• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Akibat Hukum Perkawinan

Undang-Undang Perkawinan mengatur sejumlah perkawinan yang dilarang. Tidak terdapat perbedaan ketentuan antara UUPK dengan KHI perihal perkawianan yang dilarang. Dalam Pasal 8 UUPK diatur beberapa jenis perkawinan yang dilarang antara dua orang anatara lain:

1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas;

2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seseorang dengan saudara orang tua dan antara seseorang dengan saudara neneknya;

3. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri;

4. Berhubungan susuan, anak susuan, saudara dan bibi/paman susuan;

5. Berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri, dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang;

6. Yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin.29

28Hilman Hadikusuma. op.cit.. hlm. 54-56

29Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan

Sementara itu jenis larangan melangsungkan perkawinan sebagaimana dimaksud oleh Kompilasi Hukum Islam dikategorikan ke dalam larangan perkawinan akibat hubungan nasab (keturunan); larangan melakukan perkawinan akibat pertalian kerabat semenda; dan larangan melakukan perkawinan akibat pertalian sesusuan.

Larangan-larangan tersebut dapat diuraikan seperti berikut;

Karena pertalian nasab:

1. Dengan seorang wanita yang melahirkan atau yang menurunkannya atau keturunannya;

2. Dengan seorang wanita keturunan ayah atau ibu;

3. Dengan seorang wanita saudara yang melahirkannya.

Karena pertalian kerabat semenda:

1. Dengan seorang wanita yang melahirkan isterinya atau bekas isterinya;

2. Dengan seorang wanita bekas isteri orang yang menurunkannya;

3. Dengan seorang wanita keturunan isteri atau bekas isterinya, kecuali putusnya hubungan perkawinan dengan bekas isterinya itu qobla al dukhul (belum dicampuri);

4. Dengan seorang wanita bekas isteri keturunannya.

Karena pertalian sesusuan:

1. Dengan wanita yang menyusui dan seterusnya menurut garis lurus ke atas;

2. Dengan seorang wanita sesusuan dan seterusnya menurut garis lurus ke bawah;

3. Dengan seorang wanita saudara sesusuan, dan kemanakan sesusuan ke bawah;

4. Dengan seorang wanita bibi sesusuan dan nenek bibi sesusuan ke atas;

5. Dengan anak yang disusui oleh isterinya dan keturunannya.30

Selain ketentuan larangan perkawinan di atas, terdapat juga larangan perkawinan karena kondisi tertentu. Seorang Pria yang memiliki ikatan perkawinan, tidak dapat melakukan perkawinan lagi kecuali oleh pengadilan diberikan izin

30Kompilasi Hukum Islam

kepadanya untuk memiliki istri lebih dari satu sepanjang hal ini telah terlebih dahulu diperkenankan oleh istri pertama dan calon istri yang akan dinikahi. Terkait hal ini, Pasal 4 Ayat (2) UUPK mengatur sejumlah prakondisi yang memberikan kesempatan kepada suami untuk mengajukan permohonan menikah lagi ke Pengadilan. Kondisi-kondisi yang dipersyaratkan tersebut adalah:

1. Istri yang tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri;

2. Istri mendapat cacat badan/atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;

3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.31

Kondisi ini berlaku secara alternatif. Apabila salah satu dari ketiga kondisi ini terpenuhi, maka pengadilan dapat mengabulkan permohonan menikah lagi yang diajukan oleh pria. Selain itu, perkawinan antara kedua orang juga menjadi terlarang apabila sebelumnya antara keduanya, dengan pasangan yang sama telah dua kali melakukan perceraian. Maka setelah cerai yang kedua tersebut, pasangan ini tidak bisa melakukan rujuk kembali. Hal ini sebagaimana ketentuan Pasal 10 UUPK:

“Apabila suami dan istri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, maka diantara mereka tidak boleh dilangsungkan perkawinan lagi, sepanjang hukum, masing-masing agama dan kepercayaan itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.”32 Ada juga beberapa perkawinan yang dilarang berlangsung antara kedua orang akibat dari sejumlah kondisi. Seorang perempuan dilarang melakukan pernikahan dengan pria lain apabila pada saat yang sama masih memiliki ikatan

31Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan 32Ibit.,

perkawinan dengan suaminya. Kompilasi Hukum Islam tidak membenarkan pernikahan poliandri. Hal ini berkaitan erat dengan teori maqosid al syar’iyah (tujuan diturunkannya syariat). Dalam maqasid al syari’ah terdapat lima hal yang dipandang sebagai tujuan dari diturunkannya syariat. Lima hal tersebut adalah dalam rangka memelihara agama; memelihara diri; menjaga eksistensi akal; memelihara keturunan;

dan menjaga harta benda. Kompilasi Hukum Islam tidak membenarkan pernikahan poliandri karena untuk menjaga salah satu dari kelima hal yang menjadi tujuan dari syariat dimaksud, yakni demi memelihara keturunan.33

Larangan perkawinan yang lain adalah menikahi seorang wanita yang masih dalam masa iddah dengan mantan suaminya. Masa iddah dalam Islam diartikan sebagai masa perhitungan atau masa menunggu. Masa ini berakhir setelah perempuan melewati tiga kali suci dari periode menstruasi, atau kurang lebih tiga bulan sepuluh hari lamanya. Untuk perempuan yang ditinggal mati empat bulan sepuluh hari.

Sedang perempuan yang dicerai saat sedang hamil maka masa iddah nya sampai melahirkan. Larangan melakukan pernikahan lainnya adalah apabila antara kedua calon tersebut berbeda agama atau keyakinan. KHI mengatur jelas hal ini dalam Pasal 40 huruf c dan Pasal 44.34

Pada umumnya larangan perkawinan yang telah ditentukan dalam UUPK, tidak banyak bertentangan dengan hukum adat yang berlaku di berbagai daerah di Indonesia. Namun masih ada hal-hal yang berlainan karena pengaruh struktur

33

Kompilasi Hukum Islam

34 Hukum perkawinan kontemporer,

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5b1f94bb9a111/kenal i-bentuk-perkawinan-yang-dilarang-hukum-di-indonesia/, diakses 7 januari 2020, pkl. 23.30

masyarakat adat yang unilateral, menurut garis keturunan patrilineal, atau matrilineal dan mungkin juga pada masyarakat yang bilateral di pedalaman.35

Secara umum Gereja Katolik selalu memandang perkawinan sebagai perkawinan yang sah, kecuali dapat dibuktikan kebalikannya. Menurut hukum Gereja Katolik, ada 12 halangan yang dapat membatalkan perkawinan, apabila ada satu atau lebih halangan atau cacat ini, yang terjadi sebelum perkawinan atau pada saat perkawinan diteguhkan, maka sebenarnya perkawinan tersebut sudah tidak memenuhi syarat untuk dapat disebut sebagai perkawinan yang sah sejak awal mula, sehingga jika yang bersangkutan memohon kepada pihak Tribunal Keuskupan, maka setelah melakukan penyelidikan seksama, atas dasar kesaksian para saksi dan bukti- bukti yang diajukan, pihak Tribunal dapat mengabulkan permohonan pembatalan perkawinan yang diajukan oleh pasangan tersebut. Sebaliknya, jika perkawinan tersebut sudah sah, maka perkawinan itu tidak dapat dibatalkan ataupun diceraikan, sebab demikianlah yang diajarkan oleh Sabda Tuhan.36

Berikut ini adalah penjabaran halangan yang membatalkan perkawinan menurut hukum kanonik Gereja Katolik:

1. kurangnya umur yaitu belum mencapai umur 16 tahun bagi pria dan dan 15 tahun bagi wanita,

2. Pria atau wanita impotensi bersifat tetap, kecuali diragukan atau kemandulan,

3. Adanya ikatan perkawinan terdahulu,

4. Disparitas cultus atau beda agama tanpa dispensasi, 5. Tahbisan suci,

35Hilman Hadikusuma. Op. Cit.. hlm. 59

36 http://www.katolisitas.org/apakah-yang-membatalkan-perkawinan-menurut-hukum-kanonik/, diakses 8 Januari 2020, pkl. 01.00

6. Kaul kemurnian dalam tarekat religius, 7. penculikan dan penahanan,

8. kejahatan pembunuhan,

9. hubungan persaudaraan konsanguinitas, 10. hubungan semenda,

11. halangan kelayakan public misalnya antara pria dengan ibu atau anak wanitanya, wanita dengan bapak atau anak prianya,

12. ada hubungan adopsi.37

Menurut hukum Hindu sebagaimana diatur dalam Manawa Dharmasatra yang melarang pria kawin dengan:

1. Wanita dari keluarga yang mengabaikan yadna,

2. Wanita dari keluarga yang tidak mempunyai keturunan pria, tidak mempunyai saudara pria atau yang bapaknya tidak diketahui, 3. Wanita yang tidak mempelajari Weda,

4. Wanita yang anggota tuubuhnya berbulu tebal, terlalu banyak bulu badanya atau tidak ada bulu sama sekali,

5. Wanita yang berpenyakit, 6. Wanita yang cerewet,

7. Wanita yang matanya merah, 8. Wanita yang cacat badanya,

9. Wanita yang memakai nama binatang, pohon, sungai, golongan rendah, gunung, burung, ular, budak, yang menimbulkan rasa takut.

Menurut hukum Budha Indonesia, dilarang melakukan perkawinan dengan orang yang terikat tali perkawinan, yang bertalih darah dalam garis keturunan ke atas ke bawah, garis kesamping (saudara, saudara orang tua atau nenek), dan dalam hubungan susunaan (orang tua susun, saudara susun, dan bibi atau paman sesusunan).38

Dokumen terkait