• Tidak ada hasil yang ditemukan

aktivitas pemuatan

Dalam dokumen REASONS TO INVEST IN ADARO (Halaman 114-117)

batubara di Kelanis

Efektif per 11 Juni 2010, Bpk. Garibaldi Thohir telah diangkat menjadi Komisaris dan Bpk. Chia Ah Hoo dan Bpk. M. Syah Indra Aman ditunjuk menjadi Direktur dalam Dewan Direksi dari masing-masing 7 perusahaan konsesi yang tercakup oleh IndoMet Coal Project. Pekerjaan untuk mengidentifikasi pilihan pembangunan berlangsung dengan baik dan Adaro akan menginformasikan hasil fase studi ke pasar pada saat yang tepat.

Merambah ke Hilir: Pit to Power

Dengan mempertimbangkan pasokan listrik yang masih belum memadai dan sektor ketenagalistrikan Indonesia yang diperkirakan akan bertumbuh pesat, Adaro berkeinginan untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan dari batubara Indonesia dengan cara berekspansi ke hilir dan merambah sektor ini. Menurut cetak biru PLN Pengelolaan Energi Nasional untuk tahun 2010-2019, batubara, khususnya batubara berperingkat rendah, diperkirakan akan terus memainkan peran penting dan menyumbangkan kontribusi 59% dari total produksi energi pada tahun 2019, atau tumbuh dari 46% pada tahun 2010. Dengan memasuki sektor ketenagalistrikan, Adaro berencana untuk membuat investasi yang akan memberikan pengembalian yang sehat, sumber arus kas yang stabil dan handal, serta menciptakan basis permintaan yang signifikan bagi Envirocoal-4000.

Per akhir tahun 2010, Adaro mengevaluasi tiga proyek IPP (Independent Power Producer) yang berlokasi di Jawa dan Kalimantan. Adaro sudah menyetujui untuk berpartisipasi dalam saham kepemilikan di suatu konsorsium yang terdiri dari perusahaan-perusahaan ketenagalistrikan yang telah mendapat pengakuan internasional untuk proyek-proyek ini dan berencana untuk mengajukan penawaran pada tahun 2011. Bersama dengan mitra konsorsiumnya, Adaro akan membangun pembangkit listrik yang supercritical, dengan karakteristik biaya konstruksi yang lebih tinggi Adrian Lembong

GENERAL MANAGER - BUSINESS DEVELOPMENT

Sebelum bergabung dengan Adaro, Adrian Lembong bekerja di Sudchemie AG, suatu perusahaan manufaktur Jerman yang memproduksi zat kimia khusus dimana pada jabatan terakhirnya beliau menangani pemasaran dan aplikasi teknis di wilayah Asia Pasifik.

Beliau mulai bekerja di perusahaan ini pada tahun 1998 sebagai process engineer dan menangani berbagai proyek di Jerman, Indonesia dan Meksiko, sebelum memegang jabatan sebagai Site Manager untuk produksi mereka di Indonesia

tetapi menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi pula dan tingkat emisi polusi yang lebih rendah dibandingkan dengan pembangkit listrik subcritical yang menggunakan batubara sub-bituminus berperingkat rendah seperti Envirocoal 4000.

Akuisisi Deposit Batubara

Sebagai bagian dari strategi untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan dari batubara Indonesia, Adaro aktif mencari peluang akuisisi deposit batubara di Indonesia pada tahun 2010. Sebagai perusahaan yang berbasis sumberdaya, Adaro menyadari bahwa kuantitas cadangan batubara bersifat terbatas dan tidak dapat diperbaharui. Walaupun perusahaan akan terus berfokus pada pertumbuhan secara organik dan meningkatkan efisiensi dan integrasi rantai pasokan batubara, Adaro memprediksi adanya peluang untuk melakukan diversifikasi dari operasi yang berkonsentrasi pada tambang tunggal dengan memperluas basis cadangannya melalui akuisisi. Pertumbuhan produksi di masa depan melalui akuisisi juga dapat berperan dalam menunjang aspirasi Adaro untuk mencapai peningkatan kapasitas produksi batubara menjadi 80 juta ton dalam jangka menengah. Dalam memilih investasi tambang batubara, Adaro menggunakan tiga kriteria seleksi yaitu ukuran, lokasi dan kualitas aset.

Menurut Direktorat Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi pada konferensi Coaltrans 2010, Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan batubara yang berlimpah yang masing-masing mencapai 104 miliar ton dan 20 miliar ton, dimana sebagian besar merupakan batubara berperingkat menengah dan rendah. Adaro berkeinginan untuk menerapkan pengetahuan dan keahlian khususnya yang telah

diperoleh dari pengalaman mengembangkan deposit yang ada demi mengembangkan deposit batubara berperingkat rendah lainnya yang juga terletak di lokasi yang jauh menjorok ke darat dan menjadikannya suatu kegiatan yang menguntungkan. Per akhir 2010, Adaro telah mengidentifikasi beberapa target deposit batubara yang berpotensi untuk diakuisisi di Kalimantan dan Sumatera Selatan.

Peningkatan Batubara

Karena pertumbuhan produksi tambang Tutupan ke depannya akan mulai terbatas, dengan tingkat pertumbuhan yang moderat saja, aspirasi Adaro untuk mencapai 80 juta ton akan bergantung pada deposit Wara. Batubara Wara memiliki nilai panas yang lebih rendah dan kelembaban yang lebih tinggi, meskipun masih merupakan batubara termal yang berkualitas tinggi. Adaro menyadari bila kelembabannya bisa dihilangkan secara permanen, pasar untuk batubara Wara maupun batubara berperingkat rendah lainnya akan meningkat. Per akhir tahun 2010, Adaro terus melakukan penelitian untuk mencari teknologi dan metode yang terbaik untuk meningkatkan, atau lebih tepatnya mengeringkan, batubara ini.

Coal Bed Methane (CBM)

Walaupun mungkin tidak ditujukan untuk dijual secara komersial, CBM dapat digunakan sebagai bahan bakar bagi sebagian armada truk, meningkatkan efisiensi dan kesinambungan, dan mengurangi ketergantungan Adaro pada bahan bakar minyak. Per akhir tahun 2010, Adaro masih melanjutkan evaluasi kelayakan pengembangan fasilitas CBM di wilayah konsesi penambangan dan telah mendiskusikan kelayakan proyek dengan beberapa pemain utama di sektor ini.

Low rank

mEdIum rank

HIgH rank

VEry HIgH rank

12.43 0.96 20.22

66.39 52,53mt

Sumber daya:

104,756 miliar ton (mt)

Cadangan:

20,990 miliar ton (mt) 11,55mt

9,41mt 51,83mt

0,23mt

0,002mt 0,001mt

0,15mt

P

Realisasi Perolehan Penawaran Saham Perdana

Per 29 Mei 2009, perolehan dari penawaran saham perdana (IPO) setelah dikurangi biaya IPO sebesar Rp11.846.595.741.289 telah digunakan seluruhnya. Pihak manajemen telah melaporkan hal ini dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada tanggal 3 Juni 2009.

Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Saham ADRO

Pada bulan Desember 2010, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) meningkat signifikan sebesar 46% dan mencapai 3.704 dibandingkan tahun lalu.

Harga saham ADRO juga mengalami peningkatan, yaitu sebesar 47% menjadi Rp2.550.

Selain itu, saham ADRO telah masuk ke dalam beberapa indeks BEI secara konsisten, yaitu Indeks Papan Utama, Pertambangan, Jakarta Islamic Index, LQ45, Kompas100, Bisnis-27, and SRI-Kehati.

Pembayaran dan Kebijakan Dividen Pembayaran Dividen

RUPST tahun 2010 telah menyetujui penggunaan 21,24% dari laba bersih perusahaan tahun fiskal 2009 atau Rp927.592.898.000 untuk pembayaran dividen final. Pada bulan Desember 2010, Dewan Komisaris dan Direksi menyetujui pembagian dividen interim sebesar Rp 315.061.725.700 berdasarkan laporan keuangan tidak diaudit per

Pemegang Saham per 31 Desember 2010

Pemegang Saham Jumlah Lembar

Saham Kepemilikan Domestik

• Ritel 5.513.377.537 17,24

• Perseroan Terbatas 16.453.882.973 51,44

• Dana Pensiun 177.207.000 0,55

• Lainnya 7.381.000 0,02

Sub-Total 22.151.848.510 69,25

Internasional

• Ritel 15.999.000 0,05

• Perseroan Terbatas 9.818.114.490 30,70

• Dana Pensiun -

-• Lainnya -

-Sub-Total 9.834.113.490 30,75

TOTAL 31.985.962.000 100,00

Kepemilikan Pemegang Saham > 5% sampai dengan 30 Desember 2010 Pemegang Saham Jumlah Lembar

Saham Kepemilikan

PT Adaro Strategic Investments 14.045.425.500 43,91%

Garibaldi Thohir 1.967.600.654 6,15%

Sub-Total 16.013.026.154 50,06%

Publik 15.972.935.846 49,94%

Total 31.985.962.000 100,00%

Devindra Ratzarwin SEKRETARIS PERUSAHAAN

Sejak bergabung dengan Adaro pada bulan September 2008, Devindra Ratzarwin menjabat sebagai Deputy Corporate Secretary. Sebelum bergabung dengan Adaro, beliau menjabat Sekretaris Perusahaan PT Darma Henwa Tbk (November 2006-Agustus 2008) dan telah berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri keuangan:

PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) sebagai Deputy General Manager (April 2004 - November 2006), anggota Small Taskforce Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) (Maret – April 2004), Assistant Vice President di BPPN (Juli 2000 – Pebruari 2004), dan PT Bank Permata Tbk (d/h PT Bank Bali Tbk) sebagai Commercial Business Development Manager (April 1996 – Juni 2000). Devindra menyandang gelar Bachelor of Science in Business Administration jurusan Keuangan dari University of Louisiana at Lafayette (terakreditasi oleh American Assembly Collegiate Schools of Business-AACSB), Amerika Serikat (1994) dan Master of Business Administration dari McNeese State University (terakreditasi oleh AACSB), Amerika Serikat (1995).

INFORMASI PEMEGANG SAHAM

4.000

Dalam dokumen REASONS TO INVEST IN ADARO (Halaman 114-117)