• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar Pengenaan Pajak

Dalam dokumen AKUNTANSI PERPAJAKAN (Halaman 39-48)

Pendahuluan A.1 Dasar Hukum

F. Dasar Pengenaan Pajak

Untuk menghitung besarnya PPN maupun PPnBM yang terutang atau yang harus dibayar, harus diketahui dulu mengenai dasar pengenaan pajak (DPP). Ada 5 dasar pengenaan pajak, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 27

Harga Jual

Harga jual adalah semua nilai yang berupa uang termasuk semua biaya yang dikeluarkan oleh pembeli barang kena pajak dan telah dikurangi dengan potongan penjualan yang diberikan. Harga jual yang menjadi dasar pengenaan pajak biasanya harga jual netto (artinya setelah dikurangi potongan/diskon)

Nilai Penggantian

Nilai semua nilai yang berupa uang termasuk semua biaya yang dikeluarkan oleh pembeli jasa kena pajak. Nilai ini untuk menggantikan jasa yang telah diberikan oleh pengusaha kena pajak.

Nilai Impor

Nilai impor adalah semua nilai yang berupa uang termasuk semua biaya yang dikeluarkan oleh pembeli barang kena pajak dan pungutan lain berdasarkan ketentuan perundang-undangan kepabean. Nilai impor ini dihitung dengan menjumlahkan antara Cost/Harga Barang (C), Insurance/Jaminan (I), Freight/Biaya pengiriman (F) dan biaya-biaya kepabean lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan kepabean.

Nilai Impor = C + I + F + biaya lain Nilai Ekspor

Nilai ekspor adalah semua nilai yang berupa uang mengenai harga produk yang diekspor tersebut atau sering disebut sebagai Harga Pokok Ekspor (HPE). Ada beberapa produk tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah seperti industri kelapa sawit.

Nilai lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan

Nilai lain ini ditetapkan ketika terdapat kesulitan dalam penentuan harga jual atau nilai penggantian atas produk. Dalam hal ini menteri keuangan dapat menetapkan dasar pengenaan pajaknya.

Berdasarkan Ps. 1 angka 17. Jo. KMK-567/KMK.04//2000 ada beberapa dasar pengenaa pajak berdasarkan nilai lain yang ditetapkan oleh menteri keuangan diantaranya adalah:

Untuk pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma bkp/jkp adalah harga jual/penggantian setelah dikurangi laba kotor Untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata

Untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil ratarata per judul film

Untuk persediaan bkp yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, sepanjang ppn atas perolehan aktiva tersebut dapat dikreditkan adalah harga pasar wajar Untuk aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjual belikan yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan adalah harga pasar wajar

Untuk kendaraan bermotor bekas adalah 10% dari harga jual Untuk penyerahan jasa biro perjalanan/pariwisata adalah 10% dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih Untuk jasa pengiriman paket adalah 10% dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih

Untuk jasa anjak piutang adalah 5% dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih

Untuk penyerahan yang dilakukan oleh pkp pedagang eceran adalah 20% x jumlah seluruh penyerahan barang dagangan. Setelah diketahui dasar pengenaan pajaknya, baru bias kita menghitung besarnya PPN atau PPnBM terutang. Ada tiga metode/ cara menghitung PPN yaitu:

Metode Langsung

Metode langsung ini dengan cara mengalikan secara langsung tarif pajak pertambahan nilai dengan dasar pengenaan pajak. Hasil perkalian ini akan menghasilkan Pajak Masukan (PPN Masukan) atau Pajak Keluaran (PPN Keluaran). Pajak Masukan

Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 29

adalah pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan atau penerimaan Jasa Kena Pajak dan atau pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan atau impor Barang Kena Pajak. Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak. Misalnya suatu produk harga jualnya sebesar Rp 10 juta tanpa diskon, maka besarnya PPN terutangnya sebesar : 10% X Rp 10 juta = Rp 1 juta. Jika transaksi ini adalah pembelian maka harus kita catat:

Pembelian 10,000,000

PPN Masukan 1,000,000

Kas/Piutang Dagang 11,000,000

Metode Tidak Langsung

Metode tidak langsung ini dengan cara mekanisme pengkreditan antara pajak masukan dan pajak keluaran. Apabila dalam suku Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besarbdaripada Pajak Masukan, maka selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak. Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar daripada Pajak Keluaran, maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat dimintakan kembali atau dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya. Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya, maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah Pajak Masukan yang berkenaan dengan

penyerahan yang terutang pajak. Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sedangkan Pajak Masukan untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti, maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan unluk penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Misalnya: Jika barang kena pajak yang dibeli seharga Rp 10 Juta dijual dengan harga Rp 15 Juta maka besarnya pajak yang terutang adalah:

PPN Masukan: 10% X Rp 10,000,000 = Rp 1,000,000 Dicatat: Pembelian 10,000,000 PPN Masukan 1,000,000 Kas/Piutang Dagang 11,000,000 PPN Keluaran : 10% X Rp 15,000,000 = Rp 1,500,000 Kas/Piutang Dagang 16,500,000 PPN Keluaran 1,500,000 Penjualan 15,000,000

Maka PPN terutang adalah = PPN Keluaran – PPN Masukan Rp 1,500,000 – Rp 1,000,000 Rp 500,000

Jadi kita akan mencatatnya:

PPN Keluaran 1,000,000

PPN Masukan 1,500,000

Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 31

Metode Lainnya

Metode lain yang sering digunakan adalah Norma Penghitungan Penghasilan Neto baik yang belum maupun yang sudah dapat melaksanakan pembukuan. Untuk PKP pedagang eceran yaitu 2% dari total omset penjualan/penyerahan seperti yang telah dijelaskan di atas. 1. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pedagang Eceran dengan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, sebesar 80% (delapan puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak yang dilakukan Pengusaha Kena Pajak selain Pedagang Eceran, sebesar 70% (tujuh puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran. Untuk penyerahan Jasa Kena Pajak, sebesar 40% (empat puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran.

Misalnya: Toko Glory menjual pakaian untuk konsumen di Blok M Square dengan omzet penjualan setahun Rp 800 juta. Dalam menghitung penghasilan neto untuk Pajak Penghasilan Joshua pemilik Toko Glory menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Selama bulan September 2008 omzet penjualannya adalah Rp 150 juta dan membeli bahan dagangannya sebesar Rp 80 juta. Penghitungan PPN atas Toko Glory untuk bulan September 2008 adalah sebagai berikut:

Jika Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan

Peredaran Usaha Usaha = Rp 150.000.000

Pajak Keluaran 10% x Rp 150.000.000 = Rp 15.000.000

Pajak Masukan 80% x Rp 15.000.000 = Rp 12.000.000

PPN Kurang Bayar = Rp 3.000.000

Jika Menggunakan Mekanisme Umum

Peredaran Usaha Usaha = Rp 150.000.000

Pajak Keluaran 10% x Rp 150.000.000 = Rp 15.000.000 Pembelian Rp 80.000.000

Pajak Masukan 10% x Rp 80.000.000 = Rp 8.000.000

PPN Kurang Bayar = Rp 7.000.000

Dalam pengkreditan masukan dengan pajak keluaran, tidak semua pajak masukan dapat dikreditkan dengan pajak keluaran. Pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan adalah sebagai berikut: Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum

Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak

mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan, jeep,

station wagon, van, dan kombi kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan

Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak

Perolehan barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang bukti pungutannya berupa Faktur Pajak Sederhana

Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan

Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan

Perolehan Barang Kena Pajakatas Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang

Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam Surat

Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, yang diketemukan pada waktu dilakukannya pemeriksaan.

Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan.

Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 33

Contoh Kasus

PT. ABC adalah Pengusaha Kena Pajak yang bergerak di bidang Jual-beli Barang Elektronik. Berikut ini adalah transaksi selama bulan Januari 2010 sebagai berikut:

Tgl Keterangan

Membeli TV 10 unit dengan harga @ Rp 2,500,000 (belum termasuk PPN) secara kredit

Menjual TV 5 Unit dengan harga @ Rp 3,000,000 (belum termasuk PPN) secara tunai

10 Meretur TV 1 Unit yang dibeli pada tanggal 1

Menerima Faktur Retur atas penjualan tanggal 5 berupa TV 1 unit

Jawab:

Membeli TV 10 unit dengan harga @ Rp 2,500,000 (belum termasuk PPN) secara kredit (Metode Perpetual)

Harga TV = 10 X Rp 2,500,000 = Rp 25,000,000

PPN = 10% X Rp 25,000,000 = Rp 2,500,000

Persediaan 25,000,000

PPN Masukan 2,500,000

Hutang Dagang 27,500,000

Menjual TV 5 Unit dengan harga @ Rp 3,000,000 ( belum termasuk PPN) secara tunai (Metode Perpetual)

Harga TV = 5 X Rp 3,000,000 = Rp 15,000,000

PPN = 10% X Rp 15,000,000 = Rp 1,500,000

Kas 16,500,000

PPN Keluaran 1,500,000

10 Meretur TV 1 Unit yang dibeli pada tanggal 1 Harga TV = 1 X Rp 2,500,000 = Rp 2,500,000 PPN = 10% X Rp 2,500,000 = Rp 250,000 Hutang Dagang 2,750,000 PPN Masukan 250,000 Persediaan 2,500,000

Menerima Faktur Retur atas penjualan tanggal 5 berupa TV 1 unit Harga TV = 1 X Rp 3,000,000 = Rp 3,000,000 PPN = 10% X Rp 3,000,000 = Rp 300,000 Persediaan 3,000,000 PPN Keluaran 300,000 Kas 3,300,000 Latihan

PT. ABC adalah Pengusaha Kena Pajak yang bergerak di bidang Jual-beli Barang Elektronik. Berikut ini adalah transaksi selama bulan Januari 2010 sebagai berikut:

Tgl Keterangan

Mengimpor TV 10 unit dengan harga @ $ 200 dengan Biaya Asuransi $ 20 dan biaya angkut $ 5 (Kurs saat itu Rp 10,000/$) Toko “Jaya” memesan TV 5 Unit dengan harga @ Rp 3,000,000 (

belum termasuk PPN) dengan uang muka sebesar Rp 1,000,000. Menjual 2 unit TV dengan harga Rp 3,000,000 secara kredit

kepada Toko “Budi” dengan syarat 2/10-n/30 15 Menerima pembayaran dari Toko “Budi”

Menerima Faktur Retur atas penjualan tanggal 10 berupa TV 1 unit

Memenuhi pesanan dari Toko “Jaya” dan saat itu dibayar lunas. Buatlah jurnal atas transaksi di atas?

B A B 3

Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 21 35

AKUNTANSI PAJAK

Dalam dokumen AKUNTANSI PERPAJAKAN (Halaman 39-48)