• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTANSI BEA MATERAI

Dalam dokumen AKUNTANSI PERPAJAKAN (Halaman 134-138)

B

ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Bea Materai. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Bea Materai. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Bea Materai yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya.

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum

dari pajak dan stándar akuntansi keuangan

Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Bea Materai Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan

Pendahuluan

A.1 Dasar Hukum

Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal Yang Dikenakan Bea Meterai Surat edaran direktur jenderal pajak Nomor se - 29/pj.5/2000

tentang dokumen perbankan yang dikenakan bea meterai

A.2 Pengertian Akuntansi Bea Materai

Bea Materai adalah suatu pungutan atau pembayaran pajak melalui benda materai yang dikenakan khusus untuk beberapa dokumen yang diharuskan oleh undang-undang. Akuntansi dipakai oleh perusahaan untuk mencatat pengeluaran perusahaan dalam melunasi Bea Materai. Proses pencatatan pengeluaran Bea Materai ini sama sederhanyanya dengan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Bumi dan Bangunan. Namun Bea Materai ini dicatat ketika perusahaan melunai atau membeli Benda Materai. Menurut undang-undang PPh disebutkan bahwa pajak merupakan salah satu pengeluaran yang dapat mengurangi penghasilan bruto kecuali pajak penghasilan. Oleh karena itu pengeluaran ini akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut:

Biaya Materai xxx

Kas xxx

(Mencatat pengeluaran untuk Bea Materai)

Sebelum kita membahas panjang lebar mengenai bea materai lebih baik kita mengenal istilah-istilah berikut ini :

a. Dokumen adalah kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan atau kenyataan bagi seseorang dan/atau pihak-pihak yang berkepentingan;

Akuntansi Bea Materai 123

Benda meterai adalah meterai tempel dan kertas meterai yang dikeluarkan oleh Pemerintah RI;

Tandatangan adalah tandatangan sebagaimana lazimnya dipergunakan, termasuk pula parap, teraan Atau cap tandatangan atau cap parap, teraan cap nama atau tanda lainnya sebagai pengganti tandatangan;

Pemeteraian kemudian adalah suatu cara pelunasan Bea Meterai yang dilakukan oleh Pejabat Pos atas permintaan pemegang dokumen yang Bea meterainya belum dilunasi sebagaimana mestinya;

Pejabat Pos adalah Pejabat Perusahaan Umum Pos dan

Giro yang diserahi tugas melayani permintaan

pemeteraian kemudian.

B. Subjek Bea Materai

Subjek Bea materai atau disebut dengan pihak-pihak yang terutang Bea Materai adalah pihak yang menerima atau mendapat manfaat dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain. Jadi intinya adalah semua pihak yang dengan sengaja menggunakan atau memanfaatkan semua jenis dokumen sesuai dengan peraturan perundang-undangan bea cukai harus membayar atau menempelkan materai baik benda materai atu bentuk lainnya pada dokumen tersebut

Misalnya: Si Andi membuat cek dengan nilai nominal yang ada pada cek tersebut sejumlah Rp 2 juta, maka Si andi berkewajiban untuk menempelkan atau membubuhkan materai senilai Rp 6.000,-

C. Saat Terutang Bea Meterai

Saat terutangnya bea materai ditentukan dalam hal:

Dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat dokumen itu diserahkan

Dokumen yang dibuat oleh lebih dari salah satu pihak, adalah pada saat Dokumen tersebut selesai ditandangani oleh semua pihak yang terkait

Dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia.

D. Objek Bea Materai

Yang menjadi objek bea materai atau istilahnya dokumen-dokumen yang dikenakan Bea Meterai adalah sebagai berikut :

Dikenakan Bea Meterai dengan tarif Rp. 3.000,-

Surat yang memuat jumlah uang, yaitu: menyebutkan penerimaan uang, menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank, berisi pemberitahuan saldo rekening di bank, berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp.250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah)

Cek dan Bilyet Giro tanpa batas pengenaan besarnya harga nominal

Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang

mempunyai harga nominal sampai dengan Rp.

1.000.000,00 (satu juta rupiah)

Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah).

Dikenakan Bea Meterai dengan tarif Rp. 6.000,:

- Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang, dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata

Akuntansi Bea Materai 125

Akta-akta notaris termasuk salinannyaAkta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkap rangkapnya

Surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep; atau Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan, yaitu:

Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan; Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, selain dari maksud semula; Surat yang memuat jumlah uang, yaitu:

Menyebutkan penerimaan uang;

Menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank

Berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;

Berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan; yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).

Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal sampai dengan mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah)

Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).

Dalam dokumen AKUNTANSI PERPAJAKAN (Halaman 134-138)