• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Kondisi Biotik

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Wilayah Jelajah

Panjang perjalanan harian dan wilayah jelajah pada sub famili Colobinae ditentukan oleh variasi faktor ekologi dan perilaku seperti curah hujan dan waktu penyinaran, konsumsi makanan, ketersediaan dan kelimpahan makanan, ukuran kelompok, struktur sosial, lokasi pohon tidur, dan kompetisi antar kelompok.

Berdasarkan hasil analisis spasial, kelompok B melakukan perjalanan harian lebih jauh antara 694-1269 m sedangkan pada kelompok A perjalanan harian dilakukan antara 576-1146 m. Apabila dihubungkan dengan ukuran kelompok hasil ini bertentangan dengan Fashing (2001) pada Colobus guereza bahwa perjalanan harian akan meningkat seiring dengan ukuran kelompok. Pada penelitian ini, perjalanan harian lebih ditentukan oleh variasi makanan, distribusi dan kelimpahan makanan yang disukai seperti buah dan biji serta tingginya intensitas manusia di dalam wilayah jelajah kedua kelompok.

Kelompok A memiliki luas wilayah jelajah sebesar 54,55 ha yang meliputi hutan sekunder, kebun masyarakat, dan perkebunan karet sedangkan kelompok B menempati wilayah yang kurang produktif dengan luas jelajah yang lebih kecil yaitu 48,16 ha meliputi semak belukar, hutan pinus, pemukiman, dan perkebunan karet. Hal yang sama juga terjadi pada kelompok all male Semnopithecus entellus yang menempati habitat kurang produktif dengan keanekaragaman pohon pakan rendah dan tajuk yang lebih tidak kontinyu (Bennet dan Davies, 1994).

Hasil luas wilayah jelajah Rekrekan pada penelitian ini lebih besar dibandingkan wilayah jelajah Surili (Presbytis comata) dalam Ruhiyat (1983) di Kamojang dan Patenggang dengan luas wilayah jelajah antara 35-40 ha dan 14 ha dan luas wilayah jelajah Surili di hutan Haurbenteus dalam Sujatnika (1991) yaitu sebesar 12-15 ha. Sedangkan luas wilayah jelajah Rekrekan jauh lebih kecil bila dibandingkan wilayah jelajah Surili di Taman Nasional Gede-Pangrango yang memiliki luas wilayah jelajah antara 76-82 ha (Arifin, 1992). Perbedaan luas wilayah jelajah ini terjadi

karena adanya perbedaan kondisi ekologi dan tingkat gangguan manusia dari tiap lokasi penelitian.

Kedua kelompok yang diamati mengalami tumpang tindih wilayah jelajah. Luas wilayah jelajah kedua kelompok mengalami tumpah tindih sebesar 2,49 ha. Tumpah tindih terjadi pada daerah yang terdapat pohon buah dan biji serta kedua kelompok menggunakan pohon tersebut sebagai pohon makanannya. Hal ini membuktikan bahwa buah dan biji merupakan komponen penting dalam ekologi makan Rekrekan berkaitan dengan pola penggunaan ruang secara horizontal pada Rekrekan. Wilayah jelajah kedua kelompok yang diamati dan overlapnya terdapat pada Gambar 7.

Gambar 7. Peta wilayah jelajah kelompok yang diamati.

B. Perilaku Makan

Aktivitas makan Rekrekan dapat dibedakan dalam tiga periode waktu berdasarkan kondisi cuaca. Saat cuaca cerah, Rekrekan akan melakukan aktivitas makan pada pukul 05:00-07:00 WIB kemudian istirahat lebih awal dan akan mulai makan kembali pada pukul 08.30-11.00 WIB dan sore hari menjelang tidur. Sedangkan pada saat cuaca mendung, Rekrekan akan makan dari bangun pagi sampai pukul 09:00 WIB kemudian akan beristirahat

sampai pukul 11:00 WIB. Rekrekan akan makan kembali pada pukul 11:00-13:00 WIB dan pukul 15:00 WIB sampai menjelang tidur. Perbedaan pola waktu aktivitas makan Rekrekan dikarenakan adanya kebutuhan energi untuk menjaga suhu tubuh berhubungan dengan kondisi cuaca. Seperti halnya pada Colobus guereza yang melakukan aktivitas berjemur dan meminimalisir pergerakan untuk menjaga panas tubuhnya karena udara dingin (Dasilva, 1992).

Aktivitas makan Rekrekan bervariasi menurut jenis dan bagian yang dimakan. Pada pagi hari Rekrekan lebih banyak melakukan aktivitas makan di pohon buah atau biji yang disukainya seperti Cangkok (Chisocheton

divergens), Karet (Hevea brasiliensis), Songgolangit (Arthrophyllum

javanicum), Mbulu (Ficus annulata), Aceh (Nephelium lappaceum), dan Bendo (Arthrocarpus elastica), sedangkan pada siang sampai sore hari makanan lebih di dominasi oleh daun muda. Menurut Clutton dan Brock (1977), konsumsi buah dan biji pada pagi hari dimaksudkan sebagai pengganti energi yang hilang pada malam hari. Akan tetapi menurut Davies (1991), pada Presbytis rubicunda tidak terjadi perbedaan antara konsumsi buah pada pagi hari dan siang hari. Bila dikaji dari kandungan nutrisinya, menurut Waterman dan Kool (1994), buah dan biji memiliki kadar tannin, protein dan serat yang rendah tetapi memiliki kandungan lemak dan karbohidrat yang tinggi sehingga lebih mudah dalam proses pencernaannya sehingga kekurangan energi lebih cepat terpenuhi. Hal ini kemungkinan menjadi dasar bagi Rekrekan dalam mengkonsumsi buah dan biji pada pagi hari dan strategi ini juga diduga berhubungan dengan kebutuhan energi untuk perjalanan hariannya.

Aktivitas makan Rekrekan seringkali teramati makan bersama dengan Lutung di pohon Mbulu, Cangkok, dan Ares. Adanya perbedaan bagian yang dimakan dan toleransi pembagian tajuk memungkinkan tidak terjadi konflik antar keduanya, misalnya pada saat Rekrekan dan Lutung makan bersama di pohon cangkok, Rekrekan akan makan buah serta bijinya dan lebih memilih buah yang telah matang sedangkan Lutung lebih memilih makan kulit buah pada buah yang belum matang dan keduanya akan saling berbagi tajuk tempat makan. Menurut Bennet dan Davies (1994), hal ini terjadi karena adanya ciri morfologi lambung yang berbeda sehingga mempengaruhi strategi makan kedua genus ini.

1. Cara dan Sikap Makan

Rekrekan menggunakan sikap dan cara makan bervariasi dalam aktivitas makannya. Menurut Gaber (1987), perbedaan dalam posisi berperilaku disebabkan oleh perubahan tahunan dalam makanan, perjalanan harian, strategi dalam mencari makan, pola perilaku, dan interaksi sosial. Cara dan sikap makan Rekrekan dalam mendapatkan makanan terdapat pada Gambar 8.

Sumber: Fleagle (1988) dan Bismark (1994)

Gambar 8. Cara makan Rekrekan.

Cara makan Rekrekan bervariasi berhubungan dengan letak atau posisi bagian yang dimakan di pohon, dukungan cabang tempat makan (ukuran, orientasi, dan kelenturan) serta tipe percabangan dari pohon pakan. Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat dua cara makan yang digunakan. Pertama, Rekrekan akan menarik cabang dan memasukkan makanan ke mulut. Cara ini dilakukan Rekrekan saat makan makanan yang terletak di ujung percabangan dengan kelenturan cabang tinggi. Cara makan ini sering teramati pada saat Rekrekan makan bunga Sempu (Dillenia obovata) dan Walisongo (Schefflera grandiflora), pucuk kayu Karet (Hevea brasiliensis), dan saat makan buah dan biji Prempeng (Mallotus peltatus). Kedua, dengan cara mematahkan atau mengambil

satu persatu bagian makanan. Cara ini lebih umum digunakan saat Rekrekan makan. Cara makan ini juga lebih sering digunakan oleh remaja

Macaca radiata (Dunbar dan Gadam, 2000).

Rekrekan dalam mengeksploitasi makanannya lebih banyak menggunakan sikap duduk dibandingkan sikap menggantung. Pada kelompok A dari 83,38 jam pengamatan aktivitas makan, 83,15 jam menggunakan sikap duduk sedangkan sikap menggantung hanya 0,23 jam dan kelompok B mengalokasikan waktu makannya untuk sikap menggantung lebih besar yaitu 2,33 jam sedangkan sikap duduk sebesar 88,88 jam dari 91,21 jam aktivitas makan. Perbedaan alokasi waktu sikap makan yang digunakan oleh kedua kelompok berhubungan dengan total waktu pengamatan, kelimpahan jenis tumbuhan pakan yang harus diakses dengan posisi menggantung, dan distribusi makanan yang disukai.

Menurut Gebo dan Chapman (1995), penggunaan posisi duduk yang tinggi dalam aktivitas makan Colobus guereza dan Colobus badius dipengaruhi oleh dukungan dari cabang tempat makan, ketinggian, dan penggunaan tajuk saat aktivitas makan. Sedangkan pada Alouatta

seniculus penggunaan posisi duduk yang tinggi lebih dipengaruhi oleh kelimpahan buah (Youlatos 1998). Alokasi waktu posisi yang digunakan dalam aktivitas makan Rekrekan terdapat pada Gambar 9.

Gambar 9. Alokasi waktu sikap makan Rekrekan.

Rekrekan menjaga keseimbangan tubuhnya dalam sikap duduk dengan cara membagi tumpuan tubuh pada beberapa cabang secara

menyamping (lateral) dan seringkali teramati menggunakan ekor sebagai penumpu terutama ketika makan di percabangan pohon yang daya dukung terhadap massanya kecil. Menurut Dunbar dan Gadam (2000), strategi ini dimaksudkan untuk memperluas daya dukung cabang terhadap berat badan Rekrekan sehingga dapat meningkatkan keseimbangan tubuhnya.

Sikap menggantung hanya teramati pada saat Rekrekan makan buah dan biji Kembang (Cananga odorata) dan Bendo (Arthrocarpus elastica), pucuk kayu Karet (Hevea brasiliensis), dan daun muda Sembukan (Paederia scandens) dan Gorang (Aralia dasyphilla). Penggunaan posisi mengantung lebih ditentukan oleh posisi bagian yang dimakan, pemilihan cabang penopang saat aktivitas makan dan kelenturannya.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tipe tajuk tidak berpengaruh pada penggunaan sikap menggantung. Dari empat pohon dan satu herba yang diakses dengan sikap menggantung, tidak semua tumbuhan pakan memiliki arsitektur pohon yang sama. Arsitektur pohon yang sama hanya pada Karet (Hevea brasiliensis) dan Bendo (Arthrocarpus elastica) yaitu tipe Rauh sedangkan Kembang (Cananga

odorata), Sembukan (Paederia scandens) dan Gorang (Aralia dasyphilla), masing masing memiliki tipe tajuk Roux, Stone, dan Chamberlain. Contoh sikap makan Rekrekan terdapat pada Gambar 10.

(a) (b)

Gambar 10. Sikap makan Rekrekan; (a) menggantung; (b) duduk.

2. Penggunaan Ruang Makan

Aktivitas makan Rekrekan bervariasi berdasarkan ruang makannya. Rekrekan melakukan aktitas makan mulai dari tanah sampai bagian tajuk atas pohon. Ketika kondisi ketersediaan makanan kurang

Rekrekan akan turun ke bagian bawah tajuk dan lapisan bawah hutan (understory). Distribusi penggunaan ruang pada sub famili Colobinae dipengaruhi oleh distribusi pakan secara vertikal, adanya predator dan tipe vegetasi (Li 2007; Solanki et al. 2008a). Alokasi waktu aktivitas makan Rekrekan berhubungan dengan penggunaan ruang vertikal pohon terdapat pada Gambar 11.

Gambar 11. Alokasi waktu penggunaan ruang vertikal pohon.

Ket: pt: pangkal-tengah; tu: tengah-ujung; bt: bawah-tengah; bp: bawah-pinggir; tt: tengah-tengah; tp: tengah- pinggir; at: atas-tengah; ap: atas-pinggir

Berdasarkan Gambar 11, aktivitas makan kelompok A lebih banyak menggunakan ruang at dan hanya berbeda sedikit dengan waktu yang digunakan pada ruang tp dan ap. Biasanya kelompok A menggunakan ruang at pada saat makan buah dan atau biji, pucuk daun serta daun muda. Menurut Perica (2001) dan Houle et al. (2007), bagian atas tajuk memperoleh cahaya matahari untuk fotosintesis yang lebih tinggi dibandingkan bagian bawah tajuk sehingga bagian atas tajuk umumnya memiliki daun yang kaya nitrogen dan protein dan memiliki buah yang lebih melimpah, ukuran lebih besar dan memiliki kepadatan yang tinggi dibandingkan bagian bawah tajuk.

Aktivitas makan kelompok B lebih banyak menggunakan ruang tp yaitu selama 24,11%. Kelompok B menggunakan ruang tp pada saat makan buah dan atau biji dan pucuk kayu. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Solanki et al. (2008a), pada Trachypithecus pileatus yang lebih banyak menggunakan bagian tepi tajuk saat aktivitas makannya karena

pada bagian tersebut memiliki kelimpahan daun muda yang tinggi yang menjadi makanan utama Trachypithecus pileatus.

Aktivitas makan Rekrekan lebih banyak berada di tajuk pohon sebesar 96,48% dan hanya 3,52% berada di tanah. Perilaku makan di tanah dilakukan Rekrekan pada saat ketersediaan makanan di tajuk kurang. Rekrekan biasanya turun ke tanah pada lokasi yang tetap. Selama penelitian, Rekrekan teramati melakukan aktivitas makan di tanah pada saat makan buah dan biji Cangkok (Chisocheton divergens), biji Karet (Hevea brasiliensis), daun muda Uyah-uyahan (Mikania micrantha) dan tanah.

Aktivitas makan di tanah dipengaruhi oleh keberadaan predator. Di lokasi penelitian predator terhadap Rekrekan yang dijumpai baik langsung maupun tak langsung terdiri dari Macan Tutul, Anjing Kampung, Elang Ular Bido dan Elang Brontok. Selama penelitian hanya teramati tiga kali Rekrekan konflik dengan Anjing Kampung saat makan di tanah. Ancaman yang rendah dari predator memberikan keuntungan yang besar bagi Rekrekan karena permukaan tanah memiliki kondisi yang kontinyu dan tidak terpisah bila dibandingkan dengan tajuk pohon sehingga lebih mudah dalam mengakses makanan dan dapat mengurangi energi yang dikeluarkan pada saat aktivitas makan.

Faktor yang lain yang berpengaruh dalam aktivitas makan Rekrekan di tanah yaitu tipe vegetasi. Tipe vegetasi berpengaruh dalam ketersediaan dan kelimpahan pakan Rekrekan secara vertikal maupun horizontal dalam wilayah jelajahnya. Adanya siklus phenologi yang berbeda tiap jenis tumbuhan membatasi makanan yang disukai Rekrekan di pohon, sehingga Rekrekan akan mencari makanan yang berada di tajuk bagian bawah atau tanah. Pengaruh tipe vegetasi terhadap perilaku makan di tanah terjadi juga pada Rhinopithecus roxellana yang akan turun ke tanah untuk memakan lumut karena ketersediaan makanan di tajuk pohon kurang (Li, 2007).

Aktivitas makan di tanah pada Rekrekan juga dipengaruhi oleh persaingan baik antar kelompok maupun antar jenis. Persaingan antar kelompok dan antar jenis akan mengurangi ketersediaan dan kelimpahan pakan di dalam habitatnya sehingga dibutuhkan alternatif makanan yang

lain. Aktivitas makan di tanah oleh Rekrekan merupakan salah satu adaptasi untuk mengatasi kekurangan makanan akibat persaingan.

(a) (b)

Gambar 12. Aktivitas makan Rekrekan di tanah.

Rekrekan melakukan aktivitas makan dengan ketinggian yang bervariasi. Penggunaan ketinggian pada saat makan dipengaruhi oleh tipe vegetasi khususnya ketingggian pohon pakan dan distribusi dan kelimpahan makanan secara vertikal dan persaingan antar jenis. Alokasi penggunaan waktu Rekrekan dalam berbagai ketinggian terdapat pada Gambar 13.

Gambar 13. Alokasi waktu aktivitas makan Rekrekan pada berbagai ketinggian.

Berdasarkan Gambar 13, Kelompok A lebih banyak melakukan aktivitas makan pada selang ketinggian antara 6-10 m sedangkan kelompok B lebih banyak menggunakan ketinggian antara 0-5 m. Kelompok A menempati wilayah jelajah yang lebih didominasi oleh tiang dan pohon yang memiliki ketinggian antara 6-15 m sehingga sebaran

makanan utama berupa buah, biji, dan daun muda lebih banyak terdapat pada selang ketinggian ini. Sedangkan kelompok B sebagian besar wilayah jelajahnya berupa kebun karet dan hutan pinus. Habitat kebun karet memberikan kontribusi yang tinggi dalam makanan kelompok B akan tetapi tidak memberikan variasi makanan yang cukup. Untuk mendapatkan variasi makanan makanan yang cukup kelompok B lebih banyak berada di tajuk bawah hutan pinus untuk makan tumbuhan merambat dan pancang. Kedua kelompok memiliki proporsi yang kecil pada selang ketinggian antara 16-20 m karena dalam wilayah jelajah keduanya jarang terdapat pohon pakan yang memiliki ketinggian >16 m.

Adanya jenis simpatrik membatasi penggunaan ketinggian Rekrekan pada saat makan. Di dalam wilayah jelajah kelompok A ditempati juga oleh tiga kelompok Lutung, satu kelompok Owa Jawa dan satu kelompok Monyet Ekor Panjang sedangkan kelompok B wilayah jelajah tumpang tindih dengan dua kelompok Lutung (satu individu soliter) dan satu kelompok Monyet Ekor Panjang. Kelompok A, makanan didominasi oleh daun muda dan biji, lebih banyak menggunakan tajuk bagian atas dan selang ketinggian antara 6-10 m sedangkan kelompok B makanan lebih didominasi oleh daun muda, lebih banyak memanfaatkan tengah tajuk dan selang ketinggian antara 0-5 m. Dibandingkan dengan jenis simpatrik lainnya menurut Kool (1993), Lutung lebih banyak makan daun muda dan sedikit buah dan lebih banyak berada di tajuk bagian atas dan Owa Jawa makanan lebih didominasi oleh buah dan lebih banyak memanfaatkan tajuk bagian atas sedangkan Monyet Ekor Panjang makanan lebih didominasi oleh buah dan lebih banyak aktivitas makan berada pada tajuk bagian bawah dan tanah. Perbedaaan ini menunjukkan pada jenis simpatrik terjadi adaptasi baik secara philogenetik maupun ekologinya sehingga berpengaruh dalam ekologi makannya termasuk pemilihan makanan dan penggunaan ketinggian.

C. Makanan

1. Keanekaragaman Pohon Pakan

Rekrekan menggunakan tumbuhan pakan yang bervariasi pada wilayah jelajahnya. Kelompok A, menggunakan 56 jenis dari 34 famili sebagai makanannya yang berasal dari 71,43% pohon, 7,14% liana, 7,14% herba memanjat, 3,57% perdu, 3,57% herba, 3,57% epifit, 1,79%

semak, dan 1,79% rumput (bambu) sedangkan kelompok B memiliki jumlah jenis pakan yang lebih sedikit yaitu 45 jenis dari 29 famili. Jenis yang yang dimakan berupa 48,89% pohon, 22,22% liana, 13,33% herba memanjat, 4,44% rumput (bambu), 2,22% semak, 2,22% perdu dan 2,22% epifit. Kedua kelompok makan 24 jenis tumbuhan pakan yang sama. 32 jenis tumbuhan pakan (57,14%) hanya dimakan oleh kelompok A dan 21 jenis tumbuhan pakan (46,67%) hanya dimakan oleh kelompok B.

Menurut Stanford (1991), Kool (1993), Li et al. (2003), dan Solanki

et al. (2008b) bahwa perbedaan jumlah jenis dan komposisi bagian yang dimakan disebabkan adanya perbedaan tipe habitat berhubungan dengan keberadaan dan ketersediaan makanan pada wilayah jelajahnya. Kedua kelompok menempati perkebunan karet sebagai wilayah jelajahnya. Pada wilayah ini keanekaragaman pohon pakan cenderung homogen, sehingga untuk mendapatkan variasi makanan, Rekrekan lebih tergantung pada keanekaragaman pohon pakan di hutan lindung, kebun masyarakat, dan hutan pinus. Kelompok A menempati habitat yang lebih produktif karena sebagian besar wilayah jelajahnya menempati hutan lindung dan kebun masyarakat yang lebih beragam jenis tumbuhannya, sedangkan kelompok B menempati wilayah jelajah yang kurang produktif berupa hutan pinus dan kebun masyarakat. Di hutan pinus, kelompok B lebih banyak makan herba memanjat dan liana sehingga menyebabkan kelompok B memiliki persentase makanan dari liana yang lebih tinggi dibandingkan kelompok A.

Berdasarkan Tabel 3, 15 jenis tumbuhan pakan yang dimakan oleh kelompok A dimakan juga oleh kelompok B akan tetapi hanya lima jenis yang memiliki kontribusi ≥1% terhadap kelompok B. Jenis tersebut yaitu Karet (Hevea brasiliensis), Pucung (Pangium edule), Iwil-iwil (Melochia sp), Sengon (Paraserienthes falcataria) dan Kembang (Cananga odorata). Jenis tumbuhan pakan yang memberikan kontribusi ≥1% pada kedua kelompok terdapat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jenis pohon pakan yang memberikan kontribusi ≥1% pada aktivitas makan Rekrekan.

No Nama lokal Nama latin Famili

% Waktu makan (a) Kelompok A

1 Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae 27,28

2 a Cangkok Chisocheton divergens Meliaceae 8,38

3 Aceh Nephelium lappaceum Sapindaceae 7,32

4 Pakis galar Cyathea contaminans Cyatheaceae 6,77

5 Pucung Pangium edule Flacourticeae 5,98

6 Jambon Acmena acuminafissima Myrtaceae 4,79

7 Saga Adenanthera microsperma Fabaceae 4,32

8 Celuruh Pericamphylus glaucus Menispermaceae 4,01

9 Jengkol Pithecellobium lobatum Mimosaceae 3,02

10 Mbulu Ficus annulata Moraceae 2,64

11 a Mbawang Mangifera foetida Anacardiaceae 2,25

12 a Kayu jaran Lannea grandis Anacardiaceae 1,78

13 Kebeg Ficus padana Moraceae 1,72

14 Sengon Paraserienthes falcataria Fabaceae 1,63

15 Iwil-iwil Melochia sp. Sterculiaceae 1,60

16 Sengon jawa Albizia chinensis Fabaceae 1,46

17a Dedek merangan Vernonia arborea Asteraceae 1,44

18 Kembang Cananga odorata Annonacae 1,43

19a Prempeng Mallotus peltatus Moraceae 1,40

20 Laban Vitex pubescens Verbenaceae 1,40

21a Walisongo Schefflera grandiflora Araliaceae 1,17

(b) Kelompok B

1 Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae 26,14

2b Songgolangit Arthrophyllum javanicum Araliaceae 13,36

3b Ares Parartocarpus venenosus Moraceae 11,51

4 Bendo Arthrocarpus elastica Moraceae 11,45

5 Samparkidang Merremia umbellata Convolvulaceae 5,54

6b Wesnu Kleinhovia hospita Sterculiaceae 4,05

7b Rambanan Unidentified Vitaceae 3,67

8 Pucung Pangium edule Flacourticeae 2,55

9 Iwil-iwil Melochia sp. Sterculiaceae 1,92

10b Sembukan Paederia scandens Rosaceae 1,73

11b Lenggukan Ipomoea fistulosa Convolvulaceae 1,52

12 Kembang Cananga odorata Annonacae 1,49

13b Wono alas Smilax sp. Smilacaceae 1,21

14 Sengon Paraserienthes falcataria Fabaceae 1,20

15b Entotan Passiflora foetida Passifloraceae 1,00

Ket : a : jenis yang hanya dimakan kelompok A; b : jenis yang hanya dimakan kelompok B

Jenis tumbuhan pakan yang dimakan kedua kelompok lebih banyak dikontribusikan dari famili Moraceae yaitu 5 jenis. Umumnya pohon-pohon dari famili Moraceae memiliki ukuran pohon dan tajuk yang besar sehingga menghasilkan buah dan daun muda yang melimpah bagi Rekrekan. Selain itu, aktivitas makan pada pohon yang memiliki tajuk besar memungkinkan individu dalam kelompok makan secara kontinyu pada sumber makanan yang sama.

Famili Moraceae juga memberikan kontribusi yang penting pada ekologi makan Trachypithecus auratus sondaicus dalam Kool (1993),

Colobus guereza dalam Fashing (2001) dan Trachypithecus pileatus dalam Solanki et al. (2008a). Lama waktu makan Rekrekan per jenis tumbuhan pakan tidak berhubungan dengan basal area dan kepadatan pohon per ha kecuali pada Karet (Hevea brasiliensis). Hal ini dikarenakan kedua kelompok menempati sebagian wilayah jelajah yang berupa perkebunan karet dan hampir semua bagian dari karet dimakan oleh Rekrekan. Berbeda dengan Rekrekan, menurut Gupta (2007) dan Soendjoto (2005), pada Trachypithecus phayrei dan Nasalis larvatus karet merupakan makanan yang penting karena hampir semua bagian jenis ini dimakan oleh kedua Colobinae akan tetapi karet tidak menjadi makanan utama kedua jenis tersebut. Hubungan antara basal area, kepadatan pohon per ha dan waktu makan terdapat pada Tabel 4.

Tabel 4. Sepuluh pohon yang memiliki basal area tertinggi di wilayah jelajah kedua kelompok.

Nama latin Famili % Basal

area Pohon/ ha % Waktu makan (a) Kelompok A

Turpinia sphaerocarpa Staphyleaceae 34,03 5,56 0,00

Ficus benjamina Moraceae 17,69 3,70 0,00

Hevea brasiliensis Euphorbiaceae 13,09 71,30 27,28

Arthrocarpus elastica Moraceae 3,93 9,26 0,04

Dillenia obovata Dilleniaceae 2,47 2,78 0,40

Barringtonia spicata Myrtaceae 2,11 19,44 0,00

Pometia pinnata Sapindaceae 2,28 3,70 0,00

Artocarpus heterophyllus Moraceae 1,62 12,96 0,00

Acer laurinum Aceraceae 1,66 1,85 0,00

Durio zibethinus Bombacaceae 1,52 11,11 0,00

(b) Kelompok B

Hevea brasiliensis Euphorbiaceae 66,06 204,17 26,14

Pinus merkusii Pinaceae 26,91 83,33 0,00

Artocarpus elastica Moraceae 1,86 1,39 11,45

Ficus variegata Moraceae 1,55 4,17 0,00

Melochia sp. Sterculiaceae 1,01 2,78 1,92

Acalypha grandis Euphorbiaceae 0,34 1,39 0,00

Parkia speciosa Mimosaceae 0,28 1,39 0,00

Geunsia pentandra Verbenaceae 0,24 1,39 0,00

Cananga odorata Annonacae 0,22 1,39 1,49

Syzygium attenuatum Myrtaceae 0,22 11,11 0,00

Kelompok A menggunakan tiga jenis dari sepuluh jenis yang memiliki basal area tertinggi di wilayah jelajahnya sedangkan kelompok B lebih banyak dengan empat jenis. Dari tiga jenis yang dimakan oleh kelompok A, persentase waktu yang digunakan sebesar 27,72%

sedangkan kelompok B lebih tinggi dengan 41,00% waktu makan dari empat jenis. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kelompok melakukan pemilihan terhadap jenis dan bagian yang dimakan serta menunjukkan bahwa kelompok A lebih selektif terhadap makanannya dibandingkan dengan kelompok B.

2. Komposisi Makanan

Komposisi makanan pada Rekrekan bervariasi berdasarkan proporsi waktu yang digunakan. Kedua kelompok relatif makan bagian makanan yang sama tetapi menggunakan proporsi waktu makan yang berbeda. Perbedaan komposisi bagian yang dimakan oleh kedua kelompok dipengaruhi oleh adanya perbedaan vegetasi, phenologi pohon pakan, kelimpahan dan ketersediaan makanan, serta kandungan nutrisi dan energi. Persentase proporsi waktu makan kedua kelompok berhubungan dengan bagian tumbuhan yang dimakan terdapat pada Gambar 14.

Gambar 14. Proporsi waktu bagian yang dimakan pada kedua kelompok.

Daun, baik dari daun muda maupun daun tua memiliki peranan penting pada makanan Rekrekan. Sub famili Colobinae memiliki struktur morfologi lambung yang kompleks serta proses pencernaan yang dibantu oleh bakteri mikroflora sehingga karakteristik ini menguntungkan bagi Colobinae dalam mencerna makanan berupa daun yang banyak mengandung serat. Pada kelompok A daun muda memiliki proporsi sebesar 31,02% sedangkan kelompok B lebih besar dengan 40,57%. Perbedaan ini selain dipengaruhi oleh kelimpahan daun muda juga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan lain yang berupa biji dan buah.

Habitus tumbuhan pakan yang berkontribusi terhadap daun muda pada kedua kelompok bervariasi. Kelompok A mendapatkan daun muda

Dokumen terkait