• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 756 K/Pdt.Sus-BPSK/2014 Dalam memutus perkara yang terpenting adalah kesimpulan hukum atas

BAB IV : PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APABILA TERJADI WANPRESTASI (STUDI APABILA TERJADI WANPRESTASI (STUDI

PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APABILA TERJADI WANPRESTASI (STUDI PUTUSAN NOMOR

B. Pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 756 K/Pdt.Sus-BPSK/2014 Dalam memutus perkara yang terpenting adalah kesimpulan hukum atas

fakta yang terungkap di dalam persidangan. Untuk itu hakim harus menggali nilai- nilai, mengikuti dan memahami nilai- nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. 84 Sumber hukum yang dapat berupa peraturan perundang- undangan berikut peraturan pelaksananya, hukum tidak tertulis (hukum adat), putusan desa, yurisprudensi, maupun doktrin/ ajaran para ahli.85

Dalam praktik pengadilan perdata, dikenal sumber hukum berupa Burgerlijk Wetboek (BW) yang terdiri dari 1993 pasal. BW tersebut berdasarkan Pasal 1 Aturan Peralihan UUD 19945 (amandemen) masih berlaku hingga saat ini.

84 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman

85 R. Soerparmono, Hukum Acara Perdata dan Yurisprudensi, Bandung, Mandar Maju, 2005, hal. 146

83

Pada masa dulu sebelum dicabutnya keberlakukan pembagian golongan penduduk, diberlakukan aturan berlakunya BW yaitu: 86

a) Mereka yang termasuk golongan Eropa; „

b) Mereka yang termasuk golongan Tiong Hoa dengan beberapa kekecualian dan tambahan seperti termuat dalam Lembaran Negara tahun 1917- 129 (lampiran II);

c) Mereka yang termasuk golongan Timur Asing selain daripada Tiong Hoa dengan kekecualian dan penjelasan seperti termuat dalam Lembaran Negara tahun 1924- 556 (lampiran I)

Sementara itu untuk golongan bangsa Indonesia Asli berlaku hukum adat yang sejak dahulu telah berlaku di kalangan rakyat, yang sebagian besar masih belum tertulis, tetapi telah hidup dalam tindakan- tindakan rakyat, mengenai segala soal dalam kehidupan masyarakat. 87

Pembahasan mengenai cacat tidaknya suatu putusan hakim harus ditinjau dari asas- asas putusan yang harus diterapkan dalam putusan. Pada hakikatnya asas- asas tersebut terdapat dalam Pasal 178 HIR/ 189 RBG dan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu:

a. Memuat Dasar Alasan yang Jelas dan Rinci

Putusan yang dijatuhkan oleh hakim harus berdasarkan pertimbangan yang jelas dan cukup. Putusan yang tidak memenuhi ketentuan tersebut dikategorikan putusan yang tidak cukup pertimbangan atau onvoldoende gemotiveerd. Alasan

86 R. Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta, PT. Pradnya Paramitha, 2004 hal. 6

87 R. Subekti, Pokok- pokok Hukum Perdata, Jakarta, PT. Intermasa, 1996 hal. 10

yang dijadkan pertimbangan dapat berupa pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan, hukum kebiasaan, yurisprudensi atau doktrin hukum.

Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang menegaskan bahwasanya Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Bahkan menurut Pasal 178 ayat (1) HIR, hakim karena jabatannya wajib mencukupkan segala alasan hukum yang tidak dikemukakan para pihak yang berperkara. Untuk memenuhi kewajiban itulah Pasal 5 Undang-Undang Kekuasan Kehakiman memerintahkan hakim untuk menggali nilai-nilai, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.88

Bertitik tolak dari pasal-pasal yang dikemukakan di atas, putusan yang tidak cukup pertimbangan adalah masalah yuridis, Akibatnya putusan dapat dibatalkan pada tingkat banding atau kasasi. Begitu pula pertimbangan yang mengandung kontradiksi, putusan demikian tidak memenuhi syarat sebagai putusan yang jelas dan rinci, sehingga cukup alasan menyatakan putusan yang dijatuhkan melanggar asas yang digariskan Pasal 178 ayat (1) HIR/189 ayat (1) RBG dan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

b. Wajib Mengadili Seluruh Bagian Gugatan

88 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Jakarta, Sinar Grafika, 2005 hal. 798

85

Asas kedua yang digariskan oleh Pasal 178 ayat (2) HIR/Pasal 189 ayat (2) RBG dan Pasal 50 RV adalah putusan harus secara total dan menyeluruh memeriksa dan mengadili setiap segi gugatan yang diajukan. Tidak boleh hanya memeriksa dan memutus sebagian saja dan mengabaikan gugatan selebihnya. Cara mengadili yang demikian bertentangan dengan asas yang digariskan oleh undang-undang.

c. Tidak Boleh Mengabulkan Melebihi Tuntutan

Berdasarkan Pasal 178 ayat (3) HIR/Pasal 189 ayat (3) RBG dan Pasal 50 RV, putusan tidak boleh mengabulkan melebihi tuntutan yang dikemukakan dalam gugatan. Larangan itu disebut ultra petitum partium. Hakim yang mengabulkan posita maupun petitum gugatan, dianggap telah melampaui batas wewenang atau ultar vires yakni bertindak melampaui wewenangnya. Apabila putusan mengandung ultra petitum, harus dinyatakan cacat (invalid) meskipun hal itu dilakukan hakim dengan itikad baik (good faith) maupun sesuai dengan kepentingan umum (public interest). Mengadili dengan cara mengabulkan melebihi dari apa yang di gugat dapat dipersamakan dengan tindakan yang tidak sah (illegal)meskipun dilakukan dengan itikad baik. 89

d. Diucapkan di Depan Umum

Persidangan dan putusan diucapkan dalam sidang pengadilan yang terbuka untuk umum atau di muka umum merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari asas fair trial. Melalui asas fair trial, pemeriksaan persidangan harus berdasarkan proses yang jujur sejak awal sampai akhir. Prinsip peradilan

89 Ibid.

terbuka untuk umum mulai dari awal pemeriksaan sampai putusan dijatuhkan. Hal itu tentunya dikecualikan untuk perkara tertentu, misalnya perkara perceraian. Akan tetapi walaupun dilakukan dalam persidangan tertutup untuk umum, putusan wajib diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum.

Pelanggaran terhadap hal di atas ditegaskan dalam Pasal 13 ayat (2) Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi :

“Putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.”

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka putusan yang tidak diucapkan di muka umum berakibat putusan batal demi hukum. Batalnya suatau putusan tersebut tentu menjadikan putusan tersebut tidak memiliki kekuatan mengikat.

Hukum positif dituangkan dalam undang-undang adalah kristalisasi kehendak masyarakat. Penguasaan atas bahasa undang-undang sangat diperlukan untuk memahami kehendak masyarakat tersebut agar tidak menimbulkan penafsiran yang bertentangan dengan kehendak masyarakat. Itulah latar belakang pentingnya penguasaan Bahasa Belanda untuk dapat memahami maksud dari segala pasal-pasal dalam BW.90

Faktanya adalah minimnya penguasaan Bahasa Belanda oleh para yurist saat ini. Sepengetahuan penulis tidak lebih dari seperlima dari jumlah keseluruhan hakim agung yang menguasai Bahasa Belanda. Konsekuensinya adalah penggunaan BW terjemahan oleh para hakim/praktisi hukum untuk menjadi problem solving atas berbagai permasalahan hukum yang ada. BW

90 R. Subekti, Op.Cit, hal. 147

87

adalah undang-undang sehingga harus diterapkan sebagai legal reasoning hakim dalam putusannya.91

Penggunaan BW terjemahan tersebut telah menjadi kebiasaan bagi para hakim baik hakim tingkat pertama, banding maupun kasasi. Tidak pernah tercatat dalam sejarah peradilan Indonesia putusan hakim menjadi batal atau batal demi hukum dikarenakan penggunaan BW terjemahan. Substansi dari putusan yang pada hakikatnya menggunakan BW terjemahan juga telah dapat diterima oleh masyarakat mengingat kebutuhan menghendakinya (doelmatigheid).92

Dari berbagai putusan perdata yang menggunakan BW sebagai problem solving atas sengketa yang ada, tidak pernah hakim dalam pertimbangannya mengatakan bahwasanya pasal BW yang dikutip adalah terjemahan dari orang lain. Terlihat seolah hakim tersebutlah yang menterjemahkannya dalam Bahasa Indonesia. Menurut penulis hal tersebut tidak menjadi persoalan asalkan diambil dari terjemahan penterjemah yang diakui dan teruji kapasitasnya.

Secara yuridis, tidak terdapat suatu pengaturan yang mengancam kebatalan bagi suatu putusan yang menggunakan BW terjemahan sebagai dasar pertimbangan. Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman hanya menegaskan bahwasanya Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Pelanggaran terhadap pasal tersebut

91 Ibid, hal. 153

92 M. Yahya Harahap, Op.Cit, hal. 72

mengakibatkan putusan dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi dikarenakan alasan tidak cukup pertimbangan atau onvoldoende gemotiverd.

Pada penelitian ini, adapun pertimbangan hakim dalam memutus sengketa konsumen leasing antara Jekki Saputra dengan PT. Adira Finance, Tbk adalah sebagai berikut:

1. Bahwa Termohon Keberatan mengajukan kasasi tetapi tidak didukung dengan alasan yang cukup untuk dapat diterima dan tidak menunjukkan secara tepat adanya kesalahan penerapan hukum dalam putusan yang dimaksud;

2. Judex Facti sudah menerapkan hukum secara tepat dan benar menyatakan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Solok tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara a quo;

3. Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, ternyata bahwa Putusan Pengadilan Negeri Muaro Nomor 7 Pdt.G/2014/PN. Mrj.

tanggal 9 Oktober 2014 dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang- undang, oleh karena itu permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi: JEKKI SAPUTRA tersebut harus ditolak;

4. Bahwa karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/ Termohon Keberatan ditolak, maka Pemohon Kasasi/Termohon Keberatan harus dihukum untuk membayar biaya perkara pada tingkat kasasi ini;

5. Memperhatikan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009

89

tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan.