BAB III AKIBAT HUKUM DARI PEMBATALAN AKTA
C. Akibat Hukum Pembatalan Akta Perjanjian Bagi Hasil
Dewasa ini, tanah telah menjadi barang yang sangat bernilai lebih bahkan berharga melebihi daripada emas, bahkan tanah merupakan salah satu barang yang dinilai sangat penting oleh negara.Negara mencegah agar setiap jengkal tanah diIndonesia tidak jatuh ketangan asing, tanah juga berperan besar dalam mengaturhidup orang banyak baik untuk mendirikan rumah tinggal maupun menjadi sumberpenghasilan mata uang pencaharian dan bahkan belakangan menjadi komoditasekonomi.
Keadaan yang sebaliknya saat ini terjadi, yakni sejak krisis multi dimensi yang meluluh lantakan perekonomian, sejumlah perusahaan pengembang, ratusan proyek property terpaksa dihentikan.Tidak terhitung lagi bangunan setengah jadi kini menjadi puing-puing terlantar.Terpuruknya perekonomian nasional menyebabkan bisnis property termasuk sektor yang paling parah mengalami dampak krisis yang terjadi.Meskipun kebangkitan bisnis ini dalam waktu singkat setidaknya harapan pengembang agar roda property segera berputar sangat besar.
Tanah dari sudut pandang ekonomi adalah tempat yang strategis sebagai sarana untuk menjalankan suatu usaha yang ditunjang dengan prasarana yang lengkap yaitu merupakan keperluan yang harus dipenuhi guna mengembangkan,
70
meningkatkan dan memperlancar kegiatan perekonomian di Indonesia.Sehingga kini, tanah tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal namun juga sebagai tempat usaha, mulai dari usaha kecil sampai usaha dengan skala internasional.
Dalam Pasal 1338 KUH Perdata dimyatakan bahwa:
“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
Dari Pasal 1338 KUHPerdata di atas dapat ditarik suatu gambaran bahwa, pada prinsipnya suatu perjanjian tidak dapat dibatalkan oleh sepihak, karena dengan adanya pembatalan tersebut, tentunya akan menimbulkan kerugian bagi pihak lainnya.99
Pembatalan perjanjian hanya dapat dilakukan apabila diketahui adanya kekhilafan ataupun paksaan dari salah satu pihak ketika membuat perjanjian.Kekhilafan dan paksaan merupakan alasan yang dapat membatalkan perjanjian.Selain itu juga penipuan yang dilakukan oleh satu pihak terhadap pihak yang lainnya dalam membuat perjanjian, dapat dijadikan sebagai alasan untuk dapat dibatalkannya suatu perjanjian secara sepihak oleh salah satu pihak.Karena menurut Pasal 1320 KUHPerdata suatu perjanjian yang tidak didasarkan kepada syarat subjektif perjanjian, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan.100
Apabila salah satu pihak melakukan wanprestasi, maka akta bagi hasil dapat dibatalkan dihadapan notaris sepanjang dia memenuhi pasal 1338 dan 1320
99Hadi Setia Tunggal, Pendaftaran Tanah Berserta Peraturan Pelaksanaanya, Harvarindo,Jakarta, 1999, h. 56.
100Yulianto Sarbini, Op.Cit., h. 39.
71
boleh saja, pembatalan akta didepan notaris adalah sah. Artinya, dia yang membuat perjanjian dan dia yang membatalkan itu sah menurut hukum.101
Sedangkan apabila terjadi wanprestasi dalam suatu perjanjian dan kedua belah pihak mau menandatangani akta pembatalan perjanjian, maka perjanjian tersebut bisa dibatalkan namun jika ada pihak yang tidak mau, maka pembatalannya hanya bisa dilakukan melalui putusan pengadilan.102
Meminta pembatalan perjanjian yang tidak memenuhi syarat subjektifnya dapat dilakukan dengan cara, yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan penuntutan secara aktif di muka Hakim atau Pengadilan;
2. Dengan cara pembatalan yaitu menunggu pihak yang mengajukan pembatalan dimuka Hakim. Sehingga dengan ada gugatan yang diajukan oleh pihak lawan karena ia tidak memenuhi prestasi perjanjian, maka ia dapat mengajukan pembelaan bahwa perjanjian tersebut tidak memenuhi syarat subjektif yang memungkinkan untuk dibatalkannya perjanjian tersebut.
Untuk penuntutan secara aktif sebagaimana yang disebutkan oleh undang-undang, maka undang-undang mengatur pembatasan waktu penuntutan yaitu 5 tahun di dalam perjanjian yang diadakan.Sebaliknya terhadap pembatalan perjanjian sebagaipembelaan tidak ditetapkan batas waktunya.Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pasal 1454 KUHPerdata.
101Hasil Wawancara Dengan Notaris Dr.Toni, SH, Mkn Berkedudukan Di Kabupaten Deli Serdang Jl.Sumarsono No.2 Helvetia, Kec.Labuhan Deli, Sumatera Utara.
102Hasil Wawancara Dengan Pengacara Harinal Setiawan, S.H, M.H, Berkantor Di Lembaga Bantuan Hukum Tuah Negri Nusantara Di Jl.Bangau Sakti Ujung,No.95,Kec.Tampan, Pekanbaru-Riau.
72
Penuntutan pembatalan akan diterima baik oleh hakim jika ternyata sudah ada penerimaan baik dari pihak yang dirugikan, karena seorang yang sudah menerima baik suatu kekurangan atau suatu perbuatan yang merugikan baginya, dapat dianggap telah melepaskan haknya untuk meminta pembatalan. Akan tetapi apabila suatu pembatalan terhadap perjanjian yang dilakukan secara sepihak tanpa disertai alasan yang sah menurut hukum, maka pihak yang olehpihak lain dibatalkannya perjanjiannya dapat menuntut kerugian kepada pihak yang membatalkan perjanjian tersebut secara sepihak, karena dengan adanya pembatalan yang dilakukan sepihak oleh salah satu pihak akan menimbulkan kerugian bagi pihak lain.103
Terhadap perjanjian yang dibatalkan secara sepihak oleh salah satu pihak tanpa disertai alasan yang sah, maka apabila perjanjian tersebut telah berlangsung lama, pihak yang dirugikan atas pembatalan tersebut dapat mengajukan tuntutan ganti rugi kepada pihak yang membatalkan perjanjian tersebut secara sepihak.Ganti rugi yang diajukan oleh pihak yang dirugikan atas pembatalan yang sepihak tersebut adalah dapat berupa biaya, rugi, maupun bunga atas kerugian yang dideritanya. Namun apabila dalam pembatalan yang dilakukan secara sepihak terhadap perjanjian yang mereka perbuat, sedangkan segala isi maupun ketentuan yang tercantum di dalam perjanjian tersebut belum dilaksanakan sama sekali oleh kedua belah pihak, maka dengan adanya pembatalan perjanjian tersebut oleh salah satu pihak secara sepihak tidak menimbulkan akibat hukum apa-apa. Pembatalanperjanjian tersebut hanya membawa para pihak pada keadaan
103Arto, A. Mukti, Op.Cit., h. 69.
73
semula yaitu keadaansebelumnya para pihak dianggap tidak pernah melakukan atau mengadakan perjanjiandiantara mereka.
Dengan demikian jelaslah bahwa suatu perjanjian hanya dapat dibatalkansecara sepihak oleh salah satu pihak apabila tidak memenuhi syarat sah subjektif darisuatu perjanjian. Pembatalan tersebut hanya dapat dilakukan dengan mengajukannyakepada pengadilan ataupun dengan pembelaan atau gugatan pihak yang akan membatalkan perjanjian.
Sedangkan terhadap perjanjian yang dibatalkan secara sepihak tanpa alasan yang sah, dapat dilakukan tuntutan kepada pihak yang membatalkannya selamaperjanjian tersebut telah berlangsungnya, sebaliknya apabila pembatalan secara sepihaktersebut terjadi sebelum adanya pelaksanaan perjanjian maka pembatalan itu hanyamembawa pada keadaan semula yaitu keadaan yang dianggap tidak pernah terjadiperjanjian.
Dalam perjanjian, pernyataan keadaan wanprestasi ini tidaklah dapat terjadidengan sendirinya, akan tetapi harus terlebih dahulu diperlukan adanya suatupernyataan lalai atau sommatie yaitu suatu pesan dari pihak pemberi pekerjaanboronganpada saat kapan selambatnya ia mengharapkan pemenuhan prestasi. Daripesan ini pula selanjutnya akan ditentukan dengan pasti saat mana, seseorang berada dalam keadaan wanprestasi atau ingkar janji tersebut, sehingga pihak yang wanprestasi harus pula menanggung segala akibat yang telah merugikan pihak yanglainnya.104
104Prodjodikoro, Wiryono. Op.Cit., h. 32.
74
Akibat pembatalan perjanjian di atur dalam Pasal 1266 KUHPerdata terkait terpenuhinya syarat kebatalan.Adapun akibat hukum pada pembatalan perjanjian adalah pengembalian pada posisi semula sebagaimana halnya sebelum terjadi perjanjian.105Akibat pembatalan perjanjian dapat dilihat dari dua aspek.Pertama, pembatalan terhadap perjanjian yang melanggar syarat subyektif sahnya perjanjian sehingga perjanjian dapat dibatalkan, dan kedua adalah pembatalan terhadap perjanjian yang melanggar syarat obyektif perjanjian yang bataldemi hukum.
Akibat terhadap perjanjian yang dapat di batalkan adalah salah satu pihak dapat meminta pembatalan perjanjian. Perjanjian akan tetap mengikat para pihak apabila tidakdibatalkan oleh hakim atas permintaan pihak yang berhak meminta pembatalan. Hakuntuk meminta pembatalan perjanjian, menuntut pemulihan bahkan hak untuk menuntut ganti rugi merupakan hak bagi para pihak yang merasa dirugikan, sedangkan pihaklainnya yang telah terlanjur menerima prestasi dari pihak lain wajib mengembalikannya. Sedangkan, akibat hukum terhadap perjanjian yang batal demi hukum adalah perjanjian dianggap batal atau bahkan perjanjian dianggap tidak ada dan tidak pernah terjadi dari awal. Konsekuensi lanjutan dari pembatalan perjanjian adalah apabila setelah pembatalan salah satu pihak tidak melaksanakan kewajibannya untuk mengembalikan apa yang telah diperolehnya maka pihak lain dapat mengajukan gugatan. Hal ini semata-mata untuk melaksanakan tujuan pembatalan yaitu mengembalikan keadaan sebagaimana semula sebelum perjanjian terjadi.
105P.N.H. Simanjuntak, Op.Cit., h.347.
75
Adapun hal lainnya akibat hukum dari pembatalan akta perjanjian bagi hasil yang di sebabkan oleh wanprestasi yang menimbulkan kerugian terhadap salah satu pihak tersebut, maka undang-undangmemberikan sesuatu hak baginya untuk menuntut diantara beberapa hal, yaitu sebagai berikut:106
1. Pemenuhan prestasi;
2. Pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi;
3. Ganti rugi;
4. Pembatalan perjanjian; dan 5. Pembatalan disertai ganti rugi.
Bentuk ganti rugi tersebut di atas pada pelaksanaannya dapat diperinci dalam tigabentuk yaitu biaya, rugi dan bunga.Pasal 1246 KUHPerdata menyebutkan bahwa ganti rugi terdiri dari duafaktor, yaitu sebagai berikut:
1. Kerugian yang nyata-nyata diderita; dan 2. Keuntungan yang seharusnya diperoleh.
Kedua faktor tersebut dicakup dalam pengertian, biaya, kerugian dan bunga.Biayaadalah pengeluaran-pengeluaran nyata, misalnya biaya Notaris, biaya perjalanan dansejenisnya.Kerugian adalah berkurangnya kekayaan kreditur sebagai akibat dari padaingkar janji dan bunga adalah keuntungan yang seharusnya diperoleh kreditur jikatidak terjadi ingkar janji.107
Dalam perjanjian ditentukan bahwa dalam hal terlambatnya salah satu pihakuntuk melaksanakan kewajiban sesuai dengan ketentuan dan dalam jadwal waktuyang telah ditentukan adalah merupakan salah satu bentuk dari
106Atma Harry. Op.Cit., h. 36.
107Yulianto Sarbini, Op.Cit, h. 39.
76
wanprestasi.Penentuan wanprestasi ini sendiri erat kaitannya dengan suatu pernyataan lalai yaitusuatu pesan dari salah satu pihak untuk memberitahukan pada saat kapan selambatnyaia mengharapkan pemenuhan prestasi.Dengan demikian sebagai hal yang tidak dapatdipisahkan dalam penentuan pernyataan wanprestasinya salah satu pihak adalahketentuan batas pelaksanaan kewajiban itu sendiri.
Keterlambatan melakukan kewajiban ini dapat juga terjadi dari bentukwanprestasi lainnya, seperti halnya melaksanakan kewajiban yang tidak sesuaidengan apa yang telah diperjanjikan. Sementara bentuk wanprestasi ini juga harusdapat dibedakan terhadap lalainya pihak kedua untuk tidak melakukan kewajibansama sekali, karena dalam hal demikian pihak kedua tidak dapat dianggap terlambatmemenuhi pelaksanaan prestasi. Sementara sanksi dalam hal pihak kedua tidakmelaksanakan kewajiban sama sekali yang selanjutnya dapat dikategorikan menolakuntuk melaksanakan kewajiban, maka sebagai sanksinya pihak pertama berhak atasuang jaminan yang diberikan oleh salah satu pihak.108
Di dalam pelaksanaan Perjanjian bagi hasil yang dilakukan oleh developer, maka sejak tanggal perjanjian bagi hasil tersebut dilakukan melalui
aktanotaris dan disepakati dan ditandatangani oleh para developer dihadapan notaris makaperjanjian pendanaan tersebut telah sah berlaku sebagai undang-undang diantara sesama para developer tersebut.Perjanjian bagi hasil tersebut juga harusdilaksanakan dengan itikad baik oleh para developer, dan tidak dapat lagiditarik/dibatalkan secara sepihak. Setiap upaya pembatalan secara sepihak dari
108Arifin Rachman, Hukum Perikatan Menurut KHUPerdata, Eresco, Bandung, 2012, h.
26.
77
salahsatu developer merupakan suatu perbuatan yang melanggar hukum dan akanmenimbulkan kerugian bagi pihak lainnya yang dapat menuntut pihak yangmenimbulkan kerugian tersebut dengan gugatan ganti rugi ke pengadilan berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata.109
Tanggung jawab developer adalah melaksanakan seluruh prestasinya kepadapemilik tanah apabila pelaksanaan pembangunan bangunan yang dilakukan olehpihak developer telah selesai dilakukan.Tanggung jawab developer tersebut apabilaperjanjian bagi hasil yang dilaksanakan tersebut merupakan perjanjian bagi hasilcampuran dimana developer berkewajiban membayar sejumlah uang tunai dan jugabangunan kepada pihak pemilik tanah.Namun apabila perjanjian bagi hasil tersebut hanya mewajibkan pihak developer membayar uang tunai saja, makadeveloper harus telah melunasi seluruh kewajibannya kepada pihak pemilik tanahdengan membayar seluruh jumlah uang yang telah disepekati antara developerdengan pemilik tanah tersebut.
Tanggung jawab pemilik tanah terhadap developer adalah menyerahkanbidang tanah yang dimilikinya apabila developer tersebut telah melaksanakanprestasinya untuk membayar sejumlah dana berupa uang tunai kepada pihak pemiliktanah, dan telah menyepakati tentang pelaksanaan unit bangunan yang akandiserahkan oleh developer kepada pemilik tanah apabila telah selesai pelaksanaanpembangunan yang dilakukan oleh pemilik tanah tersebut.
Pemilik tanah tidak bolehmelakukan wanprestasi terhadap developer dengan tidak menyerahkan sebidangtanah yang dimilikinya apabila developer telah
109Henny Rahmita, Hukum Perikatan Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis, Bina Cipta, Jakarta, 2009, h. 21.
78
melaksanakan kewajibannya untukmembayar bidang tanah yang dimiliki oleh pemilik tanah baik itu untuk sebagianberupa uang tunai maupun sesuai janji yang telah disepakati di dalam perjanjianbagi hasil berupa penyerahan unit bangunan apabila pelaksanaan pembangunantersebut telah dilaksanakan oleh pihak developer.
Wanprestasi merupakan suatu perbuatan ingkar janji yang dilakukan olehsalah satu pihak dalam pelaksanaan perjanjian bagi hasil tersebut, yang ditandaidengan tidak dilaksanakannya prestasi oleh salah satu pihak tersebut meskipun pihaklain telah melaksanakan prestasinya dengan baik.110 Wanprestasi ditandai dengan telahdiperingatkannya debitur untuk melaksanakan kewajibannya oleh pihak krediturdengan wajar, namun debitur tidak juga melaksanakan kewajibannya tersebut dan tetap melakukan wanprestasi atas kewajiban yang harus dilaksanakannya tersebut.Sejak saat terjadinya peringatan yang dilakukan oleh kreditur terhadap debiturtersebut secara wajar baik lisan maupun tertulis, namun tetap saja tidak diindahkanoleh pihak debitur maka sejak saat itu debitur sudah dapat dikatakan melakukanperbuatan wanprestasi (ingkar janji).
110J. Satrio, Wanprestasi menurut KUHPerdata, Doktrin, dan Yurisprudensi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2014, h. 45.
79 BAB IV
PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 873 PK/PDT/2017
A. Kasus Posisi
Pada proses pelaksanaan perjanjian bagi hasil, pihak tergugat I tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagaimana yang diperjanjikan, sehingga pihak penggugat merasa dirugikan. Hal ini diakibatkan karena pelaksanaan pembangunan mengalami keterlambatan penyelesaian pembangunan sejak perjanjian dilangsungkan.Pihak tergugat merasa dirugikan karena sampai saat ini belum dapat menikmati ruko yang dijanjikan oleh tergugat I. Akhirnya penggugat telah mengajak orang lain lagi yaitu Hasanusi hambali untuk meneruskan bagi bangun ruko tersebut dengan mengadakan perjanjian baru yang dibuat dihadapan Notaris Badiah,SH. Dikarenakan penggugat tidak mengerti hukum maka penggugat merasakan sakitnya dipenjara selama 1 tahun 6 bulan. Maka oleh karena alasan tersebut pihak pertama mengajukan gugatannya ke Pengadilan Negeri Palembang pada tanggal 28 Oktober2014.
Gugatan tersebut berisi tentang duduk perkara, dimana tergugat I adalah Willy Handoko selaku pihak kedua dalam perjanjian, tergugat II yaitu Notaris Tati Rosalina Tampubolon atas dasar pembatalan akta yang dibuat dihadapannya.Adapun isi duduk perkarnyadalah sebagai berikut:
a. Abdul Gani Bustan, Laki-laki, pekerjaan wiraswasta, beralamat di Jalan Torpedo Komplek YPP No.794/94 Rt.09Rw.03 Sekip Ujung
79
80
Kelurahan 20 ilir Kecamatan Kemuning Kota Palembang, berkedudukan sebagai Penggugat.
b. Willy Handoko, Laki-laki, pekerjaan wiraswasta, beralamat di Jalan Slamet Riyadi No.101-C Rt.08 Kelurahan 11 Ilir Palembang, berkedudukan sebagai Tergugat I.
c. Tati Rosal Tampubolon, Perempuan, pekerjaan Notaris beralamat di Jalan Masjid lama No 138 B.Kelurahan 17 ilir Kota Palembang, berkedudukan sebagai Tergugat II.
Adapun penggugat dalam gugatannya menggugat para tergugat yang pada dasarnya isi gugatan penggugat adalah sebagai berikut :
a. Bahwa penggugat dan Tergugat I telah membuat perjanjian bagi hasildiatas tanah milik penggugat seluas 548 m2 yang terletak dijalan TorpedoKomplek YPP No.794/94 Rt.09 Rw.03 Sekip Ujung Kelurahan 20 IlirKecamatan Kemuning Kota Palembang;
b. Bahwa perjanjian tersebut diatas dibuat dihadapan Tergugat II berdasarkanakte No.23 tertanggal 31 Juli tahun 2009;
c. Bahwa setelah ditandatangani akte perjanjian bagi bangun oleh penggugatdan tergugat I, maka pembangunannya akan dimulai apabila tergugat I telahmemperoleh izin membangun dari Pemerintah Kota Palembang, namunsetelah ditunggu tunggu selama lebih kurang 6 bulan tergugat I belum jugadapat menyelesaikan IMB tersebut, dan akhirnya tergugat I menyerahkankepengurusan IMB tersebut kepada Penggugat;
81
d. Bahwa oleh karena penggugat tidak mengerti urusan IMB tersebut akhirnyapenggugat meminta bantuan kepada Ismir Abdul Rozak, dan permohonanpengurusan IMB tersebut telah dimohonkan oleh Ismir Abdul Rozak namunjuga melalui proses yang cukup lama;
e. Bahwa karena proses pemberian IMB tersebut memakan waktu yang cukuplama dan akhirnya Tergugat I melaporkan penggugat ke Polresta Palembangdengan tuduhan penggugat telah melakukan penggelapan atas biayapengurusan IMB dengan bukti Laporan No.Pol : LP 1417/B/VI/Tabes tanggal8 Juni 2010, namun nyatanya pada tanggal 15 Oktober 2010 akhirnya surat Izin Membangun (IMB) yang diajukan penggugat diterbitkan juga olehWalikota Palembang dan akhirnya tergugat I meminta maaf dan mencabutpengaduannya sebagaimana tertuang dalam surat perjanjian bagi bangunyang dibuat pada tanggal 31 Agustus 2010;
f. Bahwa setelah izin membangun (IMB) telah diberikan kepada Tergugat Inamun tergugat I belum juga melaksanakan perjanjian bagi bangun tersebut,setelah didesak beberapa kali tergugat I tetap tidak mau melaksanakanperjanjian tersebut, dan bahkan Tergugat I baru membuat surat perjanjianpemborongan kerja dengan Alhasan basri/Bastari untuk membangun Rukotersebut pada tanggal 1 Agustus 2011;
82
g. Bahwa karena tergugat I tidak juga melaksanakan perjanjian bagi banguntersebut, akhirnya penggugat menilai bahwa tergugat I telah tidak sangguplagi dan dianggap telah Wanprestasi;
h. Bahwa karena penggugat tidak mengerti hukum, maka penggugat telahmengajak orang lain lagi yaitu Hasanusi hambali alias Ahay untukmeneruskan bagi bangun ruko tersebut dengan mengadakan perjanjian baruyang dibuat dihadapan Notaris Badiah,SH sebagaimana dituangkan dalamakte Perjanjian Pemborongan Bangunan dan Bagi Bangun No.09 tanggal 4April 2011;
i. Bahwa karena penggugat telah mengadakan perjanjian baru lagi denganorang lain, maka untuk kedua kalinya Tergugat I melaporkan penggugat kePolresta Palembang dengan tuduhan telah melakukan Penipuan, dan atas ketidakmengertian penggugat terhadap hukum akhirnya penggugat dihukumpenjara selama 1 tahun 6 bulan;
j. Bahwa penggugat selama ini banyak mengalami kerugian akibat perbuatantergugat I tersebut, disamping belum dapat menikmati ruko yang dijanjikanoleh tergugat I, penggugat telah pula merasakan sakitnya dipenjara selama 1 tahun 6 bulan, dan setelah penggugat keluar dari penjara, penggugat telahmeminta kepada anak penggugat untuk membatalkan perjanjian bagi bangunyang telah dibuat antara penggugat dengan tergugat I dihadapan Tergugat II,namun tergugat I tidak bersedia, bahkan tergugat I mau membatalkanperjanjian bagi
83
bangun tersebut apabila Penggugat mau memberikan gantirugi kepadanya sebesar Rp.700.000.000.- ( Tujuh ratus juta rupiah );
k. Bahwa penggugat sangat kaget atas permintaan tergugat I tersebut, padahaldana yang baru dikeluarkannya adalah sebesar Rp.175.000.000.- (Seratus tujuh puluh lima juta rupiah), yaitu uang Down Payment (DP) tanda jadisebesar Rp.100.000.000 dan uang pengurusan IMB sebesar Rp.75.000.000.-
l. Bahwa Penggugat baru tahu bahwa tergugat I pekerjaanya adalahmerupakan orang yang cari untung dari hasil bagi bangun yang tidakdilaksanakanya dan apabila pemilik tanah mau membatalkannya makatergugat I akan meminta ganti rugi 3 kali lipat dari biaya yang telahdikeluarkannya;
m. Bahwa dikarenakan tergugat I telah melalaikan isi perjanjian bagi bangunsebagaimana yang telah dituangkan dalam akte perjanjian bagi hasil No 23 tanggal 31 Juli tahun 2009, maka tergugat I telah melakukan PerbuatanWanprestasi;
n. Bahwa karena tergugat I telah melakukan perbuatan wanprestasi terhadappenggugat, maka perjanjian bagi bangun No.23 tanggal 31 Juli tahun 2009yang dibuat dihadapan tergugat I adalah dinyatakan batal atau batal demihukum dan menyatakan semua biaya yang telah dikeluarkan oleh Tergugat Isebesar Rp.175.000.000.- dinyatakan hangus.
84
Atas hal tersebut diatas, selanjutnya Penggugat meminta kepada pengadilan agar dapat memenuhi gugatan penggugat yang pada initinya, yaitu sebagai berikut:
1. Mengabulkan gugatan penggugat seluruhnya;
2. Menyatakan Tergugat I telah melakukan perbuatan Wanprestasi;
3. Menyatakan batal surat perjanjian bagi hasil antara penggugat dengantergugat I yang dibuat dihadapan tergugat II sebagaimana yang tertuangdalam akte No.23 tanggal 31 Juli tahun 2009;
4. Menyatakan hangus biaya biaya yang telah dikeluarkan oleh tergugat Isebesar Rp.175.000.000.- ( Seratus tujuh puluh lima juta rupiah ) karena telahmelakukan Wanprestasi atau ingkar janji terhadap Penggugat;
5. Menghukum Tergugat I dan Tergugat II untuk mematuhi isi putusan perkaraini;
6. Membebankan kepada tergugat I dan Tergugat II untuk membayar biayaperkara yang timbul dalam perkara ini secara tanggung renteng.
Dalam Eksepsi:
a. Gugatan tidak sah
Gugatan yang diajukan ke Pengadilan Negeri Kelas IA Palembang tidak sah karena Napoleon, SH dan Muhammad Iskandar, SH, sebagai KuasaHukum Abdul Gani Bustan tidak mencantumkan Nomor dan tanggal Surat Kuasa Hukum dalam gugatan.Advokat/Pengacara Napoleon, SH adalah anggota Kongres AdvokadIndonesia (KAI), tidak diakui oleh Mahkamah Agung RI, tidak dapat hadirdi persidangan mewakili kepentingan hukum Abdul Gani Bustan.
85 b. Gugatan kurang pihak
Bahwa para Tergugat kurang Pihak, mestinya Ahai alias HasanusiHambali ikut Tergugat sebagai Tergugat III karena dia dengan AbdulGani Bustan mengadakan pula Perjanjian Bagi Hasil bangunsebagaimana diatur dalam akta nomor 09 tanggal 04 April 2011 Notaris Badiah Azhari, SH untuk tanah sengketa yang sama terletak di Jln.Terpedo Kompleks YPP No. 794/
94 RT. 09 RW. 03 Sekip UjungKelurahan 20 Ilir Kecamatan Kemuning Kota
Palembang.Bahwa dalam Perkara Pidana Nomor
98/Pid.B/2014/PN.PLG,Penggugat telah membuat Surat Perdamaian dengan Hasanusi Hambalialias Ahai untuk melanjutkan Perjanjian Bagi Hasil Bangunan sebagaimana diatur dalam Akta Nomor 09 tanggal 04 April 2011 Notaris Badiah Azhari, SH. Dalam Perdamaian tersebut, Tergugat I (Willy Handoko) tidak di ikut sertakan, sedangkan Willy Handoko ikut dirugikandalam sengketa tanah tersebut.
Bahwa kalau dicermati lebih lanjut , Akte Nomor 09 tanggal 04 April 2011Notaris Badiah Azhari, SH, Akta tersebut cacat hukum, tidak sah, batal demi hukum, dimana Istri Abdul Gani Bustan yang bernama Maisanahtidak ikut bertanda tangan menyetujui adanya Ikatan Perjanjian Bagi hasilBangun dengan Ahai alias Hasanusi Hambali.Atas kealpaan Notaris Badiah Azhari, SH tidak mengikutsertakan danmencantumkan nama Istri Abdul Gani Bustan (Maisanah) dalam akteNomor 09 tanggal 04 April 2011 tersebut, Notaris Badiah Azhari, SHharus bertanggung jawab, untuk itu yang bersangkutan harus hadir diPengadilan sebagai Tergugat IV.
86
c. Objek sengketa ini kabur (obscuur lebels)
Bahwa Tergugat I menolak apa yang dikatakan Penggugat pada angka 3halaman 1 Gugatan, “Pembangunannya akan dimulai apabila Tergugat Itelah memperoleh Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah kota
Bahwa Tergugat I menolak apa yang dikatakan Penggugat pada angka 3halaman 1 Gugatan, “Pembangunannya akan dimulai apabila Tergugat Itelah memperoleh Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah kota