• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

2. Akuntansi Pengelolaan Kas dan Piutang

Akuntansi pengelolaan kas dan piutang terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas serta pengelolaan piutang usaha, yang menangani suatu peristiwa atau kejadian yang mengakibatkan terjadinya penambahan dan pengurangan uang dalam kas yang berasal dari penjualan tunai maupan kredit yang melibatkan bagian-bagian yang saling berkaitan satu sama yang lain. Berikut ini diuraikan lebih lanjut mengenai sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas yang berasal dari penjualan tunai dan kredit.

a. Sistem Akuntansi Penerimaan Kas

Penerimaan kas adalah kas yang diterima perusahaan baik yang berupa uang tunai maupun surat-surat berharga yang mempunyai sifat dapat segara digunakan, yang berasal dari transaksi perusahaan maupun penjualan tunai, pelunasan piutang, atau transaksi lainnya yang dapat menambah kas perusahaan. Menurut Mulyadi (2016) penerimaan kas terbesar didapatkan dari penjualan tunai

Perputaran kas yang masuk diperusahaan berasal dari berbagai sumber, salah satunya adalah penjualan yang dilakukan secara kredit atau tunai. Semua transaksi peneriman kas yang terjadi diperusahaan harus dibuat bukti secara resmi dan ditanda tangani oleh pihak yang berwenang. Hal ini diperlukan untuk menghindari adanya kecurangan dalam penerimaan kas yang terjadi pada perusahaan.

Romney (2014:414) menjelaskan bahwa penerimaan kas pada perusahaan memiliki empat tahap utama yaitu:

1) Entri Pesanan Penjualan 2) Pengiriman

3) Penagihan 4) Penerimaan Kas

Gambar 2.1. Siklus Penerimaan Kas

Sumber : Marshal B. Romney, Sistem Informasi Akuntansi, 2014

a) Unsur Pengendalian Intern

Unsur pengendalian intern yang seharusnya ada dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai antara lain menurut Mulyadi (2016 : 393 )

(1) Organisasi

Dalam merancang organisasi yang berkaitan dengan sistem penerimaan kas dari penjualan tunai, unsur pokok pengendalian intern dijabarkan sebagai berikut :

(a) Fungsi penjualan harus terpisah dengan fungi kas. Pemisahan ini mengakibatkan setiap penerimaan kas dari penjualan tunai dilaksanakan oleh dua fungsi yang saling mengecek. Penerimaan kas dilakukan oleh bagian kasa akan dicek kebenarannya oleh bagian order penjualan.

(b) Fungsi kas harus terpisah dengan fungsi akuntansi. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kekayaan perusahaan dan menjamin ketelitian dan keandalan data akuntansi. dengan kata lain, suatu sistem yang menggabungkan fungsi akuntansi dengan kedua fungsi pokok yang lain (c) Transaksi penjualan tunai dilaksanakan oleh fungsi

penjualan, fungsi kas, fungsi pengiriman dan fungsi akuntansi. Tidak ada transaksi penjualan tunai yang dilaksanakan secara lengkap hanya oleh satu fungsi tersebut. Dengan dilaksanakannya pengecekan intern pekerjaan setiap fungsi tersebut oleh fungsi yang lain.

(2) Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan

(a) Menerima order dari pembeli diotorisasi oleh fungsi penjualan dengan menggunakan formulir faktur penjualan tunai. Faktur penjualan tunai harus diotorisasi oleh fungsi penjualan agar menjadi dokumen yang sahih, yang dapat digunakan sebagai dasar bagi fungsi pengiriman untuk menyerahkan barang kepada pembeli setelah harga barang dibayar oleh pembeli tersebut, serta sebagai dokumen sumber untuk pencatatan dalam catatan akuntansi.

(b) Penerimaan kas diotorisasi oleh fungsi penerimaan kas dengan cara membubuhakan cap “Lunas” pada faktur penjualan tunai dan penempelan pita register kas pada faktur tersebut.

(c) Penjualan dengan kartu kredit bank didahului dengan otorisasi dari bank penerbit kartu kredit. Masalah yang dihadapi oleh merchant dalam penjualan dengan kartu kredit dari Bank adalah penurunan bonafiditas pemegang kartu kredit dalam sistem yang online.

(d) Penyerahan barang diotorisasi oleh fungsi pengiriman dengan cara membubuhkan cap “sudah diserahkan” pada faktur penjualan tunai.

(e) Pencatatan ke dalam catatan akuntansi harus didasarkan atas dokumen sumber yang dilampiri dengan dokumen pendukung yang lengkap.

Catatan informasi yang berasal dari dokumen sumber yang sahih. Kesahihan dokumen sumber dibuktikan dengan dilampirkannya dokumen pendukung yang lengkap, yang telah diotorisasi oleh pejabat yang berwenang.

(f) Pencatatan ke dalam catatan akuntansi harus dilakukan oleh karyawan yang diberi wewenang untuk itu.

(3) Praktik yang Sehat

(a) Faktur penjualan tunai bernomor urut cetak dan pemakaiannya dipertaggungjawabkan oleh fungsi penjualan. (b) Jumlah kas yang diterima dari penjualan tunai disetorkan

seluruhnya ke bank pada hari yang sama dengan transaksi penjualan tunai atau hari kerja berikutnya.

(c) Perhitungan saldo kas yang ada di tangan fungsi kas secara periodik dan secara mendadak oleh fungsi pemeriksaan intern.

b. Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas

Esteria dkk (2016) menjelaskan sistem akuntansi penerimaan kas sebagai sebuah kesatuan yang melibatkan berbagai bagian, formulir, catatan, prosedure, dan alat- alat yang saling berkaitan yang digunakan perusahaan unutuk menangani pengeluaran kas.

Menurut Romney (2014:465) Sistem informasi pengeluaran kas untuk pembelian barang di bagi menjadi 4 bagian utama yaitu :

1. Memesan bahan baku,perlengkapan, dan jasa. 2. Menerima bahan baku, perlengkapan dan jasa

3. Menyetujui faktur pemasok. 4. Pengeluaran Kas

Gambar 2.2. ERP untuk mendukung Siklus Pengeluaran

Sumber : Marshal B. Romney, Sistem Informasi Akuntansi, 2014

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi pengeluaran kas adalah pencatatan dan laporan yang telah terorganisir dalam bentuk formulir, untuk mempermudah proses kegiatan pengeluaran kas oleh perusahaan.

a) Sistem Pengendalian Internal (1) Organisasi

(a) Fungsi penyimpanan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.

(b) Transaksi penerimaan dan pengeluaran kas tidak boleh dilaksanakan sendiri oleh bagian kas sejak awal sampai akhir, tanpa campur tangan dari fungsi yang lain. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan

(c) Pengeluaran kas harus mendapat otorisasi dari pejabat yang berwewenang

(d) Pembukaan dan penutupan rekening bank harus mendapatkan persetujuan dari pejabat yang berwewenang. (e) Pencatatan dalam jurnal pengeluaran kas (atau dalam

metode pencatatan tertentu dalam register cek) harus didasarkan bukti kas keluar yang telah mendapat otorisasi dari pejabat yang berwewenang dan yang dilampiri dengan dokumen mendukung yang lengkap.

(2) Praktek yang Sehat

(a) Saldo kas yang ada di tangan harus dilindungi dari kemungkinan pencurian atau penggunaan yang tidak semestinya.

(b) Dokumen dasar dan dokumen pendukung transaksi pengeluaran kas harus dibubuhi cap “lunas” oleh Bagian Kas setelah transaksi pengeluaran kas dilakukan.

(c) Penggunaan rekening koran bank yang merupakan informasi dari pihak ketiga, untuk mengecek ketelitian catatan kas oleh fungsi pemeriksa intern yang merupakan fungsi yang tidak terlibat dalam pencatatan dan penyimpanan kas.

(d) Semua pengeluaran kas harus dilakukan dengan cek atas nama perusahaan penerima pembayaran atau dengan pemindah bukuan.

(e) Jika pengeluaran kas hanya menyangkut jumlah yang kecil, pengeluaran ini dilakukan sistem akuntansi pengeluaran kas melalui dana kas kecil, yang akuntansinya diselenggarakan dengan imprest sistem. (f) Secara periodik diadakan pencocokan jumlah fisik kas

yang ada di tangan dengan jumlah kas menurut catatan akuntansi.

(g) Kas yang ada di tangan dan kas yang ada di perjalanan di asuransikan dari kerugian.

(h) Kasir diasuransikan

(i) Kasir dilengkapi dengan alat-alat yang mencegah terjadinya pencurian terhadap kas yang ada di tangan (misalnya mesin register kas, almari besi, dan strong

room).

(j) Semua nomor cek harus dipertanggungjawabkan oleh Bagian Kas. (Mulyadi, 1993 : 519-520)

c. Sistem Akuntansi Pengelolaan Piutang

1) Prosedur Piutang

Menurut Baridwan (2009:145) menjelaskan bahwa prosedure piutang dimulai dengan diterimanya tembusan faktur penjualan dan diakhiri dengan dibuatnya surat pernyataan piutang dan daftar analisa piutang.

Informasi mengenai piutang yang dilaporkan kepada manajemen adalah:

a) Saldo piutang pada saat tertentu kepada setiap debitur.

b) Riwayat pelunasaan piutang yang dilakukan oleh setiap debitur c) Umur piutang kepada setiap debitur pada saat tertentu

Dalam akuntansi piutang, secara periodik dihasilkan pernyataan piutang yang dikirimkan kepada setiap debitur. Pernyataan piutang ini merupakan unsur pengendalian intern yang baik dalam pencatatan piutang, dengan mengirimkan secara periodik pernyataan piutang kepada setiap debitur. Untuk mengetahui status piutang dan kemungkinan tertagih dan tidaknya piutang, secara periodik fungsi pencatatan piutang menyajikan informasi umur piutang setiap debitur kepada manajer keungan. Daftar umur piutang ini merupakan laporan yang dihasilkan dari kartu piutang.

2) Dokumen yang digunakan

Menurut Baridwan (2009:146) dokumen pokok yang digunakan sebagai dasar pencatatan kedalam kartu piutang adalah:

a) Faktur Penjualan, digunakan sebagai media untuk posting buku pembantu piutang di sebelah debit.

b) Memo Kredit, digunakan sebagai media untuk posting ke buku pembantu piutang di sebelah kredit yang timbul karena adanya barang-barang yang dikembalikan oleh pembeli.

c) Bukti Kas Masuk, untuk mengkredit piutang yang berasal dari pelunasan oleh langganan.

3) Catatan Akuntansi

Catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi yang menyangkut piutang menurut Mulyadi (2016:209) dan dilaksanakan oleh CV SERASI adalah:

a) Jurnal Penjualan

Catatan ini digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penjualan kredit.

b) Jurnal Penerimaan Kas

Catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penerimaan kas dari debitur.

4) Pengukuran/ Penilaian Piutang Usaha

Piutang usaha dilaporkan sebagai nilai realisasi bersih (net

realisable value) yaitu nilai kas yang diharapkan akan diterima

seperti yang diungkapkan oleh Baridwan (2004:125), penilaian piutang sebagai berikut :

“Piutang termasuk dalam komponen aktiva lancar. dalam hubungannya dalam penyajian piutang didalam neraca digunakan dasar pengakuan nilai realisasi atau penyelesauan. Dasar pengukuran ini mengatur bahwa piutang dinyatakan sesuai bruto tagihan dikurangi taksiran jumlah yang tidak dapat diterima”.

a) Piutang Usaha Tak Ter Tagih

Penjualan atas dasar selain penjualan tunai beresiko menimbulkan kegagalan untuk menagih piutang. Kerugian pendapatan dan penurunan laba diakui dengan mencatat beban piutang ragu-ragu (beban piutang tak tertagih).

Ada 3 cara untuk menaksirkan besarnya cadangan penghapusan piutang :

(1) Menggunakan analisis umur piutang

(2) Taksiran dari saldo akhir piutang dalam neraca (3) Taksiran dalam jumlah selama satu periode

Dalam penelitian ini, tempat objek penelitian tidak menggunakan satupun metode perhitungan piutang tak tertagih seperti diatas, namun dalam pengembangannya penulis akan menggunakan analisis umur piutang, untuk mempermudah pengawasan dan pengecekan secara real time tanpa menunggu laporan neraca dan jumlah taksiran selama satu periode.

Prosedur pencatatan piutang tak tertagih ada 2 cara yaitu : (1) Metode penghapusan langsung

Metode penghapusan langsung mencatat piutang tak tertagih ketika debitur sudah tidak mungkin lagi membayar utangnya.

(2) Metode penyisihan

Suatu estimasi dibuat menyangkut perkiraan piutang tak tertagih dari semua penjualan kredit atau dari total piutang yang beredar.

5) Sistem Pengendalian Internal

Pada prinsipnya sistem pengendalian harus

meminimalkan dan mendeteksi serta memperbaiki kesalahan ketika terjadi. Pelaksanaan sistem pengendalian intern untuk piutang harus menghasilkan suatu kepastian bahwa semua

transaksi piutang telah dibukukan dan dapat dipertanggung jawabkan.

Pengendalian intern terhadap piutang dimulai dari penerimaan order penjualan terus ke persetujuan atas order, persetujuan pemberian kredit, pengiriman barang, pembuatan faktur, verifikasi faktur, pembukuan piutang, penagihan piutang, yang akhirnya akan mempengaruhi saldo kas atau bank. Dalam hal ini harus diperhatikan pula retur penjualan secara periodik harus dibuat perincian piutang menurut golongan usianya untuk menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan dan menilai apakah bagian kredit dan bagian inkaso telah bekerja dengan efisien.

Adapun sistem pengendalian intern atas piutang secara keseluruhan antara lain sebagai berikut :

Memisahkan fungsi pegawai atau bagian yang menangani

transaksi penjualan (operasi) dari “ Fungsi Akuntansi Untuk Piutang “

Pegawai yang menangani akuntansi piutang, harus

dipisahkan dari fungsi penerimaan hasil tagihan piutang

Semua transaksi pemberian kredit, pemberian potongan

dan penghapusan piutang, harus mendapatkan persetujuan dari pejabat yang berwenang.

Piutang harus dicatat dalam buku-buku tambahan piutang .

Perusahaan harus membuat daftar piutang berdasarkan

umurnya.

d. Persediaan Barang Dagang

Karongkong dkk (2018:48) menyatakan dalam jurnal penelitiannya. Persediaan merupakan barang yang disimpan untuk digunakan nanti atau dijual pada masa tertentu tergantung pada permintaan yang ada atau akan dijual pada periode yang akan

datang. Persediaan terdiri dari persediaan barang baku, persediaan barang setengah proses produksi, sedangkan persediaan jadi atau barang dagangan disimpan sebelum dijualatau dipasarkan.

1) Sistem Pencatatan Persediaan

Dalam pelaporan, masalah akuntansi persediaan dapat diselenggarakan dengan menggunakan metode pencatatan dan metode penilaian. Metode pencatatan berkaitan dengan prosedur perekaman kuantitas dan mutasi masuk dan keluar, serta saldo persediaan. Sementara metode penilaian berkaitan dengan prosedur alokasi harga perolehan persediaan sebagai nilai persediaan akhir dan pembebanannya sebagai harga pokok penjualan. Dua metode pencatatan persediaan yang lazim digunakan adalah (a) metode fisik, dan (b) metodeperpetual. 2) Metode Penilaian Persediaan

Ada beberapa macam metode penilaian persediaan yang umum digunakan, yaitu : Alokasi harga pokok, masuk pertama keluar pertama (FIFO), masuk terakhir keluar pertama (LIFO), dan

a) Metode rata-rata (Average).

Alokasi Harga. Pada metode ini, biaya dapat dialokasikan pada barang yang terjual selama periode berjalan dan ke barang yang ada di tanggal pada akhir periode berdasarkan biaya aktual dari unit tersebut. Metode ini diperlukan untuk mengidentifikasi biaya historis dari unit persediaan. Dengan mengidentifikasi khusus, arus biaya yang di catat disesuaikan dengan arus fisikbarang. b) Metode Masuk Pertama Keluar Pertama Metode masuk

pertama keluar pertama (FIFO).

Dibuat dengan asumsi bahwa barang yang pertama dibeli, barang itu pula yang terlebih dahulu dikeluarkan jika terjadi penjualan. Tetapi dalam akuntansi persediaan, yang

diperhitungakan sebagai unsur masuk dan keluar tersebut buka fisik tetapi nilai perolehan persediaannya. Untuk menilai barang yang paling terdahulu pembeliannya, dari sekian banyak yang masih ada digudang. Nilai persediaan barang yang masih ada digudang diambil dari harga beli barang yangterakhir dibeli. Metode Masuk Terakhir Keluar c) PertamaMetode Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO)

Metode ini merupakan kebalikan dari metode FIFO. Dalam metode ini nilai persediaan akhir diambil dari harga barang yang lebih dahulu dibeli. Nilai harga pokok penjualan diambil dari hasil perhitungan atau akumulasi harga beli barang yang terakhir dibeli. Seperti halnya metode FIFO, metode ini juga dapat dibuat dalam metode fisik dan metode perpetual. Dalam penelitian ini metode lifo adalah metode yang akan digunakan dalam pengembangan, hal ini dilakukan untuk menyesuaikan keperluan objek penelitian

Dokumen terkait