• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTANSI BEA PEROLEHAN HAK ATAS

Dalam dokumen AKUNTANSI PERPAJAKAN (Halaman 122-127)

TANAH DAN

BANGUNAN (BPHTB)

B

ab ini merupakan konsep dari pencatatan transaksi yang berkaitan dengan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Dalam bab ini, pertama kita akan membahas mengenai pengertian Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Selanjutnya akan dibahas mengenai pencatatan akuntansi atas transaksi yang berkaitan dengan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang biasa dilakukan oleh perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Disamping itu juga akan dibahas pula kasus-kasus beserta penyelesaiannya.

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu untuk: Mengetahui secara jelas dan lengkap tentang dasar hukum dari pajak dan stándar akuntansi keuangan

Mampu menjelaskan mengenai konsep akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

Mampu memahami cara mencatat transaksi yang berkaitan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.

Pendahuluan

A.1 Dasar Hukum Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN UU NO 21 TAHUN 1997 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN

PP NO.XX TAHUN 2000

KEP. MEN.KEU NO. XX/KMK.04/2000

A.2 Pengertian Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan adalah bea yang dikenakan pada setiap pemindahan hak termasuk hibah wasiat atas harta tetapdan hak-hak kebendaan atas tanah yang pemindahan haknya dilakukan dengan akta. Menurut peraturan undang-undang BPHTB bahwa Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, yang selanjutnya disebut pajak, sedangkan pengertian perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. Hak atas tanah adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan, berserta bangunan di atasnya sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undang-undang Nomor 16 tentang Rumah Susun dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lainnya.

Akuntansi dipakai oleh perusahaan untuk mencatat pengeluaran perusahaan dalam membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Proses pencatatan pengeluaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ini sama sederhanyanya dengan Pajak Bumi dan Bangunan dan lebih sederhana dibandingkan dengan

Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 111

pajak penghasilan maupun pajak pertambahan nilai. Namun Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ini dicatat ketika perusahaan memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan atau pada saat melunasi BPHTB ini.

Menurut undang-undang PPh disebutkan bahwa pajak

merupakan salah satu pengeluaran yang dapat mengurangi penghasilan bruto kecuali pajak penghasilan. Oleh karena itu pengeluaran ini akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut :

Biaya Perolehan Hak Atas Bumi dan Bangunan xxx

Kas xxx

(Mencatat pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan)

Biasanya pembayaran BPHTB ini bersamaan dengan pembelian atau penjualan Tanah dan atau bangunan. Saat itu perusahaan akan mencatat:

Tanah/Bagunan xxx

Biaya Perolehan Hak Atas Bumi dan Bangunan xxx

Kas xxx

(Mencatat pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan)

B. Objek BPHTB

Objek BPHTB menurut pasal 2 UU No 21 Tahun 1997 yaitu perolehan hak atas tanah atau/dan bangunan dimana perolehan hak ini bisa dalam hal pemindahan hak dan pemberian hak baru. Beberapa sebab terjadinya perolehan hak tersebut dapat dijelaskan berikut ini:

Perolehan hak dalam istilah pemindahan hak terjadi karena: Jual Beli

Tukar Menukar Hibah

Waris

Pemasukan dalam perseroan atau Badan Hukum lainnnya Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan

Penunjukan pembeli dalam lelang

Putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap Penggabungan Usaha

Peleburan usaha Pemekaran Usaha Hadiah

Perolehan hak dalam istilah pemberian hak baru terjadi karena : Kelanjutan pelepasan hak

Diluar pelepasan hak

C. Objek Pajak Yang Tidak Dikenakan BPHTB

Objek Pajak Yang Tidak Dikenakan BPHTB adalah objek pajak yang diperoleh:

Perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik

Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum

Badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain diluar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut

Orang pribadi atau badan atau karena konversi hak dan

perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama Orang pribadi atau badan karena wakaf

Orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah.

Akuntansi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 113

D. Tarif Pajak

Tarif pajak ditetapkan sebesar 5% (lima persen).

E. Dasar Pengenaan BPHTB

Dasar Pengenaan Pajak adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dalam hal:

Jual beli adalah harga transaksi Tukar-menukar adalah nilai pasar Hibah adalah nilai pasar

Hibah wasiat adalah nilai pasar Waris adalah nilai pasar

Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar

Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar; h.Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai

kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar

Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar

Pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar

Penggabungan usaha adalah nilai pasar Peleburan usaha adalah nilai pasar Pemekaran usaha adalah nilai pasan Hadiah adalah nilai pasar

Penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam Risalah Lelang;

Apabila NPOP dalam hal a s/d n tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP PBB yang digunakan dalam pengenaan PBB pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah NJOP PBB.

Dalam dokumen AKUNTANSI PERPAJAKAN (Halaman 122-127)