• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Data dan Analisis

5.1.2. Aspek Biofisik

5.1.2.3. Aksesibilitas dan Sirkulasi

Kebun Anggrek dapat diakses dengan mudah walaupun letaknya berada di sisi belakang atau sebelah barat laut TKL. Jarak yang harus ditempuh untuk mencapai Kebun Anggrek cukup jauh dari gerbang yakni sekitar 500 m. Kondisi topografi jalan yang bergelombang menambah kesan jauh tersebut.

Di sebelah barat Kebun Anggrek terdapat akses dari Desa Buku berupa jalan yang ditutupi oleh perkerasan berupa plester dari semen yang mulai berlumut. Hal ini membahayakan karena jalan menjadi licin jika turun hujan. Akses masuk utama Kebun Anggrek berupa jembatan yang menghubungkan Kebun Anggrek dengan areal TKL lainnya yang terpisah oleh Kali Bangkong. Jembatan ini terletak di sisi selatan Kebun Anggrek, berdekatan dengan Bumi Perkemahan. Setelah melintasi jembatan, untuk mencapai ke dalam kawasan Kebun Anggrek terdapat akses berupa jalan yang ditutupi oleh conblock. Jalan ini dapat dilewati oleh kendaraan bermotor roda dua maupun empat milik pengelola. Saat ini kondisi jalan tersebut cukup baik meskipun di sela-sela conblock ditumbuhi oleh rumput liar. Kondisi jalan akses menuju Kebun Anggrek dapat dilihat pada Gambar 19.

Gambar 19 Kondisi jalan akses menuju Kebun Anggrek

Jembatan menuju Kebun Anggrek Akses utama menuju Kebun Anggrek Akses dari desa buku Akses Kebun Anggrek dari barat

Dalam area Kebun Anggrek, terdapat jalur sirkulasi yang menghubungkan pintu gerbang dan rumah kaca maupun rumah pengelola berupa tangga. Adanya tangga ini dikarenakan beda ketinggian sebesar 2 m antara letak pintu gerbang dengan rumah kaca dan pengelola. Terdapat pula akses antar rumah kaca berupa jalan bersemen yang saat ini kondisinya mulai ditumbuhi rumput liar di sisi sampingnya.

Di sebelah selatan rumah kaca, tepatnya di area yang dipenuhi oleh pohon jati terdapat akses menuju Sungai Progo. Akses ini tidak mudah dilalui karena kondisi jalur sirkulasi di dalamnya belum memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna. Sirkulasi hanya berupa jalan setapak hasil bukaan dari semak yang tumbuh di sela-sela pohon jati sehingga orang yang melintasinya mengalami kesulitan dengan semak yang masih melintang dan menghalangi orang untuk melangkah. Kondisi jalur sirkulasi di dalam Kebun Anggrek dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20 Kondisi jalur sirkulasi di dalam Kebun Anggrek

Sirkulasi berupa jalan setapak hasil bukaan dari semak yang tumbuh di sela-sela pohon jati ini memungkinkan pengunjung dapat mengakses Sungai Progo dari dalam Kebun Anggrek padahal keberadaan Sungai Progo dapat membahayakan bila sungai sedang mengalir deras. Bahaya yang ditimbulkan

berupa kemungkinan pengunjung terseret ke dalam aliran sungai mengingat antara Kebun Anggrek dengan Sungai Progo tidak dibatasi oleh pengaman berupa pagar maupun vegetasi. Hal ini memungkinkan pengunjung Kebun Anggrek memiliki kesempatan mengakses Sungai Progo dengan bebas. Untuk itu perlu pembatas antara Kebun Anggrek dan Sungai Progo untuk membatasi pengunjung mengakses Sungai Progo secara bebas. Pembatasnya dapat berupa vegetasi yang ditanam rapat. Vegetasi yang dipilih berupa semak agar pemandangan Sungai Progo masih bisa terlihat dari dalam Kebun Anggrek. Kondisi akses dan sirkulasi Kebun Anggrek saat ini secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 21.

5.1.2.4. Hidrologi

Air merupakan elemen yang dibutuhkan di Kebun Anggrek karena menyangkut aktivitas budidaya anggrek mulai dari pembibitan sampai pembesaran anggrek yang tidak lepas dari kebutuhan akan pengairan. Sistem pengairan di Kebun Anggrek menggunakan air tanah. Air tanah dari sumur diteruskan ke tandon, dari tandon kemudian dialirkan melalui kran-kran yang telah dipasang pada masing-masing rumah kaca. Limbah air kemudian dibuang melalui saluran drainase yang telah dibuat menuju ke Kali Bangkong. Kali Bangkong ini terletak di selatan Kebun Anggrek. Kali Bangkong merupakan irigasi sekunder kota yang berasal dari Kali Bening. Kali Bening sendiri adalah irigasi primer Kota Magelang. Dari Kali Bangkong ini air limbah Kebun Anggrek dialirkan menuju ke Sungai Progo. Gambar 22 menunjukkan diagram alir sistem pengairan di Kebun Anggrek saat ini.

Gambar 22 Diagram alir sistem pengairan di Kebun Anggrek

Sumber air di Kebun Anggrek berasal dari air tanah yang digali dari sumur yang terletak di belakang rumah pengelola (Gambar 23). Keberadaan air tanah ini

Air Tanah Sumur Tandon Kran

Saluran Drainase Kali Bangkong

Sungai Progo

sangat penting karena digunakan untuk kegiatan budidaya anggrek dalam kebun. Oleh karena itu, keberadaan air tanah tersebut harus dipertahankan agar ketersediannya dapat menunjang kebutuhan air rumah kaca. Selain itu, ketersediaan air bersih dibutuhkan untuk menunjang wisata yaitu pelayanan wisata seperti toilet yang keberlangsungannya tergantung pada air bersih.

Gambar 23 Kondisi hidrologi di Kebun Anggrek dan sekitarnya

Pola drainase pada Kebun Anggrek mengikuti topografi yang miring dari utara ke selatan. Ada dua bentuk pola drainase pada tapak, yaitu drainase alami dan buatan (Gambar 24). Sistem drainase yang sering dijumpai pada tapak adalah draianse alami. Drainase alami ini mengalir dari bagian yang tinggi ke bagian yang lebih rendah dan akhirnya ke Sungai Progo sebagai buangan terakhir. Dari drainase alami ini dapat terlihat aliran permukaan yang terdapat pada tapak.

Kali Bangkong Sungai Progo

Tandon Saluran drainase Saluran drainase

Untuk mempertahankan ketersediaan air dalam tanah, maka siklus hidrologi di tapak harus dijaga agar berlangsung dengan baik. Aliran permukaan (run-off) yang merupakan bagian dari siklus hidologi berpengaruh terhadap ketersediaan air tanah karena jika aliran permukaan ini cepat, maka kesempatan air untuk tersimpan dalam tanah kecil sekali begitupun sebaliknya. Aliran permukaan yang cepat ini juga dapat mengakibatkan erosi tanah. Oleh karena itu, area-area yang berpotensi memiliki aliran permukaan cepat perlu untuk tindakan yang dapat menekan laju aliran permukaannya, misalnya melalui penanaman penutup lahan berupa vegetasi yang dapat menahan air dalam tanah.

Dokumen terkait