleh kekuatan yang pasti, mempunyai kekuatan untuk dilaksanakan. Bagi pihak yang dinyatakan kalah berkewajiban melaksanakan putusan tersebut secara rela. Jika sekiranya pihak yang kalah tidak mau melaksanakan isi putusan tersebut, maka putusan itu dapat dilaksanakan secara paksa oleh ketua pengadilan.
Suatu putusan dimaksudkan untuk menyelesaikan suatu persoalan atau sengketa dan menetapkan hak atau hukumnya. Ini tidak berarti semata-mata hanya menetapkan hak atau hukumnya. Ini tidak berarti semata-mata hanya menetapkan hak atau hukumnya saja melainkan juga realisasi atau pelaksanaannya (eksekusinya) secara paksa. Kekuatan mengikat saja dari suatu putusan
95 Soepomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, , Jakarta, Pradnya Paramita 1993, hal. 57
pengadilan belumlah cukup dan tidak berarti apabila putusan tersebut tidak dapat direalisasikan atau dilaksanakan. Oleh karena putusan itu menetapkan dengan tegas hak atau hukumnya untuk kemudian direalisasikan, maka putusan hakim mempunyai kekuatan eksekutorial, yaitu kekuatan untuk dilaksanakannya apa yang telah ditetapkan dalam putusan itu secara paksa oleh alat-alat negara. Suatu putusan memperoleh kekuatan eksekutorial, apabila dilakukan oleh peradilan di Indonesia yang menganut ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004) dan semua putusan pengadilan di seluruh Indonesia harus diberi irah-irah yang berbunyi ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (Pasal 454 Rv jo Pasal 4 ayat 1 undang-undang Nomor 4 Tahun 2004).
Mediasi di peradilan dikecualikan terhadap perkara yang diselesaikan melalui prosedur pengadilan niaga, pengadilan hubungan industrial, keberatan atas putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, dan keberatan atas putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha, semua sengketa perdata yang diajukan ke Pengadilan Tingkat Pertama wajib lebih dahulu diupayakan penyelesaian melalui perdamaian dengan bantuan mediator, hal ini terdapat dalam Pasal 4 ayat (2) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Pada sengketa ini pada awalnya adalah penyelesaian Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. Namun upaya tersebut gagal sehingga ditempuh penyelesaian melalui pengadilan. Proses penyelesaian sengketa yang dilaksanakan melalui pengadilan atau yang sering disebut dengan istilah “litigasi”, yaitu suatu
93
penyelesaian sengketa yang dilaksanakan dengan proses beracara di pengadilan di mana kewenangan untuk mengatur dan memutuskannya dilaksanakan oleh hakim.
Litigasi merupakan proses penyelesaian sengketa di pengadilan, di mana semua pihak yang bersengketa saling berhadapan satu sama lain untuk mempertahankan hak-haknya di muka pengadilan. Hasil akhir dari suatu penyelesaian sengketa melalui litigasi adalah putusan yang menyatakan win-lose solution. 96
Prosedur dalam jalur litigasi ini sifatnya lebih formal dan teknis, menghasilkan kesepakatan yang bersifat menang kalah, cenderung menimbulkan masalah baru, lambat dalam penyelesaiannya, membutuhkan biaya yang mahal, tidak responsif dan menimbulkan permusuhan diantara para pihak yang bersengketa.
Apabila dianalisa terhadap putusan dalam penelitian ini, dimana majelis hakim menolak memori kasasi Jekki Saputra, dinilai sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku. BPSK dinilai tidak berwenang melakukan penyelesaian sengketa konsumen antara Jekki Saputra dengan PT. Adira Finance, Tbk karena menurut Pasal 45 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Pasal 4 Kepmenperindag Nomor 350/MPP/KEP/2001 tersebut menyatakan dengan tegas penyelesaian sengketa di BPSK hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan para pihak yang bersengketa baik penyelesaian secara mediasi, konsiliasi atau arbitrase harus sepakat terlebih dahulu para pihak mengenai jenis metode penyelesaian dan memilih abiter untuk menyelesaikan sengketa barulah BPSK dapat menyelesaikan dan memberikan putusan.
96 Takdir Rahmadi, Mediasi Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Mufakat, hal. 21-24
Kedua belah pihak tidak pernah memilih Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Solok sebagai tempat penyelesaian sengketa a quo bahwa Pemohon tidak hadir pada persidangan perkara ini karena Pemohon telah sampaikan secara lisan pada sekretariat BPSK Solok minta diselesaikan di Pengadilan saja, karena Pemohon tidak memilih BPSK untuk penyelesaian sengketa ini, seharusnya pihak Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Solok harus menghentikan pemeriksaan perkara a quo karena bedasarkan Pasal 45 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen disebutkan bahwa penyelesaian sengketa konsumen dapat di tempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa kalau para pihak tidak suka rela dan tidak memilih dan tidak sepakat maka BPSK tidak dapat dan tidak boleh memaksa diri untuk melanjutkan pemeriksaan karena BPSK bukanlah lembaga peradilan.
95
BAB V