• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macan tutul musang luak Musang putih kucing congkok puyuh tikus babi hutan Anjing

kijang Ayam hutan burung pentet Trenggiling burung pipit Landak kukang jawa kera ekor panjang Surili Lutung Tekukur

Gambar 15 Pola aktifitas satwa di TNGC

Terdapat 19 spesies yang tertangkap kamera jebak di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yang terdiri dari 15 jenis mamalia dan 4 jenis aves. Frekuensi perjumpaan satwa dari tinggi ke rendah didominasi oleh babi hutan (Sus scrofa) yang ditemukan aktif hampir disetiap waktu, musang luak (Paradoxurus hermaphroditus) ditemukan aktif pada petang sampai dengan pagi hari dan ditemui hampir di setiap plot pemasangan kamera jebak. Kijang ditemukan aktif hampir setiap waktu dari pagi sampai dengan malam hari, satwa tersebut ditemukan hampir merata di seluruh kawasan TNGC. Kera ekor panjang (M. fascicularis), surili (P. comata) dan lutung (T. auratus) ditemukan aktif pada pagi hingga siang hari, satwa ini banyak ditemukan di Blok Panyusupan, Sigedong, Sayana dan Blok Gunung Putri. Kucing congkok (Felis bengalensis) merupakan jenis satwa yang soliter dan dijumpai aktif sepanjang waktu mulai dari pagi sampai dengan malam hari. Satwa ini terekam kamera jebak hampir setiap lokasi pemasangan kamera jebak. Ayam hutan (Gallus gallus) ditemui pada pagi sampai dengan sore hari, satwa ini persebarannya paling banyak pada hutan dengan tutupan tajuk yang rendah. Di kawasan TNGC yang menjadi habitat preferensial ayam hutan adalah di Blok Sigedong, Resort Mandirancan. Pada blok tersebut terdapat hutan alang-alang yang memiliki tutupan vegetasi rendah. Jenis

aves seperti burung puyuh, pentet, dan tekukur aktif pada pagi sampai dengan siang hari. Trenggiling, landak, kukang jawa, tikus hutan dan sigung ditemukan

aktif mulai petang sampai dengan pagi hari, jenis satwa tersebut bersifat nocturnal. Macan tutul berdasarkan hasil gambar kamera jebak aktif mulai dari petang sampai dengan pagi hari dan bersifat soliter.

Pembagian waktu aktif satwa mangsa macan tutul jawa di kawasan TNGC sesuai dengan hasil gambar dari kamera jebak adalah:

Cathermeral Diurnal Nokturnal dan Crepuscular

S.scrofa M. fascicularis P. hermaphroditus

M. muntjak P. comata M. javanica

F. bengalensis T.auratus H. brachyura

G. gallus N. coucang

Satwa mangsa macan tutul jawa didominasi oleh jenis mamalia baik mamalia kecil maupun mamalia besar. Dari tabel diketahui mamalia besar yang menjadi mangsa macan tutul cenderung aktif pada siang (diurnal) dan sepanjang waktu (cathermeral), hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Van Schaik & Griffiths (1996) yang menuliskan bahwa waktu aktifitas mamalia berkaitan dengan ukuran tubuhnya, mamalia yang berukuran kecil cenderung untuk aktif pada malam hari sebagai strategi menghindari ancaman predator, sedangkan mamalia yang berukuran lebih besar lebih banyak aktif sepanjang hari atau di siang hari.

Faktor Dominan Komponen Habitat

Terdapat 10 peubah yang diduga berpengaruh terhadap keberadaan macan tutul jawa di TNGC dan layak dilakukan pengujian adalah jarak dari pemukiman (X1), jarak dari jalan (X2), jarak dari perkebunan (X3), kelas lereng (X4), jarak lokasi kebakaran (X5), jarak mangsa (X6), jumlah jenis satwa mangsa (X7), jarak sumber air (X8), kerapatan pohon rata-rata (X9) dan jumlah mangsa (X10).

Hasil analisis regresi logistik dengan menggunakan program Minitab 14.0 metode stepwise menunjukkan bahwa peubah yang berpengaruh paling dominan terhadap keberadaan macan tutul jawa di suatu habitat khususnya kawasan TNGC adalah jarak dari pemukiman (X1), kelas kelerengan (X4), jarak satwa mangsa (X6), jumlah jenis mangsa (X7) dan jarak dari sumber air (X8). Analisis ini menghasilkan persamaan regresi sebagai berikut:

Model regresi logistik

Persamaan regresi di atas memberikan suatu indikasi, bahwa:

1. Kenaikan satu satuan jarak pemukiman maka akan meningkatkan peluang keberadaan macan tutul pada suatu habitat sebesar 0,001.

2. Kenaikan satu satuan kelas kelerengan maka akan meningkatkan peluang keberadaan macan tutul jawa pada suatu habitat sebesar 0,61.

3. Penurunan satu satuan jarak mangsa maka akan meningkatkan peluang keberadaan macan tutul jawa pada suatu habitat sebesar 0,125.

4. Kenaikan satu satuan jumlah jenis satwa mangsa maka akan meningkatkan peluang keberadaan macan tutul jawa pada suatu habitat sebesar 0,002.

5. Penurunan satu satuan jarak sumber air maka akan meningkatkan peluang keberadaan macan tutul jawa sebesar 0,547.

Keeratan hubungan antara kelima peubah tersebut dengan keberadaan macan tutul jawa diketahui dari besarnya nilai koefisien determinasi (R2). Persamaan regresi tersebut mempunyai nilai R2 atau concordant sebesar 0,869 (86,9%) yang artinya sebesar 86,9% keragaman peubah respon Y mampu dijelaskan oleh peubah bebas X sedangkan sisanya 13,1% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak masuk dalam model. Hasil perhitungan analisis regresi logistik selengkapnya disajikan pada Lampiran 3.

Hasil analisis regresi ini menunjukkan bahwa macan tutul jawa sangat menghindari gangguan khususnya manusia, sehingga dalam beraktifitas di habitatnya relatif jauh dari perkampungan penduduk. Potensi satwa mangsa yang melimpah menyebabkan macan tutul tidak keluar dari habitatnya di kawasan TNGC yang dibuktikan dengan data bahwa selama ini belum pernah dijumpai macan tutul jawa masuk perkampungan penduduk dan memakan hewan ternak.

Macan tutul jawa sangat membutuhkan air dalam jumlah yang cukup dalam kehidupannya, sehingga dalam beraktifitas khususnya dalam melakukan perburuan dan memakan mangsanya cenderung akan mendekati sumber air. Setelah memakan mangsanya macan tutul biasanya akan mencari air minum untuk membantu metabolisme tubuhnya (Grzimek 1975). Penggunaan air oleh macan tutul jawa hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan minum saja berbeda dengan kucing besar lainnya seperti harimau sumatera yang membutuhkan cukup banyak air terutama untuk berenang dan berendam (Lekagul dan McNeely 1997). Komponen habitat yang utama dalam kehidupan suatu margasatwa terdiri dari makanan, air dan cover (Alikodra 2002).

Macan tutul jawa sangat menyukai kelerengan yang relatif curam khususnya untuk bersarang dan berkembangbiak, pada lereng yang curam biasanya ditemui banyak gua-gua yang dimanfaatkan oleh macan tutul untuk bersembunyi. Dengan lereng yang curam merupakan kondisi yang aman dan sesuai untuk bersembunyi, karena sulit dijangkau oleh predator lain maupun manusia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gunawan et.al (2009) bahwa macan tutul jawa lebih menyukai lereng curam dan tidak menyukai lereng datar khususnya untuk bersarang dan berkembangbiak.

Selain itu hasil analisis regresi menunjukkan bahwa keberadaan macan tutul jawa dipengaruhi oleh jumlah jenis satwa mangsa dan jarak satwa mangsa. Predator dalam hal ini macan tutul jawa selalu mengikuti keberadaan satwa mangsa (prey) dalam beraktifitas dalam wilayah teritorinya (Hoogerwerf 1970). Dalam habitat yang ideal wilayah jelajah satwa mangsa selalu tumpang tindih (overlap) dengan pemangsanya.

Parameter Demografi Macan Tutul Jawa Di TNGC Ukuran Populasi

Pengamatan macan tutul jawa (Panthera pardus melas F. Cuvier 1809) di kawasan TNGC dengan luas 15 500 ha dilakukan menggunakan 10 kamera jebak (trap) yang dipasang selektif. Penelitian dilakukan pada semua tipe habitat mulai dari hutan dataran rendah, hutan subpegunungan, hutan pegunungan, dan hutan subalpin. Dari 20 lokasi pemasangan kamera jebak 3 di antaranya ditempatkan pada habitat hutan dataran rendah, 11 lokasi pada habitat hutan sub pegunungan dan 6 kamera jebak lainnya dipasang pada habitat pegunungan. Macan tutul jawa tertangkap kamera di empat titik pemasangan kamera yaitu di Blok Sigedong 1, Sigedong 2, Sayana 2, dan Gunung Putri 2. Dengan luasan 15 500 ha dan hanya menggunakan 10 kamera jebak belum ideal dan masih sangat kurang khususnya dalam pengamatan parameter demografi, sehingga data yang dihasilkan juga belum sempurna untuk itu diperlukan penelitian lanjutan dengan memasang lebih banyak lagi kamera jebak pada lokasi-lokasi yang strategis.

Populasi macan tutul jawa di areal penelitian ditentukan berdasarkan jumlah individu yang tertangkap kamera jebak selama waktu penelitian. Dari hasil analisis gambar kamera jebak menggunakan metode album, dapat diketahui bahwa jumlah populasi macan tutul jawa yang teramati di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai selama waktu penelitian adalah 3 (tiga) ekor. Ketiga ekor individu macan tutul tersebut ditemukan di lokasi yang berbeda yaitu di Blok Sigedong Resort Mandirancan, Blok Sayana dan Blok Sukamukti Resort Jalaksana. Jumlah populasi yang teramati relatif sedikit, hal ini disebabkan oleh kurangnya kamera jebak yang digunakan selama penelitian selain itu juga sifat dari predator puncak yang lebih kecil populasinya dibandingkan dengan populasi satwa mangsanya.

Tabel 13 Komposisi macan tutul jawa di TNGC

Lokasi Komposisi individu macan tutul

Bayi Anak JM BM JD BD

Sigedong - - - - 1 -

Sayana - - - - 1 -

Sukamukti - - - - 1 -

Jumlah - - - - 3 -

Keterangan: JM= Jantan Muda, BM= Betina Muda, JD= Jantan Dewasa,danBD= Betina Dewasa Selain dari kamera jebak kelimpahan macan tutul juga dapat diketahui dari perbandingan ukuran jejak kaki macan tutul. Ketiga individu yang yang dijumpai di kawasan TNGC dengan ukuran jejak masing-masing untuk macan tutul jawa pada ruang jelajah Macan Sigedong memiliki ukuran jejak panjang 11 cm dan lebar 12 cm, untuk individu Macan Sayana memiliki ukuran jejak panjang 9 cm dan lebar 10 cm, dan untuk individu Macan Sukamukti memilki ukuran jejak panjang 7 cm dan lebar 8 cm. Identifikasi individu dari perbedaan ukuran jejak dilakukan dengan pendekatan pada perbedaan ukuran jejak harimau sumatera yaitu apabila perbedaan setiap jejak sebesar 1,5 cm maka dianggap individu yang berbeda. Untuk macan tutul ukuran ini disesuaikan lagi karena ukuran satwa tersebut lebih kecil daripada harimau sumatera.

Ukuran populasi macan tutul jawa di TNGC berbeda dengan ukuran populasi macan tutul Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan yang mencapai 832 ekor (Friedmann 2008). Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak estimasi populasi macan tutul jawa mencapai 16 ekor (Ario 2006). Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ukuran populasi macan tutul jawa tidak kurang dari 600 ekor (Yanti 2011).

Perbandingan Jenis Kelamin (Sex Ratio) Macan Tutul Jawa

Jenis kelamin (sex ratio) individu macan tutul jawa yang tertangkap kamera adalah 3 jantan dan 0 betina. Perbandingan jumlah jantan potensial reproduksi terhadap jumlah betina potensial reproduksi pada macan tutul jawa selama pengamatan ditemukan 3 individu macan tutul jantan dan 0 individu macan tutul betina dari kelas umur dewasa dengan perbandingan sebesar 3 : 0. Sex ratio ideal macan tutul menurut Friedmann (2008) adalah 1 jantan dan 1,8 betina atau 1 : 1,8. Data hasil identifikasi individu macan tutul jawa di TNGC yang teramati menurut jenis kelamin yang disajikan padaTabel 14.

Tabel 14 Sex ratio macan tutul jawa di TNGC

Struktur Umur Macan Tutul Jawa

Struktur umur dapat digunakan untuk menilai keberhasilan perkembangbiakan satwa liar, sehingga dapat digunakan untuk menduga prospek kelestariannya. Hasil identifikasi foto terdapat 3 individu macan tutul jawa. Struktur umur macan tutul jawa di kawasan TNGC yang tertangkap kamera jebak hanya ada satu struktur umur yaitu dewasa, sedangkan anakan (sub-adult) individu macan tutul jawa tidak tertangkap kamera jebak sama sekali. Kepadatan populasi macan tutul jawa kecil pada kelas umur anak dan muda, paling tinggi pada kelas umur dewasa. Perkembangan populasi ini terus menurun jika keadaan lingkungan tidak berubah, sehingga dapat terjadi kepunahan lokal akibat regenerasi satwa ini tidak berlangsung dengan baik. Dari hasil analisa foto kamera jebak diketahui bahwa macan tutul jawa di TNGC memiliki struktur umur menurun atau regresive population.

Struktur umur macan tutul jawa di TNGC berbeda dengan penelitian Friedmann (2008) bahwa struktur umur macan tutul di Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan yang memiliki struktur umur meningkat (progressive populations) yaitu 454 ekor anak, 243 ekor muda dan 135 ekor dewasa. Struktur umur macan tutul jawa di TNGC dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Struktur umur macan tutul jawa di TNGC

Lokasi Jumlah Individu Struktur Umur

Anak ; Muda ; Dewasa

TNGC 3 0 : 0 : 3

Lokasi Jumlah jantan Jumlah betina Sex ratio

4 KESIMPULAN

Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah:

1. Ruang yang digunakan oleh macan tutul jawa (Panthera pardus melas F. Cuvier 1809) di kawasan TNGC terdapat di 3 resort meliputi Mandirancan, Jalaksana dan Argamukti khususnya di Blok Sigedong, Sukamukti, Sayana dan Loji. Luas wilayah jelajah macan tutul jawa masing-masing 6,1 km2, 7,8 km2, 5,8 km2 dan 7,5 km2. Proporsi penggunaan habitat 60,55% berupa eks hutan tanaman industri, 17,57% hutan sekunder, 11,54% hutan primer, 9,21% semak belukar, 0,09% tanah terbuka dan 1,03 % lahan pertanian.

2. Parameter demografi macan tutul jawa yang teramati di kawasan TNGC sesuai dengan hasil gambar kamera jebak sebesar 3 ekor, sex rasio jantan ; betina 3:0, dan struktur umur anak; muda; dewasa adalah 0:0:3. Macan tutul jawa di kawasan TNGC hanya ditemukan 3 individu, hal ini disebabkan karena keterbatasan alat dan waktu penelitian.

Saran

1. Penelitian mengenai pola penggunaan ruang dan parameter demografi macan tutul jawa (Panthera pardus melas F. Cuvier 1809) di kawasan TNGC perlu untuk dilanjutkan, agar mendapatkan data yang berkesinambungan setiap tahun.

2. Pengelola harus tetap menjaga keutuhan kawasan dan mempertimbangkan untuk penataan kembali zonasi khususnya memasukkan ruang jelajah macan tutul jawa ke dalam zona inti taman nasional.

Dokumen terkait