C. Kondisi Biotik
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Aktivitas Harian
mulai dan akhir aktivitas, pola penggunaan waktu meliputi data lama waktu dan frekuensi.
2. Perilaku makan yang dilakukan oleh Rekrekan, meliputi cara makan, sikap tubuh yang dilakukan, ketinggian pada saat Rekrekan makan, dan posisi makan pada strata tajuk pohon.
3. Makanan yang dimakan oleh Rekrekan, meliputi jenis tumbuhan dan bagian yang dimakan.
4. Ukuran kelompok dan struktur kelompok berdasarkan jenis kelamin dan struktur umur.
5. Karakteristik habitat, meliputi kondisi fisik habitat, tipe habitat, dan tipe vegetasi.
6. Kondisi fisik lingkungan (cuaca, suhu dan kelembaban) pada saat pengamatan.
D. Pengenalan Lapangan
Kegiatan pengenalan lapangan merupakan kegiatan pendahuluan yang dilakukan guna mengetahui jumlah dan struktur kelompok dan wilayah jelajah kelompok Rekrekan. Kegiatan pengenalan lapangan mencakup : 1. Pengenalan kondisi lapangan lokasi penelitian.
2. Pengenalan kelompok-kelompok Rekrekan yang akan diamati 3. Pengenalan jenis-jenis tumbuhan pakan Rekrekan.
E. Metode Pengambilan Data 1. Aktivitas Harian
Pengamatan aktivitas harian Rekrekan dilakukan dengan metode
scan sampling. Pengamatan dilakukan setiap hari berdasarkan waktu aktifnya. Pengamat harus menjaga jarak dengan kelompok yang diikuti
agar tidak mengganggu aktifitas hariannya. Jarak pengamat dengan kelompok tergantung pada posisi kelompok Rekrekan di atas pohon dan kondisi topografi lokasi penelitian. Pencatatan data perilaku dilakukan dengan metode continous recording. Pada metode ini ditujukan untuk mencatat kenyataan perilaku yang terjadi, baik frekuensi maupun lamanya terjadinya suatu perilaku.
2. Perilaku Makan
Pengamatan perilaku makan dilakukan berdasarkan kelompok Rekrekan. Pada pengamatan perilaku makan ada pengkategorian pada parameter yang diamati diantaranya yaitu :
a. Sikap tubuh pada saat makan dikategorikan menjadi 2 yaitu duduk dan menggantung.
b. Ketinggian pada saat Rekrekan makan dikategorikan menurut interval 5 m.
c. Posisi makan pada pohon dibagi menjadi 9 bagian.
Gambar 2. Pembagian ruang pohon. 3. Pakan
Pengamatan makanan yang dimakan yang meliputi jenis pohon dan bagian yang dimakan dapat diamati secara langsung dilapangan ketika Rekrekan melakukan perilaku makan. Selain itu, dilakukan
5m 5 m 5 m 2 m
pengoleksian feses sebagai pembanding hasil pengamatan langsung. Feses diawetkan dengan menggunakan alkohol 70% kemudian dianalisis di Laboratorium Konservasi Eksitu Satwaliar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan IPB.
4. Karakteristik Habitat
Informasi mengenai karakteristik habitat diperoleh melalui analisis vegetasi. Metode yang digunakan adalah Metode Garis Berpetak yaitu dengan membuat petak-petak contoh di sepanjang jalur pengamatan (Kusmana, 1997). Ukuran petak adalah 20 x 20 m untuk tingkat pertumbuhan pohon. Dalam petak dibuat sub plot berukuran 2 x 2 m untuk tingkat pertumbuhan semai, 5 x 5 m untuk tingkat pertumbuhan pancang dan 10 x 10 m untuk tingkat pertumbuhan tiang. Data yang dikumpulkan untuk tingkat pertumbuhan pohon dan tiang adalah jenis pohon, diameter setinggi dada, tinggi bebas cabang, dan tinggi total. Untuk tingkat pertumbuhan pancang dan semai meliputi jenis tumbuhan dan jumlah individu setiap jenis.
10 m
Arah jalur 10 m
Gambar 3. Bentuk jalur analisis vegetasi. 5. Kondisi Fisik Lingkungan
Informasi tentang cuaca dilakukan dengan mendeskripsikan pada saat pengamatan. Cuaca dikategorikan menjadi empat kategori yaitu cerah, mendung, hujan gerimis, dan hujan lebat. Untuk data suhu dan kelembaban didapat dengan melakukan pengukuran dilapangan dengan menggunakan termometer kering dan basah.
F. Analisis Data 1. Aktivitas Harian
Analisis data aktivitas harian dilakukan dengan analisis deskriptif yaitu penguraian dan penjelasan mengenai parameter yang diukur dan diamati kemudian disajikan dengan analisis grafik.
2. Perilaku Makan
Analisis data perilaku makan dilakukan dengan analisis deskriptif yaitu penguraian dan penjelasan mengenai parameter dalam perilaku makan yang diukur dan diamati. Selain itu, dilakukan juga dengan analisis grafik yaitu menyajikan parameter perilaku makan yang diukur dan diamati melalui metode grafik dan interpretasinya.
3. Pakan
Analisis pakan Rekrekan dilakukan dengan analisis deskriptif kemudian dianalisis dengan menggunakan grafik kemudian diinterpretasikan. Penentuan tingkat seleksi rasio, mengacu pada Kool (1993) dan Fashing (2001) yaitu dengan rumus :
, dimana
Keterangan : SR = Seleksi rasio BA = Basal area
D = Diameter batang 4. Karakteristik Habitat
Analisis data dilakukan deskriptif dan grafik. Berdasarkan kegiatan pengukuran vegetasi dengan menggunakan Metode Garis Berpetak akan diperoleh informasi mengenai kerapatan relatif, dominansi relatif, dan frekuensi relatif suatu jenis yang dihitung menggunakan rumus-rumus sebagai berikut:
a. Kerapatan Relatif Suatu Jenis (KR)
c. Frekuensi Relatif Suatu Jenis (FR)
d. Indeks Nilai Penting untuk Tingkat Pohon dan Tiang e. Indeks Nilai Penting untuk tingkat semai dan pancang f. Indeks Keanekaragaman Jenis
, dimana
Keterangan : H´ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener ni = Indeks nilai penting suatu jenis
IV. KONDISI UMUM LOKASI
A. Kondisi Fisik 1. Letak dan Luas
Lokasi penelitian secara geografis terletak diantara 109° 35' - 109° 37' BT dan 07° 02' - 07° 00' LS dan secara administratif terletak di desa Gutomo kecamatan Karanganyar kabupaten Pekalongan provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan tipe penggunaan lahan, lokasi penelitian masuk kedalam wilayah RPH Pringsurat BKPH Kesesi KPH Pekalongan Timur dan Perkebunan karet kebun Blimbing PT. Perkebunan Nusantara IX. Luas dan batas-batas lokasi penelitian mengacu pada luas dan batas secara administratif desa Gutomo seluas 403764 ha dengan batas desa yaitu :
a. Sebelah utara, dibatasi oleh desa Kulu dan desa Tanjungkulon kecamatan Karanganyar.
b. Sebelah barat, dibatasi oleh desa Brengkolang dan desa Pringsurat serta desa Sukoyoso kecamatan Karanganyar.
c. Sebelah selatan, dibatasi oleh desa Kutorembet kecamatan Lebakbarang dan desa Brengkolang kecamatan Karanganyar.
d. Sebelah timur, dibatasi oleh desa Medolo dan desa Kutorembet kecamatan Lebakbarang serta desa Limbangan kecamatan Karanganyar.
2. Topografi dan Tanah
Lokasi penelitian memiliki ketinggian tempat berkisar antara 150-900 m d.p.l. dengan topografi kawasan bervariasi mulai datar, bergelombang dan berbukit serta kemiringan lahan berkisar antara 0-40%. Beberapa bukit yang terdapat di lokasi penelitian antara lain Igir Moyanan (714 m d.p.l), Igir Siangin (548 m d.p.l), Igir Selo (532 m d.p.l), Igir Sidosukmo (660 m d.p.l), Igir Silutung (431 m d.p.l), Igir Kaliarus (888 m d.p.l) dan Igir Kelapadua (563 m d.p.l).
Mardiyanah (2005) menyatakan bahwa secara geologis lokasi penelitian terbagi menjadi tiga tipe yaitu aluvium facies gunung api, daerah hasil gunung api kwarter tua dan daerah facies gunung api. Sedangkan jenis tanah di lokasi penelitian yaitu jenis grumosol dan latosol.
3. Iklim
Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, iklim di lokasi penelitian dan sekitarnya tergolong tipe iklim B dengan nilai Q sebesar 33% yaitu tipe iklim tanpa musim kering dan tergolong kedalam hutan hujan tropika yang selalu hijau. Adapun curah hujan sebesar 3540 mm dengan curah hujan rata-rata 1794-2533 mm/tahun dan jumlah hari hujan 194 hari. Suhu rata-rata harian di lokasi penelitian berkisar antara 23,25-26,15°C dengan kelembaban udara rata-rata sebesar 90%.
4. Hidrologi
Lokasi penelitian masuk ke dalam wilayah Sub das Sragi Das Sragi SWP Pemali Comal BPDAS Pemali Jratun dan merupakan wilayah tangkapan air yang sangat penting bagi wilayah sekitarnya. Di lokasi penelitian mengalir dua sungai besar yaitu sungai Sukoyoso dan Sibedil. Sungai Sukoyoso merupakan gabungan dari beberapa anak sungai yaitu kali Tapen, kali Sikabrug, kali Arus, kali Sipetot, kali Wungu dan kali Silutung. Kedua sungai tersebut mengalir ke sungai Sragi dan bermuara ke Laut Jawa.
B. Kondisi Biotik 1. Flora
Lokasi penelitian merupakan ekosistem hutan dataran rendah. Menurut Whitten et al. (1999), hutan dataran rendah dicirikan dengan keanekaragaman jenis yang tinggi dan adanya keberadaan jenis-jenis tertentu seperti Wesnu (Kleinhovia hospita), Putat (Barringtonia spicata), dan Bendo (Arthrocarpus elastica)
Beberapa jenis tumbuhan lain yang ditemui di lokasi penelitian diantaranya adalah Sapi (Pometia pinnata), Rau (Dracontomelon
mangiferum), Antap (Sterculia coccinea), Cangkok (Chisocheton
divergens), dan jenis-jenis bambu seperti Bambu Apus (Gigantochloa
apus) dan Bambu Petung (Dendrocalamus asper) serta ditemukan juga jenis-jenis anggrek.
2. Fauna
Lokasi penelitian merupakan habitat dari berbagai jenis satwa langka dan dilindungi. Mamalia primata yang terdapat didalamnya antara
lain adalah Owa Jawa (Hylobates moloch), Rekrekan (Presbytis
fredericae), Lutung (Trachypithecus auratus), dan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). Satwa ungulata yang ada antara lain Kijang (Muntiacus muntjak) dan Babi Hutan (Sus scrofa). Sedangkan untuk satwa karnivora yaitu Macan Tutul (Panthera pardus). Di lokasi penelitian juga ditemukan beberapa burung pemangsa seperti Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) dan Elang Ular Bido (Spilornis cheela) serta jenis rangkong yaitu Julang emas (Aceros undulatus).
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Aktivitas Harian dan Wilayah Jelajah 1. Aktivitas Harian
Aktivitas harian diamati dengan mengambil dua sampel kelompok. Kedua kelompok yang diamati memiliki struktur kelompok yang berbeda. Kelompok A memiliki tipe satu jantan-banyak betina (one male-multi
female) dengan komposisi satu jantan dewasa, empat betina dewasa, satu betina pradewasa, satu remaja dan dua anak. Sedangkan kelompok B memiliki tipe semua jantan (all male bands) dengan komposisi dua jantan dewasa, dua jantan pradewasa, dan satu jantan remaja. Penentuan kelompok yang diamati berdasarkan pertimbangan kondisi topografi yang memungkinkan pengamat untuk mengamati kedua kelompok.
Berdasarkan 609 jam 17 menit pengamatan pada kedua kelompok, aktivitas harian Rekrekan dimulai antara pukul 04:48-06:39 WIB dan berakhir pukul 17:23-18:13 WIB. Jenis aktivitas harian setiap hari relatif sama, namun lamanya aktifitas yang dilakukan bervariasi. Menurut Strier (2000), aktivitas harian primata merupakan respon terhadap perubahan panjang hari tahunan, temperatur, dan curah hujan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aktivitas harian Rekrekan lebih ditentukan oleh panjang hari tahunan dan kondisi cuaca. Distribusi aktifitas harian Rekrekan selama penelitian terdapat pada Gambar 4.
Berdasarkan Gambar 4, alokasi waktu harian Rekrekan lebih banyak digunakan untuk istirahat sedangkan aktivitas makan dan berpindah mempunyai alokasi waktu yang lebih kecil. Hal ini merupakan bentuk adaptasi Rekrekan dalam perilaku hariannya untuk mengkonservasi energi. Faktor lain yang mempengaruhi yaitu berhubungan dengan makanan. Makanan Rekrekan lebih didominasi oleh daun yang memiliki kandungan serat yang tinggi sehingga dalam proses pencernaannya membutuhkan waktu yang lama untuk memprosesnya menjadi energi.
Aktifitas harian Rekrekan dimulai dengan aktivitas makan, karena biasanya Rekrekan bermalam pada pohon makanannya atau berada dekat dengan pohon makanannya. Pada saat awal aktivitas makan, jantan dewasa terlebih dahulu duduk di tajuk atas pohon pakan untuk mengawasi kondisi sekitarnya dan apabila kondisi telah aman jantan dewasa akan ikut makan bersama anggota kelompok yang lain. Setelah aktivitas makan, biasanya Rekrekan akan mulai melakukan pergerakan untuk mencari sumber makanan yang lain.
Aktivitas berpindah pada Rekrekan lebih banyak menggunakan bagian tengah tajuk dan turun ke tanah apabila jalur pergerakan terputus karena fragmentasi. Ketika melakukan pergerakan Rekrekan cenderung menggunakan jalur yang sama dengan jenis primata lain seperti Lutung dan Owa Jawa. Apabila di jalur pergerakan terdapat primata lain, Rekrekan akan memilih diam terlebih dahulu atau merubah jalur pergerakannya.
Hasil pengamatan dilapangan didapatkan bahwa meloncat (leaping) lebih banyak digunakan oleh Rekrekan dalam berpindah. Secara morfologi, genus Presbytis memiliki kaki belakang yang lebih panjang dibandingkan kaki depan dan tubuh yang memanjang serta lengan yang ramping sehingga karakteristik ini mendukung untuk melakukan leaping. Selain itu genus ini tersebar pada habitat yang memiliki kondisi tajuk yang tidak kontinyu sehingga leaping menjadi alternatif yang tepat terkait dengan penggunaan energi (Fleagle, 1988).
Menurut Gebo et al. (1994), intensitas meloncat Colobus badius akan meningkat apabila terdapat ancaman dari luar seperti kehadiran manusia dan predator. Hal ini kemungkinan terjadi pada penelitian ini,
kondisi kelompok yang belum terhabituasi memungkinkan Rekrekan lebih banyak menggunakan tipe leaping dalam berpindah. Beberapa tipe Rekrekan dalam berpindah terdapat pada Gambar 5.
Sumber: Rinaldi (1985) dan Kartikasari (1986)
Gambar 5. Tipe berpindah Rekrekan.
Pergerakan kelompok A diinisiasi oleh individu jantan dengan individu betina dewasa memimpin pergerakan dan individu jantan berada dibelakang kelompok sedangkan pada kelompok B individu jantan dewasa dominan berperan sebagai inisiasi dan penentu arah pergerakan dengan jantan dewasa kedua memimpin pergerakan dan jantan dewasa dominan berada dibelakang kelompok. Strategi ini bertujuan untuk melindungi individu muda dalam kelompok dari predator serta dimaksudkan untuk proses belajar anggota kelompok muda dalam
mengenal, memetakan, dan mengetahui siklus phenologi jenis pohon pakan.
Awal pergerakan kedua kelompok tidak selalu ditandai oleh panggilan keras (loud call). Pada kelompok B lebih sering teramati pergerakan diawali dengan suara “nguk” oleh jantan dewasa dominan untuk memanggil individu lain yang bergerak dengan arah berlainan. Adanya anggota kelompok yang tidak sekerabat atau sekeluarga menyebabkan tingkat kohesi antar individu kelompok rendah dan memungkinkan tipe suara ini lebih sering digunakan pada kelompok B.
Aktivitas bersuara teramati ketika Rekrekan melakukan aktivitas pergerakan, makan, dan sosial. Menurut Delgado (2006), perilaku bersuara khususnya loud call berfungsi sebagai fungsi spasial antar kelompok, koordinasi sosial, dan seleksi sosial. Dalam kaitannya dengan fungsi spasial antar kelompok, menurut Mitani dan Stuht (1999), loud call merupakan adaptasi suara untuk meningkatkan pengakuan wilayah dalam jarak yang jauh. Aktivitas bersuara Rekrekan terbagi kedalam beberapa tipe suara dan penggunaannya diantaranya yaitu :
a. “chek kek kek kek kek kek kek kik”
Tipe suara ini disebut juga loud call, terjadi selama 2-3 detik. Saat dikeluarkan biasanya loud call didahului dengan meloncat (leaping). Suara ini dikeluarkan oleh jantan dewasa dan jantan pradewasa. Pada jantan pradewasa suara yang dikeluarkan belum sempurna. Tipe suara ini dikeluarkan ketika terdapat gangguan berupa kehadiran manusia atau predator dan saat kelompok berada atau bertemu dengan kelompok lain di tepi wilayah jelajahnya. Suara ini juga dikeluarkan pada saat terdapat pohon tumbang (Ruhiyat, 1983).
b. “nguk/kruk”
Tipe suara ini dikeluarkan oleh jantan dewasa, biasanya terjadi ketika saling terpisah antar anggota kelompok dan sebagai sinyal pergerakan. Tipe suara ini lebih banyak teramati pada kelompok B. c. “chek”
Tipe suara ini merupakan suara tarikan nafas dari hidung. Dikeluarkan oleh individu jantan dan betina dewasa. Suara ini dilakukan pada saat ada ancaman dari luar misalnya kehadiran manusia atau predator.
d. “chek kek kek kek kek”
Tipe suara ini hampir sama dengan loud call tetapi dalam durasi yang lebih pendek, antara 0,5-1 detik. Dikeluarkan oleh individu jantan dewasa, dilakukan ketika terdapat individu dari kelompok yang tertinggal dalam pergerakan dan ketika ancaman akibat manusia atau predator telah menjauh. Ketika individu jantan mengeluarkan tipe suara ini biasanya individu lain akan menyahuti dengan suara “wec
chek kik” e. “nyiet”
Tipe suara ini dikeluarkan oleh anak saat terpisah dengan induknya. Ketika tipe suara ini dilakukan seringkali disertai dengan meringis. Biasanya induk akan menyahuti dengan suara “nyieet” yang lebih melengking dan panjang.
f. “nyieet”
Tipe suara ini dikeluarkan oleh betina dewasa dan remaja. Pada betina dewasa, dilakukan ketika induk terpisah dengan anaknya. Sedangkan pada remaja suara ini dihasilkan pada saat berkumpul setelah pergerakan. Suara ini juga dikeluarkan pada saat kondisi telah aman dari bahaya dan biasanya dikeluarkan setelah merangkul individu lain.
g. “ngeek” dan “ngeok”
Tipe suara ini dikeluarkan oleh anak dan remaja pada saat terpisah dengan induknya atau dengan kelompoknya. Pada kelompok B, saat remaja mengeluarkan tipe suara ini biasanya akan disahuti dengan suara “nguk/kruk” oleh jantan dewasa.
h. “ngek”
Tipe suara ini teramati terjadi pada saat kelompok melakukan aktivitas makan. Suara ini dikeluarkan oleh individu remaja, pra remaja dan dewasa, biasanya disebabkan karena terjadi perebutan tempat makan.
Menjelang siang hari, Rekrekan akan melakukan aktivitas istirahat. Saat cuaca cerah biasanya Rekrekan akan beristirahat lebih awal pada pukul 07:00-8:30 WIB dan akan beristirahat kembali pada pukul 11:00-13:30 WIB. Sedangkan pada saat cuaca mendung, Rekrekan mulai beristirahat pada pukul 09:00-11:00 WIB dan akan beristirahat kembali
pukul 13:00-15:00 WIB. Rekrekan dalam aktivitas istirahat lebih memilih pohon dengan tajuk lebat dan berliana. Pemilihan ini dilakukan untuk menghindari adanya predator dan terlindung dari panas matahari. Beberapa sikap tubuh yang digunakan Rekrekan saat aktivitas istirahat terdapat pada Gambar 6.
Sumber: Kartikasari (1986) dan Bismark (1994)
Gambar 6. Sikap istirahat Rekrekan.
Hubungan sosial Rekrekan teramati ketika aktivitas makan, bergerak dan saat atau setelah beristirahat. Hubungan sosial yang dilakukan oleh Rekrekan terbagi menjadi tiga yaitu :
a. Hubungan antara individu dalam kelompok
Hubungan sosial antar individu dalam kelompok yang teramati diantaranya yaitu berkutu-kutuan (grooming). Grooming berfungsi untuk menghilangkan ektoparasit dan untuk mempererat hubungan antar individu dalam kelompok. Hasil pengamatan pada kelompok A
grooming terjadi antara betina dewasa dengan jantan dewasa, betina dewasa dengan betina pradewasa, betina dewasa dengan remaja, dan betina dewasa dengan anak. Grooming antara betina dewasa dengan anak lebih banyak teramati. Hal yang sama juga terjadi pada
yang lama pada saat grooming dengan kerabat terdekatnya (Borries, 1992).
Hubungan sosial lain yang teramati yaitu berhubungan dengan perilaku kawin yaitu proses merayu untuk kawin (solicit mating), kawin (copulation), kawin semu (pseudocopulation), dan perilaku belajar. Pada kelompok A, perilaku kawin/kopulasi teramati selama ±5 detik dan diawali dengan loud call yang terus menerus oleh jantan. Sedangkan pada kelompok B tidak teramati adanya kopulasi karena semua anggota kelompok memiliki jenis kelamin jantan dan perilaku kawin hanya berupa proses belajar yang dilakukan oleh individu remaja terhadap jantan dewasa dan biasanya diawali dengan suara “nyiet” dan meringis.
Solicit mating teramati pada saat Rekrekan melakukan aktivitas makan. Solicit mating dilakukan oleh betina dewasa dengan cara mengangkat ekor dan menunjukkan alat kelaminnya pada jantan, akan tetapi solicit mating yang teramati tidak terjadi proses kawin. Sedikit berbeda dengan Semnopithecus entellus, solicit mating seringkali dilakukan juga dengan menggelengkan kepala kepada jantan dan kemudian terjadi perilaku kawin (Newton, 1987).
Hubungan sosial antar individu juga teramati pada betina dewasa dalam kaitannya dengan reproduksi adalah pseudocopulation yaitu individu betina seolah-olah berperan sebagai individu jantan dewasa melakukan perilaku kawin terhadap betina lain. Psedocopulation merupakan strategi reproduksi pada individu betina untuk menekan betina lain melakukan solicit mating terhadap jantan sehingga jantan tidak tergoda dan kawin dengan betina yang melakukan solicit mating.
Perilaku sosial juga teramati setelah perilaku istirahat adalah bermain. Bermain lebih banyak dilakukan oleh remaja dan anak. Biasanya ditunjukkan dengan saling kejar, dorong atau berguling. Pada kelompok A, aktivitas bermain satu kali teramati dilakukan di tanah sedangkan kelompok B tidak pernah teramati bermain di tanah. Selain itu, perilaku sosial juga teramati pada saat makan berupa menjaga anak individu lain (infant-handling). Biasanya dilakukan oleh individu pradewasa terhadap anak individu lain.
b. Hubungan antar kelompok
Hubungan antar kelompok ditunjukkan dengan aktivitas bersuara (loud call) di batas teritorinya dan akan terjadi konflik apabila kelompok saling bertemu di tepi wilayah jelajahnya. Selama pengamatan tercatat kelompok A satu kali konflik dengan kelompok lain sedangkan kelompok B tercatat tiga kali konflik dengan kelompok lain. Biasanya konflik terjadi di wilayah jelajah kelompok yang berada di perkebunan karet yang merupakan jenis yang memiliki kontribusi tinggi pada kedua kelompok. Menurut Korstjens et al. (2005), meningkatnya sifat agresif
Colobus polykomos polykomos dengan kelompok lain disebabkan karena ketersediaan makanan di lokasi yang penting, keberadaan bayi/anak, sifat mau menerima pada betina terhadap betina lain dan selama bulan-bulan ketika kelompok mempertahankan dan mengkonsumsi biji dari Pentaclethra macrophylla.
c. Hubungan dengan satwa lain
Hubungan dengan satwa lain teramati baik bersifat agresif maupun toleran. Hubungan yang bersifat agresif tercatat dua kali terjadi dengan Owa Jawa (Hylobates moloch) pada saat keduanya bertemu di sekitar pohon buah dan ketika Owa Jawa berada dekat dengan kelompok Rekrekan yang sedang konflik dengan kelompok lain. Selain itu, dua kali konflik juga terjadi dengan Jelarang (Ratufa
bicolor) dan Punai Gading (Treron vernans) saat kelompok makan buah Cangkok dan Mbulu serta teramati juga empat kali konflik dengan Elang Ular Bido (Spilornis cheela) dan Elang Brontok (Spizaetus
cirrhatus) saat Rekrekan beristirahat. Hubungan yang bersifat toleran teramati ketika Rekrekan bergerak dan makan bersama dengan Lutung (Trachypithecus auratus) dan Monyet Ekor Panjang (Macaca
fascicularis).
Sore hari biasanya Rekrekan akan melakukan aktivitas makan lagi kemudian akan bergerak menuju pohon tidur. Rekrekan memilih tempat tidur pada pohon tertinggi yang terletak di punggungan atau lembahan. Berdasarkan pengamatan, Rekrekan menggunakan lokasi dan pohon tidur yang sama dan seringkali bermalam berdekatan dengan Lutung apabila pohon tidur digunakan terlebih dahulu oleh Lutung dan Monyet Ekor Panjang. Pada kelompok A, selama pengamatan tidak teramati tidur
dalam satu pohon sedangkan kelompok B enam kali teramati tidur dalam satu pohon. Perbedaan cara tidur kedua kelompok dipengaruhi oleh ukuran kelompok dan ukuran tajuk pohon tidur yang ada di dalam wilayah jelajah kedua kelompok.