V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.5 Aktivitas Pariwisata
Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Cianjur yang terletak di desa Bobojong Kecamatan Mande yang berjarak 17 km dari kota Cianjur, dari Jakarta sekitar 127 km dan dari Kota Bandung 82 km. Objek wisata tirta ini setiap pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp 2.000,00 per orang untuk dapat menikmati rekreasi alam terbuka, berbagai aktivitas yang dapat dilakukan seperti melihat pemandangan sekitar waduk, berperahu, memancing atau hanya sekedar berjalan-jalan dan duduk– duduk bersama teman atau keluarga sambil menikmati makanan yang mereka bawa. Kegiatan berperahu mengelilingi waduk Cirata dikenai tarif sekitar
Rp 25.000,00 – Rp 50.000,00 untuk berperahu selama 2-3 jam. Atraksi yang dapat dinikmati oleh pengunjung pada saat berperahu mengelilingi waduk adalah melihat jaring terapung dan budidaya ikan atau menikmati hidangan berupa ikan bakar/goreng yang disediakan oleh salah satu rumah makan terapung yang terdapat di lokasi tersebut.
Fasilitas penunjang yang tersedia di lokasi Jangari diantaranya pelataran parkir yang cukup luas, namun belum tertata dengan baik. Hal tersebut terlihat pada saat hari libur dengan jumlah pengunjung yang banyak, ruang parkir menjadi tidak teratur. Fasilitas lainnya yaitu toilet umum, namun kondisinya kurang bersih, demikian juga dengan kondisi lingkungan keseluruhan. Saung-saung yang terletak di sepanjang jalan di dekat pusat keramaian Jangari dapat disewa oleh pengunjung untuk duduk-duduk dan beristirahat. Untuk memenuhi kebutuhan
50
wisatawan juga tersedia kios-kios dan warung-warung makanan yang menjual berbagai makanan dan minuman serta barang-barang dagangan lainnya. Selain warung, pedagang kaki lima terlihat cukup banyak menggelar dagangannya. Letak kios dan warung-warung tersebut saat ini belum tertata dengan baik, dan kurang menjaga kebersihan sekitarnya. Kios-kios sebagian besar terletak di tepi
sempadan genangan, sehingga menghalangi pemandangan langsung ke bentangan waduk.
Penambahan daya tarik wisata di Jangari dilakukan setiap hari libur/ besar, pihak pengelola menyediakan atraksi-atraksi kesenian tradisional maupun modern yang digemari oleh para pengunjung seperti jaipongan atau musik dangdut. Saat ini pengelolaan objek dan daya tarik wisata Jangari dilaksanakan oleh Pemda Cianjur, yaitu Dinas Perhubungan dan Pariwisata, mengingat lokasi tersebut berada pada wilayah administrasi Kabupaten Cianjur. Selain Jangari, lokasi lainnya relatif belum berkembang dan dikunjungi wisatawan adalah PLTA Waduk Cirata. Padahal lokasi dimana dam site Cirata berada potensial untuk
dikembangkan sebagai objek wisata pendidikan dan penelitian berbasis teknologi. Pihak pengelola Waduk Cirata (BPWC) bahkan telah memiliki rencana
pengembangan kawasan ini untuk menjadi resor wisata, namun pembangunannya terhambat masalah sumberdaya.
Tabel 22. Jumlah Kunjungan Ke Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Tahun 2001 – 2006.
No Tahun Jumlah (orang)
1 2001 14.425 2 2002 12.596 3 2003 13.831 4 2004 14.721 5 2005 17.663 6 2006 15.550
Sumber : Dinas Perhubungan dan Periwisata Tahun 2007
Tabel 22 menunjukan jumlah kunjungan terbesar terjadi pada tahun 2005 sebesar 17.663 orang. Jumlah kunjungan wisata ke Waduk Cirata tiap tahunnya berfluktuatif, dikarenakan banyaknya objek wisata lain di Kabupaten Cianjur yang lebih menarik pengunjung seperti Kebun Raya Cibodas, Istana Kepresidenan Cipanas serta Puncak. Selain itu tingkat promosi dan pengembangan lokasi yang
51
lambat, pengelola cenderung mempertahankan objek wisata unggulan agar terus menghasilkan pendapatan daerah yang lebih tinggi.
5.5.1 Karakteristik Pengunjung a) Daerah Asal
Daerah asal responden pengunjung wisata ke Tirta Jangari Waduk Cirata sebagian besar berasal dari Cianjur (56,67 %), Bandung, Bekasi dan Sukabumi masing- masing sebesar 10,00 %, Bogor (6,67 %), Jakarta dan Ciamis masing- masing sebesar 3,33 %. Tabel 23 dapat menjelaskan lebih rinci mengenai sebaran daerah asal pengunjung wisata.
Tabel 23. Daerah Asal Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Daerah Asal Responden (orang) Persentase (%)
1 Bandung 3 10,00 2 Bekasi 3 10,00 3 Bogor 2 6,67 4 Ciamis 1 3,33 5 Cianjur 17 56,67 6 Jakarta 1 3,33 7 Sukabumi 3 10,00 Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer 2007
b) Umur Pengunjung
Pengelompokan umur pengunjung sebagian besar berkisar antara 20 – 29 tahun dengan persentase sebesar 30,00 %, kemudian kisaran 30 – 39 tahun dan 50 - 59 tahun merupakan persentase terbesar kedua yaitu 20,00 %.
Pengelompokan umur selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 24.
Tabel 24. Kelompok Umur Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Umur (tahun) Responden (orang) Persentase (%)
1 20 - 29 9 30,00 2 30 - 39 6 20,00 3 40 - 49 5 16,67 4 50 - 59 6 20,00 5 60 - 69 3 10,00 6 70 - 79 1 3,33 Jumlah 30 100,00
52
c) Jenis Kelamin
Wisata di Waduk Cirata sebagian besar dikunjungi oleh laki- laki dengan persentase sebesar 90 %, sedangkan pengunjung berjenis kelamin perempuan sebesar 10 %, hal ini dikarenakan kegiatan mengelilingi waduk dengan perahu serta hobi memancing banyak diminati laki- laki dari pada perempuan.
Tabel 25. Jenis Kelamin Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Jenis Kelamin Responden (orang) Persentase (%)
1 Laki- laki 27 90
2 Perempuan 3 10
Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer 2007
d) Status Perkawinan
Pengunjung yang datang sebagian besar berstatus sudah menikah dengan persentase sebesar 80 %, sedangkan yang belum menikah sebesar 20 %.
Komposisi kelompok umur pengunjung menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya status sudah menikah datang ke Waduk Cirata.
Tabel 26. Status Perkawinan Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Status Perkawinan Responden
(orang)
Persentase (%)
1 Belum Menikah 6 20
2 Menikah 24 80
Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer 2007
e) Tingkat Pendidikan
Latar belakang pendidikan pengunjung beragam, sebagian besar
pengunjung memiliki latar belakang pendidikan SMA dengan persentase sebesar 40,00 %, tingkat pendidikan perguruan tinggi memiliki persentase paling kecil sebesar 16,67 %. Rincian data tingkat pendidikan pengunjung disajikan dapa Tabel 27.
53
Tabel 27. Tingkat Pendidikan Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Pendidikan Responden (orang) Persentase (%) 1 SD 7 23,33 2 SMP 6 20,00 3 SMA 12 40,00 4 Perguruan Tinggi 5 16,67 Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer 2007
f) Pekerjaan
Jenis pekerjaan pengunjung Waduk Cirata didominasi oleh wiraswasta sebesar 46,67 %, jenis pekerjaan ini relatif tidak terikat oleh waktu/ jam kerja sehingga kesempatan untuk berlibur lebih besar daripada pegawai swasta (16,67 %) dan Pegawai Negeri Sipil (13,33 %) yang memiliki waktu libur pada akhir pekan atau hari besar. Pengunjung dengan persentase paling kecil bekerja sebagai petani (3,33 %). Rincian jenis pekerjaan pengunjung wisata disajikan pada Tabel 28.
Tabel 28. Pekerjaan Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Pekerjaan Responden (orang) Persentase (%)
1 Ibu Rumah Tangga 2 6,67
2 Petani 1 3,33 3 Pelajar / mahasiswa 3 10,00 4 Wiraswasta 14 46,67 5 Pegawai swasta 5 16,67 6 PNS 4 13,33 7 Pensiunan 1 3,33 Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer 2007
g) Tingkat Pendapatan
Berdasarkan tingkat pendapatan pengunjung sebagian besar berkisar antara Rp 200.000,00 – Rp 800.000,00 per bulan dengan persentase sebesar 53,33 %. Tingkat pendapatan paling tinggi sebesar lebih dari Rp 3.200.000,00 per bulan. Pendapatan pengujung dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, seperti diketahui bahwa jumlah mayoritas pekerjaan pengunjung sebagai wiraswasta yang
berpenghasilan tidak tetap. Tabel 29 dapat menjelaskan lebih rinci tingkat pendapatan pengunjung wisata.
54
Tabel 29. Tingkat Pendapatan Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Pendapatan (Rp) Responden (orang) Persentase (%)
1 200.000 - 800.000 16 53,33 2 800.001 -1.400.000 6 20,00 3 1.400.001 - 2.000.000 4 13,33 4 2.000.001 - 2.600.000 1 3,33 5 2.600.001 - 3.200.000 1 3,33 6 >3.200.000 2 6,67 Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer 2007
h) Sifat Kedatangan
Sifat kedatangan pengunjung mayoritas datang bersama keluarga (50,00 %), pengunjung yang datang bersama kelompok sebesar 30,00 %, sifat
kedatangan bersama pasangan merupakan jumlah persentase terkecil sebesar 6,67 %.Rincian mengenai sifat kedatangan pengunjung wisata disajikan pada Tabel 30.
Tabel 30. Sifat Kedatangan Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Kedatangan Responden (orang) Persentase (%) 1 Sendiri 4 13,33 2 Pasangan 2 6,67 3 Kelompok 9 30,00 4 Keluarga 15 50,00 Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer 2007
i) Motivasi Kunjungan
Liburan merupakan motivasi terbanyak dari pengunjung sebesar 90,00 %, keinginan memanfaatkan libur akhir pekan serta melepas kejenuhan dari aktivitas bekerja menjadi faktor utama kunjungan, motivasi pengunjung mencari
pengalaman baru sebesar 6,67 % dan kegiatan bisnis (3,33 %).
Tabel 31. Motivasi Kunjungan Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Motivasi Kunjungan Responden (orang) Persentase (%)
1 Bisnis 1 3,33
2 Liburan 27 90,00
3 Pengalaman baru 2 6,67
Jumlah 30 100,00
55
j) Jenis Kendaraan
Mobil merupakan kendaraan yang banyak digunakan pengunjung dengan persentase sebesar 46,67 %, hal ini terkait banyaknya sifat kedatangan secara berkelompok dan rombongan. Pengunjung yang menggunakan sepeda motor sebesar 40,00 %, dan 13,33 % pengunjung datang menggunakan angkutan umum.
Tabel 32. Jenis Kendaraan Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Kendaraan Responden (orang) Persentase (%) 1 Mobil 14 46,67 2 Sepeda Motor 12 40,00 3 Umum 4 13.33 Jumlah 30 100.00
Sumber : Data Primer 2007
k) Lama Kunjungan
Pengunjung wisata di waduk Cirata seluruhnya merupakan kunjungan satu hari, artinya para pengunjung tidak menginap atau bermalam karena di lokasi wisata tidak tersedia hotel atau tempat penginapan. Mayoritas pengunjung menghabiskan waktu di lokasi wisata antara 3 – 4 jam (46,67 %) adapun aktivitas pengunjung berupa mengelilingi Waduk Cirata berjarak tempuh 2 jam perjalanan dengan menggunakan perahu motor yang tersedia dan menikmati hidangan ikan bakar. Waktu kunjungan di atas 5 jam, pengunjung menghabiskan waktu untuk aktivitas memancing.
Tabel 33. Lama Kunjungan Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Lama Kunjungan (jam) Responden (orang) Persentase (%)
1 1 – 2 3 10,00 2 3 – 4 14 46,67 3 5 – 6 7 23,33 4 7 – 8 1 3,33 5 9 – 10 3 10,00 6 11 – 12 2 6,67 Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer 2007
l) Biaya Perjalanan
Biaya perjalanan merupakan faktor penting dalam menentukan objek wisata yang dituju, biaya ini meliputi biaya transportasi, biaya konsumsi, biaya
56
dokumentasi, biaya tiket masuk dan parkir serta biaya tak terduga. Besarnya biaya perjalanan bergantung pada daerah asal pengunjung, semakin jauh dari lokasi wisata maka semakin besar biaya yang akan dikeluarkan. Berdasarkan responden selama bulan April hingga Mei 2007 biaya perjalanan terendah sebesar
Rp 39.878,15 yang berasal dari Cianjur, biaya perjalanan terbesar berasal dari Ciamis sebesar Rp 117.500,00. Tabel 34 dapat menjelaskan lebih rinci biaya perjalanan pengunjung wisata berdasarkan daerah asal.
Tabel 34. Biaya Perjalanan Pengunjung Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Bulan April – Mei, Tahun 2007
No Daerah Asal Responden
(orang) Biaya Perjalanan Rata- rata (Rp) 1 Bandung 3 116.708,34 2 Bekasi 3 82.333,67 3 Bogor 2 104.250,00 4 Ciamis 1 117.500,00 5 Cianjur 17 39.878,15 6 Jakarta 1 112.000,00 7 Sukabumi 3 69.666,78 Jumlah 30 642.336,94
Sumber : Data Primer 2007
m) Persepsi Pengunjung
Berdasarkan hasil wawancara, sebanyak 23 responden (76,67 %) dari 30 responden menyatakan bahwa lokasi wisata Waduk Cirata indah. Skala penilaian menunjukan angka 76,67 % berada pada selang 60 % - 79 %, dapat disimpulkan bahwa lokasi wisata di Waduk Cirata memiliki keindahan alam yang indah untuk dinikmati wisatawan. Sebanyak 20,00 % responden nyatakan lokasi wisata cukup indah dan 3,33 % lainnya menyatakan tidak indah karena banyaknya jumlah KJA di perairan waduk sehingga menghalangi pemandangan.
Persepsi kenyamanan yang diperoleh selama penelitian 24 dari 30 responden atau 80,00 % responden menyatakan lokasi wisata merupakan tempat yang nyaman, sedangkan 16,67 % lainnya menilai lokasi wisata kurang nyaman, karena penataan bangunan sebagai fasilitas wisata kurang rapi serta banyaknya keramba jaring apung yang terkesan menghalangi pemandangan. Sebanyak 1 responden (3,33 %) menyatakan tempat wisata yang dikunjungi sangat nyaman. Penilaian persepsi merupakan nilai relatif yang diberikan tiap responden terhadap objek wisata, sehingga persepsi responden satu dengan lainnya akan berbeda.
57
5.5.2 Pendugaan Jumlah Pengunjung
Pendugaan tingkat kunjungan di Waduk Cirata pada tahun 2007 dilakukan melalui pendekatan statistika, yaitu dengan analisis perkembangan tingkat
kunjungan dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2006.
Tabel 35. Tingkat Kunjungan Wisatawan Di Kawasan Wisata Tirta Jangari Waduk Cirata Tahun 2001 - 2006
No Tahun Xi Tingkat Kunjungan (Yi)
1 2001 -3 14.425 2 2002 -2 12.596 3 2003 -1 13.831 4 2004 1 14.721 5 2005 2 17.663 6 2006 3 15.550
Sumber : Dinas Perhubungan dan Periwisata Kabupaten Cianjur 2007
Tabel 35 menunjukan hasil persamaan pendugaan tingkat kunjungan wisatawan ke kawasan wisata Waduk Cirata dengan meregresikan Yi (tingkat kunjungan ke- i) sebagai peubah tidak bebas dan Xi (waktu berkala tahun ke- i) sebagai peubah bebas, sehingga menghasilkan persamaan :
Y = 14798 + 514X
R2 = 0,504 Fhit = 4,058 thit = 2,015
Persamaan di atas menunjukan R2 sebesar 0,504 yang berarti bahwa Xi (variabel bebas) dapat menjelaskan Yi (variabel tidak bebas) sebesar 50,4 % sedangkan 49,6 % dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukan ke dalam persamaan. Untuk mengetahui pendugaan tingkat kunjungan wisata Waduk Cirata, maka X = 4 yang merupakan waktu berkala pada tahun 2007 di masukan ke dalam persamaan di atas dan menghasilkan dugaan tingkat kunjungan tahun 2007 sebesar 16.854 orang.
Hasil perhitungan uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh bersama- sama variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (tidak bebas). Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh F hitung sebesar 4,058 yang lebih kecil daripada F tabel sebesar 7,71 pada selang kepercayan 95 %, berarti variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas. Hasil uji t pada persamaan di atas juga menunjukan bahwa peubah bebas tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tidak bebas. Hal ini ditunjukan dengan nilai t hitung sebesar 2,015 < T tabel 2,77 atau P- value 0,114 > 0,05, yang artinya peubah waktu kunjungan tidak
58
berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan ke Waduk Cirata baik pada saat liburan sekolah ataupun liburan akhir pekan, hal ini disebabkan banyaknya lokasi wisata lain di Kabupaten Cianjur yang lebih menarik wisatawan.
5.5.3 Fungsi Permintaan Rekreasi
Tingkat kunjungan wisatawan dipengaruhi oleh biaya perjalanan, pendapatan wisatawan per tahun, jarak ke lokasi, karakteristik wisatawan, keindahan dan kenyamanan lokasi wisata serta banyaknya frekuensi berkunjung ke lokasi wisata yang keseluruhannya mengambarkan tingkat kepuasan wisatawan terhadap lokasi atau obyek wisata.
Fungsi permintaan rekreasi di Waduk Cirata diperoleh dengan
meregresikan biaya perjalanan, pendapatan per tahun, jarak, umur, serta tingkat pendidikan wisatawan. Dengan mengunakan pendekatan linier berganda, diperoleh model permintaan sebagai berikut :
Ln Q = 4,054 - 0,616 LnX1 + 0,354LnX2- 0,955LnX3 - 0,128LnX4 + 1,107LnX5
Nilai- nilai koefisien hasil analisis regresi di atas diuraikan dalam Tabel 36.
Tabel 36. Koefisien Penduga Fungsi Permintaan Kawasan Wisata Waduk Cirata
Variabel Koefisien Penduga
Konstanta 4,054
Biaya Perjalanan (X1) - 0,616
Pendapatan per Tahun (X2) 0,354
Jarak (X3) - 0,955 Umur (X4) - 0,128 Pendidikan (X5) 1,107 R-Sq (R2) 0,345 F hitung 2,528 Durbin Watson 1,796
Sumber : Data Primer (diolah) 2007
Tabel 36 menunjukan nilai terhadap permintaan sebesar – 0,616 yang artinya apabila terjadi perubahan biaya perjalanan sebesar 1 % maka akan menurunkan tingkat kunjungan wisatawan sebesar 0,616 %. Tanda negatif menunjukan bahwa fungsi permintaan tersebut terdapat hubungan terbalik antara biaya perjalanan dengan tingkat kunjungan. Apabila terjadi kenaikan biaya
59
perjalanan ke Waduk Cirata akan menyebabkan penurunan tingkat kunjungan ke lokasi tersebut.
Koefisien Determinasi (R2) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen (Nugroho 2005). Tabel 36 menunjukan bahwa nilai R2 sebesar 0,345 artinya 34,5 % variabel dependen (tingkat kunjungan) dijelaskan oleh variabel bebas yang digunakan, yaitu biaya perjalanan, pendapatan per tahun, jarak, umur serta pendidikan, dan 65,5 % lainnya dijelaskan oleh variabel lain di luar variabel yang digunakan seperti lama kunjungan, jenis kendaraan yang digunakan, pekerjaan, status pernikahan, motivasi kunjungan, sifat kedatangan, serta persepsi keindahan dan kenyamanan.
Model regresi di atas kemudian diuji menggunakan uji F yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh model dalam menjelaskan hubungan nyata antara tingkat kunjungan dengan faktor- faktor yang mempengaruhinya. Berdasarkan uji F, diperoleh F hitung 2,528 < F tabel 2,62 pada selang kepercayaan 95 % sedangkan p-value 0,057 > 0,05. Nilai F hitung yang lebih kecil daripada F tabel menunjukan bahwa peubah bebas yang terdapat pada fungsi permintaan model linier berganda tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kunjungan wisata ke Waduk Cirata. Hipotesis yang didapat adalah terima Ho dan
tolak H1 artinya biaya perjalanan, pendapatan per tahun, jarak, umur dan tingkat
pendidikan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kunjungan wisata ke Waduk Cirata hal ini dikarenakan ada faktor- faktor lainnya yang dapat mempengaruhi tingkat kunjungan yang tidak dimasukan ke dalam model, seperti lama kunjungan, musim kunjungan, promosi wisata, persepsi keindahan dan kenyamanan lokasi.
Uji asumsi klasik dan uji t perlu dilakukan untuk membuktikan validitas model dan kurva permintaan rekreasi. Model regresi linier berganda dapat disebut model yang baik jika model tersebut memenuhi asumsi normalitas data dan terbebas dari asumsi- asumsi klasik statistik, baik itu multikolineritas, autokorelasi, dan heteroskesdastisitas (Nugroho 2005). Salah satu uji untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi yaitu Uji Durbin Watson (DW Test). Model dapat terbebas dari dari autokorelasi jika nilai Durbin Watson hitung terletak di daerah no autocorelasi. Hasil DW Test menunjukan angka 1,796
60
dengan jumlah variabel bebas (k) = 5 dan jumlah sampel (n) = 30, dari Tabel DW Test diperoleh batas bawah (dl) = 1,82 dan batas atas (du) = 1,07. Berdasarkan uji Durbin Watson diperoleh nilai sebesar 1,796 yang berarti model berada di luar daerah no autokorelasi, maka dapat disimpukan adanya korelasi antara variabel penggangu periode saat ini dengan variabel penggangu pada periode sebelumnya. Untuk menghilangkan autokorelasi pada model regrasi, dilakukan DW Test menggunakan 1 variabel bebas, yaitu variabel bebas biaya perjalanan pengunjung. Perhitungan DW test menggunakan 1 variabel bebas (biaya perjalanan) dengan jumlah variabel bebas (k) = 1 dan jumlah sampel (n) = 30, hasil yang diperoleh sebesar 1,528 yang berada di luar batas bawah (dl) = 1,33 dan batas atas (du) = 1,49. Berdasarkan uji DW diperoleh nilai sebesar 1,528 yang terletak di daerah no autokorelasi sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi dengan 1 variabel independen terbebas dari asumsi klasik statistik autokorelasi.
Uji multikolineritas diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya variabel independen yang memiliki kemiripan dengan variabel independen lain dalam satu model. Suatu model dapat terbebas dari multikolineritas apabila nilai VIP
(Variance Inflation Factor) tidak lebih dari 10 dan nilai tolerance tidak kurang dari 0,1. semakin tinggi nilai VIP maka semakin rendah nilai tolerance. Hasil perhitungan data pada lampiran 17, VIP untuk biaya perjalanan kurang dari 10 yaitu sebesar 1,831 dan nilai tolerance 0,546. kemudian nilai VIP dan tolerance untuk pendapatan sebesar 2,11 dan 0,474, jarak sebesar 2,132 dan 0,469, lalu umur 1,74 dan 0,575 serta tingkat pendidikan sebesar 0,052 dan 0,328. Dari perhitungan dapat disimpulkan bahwa regresi linier berganda terbebas dari multikolineritas dan dapat digunakan dalam penelitian.
Hasil uji t menunjukan peubah bebas biaya perjalanan, pendapatan, jarak, umur serta pendidikan tidak berpengaruh nyata, karena masing- masing peubah bebas memiliki nilai t hitung sebagai berikut :
1) Peubah bebas biaya perjalanan dengan nilai t hitung - 1,229 < 2,04 atau p-value 0,231 > 0,05, yang artinya peubah tersebut secara individual tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kunjungan. Peningkatan biaya perjalanan tidak berarti akan menurunkan tingkat kunjungan, keinginan
61
akan pemenuhan kepuasan serta kegiatan hobi diduga menjadi fakor untuk datang ke lokasi wisata.
2) Peubah bebas tingkat pendapatan dengan nilai t hitung 0,842 < 2,04 atau p-value 0,408 > 0,05, yang artinya peubah tingkat pendapatan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kunjungan, artinya tidak berarti peningkatan ataupun penurunan pendapatan akan meningkatkan kunjungan wisata.
3) Peubah bebas jarak dengan nilai t hitung – 2, 344 < 2,04 atau p-value 0,028 < 0,05, yang artinya peubah jarak tidak berpengaruh nyata
terhadap tingkat kunjungan wisata. Faktor kepuasan dan kegemaran akan lokasi serta hobi yang dijalankan membuat wisatawan rela menempuh perjalanan yang relatif jauh untuk datang ke lokasi.
4) Peubah bebas umur dengan nilai t hitung – 0,157 < 0,204 atau p-value 0,877 > 0,05, yang artinya peubah umur tidak berpengaruh nyata
terhadap tingkat kunjungan. Artinya objek wisata di Waduk Cirata dapat dinikmati oleh semua umur.
5) Peubah bebas tingkat pendidikan dengan nilai t hitung 0,886 < 2,04 atau p-value 0,385 > 0,05 yang berarti peubah tingkat pendidikan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kunjungan. Artinya tidak semua latar belakang pendidikan dapat berkunjung terkait musim liburan dan libur akhir pekan.
5.5.4 Surplus Konsumen
Surplus konsumen adalah selisih antara tingkat kesediaan membayar dari konsumen (wisatawan) dengan biaya yang harus dibayarkan untuk memperoleh kepuasan pada objek wisata. Frekuensi kunjungan menjadi faktor yang
menentukan tingkat kepuasan konsumen, semakin sering berkunjung maka semakin puas pengunjung terhadap objek atau lokasi wisata.
Frekuensi kunjungan digunakan dalam menghitung surplus konsumen Wisata Waduk Cirata dengan variabel bebas biaya perjalanan yang dikeluarkan wisatawan selama melakukan perjalanan untuk 1 kali kunjungan ke lokasi wisata dan dihitung dengan mengunakan formula sebagai berikut :
62
Q =
β’X
β1Berdasarkan hasil analisis regresi pada persamaan sebelumnya dengan menggunakan pendekatan individual, menghasilkan fungsi permintaan sebagai berikut :
Ln Q = 8,500 - 0,616 LnX Atau
Q = 4914,76884X -0,616
Secara grafik, persamaan di atas digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2. Kurva Permintaan Wisatawan
Pada kurva, sumbu Y menunjukan variabel biaya perjalanan (Rp) sedangkan sumbu X merupakan variabel frekuensi kunjungan wisatawan (kali). Hasil perhitungan luas di bawah kurva permintaan didapat dengan
mengintegralkan fungsi kurva permintaan, sehingga diperoleh :
U = (4914,76884X ) ( ) 0 0,616 - d Q f a
∫
Penentuan batas atas (a) menggunakan data frekuensi kunjungan tertinggi dari responden/ pengunjung, yaitu sebesar 65 kali yang didapat dari hasil
wawancara dengan pengunjung pada saat penelitian dilakukan. Langkah selanjutnya nilai a disubstitusikan ke dalam persamaan, sehingga :
63 CS = (4914,76884X ) ( ) 65 0 0,616 - d Q f
∫
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan software maple 10.0 diperoleh surplus konsumen 1497,52 per individu per tahun. Nilai surplus konsumen berkaitan dengan tingkat kemampuan/ kesejahteraan konsumen yang berkunjung ke lokasi wisata.
5.5.5 Nilai Ekonomi Waduk Cirata Untuk Wisata Tirta
Nilai ekonomi dari Wisata Tirta Waduk Cirata merupakan agregat atau penjumlahan nilai WTP (Willingness To Pay) berupa biaya perjalanan rata- rata pengunjung sebesar Rp 60.178,22 dengan komponen dugaan jumlah pengunjung tahun 2007 sebesar 16.854 orang yang dikalikan dengan surplus konsumen sebesar Rp 1.497,52 serta rata- rata dari frekuensi kunjungan wisatawan sebesar 16,167 kali, maka diperoleh nilai ekonomi Wisata Waduk Cirata sebesar Rp 408.043.590,60. Nilai ekonomi wisata yang dihasilkan Waduk Cirata lebih besar daripada nilai ekonomi wisata Waduk Jatiluhur yang penelitiannya dilakukan oleh Wijaya (2006) dengan nilai ekonomi sebesar Rp 205.521.293,43 serta surplus konsumen yang dihasilkan sebesar Rp 157,94 dengan biaya perjalanan rata- rata sebesar Rp 313.633,33 dan rata- rata frekuensi kunjungan wisatawan sebanyak 5,83 kali.
Nilai ekonomi wisata Waduk Cirata lebih besar dari pada Waduk Jatiluhur dikarenakan biaya perjalanan relatif terjangkau, kemudahan akses jalan, tiket masuk yang terjangkau serta berbagai atraksi wisata menarik di Waduk Cirata.
5.6 Nilai Ekonomi Total Pemanfaatan Waduk Cirata Untuk Perikanan dan Wisata Tirta
Nilai ekonomi total Waduk Cirata merupakan penjumlahan dari nilai ekonomi pemanfaatan kegiatan perikanan dan wisata tirta. Nilai ekonomi kegiatan perikanan dinilai dengan total residual rent yang didapat dari seluruh kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata sebesar Rp 141.015.369.497,95 (99,71 %) per tahun. Nilai ekonomi kegiatan wisata diperoleh berdasarkan nilai total surplus konsumen dari seluruh kunjungan ke kawasan wisata Waduk Cirata sebesar
64
Rp 408.043.590,60 (0,29 %) per tahun. Berdasarkan 2 kegiatan pemanfaatan di Waduk Cirata diperoleh total nilai ekonomi sebesar Rp 141.423.413.088,55 per tahun.
Tabel 37. Nilai Ekonomi Total Pemanfaatan Waduk Cirata Untuk Kepentingan Perikanan dan Wisata Tirta Per Tahun, 2007
No Jenis Pemanfataan Nilai Ekonomi (Rp) Persentase (%)
1 Perikanan (KJA) 141.015.369.497,95 99,71
2 Pariwisata (Wisata Tirta) 408.043.590,60 0,29
Jumlah 141.423.413.088,55 100,00
Sumber : Data Pimer Diolah Tahun 2007